Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag pertama.


__ADS_3

" Demikianlah, keadaan saya saat inj, Ki Rangga, memang sangat sulit untuk menerima nya dan saya pun bingung untuk mendapatkan lagi seluruh kemampuan yg telah hilang ini," ujar Senopati Brastha Abipraya dengan nada sedih.


Kedua Rangga dan Lurah prajurit Pajang itu amat sedih mendengar penuturan dari Senopati kebanggaan mereka itu. Namun mereka pun bingung tidak tahu harus berbuat apa.


Setelah mereka selesai makan , kembali ke enam orang itu melanjutkan perjalanannya lagi menuju Pajang.


Saat malam telah sangat larut, keenam nya sampai di bangsal keprajuritan Pajang.


Raka Senggani pun menginap disana, ia tidak kembali ke rumah Tumenggung Wangsa Rana.


Dirinya masih memikirkan keadaan yg telah terjadi pada nya itu, terasa kegoncangan pada dirinya.


Saat menjelang pagi pun ia tidak mampu memejamkan matanya.Rasanya lelah wadag nya tidak sebanding dengan lelah hati dan pikirannya.


Semalaman suntuk ia tidak dapat tidur, ketika hari telah mulai terang, ia membawa si Jangu kembali ke kediaman Tumenggung Wangsa Rana.


Tumenggung itu amat senang melihat Senopati Brastha Abipraya itu.


Setelah menjawab salam dari Raka Senggani ia pun langsung menanyakan keadaan Raka Senggani.


" Apakah angger Senopati dalam keadaan baik, ?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Baik paman Tumenggung, walaupun ada yg kurang pada diri Senggani paman," ucap sang Senopati.


" Apa yg kurang , Ngger, paman lihat dirimu sehat tidak kurang suatu apa, dimana letak kekurangan nya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


Kemudian Senopati Brastha Abipraya itu menceritakan segala yg telah terjadi menimpa nya itu, tanpa memgurangi nya. Setelah keduanya duduk diatas pendopo


Tumenggung Wangsa Rana mendengarkan penuturan itu dengan mencermati apa yg telah terjadi pada diri Senopati Pajang itu.


Ia kemudian berkata,


" Angger Senopati tidak usah terlalu Bingung , memang mengenai seseorang yg dapat di musnahkan seluruh kemampuan nya itu adalah hal yg biasa dalam dunia persilatan dan kadigjayaan, tetapi ada hal yg mungkin Angger Senopati lupakan," ungkap Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani agak kaget mendengar ucapan dari Tumenggung kepercayaan dari Adipati Pajang itu, apa yg terlupa pikir nya dalam hati, perasaan ia tidak melupakan apapun, dalam ceritanya tadi.


" Jangan karena hilang nya Ilmu yg Angger Senopati miliki itu dunia jadi kiamat serta membuat dirimu sangat bingung seperti ini, yg paman maksud bahwa Angger Senopati melupakan sesuatu adalah, bahwa kalau ada seseorang yg dapat memusnahkan ilmu seseorang tentu ada juga orang yg dapat mengembalikan nya lagi, walaupun mungkin di Pajang ini akan sangat sulit untuk menemukan nya," jelas Tumenggung Wangsa Rana itu.


Dan penjelasan dari sang Tumenggung merupakan air dingin yg telah menyiram ke hati sanubari Senopati Brastha Abipraya tersebut.


Karena setelah mengetahui dirinya sudah tidak memiliki kemampuan apa -apa lagi serasa dunia ini seperti hendak kiamat, walau sakit hati nya atas pengkhianatan dari Tara Rindayu tetapi lebih sakit lagi kehilangan seluruh kemampuan yg ada pada dirinya itu, sehingga membuat dirinya seperti orang linglung dan bingung.


Hahh, memang diatas langit masih ada langit, walaupun mungkin Mpu Gendeng itu jika harus bertarung dengan diriku belum tentu menang tetapi kali ini ia memang benar -benar berhasil mempecundangi diriku ini, Aku harus lebih banyak belajar lagi, karena memang bukan hanya sekedar tinggi nya ilmu tetapi akal sesorang itu pun perlu di waspadai, berkata dalam hati Raka Senggani.


