Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 4 Si Topeng Iblis. bagian ke sembilan.


__ADS_3

" Selamat datang Senopati di Madiun ini, bagaimana khabar di Pajang," ucap Patih Haryo Winangun kepada Raka Senggani setelah kedua nya bertemu.


" Baik Kanjeng Patih, ini ada titipan surat dari Kanjeng Adipati kepada Kanjeng Patih," jawab Raka Senggani.


Pemuda menyodor kan segulungan daun lontar dan memberikannya kepada Patih Madiun itu.


Patih Haryo Winangun menerima nya dan kemudian membaca isi surat tersebut.


Raut di wajah Patih di Madiun itu trlihat senang dan kemudian menutup nya, seraya berkata,


" Benarkah Senopati Brastha Abipraya adalah seorang prajurit sandi Demak,?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Benar Kanjeng Patih, walaupun tidak resmi, ini lencana hamba sebagai prajurit sandi Demak," kata Raka Senggani.


Pemuda itu merogoh dari balik baju nya dan menyerahkan sebuah lencana pemberian Tumenggung Bahu Reksa kepada Patih Haryo Winangun.


Kembali Patih Madiun melihat secara teliti lencana yg di berikan oleh Raka Senggani.


" Baiklah, Senopati Brastha Abipraya kami terima di Madiun ini untuk menghadapi Si Topeng Iblis itu, dan mudah mudahan yg Maha Kuasa memberi kemudahan untuk mengatasi masalah ini," jelas Patih Haryo Winangun lagi.


" Mudah - mudahan Kanjeng Patih," balas Raka Senggani.


Kemudian Patih Haryo Winangun menyediakan makanan dan minuman kepada Senopati Brastha Abipraya.


Sambil menyantap hidangan itu Raka Senggani bertanya kepada sang Patih,


" Kalau menurut hamba sebaiknya Madiun meminta juga pertolongan dari Padepokan Lereng Wilis, karena Mpu Phedet Pundirangan merupakan seorang yg cukup luas wawasan dan ilmu nya, Kanjeng Patih," ujar Raka Senggani.


" Memang kami pun berpikir demikian, akan tetapi kami masih menunggu utusan dari Demak, dan karena Senopati sendiri yg meminta nya sebaiknya kami akan meminta bantuan juga kepada Padepokan Lereng Wilis itu," jawab Patih Winangun.


" Nanti sore kita menghadap Kanjeng Adipati, kita minta juga pendapat beliau, dan mungkin beliau akan sangat senang sekali atas kehadiran Anakmas Senopati,," kata Patih Waningyun lagi.


" Semua terserah Kanjeng Patih, kami hanya menuruti perintah dari Kanjeng Patih, " jelas Raka Senggani.


Selang setelah beristrahat sejenak di dalem Kepatihan, ketika hari telah mulai menjelang sore Raka Senggani dengan ditemani oleh Patih Haryo Winangun memghadap Adipati Madiun di dalam istana.


" Mohon ampun Kanjeng Gusti Adipati, hamba Patih Haryo Winangun, menghadap," kata Patih Madiun itu sambil merangkap kan kedua tangan nya diatas kepala.


" Hehh, Ada apa Kakang Patih menghadap, ?" tanya Adipati Madiun kepada Patih Haryo Winangun.


" Hamba membawa seorang utusan Kotaraja Demak guna menghadap Kanjeng Gusti Adipati sebagai balasan dari permintaan Kanjeng Adipati kepada Kotaraja Demak untuk mengirimkan seorang Senopati nya mengatasi permasalahan yg ditimbulkan oleh Si Topeng Iblis itu,!'' ungkap Patih Haryo Winangun.


" Apakah ia ini orang nya,?" tanya Adipati Madiun dengan menunjuk ke arah Raka Senggani.


" Benar Kanjeng Gusti Adipati, Ia adalah utusan dari Kadipaten Pajang yg dimintakan oleh Kotaraja Demak membantu persoalan di Madiun ini, !" jelas Patih Haryo Winangun.


" Siapa namamu, ?'' tanya Sang Adipati kepada Raka Senggani.


" Ampun kan hamba Kanjeng Gusti Adipati, hamba adalah Senopati Brastha Abipraya merupakan Senopati dari Pajang dan juga merupakan prajurit sandi Demak, hamba diperintahkan oleh Kanjeng Adipati Pajang untuk datang kemari sesuai dengan permintaan dari Kanjeng Adipati Madiun, !" jelas Raka Senggani.


" Sudah mengetahui permasalahan nya Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Adipati kepada Raka Senggani.


" Dalem Kanjeng Adipati, hamba telah mengetahui nya," jawab Raka Senggani.


