
Setelah dua orang pemuda dari desa Kenanga itu beristrahat. Raka Senggani berjalan -jalan di kota Pajang, ia berniat akan ke pasar ada sesuatu yg hendak di belinya sebelum besok berangkat ke aLas Mentaok.
Di sudut pasar , tepatnya pada ujung jalan masuk Senopati Brastha Abipraya itu menemui seorang pengemis yg tengah duduk menadahkah tangan nya.
" Sedekahnya tuan,.sudah satu hari ini saya belum makan,.." ucap pengemis.
Dengan nada lirih dan sangat pelan, Raka Senggani segera berpaling ke arah pengemis itu.
Agak aneh menurut nya sosok pengemis tersebut. Karena dengan badan tegap dan tampak kokoh walau usia nya sudah memasuki paruh baya,, namun dari sisi fisiknya tentu ia masih mampu untuk bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi tidak hanya jadi pengemis yg meminta -minta.
Punya Tubuh yg kuat dan tanpa cacat mengapa harus meminta-minta,..pikir Senopati Pajang.
Perlahan ia mendekati sosok pengemis itu dan begitu dekat ia merogoh dari balik saku nya untuk mengambil sekepeng uang perak lalu di berikannya kepada pengemis itu.
Sang Pengemis sangat senang sekali sampai mencium tangan Senopati Pajang itu berkali -kali sembari berkata,
" Lintang Kemukus terlalu cepat terbitnya,. padahal pitik Banyak Angkrem,.." ucapnya.
" Hehhh,.."
Senopati Pajang itu tersentak kaget ,..akan tetapi sang Pengemis telah berlalu dengan cepatnya dari tempat semula ia duduk.
Pengemis itu masih sempat berseru,..
" Terima kasih Tuan,..kita pasti akan bertemu di Prambanan,.."
Dan ia pun semakin jauh meninggalkan Senopati Pajang itu berdiri terpaku. Lagi -lagi ia bertemu sesosok prajurit sandi Demak yg cukup aneh kelakuan nya.
Tidak terlalu berlama -lama ia segera masuk ke dalam pasar yg masih cukup ramai. Raka Senggani berniat membeli sebuah kain panjang dan satu pakaian lengkap untuk seorang perempuan.
Setelah memilih kain dan pakaian tersebut,. Senopati Pajang lantas membayar nya dan membawanya pulang menuju rumah Tumenggung Wangsa Rana.
Sedangkan di dalam rumah Tumenggung tersebut telah cukup banyak orang yg datang. Mereka adalah para prajurit Pajang yg akan di bawa oleh Senopati Brastha Abipraya ke Alas Mentaok , dan mereka terdiri dari para prajurit te pilih Pajang. Banyak yg berpangkat Lurah prajurit dan hanya sedikit yg dari prajurit biasa.
Ketika sampai di sana kemudian Raka Senggani menjelaskan kepada para prajurit Pajang itu bahwa lawan kali ini yg akan di lawan bukanlah lawan seperti para prajurit biasa,.karena mereka umum nya memiliki kepandaian yg cukup lumayan dalam bertarung sendiri -sendiri, jadi para prajurit pun harus demikian pula,.terlebih kali ini jumlah pasukan Pajang hanya sedikit,.tentunya mereka lah yg harus mampu mengurangi jumlah musuh yg kemungkinnanya tiga kali lipat banyak nya.
Sampai malam pertemuan di rumah Tumenggung Wangsa Rana itu berlangsung. Dengan semakin mematangkan siasat sandi yg akan mereka gunakan ,.bahkan dari berita yg di dengar oleh sang Senopati Pajang.
Para Kawanan rampok itu telah memasang jaring jaring telik sandinya mulai dari Macanan. Sehingga mereka sudah harus bersiap sebelum tiba disana. Dan pada keberangkatan esok pagi mereka semua nya akan berjalan kaki, dan bergerak secara berangsur -angsur,..kelompok prajurit akan dibagi menjadi sepuluh dan tiap -tiap kelompok akan diisi oleh tujuh orang prajurit dengan satu orang pemimpin nya.
Setelah selesai semua penejlasan yg di berikannya,. maka seluruh prajurit yg akan berangkat itu di persilahkan untuk beristrahat.
Kemudian para prajurit Pajang yg akan berangkat itu pun segera melakukan semua perintah dari sang Senopati.
