Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 26 Bara dendam. bag keempat.


__ADS_3

Di Kotaraja Demak sendiri, di sebuah rumah yg terlihat mentereng diantara deretan rumah -rumah yg ada di tempat itu.


Nampak seseorang berpakaian prajurit masuk ke dalam rumah tersebut. Setelah sebelum nya pintu rumah tersebut terbuka.


" Hehh, ada berita baik yg kau bawa Kemangkrang,..?" tanya seorang pemuda yg berpakaian bagus.


" Ada den, berita ini dari cirebon,..!" sahut prajurit itu.


" Apakah empat iblis dari Gunung kendeng berhasil menjalankan tugasnya,..?" tanya pemuda yg di panggil raden itu lagi.


" Itulah den, ternyata ke empat iblis dari Gunung kendeng tidak mampu mengalahkan Pangeran Abdullah Wangsa, bahkan mereka berempat pulang dengan membawa dua orang saudara nya yg terluka,..!" jawab prajurit itu.


" Hahh,.. Empat iblis dari Gunung kendeng itu terluka,..?" tanya pemuda itu.


" Benar den, mereka tidak mampu mengalahkan Pangeran Abdullah Wangsa yg dibantu oleh seorang yg berpakaian prajurit Demak, ia berpangkat Senopati kslau di tilik dari pakaian nya,.." jelas prajurit yg bernama kemangkrang itu.


" Seorang Senopati, bagaimana ciri -ciri nya,..?" tanya Pemuda tersebut kaget.


Kemudian prajurit itu menjelaskan ciri -ciri orang yg bersama dengan Pangeran Abdullah Wangsa itu dengan secara rinci sehingga tidak ada yg luput.


Mendengar penuturan dari kemangkrang ini, pemuda yg di panggil raden ini bergumam,..


" Apakah dia kakang Senopati Brastha Abipraya,...!" gumam nya.


Kalau memang dia yg bersama dengan kakang Pangeran Abdullah Wangsa, tentu akan sulit untuk membunuh nya, karena kakang Senopati Pajang ini amat tinggi ilmunya, berkata dalam hati pemuda ini.


" Apakah senopati Brastha Abipraya ini adalah Senopati agul -agul dari Pajang itu , Den ,..?" tanya prajurit itu.


" Benar, dan ia telah di percaya kan menjadi Senopati Sandi oleh Pamanda Sultan Demak, Pamanda Pangeran Sabrang Lor pada waktu itu, ia memang berteman dekat dengan keluarga dari Pamanda Pangeran Sabrang Lor ini,..!" jelas sang pemuda.


" Pantas,.." sahut kemangkrang.


" Pantas apanya , kemangkrang,..?" tanya pemuda itu penuh selidik.


Pertanyaan dari pemuda tersebut di jawab oleh prajurit yg bernama kemangkrang itu dengan mengatakan bahwa ilmu empat iblis dari Gunung Kendeng itu tidak ada apa apa nya, mereka dengan mudah dspat di kalahkan, seandainya mau mungkin ke empat nya telah tiada dari muka bumi ini.


" Benar yg kau katakan itu kemangkrang, memang Empat iblis dari Gunung Kendeng itu bukan tandingan dari Senopati Pajang itu, bahkan di tlatah Kerajaan Demak ini akan sangat sulit untuk di carikan bandingan nya, mungkin eyang Sunan Kalijaga dan Eyang Sunan Kudus sajalah yg mampu mengalahkan nya,..!" jelas pemuda yg di psnggil Raden ini.


" Berarti usaha Raden untuk melenyapkan Pangeran Abdullah Wangsa itu akan sangat sulit untuk dilakukan,..?" tanya prajurit yg bernama kemangkrang ini.


" Ahh, tidak mungkin untuk selama nya, kakang Senopati Brastha Abipraya itu akan tetap mengawal kakang Pangeran Abdullah Wangsa, tentu ia akan kembali ke Pajang, bukankah keluarga nya masih tinggal disana ,.." jawab Pemuda tersebut.


