Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 16 KEHILANGAN. bag ke sepuluh.


__ADS_3

" Heaaaahhh,.."


Senopati Pajang itu segera berlompatan menghindari serangan itu. Ia segera memberikan serangan balasan,..hingga membuat beberapa orang lawannya itu terhempas jatuh.


Sangat cepat Raka Senggani memberi pelajaran kepada para lawan -lawannya itu.


Sebentar saja ia berhasil melumpuhkan semua pengepung nya itu.


Raka Senggani kembali mendekati tempat dimana Singo Lorok terjatuh ,.namun alangkah terkejut nya ia ,.. Raka Senggani sudah tidak melihat tubuh pemimpin begal Gunung Tidar itu.


Siapa yg membawa Singo Lorok itu,..dan apakah ia masih hidup,.. begitulah pertanyaan yg berkecamuk di pikiran sang Senopati.


Jika ia masih hidup,..tentu akan jadi batu sandungan yg cukup berbahaya dengan ilmunya itu,..mengapa kemampuan nya begitu pesat meningkatnya ,..kata Raka Senggani lagi dalam hati.


Untuk mengetahui nya,.. Senopati Pajang itu mendekati salah seorang anak buah Singo Lorok itu yg masih terduduk di atas tanah dengan menahan rasa sakit.


" Hehhh,..dimana pemimpin mu,..?" tanya Raka Senggani.


Ia mendorong tubuh orang itu dengan menggunakn tongkat nya. Meski terlihat pelan namun untuk orang itu terasa sakit bukan main.


" Aaaa,..ku,..tid..dak tahu,.." jawab orang tersebut.


" Cepat,... katakan,..siapa yg telah membawanya itu,..?" tanya Raka Senggani.


Ia semakin menekan tongkat itu dengan kuat,..tak ayal lagi,.orang itu berteriak menahan kesakitan,..


" Aaakkhh,..bbb,..bbaiklah,..Ki Lurah di bawa pergi oleh Kakang Bawuk,..!" jawab nya.


" Kemana perginya,..?" tanya Raka Senggani dengan keras.


" Aaaa..ku,..tidak tahu,..!" jawab orang itu.


Raka Senggani yakin bahwa orang itu telah mengatakan yg sebenarnya,..ia tidak lagi mendesak nya.


Senopati Pajang itu kemudian meninggalkan tempat itu. Ia berjalan terus dan ketika ia sudah agak jauh,.. Senopati Pajang itu berlari dengan cepat melesat meninggalkan tempat itu,..karena si Jangu kudanya sudah tidak berada di situ.


Ia berlari dengan kencang nya sehingga sebentar kemudian ia telah meninggalkan hutan tersebut dan sampai di sebuah ara -ara,.. dilihatnya di tempat tersebut si Jangu tengah merumput.


Raka Senggani segera bersuit,..si Jangu mendongakkan kepalanya dan kemudian berlari mendekatinya.


Matahari hampir tenggelam,..tetapi Raka Senggani segera berpacu meninggalkan tempat itu.


Pada sebuah umbul,.. Senopati Pajang itu segera berhenti,..ia melaksanakan perintah dari yg Maha kuasa untuk menjalankan sholat maghrib.


Sambil membuka bungkusan bekal yg di terima nya dari Sari Kemuning ,..Raka Senggani beristrahat sejenak di dekat umbul itu.


Tidak berselang terlalu lama ia kemudian melanjutkan perjalanannya lagi,. karena ia akan melintasi jalanan yg ada beberapa pedukuhan nya,.sehingga malam itu ia terus memacu kudanya,.. Senggani berharap bahwa besok sebelum malam ia telah tiba di Pajang.


Hampir semalaman suntuk ia memacu si Jangu,..dan ketika pagi menjelang ia berhenti,.


Tampaknya di depan itu ada sebuah pedukuhan,..katanya dalam hati ,..si Jangu pun terus di gerakkannya menuju pedukuhan itu.


Ia kemudian menuju banjar pedukuhan itu. Disana Senopati Pajang itu kembali melakukan kewajiban nya sebagai seorang hamba. Baru setelah nya ia beristrahat sekejap di banjar pedukuhan itu.


Saat Matahari telah bersinar dengan cerah nya,..datang seseorang ke tempat Senopati Pajang itu tidur,..orang tersebut membangunkan nya.


" Nak,..bangun,..hari sudah pun siang,.." ucap orang itu.


