Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag ke tujuh.


__ADS_3

Hehh, nggak anak, nggak orang tua nya sama saja, tidak mampu bertanggungjawab, tidak memiliki sifat seorang ksatria, berani hanya main bokong saja, gerutu Jati Andara dalam hati.


Ia memandangi para tukang pukul dari Ki Sangakeling yg masih berusaha bangkit, dan perlahan mereka meningglakan tempat itu dengan susah payah.


Ki Jagabaya dan para pemuda Kademangan Kedawung ingin menangkap mereka, tetapi oleh Jati Andara dilarang, putra Ki Bekel itu sengaja melepaskan kelimanya dengan alasan , nantinya mereka skan kerepotan untuk mengurusinya, merawat yg terluka serta memberikan makan kelimanya, biarlah mereka kembali kepada tuannya.


Itulah yg di ucapkan oleh Jati Andara, ia dan Japra Witangsa tidak memberikan latihan pada malam itu, mereka hanya saling bercerita, juga membagikan beberapa pesan agar orang -orang semacam Ki Sangakeling itu tidak usah terlalu di takuti apalagi sampai harus menghambakan diri kepada nya.


Jati Andara mengatakan kepada para pemuda Kademangan Kedawung, bahwa mereka dstang berlatih sepekan dalam empat kali itu adalah untuk mampu menjaga diri sendiri dan menjaga keamanan Kademangan Kedawung, juga menjaga dari orang -orang seperti Ki Sangakeling tersebut.


Putra Ki Bekel itu juga mengatakan amat tidak senang jika ada orang yg berbuat sesuka hatinya tanpa tunduk dan patuh terhadap paugeran yg berlaku , sikap dari Ki Sangakeling itu adalah sikap yg tidak boleh di contoh.


Ucapan dari Putra Ki Bekel itu menohok seluruh orang yg ada di tempat itu termasuk Ki Jagabaya sendiri.


Memang mereka umumnya segan cenderung takut terhadap Ki Sangakeling itu, sehingga membuat orang tua Garwita itu jadi besar kepala dan bertindak, adigang, adigung dan adiguna.


Mereka yg melihat langsung kemampuan dari dua orang pemuda desa Kenanga itu jadi terbangkitkan semangat nya untuk mampu dan berani melawan kebathilan.


Sampai pagi para pemuda dan Ki Jagabaya Kademangan Kedawung itu berada di Banjar , mereka sangat menghargai sikap yg telah diambil oleh dua orang pemuda asal Kenanga itu, mereka menunjukkan bagaimana bersikap, dua kali mereka memberikan sumbangsih kepada Kademangan mereka. Yg pertama saat membawa kembali Putri Ki Demang, dan kali ini mereka menyaksikan sendiri keduanya membungkam kesombongan dari Ki Sangakeling.


Garwita , putra Ki Sangakeling gelisah menunggu kedatangan dari Orang tuanya , Ki Sangakeling.


Memang agak lama , barulah ia melihat kedatangan nya, Ki Sangakeling datang tergopoh -gopoh, sambil terlihat ketakutan, berkali-kali ia melihat kebelakang.


Sampai di depan pintu rumah nya, Ki Sangakeling terkejut setengah mati akibat teguran dari anak nya sendiri.


" Ada apa Romo, mengapa tergesa-gesa dan seperti ketakutan begini," serunya.


" Hehh, bocah gendeng, membuat kaget orang tua saja, " ucap Ki Sangakeling.


" Bukankah tadi Garwita telah menanya kepada Romo, apa yg terjadi, apakah orang Kenanga itu telah ******,?" tanya nya lagi.


" Boro-boro ****** , terluka pun tidak," jawab Ki Sangakeling.


" Hahh, jadi mereka berdua masih selamat, bagaimana dengan para pengawal Romo itu, apakah mereka tidak mampu mengatasi kedua orang itu,?" tanya Garwita terkejut.


" Hehh, mereka semua memang tidak layak di pertahankan disini, melawan dua orang saja mereka tidak mampu berbuat apa-apa, membuat malu saja,.." jelas Ki Sangakeling.


" Bisa besar kepala pemuda Kenanga itu, Romo, .. apa yg harus kulakukan lagi,!" ucap Garwita kecewa.


Ia tidak menyangka bahwa tukang pukul orang tua nya itu pun tidak mampu mengalahkan Jati Andara dan Japra Witangsa, dua anak muda dari desa Kenanga.