" Aku akan mencari orang yg bersedia untuk melakukan rencana ku ini, untuk menghabisi kakang Pangeran Abdullah Wangsa, aku tidak ingin ada orang yg akan menggangu kekuasaan dari Ramanda Sultan dalam memerintah Kerajaan Demak ini, dan tugasmu kemangkrang adslah tetap mengawasi kemana perginya kakang Pangeran Abdullah Wangsa itu, jangan sampai lepas dari pengamatan mu dan semuanya laporkan kepada ku,.." ucap pemuda itu.


" Sendika Kanjeng Gusti Pangeran, seluruh titah Raden Prawata akan hamba laksanakan,.." jawab prajurit yg bernama kemangkrang ini.


Ia adslah seorang prajurit sandi Demak yg Demak yg baru diangkat oleh Raden Prawata untuk menjadi kepanjangan tangan nya .


Karena saat ini Kerajaan Demak telah di kuasai sepenuhnya oleh Trah dari Kanjeng Gusti Sultan Trenggana termasuk Raden Prawata ini.


Sehingga beberapa prajurit telah mendekat dan merapat kepada Putra sulung Kanjeng Gusti Sultan Trenggana ini, termasuk beberapa perwira tinggi yg ada dalam keprajuritan Demak.

__ADS_1


Mereka berlomba lomba mencari muka di hadapan Raden Prawata yg menjadi orang kepercayaan dari Sultan Demak yg adalah orang tua nya sendiri.


Oleh sebab itulah , banyak prajurit Demak yg menjadi abdi setia dari Raden Prawata ini termasuk dengan kemangkrang.


Dari pertemuan keduanya , tampak jelas bahwa Raden Prawata memang berniat untuk menghabisi semua yg menjadi batu sandungan dari kekuasaan Ramanda nya itu. Termasuk Pangeran Abdullah Wangsa yg masih memiliki hak atas Tahta Demak ini.


Tetapi ternyata usaha untuk melenyapkan Pangeran Abdullah Wangsa tidak semudah dari perkiraan Raden Prawata , orang orang suruhannya ternyata tidak mampu untuk menjalankan rencana nya itu.


Memang Pangeran yg menjadi Adipati anom Demak ini memiliki rencana yg luar biasa demi menjaga kekuasan dari Ramanda nya ini, meski pun usia nya masih sangat muda sekali tetapi dengan berani ia telsh mampu melenyapkan Paman nya sendiri yg menjadi penguasa di lasem, Kanjeng Pangeran Surawiyata.


Dan kali ini ia ingin melenyapkan pula Pangeran Abdullah Wangsa yg adalah saudara sepupunya sendiri.


Sementara itu di puncak Gunung Lawu , terlihat sepasang muda mudi tengah berada di padepokan Gunung Lawu itu.


Mereka yg tiada lain adalah Raka Senggani dan Sari Kemuning,.dan di hadapan mereka adalah Panembahan Lawu.


Seorang yg sudah cukup sepuh dari usianya, ini terlihat dari rambutnya yg sudah memutih semua dan kulitnya pun tampak keriput.


" Angger Senggani, eyang sangat senang dirimu mau datang kemari,.karena sebenarnya diriku ini sepertinya memang sudah saat nya untuk kembali,.." ungkap Eyang Panembahan Lawu.


Terlihat memang wajah dari penguasa dari Gunung Lawu ini seperti memendam sesuatu namun, entah apa.


" Ahh, Eyang masih nampak kuat dan sehat , " ucap Raka Senggani.


Namun segera di sahuti oleh Panembahan Lawu bahwa dirinya kini memang kurang sehat, dan ia merasa memang sudah waktunya untuk kembali ke pangkuan yg Maha Kuasa.


Panembahan Lawu berencana akan menyerahkan padepokan Gunung Lawu itu kepada Raka Senggani yg ia percaya akan mampu meneruskan kepemimpinan nya di Gunung Lawu itu.


" Eyang,..bukankah diriku ini bukanlah murid dari padepokan ini, apakah tidak akan menjadi pertentangan kelak dengan para penghuni padepokan ini,..?" tanya Raka Senggani.


Raka Senggani tidak menjawab perkataan dari Panembahan Lawu, ia merasa belum pantas untuk menjadi seorang guru terlebih menjadi pemimpin sebuah padepokan yg cukup di segani di tlatah Kerajaan Demak ini.


Ia hanya mendesah nafas panjang mendengar ucapan dari Panembahan Lawu ini, bukan sekali ini saja ia mendengar permintaan nya, sudah cukup sering ia mengatakan hal tersebut.


