
Semua yg berada di rumah Ki Gede Mantyasih ini jadi sangat terkejut mendengar penuturan dari para pengawal tanah Perdikan ini juga dengan yg telah di sampaikan oleh Ki Lonowastu.
Termasuk Raka Senggani dan Lintang Sandika, keduanya yg merupakan dari prajurit sandi jadi merasa bahwa orang tersebut sudah mengetahui jebakan yang mereka buat.
" Apakah ia sudah mengetahuinya , Ki Gede,..?" tanya Raka Senggani kepada Gede Mantyasih ini.
" Belum tentu Ngger,..mungkin ada sesuatu yg telah membuat nya mengurungkan diri untuk masuk ke dalam tanah perdikan ini, kalau dari gelagatnya orang ini tidak memandang kepada orang orang yg ada disini, tidak juga terhadapku, jadi tidak ada alasannya ia untuk takut kemari,..!" jelas Ki Gede Mantyasih.
Benar juga yg di katakan oleh Ki Gede ini, membathin Raka Senggani dalam hatinya.
Dan pada malam itu Ki Gede Mantyasih memerintahkan kepada para pengawal juga penduduk pedukuhan induk ini untuk tetap bersiaga dan waspada, agar mereka dapat menangkap pelaku kerusuhan di Mantyasih ini.
Setelah wayah sepi bocah, Raka Senggani mohon pamit kepada Ki Gede Mantyasih, ia dengan di temani oleh Lintang Sandika akan menuju ke rumah Ki Lonowastu, karena tadi orang tua inilah yg telah melihat kedatangan dari orang yang tidak di kenal itu.
Mulanya Ki Gede Mantyasih agak keberatan jika Raka Senggani harus meninggalkan tempat nya ini dengan alasan, nantinya mereka akan sulit untuk mencarinya, namun Raka Senggani segera mengatakan bahwa jika ia mendengar kentongan titir atau pun bunyi panah sendaren tentu ia akan segera datang.
Akhirnya Ki Gede pun melepaskan kepergian kedua pemuda itu, walaupun bagaimana ia memang tidak dapat memaksa keduanya untuk tetap tinggal apalagi kali ini Senopati Pajang ini beralasan untuk sekedar meronda .
Setelah meninggalkan kediaman Ki Gede Mantyasih, Raka Senggani lantas bertanya kepada Ki Lonowastu yg berjalan bersamanya.
" Ki Lonowastu, apakah memang orang itu hanya seorang diri saja,..?" tanya nya.
" Benar , dari yg aki lihat memang orang tersebut hanya seorang diri saja,..Angger Senopati,..!" jawab Ki Lonowastu.
Mereka terus saja berjalan menuju ke kediaman dari orang tua yg bernama Ki Lonowastu itu.
Dan tatkala mereka bertiga sudah cukup dekat dengan rumah tersebut maka tiba tiba saja,..
" Ssssthh,..!"
Ucap Raka Senggani, ia memalangkan jari telunjuk nya di depan bibirnya, namun karena situasi malam itu cukup pekat dan sangat gelap, kedua orang yg bersamanya ini tidak melihatnya, sehingga Ki Lonowastu lantas bertanya,..
" Ada apa,..?"
Raka Senggani tidak menjawab, ia tampaknya tengah memusatkan perhatian nya pada satu titik , yaitu pada sebuah rumah yg berada di sebelah kanan mereka itu.
Dengan sangat perlahan dan berbisik, Raka Senggani bertanya kepada Ki Lonowastu,.
" Itu rumah siapa dan apakah ia memiliki seorang bayi,. Ki,..!" tanya nya nyaris tidak terdengar.
" Itu rumahnya ki Sarwa, memang saat ini ia telah memiliki seorang cucu dari anak perempuan nya,..!" jawab Ki Lonowastu pula dengan berbisik.
" Kalian berdua tunggu disini, jangan melakukan apapun jika tidak ada isyarat dariku,..!" ucap Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya ini langsung saja meninggalkan keduanya tanpa menunggu jawaban dari mereka.
Cukup cepat dan sangat ringannya tanpa menimbulkan suara gerakan dari Senopati Pajang ini, ia terus saja masuk menuju rumah Ki Sarwa itu.