Senopati Pajang itu tersentak,..ia segera terjaga dari tidurnya.


" Anak mau kemana,..?" tanya orang itu.


" Mau,.ke Pajang,..Ki,.." jawab Raka Senggani.


" Wah ,..masih cukup jauh,..mungkin kalau tidak beristrahat ,..malam baru tiba disana,.." ucap orang itu.


" Iya,.. Ki,..siapa aki ini,..?" tanya Raka Senggani.


" Aki adalah bekel pedukuhan ini,.." jawab orang itu.


" Baiklah Ki, kalau begitu Aku akan segera berangkat agar tidak kemalaman lagi di jalan,.." kata Raka Senggani.


" Apa tidak sebaiknya singgah dahulu di rumah aki,..yahh,..sekedar untuk minum dan sarapan,..Nak,.." kata Bekel itu menawarkan.


Raka Senggani tidak langsung menjawab nya,..ia melihat ke arah si Jangu yg tegak berdiri.

__ADS_1


" Baiklah ,..Ki,..Aku menerima tawaran aki itu,.." jawab Raka Senggani.


Kemudian Bekel itu pun mengajak Senopati Pajang tersebut ke rumah nya.


Sesampainya disana,..telah tersedia makanan dan minuman,..Singkong rebus dengan legen Kelapa nampak masih mengepulkan asap,.dan minuman wedang sere.


Ki Bekel kemudian mempersilahkan Raka Senggani untuk memcicipinya.


Dasar memang ia sedang lapar -laparnya,.dengan cepat ia memakan makanan itu.


Agak lama Senopati Pajang itu tertahan di pedukuhan tersebut. Karena memang sang Bekel cukup ramah dan banyak memberikan keterangan tentang situasi saat ini,..ia mengeluhkan dengan banyak nya kejadian yg cukup meresahkan para warganya,.dari hilangnya hewan ternak sampai pada perampokan yg telah terjadi.


Raka Senggani mendengarkan semua cerita Ki Bekel itu,..dan ketika matahari mulai bergerak ke puncaknya barulah ia berangkat dari pedukuhan itu.


Dan kali ini ia memacu si Jangu dengan kencang nya,..ia tidak lagi berhenti kecuali melasanakan sholat.


Ketika hari telah malam barulah Raka Senggani tiba di kota Pajang.


Ia mengarahkan si Jangu ke kediaman Tumennggung Wangsa Rana. Walau sebenarnya ia belum tahu apakah Sang Tumenggung masih berada di rumah atau tidak.


Karena seperti pesan dari Prajurit Pajang yg datang ke gunung Lawu,..ia seharusnya sudah berada di Pajang sejak dua hari yg lalu.


Prajurit yg berjaga di kediaman Tumenggung Wangsa Rana itu terkejut setelah melihat kehadiran Senopati Brastha Abipraya itu.


" Silahkan Senopati,.. Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana telah lama menanti kehadiran mu,.." kata Prajurit jaga itu.


" Apakah paman Tumenggung Wangsa Rana belum berangkat,..?" tanya Raka Senggani heran.


" Belum Senopati,..mereka akan berangkat pada esok hari,..mereka memang masih menunggu kedatangan dari Senopati Brastha Abipraya,.." jelas Prajurit jaga itu.


" Terima kasih,.. Prajurit,.." kata Raka Senggani.


Ia membawa masuk si Jangu ke dalam. Begitu tiba di depan pendopo rumah Tumenggung Wangsa Rana itu ,.Raka Senggani melompat turun dan menambatkan kudanya.


Ia langsung menuju ke atas pendopo rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.


Sang Tumenggung yg akan beristrahat,.. terlihat keluar setelah ada salah seorang Prajurit yg mengatakan bahwa Senopati Brastha Abipraya telah tiba.


Buru -buru ia keluar dari dalam biliknya dan menuju pendopo rumah nya itu.


Dilihatnya Raka Senggani tengah duduk disana.


" Alhamdulilah,..paman Tumenggung,.Senggani dalam keadaan baik,.. bagaimana keadaan paman sendiri,..?" tanya Raka Senggani.


" Demikian pula ,.. paman ,..dalam keadaan baik,..," jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Kapan Angger Senopati kembali dari Boyolangu,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Sudah hampir sepekan,..paman,.. sebelumnya Senggani singgah di gunung Lawu,.." jawab Raka Senggani.


