
Sesampainya di Istana kepatihan, Patih Haryo Winangun dan Raka Senggani langsung berbincang tentang kepulangan Raka Senggani ke Pajang.
" Anakmas Senggani, paman Patih sebentarnya amat bersedih atas kepulangan Anakmas ke Pajang, akan tetapi mau dikata apa, tugasmu sudah menanti di Pajang dan mungkin akan berlanjut ke Demak," ucap Patih Haryo Winangun.
" Sebenarnya Senggani pun demikian Paman Patih, berat rasanya untuk meninggalkan Kadipaten Madiun ini, ditambah lagi tugas yg telah dibebankan keatas pundakku belum pun terlaksana, suatu penyesalan tersendiri buatku , Paman Patih," ungkap Senopati Pajang Itu.
" Kalau masalah itu, anakmas jangan terlalu dibawa hati, namun satu hal yg ingin Paman sampaikan sebagai nasehat orangtua terhadap anakmas, pintar -pintarlah membawa diri, musuh -musuh yg anakmas Senggani hadapi itu semuanya mempunyai kemampuan yg sangat tinggi, mintalah selalu pertolongan kepada yg Maha Kuasa selain juga usaha anakmas untuk mencapai tataran mereka, karena sebenarnya mereka itu sudah sepantaran dengan guru anakmas sendiri,!" nasehat Patih Haryo Winangun.
" Terima kasih atas nasehat,nya Paman Patih, memang terkadang timbul dari dalam hatiku apakah mampu untuk mencapai tataran mereka ataupun mampu mengimbanginya, rasa -rasanya sangat sulit, terlebih mereka pun berjumlah cukup banyak, sedangkan tugas negara adalah yg wajib dilaksanakan sebagai seorang prajurit, Paman Patih tahu, bahwa di Gunung Merapi tersebutlah sebenarnya tempat mereka yg sesungguhnya, oleh sebab itu keputusan Pajang untuk memata -matai tempat itu sudah sangat tepat," jelas Raka Senggani.
" Yah, memang di Merapilah segala kegiatan itu tampaknya bermula, tetapi anakmas masih bisa minta pendapat dari Panembahan Lawu di Gunung Lawu, apakah ia juga akan turut mereka atau malah sebaliknya, jika Panembahan Lawu bersikap bersebrangan anakmas bisa meminta bantuannya,!" kata Patih Haryo Winangun memberikan keterangan.
" Suatu pemikiran yg sangat tepat, Paman Patih, karena murid dari Panembahan Lawu ada yg menjadi temanku di Demak, mungkin dari beliau Senggani bisa memintanya untuk menghadap Panembahan Lawu, Paman Patih,!" ungkap Raka Senggani.
" Bagus kalau begitu, jadi kapan rencananya anakmas akan kembali ke Pajang,?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Mungkin besok pagi Paman Patih, karena hari ini telah sore, besok begitu terang tanah, Senggani akan langsung kembali ke Pajang dan boleh jadi singgah terlebih dahulu di Gunung Lawu,!" jawab Raka Senggani atas pertanyaan Patih Haryo Winangun itu.
" Kalau begitu anakmas silahkan beristrahat, Paman Patih akan mengadakan pertemuan dengan Tumenggung Warabaya mengenai hal kepulangan Anakmas ini," tukas Patih Madiun itu.
" Baik Paman Patih, semoga para perusuh yg sering membuat kerusuhan di Madiun ini tidak ada lagi, Senggani pamit paman Patih," ucap pemuda itu kepada Patih Haryo Winangun.
Raka Senggani langsung menuju biliknya, ia memang sangat mencemaskan tugas barunya itu, karena menurut penilaiannya tentu pemimpin padepokan Merapi lebih hebat dari dua adiknya itu.
Setelah beberapa saat ia membaringkan tubuhnya terdengarlah bunyi jangkerik pertanda telah masuk maghrib.
Raka Senggani bangkit dari tempatnya dan menuju pakiwan membersihkan tubuhnya serta mengambil wudhu, ia pun segera melaksanakan perintah sang Khalik.
Malam itu , dengan di temani oleh Patih Haryo Winangun, Tumenggung Warabaya dan beberapa perwira Madiun, Raka Senggani makan malam bersama, sekaligus pelepasannya dirinya untuk kembali ke Pajang.
Obrolan malam itu terlihat santai tanpa banyak mempersoalkan tentang keamanan Madiun,lebih kepada masalah tempat tinggal masing-masing.
