
Kedua orang itu asyik membakar ikan sambil terus bercanda, tak terasa hari pun telah sore.
" Untung adi Senggani datang kalau tidak terasa sunyi,!". kata Lintang Sandika.
" Memang kalau kita berpetualang lebih seru kalau berdua, kalau sendiri kurang menarik," jawab Raka Senggani.
" Sedap betul ikan ini, adi Senggani," kata Lintang Sandika
Putra Tumenggung Bahu Reksa itu terlihat menyantap daging ikan bakar itu dengan lahap demikian pula dengan Raka Senggani, sayang ikan yg di dapat Lintang Sandika tidak terlalu banyak .
Setelah selesai menikmati kedua nya beranjak akan kembali ke rumah.
" Marilah adi Senggani kita kembali pulang ke rumah," ajak Lintang Sandika.
" Mari Kakang, " kata Raka Senggani.
Kedua nya kembali ke kota Demak, memang jarak yg di tempuh tidak terlalu jauh, setelah masuk ke dalam kota keduanya langsung menuju ke rumah Tumenggung Bahu Reksa.
Di rumah itu keduanya telah dinanti oleh ibunda dari Lintang Sandika, istri Tumenggung Bahu Reksa.
" Mari ngger, bibi dan Wedari sudah sedari tadi menunggu,!" kata istri Tumenggung Bahu Reksa itu.
" Kami telah menyiapkan santap malam untuk angger Senggani, apakah kita akan langsung makan atau menunggu kalian untuk mandi terlebih dahulu ,?" tanya Nyi Tumenggung Bahu Reksa itu.
" Lebih baik kami mandi dahulu , Bii," jawab Raka Senggani.
" Silahkan, Ngger ," ucap Nyi Tumenggung Bahu Reksa.
Kedua pemuda itu kemudian berjalan menuju pakiwan untuk mandi
Setelah selesai barulah keduanya bersantap makan malam meski saat itu masih sore menjelang maghrib.
" Memang masakan bibi, paling sedap,!" ucap Raka Senggani.
" Terima kasih, Ngger,!" jawab Nyi Tumenggung.
" Apakah besok kakang Senggani akan langsung pulang,?" tanya Lintang Sri wedari.
" Belum wedari, kakang harus menghadap kepada Kanjeng Pangeran sabrang Lor terlebih dahulu, baru setelah mendapatkan izin nya kakang akan kembali ke pajang,!" jelas Raka Senggani.
" Sandika lebih baik , kau ikut Angger Senggani ke Pajang, daripada di rumah terus,!" kata Nyi Tumenggung.
" Benar Bi, atas pesan Paman Tumenggung , kakang Sandika akan Senggani ajak ke Pajang,!" ujar Raka Senggani.
" Bagus , Ngger, daripada disini keluyuran tidak jelas , lebih baik ia ikut denganmu ke Pajang," ungkap Nyi Tumenggung lagi.
" Wedari boleh ikut Kakang,?" tanya Lintang Sri wedari.
Raka Senggani terdiam mendengar permintaan dari putri Tumenggung Bahu Reksa itu, adalah Nyi Tumenggung lah yg menjawabnya,
" Sebaiknya kau tetap disini, nduk, jika dirimu ikut ke Pajang siapa lagi yg menemani si mbok mu ini,?" tanya Nyi Tumenggung kepada putri nya itu.
" Ahh, si mbok, sewaktu kami berguru di padepokan gunung lawu, si mbok tidak ada yg menemani,!" ucap Lintang Sri wedari.
" Yo jelas beda toh , nduk, saat itu Romo sedang ada di rumah dan kalian berdua itu lagi menuntut ilmu, kalau ini kan, Romo mu tidak ada disini,!". jelas Nyi Tumenggung.
Nampak wajah Lintang Sri wedari bersungut -sungut tanda tidak terima atas ucapan ibunda nya itu.
" Ngger, apakah paman mu tidak ada pesan yg lain,?". tanya Nyi Tumenggung.
" Tidak ada Bi, " jawab Raka Senggani.
Akhirnya ke empat orang itu selesai makan malam nya dan di lanjutkan duduk -duduk di pendopo rumah Tumenggung Bahu Reksa itu.
*******
Sementara itu jauh dari Kotaraja Demak, tepatnya di desa Kenanga di rumah Juragan Tarya.
