Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 26 Bara Dendam. bag ketiga.


__ADS_3

" Ada apa Kakang Senggani, mengapa dirimu kelihatan murung,.?" tanya Sari Kemuning.


Istri Senopati Sandi Yuda Demak ini melihat bahwa selama sang suami kembali dan mengetahui bahwa paman nya telah tiada, ia nampak berubah, terlihat sering menyendiri.


Setelah mendengar pertanyaan dari sang istri ,Raka Senggani bangkit dari duduk nya dan berjalan turun dari pendopo rumah Ki Jagabaya itu, rumah mertuanya.


Ia berjalan dan turun ke halaman rumah sambil menatap ke arah rumah Ki Bekel dan banjar desa Kenanga.


Sari Kemuning mengikuti dari belakang ketika sang suami terus melangkah dan berhenti di sebuah batang pohon sawo itu.


" Kemuning, apakah Kenanga masih sering melakukan latihan di banjar desa itu,..?" tanya Raka Senggani.


Dan di jawab oleh anggukan kepala dari Sari Kemuning.


" Hampir tiap malam kakang,..dan yg menjadi pelatih nya adalah Dewi Dwarani, Kakang,..mengapa kakang menanyakan hal ini,..?"


Balik Sari Kemuning yg bertanya, seolah ada yg aneh dengan pertanyaan dari suaminya itu. Ia merasa bahwa sebagai seorang Senopati Sandi tentu sang suami akan melakukan penyelidikan atas kematian paman nya ini.


" Kemuning , jika para pemuda dan pengawal masih tiap malam berlatih, alangkah berani nya, orang tersebut melakukan pembunuhan terhadap Paman Raka Jang, apakah dirinya tidak takut terhadap para pengawal desa Kenanga ini, atau memang ia memiliki ilmu yg sangat tinggi sehingga tidak memandang kehadiran para pengawal disini,.." ungkap Raka Senggani.


Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk kembali ke dalam pendopo seraya duduk lagi.


" Mungkin benar yg kakang katakan itu, Kemuning pun merasa demikian , bahkan ia tidak merasa ada kami berdua disini,..tentu ia akan berpikir dapat mengalahkan kami berdua dengan mudah,.." jawab Sari Kemuning.


Ucapan dari Sari Kemuning ini diiyakan oleh Raka Senggani, bahwa orang yg telah membunuh paman nya ini adalah seorang yg memiliki ilmu sangat tinggi begitulah ia menyimpulkan,. dengan di tambah keterangan dari sang istri, Sari Kemuning ,..Raka Senggani telah meraba ada salah seorang musuhnya yg masih menyimpan bara dendam kepada nya, ia menebak beberapa nama yg kemungkinan nya dapat melakukan hal tersebut dan akhirnya jatuh kepada satu nama.


" Hahhh, apakah orang itu adalah Mpu Loh Brangsang, Kemuning,..ia yg telah membunuh Paman Raka Jang,..?" tanya Raka Senggani.


" Mungkin juga kakang ,..tetapi selama ini, baik kami berdua dengan Dewi Dwarani maupun para pengawal tidak melihat ada nya orang asing yg masuk ke desa Kenanga ini,..!" ucap Sari Kemuning menjelaskan.


Raka Senggani kemudian mengatakan kepada istrinya itu bahwa penguasa dari Gunung Merapi itu memang sangat tinggi ilmu nya, ia dapat berada di desa Kenanga ini tanpa seorang pun yg tahu jelas nya.


Dan mulai hari itu, Senopati Sandi Yuda Demak itu telah berpandangan bahwa ia akan kembali berbenturan dengan Mpu Loh Brangsang dari Gunung Merapi ini.


Ia juga menjelaskan di saat sekarang ini Kerajaan Demak sedang tidak menentu, sehingga ia merasa perlu untuk mengundurkan diri dari keprajuritan Kerajaan Demak.


" Mengapa kakang Senggani harus keluar dari keprajuritan Demak,.apakah karena Kanjeng Gusti Sultan Demak yg kedua itu telah mangkat,...?" tanya Sari Kemuning.


