Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 15 SRIKANDI patah HATI. bag ke enam.


__ADS_3

" Kakang Senggani,..apa tidak sebaiknya kita kembali ke dalam Kaputren,..?'' tanya Dewi Dwarani.


Ia merasa perlu untuk mendengarkan penjelasan dari Kepala pelayan Kaputren itu.


" Tidak perlu adi Rani,.. sebaiknya kita kembali ke istana Kepatihan saja,..disana kita dapat lebih leluasa untuk membicarakan masalah ini,..mari kita tinggalkan tempat ini,..nanti jika memerlukan kembali pernyataan dari Nyi Asih,..mungkin esok kita dapat kembali lagi kemari,.." jelas Raka Senggani.


Kemudian ketiganya segera meninggalkan Kputren itu. Dan kali ini mereka tidak di temani lagi oleh prajurit,..karena kedua orang prajurit itu telah kembali ke Kepatihan.


Sesampainya di Istana Kepatihan,.. ketiganya langsung menghadap Patih Haryo Winangun.


" Bagaimana anakmas Senopati,..apakah ada jejak yg dapat di telusuri setelah masuk ke dalam Kaputren,..?" tanya Patih Haryo Winangun.


" Nampak nya kami menemui sebuah jejak yg dapat untuk di telusuri,..Paman Patih,..". jawab Raka Senggani.


" Hehh,..benarkah hal itu,.. anakmas Senopati,..kemana kiranya arah kepergian dari Sekar Kedaton itu,..?". tanya Patih Haryo Winangun.


Orang nomor dua di Madiun itu terlihat ingin tahu,..setelah mendengar penjelasan dari Raka Senggani tadi.


" Mungkin kami menemukan sebuah titik terang ,..akan tetapi ini masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut,..Paman Patih," jawab Raka Senggani.


" Maksud anakmas,.. Bagaimana,..?" tanya Patih Haryo Winangun lagi.


Kemudian Raka Senggani menjelaskan temuan mereka di dalam Kaputren,..mengenai beberapa keganjilan yg telah terjadi di dalamnya.


Ternyata dalam kaputren tidak ada tampak terjadi keributan saat menghilangnya Sekar Kedaton itu.


Ditambah lagi dengan ikut menghilangnya salah seorang dari emban yg ada disana.


Kemudian Senopati Pajang itu menanyakan darimana asal emban tersebut kepada Patih Haryo Winangun.


" Demikian lah Paman Patih,...apakah Paman mengetahui darimana asalnya Emban tersebut,?" tanya Raka Senggani.


Patih Haryo Winangun mengingat -ingat darimana saja emban yg ada di dalam Kaputren.


Memang cukup banyak jumlahnya sehingga ia tentu tidak ingat siapa saja mereka.


" Siapa namanya emban itu,..anakmas Senopati,.." tanya Patih Haryo Winangun.


" Andini,..paman Patih,.." jawab Raka Senggani.


" Apakah usia nya masih sangat muda,..?" tanya Patih Haryo Winangun lagi.


" Iya,.. Paman Patih,..bahkan lebih muda dari Gusti Sekar Kedaton sendiri,.." jawab Senopati Pajang lagi.


" Berarti ia adalah emban kinasih dari Gusti Sekar Kedaton sendiri,.. sepertinya ia adalah cucu dari kepala pelayan Kaputren,..Nyi Asih,.." ucap Patih Haryo Winangun.


" Benar paman Patih,.prajurit jaga Kaputren memang mengatakan bahwa Andini itu adalah cucu dari Nyi Asih,.." ucap Raka Senggani lagi.


" Artinya ,..ia berasal dari kaki gunung klotok,.dan tepatnya dari dukuh Ringin,." jelas Patih Haryo Winangun.


Setelah mendengar penjelasan dari Patih Haryo Winangun itu,..Raka Senggani kemudian dapat menyimpulkan harus kemana perginya.


" Apa hubungan nya dengan emban pengasuh itu dengan menghilangnya Sekar Kedaton itu,..anakmas Senopati,..?" tanya Patih Haryo Winangun.


" Begini,..Paman Patih,..menurut naluri seorang prajurit sandi,..sepertinya ada hubungan nya,..antara menghilangnya Gusti ayu Rara Sekar Kiranti itu dengan turut menghilangnya emban pengasuh itu,..jadi kami harus segera ke dukuh Ringin untuk mencari tahu atau setidaknya dapat mendengar seauatu dari Andini itu,..Paman,..". jawab Senopati Pajang.


