Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 30 Perseteruan. bag keenam


__ADS_3

Orang tua yg bernama Mbah Katir itu pun menyiapkan beberapa peralatan serta reramuan untuk mengobati tubuh dari Raka Yantra.


Sedangkan untuk Raka Senggani sendiri ia suruh untuk merendamkan sisik emas dari ikan gabus yang di dapatnya di Rawa Pening tersebut.


Setelah semuanya beres, ia meminta kepada Lintang Sandika untuk segera mendudukkan tubuh Raka Yantra ini.


Mbah Katir melakukan beberapa totokan pada tubuh dari Raka Yantra itu, dan kelihatan nya tubuh kakak sepupu dari Raka Senggani ini pun mampu bernafas lebih baik lagi meski masih dalam keadaan pingsan.


" Angger Senopati, tuangkanlah air itu ke dalam mulutnya,..!" ucap Mbah Katir.


Raka Senggani yg memegang air rendaman sisik emas ikan gabus itu langsung saja memberikan nya kepada Raka Yantra.


Dengan perlahan sekali ia berhasil menuangkannya hingga habis yg ada di cawan kecil itu.


" Kita tunggu sebentar , Ngger, jika memang tidak ada pengaruhnya, lebih baik sekalian saja sisik itu angger telankan ke mulutnya,..!" ucap Mbah Katir menjelaskan.


" Baik,..Mbah,..!" sahut Raka Senggani.


Sambil tetap menunggu hasil dari air yg telah di minumkan itu sesaat, maka Mbah Katir telah menyiapkan beberapa peralatan dan berkata,.


" Ngger, taruh ini di dekatnya, siapa tahu nanti ia akan memuntahkan racun itu,..!" katanya kepada Raka Senggani.


Sambil memberikan sebuah wadah seperti cawan besar kepada sang Senopati.


Raka Senggani pun menerimanya dan meletakkan dekat tubuh dari kakak sepupu nya.


Dan benar saja seperti yang telah diucapkan oleh si Mbah Katir, tiba tiba saja tubuh dari Raka Yantra itu bangkit dan kemudian memuntahkan darah hitam yang sangat kental.


" Hoeekkh,..!"


" Hoeekkh,..!"


" Hoekkkkhh,..!"


Tiga kali putra Raka Jang ini memuntahkan nya , hingga ia pun terbaring kembali.


Cukup banyak darah muntahannya ini, hampir penuh cawan yang di letakkan Raka Senggani untuk menampungnya.


Mbah Katir langsung meminta kepada sang Senopati untuk menelankan ramuan yg telah di siapkan olehnya tadi.


" Ngger, tampaknya seluruh racun itu telah keluar semua, untuk menguatkan tubuh nya minumkanlah ramuan obat ini kepada nya,..!" ucap Mbah Katir sambil memberikan obatnya itu kepada Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya ini menerimanya dan kembali memberikan nya kepada Raka Yantra hingga habis.


Semua yg hadir dalam bilik itu melihat dengan jelas sekali perubahan yang terjadi.


Tubuh Raka Yantra yg semula membiru kehitam-hitaman, kini telah tampak kembali seperti semula, meski agak lebih pucat karena banyaknya darah yang telah ia keluarkan.


" Tampaknya , sisik emas dari ikan gabus itu mampu menahan dan mengeluarkan nya dari dalam tubuhnya, dan suatu khabar baik bahwa ia akan dapat di selamatkan Ngger, kita tinggal menunggu tubuhnya kembali pulih,..!" ucap si Mbah Katir lagi.


Sesuai dengan pernyataan tadi, nafas dari Raka Yantra pun nampak teratur seperti sedia kala, padahal sebelumnya, denyut jantung nya dan nafasnya sudah tidak kelihatan sama sekali.


" Mudah mudahan Mbah ,..!" sahut Raka Senggani.


Lintang Sandika yg sedari duam saja segera berkata,.


" Adi Senggani, bagaimana jika tubuh kakak mu ini kita pindahkan ke rumah kakang saja,.!" ucap Putra Tumenggung Bahu Reksa.


" Hehh,..!" seru Raka Senggani kaget.


Ia memang sempat berpikir demikian disebabkan karena rumah dari Ki Gede Mantyasih ini sudah sangat ramai dan pada esok harinya akan melangsungkan hajatan, sehingga akan bising tentu sangat mengganggu bagi Raka Yantra yg masuk pada tahap pemulihan.


