
Lelaki tua itu lantas meninggalkan Tumenggung Gajah Ludira yg masih berbaring di atas batu pipih yg cukup besar .
Karena Tumenggung Gajah Ludira ini sudah mampu bangkit dari pembaringannya itu.
Orang tua yg di panggil guru itu masuk lebih dalam lagi dari lorong goa yg lumayan besar tersebut.
Makin ke dalam makin curam jalannya, meskipun masih cukup lebar untuk di lalui oleh orang yg berjalan kaki.
Hingga lelaki tua ini tiba di suatu tempat yang sudah sangat jauh dari mulut goa, tepatnya terletak dalam dasar goa.
Di tempat tersebut ternyata ada sebuah mata air panas yg tidak terlalu luas , mungkin hanya sebesar sumur biasa saja, tetapi dari mata air ini keluar uap yg menandakan bahwa air yg berada disitu memang berhawa panas.
Dan di dalam kolam atau lebih tepatnya seperti sumur yang tidak terlalu dalam tersebut tengah berendam seorang lelaki yang bertelanjang dada dan usianya masih belum terlalu tua.
Orang tersebut nampaknya tengah berendam dalam air yg mengeluarkan uap ini.
" Bagaimana keadaan mu, Angger Darsana,..?" tanya Lelaki tua yg baru datang ini.
" Sudah agak mendingan guru,.dada ku kini tidak terlalu sesak lagi,..!" jawab lelaki yang di panggil Darsana ini.
" Kalau demikian sudah sewajarnya kau naik dari kolam itu, Aku akan segera mengobati mu agar secepatnya sembuh dan kembali seperti sedia kala, " kata Lelaki tua yg di panggil guru.
Darsasana pun bangkit dari dalam air yg mengeluarkan uap tersebut dan segera naik ke tepian nya.
Ia kemudian duduk lagi di sebongkah batu besar yg tidak berada jauh dari kolam tersebut.
Lelaki tua yang dipanggil Guru ini pun mendekati tubuh Darsasana yg tengah duduk dalam posisi bersedekap.
" Bersiaplah , Darsana ,.Guru akan mulai menyalurkan hawa murni ke tubuh mu agar segera mampu mengusir dan mengeluarkan pengaruh buruk dari ajian Wajra Geni yg telah menghantam dirimu berkali-kali,.!" jelas Lelaki tua itu.
" Baik Guru,..!" sahut Darsasana menganggukkan kepalanya.
Lelaki tua ini langsung menempelkan kedua tangan nya pada punggung muridnya yang di panggil Darsana itu.
Dalam beberapa saat saja maka Lelaki tua itu telah mengerahkan tenaga dalam nya guna menyembuhkan luka dalam yg di derita oleh muridnya .
Cukup lama kedua orang ini melangsungkan nya, setelah dirasa cukup oleh lelaki tua tersebut maka ia pun menghentikan usahanya tersebut.
" Mungkin untuk hari ini , cukup sekian dulu, besok kita lanjutkan lagi,.!" ucap lelaki tua itu.
Darsana terdiam, ia memang merasakan tubuhnya semakin ringan saja setelah menerima tambahan hawa murni dari gurunya itu.
" Terima kasih Guru, kalau guru tidak ada entah bagaimana lah nasibku ini,.!" sahut Darsasana.
" Yeahh,..dirimu memang harus lebih berhati hati, apalagi jika bertemu seorang yang memiliki kemampuan sangat tinggi ilmunya seperti senopati dari Pajang itu,.!" ucap sang Guru.
Orang tua ini pun melanjutkan ucapannya lagi.
" Aku pun tidak menyangka bahwa kemampuan dari Senopati Pajang ini setinggi itu , mulanya guru tidak percaya bahwa ia dapat mengalahkan paman Guru kalian dari Blambangan itu, namun tampaknya kemampuan nya bahkan lebih tinggi dari yg kukira, pantas saja Sultan Demak kedua menaruh kepercayaan yang sangat tinggi atasnya,..!" terang orang tua itu lagi.
Ia memang menganggap Senopati Brastha Abipraya adalah orang perlu di waspadai jika ingin bertindak sesuatu di tanah Perdikan Mantyasih ini.
