
" Kakang,...mengapa kakang biarkan orang itu melarikan diri,..!" seru Sari Kemuning.
Putri Ki Jagabaya ini lantas mengahmpiri suaminya yg masih tegak berdiri menatap ke arah kepergian dari Aji Wangka itu, ia memang tidak berniat untuk melakukan hal tersebut.
" Biarlah ia pergi, Kemuning,..tidak usah di kejar,." ucap Raka Senggani.
Ia memegang tangan istrinya dan mengajak untuk duduk di sebuah pohon tumbang yg tidak berada jauh dari tempat mereka berdiri.
Sari Kemuning merasa tidak puas dengan ucapan suaminya itu , segera setelah duduk ia pun bertanya kembali,
" Mengapa kakang biarkan orang tersebut melarikan diri dan dapat lolos meninggalkan tempat ini, bukankah kakang dapat melepaskan ajian Wajra Geni guna menghentikan langkah nya itu,..?" tanya Sari Kemuning.
Di hati putri Ki Jagabaya ini terlihat kurang senang atas apa yg telah di perbuat oleh sang suami.
Ia bahkan meyebutkan suami nya ini memang dengan sengaja membiarkan Aji wangka untuk dapat melarikan diri.
" Memang kakang tidak ingin mengejar nya ,Kemuning,.!" kata Raka Senggani.
Ia masih menggenggam tangan sang istri, Sari Kemuning.
" Mengapa kakang Senggani melakukan hal itu,..?" tanya Sari Kemuning.
Dengan tersenyum , sambil meraba dan mengelus perut sang istri, Raka Senggani kemudian berkata,..
" Sebenarnya kakang tidak ingin melukai , apalagi sampai membunuh seseorang tanpa alasan yang jelas di karenakan dirimu masih dalam keadaan mengandung anakku,.. Kemuning , dan alasan yang kedua adalah sesungguhnya orang yg menamakan dirinya Aji wangka ini memang bukan musuh , hanya telah terjadi kesalah pahaman saja mengenai siapa pembunuh gurunya itu, dan kemampuan nya pun tidak terlalu membahayakan, sudahlah sebaiknya kita melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman di jalan,..!" ungkap Raka Senggani.
ia mengajak istrinya untuk bangkit guna melanjutkan perjalanan kembali menuju ke desa Kenanga.
Sari Kemuning yg telah berdiri , merasakan perhatian dari sang suami atas dirinya membuat hatinya tersentuh.
" Pamali katanya, jika kita harus membunuh di saat istri kita sedang mengandung, " ucap Raka Senggani lagi.
Kemudian ia menanyakan kepada Sari Kemuning, apakah dirinya masih mau ia gendong lagi.
" Tidak kakang, Kemuning rasa lebih baik berjalan saja agar bayi di dalam perutku ini jadi sehat dan kuat seperti dirimu , Kakang Senggani,.jadi sejak dalam kandungan ia harus mulai belajar untuk jadi tangguh ,..!" jawab Sari Kemuning.
Sambil tersenyum Raka Senggani menarik tangan istrinya itu dengan lembut seraya berkata,..
" Marilah kita tinggalkan tempat ini,.."
Dan keduanya pun meninggalkan kaki Gunung Lawu itu menuju desa Kenanga.
***********
Di sebuah desa kecil, di saat sore telah menyapa tempat itu tampaklah seorang gadis yang berwajah cantik tengah singgah di sebuah warung.
Dirinya tampak sedang menyantap makanan meski sesekali ia mengedarkan pandangan matanya melihat keadaan di dalam warung itu.
Dengan lahapnya ia pun menghabiskan makanan nya tidak tersisa, kelihatanya gadis cantik ini memang sangat lapar.
Setelah selesai makan nya gadis itu memanggil pelayan warung tersebut dan berkata,..
" Bi,..berapa harga makanan ini ,.?" tanya nya.
Dan perempuan paruh baya yang memiliki warung itu menjawabnya,.
" Dua kepeng ,.nduk,..!" jawab pelayan warung itu.
Gadis cantik itu merogoh ke balik baujnya dan menyerahkan dua kepeng uang perak kepada perempuan paruh baya pemilik warung tadi.
" Terima kasih ,..Dhuk,." ucap pemilik warung itu lagi.
