
" Baiklah jika memang demikian keputusan dari dari Angger Senopati, kami akan mendukung nya, !" sahut Gede Mantyasih.
Beliau menyebutkan kepada Raka Senggani untuk tetap berhati-hati, sebab lawan nya kali ini adalah seorang yg tidak memandang paugeran , semua dapat dilakukan nya demi tercapainya maksud dan tujuannya.
Raka Senggani pun mengiyakan ucapan dari pemimpin tertinggi dari tanah Perdikan Mantyasih itu.
Kali ini Senopati Brastha Abipraya memang seperti dihadapkan dengan lawan yg memiliki banyak kelebihan termasuk dengan murid muridnya.
Dan pada malam itu, tanah Perdikan Mantyasih menjadi lebih mencekam dibanding dengan kemeriahan yg akan mereka rayakan pada esok harinya, seharusnya pada malam itu seluruh penduduk tanah Perdikan ini akan bergembira menyambut Rasala putra Ki Gede Mantyasih yg akan melepaskan masa lajang nya dengan menyunting seorang gadis dari Banyu Biru.
Di dalam sebuah bilik, putra Ki Gede Mantyasih ini mengatakan kepada salah seorang pengawal tanah Perdikan untuk meminta kepada sang ayah guna mengundurkan saja acara nya ini.
" Baik kakang Rasala,..!" sahut pengawal tanah Perdikan Mantyasih.
Ia pun langsung menemui Ki Gede Mantyasih yg tengah membicarakan hal mengenai keadaan yg akan terjadi besok malam.
" Ada apa, ?" tanya Ki Gede saat pengawal itu datang menghampiri nya.
" Ada pesan dari kakang Rasala,..Ki Gede,..!" ucap Pengawal itu.
" Pesan apa,..,?" tanya Ki Gede Mantyasih.
Langsung saja pengawal itu menceritakan apa yg telah di pesankan oleh Rasala tadi.
Ki Gede Mantyasih dan semua yang ada disitu segera menanggapinya.
Umum nya mereka tidak setuju dengan permintaan dari putra Ki Gede itu, mereka lebih berpendapat agar tetap saja melanjutkan hajatan ini.
" Pendapat ku pun memang demikian, sebaiknya acara pada esok malam itu harus tetap berjalan, yg penting kita semua bisa menjaga dan saling mendukung apabila ada sesuatu yg terjadi disini,..!" ungkap Ki Gede .
" Yeahh, jika kita harus menundanya , sampai kapan, kita disini belum tahu kekuatan mereka sebenarnya, apakah memang terdiri dari beberapa orang saja atau memang berjumlah sangat banyak,.!" ucap Ki Jagabaya.
" Benar Ki Gede, lagi pun kita masih dapat berharap banyak kepada Angger Senopati yg mumpung masih berada disini, bukan begitu Ngger,..,!" ucap Mbah Katir.
" Ahh, si Mbah , ada ada saja, kita semua yg ada disini memang bertanggungjawab atas keamanan dari tanah perdikan ini, dan jika pun ada sesuatu yg dapat diriku bantu tentu Senggani tidak akan segan melakukan nya,..!" sahut Raka Senggani.
Ia merasa terlalu di puji oleh orang tua yg bernama si Mbah Katir ini.
" Sesungguhnya sangat benarlah apa yg telah di katakan oleh Ki Katir itu, atas nama Mantyasih Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Angger Senopati, mudah mudahan kelak kami dapat membalasnya,..!" kata Ki Gede Mantyasih.
Jadilah Raka Senggani menjadi tersipu malu dengan pujian dari pemimpin tanah Perdikan Mantyasih itu. Wajahnya bersemu merah sekali sebab semua orang memandang ke arahnya.
Hingga menjelang pagi, barulah pertemuan itu diakhiri.
Semuanya segera beristirahat.
Dan pada malam tersebut tidak terjadi apa apa di tanah Perdikan Mantyasih ini, hanya sesekali terdengar lolongan serigala di kejauhan , dan di sahuti beberapa kali suara burung malam.
Malam yg tinggal sedikit itu di manfaatkan oleh Raka Senggani dan Lintang Sandika beristirahat sebaik -baiknya, sebab pada keesokan harinya mereka akan menghadapi sesuatu yg akan memerlukan tenaga dan pikiran .