" Paman sangat senang sekali dirimu telah kembali ,..karena sesuai permintaan dari Kanjeng Adipati,..dirimulah yg seharusnya memimpin pasukan pajang ini,..Ngger,." ucap Tumenggung Wangsa Rana


Raka Senggani mendengarkan penuturan dari Tumenggung Wangsa Rana itu.


Ia pun merasa bersyukur setelah kemampuannya kembali lagi. Dan rasa -rasanya sudah tidak ada yg di khawatirkan lagi.


" Memang Kanjeng Adipati sangat berharap agar dirimulah yg membawa pasukan ini,.. tampaknya saat ini Kanjeng Adipati tidak terlalu mempercayai paman lagi,..Ngger,.." kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Tidak,.. Kanjeng Adipati bukannya tidak mempercayai paman Tumenggung akan tetapi masih sangat sayang dengan paman Tumenggung Wangsa Rana,..ia takut apa yg telah terjadi pada pasukan Pajang sebelumnya ,..terjadi pada paman Tumenggung,.." jawab Senopati Pajang itu.


" Ahhh,..!" seru Tumenggung Wangsa Rana.


" Apakah besok paman Tumenggung akan tetap ikut,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Pertanyaan itu ditujukan nya setelah ia hadir di Pajang tersebut,.apakah Adipati Pajang akan tetap mengirim pasukan dengan dua orang Senopati nya.


" Sepertinya tidak ,..Ngger,.. karena saat ini pun Pajang tengah kesulitan akibat banyak nya orang -orang yg mengambil kesempatan untuk membuat keonaran di Pajang ini,.terlebih mereka mengetahui bahwa Pajang akan mengirimkan sebuah pasukan yg sangat besar untuk membantu Kotaraja Demak,..sehingga Kanjeng Adipati pun harus di pusingkan membagi perhatian nya akan keamanan Pajang sendiri,.." ungkap Tumenggung Wangsa Rana.


" Benar,.. paman Tumenggung,..tadi saja diriku telah dihadang oleh Gerombolan Singo Lorok,.selepas meninggalkan desa Kenanga,.." ujar Senopati Pajang itu.


" Singo Lorok,..kepala begal asal Gunung Tidar itu,..Ngger,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kaget.


" Iya paman Tumenggung,..Singo Lorok yg pada waktu itu telah di tahan di Pajang ini namun berhasil kabur,..dan saat ini tampaknya ia telah memiliki kekuatan lagi, sehingga telah berani menantangku untuk bertarung,.." jelas Raka Senggani.


" Pantas saja,.." seru Tumenggung Wangsa Rana.

__ADS_1


" Memang nya kenapa Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani.


" Ya,..pantas saja saat ini di Alas Mentaok kembali bergejolak,.ternyata biang keroknya adalah Si Singo Lorok itu,.." jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Apa,..alas Mentaok kembali di huni oleh kawanan begal lagi,.. Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani.


Senopati Pajang itu tidak kalah kaget nya mendengar berita itu,. padahal mereka telah berhasil mengalahkan mereka saat masih di pimpin oleh Macan Baleman,..bersama Tumenggung Wangsa Rana ,.mereka mampu menumpas kawanan begal asal Alas Mentaok itu.


" Yah,..jika memang benar yg telah Angger Senopati katakan tadi,..berarti memang dialah pelakunya,..dan bagaimana hasil pertarungan antara Angger Senopati dengan Singo Lorok itu,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.


" Senggani berhasil mengalahkañnya,..akan tetapi Senggani tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah ia telah tewas atau masih hidup,.." jelas Raka Senggani.


" Kenapa Ngger,..apakah ia berhasil melarikan diri lagi,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana penasaran.


" Ada seseorang yg tampaknya berhasil membawa dirinya kabur dari tempat dimana ia telah terjatuh itu,..namun karena beberapa anak buahnya menyerang Senggani,.. Singo Lorok itu telah menghilang dari tempatnya,.entah kemana perginya orang itu,..saat ini Singo Lorok telah menjelma menjadi satu kekuatan yg patut di waspadai,..Paman,." terang Raka Senggani lagi.


" Jika memang demikian,.. Kanjeng Adipati harus tahu akan hal ini,..supaya kekuatan dari murid Singo Abra itu tidak semakin membesar dan akan semakin menyulitkan kita untuk megatasinya,.." kata Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani menyetujui dengan apa yg telah dikatakan oleh Tumenggung Wangsa Rana itu.


