Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 10 Bertarung di alam lain. bag ketiga.


__ADS_3

Raka Senggani bangkit dari duduk nya, dirasakan oleh pemuda itu bahwa tubuh nya sangat letih, perut nya teramat lapar.


" Kemana mereka sebenarnya, apakah mereka telah meninggalkan tempat ini,?" katanya lagi dalam hati.


Perlahan ia berjalan menuju ke arah makam yg diyakini orang sebagai makam Syaikh Ahmad Subakir, seorang ulama yg pernah menyiarkan agama islam di pulau jawa ini.


" Guru, meski engakau telah berada di alam lain, namun Senggani meyakini bahwa engkau mampu melihatku, Murid mengucapkan banyak terima kasih atas pelajaran yg telah guru berikan kepada ku, bahkan di setiap kesulitan , guru masih mau membantu ku, rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalasnya, dan murid yakin di alam sana guru tengah berbahagia, murid berdoa semoga keberkahan yg di miliki oleh guru mampu mengalir terhadap murid mu ini, selamat tinggal Guru,". ucap Raka Senggani yg duduk bersimpuh di depan makam sang penakluk bangsa jin yg ada di pulau jawa itu.


Raka Senggani langsung meninggalkan tempat itu dan menuju ke tanah Perdikan Mantyasih.


Sesampainya di rumah Ki Gede Mantyasih, seluruh penghuni nya terbengong-bengong menatap kepada Sang Senopati Pajang itu.


" Assalamu alaikum, apakah ada yg aneh pada diriku,?" tanya Raka Senggani.


" Wa" alaikum salam, tidak,. tidak ada yg aneh pada diri angger Senopati,". jawab Ki Gede Mantyasih itu.


" Rasala, panggil kemari Angger Lintang Sandika, karena ia harus mengetahui kenyataan ini,!"


Terdengar perintah dari Gede Mantyasih itu kepada putra nya, Rasala.


" Baik, Romo,!". jawab Rasala.


Putra Ki Gede segera bergegas keluar rumah nya .


" Sebenarnya apa yg telah terjadi , Ki Gede,, mengapa tidak ada seorang pun yg berada di puncak Tidar itu, sehingga Senggani hanya seorang diri saja di sana,?". tanya Raka Senggani.


" Ahhh, agak aneh sebenarnya , namun kami memang percaya akan kemampuan dari Angger Senopati , angger Senggani inj," jawab Ki Gede Mantyasih.


" Aneh apanya , Ki Gede, Senggani tidak merasa ada yg aneh ataupun yg ganjil, malah yg menjadi pertanyaan Senggani mengapa kalian semua meninggalkan ku, itu yg aneh menurut Senggani," kata Senopati Brastha Abipraya itu.


" Begini, ceritanya, Ngger, kami semua setelah berhasil menumpas mereka, Resi Yaramala dan para pengikut nya kemudian merasa kehilangan Angger Senopati, dan setelah kami tunggu beberapa lama, bahkan satu pekan masih tetap ada saja yg bertugas disana, namun Angger Senopati tetap juga tidak muncul, berdasarkan saran dari Wiku Mandrayana, supaya kami menunggu di rumah saja, bahkan para prajurit Pajang yg di pimpin oleh Tumenggung Wangsa Rana telah kembali setelah lebih sepekan berada disini,". jelas Ki Gede Mantyasih.


" Ahh , Ki Gede jangan main-main, Senggani hanya satu malam saja berada di alam jin itu, mana mungkin itu terjadi, bahwa paman Tumenggung Wangsa Rana telah kembali sepekan yg lalu,?" tanya Raka Senggani heran.


Ia tidak merasa telah lama berada di alam yg lain dengan alam dunia sekarang ini.


Suatu keanehan memang di rasakan Pemuda desa Kenanga itu bahwa disaat ia bertarung dengan Raja Jin penguasa Gunung Tidar itu, ia tidak merasakan adanya pergantian siang dengan malam semuanya tetap sama.


" Maaf sebelumnya angger Senopati, bukan maksud saya untuk menyangkal pendapat Angger itu, tetapi kepergian dari Rombongan Tumenggung Wangsa Rana itu bukan baru sepekan tetapi telah tiga pekan sampai ssat ini,". sela Ki Jagabaya.


