Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 4 Si Topeng Iblis. bagian ke lima.


__ADS_3

Setelah Keris Kyai Macan Kecubung di tangan Raka Senggani, ia langsung menyerang Singo Abra dengan ajian nya


" Hiyyaaat, aji Wajra geni," teriak pemuda itu.


Kembali cahaya merah terang mengarah kepada tokoh rua itu.


Sedang kan Singo Abra langsung mengibas kan kedua tangan nya mengeluar kan serangan menghadang serangan dari Raka Senggani itu,


" Dhhuaaarr , "


Ledakan kali ini cukup keras, dan nampak Singo Abra itu mundur beberapa tindak akibat benturan dua ajian itu, sedang kan Raka Senggani pun demikian pula.


Namun Raka Senggani langsung kembali menyerang sambil melesat menerjang,


" Hiyyaaat, heaaahh,!"


" Dhuaarr, Dhhuaaarrr,"


Singo Abra kali ini agak kerepotan menahan serangan -serangan dari lawan nya, meskipun belum ada yg menerpa tubuh nya.


Akan tetapi Raka Senggani berusaha memangkas jarak sambil terus memberi kan tekanan. Guru Singo Lorok itu harus berusaha menghindari semua serangan itu dan sesekali ia membentur kan ajian nya.


Melihat lawan tidak lagi hanya ber diri tegak saja menghadapi nya, Raka Senggani mulai naik rasa percaya diri nya, gerakan anak muda asal desa Kenanga itu semakin gesit dan trengginas, suatu saat masih di udara ia di serang oleh Singo Abra, dengan cepat ia menjatuh kan diri dan ber gulingan dan terus menuju Singo Abra, ia berupaya memberi kan serangan pada kaki tokoh tua itu.


Akan tetapi Singo Abra mengetahui nya dengan cepat pula ia melompat dan segera mengangkasa sambil balas menyerang,


" Heaaahh, "


Kembali deru angin pukulan yg kuat menerpa Raka Senggani, pemuda langsung ber gulingan kembali menghindari serangan itu sambil ganti membalas,


" Heaaahh,!"


Se saat tubuh Singo Abra masih berada di atas udara Ajian Wajra geni mengarah kepada nya, dan ter nyata kelemahan tokoh tua ini adalah saat di atas udara ia amat kesulitan untuk menahan serangan itu , hingga ia pun tidak berhasil menghindari serangan itu.


Tampak tubuh dengan pakaian hitam hitam ter dorong oleh ajian dari Raka Senggani.


Melihat hal itu Raka Senggani langsung melesat menyusul tubuh yg masih melayang itu dan terus menghantam ajian Wajra geni,


" Heaaahh,"


Untuk kali kedua sebelum sempat Singo Abra menyentuh tanah ia harus ter kena hantaman ajian Wajra geni.


Namun tokoh tua rimba per silatan ini, segera mengemposi tenaga dalam nya untuk segera menghindari serangan dari Raka Senggani, ia melesat melompat menuju wuwungan rumah yg berada di dekat istana itu.


Se saat menjejak kan kaki nya di atas atap rumah tersebut , serangan dari Raka Senggani terus menderu menerjang nya, tampak nya Senopati Pajang ini tidak memberi kesempatan pada Singo Abra untuk ber nafas.


Mau tidak mau Singo Abra kembali melesat turun ke halaman istana.


Setelah ber hasil turun di halaman depan Istana Keraton Pajang itu, serangan dari Raka Senggani tidak mengejar lagi, pemuda itu pun melayang turun di arena itu.


Sementara arena per tarungan itu telah kosong, para prajurit yg mengeroyok Singo Abra telah berada agak jauh dari sana dan mengitari tempat itu, demikian pula Sang Adipati ia masih berada di depan istana nya melihat per tarungan itu di temani Tumenggung Wangsa Rana dan Tumenggung Dirja Wirya.