Pada keesokan harinya, seluruh warga Mantyasih pun menghadiri pesta pernikahan dari putra Ki Gede Mantyasih ini, tamu undangan dari beberapa tempat yang berdekatan dengan tanah Perdikan ini pun berdatangan , termasuk juga dengan Ki Ageng Banyu Biru, dimana Banyu Biru merupakan daerah asal dari pengantin wanita nya.
Disaat keduanya bertemu, baik Ki Gede Mantyasih maupun Ki Ageng Banyu Biru saling menceritakan keadaan daerah mereka masing-masing.
Secara pribadi Ki Gede Mantyasih mengatakan kepada penguasa tanah Perdikan Banyu Biru ini untuk dapat tinggal di Mantyasih, ia meminta kepada Ki Ageng Banyu Biru untuk dapat membantunya mengatasi orang -orangnya Ki Jarie Mendep itu.
Sungguh terkejut Ki Ageng Banyu Biru ini mendengarnya, sebab setahunya tidak ada singgungan antara Ki Gede Mantyasih temannya ini dengan orang yang berjuluk si Selaksa racun itu.
" Sebenarnya ada dendam tersendiri dari Ki Jarie Mendep itu terhadap kami berdua kakang Banyu Biru,..!" ucap Ki Gede Mantyasih .
Seolah menjawab pertanyaan yg ada di kepala Ki Ageng Banyu Biru.
" Masalah apa Adi ,..?" tanya Ki Ageng Banyu kemudian.
__ADS_1
Ki Gede Mantyasih pun menceritakan tentang perseteruan nya dengan Ki Jarie Mendep itu berasal dengan tewasnya Resi Brangah dari Blambangan yg merupakan saudara seperguruan dari Ki Jarie Mendep tersebut.
" Ooo,.!" seru Ki Ageng Banyu Biru.
Barulah ia mengerti duduk permasalahannya.
Kedua orang ini memang telah bersahabat sejak Kerajaan Demak didirikan, mereka berdua sempat ikut berperang melawan kerajaan Majapahit di saat menjelang keruntuhan nya.
Sehingga keduanya sudah seperti saudara sendiri.
Dalam pada itu, perhelatan hajatan yg di gelar oleh Ki Gede Mantyasih ini berjalan dengan lancar hingga pada acara puncak dimana mempertemukan kedua mempelai pengantin.
Acara tersebut berlangsung saat matahari telah condong ke arah barat.
Dan sebahagian besar para pengawal tanah Perdikan Mantyasih pun telah bersiap dengan segala kemungkinan yg akan terjadi seperti yang mereka dengar dan sudah menjadi desas desus bahwa pada malam ini , orang orangnya Ki Jarie Mendep akan datang menyerang tanah Perdikan ini.
Untuk itulah hati Ki Gede Mantyasih menjadi agak tenang setelah kehadiran dari Ki Ageng Banyu Biru dan para pengawalnya.
Sementara Raka Senggani, Lintang Sandika dan Ki Lonowastu tidak terlalu banyak ikut memeriahkan acara pernikahan dari Rasala ini, mereka bertiga memang tengah bersiap untuk memenuhi tantangan dari tokoh tua si Selaksa racun itu.
" Kakang Sandika dan Ki Lono, Senggani berharap kepada kalian berdua untuk menjadi penyampai berita ke Mantyasih ini jika memang benar bahwa orang yang bernama Ki Jarie Mendep itu berbuat curang ataupun mengirimkan orang -orangnya datang kemari, secepatnya kalian harus dapat memberikan penjelasan kepada Ki Gede,..!" terang Raka Senggani.
Keduanya pun mengangguk -anggukkan kepalanya.
" Apakah kami berdua akan langsung turut serta denganmu, adi Senggani,..?" tanya Lintang Sandika .
" Tidak perlu Kakang, sebaiknya kalian berdua datang jika diriku memang sudah bertarung dengan orang yang bernama Ki Jarie Mendep itu, agar mereka tidak mengira bahwa diriku membawa teman,..!" sahut Raka Senggani.
" Apa itu tidak terlalu berbahaya,..Ngger,..?" tanya Ki Lonowastu.
" Memang cukup berbahaya, akan tetapi setidaknya ia tidak menganggap diriku seorang pengecut,..dan yg kedua kita memang harus mengirimkan berita ini secara beranting agar gerak mereka dapat kita cegah secara cepat,..!" jelas Raka Senggani.
Memang harga diri seorang Senopati Brastha Abipraya di junjung tinggi, ia tidak ingin di cap sebagai seorang pengecut.