" Musuh kali ini yg harus Senopati hadapi adalah momok yg menakutkan di Madiun ini, oleh sebab itu, kami sangat berharap kepadamu Senopati Brastha Abipraya untuk dapat mengatasi nya," kata sang Adipati lagi.


" Dalam hal engkau bisa menggunakan para prajurit Madiun untuk membantumu termasuk juga Paman Patih, ia akan siap membantu untuk menumpas Si Topeng Iblis itu, selain aku telah mengeluarkan sayembara, Aku sebagai penguasa Madiun ini memerintah kan kepadamu Senopati Brastha Abipraya , Tangkap hidup atau mati Si Topeng Iblis itu, aku tidak mau nama itu masih ada di bumi Madiun," seru Adipati Madiun dengan keras.


" Hamba Kanjeng Adipati, Senopati Brastha Abipraya segera melaksanakan segala titah Gusti Adipati," jawab Raka Senggani.


" Bagus , kakang Patih Winangun segera terang kan siapa sesungguh nya Si Topeng Iblis itu," ucap Adipati Madiun.


" Hamba Kanjeng Adipati, " kata Patih Haryo Winangun seraya menjura hormat kepada Sang Adipati.

__ADS_1


" Begini Senopati Brastha Abipraya, Si Topeng Iblis itu selain memiliki ilmu yg tinggi juga memiliki ciri -ciri sebagai berikut, " jelas Patih Haryo Winangun sambil menarik nafas.


Baru kemudian ia melanjutkan kata -kata nya lagi,


" Ia berperawakan tinggi besar dengan memakai jubah panjang dan sering keluar nya dimalam hari, yg menjadi incaran nya selain rumah orang -orang ia juga sering menyatroni bangsal tempat penyimpanan barang -barang ber harga dari sebuah keraton kadipaten baik di Madiun juga di Ponorogo, jadi incaran nya bukan hanya sekedar harta kekayaan, wesi aji dan pusaka yg bernilai tinggi pun menjadi sasaran nya," ungkap Patih Haryo Winangun lagi.


" Ampun Kanjeng Adipati dan Kanjeng Patih , jadi dari mana kita akan menelusuri jejak Si Topeng Iblis itu,?" tanya Raka Senggani.


" Mungkin kita menunggu saja di sini, tidak lama lagi tentu nya ia akan kembali kemari mengingat beberapa waktu yg lalu meskipun berhasil mengalahkan Pangeran Panggung akan tetapi ia belum mendapatkan apa yg di incar nya, jadi menurut kami tentu ia akan mengulangi nya untuk datang kemari,!'' jelas Patih Haryo Winangun.


" Maaf sebelum nya, Kanjeng Adipati dan Kanjeng Patih, sebelum hamba tiba di Madiun ini , hamba tanpa sengaja telah bertemu dengan si Topeng Iblis itu di Kademangan Kebon Sari,, ia berhasil mengalahkan Ki Demang dan salah seorang Pendekar yg di sewa nya di sana, bahkan Si Topeng Iblis itu berhasil membakar banjar kademangan Kebon Sari hingga habis tak bersisa," ungkap Raka Senggani.


" Jadi Senopati Brastha Abipraya telah bertemu dengan nya di kademangan Kebon Sari, bagaimana dengan Si Topeng Iblis itu, apakah ia tidak berhasil Senopati tangkap,?" tanya Adipati Madiun dengan penasaran.


" Ampun Kanjeng Adipati, hamba belum berhasil menangkap nya walaupun ia telah terluka dalam, ia masih sempat melarikan diri ke arah timur, " jelas Raka Senggani.


" Jadi bagaimana kakang Patih, apakah kita akan menunggu atau memang kita yg akan mencari nya,?" tanya Sang Adipati kepada Patih Haryo Winangun.


" Hamba belum bisa memutuskan nya , Kanjeng Adipati, kalau kita memburu nya di khawatir kan ia akan datang kemari, namun jika tinggal diam saja, Kemungkinan ia akan menyasar tempat lain,!'' jelas Patih Haryo Winangun.


" Bagaimana pendapat mu Senopati Brastha Abipraya,,?" tanya Sang Adipati kepada Raka Senggani.


" Mohon ampun sebelumnya Kanjeng Adipati, mungkin Madiun bisa meminta Mpu Phedet Pundirangan yg ada di Lereng Wilis guna membantu mengatasi masalah ini, jika beliau bersedia, tentu gerak Si Topeng iblis itu semakin sempit, dan ia pun akan semakin mudah untuk di tangkap," ucap Raka Senggani.


" Apakah Kakang Patih setuju dengan usulan dari Senopati Brastha Abipraya ini,?" tanya Adipati Madiun kepada Patih Haryo Winangun.


