
Setelah pembicaraan dengan Ki Lintang Gubuk Penceng selesai,.. Senopati Bima sakti kedatangan pula seorang temannya dari kota Pajang, yaitu Rangga Wira Dipa.
Rangga kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana ini mengatakan kepada nya bahwa Kanjeng Gusti Adipati Pajang berkenan pula hadir untuk menyaksikan pernikahan dari Senopati Brastha Abipraya itu.
Atas permintaan dari Tumenggung Wangsa Rana, diharapkan kepada Raka Senggani dapat menerimanya dengan baik.
Disaat Ki Lurah ,.. Lintang Gubuk Penceng masih berada di tempat itu,..Raka Senggani mengatakan kepada Rangga Wira Dipa agar dapat menempatkan Kanjeng Gusti Adipati Pajang di rumah Juragan Tarya.
" Ki Rangga tahu letaknya rumah tersebut bukan,..?" tanya Raka Senggani.
" Dimana,..Senopati Brastha Abipraya,..?" balik Rangga Wira Dipa yg bertanya.
Di jelaskan oleh Senopati Bima sakti ini,.rumah tersebut adalah rumah yg pertama kali di datangi oleh Rangga Wira Dipa saat akan menumpas gerombolan rampok yg di pimpin oleh Singo Lorok pada beberapa waktu yg silam.
Walaupun kejadian tersebut sudah agak lama,..namun Rangga Wira Dipa masih tahu dan ingat dimana rumah tersebut berada.
" Aku tahu letak rumah tersbut ,.Senopati,..jika memang demikian ,..aku akan kembali ke Pajang melaporkan hal ini kepada Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana,..!" jelas Rangga Wira Dipa.
Ia pun bermkasud meninggalkan desa Kenanga secepatnya, setelah mendaptakan penjelasan dari Senopati Brastha Abipraya.
Memang kesibukan tidak hanya terjadi di rumah Ki Jagabaya sebagai tempat mempelaj wanitanya berada,..tetapi di rumah Senopati Sandi Yuda Demak ini pun tidak kalah sibuknya mengatur tamu tamu yg akan menghadiri pernikahannya tersebut.
Kali ini banyak pembesar Kotaraja dan Kadipaten Pajang yg akan turut hadir dalam hajatan kali ini.
Bahkan Senopati Bima Sakti menerima kabar lagi,..akan ada tamu yg datang dari Kadipaten Madiun,..yaitu sang Patih dengan di dampingi oleh Sekar Kedaton Ratu ayu Sekar Kiranti.
Raka Senggani bertambah bingung untuk menempatkan mereka, beruntung ia di bantu oleh Jati Andara , putra Ki Bekel yg berada di rumahnya terus menerus untuk menemaninya.
Memang menjadi suatu hajatan yg paling besar yg pernah ada dalam sejarah desa Kenanga kali ini,.banyak nya yg hadir tamu tamu Kerajaan Demak yg membawa serta pula para prajurit nya.
Tidak sampai di situ,..Pajang dan Madiun pun tidak kalah pula,..mereka membawa banyak prajurit untuk mengawal junungan nya datang ke desa Kenanga tersebut.
Tiga hari menjelang hari bahagia itu tiba para tamu undangan dari kalangan pembesar Kerajaan Demak termasuk di dalamnya Kanjeng Gusti sultan sendiri dengan di temani ketiga putranya telah berada di desa Kenanga.
Disusul kemudian Kanjeng Gusti Adipati Pajang yg tiba di desa itu,.. serta yg paling akhir adalah dari Kadipaten Madiun.
Desa Kenanga di sulap bak Kotaraja,..banyak sekali prajurit dan umbul umbul , serta tunggul maupun klebet pertanda dari masing masing mereka berada.
Dan umumnya mereka berkumpul di tanah pategalan si mbok Rondo di sebabkan karena Kanjeng Gusti sultan Demak sendiri berada disana,.. Kanjeng Adipati Pajang dan Kanjeng Patih Haryo Winangun pun ikut nimbrung di tempat itu.
Jadilah pategalan itu seprti sebuah keraton saja layaknya.
Kanjeng Adipati Pajang dan Kanjeng Patih Haryo Winangun menghadap Kanjeng Gusti Sultan Demak di kemahnya.