Dalam gelapnya malam, ternyata Ajian Ashka pandulunya bekerja dengan sangat baik, Senopati Brastha Abipraya ini mampu melihat kelebatan sesosok tubuh yg berusaha masuk ke dalam rumah tersebut dari arah belakangnya.
Dan dalam yg bersamaan pula Raka Senggani masuk dari depan , tanpa harus membuka pintu pagar rumah tersebut, Senopati Brastha Abipraya ini melesat diatas pagar rumah yg tidak terlalu tinggi itu.
Tidak terlalu lama terdengarlah sebuah pintu yg berbunyi seperti tengah di buka sesorang,..
" Kreeeik,..,"
Ternyata orang yang datang dari arah belakang ini langsung membuka daun pintu dari rumah tersebut.
Sementara itu , Raka Senggani yg masuk langsung menuju wuwungan rumah Ki Sarwa ini, ia berusaha mengintip dari atas sambil membuka sebuah genteng , atap rumah tersebut.
Dengan cahaya lampu dlupak yg tidak terlalu terang ia melihat sesorang yg menuju ke arah sebuah bilik yg di tempati oleh putri Ki Sarwa dan bayi yg baru beberapa hari ia lahirkan.
Hehmm,.. ternyata orang ini mampu menyirep seluruh penghuni rumah Ki Sarwa ini bahkan para pengawal tanah Perdikan pun tidak luput dari sirepnya, berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia pun terus memperhatikan apa yg tengah di perbuat oleh laki-laki itu yg menggunakan kain hitam sebagai penutup wajahnya.
Tatkala ia melihat orang tersebut hendak keluar dari rumah tersebut, maka Raka Senggani segera mengeluarkan suara meniru bunyi dari burung kedasih.
Suara burung malam ini segera menggema kuat di sekitar rumah Ki Sarwa ini, nampaknya Raka Senggani tidak hanya memberikan isyarat kepada Lintang Sandika dan Ki Lonowastu yg masih berada di luar rumah itu.
Suara burung kedasih yg ditirukan oleh Senopati Pajang ini mampu meleaskan pengaruh sirep yg di lepaskan oleh orang yang berniat menculik bayi yg merupakan cucu dari Ki Sarwa ini, terbukti mendadak bayi yg berada dalam gendongan orang yang memakai penutup wajah berwarna hitam itu mendadak menangis,.
" Oo, ooee,..ooeee,.ooeee,..!"
Cukup keras tangisan bayi itu hingga membangunkan seluruh penghuni rumah termasuk dua orang pengawal tanah Perdikan yg di tugaskan oleh Anggono selaku pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih.
" Hehhh, apa yang terjadi,..!" ucap seorang pengawal kepada temannya.
" Bayi ku, tolong bayiku, ia telah menghilang ,..!" seru seorang perempuan dari dalam biliknya.
Yang tiada lain adalah Putri Ki Sarwa.
Mendadak terjadi kehebohan dalam rumah yg lumayan besar ini dan si pelaku penculikan bayi ini pun tampak kaget, karena ilmu sirep yg di lepaskannya mampu di buyarkan oleh seseorang.
Hehh, aku harus segera meninggalkan rumah ini, ucapnya dalam hati.
" Braakkkkhh,..!"
__ADS_1
Ia pun langsung menendang pintu dapur rumah Ki Sarwa itu dan langsung keluar.
Bergegas ia berjalan menuju ke arah tanah persawahan yang tepat di belakang rumah ini.
Belumpun jauh ia melangkah tiba tiba ia di kejurkan oleh suara seseorang dari sebelah kanannya.
" Tinggalkan bayi itu,..!"
Ternyata Raka Senggani telah berdiri tidak terlalu jauh darinya sambil menyuruh untuk meninggalkan bayi bawaan yang hendak ia culik ini.
Orang tersebut berdiri mematung sesaat, akibat dari pengaruh bentakan dari Senopati Pajang ini.
Setelah ia merasa terbebas dari pengaruh suara yang di dengar nya itu maka orang tersebut pun berkata,..
" Berani mendekat kubunuh bayi ini,..!" ucapnya tak kalah garangnya.
" Hei, apa salah bayi itu sehingga kau harus membunuh nya, atau dirimu ini hanya seorang pengecut yang berani hanya kepada seorang orok saja,..!" ejek Raka Senggani.
" ******* , tutup mulutmu,..atau kalau kau memang mampu ambillah bayi ini dari tanganku,..!" seru orang tersebut marah.
