
Malam itu ketiga orang tersebut asyik mengobrol sampai hampir menjelang pagi.
Keesokan harinya, Raka Senggani dan Tumenggung Wangsa Rana menghadap Adipati Pajang.
Raka Senggani sekaligus akan pamit kembali ke desa Kenanga.
Setelah sampai di istana keraton Pajang itu, mereka langsung memberikan hatur sembah kepada Sang Adipati.
" Hamba Senopati Brastha Abipraya, menghaturkan sembah Kanjeng Adipati, sesuai titah Kanjeng Adipati, kami beserta prajurit Pajang telah kembali dari Kotaraja Demak dalam keadaan selamat, dan telah selesai menunaikan tugas Kanjeng Sinuwun di desa Bedander , Kanjeng Adipati," ucap Raka Senggani seraya merangkapkan kedua tangan nya di atas kepala.
" Kami atas nama pemerintahan Kadipaten Pajang amat berterima kasih atas keberhasilan yg telah di capai para prajurit Pajang yg di Senopati i oleh Senopati Brastha Abipraya sendiri, dan penghargaan setinggi -tinggi nya dariku atas nama pribadi kepada Senopati Brastha Abipraya, kami bangga dengan keberhasilan yg telah di capai itu, sekali kami ucapkan terima kasih,!" kata Sang Adipati.
" Hamba merasa memang sudah menjadi kewajiban hamba sebagai seorang prajurit Kanjeng Adipati, dan disini hamba ingin meminta izin kepada Kanjeng Adipati agar dapat kembali ke Desa Kenanga, !" ucap Raka Senggani.
" Baiklah kami mempersilahkan kepada Senopati Brastha Abipraya untuk mendapatkan istrahat setelah tugas yg cukup memberatkan ini, dan kapan kiranya Senopati akan kembali ke Kenanga,?" tanya Sang Adipati.
" Mungkin besok hamba akan kembali ke Desa Kenanga,!" ucap Raka Senggani.
" Maaf sebelum nya Kanjeng Adipati, hamba ingin bertanya sedikit tentang Pusaka peninggalan dari Kanjeng Prabhu Brawijaya ,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Hahhh, Pusaka Kanjeng Prabhu Brawijaya,!!!?"
" Pusaka apakah yg Tumenggung Wangsa Rana maksudkan itu,?" tanya Adipati Pajang lagi.
" Sebuah pusaka yg berbentuk sebuah cincin Kanjeng Adipati,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Ooo, pusaka yg berupa sebuah cincin peninggalan dari Kanjeng Prabhu Brawijaya terakhir adalah merupakan sebuah pusaka yg paling di cari di seluruh tlatah Demak ini, dan kemungkinan besarnya berada di tangan Kanjeng Sinuwun Sultan Demak, ada gerangan apakah Tumenggung Wangsa Rana mempertanyakan masalah ini,?" tanya Adipati Pajang lagi.
" Apakah memang benar pusaka tersebut yg menyebabkan kekalahan dari Prabhu Brawijaya terakhir dari putranya Sultan Demak itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Memang banyak orang terdekat dari Kanjeng Gusti Prabhu Brawijaya terakhir itu yg menghubung -hubungkan hal itu, tetapi sampai saat ini memang masih perlu di buktikan kebenaran nya, kalau menurut pandangan pribadiku, kekalahan dari Kanjeng Gusti Prabhu Brawijaya waktu itu semata-mata adalah hanya untuk mengalah kepada sang putra nya itu, seandainya ia mau memimpin langsung prajurit Majapahit waktu itu belum tentu Demak sanggup untuk mengatasinya," ucap Adipati Pajang.
" Ada apa Tumenggung Wangsa Rana menanyakan hal itu,?" tanya sang Adipati kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Karena kami melihat Senopati Brastha Abipraya mendapatkan suatu anugrah yg luar biasa dari Kanjeng Sinuwun di Kotaraja, Kanjeng Adipati,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.
