
Lama Sultan Demak II itu berada di bangsal kasatriaan,.ia banyak memberikan wejangan kepada para putranya, termasuk juga kepada Raka Senggani.
Bahkan ia memberikan pedang pusaka Jata ancala itu kepada Raden Abdullah Wangsa, karena beliau lah yg telah menerima nya setelah kematian pemegang pedang tersebut.
Walaupun di hatinya ia masih bertanya -tanya dari mana pedang tersebut di dapat orang itu.
Sultan Demak II itu mengatakan kepada Raka Senggani sebagai seorang kepercayaan nya untuk tetap bersiap jika kelak Demak akan menyerang Malaka.
Ia sangat mengharapkan kepada Senopati Pajang itu untuk tetap tinggal di istana.
Dan dirinya boleh menempati bilik yg ada di bangsal kasatriaan itu.
Namun Senopati Pajang itu meminta kepada Sultan Demak II itu untuk dirinya dapat di perbolehkan tinggal di kediaman Tumenggung Bahu Reksa.
Walau agak berat hati,..permintaan nya itu di kabulkan oleh penguasa Demak itu. Asalkan ia tetap hadir di bangsal kasatriaan itu guna memberikan pelatihan kepada para putranya itu.
Oleh Raka Senggani disanggupi,..ia akan datang setiap hari ke bangsal kasatriaan itu.
Raka Senggani pada malam itu masih menginap di Bangsal kasatriaan .
Ia masih ber bagi pengalaman dengan para pangeran putra Pangeran Sabrang Lor yg sekarang bergelar Sultan Demak II.
Secara pribadi Sultan Demak II itu memerintahkan kepada Raka Senggani untuk menjadi pemimpin Prajurit sandi Demak,..dan akan menjadi utusan sang Sultan jika memang di perlukan .
Sebenarnya Raka Senggani agak keberatan ,..akan tetapi ia tidak dapat menolaknya.
Senopati Pajang itu ingin segera kembali ke desa Kenanga . Ada janji nya yg masih belum dapat di penuhinya terhadap putri Ki Jagabaya itu.
Pada keesokan harinya,.. setelah ia berlatih bersama dengan para pangeran putra dari sang Sultan.
Raka Senggani pamit pulang ke rumah Tumenggung Bahu Reksa.
Sesampainya di kediaman Tumenggung Bahu Reksa itu,..ia di sambut dengan sangat senang hati oleh Tumenggung Bahu Reksa.
" Bagaimana keadaan Angger Senggani,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Baik Paman Tumenggung,..berkat doa Paman Tumenggung,. Senggani merasa bersyukur setelah kembali dari Cirebon,.." jawab Raka Senggani.
Keduanya berpelukan cukup lama melepaskan kerinduan.
Mereka kemudian duduk di pendopo dengan di temani oleh istri Tumenggung Bahu Reksa sendiri.
Raka Senggani menceritakan keadaan yg telah terjadi selama perjalanan nya ke Cirebon dengan Raden Abdullah Wangsa.
Tumenggung Bahu Reksa mendengarkan penuturan dari awal hingga akhir dari Senopati Pajang itu.
Di akhir cerita Raka Senggani mengatakan kepada Tumenggung Bahu Reksa bahwa diirnya memerlukan bantuan dari sang Tumenggung untuk menjadi orang tua untuk melamar seorang gadis yg ada di desa Kenanga.
Sang Tumenggung agak terkejut mendengar pernyataan dari Senopati Pajang itu. Ia merasa sangat bahagia sekali mendengar nya.
Raka Senggani juga menyebutkan bahwa dirinya agak kesulitan untuk mengatakan hal itu kepada sang Sultan.
__ADS_1
Tumenggung Bahu Reksa mengatakan kepada anak angkatnya itu,.. bahwa ia akan memintakan izin kepada sang Sultan,..apalagi saat kini,..Demak belum akan menyerang Malaka,.mungkin dalam jangka waktu yg agak lama.
Raka Senggani pun telah diangkat sebagai pemimpin prajurit sandi Demak dari ucapan Sultan Demak itu sendiri.
Memang hal itu merupakan usulan dari Tumenggung Bahu Reksa,..orang tua angkat nya itu merasa sudah selayaknya memdapatkan tugas tersebut. Agar Demak dapat menjaga kewibawaan kekuasaan nya yg kini di pegang oleh Pangeran Sabrang Lor itu.