Walaupun kedua orang itu telah terlihat tua dan sepuh , tetapi mereka adalah abdi dari Kanjeng Gusti Sultan Demak yg masih muda ,.secara suba sita dan tata krama mereka harus yg datang mengahadap penguasa Demak itu.
Dan di dalam perkemahan Kanjeng Gusti Sultan Demak sendiri semua nya telah di lengkapj, dari persediaan pangan maupun keamanan nya, sehingga Raka Senggani sebagai seorang tuan rumah tidak harus memikirkan lagi untuk melayani Junjungan nya itu.
Di dalam kemah ,. Kanjeng Gusti Sultan Demak menerima kedua pembesar kadipaten , yg salah satunya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan dirinya yaitu Kanjeng Adipati Pajang.
" Ampunkan Hamba Kanjeng Gusti Sinuwun, hamba tidak menyangka akan bertemu disini, di desa Kenanga ini,..!" ucap Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
" Demikian pula,..Hamba ,.. Kanjeng Gusti Sinuwun,.hamba tidak pernah mengira akan bertemu dengan anakmas Sultan di sini,.." ungkap Patih Haryo Winangun.
Seraya kedua orang itu merangkap kan kedua tangan mereka menghaturkan sembah hormat kepada junjungan nya itu.
Kanjeng Gusti Sultan Demak kemudian menerima sembah kedua nya, dan seraya berkata,..
" Demikian pula dengan Aku sendiri,..ternyata di desa Kenanga ini kita telah bertemu tanpa harus ada perjanjian sebelumnya,..ini semua berkat salah seorang putra terbaik dari desa ini yg menjadi buah bibir di seantero tlatah Demak ini,..yaitu Senopati Brastha Abipraya,.." ucap Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Ia memandang ke arah sang Senopati yg duduk di dekat nya,..karena memang Senopati Bima Sakti ini telah menerima perintah dari sang Sultan untuk segera menyiapkan para prajurit sandi demak yg akan bertugas ke kulon.
__ADS_1
" Benar yg Anakmas Sultan katakan tadi,.. karena adanya Senopati Brastha Abipraya lah kita semua berkumpul di tempat ini ,..bukan begitu,..Kakang Patih,.." sebut Kanjeng Adipati Pajang.
" Benar sekali ,.. karena adanya Senopati Brastha Abipraya lah kita semua berkumpul di sini,.." sahut Patih Haryo Winangun.
Raka Senggani yg mendengar pembicaraan para penguasa dari Kerajaan Demak ini hanya menundukkan kepalanya,.karena hanya dirinya sajalah yg bukan merupakan keturunan dari para bangsawan.
Ada rasa kurang percaya diri di dalam hatinya, karena ia memang bukanlah seseorang yg memiliki darah bangsawan, tetapi semuanya itu di tepis nya,..karena yg Maha Kuasa tidak memandang hal tersebut.
Dengan menguatkan hatinya, ia tetap berada disitu.
Selaku tuan rumah yg baik , ia memang harus melayani tamunya.
Pembicaraan mereka kemudian mengarah kepada keputusan dari Kanjeng Gusti Sultan Demak yg ingin mengirmkan pasukan Demak ke Lor, ada pertanyaan dari pembesar dua kadipaten itu kepada Kanjeng Sinuwun.
" Maaf sebelumnya ,.. Kanjeng Sinuwun,..apakah memang Pasukan Demak tetap akan berangkat ke Malaka,..?" tanya Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
" Benar,..Paman Adipati,..Aku akan mengerahkan seluruh pasukan dari Demak ini untuk mengusir bangsa asing yg telah menjajah saudara kita di tanah melayu itu,..sebagai sesama seorang muslim,.kita wajib untuk saling tolong menolong,.. Paman,.." jelas Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Dan kedua orang itu pun tidak berani melanjutkan pertanyaan nya,.tampaknya keputusan dari penguasa Demak yg baru ini tidak dapat di tentang lagi,..mereka maklum dengan jiwa dan semangat muda dari Pangeran Sabrang Lor yg telah menjadi seorang Sultan.
Sehingga mereka kemudian mengalihkan arah pembicaraan mengenai keadaan Kerajaan Demak secara umumnya.