" Berupa apa itu Tumenggung,?" tanya sang Adipati lagi.
" Sebuah pusaka peninggalan dari Sang Prabhu Brawijaya terakhir yg berupa cincin tersebut, Kanjeng Adipati,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Cincin Sang Prabhu Brawijaya, Tumenggung,?" tanya Adipati Pajang terkejut.
" Benar Kanjeng Adipati, dan cincin tersebut telah di berikan kepada Angger Senopati Brastha Abipraya, Kanjeng Adipati,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.
" Senopati Brastha Abipraya sungguh beruntung dirimu mendapatkan benda peninggalan Kanjeng Prabhu Brawijaya itu, karena sangat banyak orang terutama kalangan istana yg menginginkan benda tersebut, Saranku jagalah dengan baik amanah Kanjeng sultan itu,!" ucap Adipati Pajang.
" Sendika Dawuh Kanjeng Adipati, hamba akan menjaga benda tersebut dengan segenap jiwa raga hamba, Kanjeng Adipati,!" jawab Raka Senggani.
" Bagus, karena kepercayaan dari Kanjeng Sultan Demak itu, berarti kepercayaan nya terhadap kadipaten Pajang ini, adakah permintaanmu yg lain sehubungan telah selesai nya tugasmu di Kotaraja Demak itu,?" tanya Sang Adipati lagi.
" Hamba berkeinginan untuk kembali ke Kenanga, jika diizinkan , hamba akan berada di sana selama satu purnama, ada yg ingin hamba lakukan di tempat kelahiran hamba tersebut, Kanjeng Adipati,!" kata Raka Senggani.
" Apakah engkau akan melaksanakan pernikahan , Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Sang Adipati lagi.
" Bukan, bukan, hamba tidak akan melangsungkan pernikahan tetapi ada keinginan untuk memberikan sedikit pelatihan disana sehubungan permintaan dari Ki Bekel, Kanjeng Adipati, untuk Itulah hamba memohon waktu yg lebih lama, akan tetapi hamba siap kapanpun untuk dipanggil,!" ujar Raka Senggani.
" Aku akan memberimu waktu satu purnama untuk kembali ke Kenanga nanti jika memang ada sesuatu yg diperlukan , engkau akan kami panggil kemari lagi, agar datang ke Pajang ini,!" jelas Adipati Pajang .
" Terima kasih Kanjeng Adipati, segala titah Kanjeng Adipati akan hamba laksanakan," kata Raka Senggani.
" Kapan Senopati Brastha Abipraya akan kembali ke desa Kenanga,?" tanya Adipati Pajang itu.
" Esok hamba akan kembali ke desa Kenanga Kanjeng Adipati, !" jawab Raka Senggani.
" Atas nama kadipaten Pajang kami mengucapkan terima kasih senopati Brastha Abipraya,!" kata Adipati Pajang.
" Hamba mohon pamit, Kanjeng Adipati,!" kata Raka Senggani.
" Silahkan , semoga senopati dapat menikmati liburan nya, !" jawab Adipati Pajang.
Kemudian Raka Senggani beserta Tumenggung Wangsa Rana keluar dari istana keraton Pajang itu, berdua mereka kembali ke kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana.
Di rumah kediaman Tumenggung Wangsa Rana itu, Raka Senggani beristrahat sejenak , baru kemudian mengunjungi barak keprajuritan Pajang menemui rangga Wira Dipa dan rangga Aryo Seno.
Bersama kedua Rangga kadipaten Pajang itu, Raka Senggani melihat -melihat keadaan dari para prajurit Pajang.
Sampai sore , Raka Senggani berada disana, kemudian ia kembali lagi ke kediaman Tumenggung Wangsa Rana itu saat hari telah menjelang malam.
Malam itu ia menginap di rumah Tumenggung Wangsa Rana dan esok hari nya Raka Senggani kembali ke desa Kenanga, dengan menunggangi si Jangu, Raka Senggani segera melesat menuju desa Kenanga.
