
Akibat benturan kedua ajian tersebut,.keduanya harus terdorong mundur.
Akan tetapi yg paling parah menerima hantaman tenaga dalam yg membalik itu adalah Arya pinarak, ia sampai sepuluh langkah terdorong mundur dari tempatnya semula.
Sedangkan senopati Brastha Abipraya hanya tiga langkah saja bergeser. Nampaklah tenaga dalam dari Arya Pinarak masih jauh di bawah senopati muda dari Pajang tersebut.
Arya Pinarak bersikap seperti akan menyerang lagi dengan mengumpulkan segenap tenaga nya, ia kembali bersedekap setela sebelumnya memperbaiki posisinya.
Raka Senggani yg melihat hal itu langsung berseru,..
" Menyerahlah,..Pinarak,..atas nama Pajang , engkau harus ditangkap hidup atau mati..jadi kali ini dirimu masih Ku beri kesempatan untuk menyerah,.."
" Hehh..bocah ingusan!!, jangan harap diriku akan mau tunduk di bawah perintah mu,..nyawa Guru Mpu Pundirangan harus kau bayar lunas pada hari ,.jadi,... bersiaplah,.aku akan mengeluarkan aji Lebur Waja,." teriak Arya Pinarak.
Hati murid Mpu Phedet Pundirangan itu sangat panas melebihi panas nya setelah mendengar ucapan dari lawannya yg meminta dirinya untuk menyerah,.sedangkan di dalam hatinya ia sudah bertekad membalaskan dendam gurunya yg tewas di tangan sang Senopati.
Sambil mulutnya komat kamit,.tangan nya yg di depan dada diangkat ke atas dengan membuka kemudian kembali di turunkannya dan dalam posisi membuka dengan kedua telapak tangan mengarah pada Raka Senggani
Terdengar kemudian teriakan nya yg lantang,..
" Ajiiii,...Le..bur Wajaaa,..heaaahhh,."
Kali ini lontaran ilmu yg di lepaskan oleh Murid Mpu Phedet Pundirangan itu berwarna kebiru -biruan dan langsung melesak menyerang Raka Senggani.
" Dhumbbh hhhh,.."
Lontaran itu mengenai sebatang pohon, karena tanpa dapat diketahui secara tiba -tiba sang Senopati sudah tidak berada pada tempatnya semula.
Akibat hantaman ajian Lebur Waja milik dari Arya Pinarak itu , pohon tersebut menghitam , hangus terbakar. Sungguh dahsyat ilmu yg di miliki oleh murid Mpu Phedet Pundirangan tersebut.
" Ha,..ha,..ha,. jangan seperti seotang anak kecil yg bisanya main sembunyi -sembunyian,. Senggani,..Ayoo,..lawan aku.kita buktikan siapa yg paling jago di tanah Demak ini,.." seru Arya Pinarak dengan pongah nya.
Para prajurit Pajang termasuk prajurit sandi Demak juga Tumenggung Wangsa Rana dan Ki Ageng Manguntur memang sangat terkejur dengan kemampuan pemimpin rampok Alas Menatok itu.
Mereka memang mengetahui ketinggian ilmu nya tetapi setelah melihat langsung barulah mereka menyadari bahwa orang yg bernama Arya Pinarak itu cukup ngegrisi.
" Hehhhh,..aku ada disini ,..Pinarak,.." seru Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya itu telah berada di belakang dari murid Mpu Phedet Pundirangan tersebut.
Semua orang terkaget.. karena sedari tadi mereka tidak melepaskn pandangan nya terhadap pertarungan kedua orang yg memiliki kesaktian yg sulit di ukur itu, tetapi mereka tidak melihat adanya pergerakan dari sang Senopati, tahu -tahu sudah berada di belakang dari lawan nya tersebut.
Hal ini pun tidak lepas dari pengamatan Ki Ageng Manguntur dan Tumenggung Wangsa.
Mereka saling berpandangan satu sama lainnya, bahkan Ki Ageng Manguntur bertanya,.
" Apakah Senopati mu itu memiliki aji panglimunan,..Ki Tumenggung,..?" tanyanya.
Dengan menggelengkan kepalanya perlahan Tumenggung Wangsa Rana menjawabnya,
" Aku tidak tahu Ki Ageng,.." desisnya.
Pertempuran antara kedua kelompok itu sempat terhenti sejenak setelah mendengar ledakan yg sangat keras dari Ajian Lebur Waja milik Arya Pinarak tersebut.
Para kawanan rampok yg merupakan orang -orang yg keras merasa semangat mereka kembali menyala setelah melihat kemampuan pemimpin mereka itu.
