Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 28 Perang Tanding di Bukit Tuntang. bag ke sembilan.


__ADS_3

Ia terus melompat dan membubung tinggi ke udara dan ,..


" Heaahhh,..!"


Ia kembali melepaskan Aji Rajah Wulungan miliknya ke arah Raka Senggani yg terlihat masih berdiri tegak.


Namun tiba -tiba saja,terdengar teriakan dari mulut senopati Pajang ini,..


" Aji,...Wajra Geniii,...Hiyyyahh ...!"


Dari telapak kiri Senopati Pajang ini keluar lah selarik cahaya merah terang yg menghantam serangan yg di lepaskan oleh Begawan Kakung Turah .


" Dhumbhhh,..!"


" Bleghuaaarr,..!"


" Hufhhh,..!"


" Hiyyaah,.!"


Benturan keras yg terjadi membuat kedua orang tersebut harus terpental ke belakang.


Cukup jauh keduanya terjatuh dengan sangat kerasnya di atas tanah.


Begawan Kakung Turah buru -buru bangkit, sambil mengibas ibaskan pakaianya dari debu yg menempel, tampaknya ia tidak terpengaruh akibat benturan tadi.


Huhhh, sungguh hebat bocah ini, mungkinkah adi Kebo Anggara adalah gurunya, rasanya mustahil, karena bocah ini memiliki ilmu yg sudah sangat langka seperti Aji Panglimunan itu,.bekata dalam hati Begawan Kakung Turah.


Memang sejak semula ia tidak dapat memandang rendah Senopati Pajang dan Demak ini.Bukan tanpa alasan Demak mengirimkan nya datang kemari, tentu mereka telah memperhitungkan nya berkata lagi di dalam hatinya Begawan Kakung Turah.


Ia tegak berdiri tanpa melakukan apa-apa ketika melihat Raka Senggani pun telah bangkit, Senopati Pajang tampaknya menderita sesak pada dadanya akibat benturan yang telah terjadi.


Sungguh, kemmapuan si Tua Gila inj memang sangat luar biasa,.. mungkinkah aku dapat mengalahkan nya, membathin Raka Senggani dalam hatinya.


Namun meskipun demikian suami Sari Kemuning tetap waspada dengan bertelekan tongkat berkepala ular ia berusaha berdiri tegak walau dadanya terasa nyeri.


" Apakah akan kita lanjutkan lagi pertarungan ini, bocah,..?" tanya Begawan Kakung Turah .


" Terserah kepada Eyang Begawan,..walau sebenarnya diriku tidak mempunyai kepentingan akan perang tanding ini,..!" jawab Raka Senggani.


Ia pun mengangkat senjata tongkatnya ke atas pertanda telah siap untuk bertarung kembali.


" Baiklah jika memang dirimu penasaran, kita lanjutkan lagi perang tanding ini,..bersiaplah,..!" seru Begawan Kakung Turah.


Dasar Gendeng, memang sangat pantas Gelar Tua Gila itu di sematkan pada dirinya, bukankah ia yg ingin melakukan perang tanding ini, bukan diriku, Raka Senggani tidak pernah penasaran dengan ilmu seseorang bagaimana pun tinggi nya,..berkata dalam hati Senopati Brastha Abipraya ini.


Ia memang sangat kesal atas perlakuan penguasa Bukit Tuntang ini, karena di saat ini dirinya memang masih memerlukan beberapa kesempatan untuk bertanya kepada Dewi Rasani Mayang akan hal yg pernah di dengarnya saat berada di desa Lopait.


Namun karena desakan dari Begawan Kakung Turah ini terpaksalah ia harus melayani permintaan nya yg cukup aneh, yakni melakukan perang tanding.


" Hiyyyah,..!"


" Dhumbhh,..!"


" Hufhhh,..!_


Kembali si Tua Gila melompat ke udara sambil melepaskan Aji Rajah Wulungan kearah Raka Senggani dan kali ini kecepatan nya pun bertambah juga ia mengerahkan tenaga dalam nya lebih tinggi lagi.


Memang Ajian Rajah Wulungan memiliki sepuluh tingkatan, dan yg hampir menwaskan Ki Ajar Sarabaya ada pada tingkatan ke tujuh.


Kini Begawan Kakung Turah telah merambah ajian Rajah Wulungan pada tingkat ke delapan guna menjatuhkan lawannya ini.