" Eyang paham, di saat usia masih semuda ini akan menjadi pemimpin sebuah padepokan yg berada di tempat sunyi di Puncak Lawu ini, dirimu tentu merasa keberatan karena angger tentu masih memiliki keinginan dan cita -cita yg masih belum terwujud,..oleh sebab itulah , Eyang tidak akan memaksakan dirimu harus berad di Gunung Lawu ini selama dirimu memimpin nya, Angger dapat di mana saja , asalkan satu hal yg perlu angger Senggani perhatikan, untuk tetap menjadi pendidik di sini, baik itu olah kajiwan maupun olah kanuragan, dirimu memang sudah cukup matang akan kedua hal tersebut, bagaimana, apakah Angger sanggup,..?" tanya Panembahan Lawu ini.


Raka Senggani yg merupakan seorang Senopati Sandi Demak itu mengangguk kan kepala nya, ia tidak dapat menolak permintaan dari orang tua yg telah banyak menolongnya itu.


Walaupun hati kecil nya masih bertanya apakah dirinya akan sanggup memenuhi permintaan itu.


" Bagus, Eyang sangat senang mendengarnya, istri dan anak yg di kandungan nya itu akan menjadi saksi janji Angger Senggani,..!" ujar Panembahan Lawu lagi.


Kemudian Raka Senggani menceritakan beberapa kejadian yg telah menimpa dirinya juga telah terjadi di kerajaan Demak ini, termasuk juga dengan kematian Paman nya Raka Jang.


Panembahan Lawu menanggapi nya dengan berkata sareh,..


" Ngger, setiap kita ini ada masa nya dan waktunya, demikian pula dengan Sultan Demak kedua itu, mungkin yg Maha Kuasa telah menggariskan untuk memanggil nya lebih cepat agar tidak terlalu banyak beban yg di pikulnya, bukankah setiap kita akan memikul masing -masing semua beban yg telah kita kerjakan selama hidup di dunia ini, sehingga memang nama Pangeran Sabrang Lor itu tetap harum sebagai seorang pahlawan yg gugur di medan juang, dan ada pun para bangsawan yg berebut akan tahta yang di tinggalkan nya itu pun sesuatu yg lumrah, karena sebuah kekuasaan amat indah untuk di dapat kan meskipun harus mengorbankan nyawa darah orang lain termasuk keluarga sendiri, itulah mengapa Eyang tidak mau turut campur berkecimpung di dalam sebuah kekuasaan, sungguh berat tanggung jawab yg harus kita terima, termasuk dirimu Ngger,..!" ungkap Panembahan Lawu panjang lebar.


Ia juga mengatakan bahwa takdir dari Paman Raka Senggani itu pun memang telah di tentukan oleh yg Maha Kuasa meski dengan jalan lantaran tangan orang lain yg membunuh nya.


Meskipun alasan orang tersebut tidak di ketahui apa penyebab, tetapi memang nyawa dari Paman Raka Senggani itu harus berakhir di tangan nya.

__ADS_1


" Satu hal yg perlu Eyang tekankan disini, jangan lah dirimu larut dan terbawa oleh bara dendam akibat dari terbunuh nya Paman itu ,Ngger ,..karena bara dendam di dalam dada mu akan membakar dirimu sendiri terlebih sebentar lagi Angger akan segera memiliki momongan, jadilah seorang ksatria sejati, yg bertarung dan berjuang karena sesuatu yg hak dan benar bukan karena kepentingan pribadi,.."


Nasehat Eyang Panembahan Lawu ini merasuk ke dalam sanubari Raka Senggani, Senopati Sandi Yuda Demak ini mnegqngguk- anggukkan kepalanya.


Memang benar apa yg telah dikatakan oleh Eyang Lawu ini, diriku tidak boleh hanyut akibat dendam kepada pembunuh Paman Raka Jang itu, berkata dalam hati Raka Senggani.


Wajah dari Senopati Bima Sakti ini terlihat cerah setelah mendengar semua nasehat dari penguasa Gunung Lawu ini semacam ada kedekatan nya dengan Panembahan Lawu tersebut , akan tetapi Raka Senggani tidak tahu, meskipun orang tua yg ada di hadapan nya itu bukanlah gurunya, tetapi telah banyak menolongnya.


