
Setelah kepergian dua orang perempuan itu, Raka Senggani dan Ki Lamiran berbincang lagi.
Ki Lamiran menanyakan tentang hal yg telah menimpa anak angkatnya itu, kabar dari Mantyasih membuat heboh desa Kenanga , tentang kemampuan dari Raka Senggani yg harus bertarung dengan penguasa alam lelembut. Banyak orang yg kurang mempercayai hal itu.
Senopati Pajang, Senopati Brastha Abipraya mengatakan kepada Ki Lamiran, bahwa ia pun tidak mempercayai nya, karena ia merasa hanya sebentar saja melakukan pertarungan itu, walau banyak yg menyebutkan ia telah bertarung selama satu purnama penuh.
Pande besi itu mendengarkan penuturan itu dengan memperhatikan Raka Senggani, ia merasa bahwa karunia yg maha kuasa saat ini memang tercurah kepada nya.
" Ngger, mungkin dirimu tidak menyadari bahwa saat ini telah memiliki sebuah ilmu yg sangat jarang dimiliki oleh orang lain," kata Ki Lamiran.
Ucapan orang tua itu setelah selesai mendengarkan kisah yg di tuturkan oleh Raka Senggani.
Dan Pemuda itu memandangi wajah orangtua yg ada di dekatnya, ia merasa ada ucapan yg lain dari pande besi desa Kenanga tersebut.
" Maksud aki bagaimana, apakah Senggani berkata bohong dengan cerita tadi,?" tanya Raka Senggani.
" Hehh,. bukan , bukan , angger jangan salah mengerti, maksud Ki Lamiran bahwa Angger Senggani telah berhasil memiliki sebuah ilmu langka ketika berhasil bertarung di alam jin itu," jelas Ki Lamiran.
Raka Senggani masih belum mengerti akan ucapan orangtua itu, apa yg di maksud nya dengan sebuah ilmu langka, setelah bertarung dengan penguasa alam jin itu, bathin nya.
" Sebenarnya begini Ngger, karena dirimu telah berhasil memasuki alam jin itu dan bertarung disana secara tidak angger sadari , Angger Senggani telah dapat memiliki aji panglimunan alias dapat menghilang dan dapat masuk ke dalam alam jin, sehingga jika Angger lakukan semacam laku, tentu ilmu itu akan semakin mapan di dirimu itu Ngger," jelas Ki Lamiran.
Raka Senggani terbengong mendengar ucapan dari Ki Lamiran itu, ia berpikir tadi orang tua itu tidak mempercayai ucapan nya, hanya sekedar ngayawara saja.
Tetapi sebaliknya pande besi desa Kenanga tersebut mengatakan sesuatu yg di luar nalarnya.
" Bukankah saat ini angger Senggani dapat melihat kegiatan para lelembut, ?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Benar Ki, beberapa kali Senggani melihat makhluk halus itu, dan umumnya mereka akan menjauh jika akan berpapasan dengan ku," jawab Raka Senggani.
" Itulah yg aki maksud , jika Angger Senggani mau melakukan laku tentu dengan mudahnya angger Senggani dapat masuk ke alam mereka dan tidak akan terlihat secara kasat mata yg artinya dapat menghilang, bukankah aji panglimunan saat ini cukup langka," urai Ki Lamiran lagi.
" Sebenarnya aki Lamiran ini siapa,... sesungguhnya, mengapa dapat tahu tentang berbagai ilmu, meskipun secara pribadi Senggani belum pernah melihat aki bertarung tetapi rasa-rasanya , aki memiliki banyak ilmu dan ajian,?" tanya Raka Senggani.
Orangtua itu tertawa mendengar ucapan anak angkat nya itu, ia sampai terpingkal -,,pingkal tertawa nya. Rasanya ia belum pernah merasakan kelucuan seperti itu.
Senopati Pajang itu terbengong melihat Ki Lamiran yg tertawa terpingkal -pingkal, ia merasa tidak ada yg salah dari ucapan nya itu, apa yg lucu pikirnya.