Akhirnya Senopati Pajang itu tersenyum sendiri akan kebodohan yg telah di lakukan nya itu. Ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan nya itu.


Tumenggung Wangsa Rana merasa aneh melihat sang Senopati itu tersenyum-senyum setelah sebelumnya ia terlihat bingung akibat apa yg telah menimpa dirinya itu.


Apakah angger Senopati ini telah berubah tidak ......lagi, ahhh tidak mungkin , orang segagah Senopati Brastha Abipraya ini tidak mungkin berubah demikian lantaran kehilangan seluruh ilmu kadigjayaan nya itu, kata Tumenggung Wangsa Rana dalam hati.

__ADS_1


Kemudian ia langsung bertanya,


" Mengapa Angger Senopati tersenyum-senyum begitu ada yg aneh pada ucapan Paman mu ini,?" tanya nya.


Sambil menggelengkan kepalanya,


" Bukan, bukan ada ucapan paman Tumenggung yg salah, yg membuat diriku tersenyum-senyum adalah karena kebodohan Senggani, hingga membuat Mpu Gendeng itu mampu mengalahkan diriku, itulah yg membuat diriku merasa tolol dan bodoh, dan benar juga ucapan nya itu, seseorang itu bukan hanya di nilai dari tinggi nya ilmu yg di miliki tetapi jika akal nya tidak bekerja artinya sama saja tolol seperti diriku ini, Paman," jawab Raka Senggani.


Tumenggung Wangsa Rana sampai tertawa memdengarkan penjelasan dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Memang kemampuan berpikir seseorang terkadang tidak di rasa sebagai senjata yg paling berbahaya, padahal banyak telah terjadi , sebuah kerajaan atau negara yg berhasil runtuh dan bangkit atas kelihaian dan kecerdikan pemimpin nya.


Sebagai seorang Prajurit yg harus bertempur dan berperang mereka memang di haruskan memiliki kecerdikan dan kepandaian dalam merencanakan sesuatu, dan saat itu Senopati Pajang itu merasa masih kalah jauh dari Mpu Loh Brangsang dari Gunung Merapi.


Kemudian untuk mengurangi kesedihan dari Senopati Brastha Abipraya, Tumenggung Wangsa Rana mengajak menghadap kepada Kanjeng Adipati Pajang di istananya.


Selain melaporkan keadaan para Prajurit Pajang itu, Tumenggung Wangsa Rana ingin memberitahukan kepada Junjungan nya itu atas kesalahan nya telah menyuruh untuk memenuhi tantangan itu.


Di dalam istana sendiri telah hadir para pejabat dalem Pajang yg tengah duduk menghadap Kanjeng Gusti Adipati Pajang itu.


Setelah mereka selesai melaporkan semua kegiatan nya, tibalah giliran dari Tumenggung Wangsa Rana melaporkan seluruh kegiatan nya termasuk yg terjadi terhadap Senopati kepercayaan dari Adipati Pajang itu.


Sang Adipati Pajang tampak tertawa memdengarkan semua penjelasan dari Tumenggung Wangsa Rana itu.


Sedangkan Senopati Brastha Abipraya sendiri diam saja , ia memang tidak dapat berkata apapun lagi selain diam saja. Memang yg terjadi pada dirinya itu di luar dari harapan nya.


" Jangan khawatir Senopati Brastha Abipraya, paling lama hanya empat puluh hari dirimu dalam keadaan begini , bahkan nanti selepas nya, dirimu akan menjadi lebih sakti lagi," ujar sang Adipati Pajang.


" Yah, sebagai seorang Senopati yg berilmu sangat tinggi tentu tidak akan mudah untuk memusnahkan nya dari diri Senopati sendiri jika memang Senopati tidak mengkehendakinya, dan juga orang yg memiliki ilmu semacam Rajah Kalacakra itu amat sangat sedikit, jadi pesanku kepada Senopati Brastha Abipraya berangkat lah ke Demak, mintalah bantuan dari Kakang Sunan Kalijaga atau Kakang Sunan Kudus, karena untuk saat ini menurutku mereka berdualah yg masih memiliki ilmu itu, atau mungkin juga kakang Mpu Supa Mandrangi juga mampu melakukan nya," ungkap sang Adipati.


