
Cukup jauh murid Mpu Loh Brangsang itu terlempar, meski ia dapat bangkit kembali, tetapi jelas ia mendapat luka dalam.
" Hehh, benarkah aku saat ini tengah berhadapan dengan Senopati Pajang yg terkenal itu,?" serunya dengan keras.
" Benar, akulah Raka Senggani yg tengah kau cari itu kisanak,!" jawab Raka Senggani.
" Berarti engkau harus bersedia membayar hutang mu terhadapku, hutang nya harus di bayar nyawa,!" teriak Adya Buntala.
" Tunggu kisanak, apakah yg kau maksud adalah Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan,?" tanya Raka Senggani.
" Ha , itu kau sudah tahu, kematian guru Pundirangan dan Pasirangan itu harus dibalaskan,!" teriak Adya Buntala
Murid Mpu Loh Brangsang itu telah bersiap mengeluarkan ajian nya.
" Kalau memang hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa, maka dirimu pun harus membayar nya, kisanak,!" ujar Raka Senggani.
" Hehh, aku tidak persoalan denganmu, mengapa engkau malah menuntut balik, siapa orangnya yg telah kubunuh itu, katakan kepada ku,?" tanya Adya Buntala.
" Memang yg namanya manusia itu mudah sekali melupakan sesuatu yg telah diperbuatnya, ingatkah kisanak kira -kira sepuluh tahun yg lalu bersama Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan telah membunuh dua orang suami istri di desa Kenanga ini,?" tanya Raka Senggani.
Nampak Adya Buntala diam mengenang kejadian sepuluh tahun yg ketika ia mendapat perintah dari gurunya untuk ikut serta ke desa Kenanga itu guna mencari sebuah Pusaka Keris Kyai Condong campur, dan mereka tidak menemukan nya malah membunuh kedua suami istri tersebut tanpa perlawanan.
" Apa hubungan mu dengan kedua orang itu,?" tanya Adya Buntala.
" Mereka berdua adalah orangtua ku, apa salah mereka sehingga harus dibunuh ,?" balik Raka Senggani yg bertanya.
Sedangkan Adya Buntala terdiam mendapati pertanyaan itu, ia pun tidak mengerti mengapa pasangan suami istri itu harus di bunuh.
" Kalau aku membunuh kedua paman guru mu itu dengan perang tanding yg adil, tetapi dengan kedua orang tuaku itu, di bunuh dengan tanpa perlawanan di depan mataku sendiri, Romo di tebas leher nya begitu saja, demikian pula Si mbok, seorang yg tidak memiliki apa -apa harus kalian bunuh, sungguh tega , sampai mati pun akan kuingat kenangan yg suram itu, buatku, jadi bersiaplah engkau Adya Buntala, karena dirimu sendiri yg telah datang kemari,!" seru Raka Senggani.
" Tetapi aku tidak ikut membunuh kedua orang tuamu itu , aku hanya menjaga , yg membunuhnya adalah Mpu Yasa Pasirangan,!" jelas Adya Buntala.
" Hehh, tadi engkau ingin menuntut balas kematian mereka berdua, apakah aku tidak boleh menuntut balas atas kematian kedua orang tuaku itu,?'" tanya Raka Senggani.
Putra Raka jaya itu telah menyiapkan Aji Wajra geni miliknya, tangan nya sudah tampak mengepal erat, pertanda serangan telah siap untuk di lepaskan.
" Mengapa aku yg tersudutkan , padahal aku datang kemari untuk menghabisi pemuda ini,' berkata dalam hati Adya Buntala.
" Bersiaplah Kisanak, terima serangan, Hiyyyah,!" teriak Raka Senggani.
Melunçurlah ajian Wajra geni miliknya itu ke arah Adya Buntala.
Murid dari Mpu Loh Brangsang itu berhasil menghindar seraya melepaskan ajian Lebur Saketi milik nya.
" Aji Lebur Saketi, Heiiiyyahhh,!''
" Aji Wajra geni, Heeeeaaah, !"
" Dhumbhhh, Bleghuaaarrrr , "
Terdengar ledakan yg memekakkan telinga nya akibat benturan dari kedua ajian itu.
Kembali Adya Buntala harus mengakui keunggulan Senopati Pajang itu, tubuhnya langsung mencelat akibat benturan dua kekuatan itu tersaji.
Sementara Raka Senggani masih kokoh berdiri di tempatnya.
