
Setelah sepekan berada di Desa Kenanga maka Raka Senggani pun ber niat kembali ke Pajang.
" Ki Lamiran , Senggani pamit, ingin kembali ke Pajang, mungkin nanti kembali lagi kemari,!" ucap Raka Senggani sambil memegangi tali kekang Kuda nya.
" Iya, hati -hati, Ngger, semoga yg Maha kuasa selalu melindungi mu, !" jawab Ki Lamiran.
Kemudian Raka Senggani naik ke atas punggung kuda nya,
" Selamat tinggal ,Ki, Heaaahh,"
Ia pun menjalan kan kuda nya yg tegar dan besar itu dengan per lahan, ia melintasi jalanan di desa Kenanga sambil melihat per sawahan yg masih kosong.
Pemuda itu ber jalan dengan tenang, sehingga satu hari satu malam sampai lah Raka Senggani di kota Kadipaten Pajang.
Ia langsung menuju ke rumah Tumenggung Wangsa Rana, karena menurut nya ia lebih nyaman berada di sana.
Melihat pemuda itu kembali lagi ke Pajang Tumenggung Wangsa Rana amat gembira,
" Bagaimana keadaan mu,Ngger, ?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Baik , Paman Tumenggung," jawab Raka Senggani.
" Apa kah Angger Senggani tidak langsung ke Madiun,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Tidak Paman, Senggani harus menghadap Kanjeng Adipati ter lebih dahulu,!" jelas Raka Senggani.
" Bagaimana dengan keadaan di Kenanga, apa kah dalam keadaan baik,?" tanya Tumenggung Wangsa.
" Kenanga baik Paman, entah lah jika Si Topeng Iblis itu datang , mungkin yg di sasar nya adalah rumah Juragan Tarya, kemarin Senggani telah memberi penjelasan kepada nya untuk meningkat kan keamanan di rumah nya itu,!" ujar Raka Senggani.
" Baik lah Ngger, nanti kita langsung menghadap Kanjeng Adipati, !" kata Tumenggung Wangsa Rana.
" Terima kasih Paman Tumenggung, lebih cepat menghadap Kanjeng Adipati mungkin lebih baik," ucap Raka Senggani.
Seraya ber istrahat sejenak di rumah Tumenggung Wangsa Rana, Raka Senggani kemudian dengan Tumenggung Wangsa Rana itu menghadap Adipati di Istana Keraton Pajang.
" Ampun kan hamba Kanjeng Gusti Adipati, Senopati Brastha Abipraya menghadap,!" ucap Raka Senggani.
" Bagus, karena memang kehadiran Senopati Brastha Abipraya sangat di harap kan di sini, utusan dari Kotaraja menanya kan apakah utusan dari Pajang ini telah di kirim,!" ungkap Adipati Pajang.
" Hamba Kanjeng Adipati,!" ucap Raka Senggani sambil merangkap kan kedua tangan nya.
" Baru -baru ini keraton Madiun telah di sasar oleh Si Topeng Iblis, dan Pangeran Panggung putera dari Adipati Madiun ter luka cukup parah, jadi Senopati Brastha Abipraya sudah mengerti kan, tugas kali ini tentu akan lebih berat dari sebelum nya,!" kata Adipati Pajang lagi.
" Hamba Kanjeng Adipati, Hamba mengerti ,!" jawab Raka Senggani.
" Dan satu hal lagi, Senopati Brastha Abipraya harus menghadap kakang Patih' Madiun, Patih Haryo Winangun, juga tunjuk kan lencana yg telah di beri kan dari Tumenggung Bahu Reksa, dan serah kan juga surat ini kepada Kakang Patih Haryo Winangun , !" ter dengar perintah dari Sang Adipati Pajang.
" Sendika Dawuh Kanjeng Gusti Adipati, segala perintah siap di laksanakan,!" jawab Senopati Raka Senggani.
Raka Senggani menerima surat yg di beri kan oleh Sang Adipati itu.
