Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 4 Si Topeng Iblis. bagian ke enam.


__ADS_3

" Jadi esok hari angger Senggani kembali ke Kenanga, ?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani pada malam itu.


" Jadi Paman Tumenggung, karena tubuh Senggani terasa sudah sehat, bahkan tenaga dalam Senggani telah pulih seperti sedia kala, mungkin akibat ramuan yg telah di beri kan oleh tabib istana Pajang ini, Paman,!" jawab Raka Senggani.


" Syukur lah kalau begitu, mudah mudahan Si Topeng Iblis pun mampu di tumpas oleh angger Senggani, dan Paman hanya bisa ber doa saja atas keselamatan angger,. bukan begitu Nyai,!'' ujar Tumenggung Wangsa Rana kepada istri nya Itu.


" Benar Kangmas, Bibi dan Paman hanya bisa ber doa untuk keselamatan mu , Ngger, karena itu lah yg bisa kami lakukan," kata Nyai Tumenggung.


" Terima kasih, Paman dan Bibi, mudah mudahan dengan doa kalian berdua, Senggani mampu melaksana kan tugas yg di emban kan oleh Kanjeng Adipati ke atas pundak Senggani, semoga juga Paman dan Bibi di bawah lindungan yg Maha kuasa,!" ucap Raka Senggani.


" Amiiiin," jawab kedua orang itu ber samaan.


Esok hari nya setela Subuh , Senopati Brastha Abipraya tengah menyiap kan kuda nya guna kembali ke desa Kenanga dan selanjut nya akan menuju Kadipaten Madiun untuk melaksana kan perintah Adipati Pajang menumpas Si Topeng Iblis yg saat ini sangat meresah kan Kadipaten itu.


" Senggani pamit Paman dan Bibi, nanti setelah tugas di Madiun selesai secepat nya akan kembali kemari," ujar Raka Senggani.


Setelah ber pamitan kepada kedua orang itu ia langsung melompat naik ke atas punggung kuda nya.


" Semoga cepat selesai segala tugas yg Angger Senopati emban itu, !" ujar Tumenggung Wangsa Rana.


" Terima kasih, Paman dan Bibi Tumenggung, selamat tinggal, heaaahh," ucap Raka Senggani langsung menggebrak Kuda nya dan keluar dari halaman rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.


Ia masih sempat melambai kan tangan nya kepada kedua orang itu sebelum hilang di balik pintu gerbang rumah Tumenggung Wangsa Rana.


" Heaaahh, heaaahh," ucap Raka Senggani memacu kuda nya


Ia keluar dari pintu gerbang kota Kadipaten Pajang dari arah sebelah Timur.


Ia terus memacu kuda nya melintasi jalanan yg mulai tampak ramai karena banyak nya para pedagang yg akan menjaja kan dagangan nya ke kota kadipaten Pajang itu.


Tidak seperti biasa nya, Raka Senggani nampak ingin cepat sampai di Kenanga.


Selanjut nya Raka Senggani memacu kuda nya dengan cepat apabila ter lihat jalanan sepi.


Ketika hari telah malam , Raka Senggani terus memacu kuda nya hingga menjelang tengah malam sampai lah pemuda itu di desa Kenanga


Raka Senggani langsung menuju rumah Ki Lamiran.


Setelah menambat kan kuda nya ia langsung menuju pintu,


" Assalamualaikum, Ki, ini Senggani yg datang,!" ucap nya.


" Wa ' alaikumsalam, wah mengapa sudah kembali ,Ngger,?" tanya Ki Lamiran setelah membuka pintu.


" Apakah aki tidak senang Senggani cepat kembali,!" kelakar pemuda itu.


" Bukan begitu Ngger, aki pikir angger berada di Pajang mungkin lebih satu purnama," jelas Ki Lamiran sambil ter senyum.


" Tidak Ki, Senggani hanya untuk menerima pesan Kanjeng Adipati yg akan di sampai kan kepada pembesar kadipaten Madiun, serta beberapa petunjuk untuk menghadapi si Topeng Iblis itu , Ki, !" balas Raka Senggani.


" Jadi setelah ini angger Senggani akan langsung ke Madiun,?" tanya Ki Lamiran.


