Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 29 Kabar itu datang. bag kelima.


__ADS_3

Raka Senggani langsung saja menyantap hidangan yang disajikan oleh putra Ki Gede Mantyasih itu. Memang ia merasa seperti tengah menjalani laku berpuasa setelah dari desa Lopait ia belum merasakan sebutir nasi pun, terlebih ia telah mengerahkan tenaga dalamnya guna menolong Raden Kuda Wira, sehingga hidangan tersebut dengan cepat di habiskan nya.


Rasala yg bersama nya nampak tersenyum melihat Senopati Pajang ini , akan tetapi ia tidak mengatakan apapun, dan setelah selesai mereka kembali ke ruang depan dimana berkumpul para sesepuh tanah Perdikan itu.


" Sudah selesai , Ngger ,.?" tanya Ki Gede Mantyasih kepada Raka Senggani.


" Sudah Ki Gede, " sahut Raka Senggani.


Ia di persilahkan untuk duduk oleh Ki Gede Mantyasih . Dan mereka pun kembali melanjutkan perbincangan.


" Nah, ber hubung angger Senopati telah berada disini , bagaimana kalau kita mintai pendapatnya mengenai yg telah terjadi disini,.!" ungkap Ki Gede Mantyasih.


Dan para sesepuh tanah Perdikan itu sependapat dengan usulan dari pemimpin nya ini, selain mereka mengetahui kemampuan dari Senopati Brastha Abipraya ini mereka juga merasa sudah sangat dengan nya.


Àkhirnya Ki Gede pun menjelaskan duduk perkaranya.


" Begini Angger Senopati, dalam beberapa hari ke depan kami , tepatnya saya akan melaksanakan hajatan, yaitu akan menikahkan putra ku ini , dan waktu nya sudah sangat dekat, akan tetapi di sini di Mantyasih ini sekarang terasa kurang aman,.!" terang Ki Gede Mantyasih.


Sedangkan Raka Senggani yg mendengarkan hanya diam saja , ia memang telah tahu bahwa Mantyasih akan melaksanakan hajatan.


" Jadi , atas nama pribadi dan seluruh penghuni tanah perdikan ini , kami berharap Angger Senopati mau tetap tinggal disini sampai hajatan kami ini selesai,.!" kata Ki Gede Mantyasih lanjut.


Sambil ia menarik nafasnya , penguasa tanah Perdikan itu melanjutkan lagi ucapannya,


" Memang saat ini , tanah Perdikan Mantaysih tengah di kejutkan oleh kehadiran seseorang yg melakukan sesuatu dan cukup meresahkan, entah sudah berapa kali ia melakukan aksinya itu tetapi belum kunjung tertangkap,.!" jelas Ki Gede Mantyasih.


Lanjut Ki Gede Mantyasih , ia sudah berusaha untuk menangkap orang yang menjadi perusuh dalam wilayahnya ini. Bahkan ia telah memintai bantuan dari Pajang guna mengatasinya.


Sebagai seorang bekas pemimpin pasukan sandi yuda Demak, rasa penasaran Raka Senggani menggelitik hati nya. Ia lantas bertanya.,


" Apa yg telah di lakukan orang tersebut dan berapa orang pelakunya,..Ki Gede?" tanyanya.


Kembali Ki Gede Mantyasih menarik nafasnya dalam dalam seolah ingin melepaskan beban berat yang tengah dipikulnya, baru kemudian ia menjawab,.


" Orang tersebut telah melakukan penculikan beberapa bayi yg baru lahir dan belum ada sepasar, dan pelakunya sampai kini kami belum dapat memastikan berapa orang Ngger, hanya dari beberapa orang yang pernah mendapatinya tengah melakukan aksinya, orang tersebut mengatakan bahwa pelakunya masih berusia muda dan ada lagi yang mengatakan ia berusia sudah cukup tua,.untuk itu kami tidak mampu mengetahui jumlahnya, apakah memang orang ini satu orang atau malah lebih , belum ada yg dapat memastikan nya, !" jelas Ki Gede Mantyasih.


Raka Senggani kemudian bertanya lagi,.


" Sejak kapan terjadinya hal itu Ki Gede, ?" tanya nya.


" Sudah hampir satu purnama ini , Ngger,.!" jawab Ki Gede Mantyasih.


