
Esok harinya, pasukan Pajang segera bersiap untuk naik keatas puncak Gunung Tidar itu.
Meskipun Puncak nya tidak terlalu tinggi, tetapi persiapan yg di lakukan cukup lama.
Tumenggung Wangsa Rana selaku pemimpin pasukan itu nampak tengah berbincang dengan beberapa prajurit termasuk di dalam nya Raka Senggani dan Lintang Sandika.
" Berapa , kira -kira jumlah mereka, prajurit,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada dua orang prajurit sandi itu.
" Tidak sampai seratus orang, Kanjeng Tumenggung," jawab prajurit sandi itu.
" Apakah mereka memusatkan pada satu tempat atau di bagi di beberapa tempat,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Terdapat di tiga tempat, Kanjeng Tumenggung, dan mereka menumpuk orang -orang nya di tengah, Kanjeng Tumenggung," jawab prajurit itu.
" Apakah di kaki gunung Tidar ini , jumlah mereka cukup banyak,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Tidak terlslu banyak, mungkin hanya dua atau tiga puluh orang saja, Kanjeng Tumenggung," jelas Prajurit sandi lagi.
" Bagaimana, angger Senggani, apakah kita akan langsung melumpuhkan mereka atau kita bagi pasukan, kita sergap secara bersamaan,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Menurut Senggani, kita sebaiknya langsung melumpuhkan mereka sekaligus Paman Tumenggung, bukan begitu kakang Sandika," jawab Raka Senggani.
" Benar Paman Tumenggung, seharusnya Kita dapat melumpuhkan mereka secara sekaligus, dan kalau dapat kita jangan sampai memberikan ruang untuk melarikan diri, mengingat jumlah mereka kalah jauh dengan kita," terdengar saran dari putra Tumenggung Bahu Reksa itu.
" Jika kita harus menyerang mereka sekaligus, kita akan membagi pasukan ini dengan tiga bagian, dan siapa saja yg akan memimpin nya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Lebih baik , Paman Tumenggung sebagai pemimpin utama nya dan bertugas untuk melumpuhkan mereka yg berada di tengah, sedangkan untuk yg paling atas biarlah Senggani dan kakang Sandika yg memimpin nya," jelas Raka Senggani.
" Untuk yg paling bawah siapa yg akan menghadapinya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
Kemudian Raka Senggani melihat kearah para pemimpin prajurit Pajang itu.
Sesàat mata nya tertuju pada seorang Rangga.
" Untuk pemimpin pasukan yg ada di bawah, sebaiknya , kakang Rangga Aryo Seno saja , Paman,". kata Raka Senggani lagi.
" Baik, baik, pada tingkat yg paling bawah biarlah Rangga Aryo Seno dengan lebih duapuluh prajurit yg akan menghadapinya, di tengah aku dan yg dekat dengan puncak gunung Tidar itu angger Senggani yg akan bertugas,". sebut Tumenggung Wangsa Rana.
" Apakah kita sudah dapat berangkat , Kanjeng Tumenggung ,?" tanya Rangga Aryo Seno.
" Tunggu sebentar kakang, Rangga Aryo Seno, kita masih perlu berhubungan dengan sisi sebelah barat tepatnya dari pedukuhan kulon itu, karena di sana Ki Gede Mantyasih sendiri yg memimpin pengawal tanah Perdikan untuk menghadapi lawan yg ada di sana,". jelas Raka Senggani.
" Hehh, jadi mereka juga menjaga dari sebelah barat, Ngger,?". tanya Tumenggung Wangsa Rana agak terkejut.
" Benar, Kanjeng Tumenggung, mereka juga menjaga wilayah yg ada di sebelah barat itu," sahut Rasala.
Selaku putra dari Gede Mantyasih itu, ia juga bertanggungjawab atas kesuksesan upaya penghancuran kelompok dari tokoh -tokoh persilatan itu untuk mengambil benda Pusaka itu.
" Kalau dari sebelah barat ada juga para pengawal tanah Perdikan Mantyasih dengan Ki Gede sebagai Senopati nya, sebaiknya kita memang harus saling berhubungan, siapa kira -kira, orang yg tepat untuk menjadi penghubungnya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Sebaiknya kakang Anggono saja, Paman Tumenggung, karena selain ia amat mengenal daerah ini, ia pun dapat bergerak cepat karena telah kenal dengan para prajurit Pajang ini," ungkap Raka Senggani.
" Apakah angger Anggono bersedia menjadi penghubungnya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Saya siap, Kanjeng Tumenggung ,". jawab Anggono.
" Sampai disini ada yg ingin bertanya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Dimana kita akan memusatkan pasukan setelah berhasil menumpas mereka,?" tanya Rangga Aryo Seno.
