
Raka Senggani dan Bekel pedukuhan itu berbincang terus sampai wayah sepi uwong.
Ditandai dengan telah tidur nya anak -anak dari Ki Bekel itu. Suasana sepi terasa di tempat itu.
Ada perasaan tidak enak yg dirasakan oleh nya. Ia pun menangkap ada sesuatu yg lain pada malam itu.
" Ki Bekel, apakah di daerah pedukuhan ini banyak orang yg memiliki kuda,?" tanyanya kepada Ki Bekel.
" Maaf kisanak , disini tidak ada yg memiliki kuda, mengapa kisanak tanyakan hal itu,?" balik Ki Bekel bertanya.
" Ki Bekel panggil saja namaku , Senggani, adapun mengapa saya tanyakan hal ini, spertinya ada derap kaki -kaki kuda yg sedang mengarah kemari," ucap Raka Senggani.
Ia mampu mendengar suara langkah kaki kuda itu meskipun masih sangat jauh, dan itu telah membuat Ki Bekel menjadi kelihatan gelisah.
Mengapa Ki Bekel ini terlihat tidak tenang setelah Kukatakan ada derap kaki kuda yg akan datang kemari, apakah itu adalah kawanan rampok yg sering malang melintang di daerah sini, batin Raka Senggani berkata.
" Sebaiknya lah , kuda Adi Senggani itu di pindah ke belakang saja, takut nya, orang -orang yg akan melintas ini adalah kawanan rampok, yg akan menuju pedukuhan sebelah,". ucap Ki Bekel.
Di raut wajah Bekel yg belum terlalu tua itu nampak kecemasan, ia memang bertanggung jawab atas keselamatan tamu nya itu, tetapi pedukuhan yg dipimpin nya tidak memiliki kekuatan.
" Tenang saja Ki Bekel , tentu mereka tidak akan terlalu tertarik dengan Si Jangu, mereka tentunya akan senang dengan emas permata, wesi aji yg bersalut berlian seperti keris atau pedang pusaka, " kata Raka Senggani.
" Tetapi kita kan tidak tahu , jika mereka malam ini tidak berhasil mendapatkan harta rampasan bisa jadi hewan tunggangan itu pun akan mereka ambil, apalagi kuda milik dari adi Senggani itu, kuda yg mahal, besar dan tegar, tentu mereka akan sangat tertarik dengan nya," jelas Ki Bekel.
Namun Raka Senggani tidak menjawab perkataan dari Pemimpin pedukuhan itu, telinganya sepertinya sedang menangkap bahwa jumlah penunggang kuda yg akan melintas itu jumlah nya tidak kurang dari duapuluh orang.
" Ki Bekel, adakah orang -orang disini yg dapat diandalkan,?" tanya Raka Senggani kepada Bekel itu.
" Maksudnya, orang yg berkemampuan ilmu silat,?" tanya Ki Bekel.
" Iya, adakah orang -orang di pedukuhan ini yg dapat diandalkan untuk melawan mereka jika nanti mampir ke pedukuhan ini,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Wah, tidak ada, hanya seorang Jagabaya disini, itupun usianya sudah sangat lanjut, memang beliau memiliki kemampuan ilmu silat walau cuma sedikit, " jawab Ki Bekel.
Mudah -mudahan mereka tidak akan mampir kemari , sehingga tidak akan membuat susah pedukuhan ini, kata Ki Bekel dalam hati.
Demikian pula Raka Senggani, Senopati Pajang itu pun berharap yg lewat adalah orang -orang yg akan ke Pajang melintasi tempat itu.
Keheningan itu di pecahkan dengan derap kaki -kaki kuda yg semakin mendekat.
Ki Bekel tidak henti -henti nya memandangi anak -anak nya yg telah tidur berserakan di ruang tengah itu. Karena memang rumah nya sangat kecil hanya memiliki sebuah bilik saja.
Jadi anak -anak nya terpaksa tidur di ruang tengah itu.
" Adi, sebelum terlambat sekali lagi ,kusarankan agar memindahkan kuda mu itu ke belakang," kata Ki Bekel lagi.