Karena saat ini,..hampir di setiap wilayah bawahan dari Demak , sering terjadi kerusuhan yg dilakukan oleh orang -orang yg tidak bertanggungjawab.
Sultan Demak ,.. menanggapi nya dengan sangat tenang, bahwa sebenarnya hal itu terjadi akibat tidak adanya tindakan tegas dari para penguasa nya, di tambah lagi para prajurit yg kurang dapat di harapkan.
" Mungkin memang benar yg Anakmas Sultan katakan itu,..tetapi apakah hal ini tidak dapat kita hentikan secara bersama sama, dan mendaptakan perintah langsung dari anakmas Sultan sendiri,.." ucap Kanjeng Adipati Pajang.
Penguasa Pajang ini merasa bahwa sebenarnya perkataan dari Sultan Demak itu tidaklah sepenuhnya benar,..bukan hanya salah mereka yg menjadi Raja bawahan,..tetapi karena tidak adanya satu kata untuk memberantas para pengacau itu,..apalagi kelak seluruh pasukan akan di kirim berperang ke Malaka.
Bagaimana kah kiranya keadaan dari Kerajaan Demak ini secara keseluruhan nya, apakah kekacauan akan bertambah tambah, atau ada orang yg dapat meredamnya.
Hari terus bergulir , dan hari yg menjadi harapan dari Raka Senggani untuk mengakhiri masa lajang nya itu telah tiba.
Dan yg menjadi saksi ijab kabul nya saat itu adalah Tumenggung Wangsa Rana dan Tumenggung Bahu Reksa.
Rumah Ki Jagabaya ,.. tutup,.. tidak ada tempat kosong.
Bahkan acara wayang kulit yg di gelar teroaksa di adakan di banjar desa dekat rumah Ki Bekel.
Mulai sejak siang hari,..tamu undangan tidak putus putus nya datang ke kediaman Ki Jagabaya ini,..dari kalangan rakyat biasa sampai pada kalangan istana , semua nya tumpah ruah menyambut hari bahagia dari Raka Senggani itu.
Dan yg paling tersentuh akan hal ini adalah Ki Raka Jang,..pamannya Senopati Bima Sakti,..ia sampaj meneteskan air matanya,..sebab hanya mereka berdua lah yg tersisa di desa Kenanga itu.
Dan akibat andil dari sang keponakan ,.. banyak yg ikut menghadiri pernikahannya itu.
Inilah yg membuatnya terharu,.. walaupun rasa penyesalan nya terhadap perbuatan nya dahulu kepada sang keponakan itu telah menjadikan dirinya sengsara,..namun kini ia merasakan kebahagiaan yg dialami oleh Raka Senggani.
Namanya pun ikut terangkat karena nya.
Memang kita tidak akan tahu apa yg akan terjadi pada esok hari,..orang yg dahulu sangat ku benci dan telah kusia -siakan..justru di hari tuaku,..orang itu pula yg telah menolongku,..kata Ki Raka Jang dalam hatinya.
Di tengah keramaian pesta itu.
Nampaklah dua orang perempuan yg menggunakan caping lebar dan memperhatikan orang orang yg sedang berlalu lalang, menghadiri hajatan dari Ki Jagabaya itu.
Gerak gerik keduanya cukup mencurigakan ,..namun tidak tampak di tengah banyak nya orang.
Karena tamu undangan yg hadir bukan saja dari desa Kenanga. Dari daerah tetangga pun ikut pula memberikan ucapan selamat berbahagia atas telah menikahnya Senopati Bima Sakti ini.
" Ndhuk,..hajatan ini laksana pesta pernikahan dari putra seorang Adipati atau pun Kanjeng Sinuwun sendiri,.. banyak orang -orang penting dari Kerajaan ini yg turut hadir disini,..!" ungkap perempuan yg lebih tua itu.
__ADS_1
Sedangkan temannya yg seorang perempuan masih berusia sangat muda hanya menganggukkan kepalanya.
Ia sedang memperhatikan rumah Juragan Tarya yg di pakai sebagai tempat menginap para tamu dari Kadipaten Pajang.
Sehingga seluruh dari perempuan itu tidak terlalu ia hiraukan.
" Jika keadaan nya seperti inj kita tidak dapat melaksanakan rencana semula kita itu ,..Ndhukk,.." kata perempuan tua itu dengan pelan.
