Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 12 Tantangan. bag ke Lima.


__ADS_3

Setelah berakhir nya cerita dari Senopati Pajang tersebut, Ki Demang Kedawung langsung berujar,


" Memang saat ini, saat Demak tengah sibuk berupaya membantu tanah melayu agar dapat terbebas dari penjajah bangsa asing itu, di saat itu pula ada tangan -tangan yg tidak bertanggungjawab yg mengambil kesempatan untuk melancarkan niat jahat nya, memang setiap perang yg terjadi pasti ada saja korban yg tidak berdosa yg jadi korban, hehh," kata Ki Demang Kedawung sambil menghela nafasnya.


Ucapan dari Ki Demang Kedawung itu di benarkan orang -orang yg berada di tempat itu.


Sementara empat orang yg berasal dari Kenanga, merasakan ada beban berat yg di pikul oleh teman mereka sekaligus guru mereka itu. Sebagai seorang prajurit dan yg di andalkan oleh Kanjeng Adipati Pajang, tampak nya sang guru harus bekerja lebih keras lagi.


Menjaga keamanan di Tlatah Pajang pada khusus nya dan di seantero Demak pada umum nya.


" Demikianlah Ki Demang, oleh sebab itu , saya merasa sangat sulit untuk membagi waktu, Kanjeng Adipati hanya memberikan saya beristrahat cuma setengah purnama setelah tugas di Tanah Perdikan Mantyasih selesai dan sepertinya ini akan segera berangkat lagi ke Lor guna membantu Kanjeng Gusti Pangeran sabrang Lor untuk mengusir bangsa asing itu, jadi sekali lagi saya mohon maaf tidak dapat memenuhi permintaan Ki Demang tersebut," ungkap Raka Senggani.


" Tidake apa -apa, Ngger, dengan mengirimkan muridmu saja kesini untuk memberikan latihan kepada para pengawal Kademangan ini, itu saja telah menggembirakan hati kami , bukan begitu Ki Jagabaya," balas Ki Demang Kedawung lagi.


Yg di sebutkan, menganggukkan kepalanya, Ki Jagabaya memang menyetujui saran Demang nya itu, karena para pengawal Kademangan Kedawung perlu peningkatan kemampuan nya dimana saat ini, keamanan wilayah Kerajaan Demak memang kurang aman, banyak terjadi perampokan dan penculikan.


Sehingga setiap wilayah harus mampu mandiri menjaga wilayah nya masing-masing tidak dapat mengharapkan terlalu banyak atau bergantung kepada Kotaraja Demak saja.


Hampir pagi barulah mereka beristrahat, dan keesokan harinya, setelah terang tanah , kelima sahabat itu pamit kembali ke Kenanga.


Sebenarnya Demang Kedawung masih ingin menahan mereka tetapi ia pun mengakui sekembalinya dari Gunung Pandan , keempatnya belum kembali ke rumah mereka.


Sehingga Demang Kedawung tidak bisa berbuat apa -apa. Sesungguhnya di hati Demang Kedawung itu mengharapkan kehadiran mereka di Kademangan Kedawung lagi.


" Ingat Ya, ngger, nanti kembali kemari lagi untuk memberikan pelajaran kepada para pengawal Kademangan ini," ujar Demang Kedawung.


" Mudah mudahan Ki Demang, nanti akan kembali lagi kemari " sahut Raka Senggani.


" Kami pamit, Ki Demang," ucap Jati Andara


Sambil menyalami Ki Demang dan Nyi Demang, serta Savitri yg telah mereka selamatkan itu, akhirnya mereka meninggalkan Kademangan Kedawung kembali ke desa Kenanga.


Jarak yg tidak jauh Karena keduanya bertetangga.


Kali ini lima ekor kuda berjalan meningglakan Kademangan Kedawung itu.


Mereka menjalankan kudanya dengan perlahan sambil bercerita.


Sari Kemuning mengambil posisi dekat dengan Raka Senggani.


Ia menanyakan kepada kekasih nya itu apakah yg telah terjadi ketika berada di tanah perdikan Mantyasih, putri Ki Jagabaya itu masih penasaran tentang cerita pertarungan melawan kaum lelembut itu.


Raka Senggani hanya sekedar nya saja menjelaskan Karena ia sendiri pun tidak dapat mengerti apa yg telah terjadi. Sehingga sulit untuk mengatakan nya.