" Hehh,..jadi kalian bertiga akan berangkat ke dukuh Ringin itu,..anakmas Senopati,..?" tanya Patih Haryo Winangun.


" Benar,..paman,..kami akan berangkat kesana esok hari,..berhubung hari ini telah sore,..jadi kami disini,..sekaligus meminta izin pamit untuk kesana,..". ucap Raka Senggani.


" Ya,..ya,..Paman akan memberikan izin untuk ke pedukuhan Ringin itu,..nanti jika kalian menemui titik terang ,..segera hubungi Paman,..disini,.." ucap Patih Haryo Winangun.


" Tentu Paman Patih,..itulah mengapa kami akan bernagkat bertiga,..agar jika kami memerlukan bantuan dapat menghubungi Madiun ini,.." kata Raka Senggani.


" Ya,..ya,..segeralah kalian beristrahat,..karena jarak ke dukuh Ringin itu cukup jauh mungkin membutuhkan lebih dari satu hari,..jika harus berjalan kaki kesana,.." kata Patih Haryo Winangun.


" Baik,..Paman Patih,..kami mohon pamit,.." kata Raka Senggani.


Kemudian ketiganya segera menuju ke dalam biliknya,..tetapi seperti biasa mereka masih menyempatkan untuk berbincang sejenak.


" Adi Senggani,..Apa tidak sebaiknya kita memakai kuda,..untuk sampai kesana,..?" tanya Japra Witangsa.

__ADS_1


" Tetapi itu tidak akan terlalu membantu karena wilayah di kaki klotok itu penuh dengan hutan yg jarang dirambah,..sehingga kita akan semakin lambat,..". jelas Raka Senggani.


" Ya,..Rani setuju dengan yg di ucapkan oleh kakang Senggani itu,..ditambah lagi kita memang harus melatih terus ilmu lari cepat,..agar semakin tinggi,.." sahut Dewi Dwarani.


" Benar juga ucapanmu itu Rani,..tetapi terus menerus melakukan perjalanan kaki akan membuat kita agak membosankan,.." kata Japra Witangsa.


" Hehh,..bagaimana keadaan Kenanga saat ini,..!" seru Raka Senggani tiba -tiba.


Entah mengapa tiba -tiba Senopati Pajang itu terkenang akan desa Kenanga,..yg sudah agak lama mereka tinggalkan.


Ketiganya kemudian mengenang keadaan desa Kenanga itu dengan masing -masing lamunan nya.


Mereka memang sudah rindu untuk segera kembali ke Kenanga.


Tetapi kali ini mereka harus menunda dahulu sampai urusan di Madiun itu selesai.


Saat malam telah tiba di Kadipaten Madiun itu,..sebuah Kadipaten yg di masa kerajaan Majapahit bernama Pandan Alas,.. ketiganya segera melaksanakan ibadah sholat,..baru setelah nya mereka makan bersama dengan Patih Haryo Winangun.


Patih dari Madiun sangat senang dengan Senopati Pajang itu sekaligus prajurit sandi Demak,..karena ketinggian ilmu dan luhur budinya.


Ia tetap berharap jika kelak Sang Senopati itu dapat berjodoh dengan Sekar Kedaton dari Madiun itu.


" Anakmas Senopati sudah memiliki istri atau calon istri,..?" tanya Patih Haryo Winangun.


Disela -sela makan bersama,. pertanyaan yg sebenarnya sudah lama mengganjal dihatinya itu diutarakan nya.


Ia memang ingin tahu secara pribadi tentang kehidupan dari Senopati kepercayaan dari Adipati Pajang itu.


" Mengapa Paman Patih menanyakan hal itu,.?" tanya Raka Senggani.


Pertanyaan yg sebenarnya tidak diinginkan oleh sang Senopati,..berhubung di tempat itu ada Japra Witangsa yg merupakan kakak kandung dari Sari Kemuning,..seorang gadis yg telah mengisi relung hatinya.


" Bukan,..apa -apa,..anakmas,..jika memang dirimu belum memiliki sisihan atau pun calonnya,..Paman ingin menjodohkan dirimu dengan Sekar Kedaton itu sendiri,.." jelas Patih Haryo Winangun.


Ketiganya sangat terkejut mendengar penuturan dari Patih Madiun itu,..termasuk Raka Senggani sendiri.


Ia langsung menjawab,..