" Guru, jadi apa rencana kita selanjutnya , apakah usaha untuk menggagalkan pernikahan dari putra Ki Gede Mantyasih ini masih kita teruskan,..?" tanya Darsasana kepada gurunya.
" Entahlah, sebaiknya kita memantau lebih dahulu keadaan di Mantyasih ini, bila memungkinkan kita akan mengacaukan perhelatan hajatan dari Gede Mantyasih itu tepat di harinya, agar kekacauan timbul di pedukuhan induk itu ,membuat banyak orang yang tidak akan mempercayainya lagi,.!" jawab Orang tua tersebut.
" Bukankah waktu nya tinggal dua hari lagi , guru, apakah diriku memang sudah bisa sembuh total,..?" tanya Darsasana.
__ADS_1
" Kau tidak perlu khawatir , Darsasana, saat ini, di tempat ini kita telah kedatangan Tumenggung Gajah Ludira dari Demak yg akan dapat membantu kita,..!" jawab Lelaki tua atas pertanyaan dari muridnya ini.
" Tumenggung Gajah Ludira ,.. bukankah ia adalah seorang perwira dari Demak,..guru,..?" Darsana bertanya heran .
" Memang nya kenapa, apakah dirimu tidak mempercayai nya,?" balik Lelaki tua yg di panggil guru ini bertanya.
Darsasana hanya diam saja , ia berpikir, jika seorang pembesar dari kerajaan Demak ada di tempat tersebut apakah tidak akan menyulitkan mereka, karena bisa jadi tanah Perdikan Mantyasih akan meminta bantuan kepadanya.
" Jangan khawatir , Darsana, Tumenggung Gajah Ludira itu adalah kakak seperguruan mu, ia berada disini bertugas untuk melenyapkan Senopati dari Pajang itu, jadi tenaga nya dapat kita pinjam untuk menghancurkan kesombongan pemuda yang menjadi kebanggaan Adipati Pajang itu,..!" terang Lelaki tua .
Sambil ia mengelus elus janggutnya yg sudah memutih semuanya , lelaki tua itu berkata lagi.,
" Adalah suatu kebetulan sekali, jika Tumenggung Gajah Ludira itu membantu kita untuk menundukkan tanah Perdikan Mantyasih ini, tentu pekerjaan kita akan jauh lebih mudah lagi,..,!" katanya.
" Dimana ia berada , Guru,..?" tanya Darsasana.
" Ia berada diatas, tubuhnya sempat pingsan saat bertarung dengan Senopati dari Pajang itu, namun tidak terlalu parah akan hal nya seperti dirimu Darsana,..!" jawab Sang Guru.
" Apakah aku dapat bertemu dengan nya Guru,..?" tanya Darsasana lagi.
" Marilah , ikut denganku, agar Guru perkenalkan kepadamu, sehingga kelak kalian berdua dapat saling bekerjasama,.!" ajak Lelaki tua ini kepada Darsasana.
Ia pun beranjak dari tempat tersebut dan menuju arah mulut goa.
Cukup jauh juga jaraknya, terlebih lorong yang di lalui dalam goa ini menanjak jalan nya, sehingga suatu usaha yg cukup berat untuk di lakukan oleh Darsasana yg baru mulai pulih kesehatan nya.
Setelah keduanya tiba di tempat dimana Tumenggung Gajah Ludira berada, kedua orang ini amat terkejut karena tidak mendapati seseorang pun berada di situ.
" Hehh, kemana perginya si Ludira itu,.!" berseru kaget lelaki tua ,guru Darsasana ini.
" Memang nya dimana Guru meninggalkan nya,..?" tanya Darsasana kepada gurunya.
Kembali kedua orang ini terdiam, keadaan di tempat itu hening seperti tidak ada orangnya.
Adalah Darsasana yg berkata,.
" Apa tidak mungkin ia keluar , Guru, guna mencari hawa segar,.!" ucap Darsasana.
" Benar juga yg kau katakan itu, sebaiknya guru keluar dahulu, tunggulah disini sebentar,.akan kucari Gajah Ludira itu di luar,.!" ucap lelaki tua itu.
" Baik Guru,..!" sahut Darsasana.
Ia pun segera duduk di atas sebongkah batu, karena tadi dirinya merasakan kelelahan setelah harus menyusuri lorong dalam goa itu.
