Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 8 Pendadaran bagian ke sebelas.


__ADS_3

Raka Senggani mengerahkan tenaga dalam nya menarik rantai baja milik dari Ki Rengit itu.


Meski memiliki tubuh yg besar dan tambun, tetapi dengan pasti tubuh yg besar itu mulai bergeser dan bergerak mendekati Senopati Pajang itu.


" Heaaahhh,"


Dengan satu kekuatan yg besar , Raka Senggani menyentakkan Rantai baja itu, tidak ayal lagi tubuh Ki Rengit tertarik dengan keras hingga hampir saja melayang.


" Dukh,"


Sebuah pukulan tangan kosong dari Senopati Pajang itu mampir di perut Kepala begal itu,


" Hooekkhhh,"


Ki Rengit muntah darah akibat pukulan tangan kosong dari Senopati Pajang itu.


" Kakaang,"


Teriak teman -teman dari Ki Rengit. Keempat nya langsung mendekati Kepala begal itu, Ki Combro segera memapah Ki Rengit dan berusaha bangkit.


" Cepat habisi orang itu," teriak Ki Combro.


" Baik, kakang," jawab ketiga nya.


Langsung mereka menyerang Senopati Pajang itu.


" Hiyyah, heaaaahhh, Ciiiiaaaaaat,"


Mereka menebaskan goloknya ke arah Raka Senggani.


Tiga ujung golok itu langsung mematuk tubuh Raka Senggani.


" Traaaak,!"


Ketiga golok itu berhasil mampir di tubuh sang Senopati. Karena memang Raka Senggani tidak mencoba menghindari serangan itu.Namun aneh nya, ketiga golok itu tidak berhasil melukai malah golok merekalah yg gompal.


Dengan cepat mereka menarik pulang golok nya.


" Hehhh,"


" Kok bisa,"


Ketiga nya kaget melihat golok itu telah gompal semua nya.


" ******, terima ini, heaaah,"


Teriak salah seorang dengan mengarahkan kepalan tangan nya ke dada Raka Senggani. Dengan tenaga yg penuh pukulan itu menghantam tubuh Raka Senggani itu, kembali ia terkejut karena bukan nya tubuh itu merasakan sakit atau terjatuh tetapi malah orang itu kesakitan, tangan nya langsung bengkak.


" Hahhh, aduuuh," teriak nya.


Namun gerombolan begal itu memang telah dirasuki hawa amarah , meskipun lawan yg di hadapi itu memiliki kemampuan diatas mereka namun meraka tetap memaksakan diri untuk menghabisi lawan nya itu.


" Hiyyyah,"


Ketiga nya kembali menyerang secara bersama -sama, dan kali ini Raka Senggani melompat menghindari serangan itu , dan langsung membalas nya dengan tendangan beruntun.


" Dhiegh, dheek, dheskk,"


Tendangan yg di berikan dari udara itu penuh dengan tenaga dalam yg tinggi.


Ketiga orang itu langsung jatuh ter sungkur.


" ******, Ku bunuh kau,". teriak Ki Combro.


Setelah mendapati ketiga teman nya telah jatuh tersungkur dan dalam keadaan pingsan.


Ki Combro menyerang Raka Senggani dengan seorang diri. Sehingga pertarungan terjadi satu lawan satu dengan Senopati Pajang itu.


" Adi Senggani, biar yg ini urusanku," seru Lintang Sandika .


" Baik kakang Sandika,". jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang itu melompat menjauh.


" Jangan lari,!". teriak Ki Combro.


Setelah melihat Raka Senggani berusaha menghindarinya.


" Hehh, kunyuk busuk, aku lawan mu,!". ucap Lintang Sandika.


Putra Tumenggung Bahu Reksa itu langsung menghadang Ki Combro.


" Hehh, siapakah kau, mau mencoba menjadi pahlawan kesiangan, biar orang itu aku habisi terlebih dahulu , kau silahkan menunggu," bentak Ki Combro.


" Dia bukan lawan mu, akulah lawan mu," jawab Lintang Sandika.


Pemuda itu langsung memainkan pedang nya, ia segera membuka serangan dengan jurus khas dsri Padepokan Gunung Lawu itu.


Mau tidak mau Ki Combro harus melayani nya.


Pedang Lintang Sandika mematuk cepat mengarah jantung , oleh Ki Combro serangan itu ditahan nya dengan memalangkan goloknya di depan dada.


" Trannnng,"


Bunyi kedua senjata itu ketika bertemu, golok gompal milik dsri Ki Combro masih mampu menahan serangan dari Putra Tumenggung Bahu Reksa itu.


