Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag ke delapan.


__ADS_3

Sepekan telah berlalu , kedua anak muda dari desa Kenanga hampir melupakan kejadian yg telah terjadi atas para begundal dari Ki Sangakeling.


Seperti biasa , selepas maghrib keduanya datang ke Kademangan Kedawung guna memberikan latihan ilmu silat terhadap para pemuda desa dan pengawal Kademangan.


Namun malam itu tidak seperti malam -malam Sebelumnya , ternyata banjar Kademangan telah banyak di hadiri oleh para penduduk Kademangan Kedawung yg tidak hanya laki -laki saja bahkan perempuan dan anak -anak kecil pun turut hadir berada disana.


Baik Jati Andara maupun Japra Witangsa heran melihat keadaan itu, ada perasaan yg berbeda di hati keduanya mengapa banyak sekali orang ada di tempat itu. Seperti saat mereka berhasil membawa kembali kembang Kedawung dari Gunung Pandan beberapa waktu silam.


Setelah turun dari kudanya, Jati Andara langsung mendatangi Ki Demang Kedawung dan menanyakan langsung kepada orangtua Savitri itu.


" Maaf Sebelumnya Ki Demang, mengapa banjar Kademangan ini sangat banyak orang nya, lain dari biasanya,?" tanyanya.


" Begini Angger Andara,... bagaimana yah, aki harus menjelaskan nya,.." kata Ki Demang Kedawung.


Ia seperti sulit untuk menyebutkan alasan kenapa para warga Kedawung itu memenuhi Banjar Kademangan tersebut.


" Ada apa Ki Demang, mengapa Ki Demang ragu mengatakannya,?" tanya Jati Andara lagi.


" Ki Jagabaya saja yg menjelaskan nya, ia lebih mengetahui duduk permasalahan nya, Ngger," sahut Ki Demang.


" Iya, Ki Jagabaya ada apa ini, mengapa orang -orang Kedawung ramai di Banjar ini, apa yg membuat mereka datang ,?" tanya Jati Andara kepada Ki Jagabaya.


Ki Jagabaya menatap dalam -dalam kepada putra Ki Bekel desa Kenanga itu, sambil menghela nafasnya ia berkata,


" Hahh, kejadian yg terjadi pada waktu itu berbuntut panjang Ngger, Ki Sangakeling tidak ingin melupakan hal itu, dan kali ini ia menyewa seorang sakti yg akan bertarung dengan angger berdua,!" jelas Ki Jagabaya.


" Hahh, Ki Sangakeling masih penasaran dengan kekalahan nya pada waktu itu dan masih mendendamnya, dan masih ingin menuntut balas,?" tanya Japra Witangsa.


" Benar,... angger berdua akan diadunya dengan seorang tokoh yg cukup memiliki nama dan kesaktian yg luar biasa bernama Ki Suganpara, dari kulon, ia akan menantang angger berdua bertarung,!" jelas Ki Jagabaya.


Setelah berhenti sejenak Ki Jagabaya berkata lagi,


" Ia bahkan telah menyebarkan hal ini kepada para warga Kedawung untuk hadir di sini agar dapat menyaksikan kekalahan angger berdua yg telah di elu -elukan para warga Kedawung setelah berhasil mengalahkan seluruh tukang pukul nya itu beberapa hari yg lalu, dan malam ini ia sangat yakin Angger berdua akan kalah," kata Ki Jagabaya lagi.


Tidak ada habis -habisnya ulah Ki Sangakeling ini, sepertinya ia tidak bisa menerima yg namanya kekalahan,.. kata Jati Andara dalam hati.


Berbeda dengan Japra Witangsa, putra Jagabaya desa Kenanga itu langsung menyahuti nya,


" Sehebat apapun Ki Suganpara itu, pasti akan kami buat bertekuk lutut dihadapan kami,.." ucap nya.


Mendengar perkataan dari Japra Witangsa itu , para warga Kedawung langsung berteriak,


" Hiduuuup, Jati Andara,.."


" Hiduuuup, Japra Witangsa,..."


" Hiduuuup,.. Jati Andara..."


" Hiduuuup Japra Witangsa,..."


Teriakan itu sangat kuat membakar semangat kedua pemuda desa Kenanga itu.