Witangsa dan Andara dengan di temani oleh Dewi Dwarani masih mempermasalahkan tentang permintaan dari Demang Kedawung, apakah mereka berempat yg akan datang memberi pelatihan kepada para pengawal Kademangan Kedawung tersebut.


Menurut Japra Witangsa mereka sebaiknya datang berempat saja, agar lebih cepat . Jika hanya seorang diri tentu akan lama, Karena banyak yg akan di latih,menurut Putra Ki Jagabaya.


Sementara menurut Dewi Dwarani, sebaiknya hanya dua orang saja yg akan datang ke Kedawung, dengan alasan, Kenanga pun masih memerlukan bimbingan, itu menurut Putri Ki Bekel.


Jati Andara yg mendengar nya mengambil kesimpulan memang seharusnya menuruti saran dari adiknya itu, mereka hanya berdua saja datang ke Kedawung.


Tetapi putra Ki Bekel itu mengatakan juga agar mereka meminta saran dari orang -orang tua mereka serta Raka Senggani.


Masih menurut Jati Andara, bahwa Senopati Pajang itu masih ingin meningkatkan latihan mereka berempat.


" Darimana kakang Andara tahu,?" tanya Dewi Dwarani.


Jati Andara tersenyum mendengar pertanyaan adiknya itu, karena sebenarnya ia hanya mengira -ngira saja, karena putra Ki Bekel itu masih berharap untuk dapat meningkatkan kemampuan nya, terlebih ia pun tahu ada ilmu pamungkas yg di miliki temannya itu yg belum diajarkan kepada mereka, tentu nya ia berharap dapat segera diturunkan kepada mereka.


Hehh, walaupun sekedar harapan tetapi setidaknya kami masih akan dapat anugrah itu, mudah mudahan adi Senggani mau menurunkan kepada kami,. kalaupun tidak, nanti Kemuning yg akan berusaha memintakannya kepadanya, katanya dalam hati.


Kelima nya tidak terasa telah memasuki wilayah desa Kenanga, kemudian mereka langsung menuju ke rumah nya masing-masing.


Sebelum berpisah, Sari Kemuning berseru kepada Raka Senggani,


" Kakang Senggani secepatnya datang ke rumah, tidak pake lama,,"

__ADS_1


Raka Senggani hanya menganggukkan kepalanya saja, tidak menjawab perkataan dari Sari Kemuning.


Raka Senggani walau berat hati mengarahkan si Jangu menuju kediaman dari Ki Lamiran, pande besi desa Kenanga.


Ia terus membawa nya masuk ke halaman rumah Ki Lamiran itu.


Turun dari kudanya, ia langsung menuju ke pintu yg dalam keadaan tertutup.


Hehh, apakah Ki Lamiran tidak sedang berada dirumah, katanya dalam hati.


Ia mengucapkan salam tetapi tidak ada jawaban.


Di dorong nya daun pintu itu dan Raka Senggani langsung masuk ke dalam, sesampai nya di dalam tetap juga tidak bertemu dengan orang yg di carinya itu.


Apakah ia sedang berada di pategalan, tanya Raka Senggani sendiri.


Ia pun keluar setelah menutup pintu itu kembali. Dengan menunggangi si Jangu, Senopati Pajang tersebut menuju pategalan miliknya .


Memang hari masih belum terlalu panas, ketika sampai di tanah Pategalan itu, dilihatnya Ki Lamiran tengah mencangkul tanah. Pande besi itu akan bertanam singkong.


Mendengar adanya ringkikkan kuda , pande besi itu menghentikan kegiatan ia menoleh kearah suara itu.


" Assalamualaikum, Ki," ucap Raka Senggani.


Ia langsung melompat turun dari atas kudanya.


" Wa'alaikum salam, apa kabar mu, Ngger,?" tanya nya pada Raka Senggani.


" Baik, Ki, Bagaimana keadaan aki sendiri,?" tanya nya kepada orang tua itu.


" Baik, baik, aki dalam keadaan baik," jawab Ki Lamiran.


Sambil menyalami dan memeluk orang tua itu.


" Mari Ngger , kita duduk di gubuk saja," ajak Ki Lamiran lagi.


Setelah bertanya keadaan , keduanya kemudian terlibat pembicaraan yg agak serius.


Ki Lamiran menanyakan tentang surat yg telah di titipkan kepada Jati Andara itu.


Apakah Raka Senggani telah menerimanya dan bagaimana keputusan yg akan diambil oleh pemuda itu.