Ia terus memacu kudanya dengan cukup kencang, sehingga tampak debu -debu berterbangan di belakang nya.
Ketika tiba-tiba ia sampai pada tikungan dari jalan yg dilalui nya, tiba-tiba,
" Syiet, sieet, sreeet,!"
__ADS_1
Tiga buah senjata rahasia meluncur tepat mengarah anak muda desa Kenanga itu.
" Tap, tap, tap,!"
Dengan kecepatan yg luar biasa pemuda itu berhasil menangkap ketiga buah pisau tersebut.
" Hehh, keluar lah , jangan cuma berani main bokong saja," teriak nya.
Tidak ada jawaban , keadaan hening, meski saat itu matahari masih tepat diatas kepala, ia segera mengetrapkan aji ashka pandulu untuk melihat siapakah orang yg telah membokongnya itu.
Setelahnya kemudian,
" Hiiiah,"
Teriak pemuda itu segera melontarkan kembali pisau -pisau itu yg berada di jarinya itu.
" Creeb, chreeb, creebhh,"
Ketiga buah pisau itu menancap di sebuah batang pohon, dan keluarlah seseorang dari balik pohon yg berada di tepi jalan tersebut.
" Heyyaahh,"
Sambil bersalto orang tersebut, menghindari senjata -senjata rahasia itu.
Orang itu langsung melesat menuju Raka Senggani.
" Bagus, bagus , ternyata nama besar Senopati Brastha Abipraya itu bukan sekedar omong kosong,!" ucap orang tersebut.
Dengan menutupi wajahnya, ia terlihat menghalang jalan dari Senopati Pajang itu.
" Apa maksud kisanak menyerangku, apakah kita ada persoalan, atau memang kisanak ini seorang yg sudah hilang akalnya , dengan menyerang membabi buta terhadap ku,?" tanya Raka Senggani.
" Engkau memang telah berhutang nyawa kepadaku, Hehh Senopati Brastha Abipraya, hutang nyawa bayar nyawa, aku menuntut atas kematian dari guruku, segeralah bersiap Senopati Brastha Abipraya,!" ucap orang itu dengan garangnya.
" Siapakah gerangan gurumu itu, Kisanak,!" tanya Raka Senggani.
" Engkau tidak perlu tahu Senopati Brastha Abipraya, terima ini, heaaahh,!" teriak orang itu.
Orang tersebut sangat cepat gerakannya memberikan tendangan ke arah Raka Senggani yg masih duduk di punggung kudanya.
" Huphhf,"
Raka Senggani segera melentingkan tubuh nya menghindari serangan dari orang yg memakai penutup wajah itu.
Kemudian pertarungan pun terjadi antara kedua orang itu.
Teriak orang itu memberikan kembali tendangan ke arah dada Senopati Pajang itu.
Raka Senggani sendiri tidak terlalu bersemangat menghadapinya, ia hanya menghindar dan tidak membalas serangan itu.
Namun orang itu tetap menyerang dengan garang nya, serangan -serangan dari lawan Raka Senggani itu semakin cepat dan bertenaga.
Nampak Raka Senggani terlihat terdesak , namun belum satupun dari serangan orang itu yg berhasil menyentuh tubuh nya.
" Sudahlah Kisanak, hentikan pertarungan ini ,!" ucap Raka Senggani.
Ia terus menangkis serangan dari lawan yg memakai penutup wajah tersebut.
Benturan -benturan tangan telah semakin sering terjadi, dan dirasakan oleh Raka Senggani bahwa tenaga dalam orang itu masih jauh di bawah dari Raka Senggani.
Pada suatu kesempatan , ketika ada celah yg lowong, Senopati Pajang itu mampu memberikan pukulan telapak tangan ke dada orang itu.