Dan Malam itu mereka habiskan berdua dengan membicarakan keadaan Demak secara umum nya dan Pajang secara khususnya.


Pada esok harinya,.dengan cepat keduanya menghadap Kanjeng Adipati Pajang di dalam keraton Pajang itu.


Pamimpin tertinggi dari Kadipaten Pajang itu terlihat sangat senang menyambut kedatangan kedua orang tersebut.


Setelah ia menanyakan kabar dari Senopati Brastha Abipraya itu,.kemudian sang Adipati memerintahkan nya untuk segera membawa pasukan Pajang itu berangkat ke Kotaraja Demak.


Ia juga memerintahkan kepada Tumenggung Wangsa Rana untuk tetap tinggal di kota Pajang,..dan diserahi tugas menjaga keamanan dari Kadipaten Pajang itu.


Tidak terlalu lama mereka berada di keraton,.. karena sang Adipati sendiri mengajak mereka untuk melepas keberangkatan pasukan tersebut.


Akhir nya pasukan Pajang itu di lepas keberangkatan nya oleh sang Adipati sendiri dengan di dampingi Tumenggung Wangsa Rana.


Para Prajurit yg akan berangkat itu sangat berbesar hati setelah tempat dari Tumenggung Wangsa Rana itu di gantikan oleh Senopati Brastha Abipraya.


Adipati Pajang mengucapkan se sorahnya di hadapan Prajurit nya itu,..ia sangat berharap keberangkatan kali ini tidak seperti keberangkatan sebelumnya,..yg hanya menyisakan beberapa orang saja Prajurit yg mampu kembali dengan selamat.


Ia sangat berharap kepada kemampuan dari Senopati nya itu untuk membawa kembali pasukan nya dalam keadaan utuh dan selamat.


Setelah selesai sesorah dari sang Adipati,.pasukan Pajang itu berangkat dengan di tandai sebuah pukulan bende yg sangat keras.


Gegap gempita pasukan Pajang itu berangkat dari alun -alun kota Pajang.


Dengan di Senopati I oleh seorang Senopati kepercayaan dari sang Adipati yaitu Senopati Brastha Abipraya.


Pasukan besar itu meninggalkan Kadipaten Pajang menuju ke Kotaraja Demak.


Paling depan dari pasukan itu terlihat Senopati Brastha Abipraya duduk diatas punggung kudanya dengan sangat gagahnya.


Ia memakai seluruh atribut keprajuritan Pajang lengkap dengan tanda kepangkatannya.


Di belakang nya ada pasukan penunggang kuda yg membawa umbul -umbul dan beberapa kelebet,..simbol-simbol Kadipaten Pajang.


Baru yg paling belakang ada barisan Prajurit jalan kaki yg bergerak serentak sesuai dengan aba -aba dari para Lurah Prajurit yg memimpin mereka itu.


Rombongan yg panjang dan cukup besar itu berjalan sangat perlahan dan kalau di lihat dari kejauhan seperti seekor ular yg tengah merayap mencari mangsa nya.


Pasukan itu terus berjalan sampai satu hari penuh,..dan ketika malam menjelang barulah pasukan itu berhenti.


Senopati Brastha Abipraya yg didampingi beberapa Rangga kepercayaan nya termasuk Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno.


Berkumpul di satu tempat,.. beberapa orang Rangga itu bertanya dengan keadaan dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Karena sebelumnya mereka tidak sempat menanyakan hal tersebut ketika masih berada di Pajang.


Senopati Brastha Abipraya dengan senang hati mengatakan kepada mereka bahwa saat ini dirinya sudah sangat baik seperti sedia kala.


Ia juga menanyakan keadaan dari para Rangga itu dan keadaan Pajang setelah di tinggalkannya.


Malam itu menjadi semacam reunian buat mereka semua ,. terutamanya yg sangat dekat dengan Senopati Brastha Abipraya itu.


Dan keesokan harinya pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya lagi menuju Kotaraja Demak.


Hampir empat hari barulah pasukan itu tiba di Kotaraja.

__ADS_1


Dan seluruh pasukan nya di tempatkan di bangsal keprajuritan Demak yg telah di siapkan.


Khusus buat para Pemimpin nya berada di rumah Tumenggung Bahu Reksa.


__ADS_2