Putra Raka Jaya itu mengatakan telah menerimanya, namun belum memutuskan nya, karena ia berpendapat, masalah ini adalah masalah hati, ia sulit untuk menerimanya namun juga berat untuk menolak nya.


Yg dikhawatirkan pemuda itu tindkan yg akan di ambil oleh Tara Rindayu selanjutnya, demikianlah kata Raka Senggani.


" Tetapi kan Angger Senggani dapat mengatakan yg sejujurnya kepada den Rindayu serta keluarga nya, sehingga masalah ini tidak akan berlarut - larut," ungkap Ki Lamiran.


Raka Senggani hanya termenung mendengar ucapan orang tua yg sangat di hormatinya itu. Ia bingung harus bagaimana bersikap, apakah kelak tindakan yg diambil nya itu dapat memuaskan semua pihak termasuk dengan Tara Rindayu, sementara hatinya telah tertambat pada putri Ki Jagabaya itu.


Hehh, ia sampai menghela nafasnya, terasa sulit untuk mengambil sikap, terlebih orang yg di hadapi nya itu , seorang yg berpengaruh di desa kenanga.


" Tahukah Angger Senggani bahwa den ayu telah meningglakan rumah nya, dan sampai sekarang tidak di ketahui nasibnya," ucap Ki Lamiran.


" Benarkah hal itu Ki, apakah Juragan Tarya tidak tahu dimana ia berada,?" tanya Raka Senggani penasaran.


Ki Lamiran menggelengkan kepalanya, ia memandangi tanaman ketela rambatnya.


" Dari mulut Juragan Tarya sendiri mengatakan bahwa ia tidak tahu dimana putri nya itu berada, " jawab Ki Lamiran.


Kembali Raka Senggani berpikir akan nasib putri Juragan Tarya tersebut, ia juga menanyakan kepada Ki Lamiran apakah dirinya bersalah jika menolak nya untuk di jadikan istri, walaupun pada saat itu sang Juragan telah mengadakan sayembara, bahwa siapa saja yg berhasil putrinya itu akan dinikahkan dengan nya, Tara Rindayu.


Ki Lamiran juga tidak menyalahkan Raka Senggani, karena semuanya itu tergantung kepada dirinya, yg diinginkan oleh orang tua itu adalah bahwa Senggani harus memutuskan nya dengan mengatakan nya kepada keluarga Juragan Tarya itu.


Sehingga keluarga itu tidak berharap kepadanya lagi, membuat Tara Rindayu dapat memilih jodoh nya sendiri.


Dirasakan oleh Senopati Pajang itu , ia tengah persimpangan yg sulit apalagi di ketahui olehnya saat ini Tara Rindayu tidak lagi berada di desa Kenanga , ia merasa bersalah.

__ADS_1


Tanpa disadari keduanya, dua orang mendekati tempat itu.


" Kakang Senggani apakah telah makan,?" tanya orang itu agak keras


" Ehh, Kemuning dan Dwarani, kakang belum makan, pas sekali jika kalian berdua membawakan bekal untuk kami berdua , bukan begitu Ki,?" ucap Raka Senggani.


Orang tua itu hanya tersenyum saja, lama Ki Lamiran melihat kearah putri Ki Jagabaya, Sari Kemuning.


Memang ada perbedaan yg mencolok antara putri Ki Jagabaya dengan putri Juragan Tarya, Sari Kemuning seorang gadis yg penuh semangat dan suka bekerja keras, beda dengan Tara Rindayu yg merupakan anak seorang kaya yg ada di desa itu.


Pantaslah ia sulit untuk menolak Putri Ki Jagabaya ini, selain wajah nya yg ayu, ia juga sangat memperhatikan Raka Senggani.


" Marilah kita makan kakang Senggani, bukankah saat ini telah tengah hari, sudah seharusnya kita makan agar dapat bekerja lagi,"ucap Sari Kemuning.


Kata-kata yg membuyarkan lamunan Ki Lamiran.


" Mari Ki, sedari dari Kedawung Senggani belum makan," ajak Raka Senggani kepada Ki Lamiran.


" Silahkan, silahkan, memang saat ini sudah saat nya untuk mengisi bakul nasi ini," kata Ki Lamiran.


Orang tua itu mengelus perutnya, setelah Sari Kemuning dan Dewi Dwarani membuka bungkusan daun Pisang itu, aroma yg keluar membuat selera makan nya menguat.


Sari Kemuning dan Dewi Dwarani menyiapkan makan tersebut dan selanjutnya mengajak kedua orang itu untuk makan.