" Sebaiknya kita memusatkan pasukan di tempat Angger Senggani, karena mau tidak mau kita memang harus mendaki naik keatas," jelas Tumenggung Wangsa Rana.
" Dan jika , salah satu pasukan kita ada yg terdesak atau memerlukan bantuan secepatnya kirim isyarat dengan panah sendaren,". kata sang Tumenggung lagi.
" Baik, kami mengerti , Kanjeng Tumenggung ," jawab Rangga Aryo Seno.
" Dan sebaiknya kita sudah dapat bergerak, untuk penunjuk jalan nya, salah seorang prajurit sandi itu ikut dengan mu,. Rangga Aryo Seno," kata Tumenggung Wangsa Rana.
" Dan untuk adi Senopati Brastha Abipraya, siapa Kanjeng Tumenggung, yg akan jadi penunjuk jalan nya,?" tanya Rangga Aryo Seno.
" Biarlah kami dengan Rasala saja , Kakang Rangga, tentu putra dari Ki Gede ini amat memahami medan di gunung Tidar ini," kata Raka Senggani.
" Jika semua sudah sesuai , maka kita akan segera berangkat, dan ingat penyerangan di lakukan setelah ada isyarat dariku," ucap Tumenggung Wangsa Rana lagi.
Kemudian pasukan Pajang itu berangkat menuju kaki gunung Tidar itu, dan pasukan itu di bagi dengan tiga bagian.
Pasukan dari Rangga Aryo Seno yg paling cepat sampai pada tempat itu.
Kemudian di susul oleh pasukan yg di pimpin oleh Tumenggung Wangsa Rana, barulah yg terakhir , pasukan yg di pimpin oleh Raka Senggani.
__ADS_1
Mereka melalui jalan yg berbeda, untuk dapat mengepung musuh yg berada di beberapa titik.
Karena Macan Baleman telah menyiapkan para anak buahnya untuk menjaga tempat itu dari para penyusup yg akan masuk , sehingga pada posisi tengah disitu lah ia menempatkan orang -orang nya cukup banyak.
" Bagaimana , Kanjeng Tumenggung , apakah kita sudah dapat untuk memyerang mereka,?". tanya salah seorang prajurit.
" Tunggu sebentar, kita harus menunggu kesiapan dari Angger Senggani yg ada diatas," jawab Tumenggung Wangsa Rana.
Ketika mentari mulai menggatalkan kulit, pasukan yg di pimpin oleh Senopati Brastha Abipraya telah memberikan isyarat bahwa mereka telah siap untuk melaksanakan penyerangan.
Tumenggung Wangsa Rana langsung memberikan isyarat kepada untuk mulai melakukan penyerangan kepada kelompok dari Bekas begal alas Mentaok itu.
Dengan cepat prajurit Pajang itu menyerang anggota dari Macan Baleman itu.
Karena kalah jumlah, pasukan Pajang berhasil mendesak kawanan anggota dari Macan Baleman itu.
Memang kelompok dari anggota Macan Baleman itu tidak menyangka bahwa mereka telah terkepung oleh para prajurit Pajang, sehingga mau tidak mau , mereka harus bertempur terus meski telah terdesak hebat , satu persatu anggota dari Macan Baleman it bertumbangan.
Ada sebahagian yg ingin melarikan diri dari serangan yg di buat oleh Senopati Brastha Abipraya yg berada diatas , mereka harus terjebak dengan pasukan dari Tumenggung Wangsa Rana yg lebih besar lagi.
Walhasil , pertempuran yg tidak seimbang itu tidak berlangsung lama, karena tampak nya para prajurit Pajang tidak memberi ampun lagi.
Sebahagian besar para kawanan yg di pimpin oleh Macan Baleman itu tewas sebagian kecil berusaha bergabung dengan teman nya yg berada di sebelah barat.
Namun nasib mereka yg di sebelah barat pun tidak terlalu jauh nasib nya , mereka harus mengakui keunggulan pengawal tanah perdikan Mantyasih itu, yg di pimpin langsung oleh Ki Gede sendiri. Apalagi disana ada dua tokoh sakti yaitu Biksu Maha Gelang dan Biksu Mandrayana yg turut membantu.
Nyaris tanpa perlawanan yg berarti mereka berhasil di tumpas oleh Pasukan Pajang dan para pengawal tanah perdikan Mantyasih itu.
Tidak sampai sore, kedua kekuatan itu telah berkumpul di tempat masing -masing.
Berkat hubungan yg di buat melalui Anggono, telah di sepakati bahwa, mereka akan mencoba menerobos masuk melewati pagar gaib itu sebelum Matahari terbenam.