Yg sedari tadi diam mendengar kan perbincangan antara kedua orang itu.


" Jadi maksud , Ki Jagabaya , bahwa Senggani telah berada di alam lain itu selama satu purnama,?". tanya Raka Senggani tidak percaya.


" Tepat sekali angger Senggani, " sahut Ki Gede Mantyasih lagi.


" Ahh, mana mungkin itu , Ki Gede, Senggani hanya merasakan cuma semalam saja berada di alam yg berbeda itu,". jawab Raka Senggani.


Ia memang tidak meyakini ucapan kedua orang pemimpin tanah Perdikan Mantyasih itu.


" Nanti angger Senopati akan mendengar sendiri dari Angger Sandika, apakah ucapan kami ini benar atau hanya ngayawara saja,,". jelas Ki Jagabaya.


Memang tidak terlalu lama, Rasala dengan di iringi oleh Lintang Sandika segera hadir di tempat itu.


Lintang Sandika yg melihat saudara angkat nya itu dalam keadaan selamat langsung memeluk tubuh Raka Senggani.


" Kakang pikir tidak akan bertemu dengan mu lagi adi Senggani, apa yg telah terjadi denganmu sehingga baru satu purnama kembali kemari, apakah adi Senggani kepincut jin betina yg sangat cantik?". Tanya Putra Tumenggung Bahu Reksa itu.

__ADS_1


Sambil melepaskan dekapan kakak angkat nya itu, Raka Senggani berkata,


" Senggani hanya pergi satu malam saja kakang, dan mengapa kakang Sandika meninggalkan Senggani,?" tanya nya kepada putra Tumenggung Bahu Reksa itu.


Semua yg ada disitu saling berpandangan satu sama yg lainnya, mereka merasa heran bahwa Senopati Brastha Abipraya itu masih bersikukuh dengan pendapat nya bahwa ia pergi hanya semalam saja tidak lebih.


Sedangkan para penghuni tanah perdikan Mantyasih itu meyakini bahwa ia telah pergi selama satu purnama.


" Ahh, adi Senggani, mungkin adi tidak menyadari bahwa memang telah berada satu purnama di tempat bangsa jin itu berada, kami pun mendengar kan pernyataan ini dari Wiku Mandrayana, bahwa adi Senggani tidak akan mudah untuk mengalahkan Raja Jin itu, tetapi ia meyakini bahwa adi Senggani mampu mengalahkan nya, oleh sebab itu atas permintaan ku dan juga pendapat dari Paman Tumenggung Wangsa Rana, kakang tetap disini di tanah perdikan Mantyasih ini untuk menunggumu, karena menurut dari Wiku Mandrayana, kemungkinan nya adi Senggani akan bertarung selama empat puluh hari empat puluh malam untuk dapat mengalahkan penguasa Gunung Tidar itu dan ternyata lebih cepat dari yg di perkirakan oleh sang Wiku itu," jelas Lintang Sandika.


Raka Senggani terdiam dan memandangi satu persatu, wajah -wajah yg ada di tempat itu, ia masih sulit untuk mempercayai nya.


Karena ia merasa hanya semalam saja berada di tempat itu.


" Anehhh,,". gumamnya.


Kemudian Ki Gede Mantyasih itu menyuruh kepada para pembantu yg ada di rumah nya itu untuk menyiapkan sajian makan malam, meski hari masih agak sore.


Sambil menyantap makanan yg tersaji , mereka kembali berbincang.


" Apakah jin itu memang berhasil Angger Senopati kalahkan,?" tanya Ki Gede Mantyasih.


" Benar Ki Gede, atas petunjuk dari Guru, Senggani berhasil memenangkan kembali serta membenamkan tubuh sang Raja Jin itu bersama dengan tombak pusaka Kyai Sepanjang itu,". jawab Raka Senggani.


" Apakah sewaktu berada di alam nya, kehebatan dari sang Raja Jin semakin meningkat ,Ngger,?" tanya Ki Jagabaya.


" Betul sekali Ki Jagabaya, itulah sebabnya ia mengajak bertarung di alam nya karena memang ia memilki banyak kelebihan, bahkan seluruh ilmu yg dimiliki nya telah di keluarkan nya, tetspi Gusti Allah masih mmeberikan perlindungan nya kepada ku, sehingga angkara murka yg di timbulkan oleh Penguasa Gunung Tidar itu berhasil di hancurkan," jawab Raka Senggani.