Adalah Jati Andara yg berbisik kepada Japra Witangsa,


" Witangsa ,..kau jangan terlalu sesumbar, Ki Suganpara itu terkenal karena kesaktian dan kekejaman nya, banyak orang yg telah tewas di tangan nya,". bisik Jati Andara.


" Hehh, darimana kau tahu Andara,..?" tanya Japra Witangsa.


" Apakah kau tidak pernah mendengar nya saat masih di Pajang,.. banyak calon prajurit dari arah kulon yg menyebut -nyrbut namanya, " jawab Jati Andara.


" Hahh, Ki Suganpara yg menurut mereka itu mampu menghilang,?" tanya Japra Witangsa kaget.


Jati Andara menganggukkan kepalanya, mbenarkan ucapan temannya itu.


" Darimana kau tahu Andara, bahwa yg datang ini adalah orang yg sama dengan yg telah di ceritakan para calon prajurit Pajang itu,..?" tanya Japra Witangsa lagi.


" Dari tempat asal nya, karena mereka menyebut nya berasal dari kulon,.." jawab Jati Andara.


" Kalau begitu kita akan menghadapi kesulitan kali ini, ..Andara, ..apakah kita akan mampu mengalahkan nya,..?" tanya Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya Kenanga itu seperti tengah menghadapi suatu kesulitan setelah mendengar penuturan temannya itu.

__ADS_1


Sedangkan Jati Andara , seperti biasanya selalu tampak tenang meskipun kali ini jantung nya berdebar sangat kencang, sadar lawan yg akan di hadapi adalah seorang yg tangguh tanggon, ia tidak nampak cemas, apalagi di tempat itu telah ramai dengan orang -orang Kedawung termasuk Kembang Kedawung, Savitri.


Dalam hatinya, walaupun harus kalah ia akan memberikan contoh perlawanan yg sangat gigih agar warga Kedawung mengerti bahwa harus berani berbuat suatu kebaikan jangan melulu menerimanya saja, bahkan di injak orang sekalipun kita harus diam saja.


Japra Witangsa meraba gagang senjatanya, karena ia mendengar bahwa Ki Suganpara itu tidak mempan dengan senjata tajam alias kebal.


Saat -saat yg menegangkan bagi kedua nya semakin menjadi setelah melihat beberapa orang datang ke tempat itu, dan mereka adalah Ki Sangakeling dengan putranya Garwita diiringi oleh kelima pengawal nya.


Setiba di depan banjar Kademangan Kedawung, Ki Sangakeling langsung mengangkat kedua tangannya, sambil berseru,


" Terima kasih ku ucapkan kepada kalian para Warga Kedawung, karena malam ini kalian akan menjadi saksi atas kekalahan para pahlawan kalian itu di tangan seorang pengawal ku, yaitu Ki Suganpara,..."


" Dan bagi kalian berdua bersiaplah,.. karena Ki Suganpara tidak akan membiarkan lawan nya untuk dapat hidup jika harus bertarung dengan nya, jadi sebelum terlambat,..lebih baik kalian berdua menyerah dan minta maaf kepada ku atas perlakuan kalian kemaren itu,..." kata Ki Sangakeling lagi.


Sambil memandang ke arah Jati Andara dan Japra Witangsa.


Rasa -rasanya darah Jati Andara dan Japra Witangsa mendidih mendengar ocehan Orang tua si Garwita itu.


Mereka menyesal pada waktu itu membiarkan nya lolos tanpa memberi pelajaran kepada Ki Sangakeling tersebut.


" Berkata lah sesuka hatimu, Ki Sangakeling,..yg jelas kami bukan pengecut yg lari setelah jagoan nya kalah seperti dirimu, andai kami kalah malam ini pun kami tidak akan memyesal,.. karena kami bukan seorang pecundang,.." jawab Jati Andara.


Putra Ki Bekel itu memang sangat tidak suka melihat tingkah dari Ki Sangakeling itu, ingin rasanya ia memberi pelajaran kepada orang tua yg terlalu pongah.


Namun ia pun harus meredam amarahnya agar ia tidak terbawa perasaan yg tidak baik bagi nya itu.


