Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 21 BIMA SAKTI. bag ke Lima.


__ADS_3

Mau tidak mau Ki Tambi melakukan perintah dari Senopati Sandi Demak ini, karena bagaimana pun juga, dirinya memang tidak ingin kedok nya terbongkar.


Ki Tambi langsung berhadapan dengan orang yg bernama Watang Anom ini.


" Hehh,..orang tua, aku tidak ada urusan denganmu,.." teriak Watang Anom dengan keras.


Dengan gerakan tangan ia menyuruh Ki Tambi untuk tidak menghalanginya. Namun Ki Tambi tidak bergeming , ia tetap berada disitu, sambil agak berbisik ia berkata,..


" Maafkan diriku, ini adalah perintah, aku harus mencegahmu,.."


" Hehh,..apa -apaan ini, dirimu berniat bertarung dengan ku , baiklah, terima ini,..Hiyyyah,.."


Dengan golok hitamnya Watang Anom menerjang Ki Tambi yg berada di hadapannya, tampaknya ia sangat geram sekali atas sikap orang yg ada di depan nya.


" Traanggg,.."


Ki Tambi pun telah mencabut senjatanya berupa keris. Dan langsung memapasi serangan dari lawannya.


Pertarungan pun terjadi antara kedua orang tersebut. Rupanya Ki Tambi berusaha menggeser arena pertarungan menjauhi Raka Senggani. Tampaknya orang tua ini memang sengaja melakukan nya agar ia dapat mengatakaan sesuatu.


" Hiyyyahhh,.."


Teriak Watang Anom sambil terus mengayunkan senjatanya yg berupa golok hitam dengan sekuat tenaganya.


Ia terus mencecar tubuh Ki Tambi dengan cepatnya. Jadi terlihat Ki Tambi seperti sedang terdesak.


" Heaaahhh,.."


" Traannnngg,.."


Dalam satu kesempatan ketika kedua senjata itu beradu , jarak keduanya menjadi dekat , Ki Tambi langsung berkata pelan.


" Cepat Watang Anom, kau serang diriku dengan pukulan agar aku kalah,.dan jangan kau lukai menggunakan golokmu itu,.." ucapnya.


" Baiklah,.." sahut Watang Anom.


Saat kedua nya mundur maka dengan cepat Watang Anom melompat tinggi mengayunkan goloknya, oleh Ki Tambi dihindarinya dengan memiringkan tubuhnya. Tetapi serangan tidak sampai disitu, tendangan setengah lingkaran segera menghajar tubuh Prajurit sandi Demak itu.


" Heaahhhh,.."


" Aaakkhh,..."


Tendangan yg sangat keras segera menghajar perut dari Ki Tambi dengan telaknya, Ia sampai terlempar tiga batang tombak dan kemudian terjatuh tidak bangkit lagi.


" Hehh..mampus kau ,.karena telah berani menghadapiku,..," teriak Watang Anom.


Seolah ia telah berhasil mengalahkan lawan yg sangat sulit untuk di atasi.


Raka Senggani yg melihat hal ini kembali berkata dalam hatinya,.


Sungguh dirimu sangat pandai menutupi kesalahan , Ki Tambi, hanya serangan seperti itu dirimu tidak mampu menghindarinya, tetapi baiklah, memang mungkin ini telah masuk dalam rencana kalian, tetapi diriku tidak akan takut, walau seluruh orang yg ada di sini mnegeroyokku,..bathinnya.


Ia segera melihat ke arah Watang Anom yg masih tegak berdiri menatapnya.


" Hehh, kau,..anak muda, hari ini adalah batas waktu terakhirmu di sini,..hari aku akan mencabut nyawa mu dengan golok ku ini,." ucap Watang Anom.


Sambil mengacungkan goloknya ke arah Raka Senggani. Dari wajahnya terlihat kemarahan yg teramat sangat.


Memang hati pembantu dari Tumenggung Waturangga sedang pada puncak kemarahan nya ketika melihat orang yg telah berhasil membunuh saudaranya Watang Keling dengan senjata nya sendiri.


" Kisanak, terserah apa katamu, namun sedikit ku beritahukan kepadamu agar berhati -hati, jangan sampai dirimu menyusul saudaramu itu,.." balas Raka Senggani.


Pemuda desa Kenanga ini nampak tengah menggenggam sebuah tongkat yg berkepala ular, dan tongkat nya tersebut di putarnya perlahan di depan dada, desir angin berhembus perlahan dari putaran tongkat tersebut.


Senopati Demak ini sengaja memamerkan tenaga dalam nya, karena semakin lama angin yg berhembus semakin kuat bersamaan makin cepatnya putaran tongkat tersebut.