Terlihat Tara Rindayu sedang duduk dengan kedua orang tua nya.
" Bagaimana nasibmu ini, Nduk, nampaknya Angger Senggani tidak bersedia memperistri diri mu,!" ucap Juragan Tarya.
" Oalah, nduk, putri ku yg cantik, baru saja melangsungkan pernikahan, sebentar kemudian telah menjadi janda, dan tampak nya orang enggan untuk melamarmu lagi,!" ujar Istri Juragan Tarya.
" Entahlah Mbok, mungkin telah menjadi suratan nasib ku harus menerima semua ini, " ucap Tara Rindayu.
__ADS_1
" Mungkin orang enggan melamar mu karena Romo telah pernah menyebutkan sayembara bahwa siapa saja yg dapat menyelamtkan mu ialah yg akan menikah dengan mu," ungkap Juragan Tarya.
Orang terkaya di desa Kenanga itu nampak merasa bersalah atas apa yg telah di ucapkan nya.
" Sayang nya orang yg telah menyelamtkan mu yaitu Angger Senggani tidak bersedia untuk menikahi mu,!". ucap nya lagi.
" Sepertinya kita tidak dapat terlalu berharap kepada putra Raka jaya itu kakang,!". seru ibunda Tara Rindayu itu.
" Walaupun demikian nyai, kita tetap harus menunggu keputusan nya dan dalam hal ini telah kakang sampaikan kepada Ki Lamiran,!" jawab Juragan Tarya.
" Iya, tapi sampai kapan keputusan itu kita tunggu, sampai usia dari putri kita tua,!" ujar ibunda Tara Rindayu itu dengan nada meninggi.
" Kalau memang ia tidak bersedia seharusnya ia katakan jadi kita tidak terlalu berharap,!" katanya lagi.
" Tetapi saat ini memang tugas Angger Senggani lagi banyak , Nyai, jadi ia belum sempat untuk memutuskan nya, mungkin setelah kembali dari Pajang, ia akan memberikan kabar kemari, " ucap Juragan Tarya.
" Kalau menurut Rindayu, Kakang Senggani memang tidak bersedia untuk menjadikan ku sebagai istri nya, " jelas Tara Rindayu.
" Hahhh, "
Kedua suami istri itu terkejut mendengar penuturan putri semata wayang nya itu.
" Darimana dirimu mengetahui nya, Nduk,?" tanya Juragan Tarya.
Ia sangat penasaran atas apa yg telah di ucapkan putri nya itu.
" Beberapa waktu yg lalu, ketika Kakang Senggani berada disini, Rindayu pernah menanyakan hal ini,!'' jawab Tara Rindayu.
" Jadi apa kata nya, Nduk,?" tanya istri Juragan Tarya itu.
" Memang jawaban tidak menolak dan tidak menerima, ia mengatakan belum mau menikah saat ini karena masih banyak tugas yg harus di laksanakannya,!" jawab Tara Rindayu.
" Benar ucapan ku, kakang, ia tidak bersedia menerima putri kita sebagai istri nya, atau jangan-jangan,.....!" kata istri juragan Tarya.
" Jangan-jangan apa Nyai, ucapanmu tidak jelas,?" tanya Juragan Tarya kepada istri nya.
Sambil melirik putri nya , istri Juragan Tarya itu berkata,
" Jangan-jangan angger Senggani telah memiliki calon sendiri untuk di jadikan istri," sebut nya.
" Ahhh, jangan ngaco Nyai, jika memang ia telah memiliki calon tentu ia telah menolak putri kita,!" jelas Juragan Tarya.
" Benarkah begitu, Nduk,?" tanya Juragan Tarya kepada putri nya.
Sambil menatap ke bawah, Tara Rindayu menjawab,
" Seperti nya demikian, Romo,"
" Anak siapa yg di inginkan angger Senggani itu,?" tanya Juragan Tarya lagi.
" Sepertinya anak Ki Jagabaya , Romo," jawab Tara Rindayu.
" Sari Kemuning maksudmu,?" tanya Juragan Tarya.
Kepala Tara Rindayu mengangguk, mengiyakan.
" Tidak mungkin Angger Senggani menyukai Sari Kemuning bukankah dahulu ia amat membenci nya,!" kata Juragan Tarya.
