Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 8 Pendadaran bagian pertama


__ADS_3

" Semoga kalian dapat menjadi seorang Prajurit yg baik selama Pendadaran nanti,!" ucap Pangeran Sabrang Lor.


" Mudah -mudahan Kanjeng Pangeran, semoga kami dari Pajang ini dapat menyerap Ilmu dari para Guru nantinya,!'' ujar Raka Senggani.


" Dan satu hal yg perlu kalian camkan semua, walaupun kalian memiliki ilmu yg tinggi jangan menganggap enteng para guru yg akan mengajarkan kalian nanti, sehingga akan memperlancar pelatihan tersebut," jelas Pangeran Sabrang Lor.


" Sendika Dawuh Kanjeng Pangeran ," jawab Raka Senggani.


" Dan sebelum kalian semua di berangkatkan ke Jepara, sebaiknya kalian akan ditempatkan di bangsal keprajuritan dari Tumennggung Bahu Reksa, disana kalian akan diajarkan bagaimana cara untuk membuat kapal dan perahu serta senjata -senjata apa saja yg akan melengkapinya sebagai sebuah kapal perang, jadi tugas ini akan Ku serahkan kepada Tumennggung Bahu Reksa," jelas Pangeran Sabrang Lor lagi.


" Sendika Dawuh Kanjeng Pangeran," ucap Tumennggung Bahu Reksa.


" Kami ucapkan selamat menjalani Pendadaran kepada Senopati Brastha Abipraya dan rombongan,!" kata Sultan Demak.


Kemudian Raka Senggani dan kelima belas orang prajurit Pajang itu pamit dsri ruang paseban itu. Mereka mengikuti Tumenggung Bahu Reksa.


Sesampainya di katumenggungan , Raka Senggani dan para Prajurit Pajang itu segera beristrahat di kediaman Tumenggung Bahu Reksa itu.


Sedangkan Tumenggung Bahu Reksa segera berlalu dan menuju ke bangsal keprajuritan.


Di bangsal keprajuritan dari prajurit Demak itu nampak terjadi keributan yg di sebabkan oleh salah seorang calon prajurit Demak yg menantang salah seorang Rangga prajurit Demak yg menjadi pelatihnya.


" Ada apa ini Rangga Bargawa, apa yg telah kau lakukan ,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Maaf sebelumnya Kanjeng Tumenggung, ini ada seorang calon prajurit yg terlalu meremehkan para prajurit Demak, dan ia ingin menantang perang tanding," jawab Rangga Brgawa.


" Siapaaa !!!?"


" Itu dia kanjeng Tumenggung ,!" seru Rangga Bargawa.


Sambil menunjukkan ke tengah sebuah lapangan yg telah ramai dengan para prajurit Demak, baik yg baru akan menjadi prajurit dan yg telah jadi prajurit, semua nya tengah berkumpul di lapangan latihan para prajurit Demak itu.


Sambil mengikuti Rangga Bargawa Tumenggung Bahu Reksa berkata kepada salah seorang prajurit,


" Tolong panggil kemari Senopati Brastha Abipraya yg ada di katumenggungan , suruh ia datang kemari, cepat,!"


" Baik Kanjeng Tumenggung,!" jawab prajurit itu.


Prajurit Demak itu segera berjalan menuju kediaman Tumenggung Bahu Reksa.


Prajurit itu sampai di rumah Tumenggung Bahu Reksa. Dengan tergopoh -gopoh , ia masuk dan langsung menemui Raka Senggani yg sedang duduk -duduk di pendopo.


" Maaf sebelum nya Senopati, bahwa Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa memanggil untuk datang ke bangsal keprajuritan,!" ucap prajurit itu.


" Ada gerangan apakah , Paman Tumenggung Bahu Reksa memanggil,?" tanya Raka Senggani.


" Saya tidak tahu, Kanjeng Senopati Brastha Abipraya di suruh cepat datang kesana,!" jawab prajurit itu.


" Baik aku akan kesana,!" ucap Raka Senggani.


Sementara itu, di tengah lapangan latihan para prajurit Demak sedang bertarung Seorang Rangga prajurit Demak dengan seorang calon prajurit yg menganggap dirinya memiliki ilmu tinggi.


" Keluarkan, seluruh kemampuan mu Rangga Bargawa, " ucap orang yg bernama Sentanu.


" Engkau jangan terlalu sombong Sentanu, sebagai calon seorang prajurit Demak tidak sepantasnya berlaku demikian,!" ucap Rangga Bargawa.


" Hehh, sebagai seorang pemimpin prajurit Demak tidak boleh berjiwa sepertimu Rangga Bargawa,,!" seru Sentanu lagi.