" Jadi ,..maksud guru,..kita akan meninggalkan tempat ini sebelum memberi pelajaran kepada mempelai wanita itu,..?" tanya perempuan muda yg ada di sebelahnya.
Ganti Perempuan tua itu yg menganggukkan kepalanya, karena memang dilihatnya , keadaan dari desa Kenanga sudah seperti Kotaraja Demak saja, banyak para prajurit yg berlalu lalang ,..bahkane kali ini tidak hanya dari Kotaraja Demak, dari Kadipaten Pajang ada ,..demikian pula dari Kadipaten Madiun .
Tentu akan sangat sulit untuk melakukan sesuatu di tempat itu,..jika pun berani,.itu artinya bunuh diri.
Kemudian Perempuan tua itu menarik temannya ke sebuah tempat yg lebih sepi yg ada di ujung desa Kenanga,..ia kemudian berkata,..
" Lebih baik kita tunggu sampai acara itu selesai,..baru rencana kita jalankan sesuai dengan keinginan mu,..!" katanya.
Dan perempuan muda ini pun mengangguk kan kepalanya menyetujui usulan dari orang yg di sebutnya guru itu.
" Apakah dirimu tidak akan ikut memberikan ucapan kepada kedua mempelai itu,..?" tanya perempuan tua itu.
Dengan agak mendelikkan matanya, gadis cantik yg berusia masih muda tersebut menjawab,..
" Aku tidak akan sudi ikut menghadiri hajatan mereka berdua , yg ingin kulakukan adalah menantang perang tanding si perempuan itu,..!" jawabnya dengan ketus.
Bahkan ia beranjak menjauhi perempuan tua tersebut.
Wajah dari perempuan cantik yg berusia muda itu terlihat memerah dan ada bulir bulir airmata di sudut kedua matanya.
" Maafkan atas kesalahan dari ucapan ku itu ,.. Ndhukk,..jangan dirimu masukan ke dalam hati,..aku hanya bercanda " jelas perempuan tua tersebut.
Sambil ia meraih pundak gadis itu dan kemudian memeluknya .
" Apa pun yg kau inginkan aku pasti akan membantu mu,..yakinlah,.."
Terdengar lah ucapan yg menasehati keluar dari mulutnya.
Di tengah keduanya sedang membicsrakan keadaan di desa Kenanga itu, tanpa disadari oleh Keduanya,..tiba -tiba sesosok tubuh mendekati mereka yg tengah berpelukan itu.
." Hehh,..siritem,..ternyata dunia memang tidak terlalu lias,..kita masih dapat bertemu di tempat ini dan dalam keadaan tua bangka begini,.."
Alangkah terkejutnya,..perempuan tua itu ,..buru -buru ia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah asal suara itu. Nyaris tanpa suara ia berdesis,..
" Ka,..kakang,...Kebo Anggara,.." serunya kaget.
" He, he,. he ,ternyata dirimu masih mengenali diriku ,..Siritem,.. Aku menyangka dirimu telah lupa padaku,.." seru orang itu lagi.
Sambil melangkah perlahan ia mendekati tubuh perempuan tua itu yg masih bengong melihat kehadiran nya.
Bahkan lutut perempuan tua itu sampai gemetaran ketika laki laki tua itu semakin dekat dengan nya.
" Apa urusan kakang Anggara datang kemari,..?" tanyanya pelan.
" Seperti semua orang yg ada disini ,.aku mendapatkan undangan dari Angger Senggani, yg telah kuanggap sebagai cucuku sendiri untuk menghadiri hari bahagianya, pada hari ini,.." jelas laki laki tua itu.
Ia yg tiada lain adalah penguasa Gunung Lawu dan saat ini bergelar Panembahan Lawu , dan ternyata sangat mengenal dengan perempuan tua itu.
" Dan bagaimana dengan mu, Siritem,. apakah dirimu pun dapat undangan dari Angger Senggani,.." tanya Panembahan Lawu.
Dalam jarak hanya empat langkah saja ,.. Panembahan Lawu berdiri berhadap hadapan dengan perempuan tua itu.
__ADS_1
Dan wajah perempuan tua itu tidak mampu menatap wajah penguasa Gunung Lawu tersebut,..kepalanya tertunduk.