Yang paling menyakitkan lagi , akan kehilangan Kembang Kedawung yg sedang mekar itu, karena tentunya nama Kedua pemuda desa Kenanga itu semakin harum mewangi di Kademangan Kedawung ini, sedangkan ia dan keluarga besar nya tentu akan semakin di kucilkan oleh orang-orang Kademangan itu.


Garwita memutar otak nya untuk dapat melenyapkan putra Ki Bekel Kenanga, kali ini ia berniat untuk menghabisi nya tidak lagi hanya sekedar memberi perlajarsn saja.


Di saat Garwita sedang berpikir keras, datanglah kelima orang tukang pukul dari Ki Sangakeling di tempat itu.


Ki Sangakeling yg melihat kedatangan.mereka langsung berteriak dengan ketusnya,


" Kanapa kalian berani menunjukkan wajah kalian lagi disini, percuma Aku telah membayar kalian dengan gaji yg besar serta memberi anak dan istri kalian makan, hanya untuk memberikan pelajaran terhadap dua orang saja kalian tidak mampu, mau di taruh mana mukaku ini,.." serunya.


" Tunggu,...apalagi , pergi dari sini,.. aku sudah muak melihat wajah kalian,.. pergi...," teriaknya lagi.


Kelimanya terperangah melihat sikap majikqn nya itu, mereka tidak menyangka mendapatkan perlakuan yg tidak menyenangkan dari orang yg telah sangat lama mereka jaga itu, bahkan terkadang mereka melakukan sesuatu yg tidak sesuai dengan keinginan mereka , tetapi mereka masih patuh menjalankan nya, dan kali ini karena kekalahan mereka dari dua orang pemuda desa Kenanga, mereka semua harus terusir, sungguh tidak tahu bersikap Ki Sangakeling ini , kata mereka dalam hati.

__ADS_1


Bahkan sudah ada diantara mereka yg mencabut senjatanya, tetapi di tahan oleh Ki Tambi selaku pemimpin mereka.


" Sudah, ..tenanglah kalian kita akan berbicara dengan hati dingin dengan nya," ucap nya.


" Iya,.. tetapi sikap Ki Sangakeling itu sangat menyakitkan hati, kita yg sudah terluka begini malah harus di usir, bukannya di obati," jawab seorang yg bersenjata golok.


" Hehhh, dengar kalian semua yg ada disini, kalian itu tidak cocok disini hanya menghabiskan beras ku saja, dan ketika tenaga kalian ku butuhkan , kalian tidak mampu melakukan nya, jadi untuk apa kalian ku pertahankan disini, silahkan angkat kaki dari sini," teriak Ki Sangakeling.


" Tenanglah dahulu Ki Sangakeling, kita bicarakan baik -baik dengan kepala dingin," sahut Ki Tambi.


" Tidak ada yg perlu kita bicarakan lagi, keputusanku sudah bulat ,.. segera tinggalkan rumahku ini, atau aku sendiri yg akan melakukan nya,.." teriak Ki Sangakeling.


Orangtua dari Garwita tersebut telah mencabut senjatanya.


" Romo, jangan lakukan itu, ... benar yg di ucapkan Ki Tambi ini, jalan kekerasan bukan cara untuk mencari jalan keluar nya," seru Garwita.


Pemuda itu tentu saja tidak ingin terjadi benturan antara tukang pukul orangtuanya itu dengan pihak keluarga nya.


Walaupun ia dan Ki Sangakeling memiliki kemampuan ilmu silat tetapi jika harus berhadapan dengan kelima orang itu tentu akan membuat berdua akan kalah, karena kelima orang itu memiliki kemampuan diatas mereka.


Walaupun mereka dalam keadaan terluka tetapi untuk mengatasinya tentu akan sangat sulit sekali.


Hehhh, belum pun masalah dengan orang Kenanga itu selesai, kali ini, Romo akan berhadapan dengan Pengawal nya sendiri,.. apa -apaan ini, kata Garwita dalam hati.


" Hehh, Garwita mengapa kau melarang Romo mengusir mereka , ... mereka ini tidak pantas berada disini,.." seru Ki Sangakeling lagi.


" Tenang dahulu Romo,..kita bicarakan secara baik -baik dengan Ki Tambi, apa yg akan mereka katakan atas kegagalan mereka itu," jelas Garwita.


" Begini Ki Sangakeling, kami kembali kemari ingin mengatakan bahwa mungkin kami tidak mampu untuk mengalahkan anak muda itu, tetapi kami tahu siapa orang nya yg mampu untuk mengalahkan mereka," jelas Ki Tambi.