Raka Senggani merasa bahwa tugas itu cukup berat untuk dipikulnya,..karena dirinya masih tercatat sebagai seorang Senopati di Pajang.
Tetapi Tumenggung Bahu Reksa meyakini bahwa anak angkatnya itu akan mampu menjalankan tugasnya itu.
Dihati Raka Senggani masih merindukan kehadiran dari Lintang Sandika yg belum kembali ke Demak setelah dirinya melepaskan masa lajang nya di tanah perdikan Mantyasih.
Pada suatu malam,..ketika masih di kotaraja Demak,..Raka Senggani pamit kepada Tumenggung Bahu Reksa untuk mencari tahu keberadaan dari salah seorang warga desa Kenanga yg pindah ke Kotaraja itu.
Dan orang itu adalah keluarga Juragan Tarya.
Tumenggung Bahu Reksa mengizinkan nya.
Malam itu berangkatlah Raka Senggani menuju ke sebuah desa yg berada di sebelah tenggara Kotaraja Demak itu.
Daerah Pucatan lah yg akan di datangi nya.
Setelah keluar dari kediaman Tumenggung Bahu Reksa,..ia melesat dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Sebentar saja ia telah berada di tempat itu. Senopati Pajang itu langsung menuju rumah putra si mbok Rondo.
Setelah tiba di rumah Ki Kicak,..
" Assalamualaikum ,.. Paman,..ini aku Senggani,.." ucap nya pelan.
Jawab orang dari dalam rumah. Pintunya kemudian terbuka. Nongol lah Ki Kicak.
Ia berseru kaget,..
" Hehh,..ada apa Angger Senggani datang kemari pada malam -malam begini,..?". tanyanya.
" Oh,..iya silahkan masuk,.." ucap nya lagi.
Raka Senggani kemudian masuk ke dalam rumah itu.
Setelah berada di dalam ,. keduanya saling menanyakan keadaan masing -masing,.barulah Raka Senggani menanyakan tentang orang yg tengah di carinya itu.
" Tentu paman Kicak mengenal dengan Juragan Tarya itu,.dia adalah orang yg paling kaya di desa Kenanga,.." jelas Raka Senggani.
Agak lama anak si mbok Rondo itu mengingat -ingat,.. setelah ia mampu mengingat nya ,..
" Benar,.. Angger Senggani,..memang paman pernah mengenal dengan orang yg bernama Sutarya itu,..akan tetapi sudah sangat lama sekali,..memangnya ada apa dengan orang itu,..?" tanya nya.
Raka Senggani kemudian menceritakan kejadian yg telah menimpa dirinya dan hubungan nya dengan keluarga si Juragan Tarya itu sampai masalah dirinya ketika harus dikalahkan oleh penguasa Gunung Merapi itu.
" Ooo,..jadi mereka merasa bersalah dengan Angger Senggani sehingga harus meninggalkan desa Kenanga,..begitu,..?" tanya Ki Kicak lagi.
__ADS_1
" Benar paman,.. demikianlah keadaan nya,..jadi disini,.. Senggani ,..atas nama warga desa kenanga ingin meminta maaf atas kesalah pahaman yg telah terjadi hingga membuat mereka merasa terusir dari desa Kenanga itu,.." jelase Raka Senggani.
Ki Kicak,.. kemudian mengatakan,.bahwa benar telah ada satu keluarga yg baru pindah ke tempat mereka itu ,..akan tetapi mereka tidak terlalu lama tinggalnya disana,..mereka sudah pindah kembali,..sehingga dirinya pun tidak sempat mengenal keluarga tersebut.
Aneh,..apakah mereka tahu bahwa diriku sempat melihat Tara Rindayu,..dan kemudian mereka meninggalkan desa ini dan pindah ke tempat lain,..pikir Raka Senggani.
Berbagai macam pertanyaan yg timbul di benak Senopati Pajang itu.,..harus kemana lagi ia akan mencari keluarga Juragan Tarya tersebut,.sedemikian sakitkah hati mereka sehingga harus meninggalkan desa Kenanga. Itulah yg ada di dalam hati Raka Senggani.
Ada rasa bersalah atas kepergian dari keluarga itu,..walau sebenarnya dirinya dan Tara Rindayu sangat dekat di masa kecilnya,.mengapa saat ini ,.kian menjauh .
Sampai larut malam ,.. Senopati Pajang itu berada di Pucatan,..baru setelah terdengar kentongan yg berbunyi dengan nada dara muluk ia kembali ke kediaman Tumenggung Bahu Reksa.
