
Raka Senggani terus mendengarkan pembicaraan kedua orang itu. Antara Mpu Phedet Pundirangan dengan seseorang yg di sebut nya adik itu.
Meskipun demikian Raka Senggani tetap waspada, ketika di dengar nya Mpu Phedet Pundirangan berkata
" Baiklah adi Yasa Pasirangan, aku harus kembali, untuk sementara luka dalam sudah tidak terlalu mengkhawatirkan lagi, jadi engkau bisa berusaha sendiri, dengan terus menyalurkan hawa murni mu tanpa bantuan aku lagi, aku akan segera kembali ke padepokan, agar tamu dari Madiun itu bisa di awasi terus , dan tidak menimbulkan kecurigaan mereka atas ketidakhadiranku disana," ucap Mpu Phedet Pundirangan .
" Terima kasih kakang Pundirangan, nanti setelah dua hari suruhlah muridmu Arya Pinarak kemari membawakan seekor ayam cemani, Aku memerlukannya," ujar Mpu Yasa Pasirangan kepada Phedet Pundirangan itu.
" Baik, dan satu hal lagi , adi Yasa tidak usah melakukan kegiatan lagi sampai ada perintah dari Kakang Brangsang, apakah masih ada yg kurang dari pengumpulan bahan -bahan tersebut, jika memang sudah cukup maka sebaiknya kita langsung mengerjakannya," jelas Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Iya kakang, namun kalau yg kudengar dari beliau masih ada satu bahan yg kurang dan kelihatannya itu ada di kediri," jawab Mpu Yasa Pasirangan.
" Yah, kalau tinggal satu hal saja nanti biar aku yg akan mencoba untuk ke sana,!" ujar Mpu Phedet Pundirangan.
" Apa tidak sebaiknya muridmu saja, bukankah Arya Pinarak berasal dari Kediri tentu ia lebih memahami seluk beluk kota tersebut,!" kata Mpu Yasa Pasirangan.
" Arya Pinarak masih hijau meski umurnya sudah lumayan tetapi masih kurang pengalaman biar Aku saja yg akan ke sana," jawab Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Terserah kakang Pundirangan saja," kata Mpu Yasa Pasirangan.
" Baiklah adi Yasa untuk sementara engkau kutinggal dahulu, nanti segala keperluanmu akan diantar oleh Arya Pinarak," ucap Mpu Phedet Pundirangan.
Segera pemimpin padepokan Lereng Wilis bergerak menuju keluar dari dalam goa yg berada di balik air terjun itu.
Raka Senggani segera keluar dari mulut goa tersebut, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuhnya ia melompat keatas.
" Huufffh"
Seperti seekor burung rajawali yg besar ia naik keatas air terjun itu , karena ia ingin mengetahui siapa sebenarnya Orang yg berada di dalam goa tersebut.
Setelah ia melihat kelebatan dari Mpu Phedet Pundirangan meninggalkan tempat itu, maka Raka Senggani kembali turun dari atas air terjun itu yg lumayan tingginya.
Perlahan kembali ia masuk ke dalam , dengan penuh hati-hati ia menelusuri lorong goa yg lumayan sempit itu.
Ia mengetrapkan aji penyerap bunyi untuk menghindari di ketahui orang yg berada di dalam, setelah berjalan cukup dalam Raka Senggani menemui ruangan yg lebih luas dan memiliki penerangan dari sebuah obor.
Ia mendekati tempat itu dengan sangat hati -hati dan ketika di lihatnya ada seseorang yg tengah duduk bersila membelakanginya.
Raka Senggani berusaha melihat wajah orang itu, ia mencari tempat yg pas untuk melihatnya.
Dan alangkah terkejutnya, Raka Senggani ketika melihat orang yg bernama Mpu Yasa Pasirangan itu,
" Haaaahh, bukankah dia itu adalah ,..... bukankah ia adalah pembunuh Romo dan biyung," kata Raka Senggani di dalam hatinya.
