
Raka Senggani yg mengintip dari balik pintu itu segera berlari untuk bersembunyi, ia masuk ke sebuah bakul yg besar dan berisi padi, dengan cepat bocah itu menutupi tubuhnya dengan padi. Ia sangat ketakutan, setelah melihat nasib yg menimpa kedua orangtuanya, dibunuh di depan mata nya sendiri.
" Cepat cari Keris itu,!" terdengar perintah orang yg memakai jubah panjang.
" Baik kakang ,!" jawab orang yg matanya putih itu.
Sedangkan yg seorang lagi , berjaga-jaga di luar.
Tidak terlalu lama terdengar suara kentongan titir, pertanda telah ada bahaya , ketiga orang itu pun semakin cepat membongkar seluruh isi rumah dari Raka Jaya itu.
Tetapi yg mereka cari tidak mereka temukan.
" Bagaimana kakang, dimana orang itu menyembunyikan keris itu, atau memang ia tidak memiliki nya seperti ucapan nya tadi,!" kata orang yg memiliki mata yg berwarna putih.
" Tidak mungkin, karena beberapa anggota kita melihat bahwa Raden Gagak Panggon membawa benda itu kemari,!" ucap orang yg di panggil kakang itu.
Mereka terus mencari namun nihil, benda yg di cari tidak juga di ketemukan.
" Paman Guru, tampaknya penduduk desa ini telah datang,!" kata orang yg berjaga di luar.
" Sebaiknya kita harus meninggalkan tempat ini, sebelum para penduduk itu melihat kita,!" kata orang yg di panggil kakang.
" Tetapi bagaimana dengan Keris Kyai Condong Campur itu, kita belum menemukan nya , kakang,?" tanya orang yg bermata putih itu.
" Mungkin benda itu tidak ada disini, mungkin Raden Gagak Panggon menyimpan nya tidak disini, mungkin di tempat lain, marilah adi , kita tinggalkan tempat ini,!" ajak orang itu.
Akhirnya ketiga orang itu meninggalkan rumah dari Raka Senggani itu.
Tidak terlalu lama berselang penduduk desa Kenanga telah sampai di tempat itu dan melihat dua mayat yg tergeletak di halaman rumah itu, mayat dari Raka Jaya dan istri nya, mereka memanggil - manggil nama Raka Senggani, tetapi tidak ada jawaban, akhirnya penduduk desa Kenanga itu menggeledah seisi rumah itu, agak di belakang di bagian dapur, para penduduk membongkar sebuah bakul yg berisi padi dan alangkah terkejutnya mereka setelah melihat bocah itu lagi tertidur dan sepertinya dalam keadaan pingsan.
" Ngger, angger Senggani bangun , ngger,!" ucap Ki Bekel sambil mengusap wajah bocah itu dengan air.
Raka Senggani kemudian terbangun dan dilihat nya banyak orang di rumahnya.
Tidak sadar ia berkata,
" Bagaimana keadaan Romo dan si mbok apakah mereka masih hidup,!" teriak nya.
Dan tidak terlalu lama , para warga desa telah menggotong kedua mayat itu untuk di bawa masuk ke dalam rumah.
Setelah melihat kedua orang tuanya itu sudah tidak bernyawa lagi , Raka Senggani menjadi histeris,
" Romoooo, mboooook, jangan tinggalkan Senggani, huu , huu, huu, jangan tiiing galkan Senggani Mbok," teriaknya sambil menangis.
Bocah kecil yg malang itu terus -terusan menangis sampai kedua orang tuanya itu dimakamkan, ia memang turut mengantarkan ke kuburan , tetapi masih sesenggukan menahan tangis.
" Sudahlah Ngger, mari kita pulang, biar angger Senggani bersama si Mbok saja,!" ucap Mbok rondo.
Mengajak Raka Senggani untuk pulang ke rumahnya setelah pemakaman itu selesai.
__ADS_1
Mbok rondo adalah dukun bayi yg ada di desa Kenanga, banyak anak -anak yg suka kepadanya walau tidak jarang pula anak anak itu takut kepada nya , apabila para anak -anak desa Kenanga itu jatuh sakit , dan perlu pengobatan, Mbok rondo lah yg di panggil untuk mengibatinya, baik dengan ramuan maupun dengan pijatan, jadi anak -anak kecil desa Kenanga takut di pijat oleh Si Mbok rondo.
" Senggani mau disini saja , Mbok Rondo , Senggani mau menemani Romo dan Simbok, kasihan mereka pasti kesepian di tempat ini,!" jawab bocah kecil itu.
" Tetapi Romo dan Simbokmu telah berada dialam yg lain dengan kita, Angger Senggani masih memerlukan makan dan minum sedqngkan mereka tidak memerlukannya lagi , Ngger, ayolah kita pulang!" ajak Mbok rondo lagi.
Setelah cukup lama Mbok rondo membujuk Raka Senggani agar mau pulang, akhirnya bocah itu mau ikut pulang.
Di rumahnya itu telah ada Raka Jang yg adalah paman dari Raka Senggani, ia adik kandung dari Raka Jaya.
" Senggani , duduklah, " kata Paman nya itu.
" Ada apa paman, mengapa paman berada disini,?" tanya Raka Senggani.
Raka Senggani memang kurang menyukai paman nya itu, karena sifat -sifatnya yg buruk, suka berjudi dengan sabung ayam, suka main perempuan, suka mabuk -mabukan, beberapa kali ia melihat pertengkaran antara Paman nya itu dengan Romo nya.
Karena Paman nya sering meminta sesuatu dari orang tua Raka Senggani yg cukup terpandang di desa Kenanga itu.