Sementara itu di Kadipaten Pajang sendiri,..tengah di pusingkan dengan para kawanan begal yg kembali beraksi di alas Mentaok.
Dan kali ini kian menjadi -jadi,..dengan kelakuan mereka yg menghadang para Demang yg akan memberikan ulu bekti atau upeti ke Kadipaten Pajang.
Sang Adipati sampai melakukan sidang paseban kilat untuk membahas masalah di Alas Mentaok itu.
Beberapa perwira dan Tumenggung yg bertanggungjawab dengan keamanan Kadipaten itu turut di hadirkan.
Salah seorang diantaranya adalah Tumenggung Wangsa Rana.. Tumenggung kepercayaan dari sang Adipati itu mengatakan kepada Junjungan nya agar segera mengirimkan sebuah pasukan yg kuat untuk memberantas kawanan begal itu agar tidak semakin merajalela lagi.
Ucapan dari Tumenggung Wangsa Rana itu pun diamini oleh kebanyakan para perwira dan lurah prajurit Pajang.
Sang Adipati pun setuju,..tetapi kali ini tampaknya para kawanan begal itu ada hubungan nya dengan padepokan Merapi sehingga membuat mereka terlihat sangat kuat dan sulit untuk di kalahkan.
Adipati Pajang berharap bahwa untuk mengatasi mereka itu di perlukan seorang Senopati yg mumpuni Seperti Senopati Brastha Abipraya agar memimpin pasukan itu.
Sebahagian besar juga menyetujui usul dsri sang Adipati,..tetapj ada juga yg mencemoohkan nya.
Mengapa hanya urusan mengenai hal sekecil itu harus mengharapkan Senopati Brastha Abipraya yg tidak di ketahui keberadaannya saat ini.
Apakah dirinya saja yg memiliki kesaktian yg tidak tertandingi di bawah kolong langit ini,.. demikianlah ucapan para perwira yg tidak menyukai Senopati Brastha Abipraya itu.
Hal ini di dengar langsung oleh sang Adipati walau agak berat ia mengatakan jika mereka memang sanggup untuk memberantas kawanan begal yg ada di alas Mentaok itu,..ia mempersilahkan mereka untuk membawa satu pasukan yg kuat untuk berangkat.
Mendengar hal itu hati para perwira Pajang itu sangat senang karena kesempatan telah terbuka lebar kepada mereka untuk menunjukkan kemampuan nya di hadapan sang Adipati.
Walaupun mereka sebenarnya mengetahui bahwa kali kawanan begal itu semakin kuat terlebih beberapa pemimpin nya memang memiliki kemampuan yg sangat tinggi,. tetapi nafsu mereka yg ingin mendapatkan perhatian lebih dari Junjungan nya itu membutakan mata mereka.
Mereka tidak menginginkan hanya nama Senopati Brastha Abipraya saja yg harum di hadapan sang Adipati.
Tumenggung Wangsa Rana telah memperingatkan mereka agar tidak terlalu sesumbar dengan kemampuan mereka itu,..karena dirinya sudah beberapa kali merasakan panasnya Alas Mentaok itu,..bahkan suatu ketika nyawa nya hampir terlepas disana.
Akan tetapi para perwira Pajang itu tidak mengindahkan ucapan sang Tumenggung Wangsa Rana,..mereka tetap ngotot untuk berangkat.
Di siapkanlah pasukan segelar sepapan untuk berangkat ke Alas Mentaok itu,.dengan di pimpin oleh para perwira yg tidak menyukai nama Raka Senggani yg dipandang sangat tinggi oleh Adipati Pajang Itu.
Pasukan itu bergerak tidak diikuti oleh para perwira yg berada di bawah kepemimpinan Tumenggung Wangsa Rana.
Seperti Rangga Wira Dipa,..Rangga Aryo Seno juga Rangga Kusuma.
__ADS_1
Mereka menilai kemampuan dari perwira yg berangkat itu tidak lebih baik dari kemampuan mereka bertiga sehingga mereka merasa perlu untuk tidak ikut melakukan penyerangan ke Alas mentaok itu tanpa hadirnya Senopati Pajang,.. Senopati Brastha Abipraya.
Dari laporan para prajurit sandi Pajang,..memang kawanan begal itu bekerja sama dengan padepokan Merapi yg memiliki murid -murid yg berkepandaian sangat tinggi sulit untuk di cari lawan nya.