" Segera lah berangkat Senopati Brastha Abipraya, karena saat ini Madiun benar -benar sangat mem butuh kan seorang Senopati Pinunjul, dan untuk kali ini, Senopati Brastha Abipraya bebas atas waktu nya sampai Si Topeng Iblis itu ber hasil di tangkap atau pun di bunuh,!'' jelas Sang Adipati lagi.
" Hamba Kanjeng Adipati, !'' jawab Senopati Raka Senggani.
Kemudian Senopati Raka Senggani dengan di temani oleh Tumenggung Wangsa Rana mohon pamit dari hadapan Adipati Pajang itu.
Dengan tatapan yg penuh harap Adipati Pajang melepas kedua punggawa Pajang itu.
Raka Senggani dan Tumenggung Wangsa Rana kembali ke rumah sang Tumenggung.
Di sana mereka di sambut oleh istri dari Tumenggung Wangsa Rana itu.
" Apakah angger Senggani akan langsung kembali ke Kenanga,?" tanya Nyai Tumenggung kepada Raka Senggani.
" Tidak Bi, Senggani masih ingin ber istrahat di sini, mungkin besok baru kembali,!" jawab oleh Raka Senggani.
__ADS_1
Malam itu Raka Senggani ber malam di Kota kadipaten Pajang.
Dan ketika malam se makin larut, tiba-tiba ter dengar suara kentongan dengan nada titir dari arah dalam Keraton Pajang.
Tumenggung Wangsa Rana dan Raka Senggani yg belum tidur segera ber gerak ke dalam Keraton Pajang itu.
Sampai di sana, Tumenggung Wangsa Rana langsung ber tanya kepada salah se orang prajurit,
" Ada apa, apa yg telah terjadi, ?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Itu , itu Kanjeng Tumenggung ada sese orang yg sedang mengamuk,!" jawab prajurit itu.
" Siapa, siapa yg orang sedang mengamuk itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Dia menyebut kan nama nya , Singo Abra ,!" jelas prajurit itu.
" Mari kita lihat Paman Tumenggung,!" ajak Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa.
Kedua orang itu kemudian menuju halaman depan Istana Keraton Pajang itu, nampak lah para prajurit Pajang tengah mengeroyok satu orang yg ber pakaian hitam -hitam.
Meskipun ia di keroyok oleh puluhan prajurit Pajang, akan tetapi orang itu nampak ter tawa -tawa.
" Ha, ha, ha, serahkan murid ku Singo Lorok, jika tidak kalian akan mati semua nya,!" kata Singo Abra sambil melesat ke atas wuwungan Istana Pajang itu.
Nampak para prajurit itu terjatuh akibat tawa yg di keluar kan oleh Singo Abra, ter nyata suara tawa itu di lambari ajian gelap ngampar yg sangat hebat , hanya beberapa orang prajurit saja yg masih mampu ber diri , selebih nya jatuh ter duduk.
" Cepat , sekali lagi Aku kata kan segera serah kan Singo Lorok murid ku itu, atau istana ini akan menjadi karang abang, hehhh,!" teriak Singo Abra lagi.
Para prajurit yg masih ber diri itu pun nampak ter pengaruh dengan suara Singo Abra itu, tubuh mereka ter lihat ber getar.
Kanjeng Adipati Pajang pun nampak keluar dari dalam istana, ia langsung ber tanya,
" Ada apa Tumenggung Wangsa Rana, siapa orang nya yg telah berani masuk istana Pajang ini,?" tanya nya kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Ampun beribu ampun, Kanjeng Gusti Adipati, adalah Singo Abra guru dari Singo Lorok yg telah datang kemari minta murid nya itu untuk di bebas kan,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana.
Namun dari arah wuwungan Istana Pajang itu ter dengar suara tawa ter kekeh,
Orang itu langsung melesat turun dan tegak ber diri di hadapan dari Adipati Pajang.
Adipati Pajang memang merasa kan kehebatan ilmu tenaga dalam dari Singo Abra itu, sehingga ia paham mengapa para prajurit nya banyak yg ter duduk lemas.
