Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 12 Tantangan. bag ke sembilan.


__ADS_3

Begitu berada di dalam rumah, Senggani langsung menanyakan hal itu kepada Ki Lamiran.


" Siapa menurut aki yg telah menulis surat Tantangan ini,?" tanyanya.


" Kalau menurut aki mungkin murid dari Mpu Phedet Pundirangan atau Mpu Yasa Pasirangan, Ngger,!" jawab Ki Lamiran.


Raka Senggani tercenung mendengarkan hal itu, menurut nya tidak mungkin Sentanu berani menantangnya lagi setelah kekalahan nya saat di Demak, dan tampaknya pemuda itu tulus meminta maaf nya.


Boleh jadi ini ulah dari Arya Pinarak, bukankah saat itu ia ada yg menolong nya, dan saat ini ia tengah menempa dirinya dan kembali ingin menantangku, pikir Raka Senggani.


Hehh, jangan -jangan ini adalah jebakan, karena bukit Klangon berada di kaki gunung Merapi, mungkin mereka akan menjebakku di sana, katanya lagi.


" Mungkin ucapan yg aki katakan itu benar, adalah Arya Pinarak yg merupakan murid dari Mpu Phedet Pundirangan itu yg telah mengirimkan surat Tantangan ini, sekaligus ia memohon kepada Mpu Loh Brangsang untuk menghabisi Senggani di Bukit Klangon itu, bukankah jarak dari Merapi ke Klangon tidak jauh," jelas Raka Senggani.


Orangtua itu mengangguk -anggukkan kepala nya, ia tampaknya setuju dengan ucapan Senopati Pajang itu.


" Jadi menurut aki, sebaiknya lah angger Senggani tidak usah melayani Tantangan ini, memang sesuai perkiraan dari Angger itu, ini adalah jebakan, kalau hanya ingin melakukan Perang Tanding mengapa harus jauh -jauh ke Klangon disini kan bisa," ungkap Ki Lamiran.


" Ki, apa yg harus Senggani lakukan,?" tanyanya kepada orangtua itu.


" Jangan Angger tanggapi, biarkan saja, angger Senggani tetap bekerja seperti biasanya," jawab Ki Lamiran.


" Apakah ini bukan sebuah tindakan pengecut,Ki,?" tanya nya lagi.


" Pengecut atau tidak tergantung dari sudut pandang mana kita melihat nya, jika dari pihak mereka tentu sikap ini memang tindakan pengecut tetapi kalau kita mengetahui ini sebuah jebakan dan tetap kita lakukan itu namanya tindakan yg bodoh," jelas Ki Lamiran.


Raka Senggani mengurai kata -kata yg diucapkan Ki Lamiran itu, memang merupakan suatu kebodohan untuk menerima Tantangan ini meski terasa harga diri yg di lecehkan. Namun nyawa yg cuma satu ini memang harus di pertahankan. Ada rasa bimbang di hati sang Senopati setelah mendapatkan surat Tantangan itu.


Sementara Ki Lamiran terus memberikan arahan agar tidak menerima Tantangan itu, ia khawatir akan keselamatan anak angkat nya itu, meski ia tahu kemampuan nya.


Tetapi sehebat dan setinggi apapun ilmu seseorang jika harus berhadapan dengan lebih dari dua orang yg berilmu tinggi tentu akan sulit untuk mengalahkan nya, jadi Surat Tantangan itu memang untuk menghabisi kiprah dari sang Senopati Pajang.


Memang telah banyak orang yg bersinggungan dengan nya sehingga dendam itu tetap ada meski sang Senopati berilmu tinggi.


" Sudahlah Ngger, jangan terlalu di pikirkan, istrahat kanlah dirimu, mumpung belum pagi," terdengar Ki Lamiran menasehati.


Raka Senggani pun menurutinya ia segera merebahkan tubuhnya walaupun di pikirannya berkecamuk berbagai masalah. Ia berusaha melupakan nya.


Sampai kesiangan Raka Senggani, ia terjaga setelah terang tanah, buru -buru ia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat shubuh.


Sementara Ki Lamiran sudah di pategalan dan kali ini ia mulai menanami tanah itu dengan tanaman Singkong.