" Hehh, boleh juga kau bocah, pantas lah engkau telah ber hasil mengalah kan murid ku Singo Ireng, namun kau jangan ber bangga hati dulu, karena kematian mu memang sudah di tentu kan hari ini dan aku lah sebagai malaikat pencabut nyawa mu,!" ucap Singo Abra.


Guru Singo Lorok telah ber siap dengan ajian andalan nya Aji gelap Wancal milik nya.


Ter lihat ia menggerak kan kedua tangan nya ke atas seperti orang yg sedang meminta dengan menengadah kan tangan nya kemudian ia menyatu kan kembali tangan nya itu di depan dada nya sambil mulut nya komat kamit membaca mantera, ia kemudian me musat kan nalar budi nya dari kedua telapak tangan nya itu perlahan asap tipis ber warna kelabu keluar, makin lama makin banyak dan menjadi ber warna kehitaman .


Raka Senggani mengetahui tataran kehebatan dari lawan nya itu pun segera memper siap kan ajian pamungkas nya, tentu aji Gelap Wancal dari Singo Abra ber beda dengan yg di keluar kan oleh Singo Ireng murid nya itu.


Raka Senggani langsung duduk ber sila, ia mengangkat kedua tangan nya ke atas kepala nya, sambil mulut komat kamit membaca rapalan ajian nya, perlahan dari cahaya merah di keris Kyai Macan Kecubung itu berubah agak terang keputih -putihan, sebentar kemudian cahaya itu berubah ke biru -biru an.


Kemudian ia menurun kan tangan nya ke depan dada nya, di sekitar nya nampak terang akibat dari cahaya Keris Kyai Macan Kecubung itu.


Ter dengar teriakan dari mulut Singo Abra,

__ADS_1


" ****** kau, terima ini aji Gelap Wancal, heaaahh,"


Cahaya kelabu kehitam hitaman segera mengarah pada Raka Senggani yg lagi duduk ber sila itu.


Dari mulut Raka Senggani masih ter dengar ucapan La haula wa la Quwwata Illa billah,


" Aji Sangga Kalimasada, heaaaahhh,"


" Dhummmbh, Dddhuuuuaarrr, bletaaar,!"


Suara ter dengar dari benturan kedua ajian itu.


Dan kedua tokoh itu ter lontar lima tombak ke belakang , yg lebih cepat bangkit adalah Singo Abra, ia kemudian langsung melepas kan ajian nya itu,


" Dhhuaaarrr,!" serangan ajian itu menyasar tempat kosong , karena Raka Senggani bergulingan menghindari serangan itu.


Dengan cepat pemuda itu bangkit dan ganti melepas kan ajian nya,


" Dhuaarr rrr,"


Ajian milik Raka Senggani menyasar tembok istana dan menghancur kan nya menjadi debu.


Sedang kan Singo Abra melesat menghindari serangan itu dengan naik ke atas atap wuwungan.


Namun dengan cepat ia melesat turun dari atas atap sambil melepas kan aji Gelap Wancal milik nya , akan tetapi suatu kesalahan fatal yg telah di lakukan oleh Singo Abra itu, dan ini di fahami oleh Raka Senggani, bahwa setiap kali berada di atas udara Singo Abra sangat rentan jika di serang, maka tidak menyia -nyia kan kesempatan, sebelum turun menjejak kan tanah, Raka Senggani melepas kan ajian Sangga Kalimasada sambil menghindari serangan dari lawan nya itu,


" Dhhuaaarrr,"


" Dhuaarr,"


" Aaaaakkh hhhh,!"


Ter dengar teriakan dari mulut Singo Abra, guru dari Singo Lorok itu ter hantam dengan telak aji Sangga Kalimasada milik dari Raka Senggani.


Langsung tubuh itu melayang dan menghantam tembok istana Pajang itu, tubuh dan tembok itu hancur.


Tubuh tua itu ter cerai berai, kepala dan badan pisah, tangan dan kaki tidak jelas lagi bentuk nya ter lihat cuma jari -jari nya saja.