Segera Raka Senggani ber jongkok di hadapan dari Adipati Pajang,
" Ampun kan hamba Kanjeng Adipati, izin kan lah hamba menghadapi Singo Abra itu,!" kata Raka Senggani sambil menjura hormat kepada Sang Adipati.
" Silah kan Senopati Brastha Abipraya, silah kan,!" jawab Adipati Pajang.
Perlahan Raka Senggani bangkit dan langsung ber hadapan dengan Singo Abra dalam jarak lima tombak.
Senopati Pajang itu kemudian ber kata,
" Singo Abra, murid mu itu memang sudah sangat layak untuk di hukum karena telah sangat menyusah kan di Kadipaten Pajang ini, tindak tanduk nya selalu menyengsara kan warga Pajang, jadi kami tidak akan membiar kan nyae bebas sperti tuntutan mu itu,!'' kata Raka Senggani dengan pengerahan tenaga dalam nya.
" Hehh, siapa kau bocah, berani unjuk gigi di hadapan Singo Abra, engkau sudah bosan hidup bocah,!" seru Singo Abra kepada Raka Senggani.
" Aku adalah Senopati Brastha Abipraya, Senopati Pajang yg telah menangkap Singo Lorok,!" jelas Raka Senggani.
" Hua, ha, ha, ha, pantas, memang pantas engkau berani menentang keinginan dari Singo Abra, berarti engkau pula lah yg telah membunuh Singo Ireng, malam ini adalah malam terakhir mu bocah, sayang usia mu masih muda, akan tetapi siapa saja yg telah berani ter hadap Singo Abra maka nyawa adalah taruhan nya, apalagi engkau bocah telah berani membunuh murid kesayangan ku, Singo Ireng, nyawa bayar nyawa,!" kata Singo Abra.
Lelaki tua yg ber pakaian hitam -hitam itu dengan cambang yg lebat dan panjang serta telah ber warna putih semua, kontras sekali dengan pakaian nya yg hitam. Nampak orang itu membuka kaki nya merenggang, Ia ter lihat akan segera menyerang Raka Senggani.
" Ber siap lah bocah untuk segera ke akherat, terima ini, Heaaahh,!"
Nampak dari balik jubah panjang nya Singo Abra mengibas kan tangan nya mengarah tubuh Raka Senggani.
Serangkum angin yg keras segera menerjang tubuh dari Senopati Pajang itu, tubuh Raka Senggani langsung ter pental dan ketika tiba-tiba tubuh itu hampir menyentuh dan menabrak salah satu tiang istana, aneh nya tubuh itu kembali melesat ke tempat nya semula.
__ADS_1
" Ha, ha, ha, boleh juga kau bocah , terima ini , hiyyah ,!" teriak Singo Abra.
Dan kali ini dua telapak tangan orang tua itu di arah kan kepada Raka Senggani dan untuk kali kedua Raka Senggani harus menerima hempasan angin yg sangat kuat menerpa nya, dan untuk kali ini tubuh Raka Senggani membentur sebuah dinding hingga ambrol.
" Ha, ha, ha, baru tahu kau bocah , " kata Singo Abra sambil ter tawa.
Raka Senggani berusaha bangkit dari reruntuhan dinding itu, ia nampak berusaha membersih kan tubuh nya, dengan mengibas-ngibas kan tangan nya, debu debu yg menempel pada tubuh nya itu nampak ber terbangan.
" Heh, gila tenaga dalam orang ini meskipun aku telah berusaha untuk tidak melawan nya namun terjangan angin serangan itu makin kuat, aku harus mencari cara untuk mengatasi orang ini," pikir Raka Senggani dalam hati.
Ia per lahan mendekati Singo Abra itu lagi.
" Memang hebat ilmu Ki Singo Abra, sayang di perguna kan pada jalan yg salah,'' ucap Raka Senggani sambil menatap langsung wajah lelaki sepuh itu.
" Heehh, bocah , jangan coba meng gurui Singo Abra, terima ini, !"