Setelah reda tertawa dari Ki Lamiran barulah orangtua itu berkata,
" Maaf bukan nya mengejekmu Angger Senggani, tidak ada yg berani menertawakanmu saat ini, mungkin cuma aki saja, karena tidak mungkin angger akan melepaskan aji Wajra Geni itu kepada aki, si orangtua ini," ucap nya.
Setelah mengatur nafasnya, ia kemudian mengatakan bahwa seorang yg banyak tahu akan ilmu dan ajian itu belum tentu memiliki ilmu atau ajian yg banyak alias sakti seperti yg telah di ucapkan oleh Senggani tadi, ia juga mengatakan, jika dirinya memiliki banyak ilmu tentu sewaktu terjadi serangan dari gerombolan rampok yg di pimpin Singo Lorok itu ia akan tampil sebagai pemyelamat, mengapa harus minta bantuan Pajang terlebih Kotaraja Demak, itulah alasan yg di sebutkan oleh Ki Lamiran.
Masuk akal pikir Senopati Pajang, jika memang saat itu Ki Lamiran yg berilmu tinggi tentu ia tidak meyarankan minta bantuan ke Pajang dan Demak, katanya dalam hati.
Tetapi rasa penasaran sang Senopati terhadap orang tua itu tetap masih ada walaupun alasan nya memang sesuai dengan kenyataan nya, tetapi,... ahh entahlah,... pikir Raka Senggani.
Setelah matahari condong ke barat keduanya kembali ke rumah, ki Lamiran sampai tidak melanjutkan pekerjaan nya, ia dan Raka Senggani hanya mengobrol saja, memang pategalan itu hampir seluruh nya rampung tertanam, hanya sebahagian kecil saja yg belum.
Raka Senggani menuntun kudanya berjalan beriringan dengan orangtua itu, tidak terlalu lama tibalah mereka di rumah Ki Lamiran.
Kedua orang itu terkejut dengan banyak nya orang yg sedang berada di situ.
Dan yg paling mengejutkan Raka Senggani adalah dengan kehadiran Juragan Tarya di tempat tersebut.
Buru - buru orang paling kaya di desa Kenanga itu menghampiri keduanya.
" Baru pulang Ki,?" tanya nya pada Ki Lamiran.
" Iya, kapan Juragan sampai ,?" tanya Ki Lamiran.
Sambil meletakkan cangkul nya, orangtua itu kemudian menyilahkan para tamu nya untuk masuk ke dalam rumah nya.
__ADS_1
" Kami baru saja tiba Ki, setelah mendengar kabar bahwa Angger Senggani telah kembali dari Demak," jawab Juragan Tarya.
Orangtua Tara Rindayu itu datang dengan tiga orang pengawal nya, dua lelaki dan satu perempuan.
" Apa kabar nya Angger Senggani,?" tanya Juragan Tarya.
Senopati Pajang itu masih berdiri mematung dengan tatapan kosong, baru rasanya bahagia akan ucapan Ki Lamiran, namun setelah melihat orang tua Tara Rindayu itu hati nya kembali gelisah, apa yg harus kukatakan katanya dalam hati, sehingga sapaan dari Juragan Tarya itu tidak di dengar nya.
" Kapan Angger Senggani tiba di Kenanga, ?" tanya Juragan Tarya lagi.
" Ehh, baru Juragan, saat matahari mulai naik, kami tiba di Kenanga," jawab Raka Senggani.
Agak tergagap ia menjawab pertanyaan itu. Perasaan rikuh terhadap orang tua Tara Rindayu kentara terlihat di diri sang Senopati Pajang.
Setelah menambatkan si Jangu, Raka Senggani kembali lagi, ia mengajak Juragan Tarya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Sang Juragan pun mengikuti ajakan itu, tetapi para pengawal nya tetap tinggal di luar.
Ketiga orang itu langsung berbisik.
" Inikah Senopati Pajang yg ke sohor itu kakang Kranjan,?" tanya yg perempuan.
" Benar adi Wani, dialah orang nya telah membuat den ayu menjadi seperti orang gila hingga harus pergi ke Merapi," jawab Ki Kranjan.
" Apakah memang ia sangat sakti kakang,?". tanya yg lelaki.