Raka Senggani menyusuli nya saat hari telah terang , ia memang kesiangan, tidak seperti biasanya, akibat dari surat Tantangan itu, ia terus memikirkan nya.


Sampai disana dilihatnya Ki Lamiran tengah menanami pategalan segera di bantunya lah Ki Lamiran menanami tanah pategalan dengan batang -batang singkong yg telah di potong - potong pendek.


Saat Matahari condong ke barulah mereka selesai mengerjakan nya. Keduanya segera beristrahat sejenak baru setelah nya kembali ke rumah.


Walaupun hari belum terlalu sore, dan Raka Senggani setelah nya langsung menuju rumah Ki Jagabaya.


Sampai disana ia langsung mengatakan kepada pemegang keamanan desa Kenanga itu akan berpamitan karena ia akan kembali ke Pajang dalam dua hari lagi.


Sari Kemuning yg mendengar ucapan nya terlihat berubah wajahnya, ada mendung di wajah gadis putri Ki Jagabaya itu.


Demikian pula dengan Raka Senggani , walaupun agak berat untuk meninggalakn Kenanga namun harus di jalaninya karena ia telah terikat pada tata keprajuritan Pajang.


Oleh Ki Jagabaya , kedua anak muda itu di berikan kesempatan untuk mengobrol berdua saja.


Keduanya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk saling mencurahkan isi hatinya.


" Kemuning, mungkin kakang akan lama kembali kemari ke desa Kenanga ini, tetapi satu hal yg perlu Kemuning tahu, jika nanti kakang kembali, akan meminta Ki Lamiran,....." ucapan dari Senopati Pajang itu terputus.


" Kakang akan meminta apa pada Ki Lamiran itu,?" tanya Sari Kemuning penasaran.


Raka Senggani tidak mampu meneruskan ucapan nya itu, serasa ada beban di lidahnya untuk mengucapkan nya.


" Hehh, ditanya kok malah bengong," seru Sari Kemuning.


Tetapi Raka Senggani diam saja, ia masih mengimpulkan keberaniannya guna mengungkapkan perasaan nya.


Masih lebih berat untuk mengungkapkan perasaan daripada mengungkap ilmu kadigjayaan, kata nya dalam hati.

__ADS_1


Dengan segala keberaniannya akhirnya ia berkata,


" Kakang akan melamarmu Kemuning melalui Aki Lamiran, nanti setelah kembali dari Pajang, bersediakah dirimu Kemuning, untuk menjadi istri Kakang,?" tanyanya kepada Sari Kemuning.


Wajah gadis itu berubah kemerah -merahan dan di sudut matanya mengembang bulir -bulir airmata dan tanpa disadari nya menetes di pipi.


" Hehh, kamu menangis Kemuning, apakah dirimu tidak bersedia menjadi istri Kakang?" tanya Raka Senggani.


Pemuda itu gelagapan, ia tidak menyangka ucapan nya membuat gadis itu malah menangis.


Apakah Sari Kemuning tidak menciantaiku, bathinnya.


Nampak wajah Senopati Pajang itu berubah -ubah , terkadang ia merasa malu dan terkadang merasa bersalah.


Tetapi setelah mendengar jawaban dari Sari Kemuning,


" Kang , Kemuning sangat terharu dan bercampur bahagia mendengar ucapan kakang tadi, bahwa kakang telah memilih Kemuning, dan yakinlah Kang,... sampai maut memisahkan kita, Kemuning akan bersedia mendampingi Kakang, dan Kemuning akan menunggu mu, Kang," jawab gadis itu.


Raka Senggani mengambil kain panjang nya dan menyeka airmata Sari Kemuning.


Jawaban gadis itu seperti air dingin yg telah menyejukkan hatinya.


Lama keduanya terdiam, dan terdengar batuk -batuk dari dalam, dan tidak terlalu lama, Ki Jagabaya dan istrinya keluar, duduk bersama mereka berdua.


Raka Senggani agak heran karena tidak melihat Japra Witangsa, kakak Sari Kemuning.


" Kemana Kakang Witangsa , Kemuning,,?" tanya nya kepada Sari Kemuning.


" Tadi siang bersama Kakang Andara berangkat ke Kedawung,!" jawab Sari Kemuning.