Dengan cepat murid Padepokan Gunung Lawu itu menarik pulang pedang nya, dan kali ini ia menebaskan mendatar mengarah leher dari Ki Combro. Terpaksa begal itu harus menunduk karena tidak sempat lagi untuk menangkis nya.


Kepala Ki Combro memang luput dari serangan itu, tetapi ikat kepala nya berhasil di potong oleh Pedang Lintang Sandika.


Melihat hal itu, Ki Combro meningkatkan kecepatan nya. Ia berusaha keluar dari garis serang lawan dengan melompat menjauh.


Tetapi Lintang Sandika segera memburu,


" Heaaaahhh," teriak nya.


Dengan satu lompatan yg panjang , pedang nya berusaha menggapai tubuh Ki Combro.

__ADS_1


Pedangnya mematuk kembali mengarah kaki dan di susul kearah perut di barengi sebuah tendangan.


Ki Combro sangat kerepotan menghadapi serangan yg membadai dari Lawan nya itu.


Beberapa kali ujung pedang itu berhasil menggapai tubuh nya


Hingga suatu saat,


" Aaaaakkh,"


Teriakan yg agak keras keluar dari mulut Ki Combro, dan ternyata ujung pedang Lintang Sandika itu berhasil menyusup masuk ke bawah ketiak nya .


Darah tampak mengalir dari luka akibat tusukan pedang Lintang Sandika itu.


" ******, kaauu," ucap Ki Combro.


Ia memegangi luka itu yg terus mengucurkan darah.


Rupanya Lintang Sandika memang lagi garang -garang nya, melihat lawan lagi lengah dengan cepat ia memberikan tendangan kepada Ki Combro, tendangan setinggi dada itu segera mampir di tubuh Ki Combro, tak ayal lagi tubuh salah seorang gerombolan begal itu terlontar jatuh.


Dan ketika Ki Combro berusaha bangkit ,


" Hiyyah,"


Pedang Lintang Sandika segera membabat putus leher Ki Combro itu.


" Cepat ambil kalung mu itu , nyai,!" perintah Lintang Sandika kepada perempuan itu.


" B bb baik, den,!" ucap perempuan itu dengan gugup.


Ia sebenarnya ngeri setelah melihat kepala Ki Combro itu telah terpisah dari tubuh nya.


Namun karena perasaan sayang nya terhadap kalung nya itu ia memberanikan diri untuk merogoh baju Ki Combro dan mengambil kembali kalung nya itu.


" Terima kasih, den, permisi, " ucap Perempuan itu .


Ia kembali lagi ke kerumunan warga pedukuhan itu.


" Ki Bekel , tolong perintah kan Ki Jagabaya untuk mengikat para begal ini dan kumpulkan di banjar desa itu," perintah Lintang Sandika.


Putra Tumenggung Bahu Reksa itu mendekati Ki Rengit yg masih terduduk sambil memeganngi dada nya.


" Bagaimana kakang, apakah mereka akan kita bawa ke Pajang,?" tanya Raka Senggani sambil menepuk bahu kakak angkat nya itu.


Lintang Sandika agak terkejut mendapati tepukan itu namun ia segera tenang setelah melihat Raka Senggani yg menepuk nya.


" Mungkin lebih baik demikian adi Senggani,!". jawab Lintang Sandika.


Kedua nya Kemudian mendekati Ki Rengit yg tampak terluka dalam itu, dari wajah nya yg sangar itu tampak putih memucat setelah kedatangan Raka Senggani.


Dengan terbata -bata ia berkata,


"J jj jangan bunuuh aku," pinta nya.


Dengan wajah memelas Kepala begal itu sampai bersujud di kaki Raka Senggani.


" T terima kasih, den," ucap Ki Rengit.


" Ki Bekel, perintahkan kepada para warga untuk segera menguburkan jasad Ki Combro itu.". seru Raka Senggani.


" Baik, den," jawab pemimpin pedukuhan itu.


Kemudian warga pedukuhan gogo dalem itu menggotong tubuh Ki Combro dan salah seorang warga membawa potongan kepala Ki Combro itu.


Malam itu juga , warga pedukuhan itu menguburkan mayat Ki Combro itu. Selepasnya mereka kemudian berkumpul di Banjar pedukuhan itu.


" Jadi den, semua orang ini akan di bawa ke Pajang,?" tanya Ki Bekel.


" Iya, Ki, memangnya kenapa,?". balik Raka Senggani yg bertanya.


" Syukurlah den, kami sangat takut jika mereka harus tetap berada disini, ". jawab Ki Bekel itu.