Raka Senggani mendekati tubuh Adya Buntala yg masih dalam keadaan pingsan. Namun ketika jarak nya beberapa langkah saja, tiba -tiba ,
__ADS_1
" Bletaaar,!"
Senopati Pajang itu mendapatkan serangan dari orang yg tidak di kenal, beruntung ia, masih mampu menghindari serangan itu.
Namun setelah ia melihat kearah tubuh Adya Buntala itu, ternyata sudah tidak ada lagi di tempatnya.
" Hemmphh, siapa orang yg telah menyelamatkan nya, apakah Mpu Loh Brangsang yg merupakan gurunya itu,?" bertanya dalam hati Raka Senggani.
" Ngger, orang yg telah menyelamatkan musuhmu itu adalah penguasa Gunung Merapi,!" ucap Ki Lamiran.
Ucapan itu sekaligus membuyarkan lamunan Raka Senggani.
" Darimana aki tahu bahwa yg menyelamatkannya adalah Mpu Loh Brangsang," tanya Raka Senggani .
" Karena aki dahulu sempat mengenal dengan penguasa Merapi itu, dan pukulan jarak jauhnya tadi merupakan bukti bahwa beliau lah yg telah menolong murid nya itu,!" jelas Ki Lamiran.
" Hebat, aki mengenali pukulan dari Mpu Loh Brangsang itu,!!!!!??" ujar Raka Senggani lagi.
" Sudahlah Ngger, mari kita masuk, biar aki sedikit berbicara denganmu di dalam,!" ajak Ki Lamiran.
" Marilah, Ki,"
Kedua orang itu masuk kedalam rumah, setelah keduanya duduk, berkatalah Ki Lamiran,
" Dahulu aki dan Brangsang itu sempat memiliki seorang guru yg sama, dan kami berusaha menimba ilmu dari guru kami tersebut, namun Brangsang kurang puas dengan apa yg di dapatnya dari guru sehingga ia meninggalkan kami, dan ia kemudian berguru dengan Ki Gede Anom bersama dengan saudara seperguruannya yg lain termasuk Mpu Supa Mandrangi, sedangkan aki dan beberapa murid yg lain tetap belajar di guru kami itu, dan hasilnya seperti yg Angger Senggani lihat sendiri, aki hanya mampu membuat peralatan biasa yg dipergunakan oleh rakyat biasa berbeda dengan mereka yg mampu membuat sebuah Pusaka yg menjadi sipat kandel sebuah kerajaan,!" jelas Ki Lamiran.
Raka Senggani memandangi wajah orangtua itu, sepertinya masih banyak rahasia yg dimiliki oleh pande besi desa Kenanga tersebut.
" Tetapi usaha Aki itu jauh lebih bermanfaat di bandingkan dengan yg telah dilakukan oleh Mpu Loh Brangsang itu, aki mampu membuat pacul yg dapat dipergunakan untuk menanam padi, serta parang biasa yg bisa dipergunakan oleh para penduduk desa untuk mencari kayu dihutan, dibandingkan dengan sebuah Keris Pusaka yg telah diupayakan oleh Mpu Loh Brangsang itu, hanya menimbulkan ontran -ontran, lebih menyakitkan lagi harus ada korban dari perbuatan nya itu, beda dengan aki, semua merasa nyaman dan banyak menghasilkan manfaat untuk masyarakat luas,!" ungkap Raka Senggani.
" Ucapan mu sangat benar, Ngger, bahkan seperti ucapan dari Kanjeng sunan Kalijaga saja, apalah yg akan kita cari di dunia ini, semua pasti akan kita tnggalkan kecuali nama, nama baik kita yg akan dikenang orang meski kita bukan siapa -siapa, daripada nama buruk yg akan kita terima meskipun kita adalah Seorang pejabat kerajaan, akan tetapi banyak manusia yg terlupa akan hal itu, sehingga semua cara dilakukan nya untuk mendapatkan kamukten itu, dengan segala macam cara,!" kata Ki Lamiran.
" Terima kasih Ki, atas nasehatnya, " jawab Raka Senggani.
Tidak terasa hari telah menjelang pagi, seperti biasa Raka Senggani menjalankan perintah dari yg Maha Kuasa, setelah nya ia menuju ke pategalan , guna memberikan arahan kepada keempat temannya itu.
Ketika ia telah sampai di pategalan itu, Raka Senggani melihat ke empat temannya itu tengah berlatih sendiri.