" Apakah kalian tidak ikut ke Bedander waktu itu,?" tanya Ki Kranjan.
" Kami tidak ikut kakang, karena kami telah bertugas di rumah Juragan Tarya ini, " jawab orang itu.
" Ia lah yg telah menewaskan Paman guru Mpu Phedet pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan dalam waktu yg berdekatan," jawab Ki Kranjan.
" Mengapa guru tidak turun tangan untuk menghabisi nya,?" tanya yg perempuan.
" Saat itu Guru tengah terikat perjanjian dengan paman guru Supa Mandrangi, ia tidak boleh turun sendiri jika tidak ingin berhadapan dengan Paman Guru itu," jawab Ki Kranjan.
Lelaki yg bernama Ragawana itu sampai mengepalkan tangannya. Raut wajah nya pun menampakkan kemarahan.
" Bukankah itu artinya dia telah menghina perguruan kita Kakang," ucap nya lagi.
" Kau harus berhati-hati adi Wana, mulut mu harus di jaga, saat ini mungkin hanya guru saja yg mampu menghadapinya," ucap Ki Kranjan.
" Tetapi ucapan dari kakang Wana itu benar, Kang, seharusnya kita menuntut balas atas kematian kedua orang Paman Guru itu," ujar yg perempuan.
" Itu bukan urusan kita, biarlah kakang Adya Buntala saja yg mengurusinya dengan para murid dari Paman Guru itu," jelas Ki Kranjan.
" Dan kalian jangan sampai ketahuan bahwa merupakan murid dari Merapi, nanti urusan bisa runyam,". nasehat Ki Kranjan.
Terhadap dua orang adik seperguruan nya itu memang Ki Kranjan telah mewanti -wanti agar tidak di ketahui mereka berasal dari mana.
Sebab telah terjadi dendam kesumat antara padepokan Merapi dengan Senopati Pajang tersebut.
Dua orang Paman Guru mereka telah tewas di tangan sang Senopati.
Rasanya sulit untuk menghapus luka itu.
Di dalam rumah Ki Lamiran, ketiga orang itu pun telah melakukan pembicaraan, Juragan Tarya tanpa basa basi langsung menanyakan tentang kejelasan hubungan Raka Senggani dengan Tara Rindayu, putrinya itu.
Raka Senggani merasa tersudutkan atas pertanyaan itu, namun ia tidak dapat menjawab nya, ia diam saja.
Juragan Tarya mengatakan kepadanya bahwa jika Raka Senggani memang telah mempunyai pilihan hati yg akan di jadikan istri olehnya, ia tetap mau menerimanya asal Tara Rindayu itu dinikahi oleh Senopati Pajang tersebut meski sebagai istri kedua.
Ia dapat menerima nya, karena putrinya itu memang telah janda di tambah bahwa janji yg telah di ucapkan nya itu tidak dapat di tarik lagi.
__ADS_1
Tampaknya memang sang Juragan memaksakan agar putrinya itu tetap menikah dengan Raka Senggani walau sebagai istri kedua.
Penuturan dari Juragan Tarya tersebut semakin membuat pusing kepala Raka Senggani, ia lebih baik bertarung daripada harus menghadapi masalah ini.
Ia sampai saat ini belum dapat memutuskan, karena sebentar lagi dirinya dan pasukan Pajang akan di kirim ke Kotaraja Demak guna berperang di Melaka.
Sebenarnya Juragan Tarya tidak masalah dengan semua tugas dari Raka Senggani itu, ia hanya meminta kepada Putra Raka Jaya itu melakukan pernikahan saja dan nanti setelahnya ia tidak berkenan dapat melepaskan nya seperti seorang Putri Triman.
Juragan Tarya merasa sangat bersalah jika tidak menunaikan sumpah nya itu, yg akan menikahkan putrinya bagi siapa saja yg berhasil menyelamatkan nya.
Dan orang itu adalah Raka Senggani.
Konyol, pikir Raka Senggani , setelah menikahi kemudian meninggalkan nya atau memberikan kepada orang lain, itu adalah pikiran yg konyol demikian lah yg ada di kepala Senopati Pajang itu.