Selama empat hari berada di padepokan Gunung Lawu, Raka Senggani dan istrinya Sari Kemuning kemudian pamitan kepada Panembahan Lawu untuk kembali ke desa Kenanga setelah di capai kesepakatan bahwa kelak Raka Senggani lah yg akan memimpin padepokan Gunung Lawu itu setelah Panembahan Lawu tiada.


Selepas terang tanah, Raka Senggani dan Sari Kemuning istrinya menuruni lereng gunung Lawu menuju ke Kenanga.


" Kemuning alangkah indanya alam ciptaan Yang Maha Kuasa ini, lihatlah , mentari pagi yg tengah memancarkan cahaya nya itu, teramat indah untuk di lihat, !" ungkap Raka Senggani kepada istrinya.


" Benar kakang,.sungguh suatu kesempurnaan yg telah di ciptakan oleh Yang Maha kuasa bahwa dengan cahaya nya itu sang surya dapat menerangi tempat ini juga menghangatkan udara disini,.." balas Sari Kemuning.


Keduanya memang merasakan udara dingin yg menusuk tulang, meski cahaya mentari telah mampu menembus rapatnya pepohonan yg ada di puncak Gunung Lawu itu.


Sepasang suami istri beristtrahat sejenak sang memandangi indahnya suasana di Gunung Lawu itu saat masih pagi, terasa bahwa keadaan damai menyapa keduanya.


" Kang ,apakah dirimu memang berniat menjadi pengganti dari Eyang Panembahan Lawu,..?" tanya Sari Kemuning kepada suaminya.


" Seperti yg telah kau dengar sendiri Kemuning, kakang tidak dapat menolak permintaan dari Eyang Panembahan Lawu, dan ia juga tidak terlalu memaksakan kakang harus berada disini terus menerus, dan tempat ini pun sungguh sangat cocok untuk menghindari kepenatan pikiran ketika sedang bertugas sebagai seorang abdi Kerajaan,.." sahut Raka Senggani.


" Yeahhh, jarak kesini pun tidak terlalu jauh dari desa Kenanga, Kang, mungkin setengah hari saja dapat melihat tempuh apalagi oleh kakang Senggani sendiri , mungkin dalam sekejap mata saja sudah dapat berada disinj jika dari desa Kenanga,.." ucap Sari Kemuning.


Pada saat keduanya akan kembali perjalanan nya , tiba -tiba saja Sari Kemuning meminta untuk di gendong,..


" Kang ,..mungkin permintaan orok, Aku ingin kakang gendong sampai turun ke bawah,..!" katanya.


" Sudah, cepat naik,.," seru Raka Senggani.


" Hufhhhh,.."


Sari Kemuning pun melompat ke atas punggung suami nya itu dan kemudian ia di gendong oleh Raka Senggani.


Dengan sangat hati hati Senopati Bima Sakti itu berjalan menuruni lereng gunung Lawu.


Hampir setengah harian berdua berjalan den Sari Kemuning berada diatas punggung Raka Senggani.


Putri Ki Jagabaya ini teramat senang sekali bahwa keinginan terkabul , ia pun dengan bebasnya memandangi indahnya suasana di lereng gunung Lawu itu.


Ketika keduanya telah sampai di bawah di kaki gunung Lawu itu, perasaan Senopati Bima Sakti tiba -tiba berubah , ia merasa ada seseorang yg tengah mengikuti mereka.


" Kemuning, sebaiknya dirimu turun,..!" bisik Raka Senggani.


" Hehh,..apakah dirimu sudah kelelahan menggendongku , Kang,..?" tanya nya agak keras.


" Ssst,..jangan keras keras,..kakang merasa ada seseorang yg tengah mengikuti kita, jadi untuk itu kakang memerlukan lebih konsentrasi guna mengetahui hal yg sebenarnya,. " jelas Raka Senggani pelan.


" Hahh,..ada yg mengikuti kita,..untuk apa ia mengikuti kita,..?" tanya Sari Kemuning.

__ADS_1


Ia melompat turun dari punggung suaminya itu.


Dan kemudian berjalan lebih dahulu dari suaminya.


__ADS_2