
Rombongan Tara Rindayu kemudian berangkat lagi dari tempat itu, mereka menuju ke arah jalan para Prajurit Pajang itu.
Setelah agak sore rombongan itu berhenti lagi di sebuah pedukuhan kecil, yaitu pedukuhan andongan.
Dan rombongan itu pun berhenti di sebuah rumah penduduk setempat.
Ke empat orang itu kemudian beristrahat di sana.
Dan salah seorang penduduk mengatakan bahwa tempat itu sering di sambangi para kawanan rampok.
" Hati -hati den, kemarin malam, telah dstang kemari gerombolan rampok dan mereka melarikan diri setelah datang rombongan prajurit dari Pajang,," ucap orang itu.
" Apakah mereka berhasil merampok ,?". tanya pemimpin rombongan itu.
" Tidak , tetapi kami berharap mereka tidak akan datang lagi,!" jawab orang itu lagi.
" Mudah -mudahan mereka tidak akan datang lagi." ucap pemimpin pengawal Tara Rindayu itu.
" Untuk saat ini kita harus berbagi tugas berjaga, sebaiknya aku akan beristrahat terlebih dahulu nanti setelah masuk tengah malam kalian dapat membangunkan ku,". kata pemimpin rombongan itu.
Sampai larut malam tidak terjadi apa pun di pedukuhan itu, hingga Pemimpin rombongan itu berjaga, dan memang malam itu tidak terjadi apa -apa di tempat itu.
Hingga keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan nya lagi.
Rombongan itu menuju ke kota Pajang dan ketika mereka tiba di Pajang , rombongan itu melanjutkan terus perjalanan nya tanpa harus berhenti di kota itu.
Sampailah rombongan itu di sebuah umbul di dekat kota Pengging. Rombongan itu berhenti disana.
Hanya sekedar melepas lelah dan memberi makan kuda kudanya.
Setelah beberapa saat di umbul Pengging itu , rombongan Tara Rindayu berjalan terus arah pedukuhan Gatakan yg berada di kaki gunung Merapi itu.
Rombongan itu mempercepat perjalanannya agar tidak kemalaman di jalan, sampai di Gatakan hari memang telah malam. Beruntung memang rombongan itu tidak mendapatkan halangan di jalan.
Dan di pedukuhan itulah mereka bermalam.
" Beruntung kita tidak terlalu kemalaman di jalan hingga sampai di tempat ini,". ujar pemimpin rombongan itu.
" Apakah jarak ke Merapi masih jauh lagi paman,?" tanya Tara Rindayu.
" Sudah tidak terlalu jauh lagi den ayu, kita saat ini tengah berada di kaki gunung Merapi sebelsh Timur, dan besok kita skan mulai mendaki,!" jawab pemimpin rombongan itu.
" Sebaik nya den ayu beristrahat lah dahulu agar besok kuat untuk mendaki, karena den ayu belum pernah naik gunung, kita memerlukan tenaga yg penuh agar dapat mendaki nya,!" kata perempuan yg merupakan murid dari padepokan Merapi itu.
Tara Rindayu pun mengangguk , ia pun langsung mengistrahatkan tubuhnya yg sudah teramat letih karena baru kali ini melakukan perjalanan yg cukup jauh, memang pernah ia melewati jalur itu ketika di bawa lari oleh Singo Lorok pada waktu itu.
Tara Rindayu cepat sekali terlelap nya setelah ia membaringkan tubuhnya di amben bambu itu.
Sedangkan para pengawal nya masih berjaga di luar rumah itu, mereka masih bercakap-cakap.
" Apakah guru akan menerima den ayu sebagai muridnya,?" tanya pemimpin rombongan itu.
" Tentu guru akan sangat senang sekali, apabila ia tahu bahwa den ayu itu punya hubungan dengan Senopati Pajang itu,!". jawab yg perempuan.
" Terlebih, kakang Adya Buntala, ia tentu akan sangat senang sekali menerima den ayu sebagai penghuni padepokan Merapi ini,!". kata yg seorang lagi.
" Beruntung saat ini Ki Macan Baleman sudah tidak berada lagi di Merapi kalau tidak tentu ia akan merasa puas jika ada orang dekat dari Senopati Pajang itu yg diambil menjadi muridnya," ungkap yg perempuan.