Setelah perang tanding itu selesai, para prajurit Pajang segera mengumpul kan potongan tubuh dari Singo Abra yg tewas di tangan Senopati Brastha Abipraya itu.


Keadaan pun ber angsur-angsur pagi, tampak lah akibat yg di timbul kan kedua orang itu, beberapa tembok istana Pajang rusak berat.


Dan bagi Raka Senggani pun nampak belum bisa bangkit dari duduk nya, ia terus berusaha mengatur jalan pernafasan nya dan mengerah kan hawa murni nya untuk mengatasi rasa sakit di dada nya itu.


Setelah keadaan benar-benar terang, per lahan-lahan bangkit lah Raka Senggani dengan di papah oleh Tumenggung Wangsa Rana.


" Mari Ngger, kita masuk kedalam, Kanjeng Adipati ber kenan memberi kan bilik untuk Angger Senggani ber istrahat dan akan segera di obati oleh tabib istana,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


Tumenggung Wangsa Rana memapah Raka Senggani ke dalam istana Pajang dan membawa nya ke dalam sebuah bilik.


Ketika Sang Surya tepat berada di atas kepala masuk lah se orang tabib istana Pajang yg melihat keadaan dari Raka Senggani, setelah di pijit Beberapa bagian tubuh dari Senopati Brastha Abipraya itu, akhir nya sang Senopati memuntah kan darah hitam yg kental, sampai tiga kali Raka Senggani me muntah kan cairan itu, baru setelah nya ia merasa kan nyeri di dada nya ber kurang.


Tabib istana Pajang itu memberi kan beberapa butir obat kepada Raka Senggani.


Semua nya itu langsung di minum oleh Senopati Brastha Abipraya itu.


" Terima kasih , Ki, " ucap Raka Senggani kepada sang Tabib.


" Sama - sama, Senopati pun telah menyelamat kan kita semua,!" jawab sang Tabib.


" Senopati harus ber istrahat sekurang kurang nya tiga hari, dan jangan ter lalu memaksa kan diri untuk mengerah kan tenaga dalam,!" jelas Sang Tabib.


" Baik,. Ki," jawa Raka Senggani.


" Apakah angger Senopati akan berada di sini atau kembali ke rumah Paman,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.

__ADS_1


" Ter serah Paman dan Kanjeng Adipati, jika beliau ber kenan , Senggani lebih suka berada di rumah paman Tumenggung," jawab Raka Senggani.


" Baik lah nanti permintaan dari angger Senopati akan Paman sampai kan kepada Kanjeng Adipati,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


Tumenggung Wangsa Rana kemudian menghadap Kanjeng Adipati Pajang di dalam bilik nya.


" Ampun kan hamba , Kanjeng Adipati, karena kesehatan dari angger Senopati agak baikan, dan ia meminta izin untuk ber istrahat di rumah hamba, apakah permintaan nya itu Kanjeng Adipati lulus kan,?" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Sebenar nya , Aku masih ber harap ia tinggal di sini sampai benar -benar sembuh akan tetapi karena ini permintaan nya maka akan aku kabul kan , biar lah nanti tabib istana yg datang ke rumah adi Tumenggung," jawab Sang Adipati Pajang.


" Terima kasih Kanjeng Adipati,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana sambil menjura hormat.


Sebelum Tumenggung Wangsa Rana pergi, Adipati Pajang masih sempat bertanya,


" Jadi orang itu lah yg telah mengalah kan adi Tumenggung ,?"


" Benar Kanjeng Adipati, hamba dengan tiga orang prajurit mengeroyok beliau akan tetapi dengan mudah nya ia mengalah kan kami ber tiga,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Pantas memang pantas adi Tumenggung Wangsa Rana tidak sanggup menghadapi nya memang orang tua itu sangat-sangat ber ilmu tinggi sayang ilmu nya itu tidak di pergunakan pada jalan yg tepat, dan beruntung bagi kita, yg Maha kuasa memberi kan per tolongan kepada kita dengan jalan di kirim nya se orang Senopati ke Pajang ini," ucap Sang Adipati.