Sementara Raka Senggani diam mendengarkan penjelasan dari Junjungan nya itu.


" Ilmu Rajah Kalacakra dahulu nya adalah milik dari Kanjeng Prabhu Brawijaya terakhir, dan saat ini di warisi oleh Kakang Sunan Kudus alias Raden Ja' far shoddiq, tetapi Kakang Sunan Kalijaga pun memiliki ilmu itu, entah darimana mereka mendapatkan nya, Aku sendiri tidak tahu, sedangkan Penguasa Gunung Merapi itu mungkin hanya memiliki ilmu yg sejenis nya bukan Rajah Kalacakra yg membuat orang dapat kehilangan kemampuan nya dan harus menjalani sebuah laku untuk mengembalikan nya lagi, jadi segeralah ke Demak atau ke arah Kudus untuk mendapatkan arahan dari salah satu nya, karena saat ini Pajang masih dalam keadaan terkendali , jadi Senopati Brastha Abipraya tidak perlu merasa terburu -buru, sampai selesai dan tuntas dalam usaha mengembalikan seluruh kemampuan mu itu, tidak ada batas waktu untuk kali ini, meskipun demikian jika kelak dirimu memang telah selesai segeralah kembali kemari," ungkap Adipati Pajang lagi.


Memang sang Adipati tampak menganak emaskan Senopati Brastha Abipraya itu, dari semua titah nya tidak mempersulit sang Senopati, beliau sangat menghargai kemampuan dari sang Senopati, yg masuk menjadi seorang Prajurit tanpa harus melewati Pendadaran bahkan diangkat langsung memimpin sebuah pasukan.


" Hamba Kanjeng Gusti Adipati, semua titah Gusti Adipati akan hamba laksanakan, secepatnya hamba akan ke Demak ," jawab Raka Senggani sambil menjura hormat kepada Adipati Pajang itu.


Adipati Pajang yg tampak mulai sepuh itu memang sangat senang dengan Senopati andalannya tersebut.


Ketika hari telah sore dan sidang paseban di keraton Pajang itu telah selesai, ia masih sempat berpesan kepada Senopati Brastha Abipraya agar secepatnya berangkat ke Demak sebelum musuh -musuh nya mengetahui keadaan nya.


Keesokan harinya dengan menunggangi si Jangu Raka Senggani meninggal kota Pajang dan bergerak menuju Kotaraja Demak, tempat yg di tuju nya sebenarnya adalah ke Kadilangu tempat dimana Kanjeng Sunan Kalijaga bertempat tinggal. Ia merasa lebih baik kesana daripada harus ke Kudus, selain Kanjeng Sunan Kalijaga sering ia sambangi dan tidak terlalu jauh dari rumah Tumenggung Bahu Reksa, orang tua angkat nya itu.


Ia segera memacu si Jangu dengan kencang nya, karena sang Senopati merasa khawatir akan keadaan dirinya yg tidak memiliki apa -apa lagi.


Bahkan kali ini jika harus berhadapan dengan seorang yg memiliki kemampuan yg sangat rendah sekalipun ia tentunya akan kalah.


Ketika menjelang sore, ia mendekati sebuah alas yg cukup lebat, hatinya agak tergetar juga jika harus bermalam disana dengan dalam keadaan begini, tetapi mau apalagi. jika harus menembus hutan itu mungkin tengah malam ia baru dapat melewatinya.

__ADS_1


Mau tidak mau akhirnya sang Senopati berhenti di hutan itu , tempat dimana ia dahulu pernah bentrok dengan dua orang begal alas tersebut yaitu Sumo lewu dan Suma Langu.


Keduanya berhasil di kalahkan nya, dan mereka kemudian menyerah .


Kali ini tempat itu masih sama tetap saja terlihat menyeramkan.


Dalam hatinya, jika dua orang begal itu saat ini berada di tempat itu tentu nya ia tidak akan mampu menghadapinya,


Namun Raka Senggani segera mencari tempat yg cocok untuk beristrahat, ia mencari tempat yg cukup jauh dari jalan, sehingga tidak akan bertemu dengan orang-orang yg akan lewat.