" Mungkin isterahat sehari di Kenanga baru esok hari nya lanjut ke Madiun, aki mau ikut, ?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.


" Tidak Ngger, nanti aki malah menyusah kan angger Senggani," ujar Ki Lamiran.


" Mengapa menyusah Senggani, aki kan bisa menjaga diri sendiri, dan bukan anak -anak lagi," kata Raka Senggani.


" Tidak lah Ngger, karena sejak kemarin aki sudah sangat senang karena ada dua kembang desa Kenanga ini yg sering menyambangi aki, dengan mengantar makanan y sangat sedap, kalau nanti ikut angger Radeksa paling -paling makan daging panggang saja,!" ucap Ki Lamiran.


" Hehh, jadi Tara Rindayu dan Sari Kemuning sering kemari ,?" tanya Raka Senggani.


Kepala Ki Lamiran mengangguk pelan mengiyakan atas pertanyaan dari Raka Senggani itu.


" Ki, Senggani ingin ber tanya kepada mu, karena aki Lamiran telah Senggani anggap pengganti orang tua ku, jadi Senggani ingin meminta pendapat kepada aki," kata Raka Senggani dengan wajah serius.

__ADS_1


" He, apa yg ingin angger Senggani tanya kan, jika bisa di jawab pasti akan aki jawab, " kata Ki Lamiran.


" Begini Ki, jika harus memilih di anta kedua gadis itu, mana yg akan aki pilih,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.


Ki Lamiran ter diam dan ber pikir sesaat, nampak kening nya ber kerut, pertanda ia sangat sulit untuk menentu kan.


" Kalau menurut aki, aki akan pilih Sari Kemuning,!" jawab nya dengan mantap.


" Bagaimana bisa begitu Ki, mengapa pilihan jatuh pada Sari Kemuning,?" tanya Raka Senggani heran.


" Karena, yg pertama Sari Kemuning pintar memasak dan yg kedua putri Ki Jagabaya itu masih gadis yg bebas tidak milik siapa pun kecuali kedua orang tua nya," jelas Ki Lamiran dengan wajah ber sungguh -sungguh.


Raka Senggani diam mendengar kan penjelasan orang tua itu.


Ia mencerna apa yg telah di katakan oleh Ki Lamiran itu.


" Benar ucapan mu Ki, Senggani pun merasa mapan jika ber dekatan dengan Sari Kemuning, ber beda dengan Tara Rindayu, padahal se waktu kecil Senggani sangat akrab dengan nya tidak dengan Kemuning,!" kata Raka Senggani.


" Ngger, kalau putri Ki Jagabaya itu membawa aura ke gembiraan dan semangat pantang Menyerah, ter bukti dulu sewaktu masih kecil mengejar -ngejar angger Senggani dan sampai saat ini pun demikian , jadi sudah se pantas nya semangat sese orang itu di hargai, lagi pun kalau dengan den ayu, se sungguh nya ia adalah milik angger Senggani, kenapa , karena seperti janji Juragan Tarya siapa saja yg bisa membawa kembali putri nya itu akan di nikah kan kepada nya,!" jelas Ki Lamiran lagi.


Nampak Raka Senggani manggut -manggut kepala mendengar penuturan dari Ki Lamiran.


" Baik lah , besok kita lanjut kan cerita kita di pategalan, besok aki ke pategalan kan, karena malam ini Senggani akan beristrahat barang sejenak," kata Raka Senggani seraya membaring kan tubuh nya.


" Silah kan Ngger, besok kita lanjut kan cerita nya di pategalan dan mudah mudahan dapat kiriman makanan yg lezat dari kedua pengagum Angger Senggani itu," ucap Ki Lamiran yg juga merebah kan tubuh nya di atas dipan.


" Mudah mudahan Ki, !" jawab Raka Senggani dengan mata mulai ter tutup.


Meskipun sebentar saja Raka Senggani memejam kan mata nya namun itu sudah sangat membantu nya, setelah subuh menjelang ia bangkit dan membersih kan tubuh nya dan melaksana kan perintah dari yg Maha Kuasa, dan seperti biasa ia melanjut kan latihan hanya sekedar melemas kan otot otot nya.