Tinggallah beberapa orang saja yg masih melakukan pembicaraan di pendopo rumah Tumenggung Wangsa Rana tersebut.
Termasuk didalamnya Tumenggung Wangsa Rana sendiri.
Ia menanyakan sesuatu yg aneh menurut nya kepada Raka Senggani. Senopati Brastha Abipraya itu tampak tersenyum setelah mendengar pertanyaan dari Tumenggung Wangsa Rana yg tidak ada sangkut paut nya dengan permasalahan yg mereka bicarakan saat itu, karena Tumenggung Wangsa Rana menanyakan untuk apa kain panjang dan pakaian Perempuan itu.
Agak tersipu malu Senopati Pajang mengatakan bahwa dirinya akan memberikan kain dan pakaian itu untuk putri Ki Jagabaya desa Kenanga, ucapnya.
Tumenggung Wangsa Rana maklum atas semua perkataan dari Senopati Pajang tersebut.
Malam terus berjalan, dan mereka pun masih asyik berbicara. Dan pada esok hari nya , seluruh prajurit Pajang yg akan berangkat itu telah siap, termasuk juga dengan Tumenggung Wangsa Rana sendiri.
Berangsur -angsur para prajurit itu bergerak meninggalkan kota Pajang menuju alas Mentaok dengan tidak berjalan bersama. mereka memecah jadi sebelas kelompok dan paling depan adalah Tumenggung Wangsa Rana dan Senopati Brastha Abipraya dengan ditemani oleh Japra Witsngsa dan Jati Andara.
Tanpa menggunakan pakaian keprajuritan Pajang, tidak ada umbul -umbul dan tanda yg lain nya.
Mereka bergerak seperti orang biasa yg melakukan perjalanan.
Jumlah yg tidak terlalu banyak memang memudahkan untuk bergerak.
Satu persatu prajurit sandi Demak mulai bergabung ke dalam pasukan yg tidak utuh tersebut.
__ADS_1
Sampai di Macanan sudah ada lima prajurit sandi Demak yg bergabung.Dari mereka itulah di ketahui bahwa para kawanan begal Alas mentaok itu tidak menumpuk para anggota nya di Alas mentaok saja ,.tetapi sejak dari Macanan mereka sudah menempatkan orang -orang nya.
Oleh Raka Senggani kemudian di tanyakan apakah para perampok dapat di lumpuhkan supaya mereka tidak akan membantu pemimpin nya tepat di seberang kali Opak
Para Prajurit sandi Demak mengatakan, bahwa mereka dapat melumpuhkan para kawanan rampok itu mulai dari Macanan.
Sehingga diambil kesepakatan agar beberapa orang prajurit Pajang itu akan meenyerang para kawanan rampok yg ada di daerah Macanan tersebut.
" Baiklah ,..segera kita serang para perampok yg ada di Macanan ini, kira -kira berapa jumlah meraka,?" tanya Senopati Brastha Abipraya.
" Mungkin tidak lebih dari duapuluh orang saja Senopati,.." jawab Ki Lintang Gubuk Penceng.
Setelah mengetahui jumlah mereka yg ada di Macanan itu tidak terlalu banyak maka Senopati Pajang kemudian memerintahkan hanya sepuluh orang saja yg akan menghadapinya.
Namun sebelum mereka berangkat,..tidak lupa Raka Senggani memberikan air minum yg telah di celupkan ke dalam nya cincin sang Senopati.
Baru setelah nya ke sepuluh orang itu bergerak menuju sebuah hutan yg tidak terlalu lebat, mereka dipimpin oleh ki Lintang Gubuk Penceng.
Para prajurit Pajang itu bergerak dengan perlahan mencapai tempat yg di jadikan oleh para kawanan rampok itu sebagai sarang mereka.
Sementara para prajurit Pajang yg lain terus saja bergerak menuju Prambanan.
Yang akan mereka jadikan sebagai landasan menyerang Alas Menatok itu.
Disana, Senopati Pajang dan Tumenggung Wangsa Rana bertemu lagi dengan lima orang prajurit sandi Demak.
Diantara mereka adalah Ki Jaka Belek dan Ki Banyak Angkrem.
Baru setelah nya datanglah Ki Lintang Wuluh , Ki Lintang Waluku, baru yg terakhir Ki Pedati Suwung.
Dari Ki Lintang Wuluh di dapat berita bahwa jumlah kawnana rampok yg ada di Prambanan itu cukup banyak.