Seperti biasa , ia beristrahat di sebuah batang pohon yg cukup tinggi, Senopati Pajang itu kesulitan untuk memanjatnya tetapi tetap di upayakannya untuk naik.


Terasa lega di dalam hatinya setelah mampu memanjat pohon itu tanpa menggunakan ilmu peringan tubuh milik nya.


Malam itu tidak terjadi apa-apa di tempat itu, kemudian Raka Senggani melanjutkan lagi perjalanan nya menuju Demak.


Dan saat melintasi pedukuhan Dalih , dimana beberapa hari yg lalu ia berhasil mengalahkan seorang begal sakti bernama Ki Mangku Darno, tanpa sengaja dirinya berpapasan dengan Ki Bekel yg masih agak muda itu.


" Hehh, adi Senopati Senggani mau kemana, mampir dahulu di rumah," seru Ki Bekel.


Raka Senggani agak terkejut , ia segera melompat turun dari kudanya itu.


" Maaf kakang Bekel, sebenarnya ada sesuatu yg sangat mendesak harus segera sampai ke Kotaraja Demak," jawab Raka Senggani.


" Singgah lah dahulu sebentar di rumah adi Senopati, ada yg ingin ku ceritakan kepada adi, seauatu yg sangat penting dan menyangkut dirimu, " ucap Ki Bekel lagi.


" Baiklah, tetapi cuma sebentar saja kakang bekel, Senggani lagi terburu -buru," ucap Raka Senggani.


" Ya , sebentar pun tidak apa -apa, Adi Senggani," kata Ki Bekel.


Akhirnya Raka Senggani menuntun kudanya mengikuti Bekel pedukuhan itu menuju rumahnya.


Sampai disana , Ki Bekel itu langsung menceritakan kepada Raka Senggani bahwa ada seseorang yg mengaku sebagai adik seperguruan dari Ki Mangku Darno yg ingin membalas dendam dan ingin melakukan perang tanding, dan waktu itu adalah nanti malam, sangat kebetulan sekali, Senopati Pajang itu telah lewat, sehingga Ki Bekel tidak harua bersusah payah mengirimkan utusan ke Kenanga atau Ke Pajang, ungkap Ki Bekel itu.


Mampus, seru Raka Senggani dalam hati, di saat ia tengah tidak memiliki apa -apa, ada Tantangan perang tanding dari saudara seperguruan Ki Mangku Darno, bagaimana ini, bathinnya berkata.


Akhirnya Raka Senggani menjawab permintaan dari Ki Bekel itu,


" Begini Ki Bekel, berhubung Senggani lagi terburu -buru, sehingga tidak dapat memenuhi permintaan nya itu, biarlah lain kali saja ia datang jika memang ingin menantangku dan katakan kepada nya agar datang ke desa Kenanga," jelas Raka Senggani.


" Jadi apa yg harus ku katakan nanti jika ia datang, dan seperti nya pun ia datang dengan niatan yg tidak baik, apakah kami akan sanggup melawannya," kata Ki Bekel lagi.


Demikian pula dengan diriku, aku pun tidak akan sanggup untuk melawannya kakang Bekel , kata Raka Senggani dalam hati.


Ia sengaja tidak mengatakan keadaan dirinya itu, takut nya Ki Bekel itu akan jadi lain melihat dirinya.


" Tidak apa -apa, Kakang Bekel, jika memang ia ingin merampok di sini , masih ada waktu untuk memberikan kabar ke Kotaraja Demak," jawab Raka Senggani.


" Tidak mungkin adi Senggani, saat ini pun hampir tengah hari, jika berangkat ke kotaraja , paling -paling saat tengah malam baru tiba itupun dengan kecepatan penuh, kalau tidak ya , mungkin esok pagi baru sampai,sedangkan malam ini ia akan datang," jelas Ki Bekel.

__ADS_1


Raka Senggani semakin bingung setelah mendengar penjelasan dari Bekel itu, ia pun tentu saja tidak ingin mati dengan sia -sia, tetapi bersikap tidak ksatria lari dari tantangan ia pun merasa malu, kembali ia berpikir dengan keras untuk mengambil keputusan yg terbaik.


__ADS_2