" Jangan terlal sombong anakmuda, kekalahan dari kakang Watang Keling pada waktu itu adalah akibat kelengahan nya.. tetapi hari ini diriku tidak akan melakukan,.. bersiaplah,.."


Suara dari Watang Anom yg terdengar cukup keras membuat suasana di atas gumuk tersebut menjadi terdengar ke tempat yg berada agak jauh dari situ.


" Ki Lintang Sapi Gumarang, sepertinya pertarungan telah terjadi..mari kita segera kesana,." ucap Ki Lintang Gubuk Penceng.


Para prajurit sandi Demak yg tengah beradadisana di sekitar gumuk tersebut segera mendekati tempat dimana pertarungan terjadi. Tetapi belum pun mereka jauh melangkah tiba -tiba saja Ki Lintang Sapi Gumarang menyuruh untuk berhenti.


" Ada apa Ki Sapi Gumarang,..?" tanya Ki Lintang Gubuk Penceng.


" Sssthh,.."


Lurah prajurit sandi Demak yg bernama Lintang Sapi Gumarang menyuruh mereka untuk diam.


" Kalian mendengarnya ,..?" tanyanya dengan sangat pelan.


Semua yg berada di tempat itu memang mendengar apa yg telah di dengar oleh Ki Lintang Sapi Gumarang.


" Apa yg harus kita lakukan,..?" tanya Gajah Arak.


" Sebaiknya kita menyebar,..ternyata tempat ini telah mereka kepung, ini tidak dapat di biarkan, jangan usaha kita menjadi gagal karena nya,." ungkap Ki Lintang Gubuk Penceng.

__ADS_1


" Mari ,..kita temui mereka itu,." sahut Ki Lintang Sapi Gumarang.


Segera para prajurit sandi Demak tersebut bergerak mencari orang orang yg telah mengepung gumuk kecil itu.


Di atas gumuk sendiri, Watang Anom tengah mengerahkan segenap kemampuan nya untuk mendesak lawannya yg masih muda itu. Goloknya berputaran sangat cepat menebas ke kiri dan kanan, bahkan sesekali ia membacokkan mengarah kepala dari Sang Senopati. Tetapi seolah melawan bayangan saja , tidak satupun serangan tersebut yg menemui sasaran nya.


Bahkan pada satu kesempatan,..


" Hiyyahhh,.."


" Bughhhh,.."


" Aaaakkhh,.."


Tongkat berkepala ular yg ada di genggaman dari sang Senopati mengenai punggung Watang Anom cukup telak,.pembantu dari Tumenggung Waturangga ini terlambat menghindar serangan dari lawannya.


Akibatnya ia jatuh bergulingan. Ia menjauhi lawannya. Sedangkan Raka Senggani tidak mengejarnya.


Dirasakan oleh Watang Anom , punggungnya seperti telah tertimpa sebongkah batu kali yg sangat besar dan berat. Ia tidak mampu bangkit beberapa saat.


Setelah mengerahkan tenaga dalam nya untuk mengurangi rasa sakitnya barulah ia dapat bangkit dan duduk.


Watang Anom berusaha untuk mengurangi rasa sakit yg di deritanya.


" Bagaimana kisanak,.apakah dapat kita lanjutkan lagi, pertarungan ini,..?" tanya Raka Senggani.


Sambil ia melangkah mendekati Watang Anom dan berhenti tidak jauh darinya.


Watang Anom diam saja , tetapi kedua tangannya telah berada di balik bajunya. Tampaknya ia akan melakukan sesuatu.


Dan melihat lawannya tidak terlalu waspada , dengan cepat ia berseru,..


" Aku belum kalah terimaa ini, heaaahh,.."


" Siiing,."


" Siiing,.."


" Siiing.."


" Siiing,.."


Empat buah senjata rahasia ia lesakkan dengan menggunakan tenaga dalamnya. Dan keempatnya meluncur dengan sangat cepat ke arah Senopati Demak ini dalam jarak yg sangat dekat.


Dipastikan senjata rahasia itu menemui sasarannya dan benar saja keempat senjata rahasia dari Watang Anom ini berhasil mengenai tubuh Raka Senggani yg memang tidak menghindari serangan itu.


Watang Anom sangat terkejut melihat hasilnya, tidak satupun senjatanya itu yg berhasil melukai tubuh lawannya, semua jatuh ke atas tanah.


Rasa keterkejutan dari Watang Anom ini tidak terlalu lama, ketika sebuah hantaman batang tongkat yg ada di tangan sang Senopati mendera leher nya.


" Hiyyahh.."


" Thakkk,.."


" Aaakhh,.."