" Memang hampir seluruh penghuni padepokan Merapi itu amat membenci Senopati Pajang itu termasuk dengan guru," kata pemimpin rombongan itu.
" Benar kakang, karena dua paman guru ku kita tewas di tangannya dan guru tidak dapat untuk melakukan belapati,". kata yg seorang lagi.
" Mengapa guru tidak mau bertarung dengan Senopati Pajang itu,?". tsnya yg perempuan.
" Guru bukan nya tidak mau , Wani, tetapi lebih kepada sungkan terhadap kakak seperguruannya Mpu Supa Mandrangi,!" jawab pemimpin rombongan itu.
" Namun kehebatan ilmu dari Senopati Pajang itu memang patut di acungi jempol, bertarung dua kali dengan paman guru, ia berhasil mengalahkan keduanya hingga tewas, sungguh paman guru Phedet pundirangan dan Yasa Pasirangan itu di tlatah Demak ini sulit untuk mencari banding nya," ucap orang itu.
" Benar adi, sewaktu mereka mengobrak abrik Madiun dan Kediri tidak ada yg sanggup melawan keduanya, hingga mereka memohon bantuan ke Pajang ini, bahkan saat itu Senopati Brastha Abipraya itu pun masih mampu di kalahkan oleh paman guru,!" kata pemimpin rombongan itu.
" Sudahlah , sebaiknya salah seorang diantara kalian beristrahat, jangan terlalu sering membicarakan tentang Senopati Pajang itu , nanti di dengar den ayu,," kata pemimpin rombongan itu.
__ADS_1
Yg perempuanlah kemudian beringsut masuk dan segera merebahkan tubuh nya di dekat Tara Rindayu yg terlihat sedang terlellap itu.
Sedangkan kedua orang itu masih terus mengobrol berdua, terdengar suara kentongan bernada dara muluk telah di pukul pertanda malam telah pada puncak nya.
Malam itu keadaan di Gatakan aman tidak ada kejadian apa pun, sehingga keesokan paginya ke empat orang itu melanjutkan lagi perjalanannya menuju Gunung Merapi.
Tanpa menggunakan kuda keempatnya terlihat berjalan kaki. Mereka berusaha mendaki gunung Merapi itu.
Sedangkan untuk Tara Rindayu perjalanan ini terlihat berat dan melelahkan, beberapa kali ia minta untuk sekedar beristrahat.
" Den ayu, padepokan itu sudah tidak seberapa jauh lagi dari sini, mari kita lanjutkan lagi,". kata yg perempuan.
" Tunggu sebentar Nyai , aku rasa nya sudah tidak sanggup, jadi biarkan lah aku beristrahat sejenak disini,!" kata Tara Rindayu.
" Nanti jika sudah jadi penghuni padepokan Merapi ini, den ayu tentu akan senang sekali untuk turun dan naik gunung ini seperti kami pada waktu itu,,!". kata pemimpin rombongan itu.
" Ya, tetapi untuk saat ini Rindayu ingin beristrahat dulu disini,!". jawab Tara Rindayu.
Ia tidak memperdulikan apa pun kata-kata dari para pengawalnya itu.
Cukup lama, hampir matahari tepat diatas kepala barulah rombongan itu bergerak lagi, dan sampai di Padepokan Mpu Loh Brangsang itu hari menjelang malam.
" Ehh, ada apa kau kemari Kranjan,?" tanya Adya Buntala.
Ia terkejut melihat saudara seperguruan nya itu telah berada di Padepokan itu lagi.
" Maaf kakang Buntala, kami mengantarkan putri juragan kami untuk menjadi murid disini,!". jawab pemimpin rombongan itu.
" Dimana guru, kakang?" tanya nya kepada Kakak seperguruan nya itu.
" Guru masih berada di dalam goa , ia tengah bersemadi, sudah agak lama ia tidak keluar,!". jawab Adya Buntala.
" Ehh, darimana orang yg akan kalian masuk kan sebagai murid disini,?". tanya Adya Buntala penasaran.
