
Raka Senggani terlihat salah tingkah ketika keempat nya menyebut nya sebagai seorang guru.
Karena warga Kademangan Kedawung pada melihat ke arah dirinya, sebahagian besar dari mereka tidak menyangka bahwa guru keempat pahlawan yg mereka elu -elukan itu ternyata masih sangat muda, bahkan diantara keempatnya terlihat ia yg paling muda.
" Gak nyangka gurunya masih muda begini, mau dong jadi muridnya," celetuk seorang ibu -bu muda yg sedang menggendong anak nya.
Sari Kemuning langsung melirik perempuan itu, ia tidak menyangka pujaan hatinya itu disukai oleh para ibu -ibu.
Kemudian keempat nya saling berpelukan satu sama yg lainnya, termasuk, Sari Kemuning.
" Adi,...baru kembali dari Demak,,?' tanya Jati Andara.
" Benar, kakang Andara, entah mengapa semacam ada firasat , Senggani harus lewat dari Kedawung ini, ....tidak tahu nya bertemu dengan kalian berempat, apakah kalian dalam keadaan baik,?" tanya Senopati Brastha Abipraya.
" Baik, sangat baik, bagaimana dengan Adi Senggani, apakah dalam keadaan baik,?" tanya Jati Andara balik.
" Sama -sama, Senggani pun dalam keadaan baik, meski seharusnya telah tiba di Kenanga hari kemarin, karena ada sesuatu hal, terpaksa harus bermalam di pedukuhan dalih , beberapa malam," jawab Sang Senopati.
" Marilah kita naik ke atas pendopo, disana kita dapat bercerita panjang lebar," ajak Jati Andara.
Kelima pemuda desa Kenanga itu naik kembali ke atas pendopo rumah Demang Kedawung.
Untungnya rumah Ki Demang itu cukup luas, baik pendopo nya, maupun sentong kiri dan kanan nya.
Sehingga meski agak berdesakan namun masih dapat menampung kelima nya.
" Inilah Ki Demang , guru kami, meski usia lebih muda dari kami, tetapi beliaulah yg mengajari kami ilmu, terutama nya ilmu silat," ucap Jati Andara.
" Tidak menyangka ternyata yg namanya Raka Senggani itu masih sangat muda, kenalkan aki adalah Demang Kedawung," ucap Demang Kedawung.
" Saya Senggani, tepatnya Raka Senggani, Ki Demang," sahut Senopati Pajang tersebut.
" Mohon maaf sebelumnya, lebih baik ku panggil angger Senggani saja biar lebih akrab," kata Ki Demang lagi.
" Tidak apa -apa, Ki Demang, panggil nama pun boleh," jawab Raka Senggani.
" Begini Angger Senggani, benarkah yg di katakan oleh Angger Andara itu bahwa Angger Senggani inilah guru mereka berempat,?" tanya Ki Demang Kedawung.
Senopati Pajang kemudian memandangi wajah ke empat teman -teman nya itu sebelum menjawab pertanyaan Demang Kedawung tersebut, ia memang agak risih dengan sebutan guru, karena merasa belum pantas menyandang nya.
" Begini Ki Demang, sebelum menjawab pertanyaan itu, izinkan Saya bertanya kepada ke empat nya, apakah mereka memang mengakui saya sebagai gurunya," ucap Raka Senggani kepada teman -teman nya itu.
Serentak keempat nya mengangguk kan kepalanya.
" Baiklah, sekarang saya jelaskan, bahwa sebenarnya saya hanya memberikan arahan saja kepada ke empatnya untuk berlatih ilmu silat setelah Desa kami desa Kenanga di serang oleh gerombolan rampok yg di pimpin Singo Lorok dari Gunung Tidar, kami awalnya teramat kesulitan menghadapi nya walaupun akhirnya berhasil mengusir mereka, dari sinilah awal mulanya para pemuda desa Kenanga termasuk keempat teman saya ini mulai belajar ilmu silat dan oleh Ki Bekel sayalah yg memberikan latihannya, demikian lah Ki Demang," jelas Raka Senggani.
" Berarti memang dirimu lah guru mereka, apapun alasan nya," sahut Ki Demang Kedawung.
" Saya belum pantas untuk menyandang gelar itu, karena saya mengakui masih banyak kekurangan nya, Ki Demang " ucap Raka Senggani lagi.