" Benar Kemuning,..karena yg telah mengangkat Kakang sebagai seorang Senopati adalah Kanjeng Gusti Pangeran Sabrang Lor, dan ia pula lah yg telah mempercayakan kakang Senggani untuk menjadi seorang Senopati Sandi Yuda Demak bukan Kanjeng Gusti Pangeran Trenggana yg saat ini telah menjadi seorang Raja di Demak ini,.." ungkap Raka Senggani.


Jelas dari nada bicara nya ia kurang senang terhadap Sultan Trenggana yg telah menjadi seorang Raja di kerajaan Demak ini.


Raka Senggani mengatakan kepada istrinya , ia akan keluar dari Demak dan akan mengabdikan dirinya ke kadipaten Pajang saja.


" Jika Kanjeng Gusti Sinuwun menanyakan kepada Paman Tumenggung Bahu Reksa, siapa orang nya yg telah memimpin pasukan Sandi Yuda Demak, apa yg akan kakang katakan,..?" tanya sang istri.


Di jawab oleh sang Senopati bahwa ia akan meminta kepada Tumenggung Bahu Reksa untuk mengatakan bahwa senopati sandi Demak yg telah menjadi orang kepercayaan dari Kanjeng Gusti Pangeran Sabrang Lor itu telah gugur bersama dengan Kanjeng Gusti Senopati Sarjawala itu.


Karena sebenarnya , Raka Senggani ingin lebih memusatkan pikirannya guna menemukan titik terang atas kematian Paman nya itu, ia harus dapat menemukan siapa yg telah menjadi dalang pembunuhan Ki Raka Jang ini.


" Jika kakang akan keluar dari Demak, bagaiamana nasib kakang Andara dan kakang Witangsa,..?" tanya Sari Kemuning sedih.


" Biarlah untuk mereka berdua, mereka yg akan menentukan nya, jika mereka memang berkenan lanjut sebagai seorang prajurit sandi,..tentu mereka dapat melanjutkan nya, dan jika mereka memang ingin keluar, semua nya terserah mereka,..!" jawab Raka Senggani.


Senopati Sandi Yuda Demak ini kemudian berkeinginan sowan kepada Panembahan Lawu, apakah ia masih dalam keadaan sehat atau tidak.


Ini ia utarakan kepada sang istri dan di sambut gembira oleh Sari Kemuning.


" Biar Kemuning ikut dengan kakang ke Gunung Lawu guna bertemu Eyang Panembahan Lawu,.." ucap Sari Kemuning.

__ADS_1


" Bagaimana dengan kesehatan mu, Kemuning, apakah tidak akan membahayakan ,..?" tanya Raka senggani.


" Tidak Kakang,.. Kemuning akan melahirkan sekira empat purnama lagi, tidak akan masalah jika hanya akan ke Gunung Lawu,.." sahut Sari Kemuning.


" Baiklah kalau begitu,..kita tidak usah mennggunakan kuda , sebaiknya kita berjalan kaki saja,.." jawab Raka senggani.


" Terserah Kakang Senggani,.." ucap Sari Kemuning.


Kedua pasangan suami istri ini kemudian meminta izin kepada Ki Jagabaya dan istrinya , mereka berdua akan ke Gunung Lawu untuk bertemu dengan penguasa Gunung Lawu tersebut.


Meskipun berat hati pasangan suami istri, Ki Jagabaya dan istrinya pun memperbolehkan keduanya untuk pergi.


Sebelum pergi Raka Senggani pun pamitan kepada Ki Lamiran, oleh pande besi Desa Kenanga kemudian berkata,


" Angger Senggani, apakah dirimu akan ke Gunung Lawu untuk mencari tahu mengenai masalah Paman mu ini,..atau ada masalah lain,..?" tanya Ki Lamiran.


Agak terdiam senopati Bima Sakti ini mendengar pertanyaan dari Ki Lamiran itu.


ia kemudian menjawab pertanyaan itu,.


" Ki. sebenarnya Senggani ingin sekedar sowan kesana dan melihat keadaan nya apakah dalam keadaan baik baik saja,..!" jawab Raka Senggani.


Ia merasa saat ini pikiran masih sering terganggu dengan kematian Raka Jang pamannya itu ditambah lagi beberapa waktu yg lalu telah bertemu dengan Raka Yantra yg merupakan saudara sepupu nya yg ingin menuntut balas atas kematian orang tuanya itu.