Tenaga dalam orang tua ini memang sangat hebat, setelah bertarung selama tiga kali dengan lawan yg berbeda tetapi ia masih terlihat bugar.


Serangan yg d lancarkan oleh Begawan Kakung Turah ini kembali menemui tempat kosong, dengan cepat Raka Senggani menghilangkan tubuhnya dan berusaha memangkas jarak dengan Begawan Kakung Turah.


Si Tua Gila amat terkejut saat melihat Raka Senggani muncul dan tidak berada jauh dari dirinya.

__ADS_1


Senopati Pajang ini langsung berusaha untuk menyerang Begawan Kakung Turah dengan Aji Wajra Geni nya,..


" Hiyyyahh,..Wajra Geni,..!"


Ia melepaskan serangan dalam jarak yang sangat dekat tanpa di ketahui sebelumnya oleh Begawan Kakung Turah.


Sangat terkejut memang penguasa Bukit Tuntang ini setelah mendapati serangan tersebut, akan tetapi ia tidak merasa gugup, dengan sangat cepat pula orang tua ini melepaskan ajian Rajah Wulungan guna menahan serangan tersebut.


" Rajah Wulungan,..heahh,..!"


Benturan dalam jarak dekat ini sempat tertahan karena kedua tenaga itu saling bertemu dalam jarak dekat.


Tolak menolak antara keduanya pun terjadi, bahkan Begawan Kakung Turah merasa ia perlu menambah kekuatan nya agar dapat mengalahkan Raka Senggani.


Demikian pula dengan Raka Senggani sendiri begitu di rasa tekanan semakin meningkat ia pun segera melambari tenaga dalam nya semakin tinggi pula.


Cukup lama kedua kekuatan yang berimbang ini harus tolak menolak dan saling dorong seperti saat mereka melepaskan badai angin pukulan, bedanya dengan kali ini, siapa saja yang kalah dalam dorongan kedua ajian tersebut tentu dialah yg akan kalah terpanggang oleh serangan lawan.


Beberapa pasang mata yg melihat kejadian ini bertepuk tangan dalam hatinya , tentu sudah dapat di pastikan akan ada yg kalah dalam adu Ajian ini, entah itu Begawan Kakung Turah atau si Tua Gila atau pun Raka Senggani , senopati Pajang itu.


Termasuk dalam hal ini yg tertawa kegirangan dalam hatinya adalah Mpu Loh Brangsang. Karena ia merasa tentu dapat mengalahkan siapa pun yg akan keluar sebagai pemenangnya.


Memang situasi semakin genting tatkala secara perlahan kedudukan dari Begawan Kakung Turah sepertinya tidak mampu menahan dorongan cahaya merah terang yg di keluarkan oleh Raka Senggani dari kedua telapak tangan nya,. cahaya biru gelap itu semakin mendekati tubuh dari Begawan Kakung Turah ini.


Sebenarnya si Tua Gila ini mengetahui bahwa tampaknya ia memang tidak mampu meningkatkan lagi tenaga dalam nya setelah ia bertarung dua kali dengan lawan yg berbeda dan di tambah lagi kali ini lawan yg di hadapinya bukanlah lawan sembarangan, seorang Pendekar pilih tanding yg namanya telah menggaung di tlatah Demak ini bahkan hingga ke mancanegara tepatnya kota Melaka.


Kejadian yg kurang menguntungkan buat Begawan Kakung Turah ini di lihat oleh seseorang yg berada cukup jauh dari tempat tersebut.


" Hiyyyahh,..!"


Dalam sebuah lesatan yg sangat ringan namun cukup cepat , orang tersebut langsung menuju ke tempat kedua orang yg tengah bertarung ini dan,..


" Heaaahhhh,...!"


" Dhumbhh,..!"


" Bleghuaaarr,..!"


Laksana sebagai pemisah, pukulan yg di lepaskan orang tersebut langsung membuyarkan kedua serangan yg lagi beradu itu.


Hal ini membuat tubuh dari Raka Senggani dan Begawan Kakung Turah harus mencelat ke udara akibat kembalinya tenaga mereka setelah tidak berhasil menembus pertahanan lawan.


Memang keduanya tidak menyangka akan ada orang yg akan memisahkan pertarungan mereka ini ,sehingga keduanya harus terkena akibat kembalinya pukulan mereka itu.