Sembari menyantap makanan kesuakaan nya yaitu empela ati ayam, Senopati Pajang itu terus menyuapi mulut nya dengan makanan karena ia merasakan lapar yg sangat.


Raka Senggani, Lintang Sandika dan Rasala segera ke pakiwan guna mmebersihkan tubuh.


Di tempat itu mereka masih sempat bercanda.


" Adi Senopati , tampaknya kami akan memiliki penduduk baru,!" ucap Rasala.


" Siapa,?". tsnya Raka Senggani.


" Adaaa, ia sekarang tengah giat -giat nya mendekati putri dari Paman Sudirjo itu,". Rasala menjawab pertanyaan dari Raka Senggani itu.


Putra Ki Gede Mantyasih itu mengerlingkan matanya kepada Lintang Sandika.


" Ahhh, itu hanya guyon Rasala saja , adi Senggani , jangan kau percaya ucapan nya itu,". balas Lintang Sandika.


" Kalau memang benar pun , itu merupakan suatu pertanda yg sangat baik, karena kakang Sandika tentu akan merasa punya semangat lagi seperti waktu dulu,". ujar Raka Senggani.


" Mudah-mudahan adi Senggani, karena nampak nya paman Sudirjo pun menyukai mu Sandika," tukas Rasala.


Ketiga nya asyik bercanda dan selanjutnya menunaikan ibadah sholat Maghreb bersama.


Saat malam menyelimuti tanah Perdikan Mantyasih, lampu -lampu telah di nyalakan, demikian pula obor-obor yg terpasang di beberapa sudut termasuk di jalanan.


Di pendopo rumah Ki Gede Mantyasih itu telah ramai dengan kedatangan para sesepuh dan perangkat desa, ada dari pedukuhan kulon dan desa Trunan.


Umum nya mereka ingin melihat Raka Senggani itu, yg telah menggegerkan tanah perdikan itu dengan keberhasilan nya mengalahkan penguasa gunung Tidar itu.


Di tambah lagi cerita yg membuat semua orang ingin mendengar nya, pertarungan yg sampai satu purnama itu cukup menghebohkan tanah perdikan itu.

__ADS_1


" Angger Senopati, ada yg masih mengganjal dalam pemikiran saya, bagaimana angger mampu bertahan selama satu purnama tanpa makan,?". tanya Ki Gede Mantyasih.


" Itu jugalah Ki Gede yg membuat di dalam hatiku bertanya -tanya akan ucapan kalian itu,.... Karena Senggani merasa cuma satu malam saja Senggani berada disana, meskipun setelah pertarungan itu, Senggani merasa lapar yg teramat sangat,!". jawab Raka Senggani


" Jadi apa saja yg Angger lihat setelah berada disana,?". tanya Ki Jagabaya.


Raka Senggani mengingat sebentar apa saja yg telah di lihatnya selama berada disana,


" Senggani melihat, banyak bangunan di tempat itu bahkan sangat tinggi dan ada sebuah bangunan yg sangat megah laksana keraton di dekat sebuah lapangan,". jawab Raka Senggani.


" Dan dimana kalian itu bertempurnya,Ngger,?". tanya Ki Gede Mantyasih.


" Kami bertarung di tanah lapang dekat bangunan megah itu Ki Gede ," jawab Raka Senggani.


" Apakah ada makhluk lain selain kalian berdua,?" tanya Ki Bekel kulonan.


" Ada, Ki , tetapi umum nya mereks takut kepada penguasa Gunung Tidar itu, sehingga tidak ada yg berani mendekst," jelas Raka Senggani lagi.


" Memang pernah suatu saat sang Raja Jin itu memanggil para prajurit nya untuk mengeroyokku , akan tetapi setelah mereka berhasil Senggani kalahkan, setelah itu tidak ada lagi yg mendekati kami lagi, selanjutnya sampai ia berhasil Senggani kalahkan tidak ada yg menemui ku lagi," terang Raka Senggani.