" Tidak ada yg tidak mungkin,.. Anakmas,..karena memang Kanjeng Gusti Adipati sudah agak kewalahan dengan Putri nya itu,..ia menginginkan seorang mantu yg dapat menaklukan sifat pembangkang nya itu,..jadi ia berniat untuk menikahkan putrinya itu dengan seorang laki -laki yg memilki ilmu yg tinggi sehingga dapat menjaganya,.. begitulah anakmas Senopati," terang Patih Haryo Winangun.


" Tetapi itu tidak mungkin,..Paman Patih,..karena Senggani telah memilki seorang calon istri,..ia adalah adik dari kakang Witangsa ini,..dan sebenarnya jika tidak aral yg menghalangi nya,..Senggani akan melamar nya dalam waktu dekat ini,." jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang itu kemudian menyambung ucapannya itu,


" Dan sepertinya pun,.tidak akan mungkin sekar Kedaton itu mau menerima Senggani sebagai suaminya,.. tentunya ia sudah memiliki calon sendiri untuk dijadikan sebagai suami,.." kata sang Senopati itu.


" Ya,..sudah,..,jika memang dirimu telah memiliki calonnya,..Paman tidak dapat memaksa nya,..dan bukan apa -apa,..anakmas,..Paman pernah mendengar ucapan dari Kanjeng Adipati yg memuji-muji dirimu,..bahkan ia sangat ingin menjodohkan putrinya itu dengan dirimu,..karena sepertinya Kanjeng Gusti Adipati melihat sesuatu yg ada pada dirimu itu,.. anakmas Senopati,.." jelas Patih Haryo Winangun.


Raka Senggani tidak menanggapi ucapan dari Patih Haryo Winangun itu,..dirinya malah melihat ke arah Putra Ki Jagabaya itu,..Raka Senggani merasa bersalah akan hal itu,..ia tidak ingin ada yg lain di hati nya,..kecuali Putri Ki Jagabaya itu.


Sedangkan Japra Witangsa sendiri tidak melihat ke arah Raka Senggani.


Patih Haryo Winangun memang merasa bersalah telah mengutarakan hal itu,.tetapi ia memang tidak bermaksud lain,.. kecuali membantu junjungan nya itu untuk mencarikan jodoh yg tepat bagi Sekar Kedaton itu.


Setelah selesai makan malam,.. ketiganya segera pamit untuk beristrahat,..tetapi kali ini,.. ketiganya kurang bersemangat untuk membicarakan tentang menghilangnya Sekar Kedaton itu.


Mereka langsung saja tidur,..agar esok dapat bangun cepat dan selanjutnya berangkat ke dukuh Ringin.


Keesokan harinya ,..setelah terang tanah segera berangkat dari Madiun menuju arah ke timur.


Ketiganya bergerak menuju ke Gunung Klotok.


Mereka berjalan terus sampai matahari tepat diatas kepala barulah mereka berhenti sejenak.


Dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan nya sampai menjelang malam.


" Sebenarnya jarak ke Dukuh Ringin itu sudah tidak terlalu jauh lagi,..apakah kita akan berjalan terus..?" tanya Raka Senggani.


" Seberapa jauh,..kakang Senggani,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Mungkin tidak sampai wayah sepi uwong kita telah sampai setelah menembus alas ini,.." jawab Raka Senggani.

__ADS_1


" Mungkin sebaiknya kita bermalam disini saja,..adi Senggani,.. karena kehadiran kita pada malam hari di tempat itu tentu akan membuat orang -orang menjadi curiga,..". jawab Japra Witangsa.


" Rani setuju dengan ucapan dari kakang Witangsa itu,..lebih baik kita bermalam disini saja agar tidak ada seorang pun yg mencurigai kita,..baru esok hari kita masuk ke dukuh Ringin tersebut,,.." ucap Dewj Dwarani.


Putri Ki Bekel itu memang lebih suka untuk bermalam di hutan tersebut.


Dan kemudian mereka pun bermalam di hutan dekat pedukuhan Ringin tersebut.


Dan begitu pagi mejelang barulah ketiga nya masuk ke dalam pedukuhan itu


Sebelum sampai di regol dari pedukuhan itu,..terlihat pohon beringin yg cukup besar berdiri tegak di tepi jalan pedukuhan itu.


Terasa dingin suasana di tempat itu ,.karena daerah itu merupakan di kaki gunung Klotok,.tempat yg asri jauh dari keramaian.


Kemudian ketiganya memasuki regol pedukuhan Ringin itu,..mereka menuju ke rumah Ki Bekel pedukuhan itu.


