
" Kakang Kuda Wira akan makan apa,.?" tanya Dewi Rasani Mayang.
" Terserah , apapun boleh,..!" sahut Raden Kuda Wira.
Ia pun mengambil tempat duduk di sebuah lincak sambil tetap menatap ke seluruh ruangan di warung itu.
Pandangan matanya agak tertumbuk kepada sesosok tubuh yg memakai topi caping dan membelakangi nya , hati dari murid utama padepokan Merapi ini agak berdesir setelah ia melihat sosok ini.
Namun kemudiaan ia mengalihkan kembali pandangan nya kepada Dewi Rasani Mayang lagi.
" Kang,.apakah guru memang akan datang malam ini,..?" tanya gadis cantik ini.
" Tampaknya memang demikian , Mayang,..guru memang sangat berkeinginan untuk mendapatkan kedua pusaka tersebut,..tentu ia akan datang ,.!" jawab Raden Kuda Wira .
Dan tidak lama mereka bercakap cakap datang lah pesanan dari kedua orang ini.Keduanya lantas menyantap makanan nya itu.
Raka Senggani yg sedari tadi telah selesai merasa mendapatkan kesempatan untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, setelah ia memanggil pelayan warung dan membayarnya , dengan cepat ia keluar dari sana.
Hehh, tampaknya aku harus membuntuti kedua orang ini, mungkin mereka tengah menunggu gurunya, Mpu Loh Brangsang,.berkata dalam hati Raka Senggani.
Kemudian ia mencari sebuah tempat yang tidak jauh dari warung tersebut, dan dirinya pun langsung bersembunyi guna melihat kemana perginya dua orang murid padepokan Merapi ini.
Memang tidak terlalu lama setelah dirinya keluar , Raden Kuda Wira bersama Dewi Rasani Mayang pun keluar dari sana. Tampaknya Raden Kuda Wira pun memiliki rasa penasaran dengan orang yang menggunakan caping itu.
" Cepatlah adi Mayang, kita harus menyusul orang tersebut,..!" seru Raden Kuda Wira.
" Memang nya siapa orang itu,.Kang,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.
" Sepertinya aku mengenal orang tersebut,..Adi Mayang ,.akan tetapi siapa ya, aku tidak mengingat nya,..!" ucap Raden Kuda Wira.
" Aneh ,..kenal tetapi tidak tahu siapa orangnya,.sungguh ,benar benar, aneh,..!" sahut Dewi Rasani Mayang.
" Sudahlah Adi Mayang, jangan banyak tanya, kita cari saja orang itu, nanti dirimu juga akan mengenalnya,..!" jelas Raden Kuda Wira.
Ia lantas berjalan lebih dahulu. Disusul kemudian oleh Dewi Rasani Mayang. Akan tetapi mereka tidak menemukan orang yang mereka cari itu.
Sedangkan Raka Senggani yg kemudian membuntuti terus kedua orang tersebut dari belakang dalam jarak yg agak jauh.
Cukup lama mereka berdua berusaha mencari namun tidak menemukan , dan Dewi Rasani Mayang kemudian berkata,.
" Sebaiknya kita beristirahat sejenak kakang,.!" ucap Dewi Rasani Mayang.
" Baiklah,..!" sahut Raden Kuda Wira.
Keduanya pun mengambil tempat duduk di sebuah batu yang cukup besar di tepian Rawa Pening ini.
Keduanya menatap ke arah Rawa yg cukup besar itu.
Sambil mereka bercakap cakap mengenai keadaan di daerah Bukit Tuntang ini.
" Kang , apakah yg harus kita lakukan selanjutnya,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.
" Sebaiknya kita menunggu saja kedatangan Guru,..!" sahut Raden Kuda Wira.
" Tetapi sampai saat ini Guru, belum pun datang,.. sedangkan nanti malam adalah malam bulan purnama, para tokoh dunia persilatan akan mendatangi Si Tua Gila itu di bukit Tuntang,.. apakah kita juga harus ke bukit itu malam ini,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.
Raden Kuda Wira tidak menjawab , ia pun masih bingung menjawab pertanyaan teman nya ini.
Tetapi belum pun sempat berkata apa apa, tiba tiba saja,.
" Whushhhh,..!"