Memang bagi kalangan bangsawan hal itu adalah biasa, tetapi dirinya bukan siapa -siapa, dan kalau pun akan menikah sekali untuk selama nya.
Namun benar juga yg di katakan oleh Juragan Tarya itu, ia harus melaksanakan sumpah nya itu, tetapi apa urusan denganku, bukankah dia yg telah bersumpah , mengapa diriku yg harus tersangkut, pikir nya lagi.
Ini semua karena hatiku tidak tersangkut pada Tara Rindayu kalau tidak tentu dengan senang hati aku akan menerimanya, bathin nya mengatakan.
" Hehh, baiklah Juragan Tarya, apakah saat ini Rindayu berada di rumah,?" tanya Raka Senggani
Yg ditanya agak kebingungan menjawab nya, karena memang saat ini Tara Rindayu tidak sedang di rumah ia berada di Gunung Merapi, tetapj untuk mengatakan sesungguhnya Juragan Tarya agak enggan.
" Ehh, iya saat ini memang Putri ku tidak berada di rumah ," jawab nya.
" Apakah Juragan Tarya tahu kemana perginya,?" tanya Raka Senggani lagi.
Kembali Juragan Tarya harus memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan itu , jika ia mengarakan tahu, artinya kepergian Tara Rindayu atas persetujuan nya tetapi kalau mengatakan tidak tahu, bagaimana caranya untuk menikah dengan orang yg tidak di ketahui keberadaannya.
Lama Juragan terdiam, kemudian terdengar lagi ucapan dari Raka Senggani.
" Begini saja Juragan, kita akan membicarakan hal ini lagi setelah kepulangan Tara Rindayu, karena kita berdua akan kesulitan untuk melakukan nya tanpa kehadiran nya," jelas Raka Senggani.
Dan akhirnya Juragan Tarya tidak mampu mengatakan apa pun lagi. Ia kemudian mohon pamit saat mentari telah beranjak keperaduanya.
Setelah kepergian orang tua Tara Rindayu itu, Raka Senggani mengatakan hal ini kepada Ki Lamiran.
Sifat dari sang Juragan itu masih sulit untuk berubah, ia selalu ingin memaksakan kehendaknya. Hal itulah yg tidak disukai oleh Raka Senggani.
Ki Lamiran pun memaklumi nya , nama nya orang kaya, apapun yg diinginkan nya pasti harus tercapai., ujar orang tua itu. Ia pun tidak menyalahkan sikap dari Raka Senggani tadi.
Saat maghrib tiba , Raka Senggani kemudian melakukan inada sholat, disaat itu ia tumpah kan keluh kesah nya kepada yg Maha kuasa,airmata nya terlihat meleleh di pipinya.
Terkenang akan nasib kedua orang tua nya, yg cukup tragis kematian nya.
Usai sholat maghrib, ia pun pamit kepada Ki Lamiran akan ke banjar desa Kenanga, ia akan melihat kegiatan yg ada disana.
Pande besi tersenyum melihat anak muda yg sangat tergesa -gesa keluar dari rumah nya.
Angger pikir, aki ini tidak pernah muda, lebih dahulu aki yg makan garam nya, ucap pande besi itu dalam hatinya.
Karena ia tahu bahwa kepergian pemuda itu adalah tidak hanya ke banjar desa tetapj ke rumah Ki Jagabaya.
Benar saja , langkah kaki Raka Senggani langsung mengarah rumah Ki Jagabaya.
Dalam halaman rumah itu telah terpasang obor yg menerangi tempat itu.
Ia langsung masuk melewati pagar rumah ki Jagabaya.
Di depan pendopo pemuda itu mengucapkan salam dan terdengar balasan dari dalam.
Semua penghuni rumah itu keluar menyambut tamu agung nya, calon mantu, begitulah yg ada di pikiran dari Ki Jagabaya dan istrinya.
__ADS_1
" Mari, mari Ngger silahkan naik, Kemuning tadi mengatakan akan mengantarkan makanan ke rumah, e ee,
tidak tahunya angger Senggani sendiri yg telah datang kemari, mengapa ki Lamiran tidak diajak turut kemari , Ngger,?" sapa Ki Jagabaya.