__ADS_1
Perasaan dari Senopati Brastha Abipraya itu bercampur aduk, ingin rasanya saat itu juga ia melampiaskan dendamnya akan tetapi ia masih memperhitungkan keselamatan dari Patih Haryo Winangun dan rombongan, namun bara dendam di dadanya tengah membuncah.
" Benar, dialah yg telah membunuh Romo dan biyung, Aku mengenali tanda itu, apa yg harus kulakukan sekarang," pikir nya lagi.
Setelah mengambil pertimbangan yg masak akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari tempat itu.
Dengan cepat ia bergerak keluar goa itu.
" Yg penting aku sudah mengetahui nya bahwa dialah yg telah membunuh kedua orangtuaku itu," kata Raka Senggani di dalam hatinya.
Segera ia melesat setelah berada di luar goa teesebut dan malam pun kian pekat, rasa dingin yg menusuk tulang seolah tidak dirasakan oleh pemuda itu akibat panas terasa di hatinya.
" Kalau ia aku bunuh sekarang, berarti memang karena dendam, akan tetapi jika ia kubunuh karena tugas berarti aku membunuhnya bukan karena dendam, aku harus meminta pertimbangan dari Ki Lamiran, apa yg sebaiknya kulakukan," berkata di dalam hati Raka Senggani.
Ia dengan cepat menuju tempat menginap mereka selama di padepokan lerang Wilis tersebut.
Di dalam hatinya masih ingin melihat dengan jelas siapa sebenarnya Mpu Phedet Pundirangan itu yg merupakan pemilik Padepokan Lereng Wilis ini.
Apakah ia termasuk salah satu dari ketiga pembunuh orangtuanya itu.
Sangat cepat Raka Senggani menyelinap begitu ada suara langkah kaki mendekati bilik mereka itu.
Meskipun di bawah temaramnya cahaya bulan ia melihat sesosok tubuh mendekat ke tempat itu.
Mpu Phedet Pundirangan seperti sedang melihat ke dalam bilik yg di tempati oleh Raka Senggani.
Sementara Raka Senggani bisa melihat dengan jelas wajah dari Mpu Phedet Pundirangan yg terkena biasan cahaya lampu dari dalam tempat itu.
" Benar, dia termasuk yg ikut waktu itu, meski kini rambut dan jenggot nya telah putih semua, tetapi aku masih mengenal jelas wajah itu, berarti teman mereka yg satu lagi adalah Mpu Luh Brangsang yg ada di Lereng merapi," berkata Raka Senggani di dalam hatinya.
" Memang tugas sangat sulit, seperti yg telah dikatakan oleh Ki Lamiran itu, tetapi semua itu meski aku lakoni, setinggi apapun ilmu mereka jika Gusti Yg Maha kuasa tidak mengizinkannya pasti mereka bisa di kalahkan," kata Raka Senggani lagi.
Senopati Pajang itu terus melihat gerak-gerik dari Mpu Phedet Pundirangan.
Ketika Pemilik padepokan Lereng Wilis berlalu dari tempat itu, Raka Senggani langsung masuk ke dalam bilik tersebut setelah memastikan keadaan aman.
Malam itu, Senopati Brastha Abipraya tidak bisa memicingkan matanya, hatinya terus di bakar api dendam yg membara , apalagi setelah mengetahui bahwa pembunuh kedua orangtua nya merupakan orang-orang yg berilmu tinggi sulit di cari bandingnya di tlatah demak ini.
Mungkin hanya Kanjeng Sunan Kalijaga dan Mpu Supa Mandrangi yg bisa mengatasi mereka itu, pikir Senopati Pajang Brastha Abipraya.
Sementara Patih Haryo Winangun, Tumenggung Warabaya dan tiga Lurah prajurit Madiun terlelap dalam tidurnya.
Raka Senggani berusaha untuk sekedar memicingkan matanya namun tidak juga berhasil.