Begitu terang tanah ber sama dengan Ki Lamiran ber dua mereka menuju Pategalan mbok rondo. Kali ini Senggani memang ber niat ke sana hanya sekedar untuk membuka pemikiran yg sumpek atas perasaan hati nya dan tugas yg harus di emban nya.


" Ngger, tolong cabut singkong itu," seru Ki Lamiran.


" Baik Ki, berapa banyak ,?" tanya Raka Senggani


" Banyak Ki, untuk siapa,?" tanya Raka Senggani sambil memulai men cabuti pohon singkong ter sebut.


" Pesanan Ki Bekel, mungkin ia akan mengadakan hajatan, atau apalah," jelas Ki Lamiran.


Dengan cepat Raka Senggani melaksana kan perintah Ki Lamiran itu, ter lihat peluh langsung ber cucuran mbasahi pakaian nya, setelah cukup lama kemudian pemuda itu ber istrahat sejenak dan mendekati Ki Lamiran yg tengah duduk membersih kan ketela rambat yg telah di cabuti nya.


" Sudah cukup kira -kira singkong yg telah Senggani cabut itu , Ki, ?" tanya nya pada Orang tua itu.


Kemudian Ki Lamiran memandangi pohon singkong yg telah rebah ke tanah itu.


" Wah , mungkin sudah lebih Ngger!" seru Ki Lamiran kaget melihat banyak nya pohon singkong yg telah di oleh Raka Senggani.


" Kalau begitu setelah istrahat kita mengumpul kan nya dan taruh di dalam karung -karung itu,!" ucap Ki Lamiran lagi.


Ketika kedua nya akan me mulai mengumpul kan dan mentari pun makin tepat di atas kepala, dari arah jalan ter lihat dua orang gadis sedang menuju ke tempat itu.


" Ehhh, kakang Senggani telah berada di sini, kapan kembali dari Pajang ,?" tanya Sari Kemuning setelah dekat dengan kedua orang itu.


" Tadi malam Kemuning," jawab Raka Senggani yg tidak jadi melanjut kan mengumpul kan singkong-singkong itu.


" Wah kami membawa kan makanan nya hanya untuk aki Lamiran saja ," kata Tara Rindayu yg ada di sebelah Sari Kemuning.


" Tidak apa -apa den ayu, nanti makanan den ayu untuk aki, sedang kan makanan yg di bawa kan oleh angger Kemuning untuk angger Senggani,!" jawab orang tua itu.


" Mari Ngger, kita makan dulu , mumpung ada kiriman makanan, " ajak Ki Lamiran kepada Raka Senggani.


Dan ke empat orang itu langsung menuju gubuk mbok rondo.


Raka Senggani langsung membuka bungkusan makanan yg di bawa oleh Sari Kemuning, terlihat nasi putih dengan lauk tempe dan tahu serta sayur nangka muda.

__ADS_1


Tak ayal lagi ia segera menyantap makanan itu. Karena memang perut nya sudah sangat lapar , seharian ber kuda dari Pajang dan ketika pagi tadi hanya sarapan dua potong ubi rebus terasa perut pemuda itu ingin di isi makanan.


Melihat hal ter sebut ketiga orang itu ter senyum melihat tingkah dari Raka Senggani.


" Memang nya kemarin se waktu kembali dari Pajang kakang Senggani tidak membawa bekal,?" tanya Sari Kemuning.


" Tidak Kemuning, bibi Tumenggung tidak sempat memberi kan Kakang bekal karena berangkat dari sana masih ter lalu pagi,!" jawab Raka Senggani.


" Pantas," seru Ki Lamiran.


' Kenapa , Ki ?" tanya Raka Senggani tidak mengerti.


" Ya pantas, angger Senggani begitu melihat makanan yg di bawa oleh angger Sari Kemuning langsung di santap tanpa mengajak aki , " ujar Ki Lamiran.


Tanpa memperduli kan ucapan ki Lamiran Senggani terus menyuapi mulut nya dengan makanan. Sementara Ki Lamiran baru membuka bungkusan yg di bawa oleh Tara Rindayu, ia masih membagi lauk telor ayam rebus kepada Raka Senggani dan beberapa potong daging ayam yg ada di dalam bungkusan itu


Tampak kedua nya amat lahap , sehingga makanan yg di bawa oleh kedua gadis itu habis ludes di buat mereka.