" Kalau boleh tahu Angger Senggani ini asli dari desa Kenanga,?" tanya Ki Demang Kedawung lagi.
" Ya, saya memang putra asli dari desa Kenanga, memangnya ada apa, Ki Demang,?" tanya Senopati Pajang.
" Kalau boleh tahu siapa orang tua nya, Angger Senggani ini,?" tanya Ki Demang Kedawung.
" Romo saya bernama Raka jaya, Ki Demang," jawab Raka Senggani.
" Raka Jaya,!!" seru Ki Demang Kedawung agak terkejut.
" Benar, Raka Jaya adalah Romo saya, apakah Ki Demang mengenalnya,?" tanya Raka Senggani.
__ADS_1
" Pantaslah , aki mengenal nya bahkan berteman cukup akrab dengan beliau, sayang beliau tewas saat masih berusia muda, dan aki tidak sempat mengenali mu , Ngger karena saat itu kami masih sama -sama belum berumah tangga, kedekatan nya dengan salah seorang keturunan dari Prabhu Brawijaya terakhir itulah yg membuatnya jadi harus meregang nyawa akibat keserakahan oleh segelintir orang yg tidak bertanggungjawab,!" urai Demang Kedawung.
Sambil menatap kepada Raka Senggani yg menundukkan wajah nya, apabila ia terkenang dengan kedua orang tuanya itu, ada perasaan yg sangat sedih di hatinya.
Namun ia kemudian berpikir lagi, jika hal itu tidak terjadi pada waktu mungkin dirinya tidak seperti sekarang ini, walaupun kehidupan nya yg di rasakan cukup pahit pada awalnya, sebelum bertemu dengan gurunya itu.
" Maaf Ngger, jika aki salah berkata, bukan maksud untuk mengungkit luka lama, hanya teringat dengan nasib Romo mu itu yg sejak muda telah berteman denganku, jadi sekali lagi maafkanlah," kata Ki Demang Kedawung.
" Tidak apa -apa Ki Demang, memang itulah yg terjadi, dan pembunuh kedua orang tuaku itu pun telah berhasil saya kalahkan dan menerima balasan yg setimpal dengan perbuatan nya itu," ungkap Raka Senggani.
Suasana di pendopo rumah Ki Demang itu agak hening sesaat, karena kisah dari Demang Kedawung itu.
Japra Witangsa lah yg kemudian membuka suaranya, karena tadi ia di perintahkan oleh Jati Andara untuk menceritakan kisah mereka di Gunung Pandan.
Semua yg ada di situ kemudian mendengarkan semua kisah yg di ceritakan oleh Putra Ki Jagabaya itu mulai dari ketika mereka menelusuri nya di alas Kedawung, kemudian atas beberapa petunjuk yg mengarah kepada Ki Jarong, hingga akhirnya di temukan keberadaan dari Ki Jarong itu setelah di beritahukan oleh Nyi Demang, Sri Mulasih.
Hingga keempat nya harus bertanggung di lereng Gunung Pandan, semua nya tidak ada yg terlewat.
Namun di tengah cerita dari Japra Witangsa terdapat kisah asmara antara Nyi Demang dengan Ki Jarong, dan Karena sakit hati nya sampai mau menculik Savitri dan diyakini nya sebagai putrinya.
Nyi Demang merasa terpojok setelah mendengar kisah dari Putra Ki Jagabaya desa Kenanga tersebut.
Tetapi kemudian, baik Ki Demang maupun Putri nya Savitri tidak menyalahkan Nyi Demang.
" Memang itu bukan kesalahan mu, Nyi, Karena pada waktu itu, kakang pun tahu dirimu masih berhubungan dengan Ki Jarong, namun memang Romo lebih memilih diri ku di bandingkan dirinya, kakang tidak menyalahkan mu, itu adalah masa lalu, dan Savitri ini adalah Putri kita berdua," ucap Ki Demang Kedawung dengan sareh.
" Benar mbok, jika memang Ki Jarong itu adalah orangtua ku, mana mungkin ia tega menyakitiku, pundak ku ini masih terasa nyeri, beruntung kakang -kakang ini telah menolongku, kalau tidak, Savitri tidak dapat membayangkan apa yg akan terjadi pada diriku," sahut Savitri.
