
Armada pasukan laut dari Kerajaan Demak ini kemudian bergerak meninggalkan perairan Melaka dengan menelan kekalahan untuk yg kedua kalinya.
Bahkan kekalahan kali ini terasa sangat menyakitkan sekali dengan gugur nya Kanjeng Gusti Sultan Demak sendiri. Nyaris satu Kapal tidak ada yg selamat.
Iring-irirngan itu bergerak kembali menuju Demak dengan kepala tertunduk lesu.
Mereka langsung mendekati perairan Wahanten.
***************
Sementara itu di kota raja Demak sendiri tepat nya di dalam bangsal Kasatriaan sendiri.
Tampaklah beberapa orang tengah mengadakan pembicaraan.
" Ampunkan hamba Kanjeng Pangeran..menurut dari berita yg telah kami terima bahwa Kanjeng Gusti Sultan Demak telah mangkat,.."
Ucap seorang prajurit kepada Pangeran Trenggana.
" Darimana kau mendapatkan kabar berita tersebut, atau dirimu hanya Ngayawara saja, prajurit ,..?" tanya Pangeran Trenggana.
" Sungguh Kanjeng Pangeran, hamba mendapatkan berita ini dari salah seorang pelaut yg baru pulang dari Lor,.." jawab prajurit itu.
Tampak Kanjeng Pangeran Trenggana terdiam mendengar nya. Jika memang hal tersebut adalah benar adanya maka merupakan suatu keseempatan atas dirinya dapat duduk diatas singgasana tahta Demak.
Kemudian Kanjeng Pangeran Trenggana meninggalkan bangsal kasatriaan dan menuju ke kediaman nya.
Setiba di rumah , Pangeran Trenggana kemudian menceritakan apa yg telah di dengar nya tadi dari salah seorang prajurit ksatariaan mengenai gugur nya Sultan Demak kedua itu dengan istri dan anaknya.
" Itu sama artinya bahwa Kangmas akan menjadi Raja di Demak.!" seru istrinya.
" Belum tentu Diajeng , " sahut Pangeran Trenggana.
" Mengapa tidak Kangmas, apa yg akan menghalanginya ,?" tanya istrinya lagi.
" Karena masih ada Kangmas Surawiyata, Adipati Lasem," jawab Pangeran Trenggana.
Ia juga mengatakan bahwa salah seorang putra Sultan Demak kedua itu masih ada yg selamat , jadi sulit rasanya untuk dapat duduk di atas singgasana Demak ini.
Memdengar jawaban dari sang suami istri dari Pangeran Trenggana ini pun terdiam. Ia pun sadar bahwa setelah mangkatanya Sultan Demak kedua , memang yg paling berhak atas Tahta Demak selain dari Putra putra sultan Demak adalah Pangeran Surawiyata atau pangeran Kikin.
Dan pembicaraan kedua nya pun di dengar oleh putra dan putri nya seperti Pangeran mukmin atau Raden Prawata., ratu kalinyamat, Pangeran Timur dan ratu mas cempaka.
Terlebih Pangeran Mukmin, selain ia mulai menginjak usia dewasa , pemuda ini pun sangat senang sekali mempelajari beberapa ilmu kadigjayaan.
Hahh , kalau hanya untuk melenyapkan Paman Kikin adalah masalah yg sangat sepele, berkatalah di dalam hatinya , Pangeran mukmin itu.
" Apakah kangmas tidak dapat melenyapkan kakang Surawiyata,?" tanya istrinya.
" Hehh..mengapa kau mengatakan hal seperti itu , Diajeng,..?" tanya Pangeran Trenggana.
Karena Bagaimana pun juga , ia tidak ingin di cap sebagai seorang pemimpin yg mengahalalkan segala cara guna mendapatkan tahta Demak itu.
" Diajeng , Kangmas Lasem itu amat tinggi ilmu nya, ia tidak akan mungkin dikalahkan jika tidak menggunakan sebuah senjata pusaka setingkat keris Kyai setan kober, milik Paman sunan kudus.." jelas Pangeran Trenggana.
Mendengar apa yg telah di ucapkan oleh Ramandanya itu, kepala Pangeran Prawata atau pangeran Mukmin menjadi mendongak.
Aku harus mendaptakan keris itu lalu pergi membunuh Paman Surawiyata di Lasem, berkata dalam hati Pangeran Prawata.