Yang semula mereka telah berhasil di desak oleh pasukan Pajang,..kali ini mereka kembali berusaha memperbaiki kedudukan nya, karena mereka mengenal seluk beluk Alas tersebut.
Kembali kepada kedua orang yg saling berhadapan dan memang bermusuhan itu.
Baik Raka Senggani maupun Arya Pinarak memiliki masing-masing dendam yg harus mereka bayarkan.
Karena Raka Senggani selaku seorang Senopati Pajang pernah di pecundangi oleh Arya Pinarak atau lebih tepat nya lagi di tipu ketika berada di Bukit Klangon beberapa waktu yg silam di dalam hati Senopati Pajang itu masih membekas Luka yg cukup dalam atas kelakuan yg telah di terima nya dari orang -orang Merapi tersebut termasuk dengan Arya Pinarak.
" Baik,..untuk yg terakhir kali nya ,. aku peringatkan kepadamu Arya Pinarak,.Menyerahlah,.!." seru Raka Senggani.
Ia pun tampak tengah menyiapkan ajian yg di milikinya,. tampaknya ia tidak tanggung -tanggung karena kali ini,.ia tengah menyiapkan Ajian Sangga Kalimasada.
Karena sang Senopati telah melihat kemampuan dari Arya Pinarak itu hampir setingkat dengan gurunya Mpu Phedet Pundirangan.
Dengan sikap tenang ,.ia telah merapal ajian tersebut dan siap membenturkan nya dengan murid Mpu Phedet Pundirangan.
Di lain pihak ,.Arya Pinarak yg merasa dirinya diatas angin dan mengira lawannya itu tengah ketakutan langsung berkata lantang,.
__ADS_1
" Bersiaplah dirimu Senggani,.. karena akulah yg akan mencabut nyawamu pada hari ini,.seperti yg telah Kulakukan terhadap Tumenggung Jala Wisesa beberapa hari yg lalu, bersiaplah,..ha, ha, ha,.." teriak nya.
Tangan Arya Pinarak di putarnya di depan dada kemudian di kumpulkan nya di dekat perutnya baru setelah nya terdengar lah teriakan nya yg keras,..
" Aji Lebur Waja,.. Hiyyyah,.."
Selarik cahaya kebiru -biruan keluar dari telapak tangan nya itu menuju ke arah Raka Senggani.
Tidak mau kalah ,.. Senopati Pajang yg telah bersiap sedari tadi kemudian langsung menyambut nya dengan teriakan pula,..
" Aji Sangga Kalimasada,..Heaaahhh,.."
" Dhumbbh,...."
" Bleghuaaarrrr...rrrr,.."
Kedua ajian tingkat tinggi itu saling berbenturan,.dan akibat yg di timbulkan pun sungguh dahsyat,.di seputaran tempat itu dengan radius sepuluh batang tombak harus menerima akibatnya.
Bahkan banyak di antara para kawanan rampok,.orang -orang dari Arya Pinarak yg ikut terlempar akibat dari benturan kedua ajian tersebut.
Sedangkan bagi kedua orang yg tengah bertarung , terlihat lah sang Senopati yg harus terlontar sejauh dua puluh batang tombak ke belakang,.. namun ia tidak terjatuh secara mendadak ,.ia masih mampu menguasai tubuhnya sehingga tidak jatuh terhempas.
Berbeda dengan Arya Pinarak,.murid Mpu Phedet Pundirangan itu sangat jauh terlontar nya, bahkan tubuhnya sempat membubung ke udara sebelum akhir nya jatuh di atas tanah.
Tempat dimana terjadi benturan ilmu tersebut luluh lantak,.porak poranda seperti sedang di hantam gempa yg keras,.pohon -pohon tumbang,.semak belukar hangus terbakar,.di tempat itu menjadi terang seperti sebuah lapangan.
Ternyata kedua musuh itu memang mengerahkan kedua ajian tersebut sampai pada puncak tertinggi ilmunya.
Orang -orang nya Arya Pinarak segera mendekati tubuh pemimpin nya yg jatuh tertelungkup.
Mereka memriksa keadaan nya seraya membalikkan tubuh Arya Pinarak,.kembali mereka di kejutkan dengan yg ada di hadapan nya itu, tubuh murid Mpu Phedet Pundirangan tersebut selain hangus seperti terbakar, tubuhnya pun hancur bagai tepung,. sehingga ketika mereka berusaha membalikkan nya , tubuhnya itu sudah bagai tepung .
Para kawanan rampok Alas Mentaok itu sangat terkejut dengan apa yg telah terjadi,.mereka bingung,..sedangkan musuh masih sangat banyak. Pemimpin yg mereka andalkan telah menemui ajalnya.