" Ahhh, kami pun tidak akan membiarkan mereka tetap tinggal disini, biarlah mereka kami bawa dari sini ke Pajang,!". jawab Raka Senggani.


" Satu lagi, den, siapakah raden berdua ini,?" tanya Ki Bekel lagi.


" Nama ku Raka Senggani, dan ini kakakku namanya Lintang Sandika, kami berdua adalah prajurit Demak,!" jawab Raka Senggani.


" Ooooo," ucap Bekel pedukuhan itu.


*********


Di pajang sendiri, tepatnya di bangsal keprajuritan, terlihatlah empat orang tengah berbincang , mereka adalah Jati Andara, Japra Witangsa, Dewi Dwarani dan Sari Kemuning.


Ke empat muda mudi desa Kenanga itu tengah membicarakan tentang Raka Senggani.


" Kakang Witangsa , apakah kita akan disini terus sampai kakang Senggani kembali,?"


tanya Sari Kemuning.


" Iya kakang Witangsa, rasanya Rani mulai bosan berlatih keprajuritan terus, rasa-rasanya jenuh, dan kabar dari Kakang Senggani pun belum ada sampai saat ini,!". kata Dewi Dwarani.


" Memang kita saat ini sedang di uji, ujian kesabaran, biasanya jika telah lulus melewatinya pasti akan mendapatkan hasil yg manis,!". jawab Japra Witangsa.


Sebenarnya pun putra Jagabaya itu telah merasakan kebosanan nya karena mereka tidak juga dapat bertemu dengan Raka Senggani yg menjadi tujuan mereka datang ke Pajang itu.


" Hampir dua pekan kita telah berada di Pajang ini, tetapi kakang Senggani tidak juga kembali sampai kapan kita harus menunggu,?" tanya Sari Kemuning.


" Mungkin kita butuhkan waktu yg lebih lama untuk bertemu dengan adi Senggani itu dan kita di tuntut harus bersabar lagi," ujar Jati Andara.


" Walaupun kita tidak bertemu dengan Senggani setidaknya pun kita masih dapat menimba ilmu, ilmu keprajuritan, " kata Japra Witangsa.


" Yeaah, memang itu yg dapat kita lakukan, yaitu menunggu,!" balas Jati Andara.


" Bagaimana kalau kita meminta kepada Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana agar kita dapat berlatih sendiri,!" ucap Dewi Dwarani.


" Bisa juga, tetapi, apakah itu tidak akan membuat kecewa Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana," balas Jati Andara.

__ADS_1


" Lebih baik kita tetap disini sampai Senggani kembali,!" kata Japra Witangsa.


" Baiklah jika begitu, kita akan tetap disini sampai kakang Senggani datang,!" ujar Sari Kemuning.


Kemudian keempat orang itu sepakat untuk menunggu Raka Senggani kembali.


Dan Setelah dua hari mereka masih di bangsal keprajuritan itu, datanglah seorang prajurit membawakan berita yg menggembirakan buat ke empatnya.


" Benarkah berita itu, bahwa Senopati Brastha Abipraya telah kembali,?" tanya Japra Witangsa.


" Benar, dan kalian semua di panggil dstang ke rumah Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana,!" jawab prajurit itu.


" Terima kasih, kami akan kesana segera,!". ucap Jati Andara.


Keempatnya segera bergegas menuju ke kediaman Tumenggung Wangsa Rana.


Dengan langkah -langkah yg cepat mereka menuju ke rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.


Sesampainya disana, hati mereka berempat menjadi gembira setelah melihat Putra Raka Jaya itu sudah ada disana.


" Hehh, apa Kabar adi Senggani,?" Tanya Jati Andara.


" Baik kakang Andara, bagaimana dengan kalian semua, menyenangkan melihat kalian telah mau datang ke Pajang ini,!" seru Raka Senggani.


" Oh iya , kenalkan ini kakak angkat ku nama nya, Lintang Sandika, ia adalah putra Tumenggung Bahu Reksa dari Demak,". kata Raka Senggani lagi.


" Jati Andara,"


" Lintang Sandika,"


" Saya Japra Witangsa,


" Lintang Sandika,!". ucap Lintang Sandika lagi.


Kemudian giliran Sari Kemuning yg mengenalkan diri,


" Sari Kemuning,"


" Lintang Sandika," balas Putra Tumenggung Bahu Reksa lagi.


" Dan saya bernama, Dewi Dwarani,!"


" Saya , Lintang Sandika," kata nya lagi.


Putra Tumenggung Bahu Reksa itu lama memandangi wajah Sari Kemuning , ia terlihat tersenyum menatap wajah itu.


