
Selang tidak terlalu lama kedua Resi itu segera meninggalkan kota pelabuhan itu dan langsung menuju ke tanah Perdikan Mantyasih.
" Bagaimana Brangah jika kita berlomba cepat untuk sampai ke Gunung Tidar itu," ucap Resi Yaramala.
" Ahh , seperti anak kecil saja, tetapi kalau Brangah ditantang , pantang untuk menolak," sahut Resi asal Blambangan itu.
" Baik, selepas dari kota ini kita akan berpacu , siapa yg lebih cepat," tukas Resi dari India itu.
Memang kedua nya cukup akrab karena Resi Yaramala sempat lama tinggal di Blambangan dan Bali, sehingga ia amat mengenal Resi Brangah itu.
Setelah kedua nya keluar dari kota Asem arang, maka kedua nya pun memamerkan ilmu lari cepat nya.
Memang saat itu sore telah menjelang, jadi jalanan menuju selatan itu agak ramai namun keduanya mengambil jalan yg agak memutar guna menghindari jalanan biasa.
" Ayo, keluarkan seluruh kemampuan mu , Brangah, jangan seperti siput jalanmu," seru Resi Yaramala.
Resi dari tanah Hindustan itu tampak tengah berlari sangat cepat, laksana terbang melintasi tinggi nya pepohonan, diatasnya rimbun dedaunan kedua tokoh sakti berlompatan dengan ringan nya, kain panjang yg tersampir di pundak kedua resi itu terlihat berkibar laksana bendera yg diterpa angin kencang.
" Jangan terlalu sombong, Yaramala, aku masih sanggup untuk melomba mu," balas Resi Brangah itu.
Resi dari Blambangan itu mengerahkan seluruh tenaganya dan kemampuan nya untuk mengejar Resi Yaramala itu.
Namun ternyata kemampuan dari Resi Yaramala memang masih jauh di atas dari Resi Brangah, walaupun seluruh tenaga nya telah di keluarkan sepenuh nya tetap saja Resi Brangah tertinggal agak jauh dari Resi Brangah.
Ketika menjelang pagi, sampailah kedua orang itu di pedukuhan Bawen, dan keduanya memperlambat larinya.
" Bagaimana, Brangah, apakah kau mau meangakui keunggulan ku,?" tanya Resi Yaramala.
Resi Brangah diam saja, ia memang masih kesal karena tidak mampu melampaui Resi Yaramala itu. Jangankan melampaui nya membuat jarak yg dekat saja sangat sulit, sehingga mau tidak mau ia mengakui keunggulan dsri Resi Yaramala itu.
" Tubuh mu sudah terlalu tambun, Brangah, nampaknya kau telah menjadi pembesar yg memiliki jabatan tinggi di Blambangan sehingga kau tidak pernah melakukan lari seperti tadi, Ha, ha, ha," kata Resi Yaramala sambil tertawa.
" Memang mungkin aku kalah dalam hal lari akan tetapi dalam hal yg lain aku masih sanggup untuk mengatasimu , Yaramala," jawab Resi Brangah.
" Sudahlah , Brangah lupakan lah hal tadi, lebih baik kita beristrahat saja di pedukuhan itu dan mengganjal perut disana," ucap Resi Yaramala.
" Baik, baik, kita memang harus mengisi perut di pedukuhan itu," jawab Resi Brangah.
Kedua nya pun berjalan perlahan menuju ke pedukuhan itu.
Sedangkan di Tanah Perdikan Mantyasih itu, telah terjadi kehebohan dengan hilang nya salah seorang gadis.
" Bagaimana ini Ki Gede, putri dari Ki Sudirjo telah menghilang tadi malam, dan sampai saat ini belum kembali," jelas Ki Jagabaya.
" Hahh, apakah kalian telah memeriksa tempat Chandala Gati itu,?". tanya Ki Gede dengan geramnya.
" Sudah Romo, tetapi kami tidak menemukan Tinampi disana," jawab Rasala.