" Dirimulah yg tidak sepatutnya bersikap sperti ini, tidak sewajarnya menjadi prajurit Demak yg bersikap adigang adigung dan adiguna,!" jawab Rangga Bargawa.


" Rangga Bargawa, engkau terlalu banyak bacot , Terima serangan,. heaaahh ," teriak Sentanu.


Ia langsung memberikan pukulan tangan kosong nya mengarah kepala Rangga Bargawa.


Rangga kepercayaan dari Tumenggung Bahu Reksa itu segera memiringkan kepala nya menghindari serangan Sentanu itu.


Mendapati serangan yg luput, Sentanu langsung menyusuli dengan tendangan kaki kanannya dengan tendangan memutar, oleh Rangga Bargawa langsung ditepis dengan tangan kanannya.


Pertarungan keduanya pun berjalan dengan cepat, setelah tubuh kedua nya semakin berkeringat, maka pertarungan pun semakin seru.


Tiga kali tendangan beruntun yg di lancarkan oleh Sentanu belum membuahkan hasil.


" Ternyata mulut mu tidak sebesar ilmumu," kata Rangga Bargawa.


" Kau jangan berbangga terlebih dahulu Bargawa, terima ini hiyyah," teriak Sentanu.


Ia menyerang dengan kecepatan yg luar biasa, sehingga Rangga Bargawa harus bertahan dengan serangan yg sangat gencar dilakukan oleh Sentanu tersebut.


Suatu saat ketika pertarungan itu telah memasuki jurus ke lima puluh, sebuah tusukan dengan kepalan tangan dari Sentanu berhasil menyusup masuk dan mendarat telak di dada Rangga Bargawa, tidak sampai di situ, tubuh Rangga Bargawa yg nampak goyah itu, harus menerima kembali sebuah tendangan mendatar , sehingga sang Rangga harus terjatuh bergulingan.


" Ada apa Paman Tumenggung memanggil ku, ?" tanya Raka Senggani.

__ADS_1


" Hehh, Angger Senggani, mari lebih dahulu dekat kemari, lihat itu ngger, Rangga Bargawa yg merupakan seorang prajurit armada laut demak harus kalah dengan seorang yg baru akan menjadi prajurit, jika hal ini terus berlanjut martabat prajurit Demak akan hancur dan runtuh jika sampai Rangga Bargawa itu kalah, jadi Paman ingin Angger menyelamatkan muka prajurit Demak ini, terlihat bahwa orang yg bernama Sentanu memiliki ilmu yg sangat tinggi,!" jelas Tumenggung Bahu Reksa.


Raka Senggani melihat ke arah pertarungan dari kedua orang itu, memang nampak Rangga Bargawa terdesak oleh Sentanu.


" Kalau begini terus tidak sampai sepuluh jurus lagi , tentu Rangga Bargawa akan kalah," gumam Raka Senggani.


" Benar Ngger, tidak sampai sepuluh jurus lagi Ki Rangga tentu akan kalah,!" kata Tumenggung Bahu Reksa.


Dan di arena pertarungan , keadaan Rangga Bargawa memang sudah sangat sulit untuk membalikkan keadaan sudah berkali -kali pukulan dari Sentanu mendarat telak di tubuh nya.


" Terima ini , hiyyya, hiyyah, hiyyah,!" seru Sentanu.


Ia melompat cukup tinggi sambil memberikan tendangan yg merupakan serangan untuk mengakhiri perlawanan dari Rangga Bargawa.


Dada Rangga Bargawa yg sudah tampak smpoyongan itu harus mendapat kan tendangan yg cukup keras dari Sentanu.


" Dhieeeghh , dhieeeghh, Dhegggh,"


Tubuh Rangga Bargawa jatuh terbanting dengan keras ke atas tanah.


Ia tidak terlihat bergerak, tampaknya prajurit Demak itu dalam keadaan pingsan.


Setelah mengetahui lawan nya tidak mampu untuk bangkit lagi, Sentanu dengan berkacak pinggang dan sambil menatap para prajurit Demak yg lain dengan sombong nya, ia berkata,


" Siapa lagi yg berani melawanku silahkan maju, jika hanya seperti ini kemampuan seorang Rangga di Demak ini, tentu akan membuat malu Demak, terlebih melawan pasukan asing di ujung kulon sana,!" serunya.


Para prajurit Demak terdiam mendengar sesorah dari Sentanu itu. Sentanu sendiri segera berkeliling sambil menatap wajah para prajurit Demak itu.


Tidak ada yg menjawab tantangan nya itu, Nampak nya para prajurit itu merasa segan atau merasa tidak mampu menghadapi orang yg bernama Sentanu itu.