" Apakah mereka akan segera memberikan pelatihan kepada para pengawal Kademangan itu,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Sepertinya demikian kakang, karena mereka pamit dan akan pulang nanti malam," jawab Sari Kemuning lagi.


" Mudah -mudahan mereka tidak mendapatkan halangan," gumam Raka Senggani lagi.


" Amiiin," sahut Ki Jagabaya dan istrinya.


Kemudian Orangtua dari Sari Kemuning itu menanyakan tentang kesiapan Senopati Pajang itu untuk melamar putrinya, ia juga menanyakan perihal Tara Rindayu putri Juragan Tarya itu.


Bahkan ia sudah menanyakan kesiapan dari Ki Lamiran yg akan dijadikan walinya pengganti kedua orang tua nya yg telah tiada itu.


Dan ia juga akan menjelaskan kepada Juragan Tarya jika kelak ia kembali lagi.


Bahwa tiada niatan nya untuk memperistri putri Juragan Tarya tersebut.


Ki Jagabaya sangat senang mendengar nya, ia pun berharap agar Senopati Pajang itu dapat kembali lagi secepatnya ke Kenanga.


Raka Senggani pun berharap demikian agar ia segera dapat kembali lagi ke Kenanga , tetapi tugas -tugas nya kadipaten Pajang memang masih banyak, ia pun akan membawa prajurit Pajang itu ke Kotaraja Demak guna membantu pasukan Demak yg akan dibawa melawat ke Lo itu.


Dua hari yg tersisa dihabiskan oleh Raka Senggani bersama dengan Sari Kemuning jika siang hari dan malam nya ia tetap melihat latihan dari para pemuda desa Kenanga.


Saat ia akan kembali ke Pajang , ia masih menyempatkan diri untuk singgah di rumah Sari Kemuning, untuk pamit.


Gadis itu tampak sangat sedih karena akan ditnggalkan oleh sang kekasih. Ia masih sempat memberikan bekal kepada Raka Senggani.


" Kemuning jangan bersedih, nanti Kakang juga akan sedih melihatnya, " ucap Raka Senggani.


" Iya kang, Kemuning tidak sedih kok, hanya tadi agak kelilipan matanya," jawab gadis itu.


Sambil menyeka airmata yg telah jatuh di pipinya.


" Kakang pamit, mudah mudahan cepat kembali lagi, tetap terus berlatih, jangan lupa salam Kakang untuk yg lain nya," ujar Raka Senggani.


Senopati Pajang itu melompat keatas punggung si Jangu.


" Selamat tinggal Kemuning," ucap nya lagi.


Sambil melambaikan tangan nya.


" Selamat jalan kakang," desis Sari Kemuning.

__ADS_1


Nyaris tidak terdengar suara dari gadis itu.


Raka Senggani menjalankan si Jangu dengan perlahan, karena jalanan masih ramai orang yg melintas, bahkan di Sepanjang jalan itu ada saja orang yg menyapa nya atau sekedar melambaikan tangan.


Memang pemuda itu cukup terkenal di desa Kenanga itu.


Setelah meninggalkan desa Kenanga barulah ia menggebrak kudanya agar berlari kencang.


Si Jangu seperti mengerti perasaan dari tuan nya segera melaju dengan cepatnya.


Di hati pemuda itu sebenarnya masih terbersit tanya akan surat Tantangan itu.


Nanti setibanya di Pajang aku akan menanyakan hal ini kepada Paman Tumenggung Wangsa Rana, pikirnya.


Ia terus melaju menuju Pajang, selama dua hari satu malam sampailah ia di kota Kadipaten Pajang.


Saat menjelang malam ia membawa si Jangu menuju rumah Tumenggung Wangsa.


Sang Tumenggung yg sedang duduk -duduk diatas pendopo rumah nya terkejut melihat Senopati Brastha Abipraya telah tiba di rumahnya.


" Assalamu alaikum, Paman Tumenggung," ucap nya.


" Wa'alaikum salam, angger Senopati," jawab Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani langsung naik ke atas pendopo rumah itu, sejenak duduk sebentar iapun segera ke belakang menuju pakiwan, ia segera mandi dan membersihkan tubuh nya.