" Siapa,..... cepat katakan sebelum kesabaranku habis,?" tanya Ki Sangakeling.


" Bagus,.. cepat hubungi orang itu,..dan beri pelajaran kepada kedua orang Kenanga itu., secepatnya aku harus mendapatkan kabar baik nya, he he he," ucap Ki Sangakeling sambil tertawa.


Nampak nya Ki Sangakeling amat mempercayai orang yg telah di sebutkan oleh Ki Tambi itu, sehingga ia tidak jadi mengusir mereka.


Garwita menarik nafas lega, karena ia memang tidak ingin ada benturan terjadi diantara mereka sendiri.


Demikian lah, setelah kejadian di banjar Kademangan Kedawung itu, nama Jati Andara dan Japra Witangsa semakin meroket di situ, hingga kedekatan dari Jati Andara dengan Kembang Kedawung pun semakin erat.


Savitri pun memang menyukai putra Ki Bekel desa Kenanga.


Sepekan telah berlalu, dan sang Senopati Pajang yg ada di puncak Gunung Lawu telah selesai menjalani laku guna memulihkan kembali seluruh ilmu nya, dan kali ini ia amat terkejut dengan hasil yg telah dicapai nya, ditambah dengan khasiat dari cincin pemberian dari Kanjeng Sultan Demak itu.


Seakan-akan seluruh kemampuan dari Senopati Pajang itu bertambah dua kali lipat.


Raka Senggani agak heran bahkan takjub dengan hasil yg telah di capai nya.


Tubuhnya benar -benar sangat ringan, berulang kali ia mejajal ilmu peringan tubuhnya untuk naik dan turun dari goa tempat nya menjalani laku dan turun jauh ke bawah dimana ada sebuah Kali kecil .


Sungguh sesuatu yg tidak dapat Kupahami, hanya dalam waktu sepekan saja , seluruh kemampuanku telah kembali dan semakin meningkat, Alhamdulillah, ... ucap Raka Senggani dalam hati.


Ia langsung melakukan sujud syukur atas apa yg telah di capai nya.


Raka Senggani langsung melesat meninggalkan tempat itu menuju ke padepokan milik Panembahan Lawu.

__ADS_1


Sebentar saja ia telah sampai, setelah mengucapkan salam kepada orangtua itu, ia kemudian menceritakan apa yg telah terjadi pada dirinya kepada penguasa gunung Lawu itu.


Panembahan Lawu pun sangat senang , karena dari awal ia sudah meyakini akan hal itu, bahkan ia masih menambahkan , bahwa cincin yg ada di jari Senopati Pajang itu memilki banyak khasiat selain mampu membuat tubuh kebal, cincin itu dapat juga membuka dan menutup kemampuan seseorang, bahkan dapat juga untuk dijadikan memusnahkan ilmu orang lain, termasuk ilmu Pancasona atau Rawa Rontek.


Lintang Sandika dan Lintang Sri wedari yg masih di padepokan itu pun sangat senang mendengar nya, karena mereka pun awalnya kebingungan atas apa yg telah menimpa saudara angkat nya itu.


Dan setelah melihat sendiri keberhasilan saudara angkat nya dapat memulihkan kembali, rasa syukur tidak lepas -lepasny mereka ucapkan.


Kemudian Panembahan Lawu berbicara kepada ketiga pemuda itu,


" Apakah angger Sandika akan terus menemani Angger Senggani,?" tanya nya kepada Lintang Sandika.


Muridnya itu agak aneh mendengar ucapan dari gurunya itu, mengapa ia menanyakan hal apakah ia akan tetap bersama atau meningglkan saudara angkat nya.


" Begini, Ngger,... karena sebelumnya Angger Sandika kan akan menikah, jadi pertanyaan ini ,..eyang tanyakan agar tidak mengganggu pernikahan angger itu," jelas Panembahan Lawu.


" Memangnya kenapa guru, apakah ada sesuatu yg ingin guru perintahkan kepada adi Senopati Pajang ini,?" tanya Lintang Sandika penasaran.


" Tepat sekali , Ngger, sebenarnya permintaan ini untuk Eyang sendiri, ..tetapi karena eyang masih memilki keperluan yg lain ,..jadi biarlah Angger Senggani saja yg menggantikan nya, hitung-hitung sebagai usaha untuk menjajal kembali seluruh kemampuan nya yg telah kembali di dpatnya itu," jelas Panembahan Lawu.