" Benar apa yang kakang Sandika katakan itu,..,!" sahut Raka Senggani.


Adalah si Mbah Katir yg kemudian meluruskan perbincangan dari kedua saudara angkat itu.


" Angger Senopati, sebaiknyalah hal ini di bicarakan kepada Ki Gede sendiri , sebab beliaulah yang telah menahan nya agar Angger Yantra ini di obati di rumahnya ini,..!" terang si Mbah Katir.

__ADS_1


Raka Senggani yg mendengarkan nya pun langsung menganggukkan kepalanya, ia setuju dengan apa yg telah di ucapkan orang tua yg memiliki kemampuan dalam hal ilmu pengobatan .


" Baiklah, Mbah, Senggani akan mengatakan hal ini kepada Ki Gede Mantyasih,..!" ucap Raka Senggani.


Ia pun meminta kepada kakak angkatnya, Lintang Sandika sejenak menunggui kakak sepupu nya itu.


Baru kemudian ia melangkah kan kakinya keluar bilik tersebut.


Sang Senopati segera menemui Ki Mantyasih yg masih duduk di pendopo rumahnya dan tengah memperhatikan seluruh warga tanah Perdikan Mantyasih yg sedang bekerja dalam rangka menyukseskan hajatan yg pada esok hari akan di langsungkan.


" Ehh, Angger Senopati, bagaimana keadaan dari saudara mu itu, Ngger,..?" tanya Ki Gede Mantyasih kepada Raka Senggani.


" Alhamdulillah baik, Ki Gede, ternyata memang benar , sisik ikan gabus yang berwarna emas itu mampu mengeluarkan seluruh racun yg bersarang di tubuhnya,..!" jawab Raka Senggani.


" Syukurlah, Kami senang mendengar nya,!" sahut Ki Gede Mantyasih.


Raka Senggani kemudian menceritakan apa yang mereka bahas tadi sewaktu di dalam bilik Raka Yantra mengenai kepindahan nya ke rumah Lintang Sandika.


" Mengapa harus pindah , Angger Senopati, bilik itu memang tidak ada yg menempatinya, karena seluruh keluarga dari calon besanku berada di belakang rumah ini tepatnya di rumah para penduduk Mantyasih ini dan disediakan untuk mereka ,..!" ucap Ki Gede Mantyasih menjelaskan.


" Mohon maaf sebelumnya, Ki Gede,.bukan masalah mengenai bilik itu, akan tetapi kakang Raka Yantra tentu memerlukan suatu tempat yg lebih tenang agar ia sembuh lebih cepat,..!" terang Raka Senggani.


Ia agak kesulitan untuk membawa kakak sepupu nya ini keluar dari rumah Ki Gede, takut kalau penguasa dari tanah perdikan Mantyasih ini tersinggung karena nya.


" Begini saja , Angger Senopati, di sebelah kanan dari rumah aki ini masih ada rumah seorang penduduk yang dapat di tempati, Angger Senopati bawa ke situ saja , selain tidak terlalu jauh, nanti pun kami akan mudah menghubungimu jika terjadi sesuatu atas kelangsungan hajatan kali ini,..!" ucap Ki Gede Mantyasih.


" Baiklah kalau begitu Ki Gede, kami akan segera memindahkan kakang Yantra kesana,.!" kata Raka Senggani.


Ia pun kembali lagi masuk ke dalam bilik dimana Raka Yantra berada.


" Bagaimana Ngger,..?" tanya si Mbah Katir.


" Ki Gede mengizinkan kakang Raka Yantra di bawa pindah , akan tetapi tidak ke rumah kakang Sandika,..!" jawab Raka Senggani.


" Jadi kemana , ?" tanya Lintang Sandika.


" Maksud Adi Senggani, rumah Ki Maruta ,.?" tanya Lintang Sandika lagi.


Raka Senggani pun mengangguk kan kepalanya.


Tidak terlalu lama, di depan pintu bilik itu pun telah hadir empat orang pengawal tanah Perdikan Mantyasih yg siap untuk mengangkat tubuh Raka Yantra yg masih pingsan itu.