Kemudian terdengar lah suara Ki Sangakeling lantang ,


" Baiklah jika kalian memang memilih mati, para warga Kedawung telah menjadi saksinya, karena Aku telah menyuruh kalian berdua untuk menyerah dan meminta maaf kepadaku, tetapi kalian masih membangkang, jangan salahkan aku jika Ki Suganpara akan menggilas kalian berdua menjadi rempeyek,.." teriak Ki Sangakeling lagi.


" Terserah apa yg ingin kau katakan Ki Sangakeling , yg jelas,.. kami tidak sudi untuk menyerah kepadamu, apalagi meminta maaf," teriak Japra Witangsa.


Ia pun tersulut emosinya akibat ucapan Ki Sangakeling yg telah merendahkannya itu, padahal beberapa waktu yg lalu, orang itulah yg telah lari terbirit -birit ketakutan akibat semua tukang pukul nya berhasil mereka kalahkan berdua dengan Jati Andara.


" Ki Suganpara, segeralah datang,..beri pelajaran kepada kedua orang ini," teriak Ki Sangakeling.


Tempat itu hening sejenak setelah Ki Sangakeling memanggil nama Suganpara, para warga juga Jati Andara dan Japra Witangsa melihat ke arah yg dilihat oleh Ki Sangakeling.


" Hua, ha, ha, ha, aku datang Ki Sanga, ..siapa orang nya yg malam ini harus kuhabisi umurnya,..." teriak seseorang .


Dan orang itu belum nampak tetapi akibat suara yg tertawa nya yg sangat keras membuat orang -orang yg ada di tempat itu jatuh terduduk lemas seolah tidak memiliki tulang lagi.


Ki Demang, Ki Jagabaya bahkan Jati Andara dan Japra Witangsa terkena pengaruh suara tertawa dari orang tersebut.


Namun Jati Andara dan Japra Witangsa masih mampu berdiri walaupun jantung mereka berdegup sangat kencang dan terasa nyeri, hampir saja mereka terjatuh.


Tetapi Jati Andara masih sempat berteriak,


" Ki Demang dan Ki Jagabaya, bawa menjauh orang -orang ini,.."


Jati Andara meminta kepada para pemimpin Kademangan Kedawung itu untuk menjauhkan warga yg ada disitu agar tidak terkena ilmu orang yg bernama Suganpara itu.


Ki Demang , Ki Jagabaya dengan dibantu pengawal Kademangan segera menyingkirkan warga agar tidak terlalu dekat dengan tempat itu.


" Bagaimana , apa kalian berdua belum mau menyerah,..?" tanya Ki Sangakeling lagi.


Sambil meludah di tanah Japra Witangsa menjawab,


" Sampai mati pun kami tidak akan menyerah,.." teriak nya.


" Bagus , bagus ,.. jika kalian memang tidak mau menyerah, kalian berdua memang memilih untuk mengakhiri hidup, Ha, ha ,ha , ha, ha," teriak orang itu lagi.


Belum pun muncul tetapi ilmunya telah menyerang kedua orang anak muda desa Kenanga itu, kedua nya bertahan sekuat tenaga dengan mengarahkan tenaga dalam nya untuk menahan serangan itu.sehingga keduanya masih mampu berdiri meski dengan susah payah.


" Baiklah,.. kalian terlalu bandel bocah terima ini, heaahh,.." teriak orang itu.


Serangkum angin yg kuat menerpa kedua anak muda itu, hingga menjatuhkan keduanya.


Dengan cepat , baik Jati Andara dan Japra Witangsa bangkit, mereka bersiap untuk menerima serangan lagi.


Terdengar teriakan lagi,

__ADS_1


" Terima ini , hiyyyah,.."


Kembali angin yg kuat melontarkan kedua nya hingga jauh terpelanting.


Melihat hal itu Ki Sangakeling gembira sekali, karena dendam nya pada kedua anak muda itu terbalaskan. Sakit hati nya dan juga sakit hati anak nya Garwita malam ini akan terbayar lunas,.


Kembali Jati Andara dan Japra Witangsa berusaha bangkit setelah terhempas cukup kuat akibat serangan dsri lawan yg tidak di ketahui keberadaannya.


" Witangsa , kalau begini terus bisa mampus kita," ucap Jati Andara kepada Witangsa.


" Jadi apa yg harus kita lakukan, aku tidak melihat keberadaan orang itu, bagaimana mungkin akan menyerangnya,?" tanya Japra Witangsa.