Memang makanan yg di bawa oleh keduanya biasa-biasa saja tetapi dasar lagi lapar, dengan cepat keduanya menyantap makanan itu.


Selesai makan, Sari Kemuning langsung menanyakan kepada Raka Senggani mengapa ia tidak datang ke rumah.


Oleh Raka Senggani dijawab ia memerlukan untuk berbicara dengan ki Lamiran tentang sesuatu hal, yg pada waktu itu Ki Lamiran telah berkirim surat kepadanya.


" Kang, Kemuning datang kemari ada keperluan denganmu, dan ini suatu yg sangat kami harapkan agar kakang dapat meluluskannya," ujar Sari Kemuning.


" Apa itu Kemuning, ?" tanya Raka Senggani agak kaget.


Ia mengira bahwa Putri Ki Jagabaya itu minta untuk segera di lamar.


Ahh , bertambah lagi ini masalah, belum pun habis urusan dengan keluarga Juragan Tarya itu, ini akan datang lagi masalah, bukan nya aku tidak siap namun saat nya saja yg belum tepat, bathin Raka Senggani berkata.


" Ahhh kakang Senggani sekarang ini terlalu banyak melamun, apakah kakang punya masalah, cerita pada Kemuning, atau pada Rani pun boleh," ungkap Sari Kemuning.


Raka Senggani menatap Putri Ki Jagabaya itu, ia kemudian berkata,


" Apa yg ingin Kemuning katakan, katakan lah, jika kakang memang sanggup memenuhi nya tentu akan kakang lakukan," kata Raka Senggani.


Ia memang menutupi masalah yg di hadapi nya, karena menyangkut dengan Putri Ki Jagabaya itu.


" Begini Kang, kami kan telah menerima ilmu dari kakang Senggani, dan kami pun telah melihat hasil nya sendiri, jadi kami meminta kakang untuk dapat menurunkan ilmu kakang itu , sehingga kami akan mampu bertarung dengan musuh yg berilmu tinggi, kami berharap kakang Senggani mau menurunkan ajian Wajra Geni itu," ungkap Sari Kemuning.


Karena sebelum mereka berempat tiba di rumah, Jati Andara mengatakan hal itu kepada Sari Kemuning hingga putri Ki Jagabaya itu langsung datang menemui Raka Senggani di pategalan tersebut.


Dada Senopati Pajang itu terasa di siram air dingin, ia telah menyangka yg bukan -bukan. Ternyata permintaan dari kekasih nya itu adalah sesuai dengan yg ada di pikirannya sendiri.


" Kakang pikir Kemuning akan mengatakan apa, tidak tahunya ingin memiliki ilmu Wajra Geni, tidak masalah Kemuning, mungkin tiga hari lagi kita dapat melakukan nya setelah kalian melakukan puasa selama dua hari ," jelas Raka Senggani.


" Jadi kami harus melakukan puasa, Ya Kang,?" tanya Dewi Dwarani.


" Benar Rani, kalian harus melakukan puasa selama dua untuk tahap awal nanti baru selanjutnya beberapa hari lagi dan ini dapat kalian lakukan sendiri tanpa petunjukku, tetapi yg tahap awal kalian memang harus di bawah pengawasan Senggani," jelas Raka Senggani.


Ia memang berniat untuk menurunkan ajian Wajra Geni itu kepada ke empat temannya.


" Jangan lupa Kemuning dan Rani, mulai besok kalian sudah harus melakukan puasa, katakan juga kepada kakang Witangsa dan Kakang Andara,agar Senggani dapat memberikan pengarahan kepada kalian berempat sekaligus, yg akan mempermudah nya, " ungkap Raka Senggani.


" Kalian kan mengetahui bahwa keberadaan Senggani di Kenanga ini tidak terlalu lama, jadi waktu yg sangat singkat ini harus dapat kita manfaatkan sebaik -baiknya," katanya lagi.


" Baik kakang, nanti kami akan mengatakan hal ini kepada kakang Witangsa dan Kakang Andara, keduanya memang harus tahu," jawab Sari Kemuning.


" Yah secepatnya kalian katakan kepada mereka berdua, sehingga pada tiga hari yg akan datang kita telah dapat melakukannya," kata Raka Senggani lagi.

__ADS_1


Setelah mendapatkan penjelasan dari Senopati Pajang itu, Sari Kemuning dan Dewi Dwarani serta merta pamit , mereka akan menyampaikan berita itu kepada kakak-kakak nya.


__ADS_2