Setelah melihat tidak ada yg berani maju, kepongahan nya semakin menjadi jadi , Sentanu berteriak ,


" Jika kalian tidak ada yg berani untuk menghadapi ku, sebaiknya panggil kemari Tumenggung Bahu Reksa, suruh ia berhadapan ku, apakah ia mampu menghadapi Aji Lebur Saketiku,!"


Tidak ada yg menjawab , hanya tiba -tiba dari kerumunan para prajurit Demak itu muncul seorang pemuda yg berambut sebahu, tampak riap -riapan diterpa angin yg cukup kencang di lapangan tersebut.


," Kalau kita memang memiliki kemampuan ilmu yg sangat tinggi tidak usah terlalu di pamerkan, apalagi hanya untuk menjatuhkan martabat lawan, sebaiknya gunakanlah ilmu itu dijalan yg benar,!" ucap pemuda itu.


Yg tiada lain adalah Senopati Brastha Abipraya atau Raka Senggani.


Senopati Pajang itu berdiri tegak sambil tangan nya bersedekap di dada.


" Kiranya aku tengah berhadapan dengan Senopati Pajang yg namanya sudah terkenal di tlatah Demak inj,!" ucap Sentanu.


Murid Mpu Yasa Pasirangan itu sangat tidak suka melihat kehadiran dari Senopati Pajang itu, dari sorot mata nya menyiratkan dendam yg sangat kepada Raka Senggani.


Ia berkata,


" Ternyata aku sangat beruntung hari ini telah bertemu dengan Senopati Brastha Abipraya, karena sebenarnya aku sedang mencarimu, Senopati,!"


" Untuk apa engkau mencariku, ?" tanya Raka Senggani.


" Engkau masih punya hutang kepadaku Senopati Brastha Abipraya, dan aku akan menagihnya sekarang, !" seru Sentanu dengan suara yg keras.


" Hutang, Aku memilki hutang, hutang apa, ?" tanya Raka Senggani heran.


" Ya, engkau memiliki hutang Senopati Brastha Abipraya, yaitu hutang nyawa dan sekarang kau harus membayarnya,!" ucap Sentanu lagi.


" Hutang nyawa, siapa kau maksud itu,?" tanya Raka Senggani lagi.


Sambil terus menatap Raka Senggani dengan wajah penuh dendam, Sentanu berkata,


" Kau telah membunuh guruku , ya , guruku yg bernama Mpu Yasa Pasirangan, ia telah kau bunuh di desa Bedander beberapa waktu silam, apakah kau akan memungkiri nya,?" tanya Sentanu.


" Jadi kau merupakan murid Mpu Yasa Pasirangan, ?' tanya Raka Senggani.


" Benar akulah Sentanu, murid dari Mpu Yasa Pasirangan dan hari ini aku akan menuntut balas atas kematian nya, dan kau harus bertanggung jawab Senopati Brastha Abipraya, bersiaplah,!" seru Sentanu lagi.


" Jika memang engkau ingin menuntut balase atas kematian dari Mpu Yasa Pasirangan, silahkan, aku Senopati Brastha Abipraya tidak akan memungkiri, bahwa akulah yg telah membunuh nya karena ia telah membunuh kedua orang tuaku, jadi kalau kau jika ingin menuntut balas aku akan melayanimu , Sentanu,!' ujar Raka Senggani.


" Baik kalau begitu , terima ini , Hiyyyah,!" teriak Sentanu.


Murid Mpu Yasa Pasirangan itu segera menyerang Raka Senggani, dan kali ini yg di hadapinya adalah Senopati Pajang yg sudah sangat di ketahui ketinggian ilmunya.


Pukulan dan tendangan dari Sentanu langsung menerjang Raka Senggani, Senopati Pajang itu harus berkelit dan menghindari serangan yg bertenaga itu.


Raka Senggani saat itu masih menjajaki kemampuan dari Murid Mpu Yasa Pasirangan, memang serangan dari Sentanu itu cukup membuat Raka Senggani kerepotan.


Berulang kali ia harus melompat menjauh menghindari serangan itu.


Namun tampaknya Sentanu tidak memberikan kesempatan Senopati Pajang itu untuk memberikan perlawanan, hingga suatu ketika ,

__ADS_1


" Dhieeeghh, dhieeeghh, dhieeeghh"


Tiga kali tendangan beruntun itu mendarat di dada dari Senopati Pajang yg terlambat menghindarinya.


Tetapi bukannya terjatuh Senopati Pajang itu malah melompat lebih tinggi untuk kembali meluruk turun dengan memberikan serangan balik dari atas ,


" Hiyyaaaat,"


Dari atas Senopati Pajang melepaskan tendangan mengarah kepala dari Sentanu,


Murid Mpu Yasa Pasirangan itu mengira akan serangan balik secepat itu. Sehingga upayanya tidak ada untuk menghindari serangan itu.