" Kalau memang demikian, kita pun masih memerlukan bantuan dari para pengawal tanah Perdikan ini, agar mereka dapat menyampaikan pesan dengan cepat pada Ki Gede,.!" kata Lintang Sandika.
Di sela sela pembicaraan ketiganya , tiba tiba hadir lah di tempat tersebut Raka Yantra.
Ia yg sudah dapat bangkit dari pembaringannya segera mendatangi ketiganya seraya berkata sambil memeluk tubuh Raka Senggani.
" Maafkanlah kakakngmu , Adi Senggani,..maafkanlah,..!" ucap nya sambil menangis.
" Hehh,..!"
Raka Senggani sangat terkejut di buat kakak sepupu nya itu, biasanya setiap kali bertemu dengan nya pasti akan terjadi perkelahian berbeda dengan hari ini.
Ia datang dengan meminta maaf sambil menangis.
" Sudahlah Kakang Yantra, jangan terlalu kakang permasalahkan yg lalu lalu, kita berdua ini memang bersaudara, apa pun itu ,. kakang Yantra adalah kakak ku, dan sungguh Senggani bersyukur bahwa dirimu dapat selamat dari racun Macan Moro itu,..!" ungkap Raka Senggani.
Ia berusaha menenangkan kakak sepupu nya itu.
Raka Yantra yg mendengar nya makin terisak-isak menangis, seolah ia menyesali perbuatannya selama ini yg telah memusuhi saudara sepupu nya itu.
" Adi Senggani , Kakang baru tahu dari Ki Maruta bahwa dirimulah yg telah menyelamatkan ku dari racun Macan Moro itu dengan mempertaruhkan nyawa mengambil ikan gabus yang ada di Rawa Pening itu, jika tidak mungkin diriku sudah menghadap kepada sang pencipta,..!" ucap Raka Yantra lagi.
Raka Senggani tidak menjawabnya, ia semakin iba dengan kakak sepupu nya itu dan tidak mampu berkata apa apa lagi.
" Sudahlah , Ngger,.. dirimu memang beruntung memiliki saudara seperti Angger Senopati ini, ia berbuat tanpa harus pamrih, bahkan saat ini pun, dimana Mantyasih sedang menghadapi sesuatu yg sangat besar, Angger Senopati pun mau membantunya, jadi dirimu tidak perlu berkecil hati,..!" kata Ki Lonowastu.
Raka Yantra pun melepaskan pelukan nya dan duduk bersama ketiga orang itu, meski sebenarnya tubuhnya masih lemah, tetapi karena keinginan nya untuk bertemu dan meminta maaf kepada adik sepupunya itu sangat kuat , ia paksakan untuk bangkit dan mendatanginya.
Meski sudah disarankan oleh Raka Senggani agar ia segera kembali ke dalam bilik nya guna beristirahat, tetapi Raka Yantra memaksa untuk duduk bersama mereka dan mendengarkan pembicaraan dari tiga orang tersebut.
__ADS_1
Dan ketiganya pun melanjutkan pembicaraan, Raka Senggani mengatakan kepada keduanya akan masuk ke tempat yang dijanjikan itu saat sebelum malam, dan ia menyarankan kepada Kakak Angkat nya, Lintang Sandika untuk masuk saat sesudah malam benar benar pekat, baru setelah nya Ki Lonowastu.
" Jika memang demikian, seluruh pergerakan mereka dapat kita awasi, siapa saja yg akan masuk ke Mantyasih ini dan siapa pula yang tetap tinggal disana,..!" jelas Raka Senggani.
" Kalau begitu berarti Adi Senggani sudah akan berangkat sebentar lagi,..?" tanya Lintang Sandika.
" Benar kakang, sebentar lagi Senggani akan berangkat , segeralah persiapkan para pengawal yang dapat diajak turut serta, karena sesuatu nya harus segera selesai,..!" ujar Raka Senggani.
Raka Yantra yg mendengar nya belum terlalu mengetahui duduk permasalahannya sehingga ia diam saja, sampai mereka kedatangan orang tua yg bernama si Mbah Katir.
" Wah, ternyata sisik emas itu sungguh mujarab, angger Raka Yantra sudah dapat bangkit dan duduk disini,.!" serunya heran.
Memang ia memiliki kemampuan dalam hal pengobatan tetapi jika menilik kondisi sebelumnya, Mbah Katir merasa bahwa pemuda itu setidaknya akan berbaring di tempat tidurnya selama sepekan guna memulihkan kondisi tubuh nya kembali.