Dengan cepat, Tumenggung Wangsa berteriak,.
" Cepatlah kalian semua menyerah,..sebelum kalian akan benar -benar tumpas semua disini,.." teriak nya Tumenggung.
Para kawanan rampok Alas Mentaok itu terdiam ,. mereka tidak mampu mengambil sikap, karena sudah tidak ada lagi pemimpin nya.
" Kalian tidak boleh menyerah,. mereka harus kita usir dari Mentaok ini,.."
Mendengar suara orang yg berteriak itu para kawanan rampok bergumam,..
" Kakang Adya Buntala,..!"
Benar adanya , ternyata yg datang itu adalah murid utama dari Mpu Loh Brangsang penguasa Gunung Merapi yg bernama Adya Buntala.
Raka Senggani yg mendengar nama itu di sebutkan langsung berdiri,.ia yg semula berusaha memulihkan tenaga dalam nya dan berusaha mengurangi rasa sakit yg di alaminya akibat benturan ilmu tadi tidak sabaran setelah nama orang itu di sebutkan.
Bersamaan dengan itu muncul lah Adya Buntala dengan di murid muridnya di tempat.
" Hehhh,..untuk kalian semua,.jangan ada yg menyerah,..mereka harus kita usir dari sini,.jadi segeralah bersiap,.akulah yg akan menggantikan Arya Pinarak sebagai pemimpin kalian,..," ucap nya dengan lantang.
Semangat kawanan rampok yg tadinya sudah sebesar menir,.kali ini bangkit,. karena mereka tahu kehebatan murid Mpu Loh Brangsang itu tidak di bawah dari Arya Pinarak.
Melihat keadaan yg tampaknya tidak dapat di kendalikan lagi, beberapa pemimpin pasukan Pajang segera mengisyratakan kepada par prajurit nya untuk kembali menyerang.
Terjadilah kembali pertempuran yg sempat tertunda tadi, dan kali ini kawanan rampok Alas Mentaok mendapatkan tambahan kekuatan dengan hadirnya murid-murid dari Gunung Merapi itu.
Sedangkan Adya Buntala sendiri dengan cepat nya mulai menyerang para Prajurit Pajang.
Raka Senggani berniat untuk menghadapi nya karena ia tahu kemampuan dari murid Mpu Loh Brangsang tersebut.
Kemampuan nya mungkin lebih hebat dari Arya Pinarak yg telah tewas tadi.
Akan tetapi niat Senopati Pajang itu di cegah oleh Tumenggung Wangsa Rana. Ia sebaiknya beristtrahat terlebih dahulu guna memulihkan tenaganya tadi akibat benturan ilmu yg terjadi tadi dengan Arya Pinarak.
Sebenarnya hati Senopati Pajang itu kurang mapan mendengar ucapan dari Tumenggung Wangsa Rana, ia khawatir akan keselamatan orang tua itu. Tetapi Ki Ageng Manguntur pun ikut membenarkan , bahkan ia akan bersama Tumenggung Wangsa Rana yg akan menghadapi murid Mpu Loh Brangsang tersebut
Raka Senggani pun menyetujui nya, namun sebelum keduanya menghampiri Adya Buntala, ia melepaskan cincin nya dan menyerahkan kepada Tumenggung Wangsa Rana.
Orang kepercayaan dari Kanjeng Gusti Adipati Pajang tersebut agak terkejut mendapati hal itu, ia ingin menanyakan nya namun di urungkan karena telah terdengar pekik salah seorang Prajurit Pajang yg tewas di bantai oleh Adya Buntala.
__ADS_1
Segera kedua orang itu menghampiri murid Mpu Loh Brangsang yg tengah menggila , ia menyerang dan meangyunkan golok nya sesuka hatinya,..banyak prajurit yg tidak berani mendekat.
" Hehh, kau,..mereka itu bukan lawanmu,..kami lah lawan mu,.." teriak Tumenggung Wangsa Rana.
Tombak yg ada di tangan kanannya sudah mengacung ke arah Adya Buntala yg sedang membelakangi mereka.
Murid Mpu Loh Brangsang itu langsung membalikkan tubuhnya, ia langsung berhadapan dengan kedua orang tersebut.
Dengan mata yg merah laksana menyala, karena di liputi hawa amarah, Adya Buntala kemudian berseru,..
" Hehh,..mengapa cuma dua orang tikus yg datang kemari, mana itu Senopati Brastha Abipraya,.biar kupenggal sekalian batang leheranya dengan golokku ini,." teriak Adya Buntala.
Golok itu diangkat nya ke atas.