" Aaaakh,"


Terdengar suara yg keluar dari mulut Sentanu itu. Dan ia pun terlontar akibat benturan dari tendangan Raka Senggani.


Senopati Pajang itu tampak berdiri tegak dan memandangi tubuh Sentanu yg lagi merambat untuk berdiri.


" Hoooerkkkhh,"


Sentanu memuntahkan darah, ia kemudian berseru,


" Memang sangat tinggi ilmu dirimu itu Senopati Brastha Abipraya tetapi aku tidak akan tidak takut, marilah kita lanjutkan lagi,!''


Sentanu bersiap untuk mengeluarkan ajian andalannya, mulutnya komat kamit membaca mantera,


" Hiyyah,"


Teriak Sentanu seraya membuka telapak tangan nya. Dari tangan nya terlihat sebuah cahaya putih keluar dan langsung mengarah ke tubuh Raka Senggani.


" Dhumbhhh, "


Ajian Lebur Saketi itu menerpa tempat kosong, Raka Senggani tidak ada lagi tempat itu. Hingga akibat ajian itu dapat terlihat jelas sebuah lobang yg menganga cukup lebar dan dalam.


" Memang sangat hebat ilmumu itu Sentanu," ucap Raka Senggani.


Ia telah berada di belakang dari Murid Mpu Yasa Pasirangan.


Sentanu cukup kaget melihat kenyataan itu, ia mengira bahwa serangan nya tadi telah menerpa tubuh Senopati Pajang itu.


" Namun sayang ilmu setinggi itu dipergunakan pada jalan yg salah," kata Raka Senggani lagi.


" Tutup mulutmu, kau harus mati ditanganku, hiyyah,!"


" Dhumbhhh,"


Untuk kedua kalinya Sentanu melepaskan ajian Lebur Saketi miliknya itu.


Namun ia tetap tercengang karena tidak mendapati tubuh dari Senopati Pajang itu terkapar diatas tanah.


" Memang sungguh tinggi ilmu Senopati Pajang ini, pantas guru dapat di kalahkannya," berkata dalam hati, Sentanu.


" Kalau kau memang berani segera keluarkan ilmumu, jangan cuma berani menghindar saja, ayo kita bertarung secara jantan,!" teriak Sentanu lagi.


Ia sangat marah karena serangan nya hanya menerpa tempat yg kosong.


" Sudahlah Sentanu , urungkanlah niatmu itu, janganlah mengumbar dendam," jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang itu tidak terlalu bersemangat untuk meladenii murid dari Mpu Yasa Pasirangan itu.


" Aku akan menjadi murid yg durhaka karena tidak dapat membalaskan dendam dari guruku itu, jadi mari kita lakukan perang tanding sampai ada salah satu diantara kita yg mati,!" teriak Sentanu.


" Tidak ada gunanya kau melakukan itu, lebih baik tenaga mu itu kau sumbangkan untuk membantu Demak ini, untuk mengusir bangsa asing yg telah menguasai Sunda Kelapa dan Melaka itu," seru Raka Senggani.


" Ah , aku tidak ada urusan dengan hal itu, saat ini aku harus dapat membunuhmu, yg lain aku tidak peduli,". jawab Sentanu.


" Jadi untuk apa kau mengikuti pendadaran ini,?" tanya Raka Senggani.


" Aku mengikuti pendadaran ini hanya ingin menjajal kemampuan dari para prajurit Demak ini, tidak ada yg lain, dan yg kedua aku harus mampu membunuhmu," teriak Sentanu.


" Begini saja Sentanu, jika aku mampu menahan serangan mu, apakah kau mampu mengaku kalah dan tidak lagi akan menuntut balas atas kematian gurumu itu,?" tanya Raka Senggani.


Sentanu terdiam, ia memandangi wajah Raka Senggani, ia merasa mempunyai kesempatan untuk membunuh Senopati Pajang itu.


" Baik, aku Sentanu akan berjanji , jika ajian Lebur Saketi ini tidak dapat membunuhmu dengan satu kali serangan, aku akan mengaku kalah dan tidak akan mempermasalahkan lagi kematian guru ku itu,!" jelas Sentanu.


" Kalau begitu lakukanlah, aku tidak akan melawan, namun jika aku berhasil menahan nya kau harus menepati janjimu itu," ucap Raka Senggani.


" Aku bersedia, dan menyanggupi nya, jadi bersiaplah sekarang Senopati Brastha Abipraya, karena aku akan memulainya,!" ucap Sentanu.


" Silahkan aku telah siap," jawab Raka Senggani.

__ADS_1


__ADS_2