Begawan Kakung Turah jatuh terhempas ke atas tanah cukup keras, demikian pula dengan Raka Senggani.


Dengan kesadaran mereka yang hampir hilang, keduanya berusaha untuk bangkit dan melihat apa dan siapa yang telah melakukan hal itu.


Adalah Begawan Kakung Turah yg mengenali orang yang baru datang tersebut, meski ia merasa sakit di dadanya , tokoh tua ini berseru kaget setengah mati,..


" Sura Gadhiek,...!" teriak nya.


Sambil ia memandang ke arah orang yang baru datang itu.


Sedangkan orang yg baru datang tersebut langsung mendekati nya seraya berkata,..


" Memang sikap mu itu sudah gila , Argayasa, apakah dirimu memang mau cari mati atau hanya sekedar menjajal kemampuan dari Senopati Brastha Abipraya itu,..!" seru orang yang bernama Sura Gadhiek ini.


" Hoeekkh,..!"


Begawan Kakung Turah muntah darah segar yg keluar dari mulutnya namun ia masih bisa menjawab dengan berkelakar,..


" Heh, he he ,memang aku ingin menjajal kemampuan dari seorang Senopati yg sangat terkenal ini, Gadhiek,..bukankah dirimu tahu aku senang melakukan hal tersebut,..!" sahut Begawan Kakung Turah sambil tertawa .


Meskipun darah masih nampak di sudut bibir nya, tetapi orang tua ini kelihatan nya masih kuat dan mampu berdiri dengan tegak. berbeda dengan Raka Senggani, Senopati Pajang itu, memang masih mampu melihat orang yang baru datang ini tetapi tiba-tiba tubuhnya limbung dan jatuh ke atas tanah lagi.


" Memang kau sudah gila Argayasa, lihatlah akibat ulah mu itu, pemuda ini sampai harus mempertaruhkan nyawa nya,..!" ucap Sura Gadhiek lagi.

__ADS_1


Orang tua yg mungkin seumuran dengan Begawan Kakung Turah ini mendekati tubuh Raka Senggani yg telah terjatuh tersebut.


Sekejap kemudian orang itu memeriksa keadaan dari Raka Senggani sambil menotok beberapa jalan darah , terlihat lah tubuh dari Senopati Pajang ini mampu bernafas dengan teratur kembali, dan perlahan ia membuka kelopak matanya dan mendapati seseorang yg berada di dekatnya.


" Syukurlah kau selamat , Ngger,..maaf sebelumnya,..jika ini tidak kulakukan tentu sahabatku ini yg akan tewas di hantam oleh Ajian Wajra Geni milik mu itu,..!" ungkap Ki Sura Gadhiek kepada Raka Senggani.


" Ahh, tidak apa -apa , Eyangg,..!" sahut Raka Senggani yg berusaha untuk bangkit.


" Panggil saja namaku Sura Gadhiek, atau orang-orang lebih mengenalku sebagai Begawan Semeru Giri, dari Puncak Semeru,..!" kata orang tua yg bernama Ki Sura Gadhiek itu.


Begawan Kakung Turah pun berada di tempat tersebut , ia langsung bertanya,..


" Mengapa kau hentikan pertarungan kami tadi, Gadhiek,..?" tanya nya kepada Begawan Semeru Giri.


" Kau sudah Gila Argayasa, jika aku tidak menghentikan perang tanding ini tentu dirimu telah tewas Argayasa, mengapa kau masih senang bermain main dengan maut di saat usia mu sudah setua ini, sungguh aku tidak mengerti jalan pikiranmu itu, Argayasa,..,!" jelas Ki Sura Gadhiek.


" Hei,..belum tentu aku kalah , Gadhiek, aku masih memiliki beberapa ilmu yang belum ku keluarkan, ini masih dalam tahap penjajagan saja,..tidak mungkin Aku kalah oleh ajian Wajra Geni itu, karena Aku masih memiliki ajian Rajah Wasesa,..," ucap Begawan Kakung Turah.


" Kau jangan terlalu berbangga diri Argayasa ,. walaupun dirimu memang masih memiliki Ajian Rajah Wasesa , tetapi Angger Senopati ini pun masih memiliki ilmu pamungkasnya , yg akan membuat mu kaget mendengarnya,..!" sahut Begawan Semeru Giri.