" Kakang Senggani biar nanti kami ikut mengumpul kan singkong-singkong itu,!" kata Sari Kemuning setelah melihat Raka Senggani selesai makan nya.


" Jangan nanti kulit mu akan jadi hitam, karena hari ini kelihatan nya matahari sangat panas,!" jawab Raka Senggani.


" Tidak apa -apa kakang, Kemuning pun ter biasa di bawah terik matahari jika sedang berada di sawah," jawab Sari Kemuning.


" Ter serah lah, akan tetapi jangan salah kan kakang jika nanti tangan mu lecet semua,!" kata Raka Senggani lagi.


Setelah ber istrahat sejenak se habis makan, maka pemuda itu memulai mengumpul kan singkong-singkong itu dengan mengguna kan sebilah parang.


Sedang kan Tara Rindayu dan Sari Kemuning mengumpul kan dengan memasuk kan nya ke dalam karung.


Akhir nya pekerjaan itu cepat selesai nya, ter kumpul lah lima karung singkong yg akan di serah kan kepada Ki Bekel.


Kemudian seluruh nya di taruh di dalam gubuk mbok rondo itu, nanti nya akan di. ambil .oleh para pengawal desa Kenanga.


Tidak ter lalu sore.ke empat orang itu kembali ke rumah.


Dan ketika malam menjelang Raka Senggani ber tamu ke rumah Ki Jagabaya.


" Assalamualaikum," ucap Raka Senggani di depan pendopo rumah Ki Jagabaya itu.


" Wa 'alaikum salam," ter dengar jawaban dari dalam.


Tidak terlalu lama Ki Jagabaya telah nongol dari pintu rumah itu dan ketika melihat Raka Senggani yg ada di depan.


" Mari Ngger , silah kan naik," ucap nya kepada Raka Senggani.


" Terima kasih , Ki," kata Raka Senggani dan naik ke pendopo seraya langsung duduk.


" Apa Kabar , angger Senggani,?" tanya Ki Jagabaya.


" Baik Ki, " jawab Raka Senggani.


Kemudian kedua orang itu mengobrol dan tidak ter lalu lama Japra Witangsa putra Ki Jagabaya turut hadir di sana .


Dan Sari Kemuning pun turut ke depan dengan membawa kan makanan dan minuman .


Keluarga itu amat senang atas kehadiran dari Raka Senggani itu.


" Ngger, kalau bisa angger Senggani memberi kan latihan bagi pemuda desa Kenanga ini seperti Witangsa dan Andara ilmu bela diri, sehingga para pengawal desa kenanga ini tidak lagi mudah di kalah kan oleh kawanan rampok yg ber ilmu tinggi," pinta Ki Jagabaya kepada Raka Senggani.


" Sebenar nya keinginan itu ada Ki Jagabaya, akan tetapi saat ini akan sulit untuk di lakukan mengingat banyak tugas yg harus Senggani laksana kan atas perintah Kanjeng Adipati Pajang, mungkin esok Senggani akan ber tolak ke Madiun, entah bagaimana hasil nya pun belum jelas karena lawan kali ini menurut sebahagian orang sangat sulit untuk di kalah kan, jadi sampai saat ini Senggani belum bisa menjanji kan, atas per mintaan dari Ki Jagabaya itu,!" kata Raka Senggani.


" Memang Ngger, kami pun mengerti akan tugas angger Senggani sekarang, bahkan saat ini Angger pun bukan hanya sekedar milik dari desa Kenanga ini saja," jelas Ki Jagabaya.


" Itulah sulit nya jadi se orang prajurit, Ki," keluh Raka Senggani.

__ADS_1


" Akan tetapi kamukten yg akan angger terima merupa kan suatu anugerah yg jarang di dapat sembarang orang, angger patut ber syukur akan hal itu," nasehat dari Ki Jagabaya .


Sampai lama mereka mengobrol dan setelah malam semakin dalam baru lah Raka Senggani kembali ke rumah Ki Lamiran lagi.


__ADS_2