Raka Senggani tidak bertanya lagi , ia masih mengurut urut keterangan dari pemimpin tanah Perdikan Mantyasih ini, memang tampaknya orang yang menjadi sumber keresahan di Mantyasih ini sepertinya memiliki ilmu yg cukup tinggi sehingga dapat mengelabui para perondan dan pengawal tanah Perdikan ini.


" Maaf sebelumnya , Rasala, siapakah sebenarnya calon istri mu itu,?" tanya Raka Senggani kepada Rasala putra Ki Gede Mantyasih ini.


" Tri wandari berasal dari Banyu Biru, Senopati Brastha Abipraya, memang nya ada apa dengan nya, apakah ada hubungan nya dengan dia,.. bukankah pelakunya itu adalah seorang lelaki,.?" tanya Rasala.


" Ahh, tidak , Rasala, aku hanya ingin menghubungkan kejadian ini dengan niatmu untuk melangsungkan pernikahan, siapa tahu orang tersebut, berniat atau malah merupakan kekasih dari calon istrimu itu,sehingga ia membuat keonaran ini agar hajatan ini tidak dapat di langsungkan, atau memang ini tidak ada hubungannya dengan niat hajatan kali ini,.!" terang Raka Senggani.


" Hahhh,..!"


Orang orang yg berada di kediaman dari Ki Gede Mantyasih ini sangat terkejut setelah mendengar paparan dari Senopati Brastha Abipraya itu, mereka tidak ada yg menghubungkan hal tersebut dengan niatan dari Ki Gede tersebut.


Sehingga mereka tidak menyangka akan pendapat tadi termasuk dengan Ki Gede Mantyasih sendiri.


Ia memang tidak terlalu memahami keadaan dari calon mantunya itu, hanya saja ia telah memberi restu kepada putranya untuk menikahinya.


" Bagaimana Rasala, apakah ada kemungkinan nya hal tersebut,.?" tanya nya kepada putranya ini.


Rasala tidak langsung menjawabnya, ia sepertinya tengah mengingat ingat akan hal tersebut.

__ADS_1


" Mungkin benar juga yg di katakan oleh Senopati Brastha Abipraya ini Romo, Wandari pernah mengatakan kepada ku bahwa ia pernah coba di dekati oleh seorang pemuda sebelum diriku berhubungan dengannya,..!" ungkap Rasala.


" Akan tetapi ia menolaknya ,?" tanya Ki Gede Mantyasih kepada Rasala.


" Benar, Romo,. Tri wandari memang menolaknya dengan alasan bahwa lelaki itu telah memiliki istri,.dan sikap nya yg terlihat berangasan, cenderung sombong dengan ilmunya,.!" jelas Rasala.


Ki Gede kemudian menanyakan apakah pemuda tersebut berasal dari desa yg sama dengan calon mantunya itu.Oleh Rasala menyebutkan memang pemuda itu berasal dari tempat yg sama dengan Tri wandari,bahkan dahulu sebelum nya mereka pernah berhubungan , akan tetapi setelah ia menikah dengan gadis lain, barulah Tri wandari menolaknya.


Kini jelaslah keadaan dari sang menantunya ini Ki Gede Mantyasih merasa memang ada keterkaitan yang telah terjadi di mantyashi saat ini.


Mereka terus saja membicarakan hal mengenai yg telah terjadi di tanah Perdikan itu hingga kentongan bernada dara muluk di bunyikan.


Banyak dari sesepuh yg meminta agar Senopati Brastha Abipraya bersedia membantu keadaan di Mantyasih ini, mereka memang sangat berharap agar Raka Senggani mau menolong dari aksi perusuh tersebut.


" Baiklah , Ki Gede dan para sesepuh sekalian nya, Senggani akan mencoba mengurai dan berusaha untuk menangkap pelakunya , namun jangan terlalu berharap banyak, kita semua bisa saling membantu jika memang orang itu kembali beraksi,.!" ungkap Raka Senggani.


Walaupun sebenarnya ia singgah di tanah Perdikan Mantyasih ini adalah ingin menyambangi kakak angkatnya Lintang Sandika dan ingin menanyakan kabar yg datang dari Kotaraja Demak akan tetapi saat ini ia pun harus dihadapkan pada suatu masalah yg ada di kaki gunung Tidar ini.


Tatkala Ki Gede menanyakan apakah ia malam ini akan menginap di rumahnya, Raka Senggani dengan halus mengatakan ingin bersama saudara angkatnya ini , ada sesuatu yg akan di bicarakan nya berdua saja dengan putra Tumenggung Bahu Reksa itu.