Raka Senggani nampak senang melihat kesungguhan dari keempatnya.
" Lebih baik kalian berhenti dahulu, ada yg ingin Senggani katakan kepada kalian semua, dan ini hal yg penting untuk di ingat,!" ujar Raka Senggani.
" Hehh, kapan kakang Senggani tiba , mengapa kami tidak ada yg mengetahui kedatangan kakang, ?" tanya Sari Kemuning.
Keempat nya langsung berbalik melihat kearah dari Senopati Pajang itu.
Setelah semuanya menghadap nya maka Raka Senggani kembali berbicara,
" Itulah yg ingin Senggani katakan kepada kalian semua, bahwa kalian harus selalu meningkatkan kewaspadaan kalian meskipun itu dalam keadaan berlatih, waspada adalah sesuatu kunci kesuksesan dalam hal ilmu bela diri dan Ilmu silat atau apapun itu namanya, dalam keadaan bagaimana pun kalian harus waspada,!" kata Raka Senggani.
" Tetapi kami memang tidak mendengarmu datang adi Senggani,!" ucap Jati Andara.
" Untuk itulah , Senggani akan mengajarkan sesuatu agar kalian semua lebih peka dan lebih tajam pendengaran nya,!" ujar Raka Senggani.
" Mari kita duduk terlebih dahulu, agar kita dapat menerima ilmu itu ada suatu cara bahwa kakang berdua dan untuk Sari Kemuning dan Dewi Dwarani, berlatih dengan kalian menutup indra pendengaran dan penglihatannya, agar lebih jelas untukmu Kemuning, coba ikat kain penutup kepalaku ini di matamu, dan coba sumpal kedua telingamu dengan kain,!" perintah Raka Senggani.
Sari Kemuning kemudian menerima kain penutup kepala Senopati Pajang itu dan mengikatkan di kedua matanya.
__ADS_1
Setelah itu Raka Senggani memerintahkan kepada Dewi Dwarani itu untuk menyerang Sari Kemuning.
Awalnya Sari Kemuning tidak dapat mengetahui keberadaan dari Dewi Dwarani, sehingga dengan mudah putri Bekel desa Kenanga itu memukul Sari Kemuning.
Namun perlahan-lahan Sari Kemuning mulai dapat mengetahui keberadaan dari Dewi Dwarani, sehingga ia dapat ganti menyerang putri Bekel Kenanga itu.
" Cukup,!" teriak Raka Senggani.
Sari Kemuning kemudian membuka kembali kain penutup matanya dan menyerahkan kembali kepada Raka Senggani.
" Benar ucapanmu itu kakang Senggani, awalnya amat sulit untuk mengetahui dimana Dwarani berada, tetapi lambat laun dari beberapa gerakan nya membuat Kemuning tahu keberadaan nya,!" ucap Sari Kemuning.
" Nah untuk itu, hari ini Senggani akan menjelaskan kepada kalian semua agar dapat mengerahkan tenaga dalam kalian itu pada indra pendengaran dan penglihatan, sehingga dalam keadaan bertarung pun , kalian semua masih tetap waspada, baik dari serangan yg tidak terduga dari lawan, ataupun serangan senjata rahasia dari orang yg tidak di ketahui keberadaannya,!" jelas Raka Senggani .
" Untuk itu kalian semua perlu latihan yg lebih keras lagi, jadi Senggani berharap baik kakang Jati Andara maupun kakang Japra Witangsa dapat melanjutkan pelajaran ini di Kadipaten Pajang,!'' ujar Raka Senggani.
" Jadi bagaimana dengan kami berdua kakang Senggani, apakah kami tidak perlu untuk meningkatkan kemampuan kami,?" tanya Dewi Dwarani.
" Jika kalian memang berniat untuk meningkatkan ilmu kalian itu, Dewi dan Kemuning dapat ikut ke Pajang bersama kakang Witangsa dan Andara,!" jawab Raka Senggani.
" Tentu kami sangat ingin untuk dapat menambah ilmu kami ini, sehingga para perampok ataupun begal dapat kami usir jika mereka berniat datang kemari,!" ucap Sari Kemuning.
Terlihat dari wajah putri Jagabaya itu yg penuh dengan semangat.