" Hehh,..-!"
" Guru,..!"
Ada serangkum angin keras bergerak ke tempat itu dan selanjutnya muncul lah seseorang yg tiada lain adalah Mpu Loh Brangsang.
__ADS_1
" Apa khabar kalian,..murid -muridku,..!" sapa Penguasa Gunung Merapi itu.
" Baik, Guru,..!" jawab keduanya.
" Apa yg telah kalian dapatkan,.?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
Keduanya pun terdiam tidak menjawab pertanyaan Mpu Loh Brangsang ini.
" Jadi selama disini kalian tidak mendapatkan apa-apa, percuma saja kalian ku kirim kemari terlebih dahulu, tidak mampu menjalankan tugas,..!" seru Mpu Loh Brangsang agak keras.
" Maaf Guru, gerak kami tidak terlalu leluasa , kami berdua hanya mendengar bahwa malam ini akan ada perang tanding antara Ki Ajar Sarabaya melawan Begawan Kakung Turah , itu saja yg kami dengar,..Guru,..!" terang Raden Kuda Wira.
" Hehh, jadi si Hantu dari selatan itu telah berada disini,..dengan siapa saja ia disinj,..?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
" Kami tidak tahu Guru, namun yg jelas , berita ini kami dengar dari beberapa orang yang ada di desa Lopait,..itu saja yg kami tahu,.Guru ..!" kata Dewi Rasani Mayang.
" Apakah kalian tidak melihat keberadaan dari Senopati Pajang ada disini,..?" tanya Mpu Loh Brangsang.
Tiba tiba saja Penguasa Gunung Merapi ini bertanya mengenai keberadaan dari Raka Senggani.
" Hehh,..!" seru Raden Kuda Wira.
Pemuda ini sangat terkejut mendengar pertanyaan dari gurunya ini, karena sedari tadi mereka membicarakan mengenai seseorang yg ia tidak ingat namanya.
" Ada apa, Angger Kuda Wira, mengapa dirimu tampak terkejut,..?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
" Seperti nya tadi kami berdua melihat dia, Guru,..!" seru Raden Kuda Wira.
" Dimana,..?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
" Di sebuah warung, Guru, tatkala kami sedang makan tadi,..!" jawab Raden Kuda Wira.
Dewi Rasani Mayang yg tampaknya merasa aneh akan perkataan teman nya itu lantas bertanya,..
" Jadi yg kakang Kuda Wira lihat di warung tadi adalah Raka Senggani, begitu maksudmu kang,..?!" serunya kaget.
" Benar adi Mayang, orang yang kakang maksud itu adalah Senopati Brastha Abipraya dari Pajang,.. sepertinya memang dirinya lah yg menggunakan topi caping itu,..!" jelas Raden Kuda Wira.
Sesaat kemudian ketiganya terdiam setelah mendengar penuturan dari Raden Kuda Wira ini, sementara itu sepasang mata memperhatikan ketiganya dari kejauhan di sebuah pohon nyamplung, ia yg tiada lain adalah Raka Senggani tengah mengtrapkan ilmu nya agar tidak di ketahui keberadaan nya oleh penguasa gunung Merapi ini.
Aku harus mengetahui apa rencana mereka itu , berkata dalam hati Raka Senggani sambil terus saja ia melihat ke arah ketiganya.
Sedangkan Mpu Loh Brangsang yg mendengar ucapan muridnya ini langsung berkata,..
" Hati hati kalian berdua , urusan dengan Senopati Pajang ini belum selesai terlebih kalian memiliki rahasia yg akan membuat nya murka,..!" ucapnya.
Memang sesungguhnya Penguasa Gunung Merapi ini tidak menyadari akan kehadiran seseorang di tempat tersebut sehingga ia dengan bebasnya berkata demikian.
" Baik Guru, kami akan berhati hati jika bertemu dengan nya kelak,.!" sahut Raden Kuda Wira.
Raka Senggani yg mendengar ucapan dari Penguasa Gunung Merapi itu sepertinya mengenai dirinya ia segera berkata kata dalam hatinya.