Sambil melompat Senopati sandi Demak menghantamkan tongkatnya dengan keras dan hasilnya tubuh dari Watang Anom jatuh tertelungkup dan ia pun pingsan.


Mudah -mudahan ia tidak tewas, berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia berjalan mendekati dimana Ki Tambi tadi terjatuh.


Kemana orang tua itu, apakah ia telah melarikan diri, tanya Senopati sandi Demak ini dalam hati.


Setelah ia tidak menemukannya di tempat semula.


Raka Senggani berjalan ke tempat dimana pertama kali ia dan Ki Tambi berada saat tiba di gumuk ini.


Baru tiga langkah ia berjalan, tiba -tiba terdengar suara tertawa dengan di lambari ajian Gelap ngampar.


" Ha, ha, ha, hebat,.hebat,..sangat hebat,..,"


Senopati sandi Demak itu tidak melanjutkan langkah kakinya , ia mencari tahu dimana keberadaan orang yg telah tertawa tadi.


Pengaruh dari ajian Gelap ngampar orang tersebut tidak terlalu berpengaruh kepada Raka Senggani.


Ia terus memusatkan pikirannya untuk menemukan orang tersebut.


Cukup lama juga baru ia menemukan nya setelah orang itu tertawa lagi,..


" Ha, ha, ha, aku disini Senopati Demak,.." ucap orang tersebut.


Dari sebuah pohon yg agak jauh dari Raka Senggani berada, melesat turun sesosok tubuh menuju ke arahnya.


Malam saat itu telah menyapa wilayah kadipaten Surabaya,.pandangan mata dari mata Senopati Demak ini kurang jelas melihatnya, baru setelah orang tersebut mendekat dan dari sebelahnya turut pula dua orang hadir di tempat itu.


Ternyata memang Tumenggung Waturangga yg hadir sendiri, kata Raka Senggani dalam hati.

__ADS_1


Ia pun segera bersiap bahwa saat yg di tunggu tunggu akhirnya telah tiba.


" Dirimu sungguh hebat anak muda, pantas saja , Kanjeng Sinuwun telah mengirimkan dirimu kemari,..he he he,.." ucap orang tersebut.


Dari pakaian nya cukup mentereng dengan ikat kepalanya yg bersulamkan benang emas , nampaklah kegarangan dari orang Kepercayaan dari penguasa kadipaten Surabaya ini.


Tubuhnya yg cukup besar dan tinggi bahkan dari otot otot tangannya kelihatan bahwa orang yg bernama Tumenggung Waturangga ini mempunyai tenaga wadag yg cukup besar. Kumis tebalnya melintang diatas bibirnya.


Sambil ia memilin kumisnya , Tumenggung Waturangga berkata lagi,


" Aku jadi sangat penasaran dengan orang Kepercayaan Kanjeng Sinuwun ini, hehh,.."


Ia melihat ke arah dua orang teman nya yg merupakan pembantunya.


" Izinkan kami berdua yg menjajal nya Kanjeng Tumenggung,..nanti jika kami kalah baru Kanjeng Tumenggung yg mengahadapinya ,.." ucap salah seorang pembantunya.


Mendengar hal tersebut Tumenggung Waturangga mengangkat tangan nya sambil berkata,.


" Jangan,..untuk kali ini biarlah , Aku sendiri yg akan mengurus orang kepercayaan sultan Demak ini, kalian berdua uruslah Watang Anom dan Ki Tambi itu,.." ucap Tumenggung Waturangga.


Baru kemudian ia melihat ke arah Raka Senggani,..


" Dirimu terkejut mendengarnya,. Senopati Bima Sakti, bahwa ternyata Ki Tamni telah berada di belakangku,.." ungkap Tumenggung Waturangga lagi.


Mendapatkan pernyataan dari Orang kepercayaan dari sang Adipati Surabaya ini Raka Senggani malah menggeleng kan kepalanya.


" Tidak , diriku tidak terkejut, karena memang sudah sewajarnya ia memihak denganmu, hanya satu yg menjadi pertanyaan buatku dan menjadi aneh, bahwa orang yg katanya memiliki kemampuan sangat tinggi dan mampu menaklukan para penguasa bang Wetan ini dengan tatapan matanya, tetapi untuk menundukkan seorang Ki Tambi , ia sampai menyandera keluarganya, dimana hebatnya,..!" jelas Raka Senggani.


Dengan niat memancing kemarahan dari orang yg bernama Tumenggung Waturangga ini dan memang berhasil,. Orang itu langsung marah,..


" ******* , apa pun boleh dilakukan untuk mengalahkan seseorang termasuk dengan menawan orang yg paling disayangi seperti Si Tambi itu,.." kata Tumenggung Waturangga dengan murkanya.