" Demikianlah kata Wiku Maha Gelang, di upayakan sebelum Matahari terbenam kita harus sudah dapat menembus pagar gaib itu,". jelase Anggono.
" Mengapa demikian , kakang Anggono,?" tanya Raka Senggani.
" Selain kita harus menyelamatkan Rara Tinampi, kekuatan pagar gaib itu akan semakin kuat jika telah hari gelap, apalagi sampai para makhluk halus itu telah dapat mereka bangkitkan tentu akan membuat semakin sulit untuk masuk," jawab Anggono.
" Bagaimana Paman Tumenggung, apakah kita akan mencoba untuk masuk ,?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Yah , sebaiknya demikian , Ngger, karena kita pun belum tahu kekuatan mereka yg ada di puncak Tidar ini," jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Baiklah, kita akan mulai untuk menerobos masuk melewati pagar gaib ini, siapa yg ingin mencoba,?" tanya Raka Senggani.
Oleh karena itu, Rasala sebagai seorang yg paling mengenal tempat itu bersama Anggono segera berkata,
" Biarlah , aku saja yg akan coba untuk melewati nya," ucap Rasala.
" Silahkan, Angger Rasala," kata Tumenggung Wangsa Rana.
Kemudian putra Ki Gede Mantyasih itu berjalan menuju ke arah puncak Gunung Tidar itu.
Murid dari Panembahan Sragil itu terlihat dapat melalui jalanan itu, namun ketika ia telah melangkahkan kakinya lebih dari duapuluh langkah , tiba -tiba, tubuh nya terpental seperti membentur dinding yg sangat tebal.
Serempak para pemimpin prajurit Pajang itu mendeksti putra dari Ki Gede Mantyasih itu.
" Bagaimana angger Rasala, apakah dirimu baik-baik saja,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
Dengan di bantu oleh Anggono dan Lintang Sandika, Rasala bangkit untuk berdiri.
Ia terlihat agak kaget atas kejadian itu, sehingga kurang mendengar pertanyaan dari Tumenggung Wangsa Rana itu.
" Bagaimana Rasala, apakah yg telah kau rasakan ,?" tanya Anggono.
" Entahlah , Anggono, rasanya aku seperti membentur dinding baja dengan keras, " jawab Rasala.
" Baiklah kalau begitu, untuk kali ini biarlah Angger Senggani saja yg akan melakukan nya,". ucap Tumenggung Wangsa Rana.
" Baik , Paman Tumenggung,!" sahut Raka Senggani.
Kemudian Raka Senggani mengetrapkan aji Ashka pandulu agar dapat melihat dimana letaknya pagar gaib itu, setelah ia mengetrapkan ajian itu , nampak oleh sang Senopati itu bahwa letak nya berada sepuluh langkah dari tempat nya berdiri.
" Bismillahhirohmanirrohiiiiim, La haula wa la Quwwata Illa billah," desis nya pelan.
Dengan perlahan -lahan ia berjalan menuju ke arah dinding pagar gaib itu.
Dan setelah sampai di tempat itu langkah nya terhent, ia memang tidak berhasil melewati nya namun tubuhnya tidak tertolak dengan keras seperti Rasala tadi.
" Bagaimana , Ngger, apakah dirimu mampu menembus nya, ?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
__ADS_1
" Belum Paman Tumenggung, Senggani belum mampu untuk melewati nya, " jawab Raka Senggani.
Kemudian ia kembali lagi ke tempat semula, ia Kemudian memandang ke arah Anggono
Ia kemudian bertanya kepada pengawal tanah perdikan itu,
" Apakah Wiku Maha Gelang tidak memberitahukan bagaimana cara untuk menembus pagar gaib ini kakang Anggono," tanya nya kepada Anggono.
" Tidak, tidak, Wiku Maha Gelang tidak menyebutkan bagaimana cara menembus pagar gaib itu adi Senopati," jawab Anggono.
" Bagaimana ini, Ngger , hari hampir malam, apakah kita akan disini terus tanpa melakukan apa -apa,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Senggani pun tidak mengerti , Paman, apakah yg harus di lakukan untuk menghancurkan pagar gaib ini,". jawab Raka Senggani.
Semua terdiam , tidak ada yg mampu untuk memberiakn saran, hanya Lintang Sandika yg mencoba untuk melewati pagar gaib itu, dan hasilnya adalah sama ia terpental cukup jauh akibat membentur dinding yg tak kasat mata itu.
" Apakah kau baik -baik saja , Angger Sandika,?". tanya Tumenggung Wangsa Rana.