" Hehh,..darimana Angger Yantra tahu bahwa orang tua nya itu telah meninggal dunia,..?" tanya Ki Lamiran.


" Entahlah, Ki,..Senggani tidak tahu, akan tetapi tampaknya ia juga merupakan murid dari penguasa Gunung Merapi itu,..!" tutur Raka Senggani lagi.


" Apakah memang demikian Ngger, atau memang ada hubungan nya kematian Ki Raka ini dengan penguasa Gunung Merapi tersebut,..?" tanya Ki Lamiran.


" Nampak nya memang demikian , Ki,..mengapa kakang Raka Yantra dapat mengetahuinya, dan mengapa pula ia memiliki ilmu dari padepokan Merapi itu,.." jelas Raka Senggani.


Senopati Sandi Yuda Demak ini juga menambahkan, pada saat ini yg paling berkepentingan dengan nya adalah penguasa Gunung Merapi itu, dendam nya atas diri nya mungkin tidak akan padam selama dirinya belum tewas, jelas Raka Senggani.


Dari pengamatan Ki Lamiran memang pembunuh Ki Raka Jang ini adalah seorang yg sangat sakti.


Ia juga menasehati kepada Raka Senggani agar lebih berhati -hati terlebih ketika harus berjalan berdua dengan istrinya yg tengah mengandung itu.


" Nasehat aki, akan tetap Senggani ingat, kami berdua tidak akan lama di Gunung Lawu, secepatnya kami akan kembali,..!" ungkap Raka Senggani.


Kemudian ia pun meninggalkan rumahnya dengan di iringi tatapan mata oleh Ki Lamiran.


Keduanya segera menghilang di sebuah tikungan.


Ki Lamiran kemudian meneruskan pekerjaan yg ada di pategalan itu setelah kepergian dari Raka Senggani.


***************


Sementara itu di sebuah bukit, di pagi yg sangat cerah itu terlihat seorang pemuda yg memliki kumis tipis dibawah hidung nya. Di hadapan nya berdiri tegak seorang tua dengan tanpa menyentuh tanah, sungguh tinggi ilmu peringan tubuh lelaki tua itu.


" Guru,..Aku berharap kepada Guru untuk dapat menurunkan ilmu pamungkas yg Guru miliki itu,.." ucap Pemuda itu.


Ia yg tiada lain adalah Raka Yantra, saudara sepupu dari Raka Senggani.


" Hehh,.apa yg menyebabkan diirmu memintaku menurunkan Ilmu pamungkas yg ku miliki ini,..?" tanya Lelaki tua itu.


Yang tiada lain adalah Mpu Loh Brangsang dan lebih dikenal oleh Raka Yantra sebagai Ki Branang.


Sengaja Ki Branang memancing muridnya ini agar ma berterus terang.

__ADS_1


Dan memang Raka Yantra kemudian menjelaskan kepada gurunya itu mengapa ia ingin menempa dirinya lagi.


Putra Raka Jang ini langsung menerangkan bahwa ia kini telah mendendam pada seseorang yg memiliki ilmu yg sangat tinggi.


" Siapa orang nya yg menjadi musuh mu itu,..Ngger,..?" tanya Ki Branang.


" Ia bernama Raka Senggani dan merupakan salah seorang Senopati Pajang yg sangat di segani juga masih saudara sepupu ku sendiri, Guru,.." jawab Raka Yantra.


" Hahh, Senopati Brastha Abipraya maksud mu Ngger,..?" tanya Mpu Loh Brangsang.


Ia nampak berpura -pura terkejut mendengar penuturan dari muridnya itu.


" Benar guru , ia bergelar Senopati Brastha Abipraya,..!" sahut Raka Yantra.


" Apakah dirimu memang telah bertemu dengan nya,..Ngger,..?" tanya Mpu Loh Brangsang penuh selidik.


" Pernah Guru,..dan ilmunya sangat tinggi, dengan mudahnya ia mampu mengalahkan diriku, oleh sebab itulah Aku meminta kepada Guru mau menurunkan ilmu pamungkas yg Guru miliki itu,..!" ucap Raka Yantra.


Kemudian oleh Ki Branang di jawab dengan mengatakan bahwa memang ilmu dari Senopati Brastha Abipraya itu sangat tinggi.