" Tidak apa -apa, Ki Bekel jika Si Jangu tetap di situ, lebih mudah untuk melihat nya, nanti jika di belakang Senggani akan sulit untuk memantau nya, jika ada hewan buas yg datang kita tidak akan segera melihat nya," jawab Raka Senggani.
" Kalau begitu, kita berdua harus masuk ke dalam sebelum mereka tiba disini," Ajak Ki Bekel kepada Raka Senggani.
Pemuda itu menuruti ajakan itu, seraya mematikan lampu minyak jarak yg ada di ruang pendopo itu, keduanya masuk ke dalam rumah.
Tidak lupa Ki Bekel itu menutup pintu rumah nya dan di selarak dari dalam.
Namun Ki Bekel itu tidak langsung menuju ke biliknya , ia mengajak Raka Senggani itu untuk mengintip siapa sebenarnya para penunggang kuda itu.
Memang tidak terlalu lama setelah keduanya masuk ke dalam terdengar lah suara langkah kaki kuda itu melintas di jalanan pedukuhan itu tepat di depan rumah Ki Bekel.
Karena cahaya obor yg ada di halaman rumah it masih menyala, maka kedua orang itu dapat dengan leluasa melihat siapa saja yg lewat.
Di depan nampak seorang bertubuh besar cenderung tambun dengan ikat kepala berwarna hitam nampak memimpin rombongan itu, di belakang nya ada seseorang yg bertubuh sedang dengan pakaian yg sedikit bagus mengekori yg bertubuh tambun itu.
Kemudian berturut -turut melintas rombongan itu secara bergerombol sehingga sangat sulit untuk melihat wajahnya.
Hati Ki Bekel tampak gembira karena rombongan itu tidak mampir ke rumahnya.
" Hahh, ternyata gerombolan rampok Ki Mangku Darno," gumam Ki Bekel.
" Darimana Ki Bekel mengetahui nya,?" tanya Raka Senggani.
Kemudian Bekel pedukuhan itu menceritakan bahwa gerombolan yg telah lewat tadi adalah gerombolan rampok yg di pimpin oleh seorang yg bernama Mangku Darno dengan ciri ikat rambut berwarna hitam dengan tubuh tambun dan sebelah matanya picak.
__ADS_1
Ki Bekel mengatakan juga bahwa Ki Mangku Darno itu bersenjatakan sebuah canggah.
Dan orang itu memiliki ilmu silat yg cukup tinggi telah banyak korban dengan senjata canggah nya itu.
Beruntung ia tidak berhenti di pedukuhan ini, kalau tidak tentu nya kita akan mendapatkan masalah, kata Ki Bekel lagi.
Memang derap kaki kuda itu seperti nya meninggalkan pedukuhan itu.
Ki Bekel mengurut dadanya setelah kepergian gerombolan itu.
Akan tetapi belum pun habis rasa senang di hati Ki Bekel, terdengar kembali derap kaki kuda yg kembali dan tampak nya mengarah ke rumahnya itu.
Aduhh, bagaimana ini, mengapa mereka kembali lagi berkata di dalam hati nya Ki Bekel.
Langkah kaki kuda itu segera mendekati rumah Ki Bekel dan langsung menabrak regol rumah Ki Bekel itu hingga hancur karena memang terbuat dari kayu yg tidak terlalu baik.
Bekel itu benar -benar ketakutan, tanpa sengaja ia memandang ke arah tamunya, Raka Senggani.
Sementara Senopati Pajang itu terus menatap ke halaman rumah Ki Bekel tanpa berkedip.
Hemmphh, jumlah mereka sepuluh orang , bathin Raka Senggani.
Sedangkan Ki Bekel masih mencari sebab apa yg membuat gerombolan itu balik lagi.
Dilihatnya kuda Raka Senggani yg masih tertambat di depan rumah itu.
Ia pun meyakini itulah penyebab nya, dan ia pun menatap cahaya obor yg bergoyang -goyang di terpa angin.
Hehh, mangapa tadi obor itu tidak kupadamkan, desis nya lagi.