Ia pun akan berlalu dari tempat tersebut, dan langkah kaki nya terhenti setelah gadis cantik tadi berseru,.
" Oh iya,. BI,..dimana letak penginapan,..?" tanya gadis cantik ini.
Perempuan paruh baya pemilik warung itu kembali lagi menuju tempat gadis cantik tadi dan segera menjawab pertanyaan nya,..
" Disini tidak ada penginapan ,..Dhuk,.." jawabnya.
" Jadi dimana aku dapat menginap BI,.. apakah tidak ada rumah yg dapat dijadikan sebagai tempat untuk menginap,..?" tanya gadis cantik itu lagi.
Pemilik warung itu sempat terdiam , karena dirinya adalah seorang pedagang maka jiwa dagang nya pun segera berkata, ini adalah kesempatan untuk menampung gadis cantik yg ada dihadapan nya itu di rumah nya.
Hitung hitung, lumayan juga , tentu dirinya akan mau membayar nya,.. berkata dalam hati pemilik warung itu.
Ia segera menjawab nya pertanyaan dari gadis cantik ini,..
" Di rumah bibi pun bisa di jadikan untuk tempat menginap, nduk,..!" ucap pemilik warung itu.
Meski ketika ia membayangkan wajah suaminya , hati kecil nya segera berkata , mudah mudahan kakang Sumirat tidak akan macam-macam terhadap gadis cantik ini, katanya dalam hati.
Saat itu memang masih banyak pengunjung warung itu, karena desa ini memang kecil tetapi merupakan pintasan untuk ke beberapa kota kadipaten.
Akan tetapi saat ini berberapa wilayah yg masuk dalam Kerajaan Demak telah terjadi banyak sekali kerusuhan yang di sebabkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka memanfaatkan kesempatan dimana saat ini keadaan kerajaan Demak dalam keadaan tidak menentu tentu saja dengan leluasa para perampok dan begal dapat melakukan keinginan dengan sangat mudah, di tambah lagi para pemimpin dari kadipaten kadipaten yg berada di bawah kekuasaan kerajaan Demak pun melakukan hal yg sama pula.
Jadi membuat keamanan dari daerah daerah yang cukup jauh dari Kotaraja Demak ataupun kota kadipaten menjadi rawan dengan terjadinya perampokan.
__ADS_1
Demikian pula di desa yg di singgahi oleh gadis cantik ini. Meskipun tempat itu menjadi lalu lalang para pedagang ataupun pelancong yang ingin ke berbagai kota membuatnya tidak lepas dari intaian para perampok tersebut.
Ketika malam telah turun menyelimuti desa kecil ini, Gadis cantik yg ingin menginap di desa tersebut segera mengikuti seorang pelayan yang akan mengantarkan nya.
Dan orang itu adalah seorang gadis juga yg masih berusia muda.
Keduanya berjalan dengan tidak terlalu cepat, meskipun desa ini sudah mulai gelap.
Sambil berjalan gadis cantik ini langsung bertanya kepada perempuan muda yang menjadi teman nya itu,..
" Siapa namamu ,..?" tanya Gadis cantik ini.
" Oh , iya mbak ,..kenalkan namaku adalah Surti,.." sahut perempuan pelayan warung itu.
" Ahh.jangan panggil mbak. sebut saja namaku ,Rindayu,.bukankah kita masih seumuran,..ngomong ngomong dimana dirimu tinggal Surti,..?" tanya gadis cantik itu.
Yang ternyata gadis cantik ini adalah Tara Rindayu.
" Baiklah , Rindayu,.. Aku tinggal bersama Nyai Sumini,.." jawab Surti.
" Siapa Nyai Sumini itu dan dimana tinggal nya,..?" tanya Tara Rindayu lagi.
" Oh iya,..nyai Sumini itu adalah orang yang menjadi pemilik warung itu,..Rindayu,.." jelas Surti.
" Jadi aku malam ini akan tinggal bersama mu , Surti , ." seru Tara Rindayu senang.
Karena sudah cukup lama gadis cantik yg berasal dari desa Kenanga ini tidak memiliki teman yang sebaya dengan nya, ia telah di kucilkan oleh orang-orang di desa Kenanga sehingga dirinya sekarang banyak bergaul dengan orang-orang yang berusia lebih tua dari nya.