" Ternyata benar yg telah di sebutkan oleh Wiku Mandrayana itu, bahwa pusat dari alam jin itu berada di puncak Gunung Tidar ini, beruntung kita berhasil untuk mengusir mereka termasuk yg dari golongan manusianya semacam Resi Yaramala dan Resi Brangah itu," sebut Gede Mantyasih.


" Oh iya Ki Gede bagaimana nasib Wiku Maha Gelang itu,?" tanya Raka Senggani.


Karena ia memang tidak tahu kejadian nya saat masih bertarung dengan jin penguasa Gunung Tidar itu.


" Memang sangat di sayangkan , Ngger, bahwa Wiku Maha Gelang itu harus tewas setelah berhasil di curangi oleh Resi Yaramala, sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir nya , Resi asal Hindustan itu berhasil menusukkan tongkat nya ke perut Wiku Maha Gelang itu, akhirnya keduanya sampyuh, Ngger,!" Jawab Ki Gede Mantyasih.


" Kasihan sekali nasib Wiku Maha Gelang itu, Ki Gede," sahut Raka Senggani.


" Benar Ngger, dan oleh karena itu mayatnya kami mintakan untuk di kuburkan di sini, di tanah perdikan Mantyasih ini, karena ia termasuk yg paling berjasa selain angger Senopati sendiri dan beberapa orang yg lain nya,". jelas Ki Gede Mantyasih.


" Ahh, Ki Gede, sebenarnya semua kita memang wajib untuk melakukan nya, mencegah kebathilan dan menegakkan kebenaran, ". ungkap Raka Senggani.


" Bukan apa -apa, Ngger, kalau kalian semua ini memang penduduk asli daerah Mantyasih ini, memang sudah sewajarnya demikian tetapi untuk kalian semua yg berada jauh dari sini mau mengorbankan jiwanya untuk mencegah terjadi nya kemungkaran itu merupakan sesuatu yg sangat luar biasa terlebih lagi untuk sang Wiku Maha Gelang itu, jauh -jauh datang dari Tibet guna menghentikan sepak terjang Resi Yaramala itu, merupakan bukti bahwa beliau memang patut sebagai teladan yg harus di hormati kelak anak cucu dari tanah Perdikan ini akan mengenang nya sebagai Seorang pahlawan yg luar biasa,". ungkap Ki Gede Mantyasih itu.


Semua yg mendengar sesorah dari pemimpin tanah Perdikan Mantyasih itu membenarkan apa yg telah di ucapkan Ki Gede tersebut.


Saat malam makin larut , terdengar suara burung -burung malam yg berbunyi, tanpa sengaja Raka Senggani mengarahkan pandanganya ke puncak Gunung Tidar itu.


Ternyata Ia masih mampu melihat kegiatan yg ada di puncak Gunung Tidar itu, dalam hal ini adalah dari bangsa jin.


Dilihatnya sekelompok dari bangsa jin itu mendekati tempat dimana terkubur nya Raja mereka itu, namun mereka tidak berani lebih dekat lagi dan semua itu teramat jelas di pandangan mata dari Senopati Pajang itu.


" Aneeehhh,". desis Raka Senggani.


" Apanya yg aneh , Ngger,?". tanya Ki Jagabaya yg mendengar kata Raka Senggani itu.


" Tidak paman Jagabaya, Senggani masih mampu melihat kegiatan yg terjadi diatas puncak Gunung Tidar itu, nampak sekelompok bangsa jin itu mengitari tempat terkubur nya Raja mereka itu namun mereka tidak berani mendekati nya,". jelas Raka Senggani.


" Sedemikian jauh nya Angger Senopati masih mampu melihat nya,?". tanya Ki Gede Mantyasih heran.


" Itulah yg aneh , Ki Gede, mengapa Senggani mampu melihat mereka padahal tempat ini sangat jauh dari Puncak Tidar itu," jawab Raka Senggani lagi.


Memang keanehan telah terjadi terhadap sang Senopati itu, ia yg mampu bertsrung dengan penguasa Gunung Tidar itu bahkan mampu bertahan selama satu purnama, tetapi tsmpak ia sangat sehat.


Tidak ada yg berubah dari diri nya hanya keanehan sikap nya saja yg membuat para penghuni Tanah Perdikan Mantyasih itu bertanya -tanya.

__ADS_1


__ADS_2