" Hamba sangat setuju Kanjeng Adipati, memang sebelum nya kami telah membicarakan hal ini dengan Tumenggung Warabaya, itu tidak jadi kami laksanakan karena masih menunggu utusan dari Kotaraja Demak, karena saat ini utusan dari Demak yg mengusulkan nya kami pun akan senang sekali untuk meminta bantuan ke padepokan Lereng Wilis itu, Kanjeng Adipati," jawab Patih Haryo Winangun.


" Akan tetapi Mpu Phedet Pundirangan bukan orang yg mudah dimintai bantuan nya, Ia termasuk sangat sulit untuk diajak kerjasama terlebih dengan Madiun, oleh sebab itu sebaiknya lah, Kakang Patih sendiri yg datang kesana, mudah- mudahan ia merasa di hargai dan mau membantu kita," pungkas Adipati Madiun itu.


" Jika demikian biarlah hamba dan Tumenggung Warabaya serta Senopati Brastha Abipraya yg akan ke sana, untuk membujuk nya agar mau mengatasi persoalan Si Topeng iblis ini, dan kami berdua mohon pamit Kanjeng Adipati," ucap Patih Haryo Winangun seraya merangkapkan kedua tangan nya menjura hormat.


Demikian pula dengan Raka Senggani, berdua mereka keluar dari dalam istana itu.


Patih Haryo Winangun dan Raka Senggani segera kembali ke dalam istana kepatihan.


" Baik Kanjeng Patih," jawab prajurit itu.


Segera prajurit jaga istana kepatihan berjalan menuju kediaman Tumenggung Warabaya.


Sementara Patih Haryo Winangun dan Raka Senggani masuk ke dalam istana kepatihan.


" Bagaimana Kanjeng Patih, kapan kita akan berangkat ke Gunung Wilis,?" tanya Raka Senggani kepada Patih Haryo Winangun.


" Kita menunggu lebih dahulu Tumenggung Warabaya , kita tanya pendapat darinya,!" jawab Patih Haryo Winangun.


Tidak lama berselang, Tumenggung Warabaya tiba di istana kepatihan kadipaten Madiun itu.


" Ada apa Kanjeng Patih memanggil saya,?" tanya Tumenggung Warabaya


" Duduklah terlebih dahulu, Tumenggung,. kenalkan ini adalah Senopati Brastha Abipraya dari Pajang yg diperintahkan oleh Kotaraja Demak untuk membantu membantu Madiun menghadapi Si Topeng Iblis,!" ujar Patih Haryo Winangun.


Sembari duduk Tumenggung Warabaya memperhatikan Raka Senggani dari atas hingga bawah , Tumenggung Warabaya seakan tidak percaya akan kemampuan Senopati Pajang itu.


" Apakah Pajang tidak salah mengirimkan utusan nya,?" tanya Tumenggung Warabaya kepada Patih Haryo Winangun.


" Maksudmu apa Tumenggung,?" ganti Patih Haryo Winangun yg bertanya.


Tumenggung Warabaya terdiam, ada rasa bersalah pada dirinya yg agak meremehkan Raka Senggani di hadapannya langsung.


" Bukan begitu, akan tetapi apakah tidak ada lagi Senopati yg lebih tua di Pajang dan Demak, maksudku tua dalam segala hal terutama dalam hal ilmu nya," jelas Tumenggung Warabaya.


" Tahukah engkau Warabaya, Senopati Brastha Abipraya telah berhasil mengalahkan Si Topeng Iblis itu di kdemangan Kebon Sari, sayang ia masih berhasil meloloskan diri," tukas Patih Haryo Winangun.

__ADS_1


Kembali Tumenggung Warabaya kaget, seolah tidak mempercayai omongan dari Patih Madiun itu.


Melihat hal itu, untuk mengurangi perasaan yg tidak mapan dari Raka Senggani, Patih Haryo Winangun mengalihkan pembicaraan nya,


" Engkau kupanggil bukan untuk mempermasalahkan tentang utusan dari Demak tetapi aku ingin minta pertimbanganmu mengenai , apakah sebaiknya kita meminta bantuan juga kepada Padepokan Lereng Wilis untuk mempercepat tertangkap nya Si Topeng Iblis itu,?" tanya Patih Haryo Winangun.


" Kalau menurutku sebaiknya kita memang harus meminta bantuan dari padepokan Lereng Wilis itu, bukannya apa -apa, masalah ini memang harus segera dituntaskan," jawab Tumenggung Warabaya.


" Apakah persoalan ini telah dibicarakan dengan Kanjeng Adipati,?" tanya Tumenggung Warabaya.


" Beliau sudah tahu dan menyetujui usulan itu, sekarang kapan kita akan kesana,?" ujar Patih Haryo Winangun.