Ia juga melihat ada pergerakan dari beberapa orang dari arah menoreh, ia tidak tahu apakah mereka itu merupakan para kawanan rampok atau merupakan para pengawal tanah Perdikan itu yg sengaja di kirim oleh Ki Ageng Manguntur.
Dalam hal ini , sebagai seorang prajurit, baik Raka Senggani dan Tumenggung Wangsa Rana harus secepatnya mengetahui siapa mereka itu apalagi jumlah meraka lumayan banyak .
Oleh Senopati Pajang kemudian di perintahkan lah Ki Jaka Belek untuk mengetahui siapa mereka yg tengah mendekat itu.
Sangat cepat Ki Jaka Belek langsung bergerak meninggalkan pasukan Pajang yg tengah berhenti di Prambanan dan tengah menyiapkan penyerangan ke Alas Mentaok.
Tetapi menurut Ki Banyak Angkrem dengan ucapan sandinya bahwa tikus -tikus yg ada di Prambanan itu pun harus segera di musnahkan agar kelak tidak akan menggerogoti.
Raka Senggani pun setuju,..ia mengirimkan tiga puluh orang yg akan memberantas para tikus -tikus itu.
Kembali pasukan Pajang memecah pasukan nya untuk menumpas para kawanan rampok yg ada di Prambanan .
Jumlah mereka memang lebih banyak dari yg ada di Macanan. Tidak lama setelah pasukan Pajang berangkat
Pasukan yg dari Macanan pun telah kembali dan mereka berhasil dalam misinya kali ini.
Mendapatkan laporan yg cukup memuaskan dari Ki Lintang Gubuk Penceng tidak membuat besar kepala sang Senopati , karena tujuan mereka masih berada di seberang sana.
Saat menjelang sore, Ki Jaka Belek datang lagi,.dan ia mengatakan bahwa yg datang itu adalah para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh yg di pimpin langsung oleh Ki Ageng Manguntur.
Mendengar ucapan dari Ki Jaka Belek itu, Raka Senggani senang mendengar nya.
Mereka pun menunggu kedatangan para pengawal tanah Perdikan Menoreh dan juga pasukan Pajang yg dipimpin oleh Ki Banyak Angkrem
Ketika hari telah malam barulah mereka menerima kedatangan dari para pengawal tanah Perdikan Menoreh yg memang di pimpin oleh Ki Ageng Manguntur.
Sedangkan pasukan Pajang yg di pimpin oleh Ki Banyak Angkrem belum pun datang setelah , malam sampai puncak nya barulah pasukan itu datang dengan selamat tidak ada yg tewas dalam penyerangan itu.
Sementara itu di Alas Mentaok sendiri,..Arya Pinarak agak terkejut memdengar laporan dari para anggota nya, bahwa beberapa orang mereka yg ada di Macanan dan Prambanan tidak memberikan laporan kepadanya.
Ketika menjelang pagi barulah datang salah seorang anggotanya dengan tubuh penuh luka dalam keadaan sekqrat, ia mengatakan bahwa mereka di serang oleh beberapa orang yg tidak mereka kenal dan bertindak sangat cepat sehingga mereka tidak bisa berbuat apa -apa. Setelah memberikan keterangan itu orang tersebut pun menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
Arya Pinarak sangat geram mendengar ucapan dari orangnya itu,.menurutnya siapakah mereka yg telah berani membuat masalah dengan nya,. apakah mereka tidak mengenal diriku, begitulah kata nya dalam hati.
Memang Arya Pinarak tidak meyakini bahwa akan ada prajurit Pajang yg akan datang lagi untuk menyerang mereka .
Tetapi kiranya orang yg telah berani dengan nya, agak lama ia mencari tahu siapa mereka sebenarnya, tetapi ia tidak juga mendapatkan jawabannya.
Akhirnya Arya Pinarak mengirimkan dua orang kepercayaan nya untuk mencari tahu apa sebenarnya yg telah terjadi.
Dua orang kepercayaan dari Arya Pinarak kemudian menyebrang Kali Opak, mereka kemudian menyusup masuk mendekati ke tempat dimana para pasukan Pajang berada.
Keduanya melihat bahwa di prambanan telah terkumpul banyak orang tanpa memiliki indentitas apa -apa.
" Siapakah mereka itu Kang,.." tanya salah seorang anggota dari Arya Pinarak.