Sedangkan orang tua yg dipanggil guru ini pun langsung keluar dari dalam goa, ia segera melesat cepat ke arah utara, gerakan sungguh ringan sekali pertanda ia memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam hal peringan tubuh.
Sedangkan pada saat itu di pedukuhan induk tanah Perdikan Mantyasih sendiri, keadaan menjadi sangat ramai sekali, terlebih saat Lintang Sandika yg membawa tubuh Raka Yantra yg dalam keadaan pingsan ini.
Mulai dari Ki Gede Mantyasih , Rasala, Ki Jagabaya bahkan para Bekel pedukuhan semuanya tengah berada di rumah kediaman Penguasa tanah Perdikan ini.
" Siapakah orang yg kau bawa itu , Ngger,..?" tanya Ki Gede Mantyasih kepada Lintang Sandika.
Setelah ia meletakkan tubuh kakak sepupu dari Raka Senggani ini, Lintang Sandika pun menyahuti pertanyaan dari Ki Gede Mantyasih.
" Ia adalah kakak sepupu adi Senggani , Ki Gede,..!" jawab nya.
" Pantas sangat mirip dengan Angger Senopati Brastha Abipraya , apa yg telah terjadi padanya ,..?" tanya Ki Gede Mantyasih lagi.
__ADS_1
Oleh Lintang Sandika kemudian di jelaskan semua yg telah terjadi saat mereka menelusuri jejak pelaku penculikan bayi yg meresahkan di tanah Perdikan ini hingga mereka bertemu dengan saudara sepupu Raka Senggani ini yg lagi tengah bertarung dengan seorang dari kerajaan Demak.
" Ohh,..jadi ia telah di kalahkan oleh Tumenggung Gajah Ludira,..begitu maksudmu,.Ngger,.?" tanya Ki Gede Mantyasih .
" Benar Ki Gede, kakak sepupu adi Senggani ini telah dikalahkan oleh Tumenggung Gajah Ludira dari Demak itu karena ia merasa bahwa Raka Yantra ini adalah adi Senopati Brastha Abipraya,..!" jelas Lintang Sandika.
Ki Gede Mantyasih pun paham mengenai keadaan yg telah terjadi atas diri pemuda yang wajahnya memiliki kemiripan dengan Raka Senggani itu.
Dan Raka Senggani sendiri yg di temani oleh Ki Lonowastu tengah menemui seorang yang memiliki kemampuan dalam hal pengobatan , orang tua itu di harapkan dapat menolong Raka Yantra yg terluka dalam cukup parah setelah beberapa kali terkena hantaman ajian yg di lepaskan oleh Tumenggung Gajah Ludira.
Tidak terlalu lama mereka pun muncul di rumah Ki Gede Mantyasih ini dengan seseorang yg berusia cukup sepuh dan cukup terkenal di tanah perdikan ini sebagai seorang yg memiliki kemampuan dalam hal pengobatan.
Orang tua yg sudah sangat sepuh ini sangat mengerti masalah pengobatan , baik itu yang terluka pada bagian luar nya maupun terluka dalam.
Orang -orang yg berada di depan, dan duduk di pendopo rumah Ki Gede Mantyasih ini mempersilahkan orang tua itu untuk masuk dan melihat keadaan saudara sepupu Raka Senggani.
Ia di temani oleh Raka Senggani dan Ki Lonowastu masuk ke dalam bilik dimana Raka Yantra di tempatkan.
Setelah masuk dan memeriksa keadaan dari Raka Yantra, orang tua itu pun menghela nafasnya dengan berat, ia berujar,.
" Sungguh berat kondisi orang ini, Ki Lono dan Angger Senopati, kalau pun masih dapat di selamatkan mungkin ia akan lumpuh selamanya, !" ujar nya.
" Lumpuh,..!" seru Raka Senggani yg terkejut mendengar nya.
" Benar ,.Ngger, racun itu telah menyebar pada seluruh tubuhnya, dan memang racun tersebut sangat kuat sekali, meski tidak terlalu cepat menyebarnya,.akan tetapi ada satu cara untuk menyembuhkan nya , akan tetapi tampaknya akan sangat sulit untuk di lakukan,..,!" jelas orang tua itu lagi.