Dan untuk selanjutnya ke empatnya lah memindahkan putra Raka Jang itu ke rumah Ki Maruta, memang tidak terlalu jauh dari kediaman Ki Gede Mantyasih ini.


Hanya sebentar saja mereka telah selesai mengerjakannya.


Dan Mbah Katir pun ikut pula kesana.


Kj Maruta pemilik rumah itu sangat senang sekali menerima kehadiran dari Senopati Pajang ini beserta saudara nya yg tengah terluka itu.


" Silahkan Anakmas Senopati, silahkan masuk,.!" ucapnya kepada Raka Senggani.


" Terima kasih, Ki ,..!" sahut Raka Senggani.


Ia pun duduk bersama pemilik rumah tersebut, sedangkan Raka Yantra sudah di tempatkan pada bilik yg ada di sentong kiri dari rumah tersebut.


Waktu memang telah menjelang sore, selagi asyik mengobrol bersama pemilik rumah yg bernama Ki Maruta itu, tiba tiba saja datanglah Ki Lonowastu ke tempat itu.


" Ahh, dicari-cari kemana, kiranya angger Senopati berada disini ,.!" seru Ki Lonowastu agak terengah engah.


" Ada apa Ki Lono, tampaknya aki sedang tergesa-gesa,..?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lonowastu.


Sambil sejenak ia menarik nafasnya agar lebih tenang lagi barulah Ki Lonowastu berkata lebih lanjut.


" Benar Ngger , tadi aki telah datang ke rumah Ki Gede, dan dari beliaulah aki tahu bahwa Angger Senopati berada disini, tampaknya orang yang bertarung dengan angger Senopati itu telah bersiap untuk datang kemari lagi, dan kali ini tidak tanggung-tanggung, ia bersama dengan Gurunya yg bernama Ki Jarie Mendep itu, Ngger,.!" terang Ki Lonowastu.


Semua yg berada di rumah Ki Maruta ini sangat terkejut mendengar nya terlebih bagi Ki Katir sendiri , ia pun bergumam,

__ADS_1


" Apa urusannya orang yang memiliki kemampuan bermain racun itu datang kemari,.!?"


Raka Senggani dan Lintang Sandika yg baru mendengar nama Ki Jarie Mendep ini hanya memandangi saat si Mbah Katir berkata demikian.


" Memang nya siapa orang yang bernama Ki Jarie Mendep itu , Mbah,..?" tanya Raka Senggani kepada Mbah Katir.


Seraya menghela nafasnya , orang yang memiliki kemampuan masalah pengobatan yang ada di tanah Perdikan Mantyasih ini kemudian menceritakan siapa sesungguhnya orang yang bernama Ki Jarie Mendep dan bergelar si Selaksa racun itu.


Mbah Katir menyebutkan bahwa asal dari Ki Jarie Mendep ini tidak ada yg mengetahuinya namun yg jelas ia berasal dari timur, namun satu yg membuat nyali seseorang menciut jika menyebutkan nama nya adalah kemampuan dari ilmunya yg sering dan sudah sangat terbiasa menggunakan racun termasuk juga yg telah menimpa Raka Yantra saudara sepupu senopati Pajang itu.


" Lalu apa hubungannya dengan Tumenggung Gajah Ludira , mbah,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Entahlah, kemarin Ki Gede menyebutkan bahwa pembesar keraton Demak itu merupakan murid dari Ki Jarie Mendep, benar atau tidak, hanya Ki Gede lah yg tahu,..!" terang Mbah Katir.


" Kalau begitu, kita harus kembali ke rumah Ki Gede Mantyasih membicarakan masalah ini, mungkin juga orang yg menjadi pelaku penculikan para bayi itu pun ada sangkut pautnya dengan orang yang bernama Ki Jarie Mendep ini, Mbah,..!" kata Raka Senggani.


Dan yg hadir di rumah Ki Maruta ini pun setuju untuk menemui kembali Ki Gede Mantyasih di rumahnya yg tidak berada jauh dari tempat tersebut.


Raka Senggani menitipkan saudara sepupunya ini kepada Ki Maruta sebagai pemilik rumah tersebut.


" Jangan khawatir anakmas Senopati,..aki akan menjaganya,.!" ujar Ki Maruta.


Keempatnya lantas bergegas menuju rumah Ki Gede, dan sebentar kemudian mereka telah tiba disana.