" Memang benar ucapan Mbah Katir itu, entah mengapa diriku merasa cukup kuat untuk bangkit meski tenaga belum pulih benar.!" sahut Raka Yantra.
Mbah Katir terkagum-kagum karenaya, ternyata orang yang dirawat nya selama ini pun memliki daya tahan tubuh yg sangat mumpuni begitu racun itu keluar semuanya maka ia pun langsung mampu bangkit, sungguh hebat katanya dalam hati.
Beberapa saat setelah kedatangan dari Si Mbah Katir, Raka Senggani pun bangkit berdiri dan bersiap untuk segera berangkat.
" Ahh, apakah Angger Senopati kurang berkenan atas kehadiran ku disini,..?" tanya si Mbah Katir dengan nada guyon.
Sambil tersenyum,.Raka Senggani membalasinya,.
" Tampaknya ada yg rindu kepada ku , Mbah, jadi diriku harus segera menemui nya segera,..!" sahut Raka Senggani membalasi kelakar orang tua itu.
" Siapa ,..?" tanya si Mbah Katir penasaran.
" Ki Jarie Mendep,.Mbah,..!" jawab Raka Senggani.
Sekejap saja ruangan itu pecah dengan tawa, terkecuali Raka Yantra yg tidak mengerti permasalahan nya.
Raka Senggani pun segera berangkat menuju tempat dimana Ki Jarie Mendep menjanjikan Perang Tanding kali ini.
Senopati Pajang itu berjalan dengan cepatnya seolah tidak menyentuh tanah lagi, ia memang harus segera berada fi di tempat tersebut sebelum musuh terlebih dahulu berada di sana.
Saat malam tiba ia pun telah tiba dimana mereka akan bertarung, sebelumnya sang Senopati berusaha untuk mengetahui apakah memang sudah ada orang di tempat tersebut.
Ternyata mereka belum datang, atau apakah ini sebuah jebakan, saat diriku berada disini, mereka masuk ke tanah Perdikan Mantyasih dan mengacau disana berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia mencari sebuah tempat yg sangat baik guna menunggu kehadiran orang yg bernama Ki Jarie Mendep tersebut.
Kali ini , sang Senopati pun telah mengetrapkan aji Panglimunan nya guna ia dapat mengetahui maksud dan tujuan sebenarnya dari si Selaksa racun itu.
Cukup lama ia berada disana, namun belum ada tanda tanda kehadiran orang lain disitu.
Hingga wayah sepi bocah barulah Raka Senggani mendengar beberapa langkah kaki orang yang datang menuju tempat tersebut.
Tidak mungkin kakang Sandika dan Ki Lonowastu , langkah kaki ini lebih dari tiga orang , berkata dalam hati Raka Senggani.
Dan benar saja , tempat tersebut kemudian kedatangan empat orang yaitu Tumenggung Gajah Ludira , Rangga Ranujaya , Rangga Sungkana dan Dharsasana,
Apakah orang itu yg bernama Ki Jarie Mendep, ahh bukan , ia adalah orang yang pernah ku temui diujung hutan ini, dialah pelaku penculikan bayi yg ada di Mantyasih itu, membathin Raka Senggani.
Setelah ia mampu dengan jelas melihat orang keempat dari yg datang tersebut.
Kali ini Senopati Pajang merasa bahwa ucapan dari Ki Gede Mantyasih ini ada benarnya, bahwa Ki Jarie Mendep itu ingin menghabisi nya dengan mengeroyoknya.
Akan tetapi ia tidak ambil pusing, karena ia sudah mengetahui tataran orang orang yang ada disitu.
Dan kini ia masih ingin tahu dengan sosok orang yang bernama Ki Jarie Mendep tersebut.
Saat Raka Senggani masih menunggu, ke empat orang ini pun berbincang dengan sekenanya saja sebab merasa tidak ada orang lain di tempat tersebut.
__ADS_1
" Kakang Tumenggung, tampaknya Senopati Pajang itu tidak berani datang kemari, ia takut dengan Guru kita , Ki Jarie Mendep itu,.!" ucap Dharsasana.
" Mungkin benar yg kau katakan itu, adi Dharsana,.ia takut dengan nama besar Guru kita yg berjuluk si Selaksa racun , sehingga ia merasa takut untuk datang kemari,..!" balas Tumenggung Gajah Ludira.