Sementara itu , Lintang Sandika dan Ki Lonowastu yg mendengar suara isyarat yg telah di berikan oleh Raka Senggani segera masuk ke dalam perkarangan rumah Ki Sarwa itu.
" Marilah Ki Lono, kita lihat apa yg terjadi,..!" ajak Lintang Sandika kepada Ki Lonowastu.
" Mari Ngger,..!" sahut Ki Lonowastu.
Keduanya terus saja berlari menuju arah belakang dari rumah Ki Sarwa ini. Karena dari arah belakang itulah mereka mendengar dua orang sedang berbicara dengan cukup keras.
Sedangkan dari arah dalam rumah, dua orang pengawal tanah Perdikan Mantyasih dan Ki Sarwa bersama menantunya pun keluar ke belakang rumah.
Penculik bayi itu sudah terkepung dari tiga jurusan, sehingga ia pun langsung berkata mengejek,..
" Ternyata orang orang ranah Perdikan ini beraninya hanya bermain keroyokan, ha, ha ha,..!" ucap nya sambil tertawa-tawa.
" Hehh, kembalikan anakku,..akan kau bawa kemana anakku itu ,..!" seru menantu Ki Sarwa.
Ia nampak cemas melihat putranya berada dalam gendongan orang yang tidak di kenalnya.
" Ha, ha, ha, anak ini akan kujadikan tumbal, ambillah jika kau mampu , hufhhh,..!" teriak orang tersebut sambil tertawa.
Ia pun berusaha pergi meninggalkan tempat itu.
Namun Raka Senggani yg melihatnya langsung berteriak nyaring sambil melepaskan ajian Wajra Geni nya.
" Tunggu, heaahhh,..!"
" Dhumbhh,..!"
" Braakkkkhh,..!"
Dengan sangat cepat Raka Senggani mengejar orang tersebut yg terhenti akibat jatuh nya pohon yg menghalangi jalan nya.
" Urusan kita belum selesai, mengapa kisanak sudah mau pergi begitu saja ,..?" tanya Raka Senggani pelan.
Orang yang telah menculik cucu Ki Sarwa itu membalikkan badannya.
Terlihat ia sangat geram melihat orang yang ada di hadapannya ini.
" Kau terlalu banyak turut campur urusan ku,..terima ini, heaahhh,..!" seru orang itu.
" Sheeet,.!"
" Sheeet,..!"
" Sheeet,..!"
" Hehh,..!"
Tiga buah senjata rahasia yg berupa pisau pisau kecil melesat menyerang Raka Senggani dan langsung mengenai tubuh dari Senopati Pajang itu.
Akan tetapi sungguh terkejut orang itu setelah serangan nya tadi tidak mampu menembus tubuh dari Senopati Pajang ini.
Ternyata orang ini memiliki ilmu kebal, ucap orang di dalam hatinya.
Maka ia pun dengan cepat mencabut senjatanya yg berupa pedang dari balik pinggangnya.
" Kembalikan bayi itu,..!" teriak Raka Senggani lagi.
Ia melangkah mendekati orang tersebut.
" Kau memang mencari mati, Hehh,.. hiyyahh,..!"
Sambil berteriak ia melompat menyerang Raka Senggani dengan pedangnya, sedangkan bayi yg di culiknya itu masih dalam gendongannya.
" Haaiiiit,..!"
Raka Senggani melompat mundur menghindari serangan tersebut, sambil ia memutar tongkat berkepala ularnya.
__ADS_1
Serangan dari lawannya itu tidak mengenai sasarannya, namun tetap saja orang itu melancarkan serangannya dengan memburu terus Raka Senggani.
" Traaakkkhh,..!"
Saat untuk kedua kalinya orang tersebut membabatkan pedangnya mengarah lambung Senopati Pajang , sehingga terpaksalah Raka Senggani menangkis serangan dari lawannya ini, hingga benturan keras pun terjadi, nampaklah dua kekuatan besar beradu yg menyebabkan mereka harus mundur ke belakang , pelaku penculik tersebut mundur tiga langkah ,sedangkan Raka Senggani hanya selangkah saja terdorong mundur.
Orang itu pun merasa bahwa lawannya ini masih berada diatas nya dalam hal tenaga dalamnya.
" Hiyyahh,..!"