Dengan gadis yang bernama Surti ini, ada perasaan yg cocok untuk mengobrol sehingga keduanya pun seperti seorang teman yang sudah lama saling kenal.
" Jadi sudah berapa lama dirimu tinggal dengan keluarga Nyai Sumini itu, Surti ,..?" tanya Tara Rindayu
" Sudah cukup lama mungkin sudah belasan tahun sejak diriku masih kecil,.." jawab Surti.
Gadis pelayan warung ini mengatakan kepada Tara Rindayu bahwa mereka telah sampai di rumah sang pemilik warung tersebut.
" Kita sudah sampai , Rindayu , itulah rumah Nyai Sumini,."
Ucap Surti sambil menunjuk ke sebuah rumah yang tepat berada di pinggir jalan , cukup besar rumah tersebut d bandingkan dengan rumah yg ada di dekatnya.
" Ternyata Nyai Sumini lumayan kaya, Surti, rumahnya pun lumayan besar,.." seru Tara Rindayu.
Setelah melihat rumah yg memiliki halaman cukup luas dan di kelilingi oleh pagar yg agak tinggi.
Kesuanya pun segera melangkah masuk ke dalam.
" Tentu dirimu merasa senang tinggal dengan mereka , Surti,.!" kata Tara Rindayu lagi.
Gadis pelayan warung itu diam tidak menjawab perkataan dari Tara Rindayu sambil membuka pintu pagar dan langsung menuju pendopo rumah. Meskipun keadaan sudah cukup gelap akan tetapi lampu di rumah itu masih belum menyala .
" Apakah di rumah ini tidak ada orang nya ,selain dirimu dan Nyai Sumini,..?" tanya Tara Rindayu penasaran.
Sambil menyalakan lampu yg ada di pendopo, Surti membuka pintu rumah yg cukup besar tersebut dan mengajak masuk Tara Rindayu.
" Marilah kita masuk,.!" ajak Surti.
Tara Rindayu mengikuti langkah Surti dari belakang dan menuju sebuah bilik yg berada di sentong kanan dari rumah tersebut.
Surti kemudian membuka sebuah bilik dan masuk ke dalam nya diikuti oleh Tara Rindayu.
" Inilah bilik ku,..Rindayu,.!" kata Surti.
" He,. lumayan besar bilik mu ini ,.Surti,.." seru Tara Rindayu.
Putri Juragan Tarya ini memandangi keadaan dari bilik tersebut. Ia teringat dengan keadaan rumahnya yang berada di desa Kenanga,..bahwa bilik nya yg ada disana pun cukup luas seperti bilik kamar Surti ini.
" Besar juga bilikmu ini Surti,..dengan siapa kau tinggal,..?" tanya Tara Rindayu.
Sambil meletakkan pantatnya di sebuah amben bambu yg ada di dalam bilik tersebut , Surti menjawab pertanyaan Tara Rindayu.
" Diriku tinggal seorang diri di dalam bilik ini,..Rindayu,." jawab Surti.
Ia mempersilahkan kepada Tara Rindayu untuk duduk.
Kemudian putri juragan Tarya menanyakan sesuatu yang cukup aneh menurutnya.
" Mengapa bilik yang sebesar ini banyak lobang-lobang nya dan harus di tutup seperti itu,.?" tanya Tara Rindayu lagi.
Ia cukup penasaran dengan keadaan bilik itu.
Surti Kemudian mendekati Tara Rindayu dan membisiki sesuatu di telinganya, mendengar perkataan gadis tersebut , putri juragan Tarya nampak kaget sampai berseru,..
" Hahh,.."
" Sssthh,..jangan berkata keras -keras, nanti qda yg mendengar,..!" ucap Surti.
Tara Rindayu sampai menutup mulutnya tiba-tiba.
__ADS_1
Ia sungguh penasaran dengan orang yang bernama Ki Sumirat itu, Lelaki yang menjadi suami dari Nyai Sumini pemilik warung tersebut
Seperti apa orang yang bernama Sumirat itu, pikir Tara Rindayu.
Putri Juragan Tarya itu menanyakan diantara kedua suami istri itu, yg manakah yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Surti.
