Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 6 Pembalasan bagian ke Lima


__ADS_3

Setelah kepergian Mpu Supa Mandrangi dari tempat itu , kedua orang yg masing -masing memiliki dendam itu saling berhadapan.


" Bersiap lah Senopati Brastha Abipraya, hari ini Aku akan jadi malaikat pencabut nyawa mu, jangan salahkan Aku jika Engkau harus mati di tanganku, dendam Kakang Pundirangan harus di balaskan," terdengar ucapan dari Mpu Yasa Pasirangan.


" Maaf sebelumnya Mpu Yasa Pasirangan, demikian lah yg kurasakan sekira sepuluh tahun yg lalu saat itu aku memang masih sangat-sangat kecil, dan saat itu pula Aku telah berjanji di dalam hatiku untuk menuntut balas atas kematian kedua orang tua yg terjadi di depan mataku,!" ungkap Raka Senggani.


" Hehh , jangan kau samakan dendam mu itu dengan dendamku saat ini, Engkau lah yg telah menghabisi nyawa kakang Pundirangan, sedangkan kau , entah siapa yg telah membunuh kedua orang tuamu itu dan aku tidak perduli,dengan nya," kata Mpu Yasa Pasirangan.


" Mpu Yasa salah, jelas - jelas sama rasa sakit akibat yg di tinggalkan oleh orang yg kita cintai yg terjadi di depan mata kita sendiri, dan orang yg telah membunuh kedua orangtuaku itu adalah,.... Mpu Yasa Pasirangan sendiri," teriak Raka Senggani.


Pemudae itu tidak mampu menahan gejolak kemarahan yg timbul di dalam hatinya.


Meskipun suasana pagi masih terasa dingin di tempat itu, tetapi tidak mampu mendinginkan hati kedua orang yg saling berhadapan tersebut.


Adalah Mpu Yasa Pasirangan sendiri lah yg terkejut akibat tuduhan yg telah di lemparkan oleh Raka Senggani atas dirinya itu.


Dengan lantang ia berkata,


" Kau jangan coba mengalihkan pembicaraan , kapan diriku membunuh kedua orang tua mu, bertemu pun secara langsung baru terjadi di tempat ini, jangan membelokkan sesuatu yg tidak pernah aku lakukan, apakah kau memiliki bukti nya,?" tanya Mpu Yasa Pasirangan kepada Raka Senggani.


" Mpu Yasa perlu bukti, baiklah akan kubuktikan, masih ingat kah Mpu Yasa dengan seorang yg bernama Raka jaya yg bertempat tinggal di desa Kenanga,?" tanya Raka Senggani.


" Siapa Raka jaya itu, aku tidak mengenali nya," jawab Mpu Yasa Pasirangan menjawab pertanyaan dari Raka Senggani.


" Mungkin Mpu Yasa telah pikun atau berpura -pura lupa, bagaimana jika Aku menyebut nama Raden Gagak Panggon, apakah Mpu Yasa mengenali nya atau setidak nya tahu dengan nama itu,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Hahhh,!" seru Mpu Yasa Pasirangan sangat terkejut.


" Apa hubungan pemuda ini dengan Raden Gagak Panggon,!" berkata dalam hati Mpu Yasa Pasirangan.


Demikian pula dengan kedua kakak seperguruan nya baik Mpu Loh Brangsang maupun Mpu Supa Mandrangi itu cukup terkejut mendengar nama terakhir yg telah di sebutkan oleh Raka Senggani itu.


Kedua nya lantas mendengarkan pembicaraan dari kedua orang yg sedang berhadapan itu.


" Apa hubungan mu dengan Raden Gagak Panggon, siapa kau sebenar nya,?" tanya Mpu Yasa Pasirangan.


Setelah bethasil meredam rasa keterkejutan nya ia pun memandangi wajah Raka Senggani dengan seksama dari dan dari wajah itu, barulah ia teringat akan kejadian sepuluh tahun yg lalu.


" Benar, wajah nya sangat mirip dengan teman Raden Gagak Panggon yg telah ku bunuh di desa Kenanga waktu itu, siapa dia sebenar nya, benarkah ia putra dari orang tersebut," bertanya di dalam hati nya Mpu Yasa Pasirangan.