Sejak pembicaraan malam itu maka, Pangeran Prawata atau Raden Mukmin ini telah bertekad akan memuluskan niat orang tuanya agar dapat duduk sebagai seorang Raja di kerajaan Demak ini.
Dan demi melancarkan usaha nya tersebut, maka Raden Prawata bersiap akan ke Kudus dan selanjutnya ke Lasem.
Di pagi yg cerah, keluar lah seekor kuda yg tegar dan besar dari kediaman Pangeran Trenggana .
" Heaaahh, Heaaahh,."
Tampak penunggangnya adalah seorang anak muda yg tiada lain adalah Raden Prawata.
Pemuda yg masih berusia belasan tahun dan sering meminta kepada senopati sandi yuda Demak untuk berlatih bersama ini tampak sumringah raut wajah nya, jelas tergambar dari wajah nya yg sering mengumbar senyum nya.
Ia memacu kudanya dengan kencangnya menuju ke Kudus.
Di dalam hatinya telah tersimpan sebuah tekad yg bulat untuk melenyapkan Paman nya sendiri, demi memuluskan niat orang tuanya untuk dapat duduk diatas singgasana Demak.
Karena keseempatan itu terbuka lebar setelah mangkatnya Kanjeng Sultan Demak kedua di peperangan kota Melaka.
__ADS_1
Jadi , hal yg merintangi nya hanya Pangeran Surawiyata yg menjadi Adipati di Lasem.
Lewat tengah hari sampai lah Pangeran dari Demak ini di kudus .
Di padepokan dari Kanjeng Sunan Kudus ini, Raden Prawata melambatkan kudanya dan kemudian menghwntikan nya.
" Huffhhh,.."
Raden Prawata turun dari punggung kudanya.
Apa yg akan kukatakan kepada Kanjeng Sunan Kudus, agar ia mau meminjamkan keris pusaka Kyai setan kober itu kepadaku, bertanya dalam hati Raden Prawata.
Sambil ia terus memikirkan bagaiamana cara nya untuk mendapatkan keris pusaka itu.
Tiba tiba,..
" Ehhh, den ,..mau kemana,..?" tanya salah seorang cantrik padepokan Kudus itu.
" Mau menemui Eyang Sunan Kudus,.." jawab Raden Prawata.
" Apakah Raden tidak tahu , bahwa Kanjeng Sunan tidak sedang berada di padepokan ,?" tanya cantrik itu lagi.
Dengan menggelengkan kepalanya ,
" Tidak, aku tidak tahu , kemana kirinya Eyang Sunan Kudus perginya,..?" tanya Raden Prawata.
Kemudian cantrik padepokan Kudus itu menceritakan bahwa pemimpin padepokan itu telah dua hari berada di Asem Arang.
Otak raden Prawata pun bekerja, ia kemudian menemukan cara untuk mengambil keris pusaka Kyai setan kober itu.
" Ahh, kalau begitu biarlah aku menemui Eyang Nyai saja,.?" ucap Raden Prawata.
Kemudian cantrik padepokan Kudus ini berlalu meninggalkan beliau seorang diri di tempat itu.
Begitu di tinggalkan , maka Raden Prawata pun segera bergerak menuju tempat kediaman Sunan Kudus.
Setibanya di depan ia pun mengucapkan salam,..
" Assalamu alaikum,..!" ucapnya.
" Wa 'alaikum salam,,.." jawab dari dalam.
Perempuan tua tersebut sudah sangat mengenali siapa yg datang di tempat nya itu yakni salah seorang cucu dari Sultan Demak pertama yg bernama Raden Prawata.
" Ada hal apa kiranya , anakmas Pangeran Prawata datang kemari,..?" tanya istri Sunan Kudus.
Dengan agak gemetar dan jantung nya yg berdebar sangat kencang , Raden Prawata menjawab,..
" Nyai Sunan , Aku di perintah oleh Kanjeng Eyang Sunan agar membawa keris pusaka Kyai setan kober yg ketinggalan itu kepada nya," sahut Raden Prawata.
" Hahhh,.."