" Ahh, jangan berbohong kepadaku , Sura Gadhiek,..lekas katakan ilmu apa yg di miliki oleh murid Adi Kebo Anggara ini,..?" tanya Begawan Kakung Turah.


Dan belum pun sempat Begawan Semeru Giri atau Sura Gadhiek ini menjawab dari arah belakang mereka ada seseorang yg menjawab nya ,


" Ia memiliki Ajian Sangga Kalimasada seperti milik dari Anakmas Raden Said,.juga Kanjeng Pangeran Jaka Sengara,." sebut orang itu dari belakang.


Ketiganya segera melihat orang yang baru datang itu , dan ternyata,..


" Eyang Panembahan Lawu,..!" seru Raka Senggani yg sudah mampu berdiri.


" Adi Kebo Anggara,..!" teriak Begawan Kakung Turah.


Setelah melihat siapa orang nya yg telah datang itu.


Raka Senggani langsung menyambut kehadiran Panembahan Lawu ini dengan mencium kedua tangannya, demikian pula dengan Begawan Kakung Turah , mendapati adik seperguruannya ini ia langsung saja memeluknya,.


" Apa khabar mu, adi Kebo Anggara,..?" tanya nya kepada panembahan Lawu.


" Baik, aku baik kakang Argayasa,..!" jawab Panembahan Lawu.


Penguasa Gunung Lawu ini segera berpelukan dengan Ki Sura Gadhiek atau Begawan Semeru Giri, baru setelahnya ia bertanya kepada Raka Senggani,.


" Bagaimana keadaan mu Angger Senggani,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Baik Eyang, diriku dalam keadaan baik, meski tadi sebelum mendapatkan bantuan dari Eyang Sura Gadhiek, dada ku terasa sesak,..!" jelas Raka Senggani .


Ternyata pemuda ini masih lebih baik lagi keadaannya di bandingkan dengan Begawan Kakung Turah yg sempat muntah darah.


Panembahan Lawu ini segera berkata lagi,..


" Beruntung tadi , kakang Sura Gadhiek mampu memisahkan , kalau tidak entah apa yg akan terjadi,..!" ucap nya.


Begawan Kakung Turah langsung menyahutinya,..


" Benarkah yg telah kau katakan tadi, adi Kebo Anggara, bahwa muridmu ini memang memiliki Ajian Sangga Kalimasada itu,..?" tanya nya kepada adik seperguruannya ini.


, Sebelum aku menjawab pertanyaan mu itu Kakang Argayasa, Aku ingin memberitahukan bahwa sesungguhnya Angger Senggani ini bukanlah muridku dalam hal ilmu kadigjayaan atau pun olah kanuragan, mungkin Aku hanya mampu memberikan semacam nasihat dan juga ilmu pengobatan, jadi dalam artinya Angger Senggani ini memang bukan muridku,,,!" jelas Panembahan Lawu.


Ia kemudian melanjutkan lagi ucapan nya itu,..


" Dan mengenai ajian Sangga Kalimasada itu memang benar bahwa Angger Senggani ini memiliki nya,..jadi Kakang Argayasa jangan merasa jumawa dahulu ketika berhasil menjatuhkan nya, entah mengapa ia memang sangat jarang untuk mengeluarkan ilmu tersebut, " terang Panembahan Lawu


" Ahhh, ucapan mu ini semakin membuatku penasaran ingin menjajal nya,..!" ucap Begawan Kakung Turah pendek.


" Kakang Argayasa jangan semakin menjadi gila,..sudahlah , tidak perlu memperpanjang masalah yang tidak jelas ini,sebaiknya kita yg tua tua ini lebih baik semakin mendekat kan diri kepada yg Maha kuasa, tidak adigang adigung dan Adiguna seperti sikap kakang ini,..!" ungkap Panembahan Lawu.


Ia merasa sikap kakak seperguruan nya tidak pernah berubah, ingin merasa paling sakti dan memiliki segundang ilmu. Jika ada seorang yg mempunyai kemampuan tangguh tanggon, ia ingin menjajal nya.

__ADS_1


" Tetapi urusan kita belum selesai Tua Gila,.!" seru seseorang tiba-tiba.


Dan orang itu adalah Mpu Loh Brangsang , penguasa dari Gunung Merapi ini merasa dapat mengalahkan Begawan Kakung Turah setelah ia melihat tadi orang tua itu muntah darah segar.


__ADS_2