" Apakah itu Ki, jika masih dapat dilakukan dan diusahakan , Aku akan melakukan nya,..!" ucap Raka Senggani dengan penuh tanya.
" Iya akan dapat di sembuhkan dengan darah ikan gabus bersisik emas yang terdapat di rawa pening yg kemunculan nya tidak di ketahui kapan, dan yg kedua adalah dengan air rebusan kembang teratai merah yg juga ada di Rawa Pening, kembang teratai ini akan mampu memantulkan cahaya rembulan yang bersinar ke air yg ada di Rawa Pening itu,sehingga akan terpancar sebuah cahaya merah terang ke langit, akan hal nya keberadaan nya sama juga seperti ikan gabus bersisik emas itu, tidak di ketahui di mana letaknya dan kemunculan nya, hanya orang orang terpilih saja yang akan mampu menemukan nya, Ngger,.!" terang orang tua itu.
Raka Senggani dan Lintang Sandika yg mendengarnya hanya geleng geleng kepala saja, mereka tidak menyangka, bahwa serangan yg di lancarkan oleh Tumenggung Gajah Ludira itu sangat mematikan meski perlahan.
" Namun untuk sementara, Angger Senopati dapat membantu ia untuk bertahan hidup dengan menyalurkan hawa murni agar ia dapat menahan laju pertumbuhan racun yg telah menyebar itu, setidaknya tidak segera mengenai jantung nya,.!" kata orang tua yg menjadi kebanggaan tanah Perdikan Mantyasih dalam hal perobatan.
" Baiklah, Ki,..Senggani akan mencoba memberikan hawa murni guna membantu kakang Raka Yantra ini,.!" sahut Raka Senggani.
Ia pun langsung mendekati tubuh Raka Yantra yg masih dalam keadaan pingsan, pakaian nya ia buka, nampaklah dada bidang kakak sepupu nya ini yg tidak lagi tampak bergerak, seolah telah terhenti seluruh jalan nafasnya.
Raka Senggani langsung menempelkan kedua tangan nya pada dada kakak sepupu nya ini.
Ia pun segera mengerahkan tenaga dalam nya guna memberikan bantuan pada kakak sepupu nya itu.
Memang sangat tinggi ilmu tenaga dalam dari Senopati Brastha Abipraya ini, terlihat dengan perlahan ada gerak dari dada Raka Yantra ketika ia telah menerima tambahan tenaga dari Raka Senggani itu.
Meski belum terlalu kentara, tetapi yg melihat nya termasuk Lintang Sandika merasa yakin bahwa saudara sepupu dari adik angkatnya itu masih dapat di selamatkan.
Cukup lama Raka Senggani menyalurkan hawa murni pada tubuh kakak sepupu nya itu ,hingga keringat menetes dari keningnya.Keringat itu penanda bahwa Raka Senggani memang tengah mengerahkan tenaga dalam nya cukup besar sehingga ia terlihat kelelahan, akan tetapi tampaknya upayanya ini berhasil walaupun tidak terlalu nampak.
Dada Raka Yantra terlihat naik turun meski perlahan sekali , sedangkan tubuhnya yang tadi sempat menghitam, kini mulai tampak memerah, bahkan luka yang ada di punggung dari Raka Yantra ini pun sudah tidak lagi mengeluarkan darah.
" Terima kasih, Ngger,.. tampaknya usaha Angger Senopati ini akan lebih memudahkan aki untuk mengobatinya,.,!" ucap orang tua itu kepada Raka Senggani.
Ia pun mengambil alih pengobatan Raka Yantra dari tangan Raka Senggani.
Sesudah ia memberikan beberapa butiran obat ke dalam mulut pemuda itu, selanjutnya ia membalikkan posisi nya hingga tidur menelungkup.
Kembali orang tua itu memeriksa keadaan dari punggung yg terkena cakaran dari Tumenggung Gajah Ludira ini.
__ADS_1
Ia kembali mengupayakan untuk mengerluarkan darah dari bekas luka itu dengan menyentuh nya lagi, dan keluar lah darah yang kini sudah tidak terlalu menghitam lagi, untuk selanjutnya orang tua itu menaburkan sejenis obat obatan dari dedaunan dan akar akaran di atas luka tersebut.
Baru kemudian ia membalutnya agar luka tersebut segera menyerap obat yg di taburkan tadi.