Agak terperanjat istri Sunan Kudus ini mendengar jawaban dari pemuda yg ada di hadapan nya ini.Tidak biasanya sang suami melekukan hal tersebut meninggalkan sesuatu baru kemudian ia meminta untuk di antsrkan, karena sudah menjadi kebiasaan dari sang suami , setiap kali ia akan berangkat , telah di pastikan ia menyiapkan apa yg akan di bawanya, terlebih sebenarnya Kanjeng Sunan Kudus adalah Senopati Agung Demak yg memiliki jiwa seorang prajurit yg kental sehingga tidak mungkin ia meninggalkan senjata pusaka ketika ia akan bepergian.
Mungkin kangmas Sunan merasa sebelum keberangkatan tadi ia tidak memerlukan senjata tersebut, namun saat ini ia memang memerlukan nya, pikir istri dari Kanjeng Sunan Kudus.
Ia pun merasa , akhir akhir ini suaminya jarang sekali di tunjuk sebagai seorang pemimpin perang alias Senopati Demak dalam medan perang sejak Sultan Demak kedua yg berkuasa di tahta Kerajaan Demak.
Sang Sultan lebih menyukai para Senopati Perang yg masih berusia muda. Sehingga tenaga suami nya seakan tidak di perlukan oleh Kerajaan Demak lagi.Padahal Kanjeng Sunan Kudus lah yg berhasil mengalahkan Kerajaan Majapahit yg pada waktu itu di pimpin oleh seorang Senopati tangguh yg bernama Adipati Terung.
Adipati Terung lah yg telah menebaskan ayah mertuanya pada peperangan pertama saat Demak dan Majapahit bertemu di medan laga.
Lamunan dari istri Sunan Kudus buyar setelah Raden Prawata berkata lagi.
" Eyang Sunan mengatakan secepatnya ia mendaptakan keris itu, Nyai Sunan,.."
ucap Raden Prawata.
" Ehh, tunggulah sebentar,.. anakmas Pangeran,.." sahut Nyai Sunan Kudus.
Ia pun berjalan masuk ke dalam menuju biliknya. Karena istri dari Sunan Kudus ini tidak mau mempertanyakan terlalu banyak hal lagi terhadap Raden Prawata.
Dan tidak terlalu lama kemudian ia pun telah keluar lagi dengan membawa sebilah keris yg berada dalam warangka nya.
Ia pun langsung menyerhkan nya kepada Raden Prawata seraya berkata,..
__ADS_1
" Jangan anakmas keluarkan keris pusaka Kyai setan kober ini dari warangka nya,.." ucap nya .
" Baik , Nyai Sunan,..." sahut Raden Prawata singkat.
Ia menerima keris pusaka Kyai setan kober itu dan langsung menyelipkan ke pinggangnya.
" Aku pamit, Nyai Sunan,. assalamualaikum ." ucap Raden Prawata
" Wa 'alaikum salaam,.." jawab Istri Sunan Kudus.
Raden Prawata pun keluar dari dalam kediaman Kanjeng Sunan Kudus. Ia berjalan menuju ke arah kudanya di tambatkan.
" Hufhhh,.."
Pangeran Mukmin atau Raden Prawata itu langsung melompat ke atas punggung kuda nya.
Ia pun menyentakkan tali kekang kudanya dan keluar dari padepokan Kudus menuju ke Lasem.
" Heahh, heahh,.."
Dengan sangat cepat ia melarikan kuda milik nya itu menyusuri jalanan menuju Lasem.
Dalam perjalanannya menuju Lasem, kembali Raden Prawata atau Raden Mukmin ini memikirkan siasat agar dapat menghabisi Pangeran Surawiyata.
Seharian ia melarikan kuda nya yg tinggi besar itu menuju Lasem, saat Mentari telah condong di ufuk barat, Raden Prawata beristrahat di sebuah hutan. Memang tempat tersebut sudah dekat dengan kadipaten Lasem yg membuat rasa di hati Raden Prawata semakin sulit untuk menemukan cara yg terbaik menjalankan rencana nya.
Raden Prawata kemudian beristrahat dan membuat api unggun di tepi hutan tersebut.
Sambil memakan daging panggangan dari hasil buruan nya kembali Raden Prawata berpikir untuk melancarkan niatan nya itu.
Jika aku langsung masuk ke dalam kadipaten Lasem dan mengajak perang tanding paman Surawiyata , yg ada aku bukan nya berhasil membunuhnya malah diriku lah yg harus berhadapan dengan para prajurit Lasem,..berkata dalam hati Raden Prawata.