Ia tidak merasa gentar menghadapi lawan yg ada di hadapanya, walau ia tahu ,salah seorang dari keduanya adalah penguasa Menoreh yg bernama Ki Ageng Manguntur.
" Apakh kalian berdua hanya ingin mengantarkan nyawa berhadapan dengan ku,. termasuk dengan dirimu Ki Ageng,.." serunya lagi.
" Jangan terlalu sesumbar kisanak,..nanti dirimu sendiri yg akan menerima nya,.." jawab Ki Ageng Manguntur sareh.
Penguasa Menoreh itu tidak terpancing emosinya,. karena selain ia memang sudah cukup berumur, ia pun tidak terlalu mudah terbawa perasaan.
Berbeda dengan Adya Buntala,.murid Mpu Loh Brangsang itu segera saja menyerang kedua orang yg ada dihadapan nya,..
" Hiyyyah,..****** kalian,.." teriaknya.
Dengan golok yg terayun mengarah leher dari Ki Ageng Manguntur sembari ia melepaskan tendangan nya ke arah perut Tumenggung Wangsa Rana.
Gerakan nya yg cepat, membuat kedua orang itu tidak berani menangkis nya, mereka berdua melompat mundur dan segera memisahkan diri.
Ki Ageng Manguntur yg bersenjatakan sebuah canggah kemudian ganti menyerang Adya Buntala setelah murid dari Mpu Loh Brangsang tersebut mengarhakan serangan nya terhadap Tumenggung Wangsa Rana.
Pertarungan ketiganya pun segera terjadi dengan gerak yg sangat cepat,.meski mereka bertiga sudah tidak muda lagi terlebih Ki Ageng Manguntur.
Kedua nya saling mengisi satu sama lain dengan Tumenggung Wangsa Rana, sehingga sepak terjang dari murid Mpu Loh Brangsang tersebut tidak terlalu leluasa.
Walaupun secara kelebihan , Adya Buntala jelas diatas kedua orang tersebut. Tetapi ternyata untuk seorang Tumenggung Wangsa Rana, cincin yg dipinjamkan oleh Senopati Brastha Abipraya tersebut membawa pengaruh yg luar biasa,. tubuhnya serasa lebih ringan sehingga dengan mudahnya ia dapat mengindari serangan -serangan lawan.
Berbeda dengan Ki Ageng Manguntur,. karena dirinya memang sudah tidak muda lagi,.gerakan nya sedikit lebih lamban hingga suatu ketika,..
" Hiyyahhh,.."
Dalam satu lompatan yg panjang , Adya Buntala mencecar penguasa Menoreh itu dan hasil nya,.
" Akkkhhh,..".
Terdengar keluhan tertahan yg keluar dari mulut Ki Ageng Manguntur,.tangan kirinya terluka sayatan dari golok Murid Mpu Loh Brangsang tersebut.
Ki Ageng Manguntur melompat menjauh , namun Adya Buntala terus memburunya, melihat hal itu Tumenggung Wangsa Rana tidak tinggal diam ia menjulurkan tombaknya untuk menghadang pergerakan dari Adya Buntala.
Murid Mpu Loh Brangsang tersebut tidak jadi melanjutkan serangan nya atas ki Ageng Manguntur, ia berputar sambil menebaskan golok nya ke arah Tumenggung Wangsa Rana, gerakan nya sangat cepat membuat Tumenggung Wangsa Rana terlambat menghindar.
" Ciaaaat,.."
" Craaaakkkh,"
Ujung golok itu mampir di dada dari Tumenggung Wangsa Rana.
" Hehhh,.."
Kedua orang itu sama-sama terkejut setelah melihat tebasan golok tersebut tidak membuat sang Tumenggung menjadi terluka.
Anehhh,..
Itulah yg ada di pikiran dari Tumenggung Wangsa Rana,..mengapa dirinya kebal terhadap senjata tajam padahal ia memang tidak memiliki ilmu sejenis Tameng Waja atau Lembu sekilan.
Tetapi ia tidak terlalu lama memikirkan hal tersebut karena Adya Buntala telah menyerang nya lagi dengan sebuah pukulan tangan kirinya yg jelas mengandung tenaga dalam yg tinggi.
Tumenggung Wangsa Rana memukulkan tongkatnya guna mencegah serangan tersebut.
Akhirnya Adya Buntala menarik pukulan nya sembari melepaskan tendangan setengah lingkaran menyasar pinggang sang Tumenggung.
Tumenggung Wangsa Rana melompat ke samping menghindari serangan tersebut sambil menyodokkan tombak nya mengarah perut dari Adya Buntala.
__ADS_1
Kali ini ganti Adya Buntala yg harus menghindari serangan itu.