" Begini , aku akan berdiri di sana, agak jauh darimu, nanti jika ia menyerang ku, kau perhatikan darimana arah serangan itu, dan beri isyarat kepada ku jika kau telah menemukan nya, kita serang bersama -sama," jelas Jati Andara.


" Baik,.." jawab Japra Witangsa.


Kemudian Jati Andara melompat menjauh dari Japra Witangsa ia sengaja berpencar untuk mengetahui keberadaan dari musuh nya itu.


Kembali terdengar suara tertawa yg membuat jantung keduanya seprti hendak copot,


" Ha ,ha ,ha ,ha, dua ekor tikus yg ingin mencari jalan selamat sayang jalan itu tidak mereka temukan, huaaa, ha, ha," tertawa orang itu.


Terdengar membahana memecah kesunyian malam dan membuat kedua pemuda itu harus bertahan sekuat tenaga agar mereka tidak terjatuh, hingga konsentrasi nya pun pecah, hingga,..


" Terima ini, Hiyyyah," teriak orang itu.


Kembali untuk ketiga kalinya keduanya terlempar terhantam angin pukulan yg sangat keras, dan kali ini kedua nya sangat kesulitan untuk berdiri.


Melihat kesempatan emas untuk melampiaskan dendam nya kepada Jati Andara, Garwita berkata kepada Ayahnya.


" Romo, biar kuhabisi orang itu," pintanya kepada Ki Sangakeling.


" Jangan,...Nanti dirimu akan dicap jelek oleh orang -orang Kedawung ini biar saja Ki Suganpara yg menghabisi keduanya,.." jawab Ki Sangakeling.


" Tetapi Romo,..." pinta Garwita lagi.


" Tidak ada, tapi -tapi an biar urusan ini dilakukan oleh Ki Suganpara, kita tinggal lihat saja, kau tetap diam disini,.." seru Ki Sangakeling.


Ia tidak ingin dianggap jelek dengan harus turun tangan menghabisi kedua pemuda itu, biarlah Ki Suganpara yg melakukan nya walau atas perintah nya.


Di lain pihak , Savitri yg melihat orang yg disayangi itu kesulitan untuk bangkit segera menghampiri nya,


" Kakang Andara, bagaimana keadaan mu," tanya nya.


Sambil berusaha untuk membangkitkan tubuh Jati Andara, terlihat darah keluar dari hidung dan mulut pemuda itu.


" Kakang tidak apa -apa, Savitri ,jangan cemaskan Kakang,.." jawab Jati Andara.


" Kakang terluka begini, kakang bilang tidak apa -apa, mari Savitri obati,.." ujar Savitri.


Kembang Kedawung itu sangat sedih melihat keadaan dari putra Ki Bekel desa Kenanga itu, walaupun ia telah terluka tetapi semangat masih kuat untuk bertarung.


Dan Japra Witangsa pun demikian dengan di bantu oleh Ki Jagabaya dan Gandhik, Putra Ki Jagabaya desa Kenanga itu mampu bangkit dengan berlumuran darah akibat tiga kali terhempas angin pukulan yg sangat kuat tanpa di ketahui penyerang nya berada.


Sungguh hebat ilmu Ki Suganpara itu, kata keduanya dalam hati,.


Mereka memang cukup mendengar sepak terjang dari Ki Suganpara saat Di Pajang pada waktu itu, dan tidak menyangka mereka bertemu di Kedawung ini.


Di saat keduanya berupaya memulihkan kesehatan nya ,..tiba -tiba,..


" Hiyyahhh, "


" Wushhhh,"


Angin yg kuat datang ke tempat keduanya tetapi tidak menghantam mereka, dan kemudian muncullah seseorang di tempat itu sambil berkata,


" Aku kali ini masih berbaik hati tidak ingin mengotori tanganku dengan lumuran darah, ..menyerah lah dan minta maaf pada Ki Sangakeling, itu," ucapnya.


Orang itu yg tiada lain adalah Ki Suganpara yg tiba -tiba saja telah berada di dekat keduanya tanpa di ketahui dari mana datangnya.


Tetapi Jati Andara dan Japra Witangsa tidak sudi untuk melakukan hal itu, kedua dengan lantang menjawab,

__ADS_1


" Silahkan lakukan apapun terhadap kami, ..kami tidak akan menyerah,"


__ADS_2