Jika aku harus menunggu nya berjalan sendirian, dimanakah tempat yg cocok untuk melakukan nya,.tentu paman Surawiyata akan tetap di kawal oleh para prajurit nya kemana pun ia perginya, berkata lagi dalam hati Raden Prawata.
Malam itu Raden Prawata tidak dapat tidur nyenyak selain belum menemukan cara yg pas untuk memuluskan rencana nya ia pun harus berjaga -jaga dari segala kemungkinan yg dapat terjadi.
Begitu pagi tiba, putra Pangeran Trenggana ini melanjutkan perjalanannya menuju Lasem, ketika matahari telah menggatalkan kulit tibalah ia di tempat yg di tuju nya itu.
Dan ia tidak berani masuk kota Lasem dalam keadaan demikian. Di sebuah Pedukuhan kecil dekat kota tersebut Raden Prawata membeli sebuah topi caping lebar dan juga meninggalkan kudanya.
" Kisanak , aku menitipkan kuda ku disini, dan ini sebagai upah nya ," ucap Raden Prawata.
Sambil ia menyerahkan beberapa kepeng uang perak kepada penjual topi caping itu.
" Terima kasih den, jangan khawatir nanti akan kucarikan rumput yg terbaik untuk nya,.." sahut orang tersebut.
" Sama -sama,.." balas Raden Prawata.
Ia melangkahkan kakinya meninggalkan pedukuhan itu dan berjalan kaki menuju kota Lasem.
Sedang di dalam kota Lasem sendiri, ternyata cukup ramai, karena memang Lasem telah ada sejak Kerajaan Majapahit berdiiri , banyak pemimpin dari Majapahit yg berasal atau keturunan dari kadipaten ini, sehingga nama nya cukup terkenal baik di masa Majapahit juga ketika Demak berkuasa.
Pangeran Surawiyata atau Raden Kikin adalah seorang yg bijak dalam memimpin Kadipaten ini, sehingga Lasem pun semakin terkenal, bahkan karena kota ini dekat dengan laut, berita mangkatnya Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua pun telah menyebar disana.
Sehingga para penduduk di kota tersebut berkeyakinan bahwa pemimpin mereka lah kelak yg akan duduk menggantikan Kanjeng Gusti Sultan Demak berkuasa di Demak.
Hehh, ternyata orang orang disini telah mengetahui mengenai tewasnya Pamanda Sultan,..berkata dalam hati Raden Prawata ketika ia singgah di sebuah tempat makan.
Ia banyak mendengar cerita orang orang yg mengatakan bahwa Adipati mereka lah yg paling pantas duduk di atas Tahta Demak ini, demikian lah sebahagian besar orang orang yg memperbincangkan nya.
Ini tidak boleh terjadi, Ramanda lah yg paling berhak atas Tahta Demak ini, berkata dalam hati , Raden Prawata.
Ia melanjutakn perjalanan nya menuju ke arah Istana Lasem, ia akan melihat dari dekat , arah mana ia dapat melakukan aksinya.
Sehari ini, aku harus mengamati pergerakan dari Paman Surawiyata, berkata dalam hati Raden Prawata.
Maka ia pun menempatkan posisi yg tidak terlalu jauh dari gerbang kadipaten Lasem itu.
Setelah seharian penuh Raden Prawata melakukan pengamatan nya akhirnya ia dapat kesimpulan yg nampaknya cukup memuaskan.
Besok , aku akan segera melakukan nya berkata dalam hati putra Pangeran Trenggana ini.
Ia sudah dapat menarik kesimpulan yg nampaknya tidak akan meleset lagi.
Dan malam itu ia kembali ke pedukuhan yg tidak terlalu jauh dari luar gerbang kota kadipaten Lasem.
__ADS_1
Malam itu Raden Prawata dapat tidur dengan pulas setelah ia dapat merencanakan sesuatu yg kelihatannya akan berjalan dengan mulus, beberapa kali di usap nya warangka Keris pusaka Kyai setan kober itu baru kemudian ia pun tertidur.
Pagi pagi sekali , Raden Prawata telah terbangun dan langsung bersiap siap untuk masuk kembali ke dalam kota kadipaten Lasem, kali ini dengan tekad yg sudah bulat di tambah lagi rasa panas dihatinya mendengar bahwa saudara orang tua nya ini lebih berhak atas Tahta Demak ketimbang orang tuanya Pangeran Trenggana.