Orang tua Raka Senggani memiliki cukup luas areal persawahan, di tambah lagi kebun dan pategalan, sehingga boleh dikata , Raka jaya adalah orang kaya di desa Kenanga tersebut.
" Mulai hari ini Paman akan tinggal di sini, sebagai ganti orangtua mu,!" jelas Raka Jang kepada Raka Senggani.
" Paman tidak boleh berada disini, Senggani tidak mau bersama Paman, segeralah paman kembali,!" ucap Raka Senggani dengan keras.
" Seluruh harta kekayaan milik ayahmu itu , paman lah yg menguasai nya saat ini, kalau kau tidak patuh kepada Paman , engkau lah yg sebaiknya angkat kaki dari sini, " jelas Raka Jang
Tidak, tidak, Senggani akan tetap berada disini, pamanlah yg harus pergi dari sini,!" jawab Raka Senggani
" Senggani tidak mau mbok, Senggani mau tinggal disini, inikan rumah ku,!" kata Raka Senggani kecil.
" Tidak usah terlalu mempermasalahkan nya , Ngger, yg penting saat ini angger Senggani harus aman terlebih dahulu, karena ada orang yg mengincar dirimu, Ngger," jelas Mbok Rondo.
" Segeralah kau pergi dari sini Senggani, agar dirimu aman, dan rumah ini pun telah menjadi milik paman,!" jelas Raka Jang, paman Raka Senggani.
Raka Senggani menatap wajah paman nya itu, ada perasaan tidak senang atas pernyataan dari paman nya itu.
Ia pun melangkah mengikuti Mbok Rondo yg berjalan menuju rumahnya.
Agak jauh kedua orang itu berjalan, sampailah mereka di gubuk dari dukun bayi tersebut.
" Marilah , Ngger, silahkan masuk, meskipun kecil, gubuk simbok masih cukup untuk kita berdua,!" kata Mbok rondo.
Raka Senggani masuk ke dalam rumah Mbok Rondo Itu, ia kemudian langsung merebahkan tubuh nya.
Bocah kecil itu tampak terpukul atas kematian orang tuanya.
Mbok Rondo membelai rambutnya hingga membuat Raka Senggani tertidur.
Keesokan harinya Raka Senggani diajak oleh Mbok Rondo berjualan ke pasar desa Kenanga, disana ia memperhatikan pande besi Ki Lamiran yg sedang menempa sebuah besi.
__ADS_1
Lama Raka Senggani memperhatikan orang tua itu.Sehingga ia di tinggalkan oleh Dukun bayi itu.
Setelah cukup lama barulah ia mencari orang tua itu.
Mbok Rondo yg berjualan berbagai macam sayur dan ketela, cukup cepat jualan nya laku terjual.
" Marilah Ngger, kita pulang ,!" ajak Mbok Rondo kepada Raka Senggani.
" Mbok , Senggani ingin pulang ke rumah Senggani, Mbok,!" ucap anak itu.
" Ada perlu apa angger Senggani pulang,?" tanyae Mbok Rondo
" Senggani ingin mengambil pakaian Senggani, mbok," jawab Raka Senggani.
" Baiklah, nanti setelah nya segeralah pulang ke rumah Simbok, ya,!" ujar Mbok Rondo.
" Baik, Mbok , nanti Senggani langsung pulang ke rumah simbok,!" jawabnya.
Raka Senggani langsung berlari menuju rumahnya, sangat cepat ia berlari sebentar saja sudah sampai di depan rumahnya.
Ia langsung masuk kedalam rumah itu dan setelah tiba di halaman ia berteriak,
" Romo, mbok , Senggani pulang,!"
Akan tetapi setelah dilihat nya yg keluar adalah paman dan bibi nya, barulah ia teringat akan kematian kedua orang tuanya itu.
" Romo, mbok, mengapa Senggani di tinggalkan, hu hu hu, " bocah itu menangis.
Ia hanya terduduk di atas pendopo itu.
" Hehh, Senggani untuk apa kau kembali lagi kemari, ini adalah rumah paman, bukan rumah mu lagi,!" bentak paman nya itu.
" Tidak , ini bukan rumah paman, ini rumah Senggani , paamn hanya menumpang disini,!" jawab anak itu dengan marahnya.
" Tidak, setelah kematian orang tuamu , rumah ini telah menjadi milik paman, karena kedua orang tuamu itu ada hutang dengan paman, dan rumah serta sawah milik kakang Raka jaya adalah sebagai ganti nya,!" teriak Raka Jang.
" Paman bohong, Romo tidak pernah berhutang kepada paman, paman memang ingin memiliki rumah Senggani ini,!" jawabe Raka Senggani dengan ketus
Bocah kecil itu terlihat tidak senang dengan kelakuan paman nya itu.
" Hehh bocah, kau tahu apa dengan urusan orang tua, Romo dan Si mbok memang telah berhutang kepada paman dan rumah ini sebagai gantinya,!" ungkap Raka Jang lagi.
Raka Senggani tidake perduli dengan ucapan pamannya itu, ia langsung masuk ke dalam bilik nya dan mengambil barang -barang milik nya. Dan setelah nya langsung keluar dari rumah nya itu.
Raka Senggani kecil membawa buntalan pakaian nya dan langsung menuju ke rumah Mbok Rondo.
Sedangkan Mbok Rondo lagi berada di pategalan, Raka Senggani segera masuk ke dalam gubuk Mbok Rondo dan membaringkan tubuh nya.
Hati nya sangat sedih mengingat perlakuan Paman nya terhadap diri nya.
__ADS_1
" Mengapa paman sampai hati melakukan itu kepada ku, " pikirnya dalam hati.
Hati kecilnya tidak terima atas perlakuan paman nya itu.