" Dhieeeghh,"
Orang tersebut surut mundur, namun dengan cepat ia memperbaiki posisi tubuhnya dan menyerang kembali,
" Hiyyah,"
Secepat nya ia kembali menyerang Raka Senggani.
Namun Raka Senggani melayani orang itu sambil berkata,
" Sudahlah , ungkapkan siapa dirimu itu sebenar nya," ucapnya.
" Kau harus mati Senopati Brastha Abipraya, dosamu sudah setinggi gunung kepadaku, heaaahhh," teriak orang itu.
Kaki nya beberapa kali menendang ke arah kaki Raka Senggani, dan membuat Senopati Pajang itu harus melompat, setelah serangan nya gagal, orang tersebut kembali menyerang dengan kedua tangan nya, hingga suatu ketika,
" Hiyyah,!"
Sebuah kepalan tangan orang itu mendarat di atas pundak Raka Senggani.
Tetapi Raka Senggani tidak bergeming akibat dari pukulan itu, malah Raka Senggani membalas pukulan orang itu dengan sebuah tendangan sebagai balasan, orang yg memakai penutup wajah itu harus terlempar beberapa tombak kebelakang.
Sambil memegangi dadanya , orang itu berusaha bangkit dan berusaha untuk berdiri.
__ADS_1
" Bagaimana Kisanak , kita hentikan sampai disini urusan ini, jangan di perpanjang lagi,!" kata Raka Senggani.
Senopati Pajang itu mendekati orang itu, meskipun telah berdiri, ia masih memegangi dadanya.
Sorot matanya memancarkan kebencian dan kemarahan, sedangkan Raka Senggani seperti mengenalinya.
" Bukankah kisanak ini, adalah ,....!!!!?"
Belum habis pertanyaan nya ,
" Shieeet,"
Sebuah senjata rahasia dalam jarak yg agak dekat menyerang Senopati Pajang itu.
" Hufhhh"
Pisau kecil itu berhasil di jepit oleh kedua jari tangan Raka Senggani. tetapi orang yg memakai penutup wajah itu segera melesat meninggalkan tempat itu seraya berkata,
" Tunggulah Pembalasanku, Senopati Brastha Abipraya,!"
Ia pun terus berlari meninggalkan tempat itu.
" Siapa dia sebenar nya, seperti nya Aku mengenali nya, tapi dimana Aku pernah bertemu dengan orang itu, ya , sudahlah lebih baik Ku tinggalkan tempat ini, Hufhh,!"
Anak muda desa Kenanga itu segera melompat keatas kudanya, dan kembali memacu Si Jangu dengan cepat nya.
Meskipun hari telah sore, ia terus memacu kudanya. Di hatinya ia ingin segera sampai di desa Kenanga dengan cepat.
Dan ketika hari telah malam, ia berhenti di sebuah hutan dan bermalam di sana.
" Hehh, akibat orang itu , aku terpaksa menginap disini, " berkata di dalam hati Raka Senggani.
Meski ia harus bermalam di sebuah hutan, tetapi ia tidak mengalami gangguan malam itu.
Setelah matahari bersinar di pagi harinya iapun melanjutkan perjalanan nya menuju ke desa Kenanga
Saat menjelang sore tibalah Raka Senggani di desa Kenanga, tempat yg banyak menyimpan kenangan buat Senopati Pajang itu.
" Hehh, baru tiba Ngger,!" teriak Ki Lamiran.
Orangtua itu sedang membetulkan pagar rumahnya yg terbuat dari bambu.
" Benar Ki, sebenarnya tadi malam harus nya telah sampai disini, Ki, tetapi karena ada gangguan di jalan akhirnya, baru saat inilah Senggani sampai di Kenanga ini,!" jawab Raka Senggani.
Kemudian setelah turun dari kudanya ia langsung mendekati lelaki tua itu.
" Bagaimana khabar mu,?" tanya Ki Lamiran.
Sambil memeluk putra Raka Jaya itu.