" Ampun Kanjeng Adipati, memang benar lah ucapan Kanjeng Adipati itu, beruntung Pajang masih memiliki seorang Senopati yg patut untuk di andal kan, dan mudah mudahan Demak tidak segera mencaplok nya dan segera menjadi Senopati di Demak,!" pungkas Tumenggung Wangsa Rana.


" Yeahh, mau di kata apa lagi jika Demak nanti nya meminta Senopati Brastha Abipraya untuk menjadi salah se orang Senopati di sana, kita wajib menjunjung nya dan mengikuti perintah nya,itu karena memang Pajang masih di bawah kekuasaan Demak,!" ujar Sang Adipati.


Kemudian Tumenggung Wangsa Rana pamit kepada Adipati Pajang dan ia langsung menuju ke bilik Raka Senggani.


" Bagaimana Paman, apakah Kanjeng Adipati mengizin kan,?" tanya nya kepada Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Kanjeng Adipati mengizin kan angger Senopati untuk berada di rumah Paman, nanti tabib istana sendiri yg akan datang ke sana untuk melihat keadaan angger, itu atas perintah dari Kanjeng Adipati sendiri," jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik lah kalau begitu, mari paman,!" kata Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa.


" Mari Ngger,!" ajak Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani langsung bangkit dari dipan dalam bilik itu dan ber jalan keluar di temani oleh Tumenggung Wangsa Rana, kedua nya meninggal kan istana Pajang.


Mereka menuju rumah Tumenggung Wangsa Rana yg sebenar nya tidak ter lalu jauh dari istana itu.


Se sampai di depan pendopo rumah Tum Wangsa Rana itu, ter lihat Nyai Tumenggung ter gopoh-gopoh menyambut kedua nya.


" Bagai mana Kangmas, siapa yg telah berani membuat kerusuhan di dalam istana Pajang itu ,?" tanya nya kepada Tumenggung Wangsa Rana sang suami.


" Orang yg sama , yg telah melukai Kangmas beberapa waktu lalu,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana.


" Singo Abra,?" tanya Nyai Tumenggung.


" Benar nyai, Singo Abra , ia meminta murid nya itu untuk di bebas kan, beruntung masih ada Angger Senggani, hingga petualangan tokoh tua itu harus ter henti di istana Pajang ini," jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Ia tewas Kangmas,?" tanya Nyai Tumenggung lagi.


" Yah, ia tewas dengan tubuh ter pisah -pisah,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana.


" Dan bagaimana dengan mu, Ngger,?" tanya Nyai Tumenggung kepada Raka Senggani.


" Baik Bi, meskipun tadi sempat di rawat oleh Tabib istana, akan tetapi ia mengata kan keadaan Senggani baik hanya perlu istrahat beberapa hari saja, oleh sebab itu, Senggani minta kepada Paman agar Kanjeng Adipati mem perboleh kan istrahat di sini,!" jawab Raka Senggani.


" Benar Ngger, kalau di dalam istana ter lalu ramai, sementara kalau di sini kan lebih enak lebih tenang," ungkap Nyai Tumenggung.


" Baik , tunggu sebentar Bibi akan menyiap kan makan dulu,!" kata Nyai Tumenggung sambil ber lalu ke dapur menyiap kan makanan.


Sebentar kemudian ia telah menyiap kan sajian yg sudah siap untuk di santap.


Hari menjelang sore itu, ketiga nya ter lihat menyantap makanan yg telah di saji kan oleh nyai Tumenggung Wangsa Rana itu. Ketiga nya tampak lahap.


Setelah tiga hari ber istrahat di rumah Tumenggung Wangsa Rana, akhir nya Raka Senggani menghadap kembali kepada Adipati Pajang , ia ber niat melanjut kan tugas nya ke Madiun.

__ADS_1


Sang Adipati Pajang merestui kepergian dari Senopati Brastha Abipraya itu karena menurut laporan dari Tabib istana, ia telah sembuh total.


__ADS_2