Wajah Nyi Demang kembali cerah, yg semula di tekuk nya, kini diangkat nya kembali, ia langsung memeluk Putri semata wayang nya itu.
" Maafkan si mbok mu , Nduk," ucap nya sambil berurai airamata.
Hati ibu manalah yg tidak akan gusar ketika mengetahui putrinya hilang tanpa jejak.
Raka Senggani yg mendengar kisah ke empat temannya itu pun berbangga hati , Karena selain kemampuan mereka yg telah dapat diandalkan juga cara mereka mengurai masalah hilang nya Savitri , Kembang Kedawung itu yg sangat-sangat baik.
Ia sampai menatap ke empatnya secara bergantian.
Memang kalian telah dapat di harapkan untuk menjadi seorang yg tangguh tanggon, katanya dalam hati.
Ia bahkan berjanji akan menurunkan ilmu Wajra geni miliknya nanti jika telah sampai di desa Kenanga kelak.
Kemudian keheningan itu di pecahkan dengan suara Jati Andara,
" Demikianlah Ki Demang yg telah terjadi di gunung Pandan itu, kami bukan nya ingin menyudutkan Nyi Demang, karena keberadaan dari Ki Jarong itu, kami dapat dari Nyi Demang sendiri," ucap Putra Ki Bekel.
" Ya, aki pun mengerti, tidak ada yg perlu di salahkan dalam hal ini, mungkin memang Ki Jarong masih mendendam kepadaku sehingga ia melampiaskan nya dengan menculik putri ku ini," ucap Ki Demang Kedawung.
Sampai larut malam pertemuan di rumah Ki Demang Kedawung itu masih berlanjut, para warga masih banyak berada di situ.
Setelah kentongan bernada muluk berbunyi pertanda malam telah pada puncak nya barulah secara berangsur-angsur para warga meninggalkan tempat itu.
Sedangkan tamu Ki Demang yg dari Kenanga masih tetap berada di tempat itu.
Mereka terus mengobrol membicarakan tentang kehebatan seorang anak muda yg bernama Raka Senggani itu yg telah mampu merobah Kenanga menjadi sebuah desa yg memiliki orang -orang yg dapat di andalkan ilmu silat nya.
Bahkan secara pribadi , Ki Demang Kedawung meminta kepada Putra dari Raka Jaya itu untuk menjadi guru di Kademangan Kedawung tersebut.
Bukan nya Raka Senggani yg menjawab permintaan Ki Demang itu, tetapi Sari Kemuning yg mengatakan bahwa Senopati Pajang itu sangat sulit untuk meluangkan waktu nya untuk mengajari para pemuda desa termasuk di desa Kenanga.
Nampak Ki Demang Kedawung itu menghela nafasnya, ia pun maklum dengan kesibukan sang Senopati Pajang tersebut.
__ADS_1
Tetapi Raka Senggani tidak langsung mematahkan semangat dari Ki Demang, ia mengatakan kepadanya bahwa nanti salah seorang dari empat orang itu akan dapat menggantikan dirinya guna memenuhi permintaan Ki Demang Kedawung itu.
Ia pun menjelaskan bahwa kemampuan dari mereka pun telah teruji dengan berhasil nya menyelamatkan Putri Ki Demang itu.
Ki Demang sangat senang mendengar ucapan dari Raka Senggani, ia memang berharap bahwa hubungan dengan desa Kenanga itu tidak putus sampai di situ saja.
Memang wilayah Kademangan Kedawung cukup luas dengan beberapa pedukuhan termasuk pedukuhan induk itu, jadi sudah semestinya para pengawal Kademangan nya memiliki kepandaian yg dapat di andalkan dengan jumlah yg lebih besar dari sekarang ini, begitulah pendapat Ki Demang Kedawung.
Lain hal nya dengan Raka Senggani, ia melihat bahwa Putra Ki Bekel itu tertarik dengan sang Kembang Kedawung, Savitri, beberapa kali Senopati Pajang itu melihat Jati Andara mencuri pandang kepada sang Kembang Kedawung.
Hemmmh, tampaknya kakang Andara menyukai Savitri itu, memang putri Ki Demang ini amat cantik, asalkan tidak ada persaingan antara kakang Andara dengan kakang Witangsa , ini masih akan aman -aman saja, kata Raka Senggani dalam hati.