" Lain dahulu lain sekarang, hati orang dapat berubah, bukankah dahulu kakang amat membenci Angger Senggani namun saat ini malah kakang yg berharap untuk dapat menjadikan nya sebagai menantu,!" terang Nyai Tarya.
Juragan Tarya terdiam, ia membenarkan ucapan istri nya itu, memang dahulu ia amat membenci putra Raka jaya itu.
" Ahhh, entahlah nyai, mungkin benar ucapan mu itu,!". kata Juragan Tarya dengan nada lesu.
" Dan satu hal Romo, nampak Kakang Senggani lebih menyukai wanita yg dapat membela diri nya alias memilki ilmu silat, jadi Rindayu ingin meminta izin dari Romo dan si mbok agar dapat belajar ilmu silat,!" ungkap Tara Rindayu.
" Haahhh , belajar ilmu silat,?"
Tanya kedua orang tua itu dengan kaget, mereka tidak menyangka putri semata wayang nya itu memilki niatan untuk belajar ilmu silat, seperti yg terjadi kebanyakan atas para pemuda desa Kenanga itu.
" Mungkin sebaiknya jangan, Nduk, karena dengan kepergian mu dari sini tentu akan membuat kami sangat kehilangan, di tambah lagi, kamu disini tidak memiliki kekurangan termasuk untuk menjaga mu," ucap Juragan Tarya.
" Akan tetapi Romo, mengingat kejadian waktu itu, para penjaga yg Romo beri kepercayaan itu malah berkhianat dan hampir menjerumuskan ku kedalam lembah ke nistaan," jawab Tara Rindayu.
Juragan Tarya kembali membenarkan ucapan putri nya itu, tetapi melepaskan putri untuk berguru, merupakan sesuatu yg sangat sulit di lakukan.
__ADS_1
" Apakah dirimu tidak kasihan kepada kami berdua, Nduk, ?". tanya ibunda Tara Rindayu.
Sang ibu membelai rambut putri nya itu dengan lembut penuh kasih sayang.
" Bukan nya tidak menyayangi kalian berdua, tetapi saat ini Rindayu merasa harus melakukan sesuatu untuk kelanjutan hidup dari masalah yg telah menimpa diri ku ini, Rindayu tidak ingin berpangku tangan, mbok, Rindayu harus menjemput kebahagiaan sendiri,!" ungkap Tara Rindayu.
Ada rasa putus asa dari nada ucapan nya itu. Meski harus ia sembunyikan di hadapan kedua orang tua nya itu.
" Akan tetapi bagaimana nasib kami berdua jika harus ditnggalkan olehmu, Nduk?". tanya Juragan Tarya.
" Selama kita semua masih di beri kesehatan dan umur panjang tentu kita akan dapat berkumpul kembali,!". jawab Tara Rindayu
" Apakah dirimu memang sudah mantap, Nduk , atas semua keputusan mu ini,?" tanya ibunda Tara Rindayu.
" Sudah mbok, daripada Rindayu harus menunggu sesuatu yg tidak jelas lebih baik Rindayu mencoba untuk dapat belajar ilmu silat, walaupun itu terasa sulit,!". jawab Tara Rindayu.
" Memang sangat sulit, Nduk, terutama buat kami berdua, setelah dirimu berhasil di lepaskan dari tangan Singo Lorok itu, ingin rasa nya kita dapat berkumpul terus, karena apalah arti harta yg banyak ini di bandingkan dengan diri mu, kau adalah permata nya hati kami,!" ungkap Juragan Tarya.
Juragan Tarya terlihat menjadi gundah akibat keputusan dari putri nya itu.
" Kemana kah kiranya dirimu akan berguru,?". tanya sang ibu.
" Kalau menurut Rindayu sebaik nya ke gunung Merapi,.selain tidak terlalu jauh dari sini, di padepokan Merapi pun banyak cantrik wanitanya,!" jawab Tara Rindayu.
" Bagaimana kakang apakah kita akan melepaskan kepergian Rindayu ke Merapi,?". tanya sang ibu lagi.
Kali ini yg di tanya malah terdiam, seakan bisu seribu bahasa, Juragan Tarya tidak mampu menjawab pertanyaan sang istri, rasa nya sangat berat untuk melepaskan kepergian putri semata wayang nya itu.
" Bagaimana Kakang , apakah kita akan meluluskan permintaan Rindayu,?" tanya Nyai Juragan Tarya lagi.