" Apakah tadi malam kalian tidak berjaga dan mengawasi rumah itu,?" tanya Ki Gede lagi.
" Kami tetap berjaga mulai dari sejak sore , Romo, bahkan Wirya sendiri yg berada di sana, namun tidak ada seorang pun yg keluar dari rumah itu," kata Rasala lagi.
" Jadi siapa pelaku penculikan itu, jika memang kalian tidak menemukan putri Ki Sudirjo itu di sana,?" tanya Ki Gede lagi.
" Apa mungkin mereka yg melakukan nya dan menyembunyikan Tinampi di suatu tempat, mungkin di hutan," ucap Ki Jagabaya.
" Tetapi rasanya tidak mungkin Ki Jagabaya, karena kami mengawasi terus tampat itu, dan memang tidak ada yg keluar dari rumah itu, atau ada kelompok lain yg melakukan nya dan di luar pantauan kita,". kata Wirya.
Memang pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu merasa di persalahkan akibat dari hilang nya putri Ki Sudirjo itu.
" Ki Jagabaya , suruh datang kemari , Wiku Mandrayana dan Wiku Maha Gelang, katakan kepada mereka aku membutuhkan nya," seru Ki Gede Mantyasih lagi.
" Baik, Ki Gede,". sahut Ki Jagabaya.
Ia langsung keluar dari rumah Ki Gede Mantyasih itu dan berjalan ke sebelah rumah Ki Gede itu.
Sementara Ki Gede Mantyasih sendiri benar -benar merasa kecolongan atas hilangnya putri Ki Sudirjo itu.
Dan tidak terlalu lama datanglah Biksu Mandrayana dengan di dampingi oleh Biksu Maha Gelang.
Kedua nya langsung duduk di hadapan Ki Gede Mantyasih itu.
" Ada apa Ki Gede, apakah sebabnya kami di panggil,?". tanya Biksu Mandrayana.
" Mohon maaf sebelum nya Wiku Mandrayana dan Wiku Maha Gelang, karena telah menggannggu ketenangan kalian berdua," ucap Ki Gede Mantyasih.
" Tidak apa -apa, Ki Gede,". sahut Biksu Mandrayana lagi.
" Begini , Wiku berdua, malam tadi telah hilang salah seorang gadis dari dalam rumahnya, dan sampai saat ini belum di ketahui keberadaannya,!". cerita Ki Gede Mantyasih.
" Hilaaang,!!" seru Biksu Mandrayana kaget.
" Benar , Wiku , gadis itu telah menghilang sejak malam tadi, dan sampai sekarang belum di ketahui nasibnya," kata Ki Gede lagi.
__ADS_1
" Apakah Ki Gede telah mencari ke tempat Si Chandala Gati itu, Ki Gede,?" tanya Biksu Maha Gelang.
" Sudah Wiku, bahkan hampir seluruh rumah yg berada di dekat situ telah diperiksa tetapi para pengawal tidak menemukan nya, !" jawab Gede Mantyasih lagi.
" Bagaimana ini kakang Maha Gelang, apakah ini bukan perbuatan dari Si Chandala Gati itu, atau memang ada orang lain yg telah mengambil kesempatan di saat seperti ini,?" tanya Biksu Mandrayana.
" Sebentar Mandrayana, kita tidak boleh terlalu cepat mengira -ngira, ada baiknya kita lihat dahulu , apakah hilang nya gadis itu memang ada kaitan nya dengan usaha pengangkatan benda pusaka itu,". jelas Biksu Maha Gelang.
Nampak Biksu Mandrayana mulai mengerti yg di maksud dengan Biksu Maha Gelang itu.
Kemudian Biksu dari Tibet itu berkata,
" Apakah Ki Gede memiliki sedikit sisa rambut dari perempuan yg hilang itu,?" tanya nya kepada Gede Mantyasih itu.
Ki Gede terdiam ,ia melirik kepada Jagabaya, dan Ki Jagabaya pun faham,
" Maaf sebelum nya ,Wiku Maha Gelang, izinkan saya ke rumah gadis itu untuk mencari yg Wiku minta itu,". ucap Ki Jagabaya.