" Aku adalah anak dari Raka Jaya teman dekat Raden Gagak Panggon, yg di sebut -sebut memiliki Pusaka Kyai Condong Campur itu, karena beliau adalah Trah Prabhu Brawijaya terakhir dan beliau masih menurut kalian bertiga, menitipkan Pusaka itu kepada Romoku, dan kalian bertiga dengan begitu tega nya telah menghabisi nyawa nya dan nyawa biyung ku, apa salah mereka kepada kalian, salahkah Romo ku yg telah berteman dekat dengan Raden Gagak Panggon itu,?" tanya Raka Senggani lagi.


Mpu Yasa Pasirangan terdiam, ia mengenang saat -saat ia telah menghabisi pasangan suami istri yg ada di desa Kenanga tersebut akibat kedua orang itu tidak mengakui dan tidak mau menunjukkan keberadaan dari Pusaka Kyai Condong Campur itu.


Karena menurut laporan salah seorang yg mereka bisa percayai bahwa pasangan suami istri tersebut tempat menyimpan barang Pusaka tersebut, selain karena Raden Gagak Panggon adalah teman nya, tempat itu pun tidak terlalu di ketahui oleh banyak orang, karena kedatangan Raden Gagak Panggon ke tempat itu selalu menyamar.


" Bagaimana Mpu Yasa Pasirangan, apakah Engkau akan berkelit lagi dari tuduhan ku ini, aku sangat mengingat dengan jelas semua yg terjadi di dalam rumahku itu, ingat dengan sebelah mata mu, ingat dengan bekas sayatan luka didagumu itu, Aku masih sangat ingat bahkan sampai mati pun Aku tidak pernah akan melupakan nya," teriak Raka Senggani.


" Dan satu hal lagi , Mpu Yasa , kematian dari Mpu Phedet Pundirangan itu akibat dari ulah yg telah kalian lakukan, bukankah ia ikut pula di malam kelabu buat ku waktu itu, dan kali ini aku menewaskan nya bukan karena dendam melainkan karena tugas yg telah di bebankan ke atas pundakku oleh Eyang Supa Mandrangi selaku pemimpin pasukan Demak inj, jadi silahkan kepada Mpu Yasa Pasirangan kalau ingin menuntut balas, Aku siap untuk bertanggungjawab atas nya, satu permintaan dari ku, siapa teman Mpu Yasa yg satu nya lagi selain Mpu Phedet Pundirangan itu,?" tanya Raka Senggani.


Kembali Mpu Yasa tidak mampu berkata -kata , ia hanya diam sambil memandang ke arah Mpu Loh Brangsang yg berada agak jauh dari nya.

__ADS_1


Seolah -olah Mpu Yasa Pasirangan meminta pendapat dari Mpu Loh Brangsang itu.


Namun pemimpin Padepokan yg ada di gunung Merapi itu diam saja seakan akan tidak memperdulikan tatapan adik seperguruan nya itu.


Sementara itu Mpu Loh Brangsang sendiri berkata di dalam hatinya, Adya Buntala harus kupercepat untuk mampu sehebat Senopati Demak ini agar mampu menandingi nya, begitulah pikiran dari penguasa Gunung Merapi itu.


" Apa jawaban mu Mpu Yasa Pasirangan, apakah engkau tidak mau mengatakan siapa orang nya yg telah turut membantu kalian berdua itu,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Kau jangan berbelit - belit anak muda, jelas -jelas kaulah yg telah membunuh kakang Pundirangan , sekarang engkau melemparkan tuduhan yg bukan -bukan terhadap ku, sekarang terimalah kenyataannya bahwa Aku akan menuntut balas atas kematian kakakku itu, bersiap lah,!" jawab Mpu Yasa Pasirangan.


Ia berusaha untuk tidak mengakui perbuatan yg telah dilakukan nya tempo dulu itu, ia merasa malu telah di telanjangi dengan ucapan dari Raka Senggani tersebut.