" Terserah kepadamu lah , nyai, aku tidak dapat mengambil keputusan, semua terserah kepada mu," jawab Juragan Tarya.
Kali ini gantian nyai Tarya yg tidak dapat untuk memutuskan, ia diam sambil menatap putri nya itu, lama ia memandangi nya, barulah ia berkata,
" Sungguh sangat berat untuk melepaskan mu pergi , Nduk, namun karena sudah menjadi keinginan mu jadi kami berharap jika nanti telah selesai secepatnya lah kembali, karena kami tidak akan tahan di tinggal lama dirimu, Nduk," ucap sang ibu.
" Terima kasih mbok, Rindayu berjanji akan segera kembali setelah mendapatkan ilmu dari padepokan Merapi, mudah mudahan keadaan ini tidak akan lama," ucap Tara Rindayu.
Akhir nya gadis cantik itu mendapatkan restu dari kedua orang tuanya untuk menuntut ilmu di Gunung Merapi. Memang setelah penolakan halus dari Raka Senggani, Tara Rindayu berkeinginan kuat untuk dapat menyamai Sari Kemuning, yg nampak nya mendapatkan tempat di hati pemuda itu.
Setelah selesai pembicaraan dari keluarga Juragan Tarya itu, kemudian Tara Rindayu mempersiapkan keberangkatan nya ke Merapi. Ia cukup banyak menyiapkan bekal termasuk uang dan beberapa perhiasan selaku seorang wanita.
Juragan Tarya sendiri menyiapkan tiga orang pengawal nya yg akan turut serta dengan Tara Rindayu guna menjaga putrinya itu selama perjalanan.
Sesuai dengan hari yg di tentukan berangkat lah empat orang itu menuju ke Gunung Merapi guna mengantarkan Tara Rindayu menimba ilmu.
Dalam perjalanan nya, Tara Rindayu di temani seorang wanita yg juga menjadi pengawal di rumah nya. Dari perempuan Itulah ia mendapatkan tempat yg cocok untuk berguru.Karena perempuan itu pun bekas murid padepokan Merapi.
Ketika ke empat ekor kuda itu tengah beristrahat di sebuah ara-ara dekat sebuah hutan, nampak dari kejauhan debu mengepul tanda ada beberapa ekor kuda yg menuju ke tempat itu.
Setelah agak lama barulah terlihat ternyata beberapa orang prajurit pajang yg sedang nganglang.
Sesaat mendekati tempat itu, salah seorang prajurit menghentikan kudanya dan turun diikuti oleh teman nya yg lain.
Ia kemudian menyapa rombongan Tara Rindayu itu,
" Maaf sebelumnya , kalian darimana dan mau kemana,?" tanya Pemimpin prajurit itu.
" Kami dsri Kenanga dan akan ke Merapi,!'' jawab Pemimpin pengawal Tara Rindayu.
" Mau ke Merapi, dan kalian dari desa Kenanga, bukankah tempat itu merupakan desa kelahiran senopati Brastha Abipraya,?". tanya pemimpin prajurit itu lagi.
" Benar ki Rangga, desa Kenanga adalah tempat asal senopati Brastha Abipraya,!". jawab Pemimpin pengawal Tara Rindayu.
" Ada keperluan apa kalian ke Merapi,!" tanya pemimpin prajurit itu yg berpangkat Rangga.
Sambil melirik ke arah Tara Rindayu, pemimpin pengawal itu berkata,
" Kami akan mengantarkan den ayu ini untuk berguru ke Padepokan Merapi," jawab nya.
Kemudian pemimpin prajurit itu memandangi satu persatu rombongan itu dan ia berkata,
" Berhati-hati lah, terutama di dekat alas mentaok karena saat ini kami pun tengah memburu beberapa orang kawanan rampok yg melarikan diri arah kemari, pesan kami jangan menginap di dalam hutan jika hari telah malam, lebih baik kalian beristrahat di sebuah pedukuhan atau padesan,," terang pemimpin prajurit itu.
" Terima kasih Ki Rangga atas nasehat nya, kami akan menuruti semua pesan Ki Rangga itu,!" jawab Pemimpin pengawal Tara Rindayu itu.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu, kami akan melanjutkan perjalanan kami, selamat tinggal," ucap pemimpin prajurit Pajang itu.
" Selamat jalan , Ki Rangga ," ucap pemimpin rombongan dari Tara Rindayu itu.