Kembali lelaki itu mngibas kan tangan nya ke arah Raka Senggani, dan pemuda itu kali ini tidak ingin ter hempas lagi,
" Hiyyyah,"
Tubuh nya langsung melenting ke udara menghindari serangan itu.
Se saat masih di udara ia melihat tangan orang tua membuka lagi menyerang nya saat masih mengapung di udara, ter paksa pemuda menggenjot tenaga dalam nya untuk kembali melenting menghindari serangan itu.
Akan tetapi Singo Abra tidak membiar kan Raka Senggani, ia terus mencecar Raka Senggani dengan serangan terus menerus.
Hingga suatu ketika pemuda itu harus menerima kenyataan kembali ter kena angin serangan dari tokoh tua rimba per silatan itu.
Kembali tubuh Raka Senggani ter lontar akibat dari serangan itu dan membuat nya jatuh keluar dinding istana.
Dengan cepat pemuda itu melesat lagi ke dalam dan langsung melesat menerjang tubuh dari Singo Abra, ia sudah memper hitung kan andai pun lawan nya itu memberi kan serangan ia akan coba melawan nya dengan kekuatan penuh.
" Heaaahh,!"
Teriak Raka Senggani sambil mengarah kan pukulan jarak jauh nya yg berisi ajian Wajra geni ke arah Singo Abra.
Guru Singo Lorok itu agak ter kejut juga karena lawan nya yg masih muda itu masih mampu untuk menyerang nya , karena telah dua kali ia ter hempas oleh angin pukulan nya.
" Hiyyyah,!"
Singo Abra melawan serangan dari Raka Senggani itu dengan serangan pula,
" Dhhuaaarrr "
Terjadi lah ledakan yg luar biasa dari benturan itu.
Nampak Raka Senggani kembali ter lontar keluar akibat benturan dari ilmu itu. Sementara Singo Abra hanya mundur beberapa tindak saja.
" Hoo...eeekkkh,!''
Raka Senggani muntah darah, ia segera ber siap dengan duduk ber sila pemuda itu mengerah kan hawa murni ke dalam tubuh nya untuk memulih kan kesehatan nya.
Sambil meminum dua butir obat, ia pun berusaha bangkit dan menuju ke arah Singo Abra lagi.
" Hehh, bocah, engkau masih belum mau menyerah, serta menyerah kan Singo Lorok kepada ku, jadi jangan salah kan aku jika , kematian mu akan segera tiba,!" ucap Singo Abra dengan marah.
" Tidak ada seorang pun ber keinginan mati, ter lebih mati di tangan mu,!" ucap Raka Senggani.
Kali ini pemuda itu telah menghunus keris Kyai Macan Kecubung di tangan nya, seperti yg pernah di dengar nya dari Ki Lamiran , jangan sembarangan mengeluar kan keris itu, akan tetapi kali ini lawan yg di hadapi sangat-sangat tinggi ilmu nya ter paksa lah ia mengeluar kan keris pemberian dari Adipati Pajang itu.
Nampak aura dari Raka Senggani langsung berubah setelah ia menggenggam keris Kyai Macan Kecubung itu.
Ia tegak ber diri di hadapan Singo Abra dengan garang nya meskipun di dalam dada nya ia masih merasa nyeri akibat benturan dari ilmu itu.
Namun setelah meminum dua. butir obat rasa nyeri mulai ber kurang.
Dengan mengangkat Kyai Macan Kecubung di atas Kepala nya , terlihat Raka Senggani membaca beberapa mantera ajian nya, sedang kan cahaya merah dari Kyai Macan Kecubung ter lihat se makin terang,
__ADS_1
" Ber siap lah Ki Singo Abra, segala kejahatan harus di musnah kan dari muka bumi, ter masuk dengan mu,!" ucap Raka Senggani.
" Hua, ha, ha,ha, apa kau pikir Singo Abra akan takut ter hadap barang rongso kan seperti itu, ha, ha, ha, !" ter dengar ketawa dari Singo Abra di malam yg pekat itu.