Tanpa memperdulikan hal tersebut, ia kembali menyerang dengan cepatnya dan kali ini sebuah tusukan mengarah dada dari Senopati Pajang.
Raka Senggani hanya memiringkan sedikit saja tubuhnya ke belakang guna menghindari serangan itu, dan dengan cepat pula serangan balasan di lancarkan oleh Senopati Pajang menggunakan senjata tongkatnya ke belakang dari pelaku penculikan bayi itu.
" Bugghhh,..!"
Mendarat dengan telak lah tongkat itu di punggung nya hingga menyebabkan nya ia jatuh tersungkur dan bayi yg dalam gendongan nya itu pun terlepas.
" Oeee, oeee, oeee,..!"
Menangislah si bayi yg jatuh bergulingan diatas tanah itu.
" Huffhhh,..!"
Dengan cepat pula Lintang Sandika melesat menyambar bayi yg jatuh tersebut.
Berhasilah bayi itu di selamatkan oleh Lintang Sandika dan dengan cepat di serahkannya kepada ibunya.
" Ini bayi mu, jaga dengan baik,..!" ucap Lintang Sandika.
" Terima kasih Kang,..!" ucap si ibu bayi itu sambil menerima anaknya itu dari tangan Lintang Sandika.
Dan saat itu pula , lelaki yang jatuh akibat pukulan yang di terimanya dari serangan Raka Senggani tersebut.
Sambil ia mengibas-ibaskan pakaian nya dari debu dan tanah yg menempel setelah ia jatuh .
" Kau harus mati di tanganku,..!" seru nya dengan keras.
" Sebaiknya kisanak lah yg harus menyerah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan mu itu di hadapan Ki Gede,..!" ucap Raka Senggani.
Sambil terus menatap wajah orang yang ada di hadapannya ini.
" Kau jangan berbangga dahulu, terima ini hiyyahh,..!" kata orang itu sambil langsung menyerang Raka Senggani.
Ia kembali mencecar tubuh Senopati Pajang itu dengan pedangnya, kali ini yg jadi sasaran nya adalah kepala dari sang Senopati.
Namun dengan sangat mudahnya serangan yg di lancarkan orang tersebut mampu dihindarkan oleh sang Senopati, tidak ada yg mengenai sasarannya.
Raka Senggani memang bergerak lebih cepat dari serangan lawan nya ini.
Bahkan dengan memamerkan ilmu peringan tubuhnya , Senopati Brastha Abipraya dengan sempurna mampu mengatasi serangan yg di lancarkan lawannya.
" Heahhh,..!"
Dalam satu lesatan , tubuhnya mampu membubung tinggi, dan dengan cepat pula ia menukik tajam turun memberikan serangan ke arah orang yang menjadi lawannya kali ini.
" Dhieghh,..!"
Satu tendangan keras yg sangat cepat menghantam punggung orang itu.
Untuk ke sekian kalinya, terpaksalah ia harus jatuh bergulingan di atas tanah.
Akan tetapi untuk kali ini ia tampak kesulitan untuk bangkit, terasa dadanya sangat sakit sekali.
Sambil ia bertelekan pedangnya, orang itu berusaha bangkit.
Ia berusaha mengatur pernafasan nya, dan kedua tangan nya di letakkan di dadanya.
Sambil mulutnya komat kamit, ternyata ia tengah merapal mantra.
" Baiklah, kita tampaknya memang harus mengadu jiwa,..!" ucapnya.
Setelah ia menyarungkan pedangnya maka,..
" Aji tapak Wisa,..heaahh,..!"
" Dhumbhhh,..!"
Kedua tangan orang itu membuka kedua tangannya terbuka mengarah kepada Raka Senggani .
Dan dua larik cahaya segera mengarah menghantam tubuh Raka Senggani.
Dan memang sepertinya serangan itu mengenai sasarannya, hingga membuat orang itu tertawa tawa.
" Ha, ha, ha ,****** kau, berani menantang ku, sekarang kau telah ku kirim ke neraka, Hehh,..!" teriaknya dengan keras.
Namun sebelum suara tertawa nya selesai , terdengarlah suara orang yang berseru kepadanya.
__ADS_1
" Siapakah yang telah kau tertawakan itu, kisanak,..?"
Orang yang bertanya itu telah berada di belakang nya dan tiada lain adalah Raka Senggani.