" Biarlah saya saja yg kesana ," sahut Wirya , pemimpin pengawal tanah Perdikan itu.
Segera ia bangkit dan menuju langsung ke rumah kediaman dari Ki Sudirjo.
" Ada apa Angger Wirya kemari ,?" Tanya Ki Sudirjo.
" Begini, Ki, tamu yg berada di rumah Ki Gede memerlukan rambut Tinampi, Ki," sahut Wirya.
" Untuk apa , Ngger, ?". tanya Ki Sudirjo heran.
" Saya tidak tahu, Ki, mungkin ia dapat mencari atau setidak nya tahu keberadaan dari Tinampi dengan rambutnya itu, Ki," jawab Wirya.
" Kalau begitu, tunggu sebentar, Ngger, biar aki cari dulu,!" ujar Ki Sudirjo.
" Baik, Ki," ucap Wirya.
Kemudian Ki Sudirjo masuk ke dalam rumah dan tidak terlalu lama ia telah keluar lagi dengan membawa rambut yg sudah di gulung nya.
" Ini, ngger rambut Tinampi," kata Ki Sudirjo.
Setelah menyerahkan rambut itu kepada Wirya dan kemudian pemimpin pengawal tanah Perdikan itu menerima nya seraya berkata,
" Saya pamit dulu, Ki, mudah mudahan , Tinampi segera di temukan,"
" Silahkan, silahkan , mudah mudahan, Ngger,". balas Ki Sudirjo.
Sementara di dalam rumah, hampir semua nya masih pada tempat nya tidak beranjak dari situ.
" Ini Ki Gede, Rambut Tinampi," kata Wirya.
Pemimpin pengawal tanah perdikan Mantyasih itu menyerahkan gulungan rambut itu kepada Ki Gede.
Kemudian Ki Gede memberikan nya kepada Biksu Maha Gelang, lantas di sambut oleh biksu dari Tibet itu.
" Maaf merepotkan Ki Gede lagi, saya membutuhkan semangkok air putih," kata Biksu Maha Gelang lagi.
Kemudian Ki Gede menyuruh pembantu rumah nya untuk mengambilkan air putih.
Di dalam sebuah mangkok yg agak besar kemudian Biksu Maha Gelang memasukkan beberapa helai rambut putri Ki Sudirjo itu.
Biksu dari Tibet itu kemudian membaca mantera sambil merapat kan kedua telapak tangan nya dan dari kedua telapak tangan nya itu keluar asap tipis dan diarahkan ke dalam mangkok yg berisi rambut itu.
Beberapa kali , kedua tangan dari Biksu Maha Gelang itu di letakkan diatas mangkok itu sambil diputar -putar.
Tiba -tiba, Biksu Maha Gelang berseru,
" Tampaaak,"
Maka secara menakjubkan di dalam mangkok itu terlihat bayangan perempuan muda yg sedang terikat tangan dan kaki nya serta mulutnya di sumpal kain.
" Inikah orang nya , Ki Gede,?" tanya Biksu Maha Gelang itu.
Gede Mantyasih mendekati mangkok itu dan segera melihat bayangan orang yg ada di dalamnya.
" Benar, Wiku, dialah orang yg telah menghilang itu,". seru Ki Gede dengan gembira.
Karena ia masih melihat putri Ki Sudirjo masih hidup meski masih dalam keadaan terikat.
Secara bergantian , Rasala , Ki Jagabaya dan Wirya melihat apa yg ada di dalam mangkok itu. Mereka dapat melihat dengan jelas keadaan dari Tinampi putri dari Ki Sudirjo itu.
" Dimanakah kiranya tempat itu,?" tanya Biksu Maha Gelang lagi.
" Kemungkinan tempat itu berada di atas gunung Tidar,!". jawab Ki Gede Mantyasih sendiri.
" Benarkah itu , Ki Gede,?". tanya Biksu Maha Gelang.