Sedangkan Sari Kemuning tidak sedang melihat ke arah Lintang Sandika.


" Jadi apakah kalian semua disini merasa betah,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Lumayannn, ..." ucap Sari Kemuning.


" Lumayan apanya, Kemuning,?". tanya Raka Senggani.


" Lumayan membosankan,!" jawab Dewi Dwarani menyela.


" Ha, ha, ha," Raka Senggani tertawa.


Cukup lama Senopati Pajang itu tertawa lepas, ia merasa bahagia setelah melihat teman -temannya itu berada di Pajang.


Kemudian seluruh orang yg berkumpul di tempat itu melakukan makan bersama yg telah di sediakan oleh Nyai Tumenggung Wangsa Rana.


Selesai acara makan-makan itu, kemudian mereka berkumpul kembali di pendopo rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Ada satu hal yg ingin kutanyakan kepada kalian semua, apakah kalian bersedia melanjutkan kembali latihan kita yg tertunda waktu itu,?" tanya Raka Senggani.


" Memang itulah niatan kami datang ke Pajang ini,!". jawab Jati Andara.


" Baik kalau begitu, berarti nanti malam kita dapat memulai latihan kembali , dan sebaiknya kita meminta tempat kepada Paman Tumenggung Wangsa Rana dimana tempat yg baik untuk latihan." kata Raka Senggani.


" Maaf sebelum nya Kakang Senggani, ada satu permasalahan kami ketika kami berangkat ke Pajang ini," ujar Sari Kemuning.


" Masalah apa itu, Kemuning,?". tanya Raka Senggani kaget.


" Kami ketika akan tiba di kota Pajang ini, kami telah di cegat dua orang, " jelas Sari Kemuning.


" Kalian semua telah di cegat, oleh siapa,?" tanya Raka Senggani.


" Kami di cegat, oleh orang yg bernama Raden Pranacitra,". jawab Japra Witangsa.


" Pendekar cabul, kalian telah di cegat oleh Pendekar cabul,?" tanya Raka Senggani kaget.


" Bukan Pendekar cabul tetapi Raden Pranacitra, ia menyebutkan nama nya , Raden Pranacitra,!". jelas Jati Andara.


" Ya nama sebenar nya Memang Prana citra tetapi ia memilki gelar sebagai pendekar cabul," jawab Raka Senggani.


" Darimana kakang Senggani tahu, apakah kakang telah pernah bertemu,?" tanya Dewi Dwarani.


" Pernah, sewaktu sedang berada di Madiun, saat itu, si Pendekar cabul telah mengincar mangsanya yaitu seorang perempuan lagi sendirian, beruntung , ia belum berhasil dikuasai oleh Pendekar cabul itu,!" kata Raka Senggani.


" Dan kakang Senggani berhasil mengalahkan nya," seru Sari Kemuning.


Raka Senggani mengangguk kan kepala nya,


" Jadi apakah kalian berhasil mengalahkan nya,?" ganti Raka Senggani yg bertanya.


" Benar kakang, kami memang berhasil mengalahkan nya tetapi dengan susah payah, sampai -sampai kakang Witangsa tidak dapat bangkit karena kelelahan,!" balas Sari Kemuning.


" Memang wajar untuk kalian kesulitan mengalahkan Pendekar cabul itu karena ia memiliki kemampuan yg lumayan tinggi,". kata Raka Senggani.


" Itulah masalah kami , kakang Senggani, jika lawan memiliki tenaga dalam yg tinggi kami amat kesulitan untuk mengimbangi nya, beruntung waktu itu kami main keroyokan , membuat ia kewalahan menghadapi kami bertiga,!". kata Sari Kemuning.


" Jadi kami berempat disini meminta kepada adi Senggani yg telah kami angkat sebagai guru, agar dapat menunjukkan cara untuk meningkatkan tenaga dalam kami semua," Jati Andara berkata.


" Itu sesuai keinginan Senggani untuk membuat kalian semua memiliki tenaga dalam yg dapat di andalkan, hanya saja kunci keberhasilan untuk ini adalahe kesabaran kalian, untuk berlatih dan berlatih terus," Raka Senggani menjelaskan.


" Saya atas nama yg lain akan menuruti semua petunjuk dari adi Senggani itu," Japra Witangsa angkat bicara.

__ADS_1


" Terima kasih, mulai nanti malam kalian akan Senggani arahkan untuk mampu mengungkap kan tenaga dalam yg merupakan dasar untuk mengeluarkan sebuah ajian," Raka Senggani menjelaskan lagi.


__ADS_2