" Baiklah Angger Senopati, akan tetapi besok malam menginaplah disini,..!" pinta Ki Gede Mantyasih.


" Insyaallah,..Ki Gede,.!" sahut Raka Senggani pendek.


Dan keduanya pun meninggalkan kediaman dari Ki Gede Mantyasih saat malam hampir berada di penghujung nya dan sebentar lagi akan berganti tugas para pengawal tanah Perdikan ini berjaga.


Dalam perjalanan kembali ke rumah Lintang Sandika dan istrinya, Raka Senggani langsung bertanya kepada saudara angkatnya ini,.


" Kakang Sandika , Senggani ingin bertanya kepadamu sesuatu hal,..!" ucap Raka Senggani sambil terus saja berjalan.


" Hal apa itu adi Senggani,..?" tanya Lintang Sandika.


" Kakang kan saat ini telah menjadi seorang prajurit sandi , benarkah yg telah di sebutkan oleh Ki Woro , akan kabar itu ,..!" ujar Raka Senggani.


" Benar Kakang , mengenai hal itu, apakah memang saat ini Senggani telah menjadi buronan kerajaan,..?" tanya Raka Senggani.


Ia memang sangat ingin tahu posisi nya saat ini sehingga dapat mengambil sikap terhadap Kotaraja Demak.


Terlebih Lintang Sandika merupakan kakak angkatnya dan putra dari Tumenggung Bahu Reksa yg menjadi pemimpin pasukan sandi yuda Demak saat ini menggantikan dirinya, tentu saudara angkatnya ini dapat memberikan penjelasan yg lebih lengkap lagi daripada Ki Lintang Panjer Suruf.


Dan Lintang Sandika tidak menjawab hingga sampai kerumahnya.Ketika ia mengetuk pintu dan memanggil istrinya , Lintang Sandika mempersilahkan masuk Raka Senggani .


" Marilah masuk ke dalam Adi Senggani, kita bicarakan masalah ini di dalam saja,.!" ucapnya .


Sambil ia masuk ke dalam dan diikuti oleh Raka Senggani dari belakang.


" Nyi, buatkan wedang hangat,..!" pinta Lintang Sandika kepada istrinya.


" Baik, kakang,..!" sahut istrinya.


Barulah kemudian Putra Tumenggung Bahu Reksa ini menjelaskan duduk permasalahannya mengenai keadaan dari adik angkatnya ini.


" Adi Senggani, saat ini Romo tengah berusaha menepis anggapan para pembesar kerajaan Demak akan hal itu, bahkan Romo berani pasang badan untuk mu,.!" jelas nya.


" Ini wedangny kakang,..mengapa terlalu larut malam baru kembali, kami sudah sangat ketakutan, terlebih rara kinasih terus saja menangis,..!" ucap Rara tinampi istri Lintang Sandika ini.


Ia pun datang membawakan minuman hangat dan beberapa potong ketela singkong rebus.


" Ahh, tadi kakang dan seluruh sesepuh Mantyasih di kagetkan akan kehadiran dari Adi Senggani ini sehingga keasyikan mengobrolnya,..!" jawab Lintang Sandika.


" Oh iya , kenalkan ini adik angkat kakang, Namanya Raka Senggani,..!" kata Lintang Sandika kepada istrinya.

__ADS_1


" Ahh, Kakang ini ada ada saja, Tinampi kan sudah mengenalnya, bukaankah dia dahulu yg bersama kakang datang kemari, setelah berhasil menolongku dari tangan si orang seberang itu,.!" jelas istrinya , Rara tinampi.


" Oh iya ,.mengapa kakang jadi lupa,.!" seru Lintang Sandika sambil menepuk kepalanya.


Ia memang seperti nya sedang bercanda saja dengan sang isteri, setelah pagi buta begini baru kembali.


Dan mereka pun melanjutkan perbincangan nya, ketika istri dari Lintang Sandika ini masuk ke dalam akibat mendengar suara tangisan anaknya.


" Jadi memang benar bahwa saat ini , kotaraja Demak sudah tidak mempercayaiku,. Kakang,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Yeahh, memang sebahagian besar dari pembesar Keraton Demak memang telah menuduhkan hal yang demikian itu adi Senggani, diantaranya adalah Kanjeng Patih dan Tumenggung Gajah Ludira,..dua orang inilah yg mengatakan demikian tentang dirimu,..!" terang Lintang Sandika.