Ia agak terkejut akibat pentalan dari tubuh Lintang Sandika itu.
" Aku bb baik - baik saja, Paman Tumenggung,". jawab Lintang Sandika.
Kembali semua orang yg berada di situ terdiam Setelah melihat kenyataan itu.
Sementara cahaya mentari sore telah mulai hilang, cahaya jingga dari ufuk barat semakin menghilang.
Disaat para pemimpin pasukan Pajang itu kebingungan, maka Anggono lah yg nyeletuk bicaranya,
" Wiku Maha Gelang berkata, hanya dengan kekuatan tenaga dalam dalam yg tinggi di barengi niat yg kuat dan bersih yg dapat menghancurkan pagar gaib itu,"
Semua memandang ke arah pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu,
" Ahh, kakang Anggono mengapa tidak sedari tadi bicara nya," sahut Raka Senggani.
" Ehh, aku tidak ingat , adi Senopati," jawab Anggono.
" Baiklah kalau begitu, semua yg ada disini, agar dapat membantu, terutama dengan doa, supaya kita dapat menembus pagar gaib ini," seru Raka Senggani.
Yg mendengar ucapan dari Senopati Pajang itu segera mengangguk, mangiyakan.
Sedangkan Raka Senggani langsung duduk, dan tangan nya segera mencabut Keris Kyai Macan Kecubung dari warangka nya.
Diangkat nya tinggi+tinggi keris Pusaka itu, sambil mulutnya komat kamit, Keris Pusaka Kyai Macan Kecubung itu terlihat berubah -ubah warnanya dari merah terang jadi warna jingga kemudian berpendar lagi jadi warna kebiru -biruan.
Sementara Raka Senggani dengan memusatkan nalar budinya tertuju pada satu dzat yaitu sang Maha pencipta, dengan segenap tenaga dalam nya ia berniat mengeluarkan ajian Sangga Kalimasada milik nya itu.
Sesàat setelah seluruh nya siap, keluar lah dari mulut nya sebuah teriakan yg keras,
" Aji Sangga Kalimasada , heaahhhhhhh,"
Sebuah cahaya kebiru -biruan yg keluar dari ujung keris Kyai Macan Kecubung mengarah dan menghantam ke dinding yg tak kasat mata itu.
" Dhumbh, Blegaaaarrrr,"
Terdengar sebuah dentuman yg sangat keras akibat dari hantaman ajian milik dari Raka Senggani itu.
Dan hasil nya adalah pagar gaib itu hancur akibat di hantam aji Sangga Kalimasada milik Senopati Pajang itu.
Hanya Raka Senggani yg mampu melihat nya karena ia masih mengetrapkan aji Ashka pandulu. Yang lain belum t termasuk Tumenggung Wangsa Rana sendiri.
" Bagaimana , Ngger, apakah kita telah dapat melewati nya,?" tanya Tumenggung Wangsa kepada Raka Senggani.
" Sudah , Paman, silahkan ," jawab Raka Senggani.
Setelah menyarungkan kembali Kyai Macan Kecubung itu, Raka Senggani bangkit dari duduk nya.
" Silahkan, kakang Anggono terlebih dahulu yg berjalan," kata Raka Senggani.
Anggono agak kebingungan setelah mendengar ucapan dari Raka Senggani itu, mau tidak mau ia pun kemudian melangkahkan kaki nya untuk melewati jalan itu menuju ke puncak Gunung Tidar itu.
Sesampainya di tempat yg membuat dua orang terpental itu , agak ragu Anggono melangkahkan kakinya, namun setelah dirasanya aman ia tetap saja berjalan seperti biasa.
Barulah yg hadir di tempat itu meyakini bahwa pagar gaib itu telah hancur, melihat pengawal tanah perdikan itu telah semakin jauh meninggalkan tempat tersebut.
" Kau berhasil, Ngger, marilah kita terus bergerak mumpung masih ada cahaya mentari walau tinggal sedikit, silahkan Rangga Aryo Seno, bawa prajurit mu susul angger Anggono itu ," terdengar perintah dari Tumenggung Wangsa Rana.
" Baik Kanjeng Tumenggung,". jawab Rangga Aryo Seno.
Ia dan beberapa prajurit Pajang segera menyusul Anggono yg telah terlebih dahulu berjalan.
__ADS_1
Kemudian satu persatu para prajurit Pajang itu meninggalakn temapt tersebut, saat yg sama Matahari pun telah beranjak keperaduanya dan segera di gantikan oleh sang dewi malam.
Seluruh nya kemudian memanjat naik menuju Puncak Tidar, dan berhasil menembus pagar gaib yg telah di buat oleh Chandala Gati itu.