Sampai di rumah Ki Bekel ketiga langsung masuk.


Sesampainya di depan pendopo rumah Ki Bekel itu,.. Raka Senggani segera mengucapkan salam,..dan langsung di jawab dari dalam.


Terlihatlah seorang yg bertubuh besar dan berusia paruh baya yg keluar dari dalam rumah.


" Ada apa,..ingin bertemu dengan siapa,..?" tanya orang itu.


" Kami ingin bertemu dengan Ki Bekel,..apakah ini adalah rumah nya,..?" tanya Raka Senggani.


" Benar,..dan akulah Bekel pedukuhan Ringin ini,..silahkan,.. silahkan,." kata orang itu.


Raka Senggani dengan diikuti oleh Japra Witangsa dan Dewi Dwarani langsung naik ke atas pendopo rumah Ki Bekel itu .


" Ada perlu apa ingin bertemu denganku ,.. pagi -pagi,..begini,..dan kalian darimana,..?" tanya Ki Bekel pedukuhan Ringin.


Raka Senggani kemudian memperkenalkan diri,.juga menyebutkan namanya dan nama dua orang temannya itu,..tetapi mereka menyebutkan berasal dari desa Kenanga dari Kadipaten Pajang,..ia tidak menyebut dari Madiun,.. walaupun memang sebenarnya mereka dari desa Kenanga. Tetapi datang ke tempat itu atas perintah dari Madiun guna menelusuri jejak dari hilang nya Sekar Kedaton itu.


" Kami bertiga berasal dari desa Kenanga dan sedang mencari rumah seseorang yg berasal dari pedukuhan ini,.." jawab Raka Senggani.


" Dari Kenanga,..cukup jauh,..dan siapa nama teman kisanak itu,..?" tanya Ki Bekel lagi.


" Ia seorang perempuan yg bernama,.Andini,.." ucap Raka Senggani.


" Andini,.. Angger Andini,.." seru Ki Bekel itu terkejut.


" Benar,.. Ki Bekel,.kami mencari Andini,..bukankah ia berasal dari dukuh Ringin ini,..?" tanya Raka Senggani.


" Benar kisanak,..memang Angger Andini itu berasal dari dukuh Ringin ini,..tetapi ia sudah lama tidak pernah kembali kemari sejak bekerja di kota kadipaten Madiun,.." jelas Ki Bekel lagi.


" Apa pekerjaan dari Andini itu,..Ki Bekel,..?". tanya Dewi Dwarani.


Putri Ki Bekel desa Kenanga itu ingin mengetahui apakah Bekel Ringin itu berbohong atau tidak.


" Ia bekerja sebagai emban di dalam Kaputren Madiun,..karena dirinya adalah cucu dari Nyi Asih yg merupakan Kepala pelayan dalam kaputren Madiun,. " jelas Ki Bekel.


" Apa perlunya ,.. kisanak bertiga ini ingin bertemu dengan Angger Andini itu,..?" tanya Ki Bekel.


" Kami ingin bertanya tentang keadaan nya disini,..serta adik kami ini ingin turut serta bekerja bersamanya, dan jika mungkin masih dapat untuk bekerja di dalam istana Madiun,." ucap Raka Senggani.


Senopati Pajang itu sengaja menunjuk ke arah Dewi Dwarani yg akan ikut bekerja itu.


" Ooo,.." seru Ki Bekel itu.


" Oh,..iya Ki Bekel,..apakah Andini masih memiliki orang tua,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Masih,.. angger Andini masih memiliki keluarga,..dan mereka tinggal di ujung pedukuhan ini,..dekat dengan hutan itu,..". jawab Ki Bekel pedukuhan Ringin.


" Baiklah Ki Bekel,.. Apakah Andini masih memiliki saudara,..?" tanya Raka Senggani


" Ada,.. Angger Andini memiliki saudara laki-laki,..yg bernama,..Arya Radhepara," kata Ki Bekel.


" Keluarga Nyi Asih,..cukup banyak tinggal di pedukuhan ini,..selain di Madiun dan kediri,.." lanjut Ki Bekel.


Kemudian ketiganya mohon pamit dari rumah Bekel pedukuhan Ringin,..untuk selanjutnya mereka mendatangi kediaman dari Andini tersebut.

__ADS_1


Memang agak jauh rumah dari emban pengasuh Kaputren itu,. letaknya paling ujung dekat dengan sebuah hutan.


__ADS_2