" Baik Ki, tetapi ada yg ingin Senggani tanyakan kepada aki, ?" jawab Raka Senggani.
" Hahh, ada apa Ngger, apa yg ingin angger Senggani tanyakan itu, mari kita bicarakan di dalam ,!" ajak Ki Lamiran.
Setelah kedua nya duduk di sebuah amben bambu, Raka Senggani langsung mengambil sesuatu dari balik bajunya itu.
Tampaklah sebuah kotak kecil dan ketika Raka Senggani membuka nya dan menunjukkan kepada Ki Lamiran.
" Ki, apakah aki Lamiran mengenal cincin ini,?" tanya nya kepada Ki Lamiran.
" Darimana angger Senggani mendapat kan cincin ini,?" tanya Ki Lamiran.
Orang tua itu seraya mengambil benda itu dan melihatnya dengan jelas, bahkan orang tua sampai mencium nya,
" Ini merupakan cincin Kanjeng Prabhu Brawijaya terakhir, dan sangat dicari oleh banyak orang, karena memiliki banyak khasiat, darimana Angger Senggani mendapatkan nya,?" tanya Ki Lamiran.
Ia meletakkan lagi cincin itu kedalam kotak itu kembali.
" Darimana Ki Lamiran bisa mengenali nya benda ini, dan mengapa semua orang mengenali nya,?" tanya Raka Senggani.
" Sejarah benda itu sangat terkenal di masa jaya nya sang Prabhu Brawaijaya, jadi banyak orang yg mengenali benda tersebut bahkan ada yg mengkait -kaitkan atas kekalahan Sang Prabhu dengan cincin itu, karena sesaat sebelum kejadian itu, benda itu sudah tidak berada di tangan sang Prabhu lagi, sehingga sampai saat ini banyak orang yg memburu nya," terang Ki Lamiran.
" Yg menjadi pertanyaan mengapa benda itu bisa di tangan angger Senggani, siapakah gerangan yg telah memberikan nya kepadamu,Ngger,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
" Cincin ini adalah pemberian dari Kanjeng Sinuwun, Sultan Demak atas keberhasilan pasukan Demak yg mampu mengalahkan komplotan dari Mpu Loh Brangsang itu, Ki," jelas Raka Senggani.
" Bukan apa -apa, Ngger , tentu ada pandangan lain dari Kanjeng Sinuwun dalam memberikan milik paling pribadi itu kepada mu,Ngger, semacam usaha agar benda tersebut tidak menjadi rebutan para ahli waris nya kelak, dan tugas yg sangat berat itu harua angger Senggani pikul, memang suatu kehormatan buatmu, tetapi bukan pekerjaan yg mudah dalam pelaksanaan nya, aki harap segeralah angger Senggani pakai benda itu jangan sampai lepas dari jari tangan mu itu, " terang Ki Lamiran.
Raka Senggani pun segera mengambil cincin itu, sebentar dipandangi nya benda itu kemudian di pakainya dijari manisnya.
" Ngger , jagalah dengan segenap kemampuan mu, karena benda itu memiliki banyak khasiat, dan sebaiknya jangan sering di pamerkan meski berada di jari tangan mu ," ucap Ki Lamiran.
" Dan sebaiknya angger Senggani segera mandi terlebih dahulu, karena hari hampir malam, dan lagi angger Senggani pasti masih lelah,!" kata Ki Lamiran lagi.
" Baik Ki, Senggani akan mandi dahulu, nanti kita akan melanjutkan pengejaran ini, banyak hal yg ingin Senggani ketahui tentang benda ini dan keadaan desa Kenanga selama Senggani tinggalkan,!" jawab Raka Senggani.
__ADS_1
" Baik Ngger , nanti malam kita bisa berbicara sampai pagi, karena aki ingin mendengar kisah mu selama di Kotaraja Demak dan di Matahun,!" Ki Lamiran berucap.
Raka Senggani pun langsung menuju pakiwan guna membersihkan tubuhnya.