" Dari Kenanga , kakang,!" jawab orang yg bernama Kranjan itu.
" Ehh, dari Kenanga, Lelaki atau perempuan,?". tanya Adya Buntala lagi.
" Memang nya kenapa kakang, apakah ada perbedaan nya antara lelaki dengan perempuan,?". tanya orang yg bernama Kranjan.
" Tenang kakang Buntala , yg kami bawa ini adalah seorang perempuan dan cantik lagi, bukan Senopati Brastha Abipraya itu melainkan calon istri nya,!". jawab Kranjan.
" Hehhh, apakah kalian sudah gila membawa kekasih Senopati Pajang itu sampai kemari,?" teriak Adya Buntala.
" Sabar kakang, ini adalah pesan guru yg bermaksud mengalahkan Senopati Pajang itu dari orang terdekat nya sendiri, itulah mengapa kami di perintahkan untuk menjadi pengawal Juragan Tarya orang terkaya di desa Kenanga itu , adalah untuk mencari seseorang yg dapat di jadikan murid dan kelak mau bertarung dengan musuh kakang itu,!" jelas Kranjan.
" Pemikiran guru itu sangat membahayakan, jika Senopati Pajang itu tahu tentu ia akan membawa pasukan Pajang segelar sepapan kemari untuk menghancurkan tempat ini," jawab Adya Buntala geram.
" Mungkin juga tidak kakang, karena ada den ayu disini tentu ia akan berpikir dua kali jika berani menyerang, sebab Den ayu bisa dijadikan tameng hidup," ungkap Kranjan.
" Terserah lah, aku tidak mau ambil pusing yg jelas Senopati Pajang itu harus mampus di tangan ku, " ujar Adya Buntala.
" Mari kakang , aku akan menemui guru," kata Kranjan lagi.
" Silahkan," jawab Adya Buntala.
Kemudian pemimpin rombongan yg bernama Ki Kranjan itu berjalan menuju ke tempat sebuah goa tempat persemadian guru nya itu.
Ia berjalan menaiki tangga dan berjalan memutar kemudian baru menemukan sebuah lorong yg menuju goa tersebut.
Agak jauh juga pengawal Juragan Tarya itu berjalan barulah ia sampai di tempat guru nya itu.
" Ada apa Kranjan, kabar apa yg kau bawa,. baik atau buruk,". terdengar suara dari dalam goa itu.
" Maaf sebelumnya Guru , saya membawa kabar baik,!". jawab Kranjan.
" Masuk lah jika memang kau membawa kabar baik,!". ucap Mpu Loh Brangsang dari dalam.
Kemudian Ki Kranjan melangkahkan kakinya masuk ke dalam goa itu dilihatnya sang Guru tengah melakukan semadi dan membelakangi nya.
" Katakan lah Kranjan, kabar baik itu," kata Mpu Loh Brangsang.
__ADS_1
Dengan suara berat dan masih membelakangi murid nya itu ia berkata lagi,
" Apakah kau telah berhasil mengalahkan Senopati Pajang itu ,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada murid nya itu.
" Bukan guru , saya memang belum berhasil mengalahkan Senopati Pajang itu, tetapi hari ini kami membawa teman dekatnya kemari,!" jelas Ki Kranjan.
" Teman dekatnya, lelaki atau perempuan?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
" Perempuan guru, ia merupakan putri dari orang terpandang dan terkaya di desa Kenanga,!". jawab Ki Kranjan.
" Kekasih dari Senopati Pajang itu,?" tanya Mpu Loh Brangsang.
" Sebenarnya calon istri, atau tepatnya berdasarkan sayembara yg telah dikatakan oleh orangtua dsri gadis itu bahwa siapa saja yg berhasil membebaskan putri nya itu dari tangan Singo lorok akan dinikahkan dengan putri nya,!". jelas Ki Kranjan lagi.
" Dan Senopati Pajang itu yg telah melakukan nya, begitu kah maksudmu,?" tanya Penguasa Gunung Merapi itu.
" Benar guru, Senopati Pajang itulah yg berhasil melakukan nya,!". jawab Ki Kranjan lagi.
" Jadi untuk apa ia kau bawa kemari,?" tanya Mpu Loh Brangsang.