__ADS_1
" Demikianlah Wiku, memang dari situasinya itu berada di puncak Tidar, mengapa Wiku mmepertanyakan tempat itu,?". balik Ki Gede Mantyasih bertanya.
" Ahh, tidak hanya ingin tahu saja,!" jawab Biksu Maha Gelang.
Suasana di rumah Ki Gede tiba -tiba hening setelah melihat Putri Ki Sudirjo terlihat. Kemudian Ki Gede Mantyasih segera memerintahkan kepada Ki Jagabaya dan Wirya agar dapat mengambil gadis itu.
" Ki Jagabaya dan kau Wirya ku perintahkan kepada kalian berdua agar dapat mengambil putri Ki Sudirjo itu, bukankah kalian berdua telah mengetahui tempatnya," seru Ki Gede Mantyasih.
" Baik Ki Gede, !" jawab Mpu kedua nya.
Namun belum pun kedua orang itu bangkit dari duduk nya, Biksu Maha Gelang mencegah nya,
" Tunggu dulu, jangan terburu -buru," ucap Biksu Maha Gelang melarang.
" Mengapa Wiku melarang mereka untuk membebaskan gadis itu,?". tanya Ki Gede Mantyasih heran.
" Tunggu sebentar Ki Gede, tampak nya gadis itu merupakan calon tumbal yg akan dipergunakan oleh Yaramala untuk mampu mengangkat benda pusaka itu," jelas Biksu Maha Gelang.
Seluruh yg hadir di rumah Ki Gede itu terdiam dengan penjelasan Biksu dari Tibet itu.
" Maksud Wiku, Bagaimana,?" tanya Ki Gede Mantyasih lagi.
" Yah, gadis itu merupakan tumbal yg akan dipergunakan oleh Yaramala untuk dapat mengambil Pusaka , tombak Kyai Sepanjang itu dengan beberapa bantuan tumbal yg lain, bukankah gadis itu masih perawan,?" tanya Biksu Maha Gelang.
" Ya Wiku, ia masih perawan dan memang belum menikah,". jawab Ki Gede.
" Begini, Ki Gede, Resi Yaramala itu memerlukan tujuh jenis darah dari berbagai macam termasuk di dalam nya darah seorang gadis , mungkin juga darah ayam cemani, dan yg lainnya, agar ia dapat mengambil tombak itu," jelas Biksu Maha Gelang.
Sesaat sang Biksu terdiam nampak kepala nya tertunduk, ada rasa yg tidak senang di raut wajah Biksu dari Tibet itu.
" Karena memang Yaramala itu menggunakan kekuatan sihir dan ilmu hitam agar dapat menguasai benda itu, bahkan mengapa saya melarang kalian untuk tidak membebaskan gadis itu adalah , ia atau Chandala Gati telah memagari tempat ini itu dengan pagar gaib, sehingga meskipun kalian sampai ke tempat tentu kalian tidak akan menemukan nya, kecuali,..." kata Biksu Maha Gelang.
" Kecuali apa, Wiku,?". tanya Ki Gede Mantyasih penasaran.
" Kecuali kalian memiliki ilmu yg sangat tinggi dan mampu mnembus pagar gaib itu , juga mampu melepaskan pengaruh sihir dsri gadis itu,!". jelas Biksu Maha Gelang.
" Jadi apakah kita akan diam saja tanpa melakukan apapun guna menyelamatkan gadis itu, Wiku,?" tanya Ki Jagabaya.
" Sabar dan tenanglah kalian semua, Yakinlah kepada ku, bahwa gadis itu akan selamat," jawab Biksu Maha Gelang.
" Bagaimana kami dapat bersabar , Wiku, anggota tanah perdikan kami dalam keadaan tersandra seperti itu," balas Ki Jagabaya.
" Begini saja, kapan kira -kira purnama akan tiba,?" tanya Biksu Maha Gelang lagi.
" Besok malam, Wiku, " jawab Ki Gede Mantyasih.
" Berarti ada dua malam lagi, karena selepas waktu purnama lewat, disitulah Yaramala akan memulai usaha nya itu, dan pada saat itu kita memiliki kesempatan untuk melepaskan gadis itu dari tangan mereka,!" jelas Biksu Maha Gelang.