" Entahlah , aku tidak tahu, seharusnya Ki Roso tahu siapa mereka itu, mari kita temui mereka,.." ucap temannya.
Kedua nya segera mendekati sarang mereka yg ada di Prambanan, setelah mereka tiba disana , alangkah nya terkejut nya mereka karena tidak menemui satu orang pun yg ada disana.
Dengan cepat keduanya kembali pulang ke Alas Mentaok untuk melaporkan kepada Arya Pinarak.
Sangat terkejut Arya Pinarak setelah mendengar penjelasan dari kedua orang kepercayaan nya , dengan cepat ia memerintahkan kepada orang Kepercayaan nya untuk melaporkan hal itu kepada Adya Buntala yg ada di Merapi.
Arya Pinarak berkeyakinan , ada sepasukan prajurit yg kemungkinnanya akan menyerang mereka.
Apakah mereka dari Kotaraja Demak, kalau dari Pajang tidak mungkin, itulah yg ada dalam pikirannya.
Malam itu juga orang Kepercayaan dari Arya Pinarak segera bergerak ke Gunung Merapi untuk meminta bantuan dari penguasa Gunung Merapi.
Ia sendiri sudah menyiapkan jebakan jika para penyerang itu masuk ke dalam Alas Mentaok, malam menuju pagi itu, semua anggota dari Arya Pinarak segera bergerak untuk membuat perangkap agar mereka dapat mengurangi kekauatan musuh.
Satu yg tidak mereka ketahui bahwa semua gerak dari kawnanan Rampok Alas Mentaok itu di ketahui oleh para prajurit sandi Demak yg biasa bergerak sendiri sendiri.
" Senopati ,..tampaknya mereka sedang menyiapkan jebakan untuk kita di seberang Kali Opak ini," jelas Ki Sapi Gumarang.
" Jadi apa yg harus kita lakukan menghindarinya,..?" tanya Raka Senggani.
" Sepertinya kita harus menghindari dari jalan ini , sebaiknya kita berjalan memutar dari arah hulu meski memang akan meemui bebatuan yg sulit untuk di lewati,.." ucap Ki Wuluh.
" Jika memang demikian ,.pasukan akan kita pecah menjadi tiga bagian,..kalian dengan para prajurit Pajang yg lain akan melewati dari arah hulu dan hilir Kali Opak ini,.." ucap Raka Senggani.
" Bagaimana denganmu sendiri Senopati ,..?" tanya Ki Jaka Belek.
Raka Senggani kemudian menjawab,..
" Diriku dan kedua orang temanku ini serta Paman Tumenggung Wangsa Rana akan masuk langsung dari sini agar mereka tetap yakin bahwa kita tidak berpencar untuk menyerang mereka,.." jawab Senopati Brastha Abipraya.
Ia kemudian melihat kearah Ki Ageng Manguntur dan bertanya,
" Apakah Ki Ageng bersedia ikut dengan kami,..?" tanyanya.
Penguasa tanah Perdikan Menoreh segera menyahutinya,
" Jika memang diizinkan , kami yg tua -tua ini dapat bersama dengan Angger Senopati tentu merupakan suatu kehormatan sekali dapat bergabung dengan para kaum muda,..!" jawab Ki Ageng Manguntur.
Pernyataan itu langsung di jawab oleh Tumenggung Wangsa Rana,
" Ahh,.bukankah diri ku pun sudah tidak muda lagi ,..Ki Ageng,.." sahut Tumenggung Wangsa Rana.
Dan Ki Ageng Manguntur pun tertawa mendengar ucapan dari sang Tumenggung.
Setelah berhasil di putuskan , maka pagi itu juga pasukan kecil dari Kadipaten Pajang itu pun langsung bergerak menuju ke Alas Mentaok dengan tiga arah,. dan yg pertama kali untuk menyebrang adalah pasukan yg berada di Hulu dari Kali Opak itu, dua orang pemimpin nya yaitu Ki Jaka Belek dan Ki Wuluh .
Baru kemudian diikuti yg dari arah hilir , yg dipimpin oleh Ki Banyak Angkrem dan Ki Gubug Penceng.
Dan yg terakhir adalah dari arah lurus , yg akan dipimpin oleh Senopati Brastha Abipraya dengan didampingi oleh Tumenggung Wangsa Rana.
__ADS_1
Mereka akan menyebrang setelah mendapat isyarat dua pasukan tersebut mencapai seberang,..sehingga penyerangan akan dapat di lakukan serentak.