" Baik, Mpu Yasa Pasirangan, jika engkau tidak mau mengakui perbuatan mu terhadap kedua orang tuaku itu tidak mengapa yg jelas saat ini, salah seorang dari pembunuh itu telah tewas di tanganku, mungkin selanjut nya engkau yg akan menyusul,,!" seru Raka Senggani.


Pemuda dari desa Kenanga itu tengah bersiap untuk melakukan pertarungan lagi.


" Jika kau memang berniat membalaskan dendam mu itu kepada ku ,silahkan, tapi jangan harap kau mampu mengalahkan ku, terima ini, heaahh,!" teriak Mpu Yasa Pasirangan.


Adik seperguruan dari Mpu Loh Brangsang itu dan Mpu Supa Mandrangi langsung menyerang Raka Senggani.


" Memang sudah sewajar nya Mpu Yasa Pasirangan menerima balasan dari apa yg telah kau lakukan, Mpu, terlalu banyak dosa mu termasuk ketika kau menjadi momok yg menakutkan sebagai Si Topeng Iblis, dosa mu sudah setinggi gunung, dan kau harus menerima, balasan nya, ciaaaaat,!" teriak Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya itu segera menghindar sambil memberikan tendangan balasan, membuat Mpu Yasa Pasirangan yg harus berusaha menepis tendangan itu dengan kedua tangan nya.


Pertarungan antara kedua orang yg masing-masing menyimpan dendam itu tidak dapat dielakkan lagi, baik Mpu Yasa Pasirangan dan Raka Senggani telah mengetahui kemampuan masing-masing, namun yg tidak di sadari oleh Mpu Yasa Pasirangan, akibat kekalahan Raka Senggani dari Resi Brangah di kaki gunung Lawu telah membuat pemuda itu kembali dengan kemampuan yg berkali -kali lipat berkat pertolongan dari Panembahan Lawu.


Sebentar saja Mpu Yasa Pasirangan telah terdesak , beberapa kali ia harus menerima pukulan dan tendangan dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Sesàat Mpu Yasae berhasil menghindari sebuah serangan dengan harus mengemposi tenaga dalam nya, ia melompat cukup tinggi, namun terus di buru oleh Raka Senggani sehingga pertarungan di udara itu pun semakin sengit, beberapa kali pukulan tangan kosong dari nya berhasil menyusup masuk ke dada Mpu Yasa Pasirangan.


" Dhiekk, dhieekhh, degh,"


Tubuh Mpu Yasa Pasirangan meluncur deras jatuh ke atas tanah.


Raka Senggani terus mengejar , akan tetapi , tiga buah senjata rahasia langsung melesat menuju ke arah Sang Senopati tersebut.


" Aakkh,"


Terdengar teriakan dari mulut Raka Senggani, sebuah pisau kecil yg merupakan senjata rahasia milik dari Mpu Yasae Pasirangan itu menancap di bahu kiri nya.


Ternyata tingkat kewaspadaan dari Senopati Brastha Abipraya itu berkunang akibat rasa dendam di dada nya yg terasa meledak -ledak.


" Ha, ha, ha, sebentar lagi dendam kakang Pundirangan akan terbalaskan, karena racun di dalam pisau itu akan segera membunuhmu , anak muda, Ku kira tidake terlalu sulit untuk mengalahkan mu, mungkin kakang Pundirangan saja yg kurang beruntung, tetapi diri ku memang berada di pihak yg benar semua tuduhan mu itu tidak beralasan, wahai Senopati," ucap Mpu Yasa Pasirangan mengejek.


Raka Senggani menatap nyalang ke arah Mpu Yasa Pasirangan itu, perlahan-lahan ia mencabut senjata yg menancap di pundak nya itu.


" Hieehh,"


Darah keluar dari bekas senjata tersebut menancap, dengan bersamaan pandangan nya berkunang-kunang.


Raka Senggani langsung merogoh sebutir obat dari balik bajunya dan langsung menelan nya.

__ADS_1


" ******* kau Mpu Yasa , Kau licik dan curang, dimana sikap Satria mu, menyerang dengan cara curang," teriak Raka Senggani


Kepala Senopati handal asal Pajang itu terasa berat dan sangat pusing, ia segera mengerahkan hawa murni nya kearah pundak nya itu.