Karena dengan cahaya obor itu maka Kuda tunggangan dari Raka Senggani itu dapat terlihat dari jalanan.
" Hahh, kau yg berada di dalam, kami yakin kalian tentu nya belum tidur, segera keluar, aku akan meminta sesuatu kepadamu, Cepaaaat," teriak orang itu.
Seorang yg bertubuh sedang dengan pakaian yg agak bagus itu.
Ia memimpin gerombolan itu masuk ke halaman rumah Ki Bekel. Dengan masih berada di atas punggung kudanya kembali ia berteriak,
" Cepat keluar atau kubakar rumah ini," teriaknya lagi.
" Jangan, jangan, jangan bakar rumahku, apa yg kau kehendaki, Kisanak,?" tanyae Ki Bekel.
Setelah ia berada di pendopo rumah nya itu.
" Cepat kau kemari, ada yg ingin aku tanyakan, cepat kemari," perintah orang itu kepada Ki Bekel.
Mau tidak mau, Ki Bekel berjalan menuju ke tempat orang itu, yg masih saja duduk diatas kudanya.
Setelah Ki Bekel mendekat, kembali orang itu bertanya,
" Kuda siapa ini, sangat baik dan terlihat mahal harga nya,?"
" Eeehh, a a anu, kudanya ini milik tamuku Kisanak," jawab Ki Bekel.
Ia menjawabnya agak ragu namun mau apalagi terpaksa ia berkata jujur, karena Ki Bekel itu pun telah menasihatkan kepada pemilik nya agar menyembunyikan ke belakang.
Dasar bandel, tadi pun telah Kukatakan agar menyembunyikan nya, tetapi tetap saja tidak mau , kata Ki Bekel di dalam hatinya.
" Siapa tamu mu itu, bukankah dirimu adalah Bekel pedukuhan ini,?" tanya Orang itu lagi.
" Ahh, ia adalah seorang yg sedang kemalaman di jalan dan disini hanya sekedar menumpang menginap untuk selanjutnya besok pagi baru meneruskan perjalanannya lagi,". jawab Ki Bekel.
" Apakah ia seorang saudagar yg takut harta nya akan di rampok orang sehingga harus menginap disini, Ki Bekel,?" tanya orang itu.
" A aa ku tidak tahu , kisanak, apakah ia seorang saudagar atau bukan ," jelas Ki Bekel agak tergagap.
Sebenarnya ia tidak berniat untuk mengatakan nya tetapi sudah terlanjur sehingga ia sulit untuk berbohong lagi.
" Suruh tamu mu itu keluar, Cepaaaat," teriak orang itu.
" Bb bb baik kisanak," sahut Ki Bekel.
__ADS_1
Pemimpin pedukuhan itu berbalik hendak ke dalam memanggil Raka Senggani, namun ia sangat terkejut tiba -tiba saja ada orang yg menegur nya.
" Tidak perlu Ki Bekel memanggilku, memang nya ada perlu apa denganku, Kisanak, ada yg ingin ditanyakan?" tanya Raka Senggani.
Senopati Pajang itu terlihat santai seperti tidak sedang menghadapi masalah.
Sementara itu Ki Bekel sudah sangat ketakutan, lutut nya sampai gemetaran.
" Hehh ,. bocah , apakah Kuda ini milik mu,.?" tanya orang itu lagi.
" Benar kuda ini adalah milik ku, memang nya kenapa, ada masalah dengan kuda ini," jawab Raka Senggani dengan agak keras.
" Hehh, cepat serahkan kuda itu juga dengan keris yg ada di pinggangmu itu,. cepaaaat,!!? seru orang itu dengan keras.
Raka Senggani menatap wajah orang yg masih berada di punggung kuda itu, dan beberapa orang yg ada di belakang nya.
Cukup banyak jumlah mereka, belum lagi Pemimpin nya yg tidak ikut kemari, aku terpaksa bekerja keras kali ini, pikir Raka Senggani.
" Hehh, apakah kau tuli atau memang pura -pura tidak mendengar," teriak orang itu.
" Memang diriku tidak mendengar nya , dapat kisanak ulangi sekali lagi," pinta Raka Senggani dengan tenang nya.