" Untuk membalaskan sakit hati kita guru,!". jawab Ki Kranjan.
" Membalaskan sakit hati kita, maksudmu,?". tanya Mpu Loh Brangsang.
" Ya, membalaskan sakit hati kita dengan mengajari putri Juragan Tarya itu, dengan kemampuannya nanti tentu ia akan dapat kita pergunakan untuk melawan Senopati Pajang itu dan tentu nya Senopati Pajang itu tidak akan sampai hati untuk mengalahkan gadis itu , karena sedari kecil ia adalah temannya,!" ungkap Ki Kranjan
" Apakah perempuan itu dapat kita percaya dan kita andalkan, dan apakah ia tidak akan membela Senopati Pajang itu,?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
" Ia dapat kita percaya karena tampak nya ia sakit hati atas penolakan Senopati Pajang itu untuk memperistri dirinya, jadi kita dapat memanfaatkan sakit hatinya dengan mendidik nya supaya berilmu tinggi dan dapat melawan Senopati Brastha Abipraya itu, guru " jawab Ki Kranjan.
" Baiklah , kita akan melihat terlebih dahulu apakah ia mampu untuk di turunkan ilmu yg tinggi atau memang ia tidak memilki bakat sama sekali sehingga akan percuma kita mendidik nya,!''. seru Mpu Loh Brangsang.
" Semua nya murid serahkan kepada guru untuk menentukan langkah selanjut nya, kemungkinan untuk menghabisi Senopati Pajang itu melalui dari gadis itu akan terbuka lebar jika ia nantinya memiliki kemampuan yg tinggi,!". ucap Ki Kranjan.
" Baik , tunggu aku ruang pesanggarahan, aku akan melihat gadis itu,!" kata Mpu Loh Brangsang.
" Baik guru,". jawab Ki Kranjan.
Kemudian ia melangkahkan kakinya meninggalakn goa tersebut dan turun lagi ke bawah.
Setelah sampai di bawah ia segera menemui Tara Rindayu dan dua orang adik seperguruan nya itu.
" Bagaimana kakang , apakah guru bersedia menerima den ayu untuk menjadi murid nya,?". tanya perempuan yg bernama Wani itu.
" Guru akan melihat terlebih dahulu den ayu , apakah ia pantas untuk diterima menjadi murid padepokan kita ini, Wani,,!". jawab Ki Kranjan.
" Jadi aku tidak dapat langsung diterima menjadi murid disini Paman,?" tanya Tara Rindayu.
" Diterima den Ayu tetapi kita masih harus menunggu keputusan guru,!". jawab ki Kranjan memberi semangat Tara Rindayu.
" Jadi selanjutnya bagaimana kakang,?". tanya yg seorang lagi.
" Kita diperintahkan guru untuk menghadap di pesanggarahan, jadi kuharap kalian semua dapat membantu untuk meyakinkan guru,!". katae Ki Kranjan lagi.
" Baik kami siap,". jawab kedua nya bersamaan.
Kemudian keempat orang itu berjalan menuju pesanggrahan Padepokan Merapi itu.
Tidak terlalu lama keempat nya telah tiba di tempat itu.
" Masuklah,, !". kata Mpu Loh Brangsang dari dalam.
Keempat orang itu kemudian masuk kedalam pesanggrahan itu dan terlihat lah guru mereka Mpu Loh Brangsang yg sedang duduk di atas sebuah batu hitam.
" Duduk lah kalian, ". ucap Mpu Loh Brangsang lagi.
" Jadi inilah orangnya yg kau maksud itu , Kranjan,,?". tanya Mpu Loh Brangsang.
Sambil menunjuk ke arah Tara Rindayu.
" Benar beliaulah orangnya , guru , namanya den ayu Tara Rindayu, putri Juragan Tarya dari Kenanga,!". jelas Ki Kranjan.
__ADS_1
" Ayo den ayu perkenalkan dirimu,!". kata Ki Kranjan kepada Tara Rindayu.
" Saya Tara Rindayu dari desa Kenanga ingin berguru disini , dengan eyang Mpu Loh Brangsang, dan saya berharap dapat di terima disini,!". kata Tara Rindayu.