" Ini adalah pertarungan , apapun boleh dilakukan di dalam setiap pertarungan , oleh sebab itu memang sudah menjadi nasib mu Senopati Brastha Abipraya harus mati di tangan ku, Heiyyyahh,!" teriak Mpu Yasa Pasirangan.


Laksana terbang Mpu Yasa melesat memberikan tendangan ke dada Raka Senggani yg lagi berusaha memulihkan tubuh nya itu.


" Dhiekk dhieekhh dhieeeghh,"


Tiga kali tendangan yg berisi tenaga dalam tingkat tinggi itu menghantam dada dari Raka Senggani, pemuda itu nampak terlempar cukup jauh akibat dari serangan Mpu Yasa itu.


Raka Senggani berusaha bangkit dari tanah sambil menggapai keris Kyai Macan Kecubung yg terselip di pinggangnya itu.


Ia dengan cepat mengeluarkan nya dan langsung mengangkat tinggi tinggi keris Kyai Macan Kecubung itu.


" Romo , mungkin aku akan mati, tetapi sebelum mati , pembunuh Romo ini pun harus mati di tangan ku,!" ucap nya dalam hati.


Perlahan ia merapal ajian Sangga Kalimasada, karena telah dirasakan nya tubuhnya sudah sangat sulit untuk di gerakkan akibat racun yg mulai menjalar di dalam tubuh nya, mau tidak mau ia akan mengadu nyawa dengan Mpu Yasa Pasirangan itu, karena dendam di hati nya tengah membuncah.


" He,he, he bersiap lah untuk mengikuti kakang Pundirangan , Senopati Brastha Abipraya,!" ucap Mpu Yasa Pasirangan.


Orang tua itu mendekati tubuh Raka Senggani yg sedang duduk bersila memeusatkan seluruh akal budi nya pada satu titik yaitu Sang Maha Kuasa pencipta alam semesta, dengan merapal kan ajian Sangga Kalimasada, Raka Senggani bersiap menanggung resiko apa pun yg terjadi atas diri nya itu.


Ia sudah tidak terlalu memikirkan keselamatan jiwa nya karena dengan mengerahkan segenap ilmu nya tentu akan membuat racun di dalam tubuh nya semakin cepat menjalar menuju jantung nya.


" Terima lah kematian mu , Senopati agung Demak, hiyyyah,!" teriak Mpu Yasa Pasirangan.


Ia melepaskan ajian pamungkas nya untuk mengakhiri hidup dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Para yg hadir di tempat itu tidak sempat melarang perbuatan dari Mpu Yasa Pasirangan tersebut, karena sikap yg sedemikian itu melanggar paugeran di dalam sebuah perang tanding.


Termasuk Mpu Supa Mandrangi, sebenar nya ia akan melarang perbuatan dari adik seperguruan nya itu namun terlambat , Mpu Yasa Pasirangan telah melepaskan ajian pamungkas nya.


Raka Senggani, pun tidak mau tinggal diam ia pun , mengadu ilmu nya dengan ilmu Mpu Yasa Pasirangan itu.


" Aji Sangga Kalimasada , heaahhh,!"


" Dhumbh, Blegaaaarrrr,"


Terdengar suara yg memekak kan telinga akibat benturan kedua ajian itu, dalam jarak lima langkah, kedua orang itu sama -sama terpental jauh .


Dan kedua orang itu sama -sama tidak ada yg mampu untuk bangkit.


Tidak menunggu lama , Mpu Supa Mandrangi melesat mengejar tubuh Raka Senggani dan segera memeriksa tubuh Senopati Pajang itu,


" Hemmphh , ia masih bernafas meski sangat halus,!" berkata Mpu Supa Mandrangi dalam hati.


Terlihat wajah dari Empu kerajaan Demak itu bias kebahagiaan, karena seandai nya Senopati Pajang itu tewas ialah yg paling merasa bersalah.


Berbeda dengan Mpu Loh Brangsang yg sedang memeriksa tubuh adik seperguruan nya itu, terlihat ada wajah kesedihan nampak di raut wajah nya, ia berulang kali memeriksa tubuh dari Mpu Yasa Pasirangan itu, tetapi tetap sama.

__ADS_1


__ADS_2