Sambil menatap tajam ke arah Senopati Pajang itu , berkata orang itu,
" Ini untuk yg terakahir kali nya jika kau tidak menuruti perintahku jangan salahkan aku bila besok kau pulang tinggal nama saja," kata orang itu.
Ia diam sesaat sambil terus menatap wajah Raka Senggani.
" Buka telinga mu lebar -lebar,....cepat berikan kuda itu beserta keris yg ada di pinggangmu itu atau kalau tidak jangan salahkan aku, bila nanti kau akan mati disini," seru orang itu dengan keras.
Raka Senggani yg memang pura -pura saja segera menjawab,
" Silahka ambil jika kau mampu, tetapi jangan harap aku akan memberikan nya kepada mu , kalau kau mengambil nya langkahi dulu mayatku,". jawab Raka Senggani.
" Bocah ,. kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, kami ini kawanan rampok asal gunung botok dan dipimpin oleh kakang Mangku Darno, cepat segera berlutut karena telah berani berlaku lancang di hadapan kami, Cepaaaat,". teriak orang itu.
Senopati Pajang itu bukan nya takut malah dengan tenang nya ia menjawab,
" Kalian ini siapa , apakah Kanjeng Sultan Demak yg harus berlutut di hadapan nya, kalian ini cuma sampah, yg berani nya pada kawula alit, terhadap seorang prajurit Demak saja kalian tidak berani, lakukan lah apa yg kau lakukan, aku tidak sudi berlutut di hadapan mu," jawab Raka Senggani.
Kemarahan orang itu memuncak terlihat dari raut wajah nya, ia segera memberikan isyarat kepada teman -temannya.
" Ayo, tangkap orang ini, bila perlu bunuh sekalian, agar mau petingatan bagi orang -orang yg berani menentang keinginan dari kakang Mangku Darno, cepat lakukan,". teriaknya.
" Baik kakang," jawab teman -teman nya itu.
Lima orang segera turun dengan senjata terhunus mendekati Raka Senggani.
Kelima langsung mengepung pemuda itu, salah seorang dari lima orang itu masih sempat berkata kepada Raka Senggani untuk berlutut meminta maaf dan menyerah kan permintaan dari pemimpin nya itu.
Tetapi Raka Senggani diam saja tidak menjawab perkataan orang itu.
Langsung saja kelima nya menyerang Senopati Pajang itu.
Pertarungan pun terjadi, kelima nya langsung membacok kan senjata nya ke tubuh Senopati Pajang itu.
Raka Senggani hanya menghindar dengan menggeser kaki nya selangkah demi selangkah.
Dan sesekali tangan nya menangkis serangan itu.
Kelima nya merasa heran karena mereka belum mampu menyentuh tubuh lawannya itu dengan senjata nya.
Ketika salah seorang menebaskan pedangnya ke arah kaki, Raka Senggani mengangkat kaki itu sebelah, dan datang lagi seorang yg menusukkan pedang nya ke arah dada pemuda itu, kembali Senopati Pajang itu menggeser tubuh nya sedikir menyamping, luput serangan itu dalam jarak satu jari dari tubuh nya.
Kemudian datang lagi serangan mengarah kepalanya, hanya dengan menunduk kan sedikit kepala nya serangan itu pun menemui tempat kosong.
Kelima bergerak semakin cepat dan semakin garang, tetapi sejauh itu tidak satupun serangan yg mampu menembus pertahanan dari Senopati Pajang itu.
Pemimpin yg masih berada di punggung kudanya itu memperhatikan dengan cermat apa yg telah terjadi.
Ia berteriak dengan keras,
__ADS_1
" Apa yg kalian lakukan , hanya untuk meringkus aeorang bocah kecil saja kalian tidak mampu, cepat habisi orang itu dan ambil keris yg ada di pinggangnya itu,"
Mendengar ucapan dari pemimpin nya itu kembali kelima orang itu menyerang dengan tebasan pedang yg sangat cepat, mereka tidak merasa telah di permainkan oleh Senopati Pajang itu.