Malam itu ia dan Tumenggung Wangsa Rana berbincang dengan di temani oleh istri Tumenggung Wangsa Rana.


" Bagaimana Ngger, apakah keluarga di Kenanga dalam keadaan baik,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik Paman, bahkan keluarga yg di Demak pun dalam keadaan baik," jawab Raka Senggani.


" Apakah Angger langsung pulang setelah dari Demak,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Benar Paman, Senggani langsung pulang ke desa Kenanga setelah dari Demak, dan sempat bermalam di pedukuhan dalih selama beberapa malam," jelas Raka Senggani


" Tertahan di dalih,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana .


" Benar Paman, Senggani harus menunggu prajurit Demak yg akan menjemput kawanan rampok yg tertangkap disana,!". ujar Raka Senggani lagi.


" Kawanan rampok darimana Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Dari Gunung Botok menurut pengakuan nya dan di pimpin oleh Ki Mangku Darno, Paman," jawab Raka Senggani.


" Ki Mangku Darno, bukan kah ia seorang begal yg cukup sakti, dan Angger Senggani berhasil mengalahkan nya,!!?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Iya Paman, dan ia sendiri harus tewas karena tidak mau menyerah," kata Raka Senggani.


" Paman Tumenggung, kita harus memperhatikan keamanan tlatah Pajang dan Demak ini dengan semakin meningkatnya tindak kejahatan yg di sebabkan oleh tangan -tangan yg tidak bertanggungjawab, dan Demak sepertinya kurang memperhatikan masalah ini, dari penuturan Ki Bekel dalih, mereka telah tiga kali melaporkan kegiatan dari kawanan rampok itu tetapi tidak ada tanggapan," kata Raka Senggani lagi.


" Benar ucapanmu itu Ngger, tetapj kita mau apalagi, kita di perintahkan untuk tunduk dan patuh terhadap perintah Junjungan, dan saat ini Junjungan yg ada di Kotaraja Demak memerintahkan kita untuk menyiapkan pasukan agar dapat membantu Demak melawat ke Lor, beruntung Kanjeng Adipati masih dapat bersikap bijaksana, ia tidak melupakan keadaan di Kadipaten Pajang ini, sehingga sampai sast ini Pajang masih dalam keadaan aman," jelas Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani kemudian menceritakan tentang surat Tantangan yg telah di terima nya itu kepada Tumenggung Wangsa Rana.


Ia meminta pendapat dari orang kepercayaan Adipati Pajang tersebut.


" Kalau menurut paman, sebaiknya angger tidak usah meladeni Tantangan itu, karena entah siapa orang nya, kita kan tidak tahu, dan jika memang Angger Senggani masih ingin mendatangi nya bawalah pasukan kesana,"


Terdengar nasehat dari Tumennggung Wangsa Rana, ia memang setuju dengan ucapan dari Ki Lamiran agar tidak terlalu ambil pusing dengan Tantangan itu.


Esok harinya Raka Senggani segera menghadap Adipati Pajang di Keraton. Ia segera menyampaikan segala kegiatan nya kepada sang Adipati.


Bahkan sang Adipati tersenyum mendengar ada seseorang yg akan menantangnya bertarung di Bukit Klangon.


Sang Adipati bahkan menyarankan agar Senopati nya itu menuruti permintaan orang itu.


Baik Raka Senggani maupun Tumenggung Wangsa Rana terkejut mendengar ucapan dari sang Adipati, mereka berdua tidak menyangka bahwa Adipati Pajang berbeda pendapat dengan mereka.


Apakah Kanjeng Gusti Adipati tidak merasa ini adalah jebakan, pikir Raka Senggani.


Sampai kembali ke rumah Tumenggung Wangsa Rana, Raka Senggani tidak habis pikir dengan saran yg di ucapkan sang Adipati.

__ADS_1


Demikian pula dengan Tumenggung Wangsa Rana, ada yg tidak pas menurut Tumenggung itu dengan ucapan Junjungan nya tetapi ia tidak berani membantahnya.


Semua itu terpulang kepadamu Ngger, tidak ada yg dapat memaksamu, jika dirimu tidak berkenan urungkan saja, anggap saja sebagai angin lalu saja, ucap nya kepadae Raka Senggani.


__ADS_2