" Hehh,.. kalau diriku akan merasa malu , jika memang memiliki kemampuan yg ngegrisi, tetapi masih saja melakukan hal hal yg licik dan curang,..lebih baik diriku mengubah memakai kemben saja,..atau kalau tidak ku potong saja ciri kelakianku ," kata Raka Senggani lagi.


" ******* , kau sengaja memancing kemarahanku,..terima ini,.. Hiyyyah,.." seru Tumenggung Waturangga.


Ia segera menggerkkan tangannya dan serangkum angin yg sangat kuat segera menerjang Raka Senggani.


Tetapi Senopati Sandi Demak ini langsung membalasnya dengan mengibaskan kebutannya..


" Hiyyahhh,.."


Dua angin pukulan pun beradu , antara Tumenggung Waturangga dan Senopati Sandi Demak.


Sepertinya ia memang merupakan murid dari Ki Gedangan, kata Raka Senggani dalam hati.


Namun perlahan tenaga yg di kerahkan oleh Raka Senggani berhasil mendesak serangan dari Tumenggung Waturangga.


Hehh, ternyata tenaga dalam bocah ini sangat tinggi, tidak berada di bawahku, berkata dalam hati Tumenggung Waturangga.


" Ha, ha, ha, boleh juga kemampuanmu itu Senopati Bima Sakti, aku merasa tertantang untuk menjajal kemampuanmu,.." seru Tumenggung Waturangga.


" Sebaiknya dirimu menyerah saja Tumenggung Waturangga, biar kanjeng Gusti sinuwun dapat meringankan hukuman mu,.." balas Raka Senggani.


" Kau menyuruhku menyerah, apa aku tidak salah mendengarnya, yg ada dirimulah yg harus bertekuk lutut di hadapaanku agar aku tidak membunuhmu, Hehh,.." teriak Tumenggung Waturangga.


Ia merasa di rendahkan oleh sang Senopati Demak.


" Ini baru permulaan, bersiaplah aku akan segera meremukkan batang lehermu agar menjadi peringatan bagi penguasa Demak saat ini,." seru Tumenggung Waturangga.


Dan,..


" Hiyyyahh,.."


Tumennggung Waturangga segera melesat memberikan tendangan mendatar menyasar leher Senopati Bima Sakti . Gerakan nya terlihat sangat ringan padahal tubuhnya yg lumayan besar.


Tetapi serangan pertama nya ini tidak menemui sasarannya, karena Raka Senggani segera melompat tinggi sambil mengemposi tenaga dalam nya seraya menjauhi garis serang dari lawannya.


Tumennggung Waturangga terus mengejar dengan cepat, sehingga pertarungan jarak dekat pun tidak dapat di hindari lagi, mau tidak mau sang Senopati harus melayani serangan yg bertubi tubi di lancarkan oleh lawannya itu.


Pada benturan benturan awal nampaknya Raka Senggani masih di bawah dari Tumenggung Waturangga.


Beberapa kali tubuhnya terdorong dan harus mundur ketika pukulan tangan kosong itu beradu.


Pertarungan berjalan dengan semakin cepat ketika keringat telah membasahi tubuh masing masing dari keduanya.


Beberapa kali pukulan dari Tumenggung Waturangga berhasil bersarang di tubuh dari Senopati Bima Sakti yg terlambat menghindarinya, akan tetapi, Tumenggung Waturangga merasa aneh Setelah melihat beberapa kali pukulan nya berhasil masuk , namun seolah tidak di rasakan oleh lawannya yg masih muda ini.


Apakah ia memang memiliki ilmu lembu sekilan, tanya nya dalam hati.


Tumenggung Waturangga kemudian meningaktkan lagi tenaga dalam nya setahap demi setahap, dan ia pun masih belum sanggup untuk menjatuhkan lawannya.


Memang Raka Senggani, Senopati Demak yg di tugaskan oleh Kanjeng Sinuwun untuk melihat keadaan dari kadipaten Surabaya ini dapat melihat dan membaca gerakan lawannya yg memiliki ilmu seperti Ki Gedangan , hanya saja ia terkadang masih lupa sesaat melihat pukulan itu belum sampai namun tiba tiba ia sudah merasakan nya.


Aku harus meningkatkan Ilmu peringan tubuhku, katanya dalam hati.


Laksana burung Rajawali yg sedang mengincar mangsa nya , ia berusaha mengurung Tumenggung Waturangga .

__ADS_1


Dan tampkanya usaha Senopati Bima Sakti ini berhasil, beberapa kali pukulan berhasil ia daratkan di tubuh Tumenggung Waturangga.


__ADS_2