Oleh Surti dikatakan bahwa Nyai Sumini lah yang masih hubungan darah dengan nya.
Untuk itulah setelah kedua orang tua nya meninggal dunia, dan dirinya masih sangat kecil, ia diangkat anak oleh Nyai Sumini dan tinggal bersama mereka.
Ketika keduanya masih asyik mengobrol, terdengar kemudian langkah seseorang yang memasuki rumah tersebut sambil batuk -batuk.
Orang tersebut langsung berteriak ketika sudah berada di dalam.
" Surti,..!"
" Surti,..!"
" Surti,..!"
Lelaki yang baru masuk itu memanggil manggil nama Surti dan oleh gadis tersebut langsung dijawab.
" Iyaa,..ada apa Paman,..?" tanya nya.
" Lekas siapkan air panas, aku ingin mandi , cepaaaat,..!" seru Lelaki itu.
Ia lah Ki Sumirat suami dari Nyai Sumini.
" Baik,..paman,..!" jawab Surti dari dalam.
Bergegas gadis itu keluar dari dalam bilik nya dan segera pergi menuju dapur.
Tidak lama kemudian gadis ini telah menjerang air di sebuah tungku yg berada di dapur. Cukup cekatan kerja Surti, karena dirinya memang telsh terbiasa melakukan nya di warung.
Sedang di balik daun pintu yg ada pada bilik Surti , sepasang mata indah tengah memperhatikan Lelaki yang ada di ruangan tengah itu.
Tara Rindayu yg penasaran dengan lelaki bernama Sumirat ini mengintip dari pintu. Ia melihat ternyata Lelaki itu tidak muda lagi , rambutnya sebahagian telah memutih sedang perutnya terlihat buncit.
Kalau dilihat-lihat , orang ini sudah cukup tua jika di banding dengan Nyai Sumini pemilik warung itu, berkata dalam hati Tara Rindayu.
Ia masih saja memperhatikan tingkah lelaki tersebut.
Ketika lelaki itu bangkit dari duduk nya dan pergi menuju dapur , Tara Rindayu yg penasaran segera mengikutinya dari belakang.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara teriakan dari Surti,..
" Jangan ,..Paman,.."
" Jangaaaaann,."
Terdengar suara jeritan yg keluar dari mulut gadis itu.
Surti berusaha dengan sekuat tenaga nya menepis tangan Ki Sumirat yg mencoba menggeranyangi nya.
Melihat tingkah yg tidak senonoh dari Lelaki itu, Tara Rindayu sudah sangat geram sekali , ia ingin segera menghajar nya, namun niat nya itu ia urungkan setelah mendengar perkataan seseorang dari luar rumah.
" Surti,..tolong bantu Bibi,..!"
Ternyata Nyai Sumini telah kembali dari Warung.
Membuat Ki Sumirat menghentikan perbuatan nya, ia pun segera masuk ke ruang tengah lagi.
Di ikuti pula oleh Surti dari belakangnya.
" Ehh,..Nyi sudah kembali,.!" serunya kepada sang istri.
Nyai Sumini masih berada di depan pintu.
Kemudian Surti mengambil beberapa barang yang di bawa oleh Nyai Sumini dari Warung itu.
Tanpa memperdulikan perkataan suaminya , Nyai Sumini kemudian bertanya kepada Surti.
" Surti,.. dimana gadis cantik yang ingin menginap itu,..?" .
" Ia ada di dalam bilikku,..Bi,..!" sahut Surti.
Gadis itu bergegas masuk sambil membawa barang bawaan dari warung tersebut.
Adalah Ki Sumirat yg terkejut setelah mendengar ucapan dari istrinya ini.
" Siapa Nyai,...gadis cantik,..perasaan tidak ada orang disini selain Surti,..?" kata Ki Sumirat.
" Kamu tuh ya kang,..kalau di sebut gadis cantik ,..telingamu langsung bener dan matamu sampai melotot begitu,..!" ucap istrinya.
" Ahh , yo mbok ojo keleru,..Aku kan cuma bertanya,..jika memang ada tamu , aku bisa tidak tahu,..!" kata Ki Sumirat lagi.
Ia pun menyusul istrinya yang melangkahkan kaki nya masuk ke dalam dan terus menuju dapur.
__ADS_1