" Maksude kakang , Kita akan menyerang mereka saat akan mulai melakukan pengangkatan benda pusaka itu,?". tanya Biksu Mandrayana.
" Benar Mandrayana, karena tentunya gadis itu akan mereka bawa keluar bersamaan dengan tumbal yg lain, dan saat itu kita akan menyelamatkan gadis itu, setelah aku berhasil mengatasi pagar gaib yg telah mereka pasang itu,!" ungkap Biksu Maha Gelang.
" Dan terkhusus buatmu Mandrayana, Chandala Gati itu harus dapat kau lumpuhkan karena ia merupakan tokoh yg diandalkan oleh Yaramala dalam hal-hal ilmu sihir, jadi secepat nya nanti kau harus mampu mengatasi nya, agar kita tidak akan menghadapi kesulitan dengan melawan para jin dan lelembut yang akan mereka kuasai itu," jelas Biksu Maha Gelang.
" Begitu hebatnya kemampuan dari Chandala Gati itu, Wiku,?". Tanya Ki Gede Mantyasih.
Kepala Biksu Maha Gelang terlihat manggut -manggut sambil mengelus janggut nya yg telah memutih semuanya, ia berkata lagi.
" Bukankah kalian telah menyaksikan sendiri kehebatan nya, bahwa ia mampu lolos dari pengamatan kalian semua dan berhasil membawa kabur gadis itu," kata Biksu Maha Gelang.
Memang ucapan dari Biksu Maha Gelang sungguh tepat dan diakui oleh Ki Gede dan Ki Jagabaya.
" Kakang, apakah nanti kita tidak akan kekurangan orang yg akan mampu menandingi kelompok dari Resi Yaramala itu, yg telah diisi para tokoh -tokoh sakti rimba persilatan dari golongan hitam termasuk Nyi Ronce dan murid nya belum lagi Resi dari Blambangan itu,?". tanya Biksu Mandrayana.
Karena Biksu Mandrayana merasa kekuatan dari tanah Perdikan Mantyasih itu masih jauh di bawah dari kelompok Resi Yaramala dan Resi Brangah itu, belum lagi para murid dan beberapa pengikut dari Macan Baleman yg lumayan banyak.
" Jangan khawatir Mandrayana, tampak nya utusan dari Pajang merupakan seorang Pendekar yg Pilih Tanding," jawab Biksu Maha Gelang.
" Hehh, darimana kakang , tahu,?" tanya Biksu Mandrayana kaget setengah mati.
" Ahhh, Mandrayana, sudah terasa dua aura berlawanan yg datang , kalau dari timur aura itu seperti aura yg di miliki oleh pemilik dari benda pusaka itu sedangkan kalau dari arah utara aura yg sangat kental dengan keburukan dan gelap berbeda dengan dari timur, aura itu terpancar terang,". jawab Biksu Maha Gelang.
Memang Biksu dari Tibet itu memilki panggraita yg sangat tinggi.
Dan Biksu Mandrayana pun sangat memaklumi kemampuan dari saudara seperguruan nya itu yg berasal dari Tibet tersebut.
" Maaf sebelumnya Ki Gede, siapakah orang yg telah kalian undang yg datang nya dari Pajang itu,?" tanya Biksu Mandrayana penasaran.
" Oh iya merupakan seorang Senopati yg baru dan berusia sangat muda, mungkin seumuran dengan putraku Rasala ini, Wiku, dan bergelar Senopati Brastha Abipraya," jawab Ki Gede.
" Benar, sesuai dengan gelar nya, teguh memberantas kejahatan, memang merupakan seorang Pendekar yg akan sulit untuk di kalahkan," kata Biksu Maha Gelang lagi.
Semua yg hadir di tempat itu jadi penasaran dengan ucapan dari Biksu Maha Gelang itu.
__ADS_1
Karena umum nya mereka belum mengenal orang nya hanya tahu gelar nya saja.