Ki Gede Mantyasih nampak tersenyum melihat kehadiran mereka.


Ia pun langsung berkata,


" Untuk alasan inilah , aku meminta Angger Senopati tidak membawa saudara mu berada jauh dari sini, sebab tampaknya mereka tetap akan berusaha untuk menggagalkan rencana hajatan ku kali ini, Ngger,..!" terang Ki Gede Mantyasih.


Setelah semuanya duduk melingkar di pendopo rumah Ki Gede Mantyasih yg cukup luas itu barulah, Raka Senggani bertanya kepada nya.


" Ki Gede,..apa hubungannya antara Ki Jarie Mendep itu dengan Tumenggung Gajah Ludira,..apa benar orang yang bernama Ki Jarie Mendep ini adalah Guru dari Tumenggung Gajah Ludira,..Ki,..?" tanya Raka Senggani.


Ki Gede Mantyasih langsung menjawabnya,


" Sangat tepat sekali ucapanmu itu Angger Senopati, Ki Jarie Mendep itu bukan saja guru dari Tumenggung Gajah Ludira tetapi juga adik seperguruan dari Resi Brangah dari Blambangan itu, mungkin untuk itulah ia kini hadir disini guna membalaskan dendam nya atas terbunuhnya kakak seperguruan nya itu di Mantyasih ini,.!" ungkap Ki Gede Mantyasih.


" Lalu , apakah ada hubungan nya dengan pelaku penculikan para bayi itu, Ki Gede,..?" tanya Raka Senggani kepada Ki Gede Mantyasih.


" Kalau masalah itu Aku tidak tahu angger Senopati, namun tidak menutup kemungkinan nya hal ini memang saling berhubungan, bukan begitu Ki Katir,..!" sahut Ki Gede Mantyasih.


Orang tua yg disebutkan namanya oleh Ki Gede Mantyasih ini hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak menjawab.


Dalam hati orang tua ini berkata, apapun dapat di lakukan oleh seseorang demi memuluskan usahanya termasuk dengan menggunakan ilmu hitam semacam itu.


" Mengapa Mbah Katir diam saja,..?" tanya Raka Senggani kepada orang tua .


Mbah Katir sendiri nampak kaget mendengar pertanyaan yg diajukan oleh Senopati Brastha Abipraya ini, padahal tadi ia sempat termenung sejenak setelah mengetahui kehadiran orang yg bernama Jarie Mendep itu di tanah Perdikan Mantyasih ini.


"Hehh, aku hanya tidak habis mengerti jika memang itu termasuk salah satu cara yang di lakukan oleh Ki Jarie Mendep itu, karena setahuku yg pernah menuntut ilmu mengenai pengobatan , ia cenderung lebih menyukai masalah racun termasuk jurus Macan Moro yang telah mengenai saudara mu itu angger Senopati,.!" sahut Si Mbah Katir.


Ternyata dirinya pun masih memiliki hubungan dengan orang yang bernama Ki Jarie Mendep tersebut.


Ketika mereka sedang asyik berbincang bincang mengenai keadaan tanah Perdikan Mantyasih ini , datanglah salah seorang pengawal tanah Perdikan Mantyasih yg melaporkan sesuatu kepada Ki Gede Mantyasih.


" Maaf Ki Gede, berdasarkan permintaan dari Kakang Anggono, agar dapat lah kiranya , Kakang Senopati Brastha Abipraya ini hadir di tempat nya berjaga,.!" ucap pengawal tersebut kepada Ki Gede.


" Memang nya ada apa, Jantu, apakah ada sesuatu yg sangat penting sehingga Angger Senopati harus segera berada disana,..,?" tanya Ki Gede Mantyasih.


Pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini mendekati pemimpin nya itu sambil berbisik ia mengatakan,


" Tampaknya orang yang bernama Ki Jarie Mendep itu ingin mengadakan perang tanding dengan Senopati Brastha Abipraya ini, Ki Gede!" ucapnya pelan sekali.


" Hahh,..!"


Ki Gede Mantyasih terkejut bukan kepalang mendengar penuturan dari salah seorang pengawal tanah Perdikan ini, di pandanginya Raka Senggani yg masih juga menatap ke arahnya.

__ADS_1


" Ada apa Ki Gede,..?" tanya Raka Senggani.


__ADS_2