" Kanjeng Patih, sebaiknya lebih cepat lebih baik, mungkin besok pagi kita sudah bisa berangkat,!" ucap Tumenggung Warabaya .


" Baik, segera bawa prajurit terpilih tiga orang, kita berangkat besok pagi,!" jawab Patih Haryo Winangun.


" Siap, perintah Kanjeng Patih siap dilakasanakan, dan saya mohon pamit," ucap Tumenggung Warabaya kepada Patih Haryo Winangun.


" Silahkan, besok pagi kita berangkat dari sini,!" jelas Patih Haryo Winangun.


Setelah kepergian dari Tumenggung Warabaya, Patih Haryo Winangun mengajak Raka Senggani untuk mengobrol.


" Maafkan sikap dari Tumenggung Warabaya itu, sebenarnya hati nya baik akan tetapi sifatnya suka berterus terang dan sering menilai orang dari luarnya, Senopati Brastha Abipraya, sekali lagi sikapnya itu mohon dimaafkan," kata Patih Haryo Winangun.


" Tidak masalah Kanjeng Patih, jangan terlalu dipikirkan, hamba terbiasa menerima hal ini, maklum Kanjeng Patih saya memang masih berusia muda jadi hal ini bisa saja terjadi dan tidak terlalu bermasalah buat hamba, Kanjeng Patih," jawab Raka Senggani.


" Menurutku Senopati Brastha Abipraya lebih baik bermalam disini saja, selain memang banyak yg perlu dibicarakan aku ingin lebih kenal dengan anakmas Senopati," ucap Patih Haryo Winangun.


" Hamba Kanjeng Patih, untuk lebih mengakrabkan lebih baik Kanjeng Patih memanggil nama saja, tidak usah pakai atribut keprajuritan, nama hamba Raka Senggani," ujar Raka Senggani.


" Demikian pula anakmas Senggani, tidak usah memanggil Kanjeng Patih, sebut saja Paman Patih, untuk lebih akrab," tutur Patih Haryo Winangun.


" Baik Paman Patih," ucap Raka Senggani.


Malam itu Raka Senggani bermalam di istana kepatihan kadipaten Madiun.


Kedua orang itu mengobrol sampai larut malam , ketika kentongan bernada dara muluk barulah kedua nya beristrahat dan tidur.


Besok paginya setelah nya siap, terlihat enam ekor kuda keluar dari Istana kepatihan itu menuju arah timur.


Keenam penunggang kuda itu adalah Patih Haryo Winangun, di sebelah kanannya ada Raka Senggani dan di sebelah kiri nya ada Tumenggung Warabaya, sedangkan di belakang mereka tiga orang lurah prajurit Kadipaten Madiun.


Keenam penunggang kuda itu terlihat memacu kudanya dengan cepat, ketika matahari telah menggatalkan kulit keenam nya tiba di kademangan Dungus, dan mereka terus melanjutkan perjalanan menuju kademangan kagok


Rombongan Patih'Haryo Winangun sampailah di kademangan Kagok, ketika hari telah sore menjelang malam.


Mereka beristrahat di kademangan tersebut nampak sudah ramai dan melanjutkan ke desa Watu rumpuk , baru esok harinya mereka melanjutkan perjalanan nya mendaki Lereng Wilis guna menemui Mpu Phedet Pundirangan.


Dan akhirnya keenam orang itu tiba di padepokan Lereng Wilis setelah lewat tengah hari.


Rombongan Patih Haryo Winangun diterima oleh murid utama dari Padepokan Lereng Wilis yg bernama Arya Pinarak.


" Maafkan sebelumnya Kanjeng Patih, guru belum bisa untuk bertemu mungkin besok baru mau menemui tamu," ucap Arya Pinarak.


" Tidak apa -apa, biarlah kami menunggu sampai besok, " jawab Patih Haryo Winangun.


" Silahkan Kanjeng Patih, silahkan beristrahat, Adi Rajungan antarkan rombongan ini ke biliknya," seru Arya Pinarak kepada salah seorang putut dari padepokan Lereng Wilis itu.


" Mari silahkan Kanjeng Patih, " ucap Ki Rajungan kepada Patih Haryo Winangun.


Kemudian rombongan itu diantar menuju ke tempat mereka beristrahat.


Sebelum beristrahat Raka Senggani masih sempat memperhatikan kegiatan para cantrik di padepokan Lereng Wilis itu, terutama dalam hal membuat senjata.

__ADS_1


Raka Senggani melihat banyak jenis senjata dari jenis keris, pedang dan golok yg di buat di sana, yg agak mengagetkan setelah dilihatnya jenis pisau-pisau kecil , berserakan di tempat itu.


Raka Senggani agak lama memperhatikannya. Baru kemudian ia mengikuti rombongan Patih Madiun itu.


__ADS_2