Apa yang dimaksud oleh Loh Brangsang itu, apa hubungan nya dengan Raden Kuda Wira ini dengan murkaku, apakah ia ,..atau jangan -jangan,..ada sesuatu yg mereka sembunyikan,..itulah yang berkecamuk di pikiran dari Raka Senggani. Ia belum mampu mendaptakan jawaban atas hal tersebut.
Sehingga ketika Mpu Loh Brangsang pergi dan meninggalkan tempat tersebut dirinya tidak dapat menemukan jawabannya.
Hehh, biarlah nanti , akan kutanyakan kepada Dewi Rasani Mayang, kelak jika ia tengah seorang diri, berkata dalam hati Raka Senggani.Ia pun segera meninggalkan tempat tersebut dan langkahnya menyusul Mpu Loh Brangsang itu.
Tinggallah kini di tempat tersebut Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang saja.
Raka Senggani yg memburu Mpu Loh Brangsang kehilangan jejak nya tatkala sampai di hutan bambu, ia tidak mendengar atau pun dapat melihat kelebatan orang tersebut.
Merasa kehilangan jejak , Raka Senggani lantas memutar arah , kali ini ia menuju ke tempat dimana Begawan Kakung Turah berada, di bukit Tuntang. Cukup cepat Senopati Brastha Abipraya ini melesatnya.
Setibanya di Gubuk Ki Mertalaya, Raka Senggani tidak menemukan orang tua tersebut disana.
Kemana perginya Eyang Begawan Kakung Turah ini,.bertanya dalam hati Raka Senggani.
__ADS_1
Ia berusaha mencari kemana perginya Kj Mertalaya ini.
Cukup lama ia mencari hingga mengarah ke sebuah goa yang berada tidak terlalu jauh dari Gubuk Ki Mertalaya ini.
Raka Senggani mendekatj tempat itu , ia merasa akan adanya seseorang yg berada di dekat tempat ini.
Dan benar saja, Raka Senggani di kejutkan dengan sapaan seseorang,.
" Ada apa Angger Senggani datang kemari,..?" tanya orang tersebut.
Ia yg tiada lain adalah Ki Mertalaya, tampak tengah berdiri di dekat sebatang pohon yang cukup besar.
Meski agak terkejut , Raka Senggani menjawab pertanyaan ini,.
" Ahh, Senggani ingin bertemu dengan Eyang Mertalaya,..!" jawab nya dengan tenang meski sebenarnya ia merasa agak sungkan juga.
" Ingin bertemu denganku,..?" tanya Ki Mertalaya heran.
" Benar , Eyang Mertalaya,..Ada yg ingin Senggani tanyakan kepada Eyang,..!" ucap Raka Senggani lagi.
" Tentang apa, lekas katakan , diriku tidak memiliki waktu yang banyak ,.!" ujar Ki Mertalaya agak berbeda dengan saat kali mereka bertemu.
Kali ini orang tua yg sudah sangat sepuh ini kelihatan nya kurang senang akan kehadiran dari Raka Senggani. Dan Senopati Brastha Abipraya ini menyadarinya , ia pun segera berkata,..
" Eyang, ada dua hal yang ingin Senggani tanyakan , yg pertama mengapa Eyang Begawan Kakung Turah tidak mengatakan sejujurnya bahwa eyang inj adalah Eyang Begawan Kakung Turah bukan Ki Mertalaya, dan yg kedua benarkah Eyang Begawan lah yg telah mengambil kedua pusaka kerajaan Demak itu dari bangsal perbendaharaan Demak, itu saja,..!" terang Raka Senggani.
Kali ini sikap tegas di tunjukkan oleh Senopati Pajang ini, ia siap dengan segala resiko yang akan di tanggung nya jika orang tua ini menjadi marah.
Heh , jika memang harus bertarung dengan nya,Diriku tidak akan mundur meskipun ia memiliki ilmu setengah dewa, aku harus mengetahui yg sebenarnya,.berkata dalam hati Raka Senggani.
" Ha ,ha ,ha , baru kali ini diriku ditanya oleh seorang bocah dengan penuh wibawa , sungguh nyali mu patut diacungi jempol , Sengganj, akan tetapj Aku tidak mau menjawab nya, terserah apa yang ingin kau lakukan terhadapku,..ha, ha, ha,..!" ungkap Begawan Kakung Turah.
Sambil tertawa tawa dirinya menjawab pertanyaan dari Raka Senggani.