__ADS_1
Hingga saat fajar menjelang barulah rasa kantuk itu datang, terlanjur baginya, ia langsung menunaikan kewajiban shubuh tanpa sempat untuk tidur.
Ia juga berjaga-jaga jika pihak dari padepokan Lereng Wilis itu berbuat sesuatu terhadap rombongan itu.
Namun sampai pagi keadaan tetap aman.
Dan ketika rombongan itu berpamitan akan kembali ke Madiun , Mpu Phedet Pundirangan pun keluar dan berkata,
" Selamat jalan Kanjeng Patih, semoga Kanjeng Patih berkenan atas keputusan kami, dan tidak merasa kurang dihargai disini di tempat kami ini," ucapnya .
" Ahh tidak , kami sangat senang sekali berada disini, jika tidak ada tugas yg mendesak mungkin kami betah berlsma -lama untuk berada disini, sayang tugas kami cukup banyak jadi kami mohon pamit, Mpu Pundirangan," jawab Patih Haryo Winangun.
Raka Senggani dapat melihat jelas wajah dari Mpu Phedet Pundirangan itu, tidak salah ialah salah satu yg telah ikut ke rumahnya beberapa waktu silam, dan menghabisi seluruh keluarganya itu.
Detak jantung pemuda berdenyut sangat kencang ,ingin rasanya ia menumpahkan dendamnya saat itu juga akan tetapi ia masih memikirkan keselamatan rombongan itu, akhirnya ia hanya menundukkan kepalanya tidak ingin melihat wajah itu, sementara Mpu Phedet Pundirangan menatap wajah pemuda dengan seksama seakan sedang mengukur kemampuan dari pemuda itu.
" Silahkan Kanjeng Patih, kami berharap Kanjeng Patih dapat berkunjjung lagi kemari di lain waktu," jawab Mpu Phedet Pundirangan.
" Mari Mpu Pundirangan ," kata Patih Haryo Winangun.
Patih Madiun itu langsung melangkah kakinya meninggalkan tempat itu dengan diiringi oleh Tumennggung Warabaya, Raka Senggani dan tiga Lurah prajurit Kadipaten Madiun.
Dalam perjalanannya menuruni lereng Wilis itu Raka Senggani berpikir bagaimana carannya untuk menyampaikan sesuatu yg di dengar nya ketika masih berada di Padepokan Lereng Wilis itu.
Hingga keenam orang itu tiba di kaki gunung Wilis barulah Raka Senggani memiliki kesempatan setelah Patih Haryo Winangun berhenti sekedar untuk membuang hajatnya, dengan cepat Senopati Pajang itu mengikutinya dan berkata kepada Patih Madiun itu,
" Paman Patih, apakah mempercayai sepenuhnya Mpu Phedet Pundirangan itu,?" tanyanya kepada Patih Haryo Winangun.
" Maksud anakmas Senggani mempercayai soal apa, karena penolakan nya itu,?" balik Patih Haryo Winangun yg bertanya.
" Begini Paman Patih, tadi malam Senggani mencuri dengar bahwa, sasaran Si Topeng iblis itu adalah Kediri,!" jawab Raka Senggani terus terang.
" Maksudmu Si Topeng iblis akan beraksi di Kediri,?" tanya Patih Haryo Winangun.
Ia kembali berdiri dan tidak jadi melangsungkan niatan nya.
" Darimana anakmas tahu,?" tanyanya lagi penuh keheranan.
" Apakah Paman Patih bisa menyimpan rahasia sebelum semuanya ini menjadi jelas,?" tanya Raka Senggani kepada Patih Haryo Winangun.
" Siap anakmas, asalkan anakmas mempercayai Pamanmu ini " jawab Patih Haryo Winangun.
Raka Senggani langsung menceritskan apa yg telah dilihat dan didengarnya ketika berada di dalam goa dibalik Air terjun itu.
__ADS_1
Tidak ada yg teelewatkan hingga membuat Patih Madiun itu tercengang mendengar nya, serasa ia tidak mempercayainya.