Memang ia tidak melihat adanya gelagat dari Putra Ki Jagabaya kakak nya Sari Kemuning itu terhadap putri Ki Demang Kedawung tersebut, semuanya biasa -biasa saja berbeda dengan Jati Andara, entah berapa kali ia melihat putra Ki Bekel itu memperhatikan Savitri.
Memang kalau masalah hati , semua orang dapat melupakan hal baik atau buruk, demikian pula nanti jika sampai di Kenanga , apa yg akan Kukatakan kepada Ki Lamiran tentang permintaan nya itu, kata Raka Senggani lagi.
Ia hanyut dalam lamunan nya sendiri, makin dekat dengan desa Kenanga hatinya makin gelisah.
Apakah ia akan sanggup berhadapan dengan Juragan Tarya, jika nanti orang tua itu datang , batin nya lagi.
Lamunan Raka Senggani di buyarkan oleh Sari Kemuning,
" Kakang akan kembali bersama kami, esok pagi,?" tanya Putri Ki Jagabaya, Sari Kemuning.
Ia memandangi wajah ayu yg ada dihadapan nya itu, hatinya masih berkata, aneh memang dunia ini, dahulu aku sangat membenci Kemuning ini, namun sekarang, mendengar suaranya saja hatiku sangat bahagia, berbeda dengan Rindayu, yg dahulu amat aku sukai namun saat ini, Hehh, .. dimanakah ia berada, tanyanya dalam hati.
Di hati pemuda itu berkecamuk suatu hal yg sulit untuk di putuskan, terlebih ini menyangkut masalah hati.
" Haahhh,"
Desahnya, ia tidak menjawab pertanyaan dari Sari Kemuning, hingga membuat gadis itu geram.
" Kakang Senggani tidak mendengar pertanyaan ku tadi, " seru nya agak keras.
" Hehh, apa tadi yg kau katakan itu, Kemuning,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Kakang melamun, Yaa, " sahut Sari Kemuning.
Senopati Pajang itu terdiam.
" Sudahlah Kemuning, jangan kau bebani adi Senggani dengan pertanyaan mu itu, mungkin ia tengah memikirkan yg telah terjadi di Demak atau di pedukuhan Dalih," ucap Japra Witangsa.
Ia memang melihat bahwa Raka Senggani sepertinya tengah berpikir sesuatu yg mungkin dirinya sendiri yg tahu.
" Benar ucapanmu itu kakang Witangsa, Senggani sedang memikirkan keadaan pedukuhan kecil itu yg telah di serang oleh gerombolan rampok dari Gunung botok yg di pimpin seorang yg bernama Ki Mangku Darno," ungkap Senopati Brastha Abipraya itu mengalihkan pembicaraan.
Karena sesungguhnya ia tidak sedang memikirkan itu, tetapi untuk menutupi perasaan nya ia mengatakan demikian.
" Jadi kakang terlambat tiba di Kenanga Karena tertahan oleh para perampok yg ada di pedukuhan dalih itu,?" tanya Sari Kemuning.
Gadis itu tampak bersemangat, ia menyuruh kekasih nya itu untuk bercerita apa yg telah terjadi disana.
" Ahh, tidak ada serunya, hanya cerita biasa saja," jawab Raka Senggani.
" Tidak mungkin kakang tertahan disana jika tidak bertemu lawan yg lumayan tinggi ilmu nya," ujar Sari Kemuning lagi.
" Setinggi apapun ilmu seseorang , pasti diatas langit masih ada langit, yg memiliki ilmu yg tinggi itu banyak tetapi yg mmepergunakannya untuk menolong sesama itu yg masih perlu di pertanyakan, semua hal yg kita lakukan ini,kelak akan kita pertanggungjawabkan dihadapan sang Khalik," ucap sang Senopati Pajang itu.
Walaupun ia telah beralasan tetap saja Sari Kemuning meminta kepada nya untuk menceritakan kisah yg terjadi di pedukuhan itu.
Mau tidak mau Raka Senggani kemudian membeberkan apa yg telah dialaminya di rumah Bekel pedukuhan dalih itu.
__ADS_1
Mereka mendengarkan nya dengan semuanya terdiam, hanya terdengar suara Raka Senggani saja.