" Baiklah Eyang, jika memang dirimu tidak menjawab nya, mungkin nanti malam diriku akan turut hadir di sini untuk melihatmu bertarung dengan para tokoh tokoh persilatan itu, suatu pemandangan yang cukup baik untuk menambah pengalaman,..!" terang Raka Senggani.
Memang dirinya belum berkeinginan untuk membuat masalah dengan orang yang bernama cukup kesohor dengan perbuatan gilanya termasuk dengan keberaniannya masuk ke bangsal perbendaharaan kerajaan Demak guna mengambil dua pusaka Piyandel Kerajaan Demak ini.
Sejak saat itu, Raka Senggani memang berkeyakinan bahwa orang tua inilah yg telah mengambil kedua pusaka tersebut. Karena dari panggraita nya , Raka Senggani mendapatkan sinyal keberadaan cahaya dari dalam goa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri ini.
Biarlah , nanti malam Aku kembali kemari , sekaligus melihat apa yg akan di lakukan oleh orang tua ini dalam menghadapi lawan -lawan nya , membathin Raka Senggani dalam hati.
Ia pun hendak pergi dari tempat itu, akan tetapi langkahnya ini terhenti ketika ia mendengar suara darj Begawan Kakung Turah ini memanggil,..
" Tunggu,..ada yg ingin kukatakan kepada mu ,..!" seru nya.
Raka Senggani menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kepada orang tua itu sambil menatap tajam kepadanya.
" Hal pertama yang ingin kukatakan adalah bahwa hidup ini merupakan pilihan, dan pilihanku adalah untuk mengabdi kepada keluarga dari Junjungan ku, Pangeran Andayaningrat serta keturunan nya tidak dengan yg lain, dan yg kedua sikapku tidak akan berobah sampai keturunan dari Pangeran Andayaningrat ini menjadi yg paling berkuasa di tanah ini , tepatnya untuk menjadi Raja disini,..untuk itulah Aku akan melakukan apa pun itu,. jadi jangan sekali kali mengganggu urusanku anak muda , itu saja ,..Ku peringatkan kepadamu, bahwa Aku ini bukan Kebo Anggara yg memiliki jiwa welas asih, Aku adalah Argayasa ,..yg biasa di panggil orang sebagai si Tua Gila,.camkan itu,..!" jelas Begawan Kakung Turah agak keras.
Nampaknya kali ini ia tidak sedang bercanda ataupun main-main, ia memang bersungguh sungguh dengan ucapan nya.
" Terima kasih , Eyang telah mmeperingatkan akan hal ini , hanya saja tugas ku kali ini datang kemari ke Rawa Pening ini untuk mengetahui keberadaan dari Pusaka Kyai Nogo Sosro dan Kyai Sabuk Inten, selebihnya tidak ada , jika memang kedua kalinya tersebut berada disini , biarlah pihak istana kerajaan Demak sajalah yang akan memutuskannya ,.. diriku hanya di perintahkan untuk memeriksa nya saja,..!" balas Raka Senggani.
Ia memang masih sungkan dan ragu jika harus berbenturan dengan saudara dari Panembahan Lawu itu.
Akan tetapi tugas yang di berikan oleh Tumenggung Bahu Reksa memang harus ia jalankan sebagai kepatuhan nya terhadap orang tua angkatnya itu.
Raka Senggani tanpa berpamitan langsung meninggalkan tempat tersebut, ia berjalan perlahan tetapi dengan sikap kewaspadaan yg tinggi, dirinya memang belum terlalu memahami sikap dan sifat orang tua yg yg di gelari si Tua Gila itu.
Memang terkadang sikap nya cukup aneh, dalam satu sisi ,ia menunjukkan sikap yang bersahabat namun di lain waktu ia menunjukkan sikap yang bermusuhan.
Jadi Raka Senggani memang masih perlu beradaptasi dengan kelakuan orang tua inj ini.
Ia bergegas berlalu dari sana dan langsung menuju kembali ke desa Lopait.
Hari telah beranjak sore, ia memang memerlukan untuk beristirahat guna dapat menyaksikan perang tanding yg akan di lakukan di puncak Bukit Tuntang malam ini, malam bulan purnama.
__ADS_1