" Semua terserah kepada kalian, karena hari ini adalah hari terakhir Senggani berada di desa Kenanga ini, besok akan segera kembali ke Pajang, ingatlah untuk tetap meningkat kan kewaspadaan kalian dengan berlatih seperti yg telah ditunjukkan oleh Sari Kemuning tadi , kalian bisa berlatih bersama atau sendiri -sendiri dengan cara seperti itu, seraya kalian meningkatkan tenaga dalam, karena tenaga dalam adalah nyawa dari suatu ilmu silat,!" jelas Raka Senggani.
" Dan hal paling penting dari semua itu adalah kemampuan kita untuk mengobati diri kita sendiri apabila terluka, baik luka luar terlebih luka dalam, sehingga kita masih dapat bertahan dari serangan lawan, nanti jika ada waktu , Senggani akan mengajari kalian semua bagaimana cara meramu obat, tumbuhan apa saja yg dapat dipergunakan sebagai obat luka dalam, dan obat untuk luka luar, sebagai seorang yg berilmu, luka adalah sesuatu yg biasa, hanya saja bagaimana kita dapat mengatasinya," jelas Raka Senggani.
" Sampai disini ada yg ingin bertanya,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Apakah guru tidak dapat menurunkan sebuah Ilmu yg dapat membuat tubuh kita kebal dari senjata,?" tanya Sari Kemuning.
" Karena dahulu pun guruku pun tidak menurunkan ilmu kebal, jadi Senggani pun tidak dapat menurunkan ilmu itu, mungkin dari guru yg lain, nantinya kalian akan mendapatkan itu," ujar Raka Senggani.
" Satu pertanyaanku, adi Senggani, bagaimana caranya agar dapat meningkatkan tenaga dalam kami,?" tanya Jati Andara.
" Untuk pertanyaan kakang Andara, jawaban nya adalah selain terus meningkatkan latihan, ada laku yg harus kalian lakukan, semacam tirakat atau bertapa,!" jawab Raka Senggani.
" Bisakah hal itu kami lakukan tanpa petunjukmu adi Senggani ,?" tanya Japra Witangsa.
" Sebaiknya jangan kakang Witangsa, nanti jika kalian memang akan meneruskan latihan nya di Pajang , Senggani akan memberikan latihan dengan laku yg jelas dan di bawah pengawasan dari Senggani sendiri,!" ujar Raka Senggani lagi.
" Baik, kalau begitu, kami akan terus berlatih meski harus berangkat ke Pajang, dan mudah mudahan hal itu tidak akan berlangsung lama,!" ungkap Dewi Dwarani.
" Kalau ditilik dari perkembangan kalian selama satu purnama ini, kemajuan kalian semua sangat pesat, mungkin tidak sampai setahun kalian semua telah dapat kemampuan yg mumpuni, dapat diakui karena kalian semua telah memiliki dasar yg kuat yg telah di berikan oleh Ki Bekel dan Ki Jagabaya, jadi Senggani tinggal mengarahkan saja, berbeda dengan para pemuda desa yg lain, yg harus mulai dari awal, mungkin butuh waktu yg lebih lama lagi untuk dapat kemampuan seperti kalian saat ini,!" ungkap Senopati Pajang itu.
" Jadi kakang Senggani akan berangkat besok pagi ke Pajang,?" tanya Sari Kemuning.
" Benar Kemuning, setelah subuh kakang akan langsung ke kota Pajang, dan mudah mudahan kita secepatnya dapat bertemu kembali, jadi hari ini kita habiskan untuk mengobrol saja, jika ada keinginan atau harapan dapat di bicarakan disini,!'' jelas Raka Senggani.
Sampai menjelang sore , barulah kelima orang itu beranjak dari tempat itu kembali kerumah masing-masing.
Raka Senggani langsung mengambil Si Jangu setelah tiba di rumah Ki Lamiran itu.
Ia memandikan kuda kesayangan nya itu, kuda pemberian dari Putra Tumenggung Bahu Reksa, Lintang Sandika, kuda yg sangat di sayangi oleh Raka Senggani.
" Hehhh, bagaimana nasib kakang Lintang Sandika, apakah dia baik -baik saja ," betkata dalam hati Raka Senggani.
__ADS_1
" Jika ada waktu aku harus berkunjung ke Demak untuk menemui mereka," gumam Raka Senggani.
Ia terus membersihkan tubuh Si Jangu, sementara kuda tunggangan nya itu terlihat gembira dengan menjejak -jejakkan kaki nya di dalam air kali itu.