Ia juga menambahkan bahwa saat ini, Tumenggung Gajah Ludira sendirilah yang tengah mencari nya , selain beberapa perwira tinggi Demak yg memiliki kemampuan tinggi juga telah di sebar untuk menangkap adik angkatnya ini.


" Keterlaluan,..!" seru Raka Senggani agak keras.


" Untuk itulah , sebaiknya adi Senggani berada disini sampai kami mendapatkan berita yg jelas, sangat berbahaya sekali jika dirimu kembali ke desa Kenanga, Adi,..!" ucap Lintang Sandika.


" Ahh, aku bukan seorang pengecut Kakang Sandika,..biarpun mereka akan membunuhku dengan menggunakan para prajurit nya, segelar sepapan, Senggani akan hadapi,.!" ucap Raka Senggani sambil mengepalkan tangannya.


" Tenang, sabar lah adi Senggani, semua kini telah diupayakan oleh kesatuan prajurit sandi yuda guna membersihkan namamu itu, jadi Kakang berharap adi Senggani harus dapat menahan , sehingga apa yg telah di upayakan oleh Romo agar dapat berjalan dengan baik,.!" kata Lintang Sandika.


Barulah Senopati Pajang ini agak mereda emosinya, karena menurutnya, sesuatu yg menyakitkan itu adalah di tuduh melakukan sesuatu padahal itu tidak di lakukan.


Sambil berusaha meredam emosinya Raka Senggani mendesah,.


" Sungguh fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,.!"


" Oh iya , bagaimana dengan keadaan dari adi Sari Kemuning , adi Senggani,..,?" tanya Lintang Sandika mengalihkan pembicaraan .


Ia tidak ingin saudara angkatnya ini larut dengan masalah yang tengah di hadapinya.


" Baik Kakang Sandika, saat ini Senggani telah menjadi seorang ayah,..!" jawab Raka Senggani.


" Lelaki atau perempuan, adi,..?" tanya Lintang Sandika lagi.


" Seorang laki-laki,.. Kakang,.!" jawab Raka Senggani.


Dengan nada berseloroh, Lintang Sandika mengatakan untuk menjodohkan kedua anak mereka, karena diri nya memiliki seorang anak perempuan sedangkan saudara angkatnya ini memiliki seorang anak laki-laki.


" Bagaimana adi Senggani jika mereka berdua kita jodohkan,.?" tanya Lintang Sandika.


" Ahh, Kakang Sandika ini,ada ada saja, tentu usia putri mu lebih tua dari anakku,..!" jawab Raka Senggani.


" Beda dua tahun itu tidak terlalu masalah, adi Senggani,..!" balas Lintang Sandika.


Oleh Raka Senggani di balas dengan senyuman, seraya berujar,.


" Semuanya terserah kepada mereka kelak, Senggani tidak dapat menjanjikan, dan Kakang Sandika pun cukup aneh, di saat diriku tengah menghadapi masalah, malah membicarakan mengenai perjodohan diantara kedua anak kita yg masih bayi,..!" ungkap Raka Senggani.


" Hitung hitung, agar dirimu tidak terlalu larut dengan masalah ini,..adi Senggani.," jawab Lintang Sandika.


" Kakang, Senggani kepikiran mengenai mereka, istri dan anakku, apakah tidak mungkin utusan dari Demak akan melukai mereka atau membuat sebagai tanggungan agar diriku menyerah kepada mereka,.!" ujar Raka Senggani.


" Sepetinya tidak adi Senggani, Ki Jaka Belek dan beberapa prajurit sandi yg berada disana tentu telah memberitahukan kemari jika hal itu terjadi,..!" kata Lintang Sandika.


" Mudah mudahan Kakang, Sari Kemuning dan Rakasara Wirya dalam keadaan aman tanpa kekurangan suatu apapun juga,.!" ucap Raka Senggani.


" Amien,..!" sahut Lintang Sandika.


Dan tidak terlalu lama , keduanya pun telah mendengar suara azan pertanda subuh telah.

__ADS_1


Karena ke keasyikan mengobrol nya , pagi pun telah menjelang. Lintang Sandika mengajak Raka Senggani untuk melakukan shalat subuh bersama.


Dan mereka melakukan nya di rumah putra Tumenggung Bahu Reksa itu dengan Raka Senggani sebagai imamnya.


__ADS_2