" Apa yg akan eyang perintahkan kepada Senggani itu, ?" tanya Raka Senggani.


Ia mulai meraba kemana arah cerita dari penguasa Gunung Lawu itu.


Sambil menarik nafas nya kemudian Panembahan Lawu berkata,


" Begini Ngger, beberapa waktu lalu, telah datang kemari utusan Ki Ageng Boyolangu yg meminta eyang datang ke Boyolangu guna menyelidiki sekaligus menangkap pelaku penculikan gadis -gadis muda yg terjadi disana," jelas Panembahan Lawu.


" Penculikan terhadap gadis, dan mengapa Ki Ageng Boyolangu tidak mampu mengatasi nya, guru,?" tanya Lintang Sandika.


" Masih menurut Utusan itu, bahwa kegiatan itu dilakukan oleh seseorang yg memilki ilmu yg sangat tinggi dan mempergunakan ilmu hitam juga pengerahan makhluk halus atau lelembut, sehingga Ki Ageng Boyolangu tidak dapat mengatasinya," ungkap Panembahan Lawu.


" Hebat sekali orang itu, Guru,!" seru Lintang Sandika.


" Yah, memang sangat hebat, bahkan disebutkan pula bahwa orang itu memiliki ilmu Rawa Rontek, jadi di awal tadi ,.. Eyang telah jelaskan khasiat dari cincin yg ada di jari Angger Senggani ini, karena memang Eyang ingin mengutusmu datang ke Boyolangu membantu Ki Ageng Boyolangu itu mengatasi masalah nya yg cukup pelik tersebut," kata Panembahan Lawu.


" Jika memang eyang Panembahan Lawu mempercayakan hal ini kepada Senggani,... Senggani akan melakukan nya," jawab Raka Senggani.


" Bagus, bagus, .. cuma dalam hal ini angger Senggani harus membawa teman,..bila perlu seorang perempuan,.. agar usaha untuk menemukan sang pelaku lebih cepat dilakasanakan, untuk itulah tadi eyang menanyakan hal ini kepada angger Sandika, " ujar Panembahan Lawu.


" Sebenarnya murid akan sangat senang sekali menemani adi Senggani ke Boyolangu, tetapi seperti yg eyang ketahui bahwa persiapan pernikahan murid memang sudah tidak terlalu lama lagi, jadi murid memutuskan untuk tidak ikut," ungkap Lintang Sandika.


" Tidak masalah Ngger, Eyang pun memahami nya, biarlah nanti Angger Senggani yg akan mencari sendiri temannya, atau jika memang tidak ada biarlah cantrik yg ada disini yg akan bersamanya ke Boyolangu," kata Panembahan Lawu lagi.


Akhirnya diambil kesepakatan bahwa Senopati Pajang akan menjadi utusan Panembahan Lawu ke Boyolangu sedangkan Lintang Sandika dan adiknya akan kembali ke Demak.


Pada esok harinya setelah lebih sepekan berada di Padepokan nya, dua anak Tumenggung Bahu Reksa pamit pulang ke Demak sedangkan Raka Senggani masih tinggal di tempat itu.


Ia masih meminta arahan dari Panembahan Lawu tentang hasil yg telah di dapatnya juga tentang tugas yg akan dilakasanakan nya di Boyolangu itu.


Panembahan Lawu memberikan beberapa petunjuk tentang seseorang yg mmeiliki ilmu hitam atau ilmu Rawa Rontek itu , bahwa tidak ada seorang manusia ini yg tidak mati , hanya waktu dan cara nya saja yg sebahagian orang yg tidak mengetahui nya.


Sehingga untuk memuluskan usaha menggapai ilmu Hitam itu terkadang harus menumbalkan seorang anak manusia, sangat miris memang begitulah yg di ucapkan oleh Panembahan Lawu kepada Raka Senggani.


Dan setelah hal itu di ceritakan oleh Panembahan Lawu, ia mengizinkan Raka Senggani untuk mencari teman agar dapat lebih memudahkan menumpas tindakan sesat itu.

__ADS_1


Raka Senggani segera pamit, ia ingin mengajak salah seorang temannya yg ada di Kenanga guna menemaninya ke Boyolangu.


Panembahan Lawu mempersilahkan nya untuk kembali ke desa Kenanga karena memang jarak nya tidak terlalu jauh dari Puncak gunung Lawu.


__ADS_2