" Dua orang paman Guru mu telah tewas di tangan nya , Ngger, oleh sebab itulah dirimu memang harus berhati-hati jika harus berhadapan dengan nya, " terang Ki Branang.


" Jadi Raka Senggani telah berhasil membunuh dua orang adik seperguruan dari Guru , alangkah tingginya ilmu nya itu , Guru,..!" sahut Raka Yantra.


Setelah mendengar ucapan dari sang Guru barulah putra Ki Raka Jang ini mengetahui tataran ilmu dari adik sepupunya itu.


" Tetapi Angger Yantra tidak perlu khawatir, setinggi apa pun ilmu seseorang itu tentu masih dapat untuk dikalahkan, dengan catatan dirimu memang harus giat berlatih,..!" ucap Ki Branang.


" Dan juga dengan mengandalkan ilmu pamungkas yg akan Guru turunkan itu , jika hanya menagndalkan aji Lebur saketi , Aku tidak akan mampu untuk mengalahkan nya,.." terang Raka Yantra.


" Benar, Ngger,..akan tetapi dengan aji Lebur Waja sebagai ajian pamungkas yg Guru miliki pun akan sangat sulit untuk mengalahkan nya jika mengandalkan itu saja,.." jelas Ki Branang.


" Jadi maksud Guru , Aku tidak akan mampu mengalahkan nya,.meskipun diriku telah mengausai ajian pamungkas itu,..?" tanya Raka Yantra heran.


Tetapi kemudian Ki Branang menjelaskan untuk mengalahkan Senopati Brastha Abipraya itu dirinya harus mengandalkan pikiran nya tidak semata mata ilmu yg di miliki nya, karena selain kemampuan dari Senopati Brastha Abipraya itu sangat tinggi ia juga sangat cerdas sehingga mampu mengalahkan kedua adik seperguruannya itu.


Oleh sebab itu ia menasehatkan agar muridnya ini mampu mengandalkan kemampuan berpikir nya untuk dapat mengalahkan nya.


Bahkan dapat di katakan bahwa Senopati Brastha Abipraya dapat di kalahkan dengan suatu cara yg cerdik cenderung licik.


Raka Yantra yg mendengar ucapan dari sang Guru langsung bertanya,..


" Apakah itu bukan suatu tindakan seorang ksatria, yg mengalahkan lawan dengan cara cara yg licik,.." sahut Raka Yantra.


" Apa pun dapat di lakukan untuk dapat mengalahkan musuh, Senopati Brastha Abipraya pun melakukan hal itu untuk mengalahkan musuh musuh nya, kalau hanya mengandalkan ilmu nya tentu ia sudah lama tewas,.." terang Ki Branang.


Raka Yantra terdiam, sepertinya pemuda ini masih kurang sependapat dengan guru nya itu, tetapi bara dendam di hatinya untuk dapat membunuh Senopati Brastha Abipraya ini semakin kuat, karena ia berpendapat bahwa kematian orang tuanya itu di sebabkan oleh ulah dari adik sepupunya itu.


Dan mulai saat itu ia pun menempa dirinya guna menerima penurunan ilmu pamungkas dari gurunya itu, Ki Branang.


Dan Mpu Loh Brangsang pun dengan senang hati menurunkan ilmu Aji Lebur Waja kepada Raka Yantra.


Pemuda itu sangat tekun menerima penurunan ilmu Lebur Waja ini.


Ia memang berhasrat dengan aji pamungkas ini dapat mengalahkan adik sepupunya itu.


Sehingga mulai hari itu dengan semangat nya Raka Yantra berlatih dengan di dampingi oleh guru nya ini.


Di dalam hati Mpu Loh Brangsang terlihat sangat senang , ia memang berhasrat untuk dapat mengalahkan musuh bebuyutan nya dengan mengadu kedua orang yg masih bersaudara itu.

__ADS_1


He,he he, tentu akan sangat senang sekali melihat pertarungan antara kedua saudara sepupu ini ketika mereka harus saling bertarung satu dengan lain nya akibat dendam dari Angger Raka Yantra ini , berkata dalam hati Mpu Loh Brangsang.


Sambil ia melihat sang murid berlatih Ajian Lebur Waja itu.


__ADS_2