Malam terakhir Raka Senggani di Madiun, dan besok paginya setelah terang tanah, terdengarlah derap langkah kaki kuda yg keluar dari Istana kepatihan kadipaten Madiun itu.
Raka Senggani sang penunggang kuda tersebut segera memacu Si jangu dengan cepatnya, nampak dengan gagahnya pemuda itu menungggangj kudanya yg bernama si Jangu itu, rambutnya terlihat riap -riapan diterpa semilirnya angin, sebentar kemudian ia telah sampai di daerah Maospati, selanjutnya ia meneruskan perjalanannya menuju Kademangan Magetan, dari Magetan ia terus melanjutkan menuju padukuhan Kalang.
Selepas dari Kalang hari telah menjelang sore, ia terus memacu kudanya meskipun tidak terlalu kencang sampai di dukuh sepiring hari telah gelap , sebenarnya ia ingin menginap di pedukuhan itu, tetapi niatanya itu diurungkan , ia terus melanjutkan perjalanannya menuju ke desa Kenanga di Kadipaten Pajang itu.
Sesampainya di Desa Kenanga, malam telah pada puncaknya. Raka Senggani turun dari kudanya seraya menambatkan si Jangu .
Pemuda itu langsung menuju pintu rumah dari Ki Lamiran, namun sebelum ia mendekati pintu tersebut, ia melihat sesosok bayangan yg tiba -tiba melesat dari dari balik dinding rumah Ki Lamiran tersebut.
" Hehh jangan lari , siapa kau,!" teriaknya.
Raka Senggani pun langsung mengejar si penguntit itu .
Tampaknya orang itu kalah cepat dengan Raka Senggani, sebentar kemudian ia telah berhasil tersusul oleh Raka Senggani.
" Heaahhhh,!" teriak Raka Senggani lagi.
Pemuda itu langsung memberikan tendangan ke arah belakang orang itu.
" Dieeggkh" terdengar suara akibat tendangan dari Raka Senggani tersebut.
Orang yg berlari dari rumah Ki Lamiran itu jatuh bergulingan di atas tanah. Namun dengan cepatnya ia bangkit dan bersiap untuk menerima serangan dari Raka Senggani.
Akan tetapi Raka Senggani tidak langsung menyerang orang itu. Ia memandangi wajah dari orang itu secara seksama, rasanya ia pernah mengenalnya, namun karena suasana gelap, dan wajah orang itu tertutup kain penutup kepalanya, membuat Raka Senggani tidak dapat mengingat wajah itu dengan pasti.
__ADS_1
" Hehh, apa maksudmu memata-matai rumahku?" tanya Raka Senggani.
Orang itu terlihat diam saja, hanya dengus nafasnya yg nampak memburu terdengar di suasana malam yg hening tersebut.
" Sekali lagi kutanyakan kepadamu, apa maksudmu mengintai rumahku, apa perlunya kau datang kemari, jawab,....,!" terdengar teriakan dari Raka Senggani.
Pemuda itu nampaknya mulai habis kesabarannya karena melihat orang yg ada di hadapannya itu diam saja.
" Baiklah jika engkau tidak ingin menjawabnya , lebih baik engkau kupaksa untuk mengaku " ucap Raka Senggani lagi.
Senopati Pajang itu segera bersiap dengan memasang kuda -kudanya. Karena orang itu diam saja akhirnya Raka Senggani langsung menyerang,
" Hiyyaaaat,"
Senopati Pajang itu langsung memberikan tendangan kearah kepala orang itu dan berhasil di hindari oleh orang tersebut, namun dengan cepat Tendangan susulan mengarah ke kaki lawan segera di berikan oleh Raka Senggani.
Dengan sigap orang itu meloncat untuk menghindari serangan tersebut.
Namun Raka Senggani yg agak kesal karena kegagalannya menangkap SI Topeng iblis sewaktu berada di Kediri segera mengurung orang itu dengan serangan-serangannya.
Susul menyusul pukulan tangan kanan dan kirinya dilepaskannya untuk menjatuhkan lawan, nampak lawannya kali ini kerepotan di buat Senopati Pajang itu, hingga suatu saat,
" Aaakkhh,"
Sebuah tendangan Raka Senggani mendarat telak di dada orang itu serta melemparkannya sampai dua tombak ke belakang.Orang itu jatuh terduduk, ia berusaha bangkit sambil memegangi dadanya.
" ******* , Akan kubalas perbuatanmu itu,!" ucap orang tersebut.
Ia nampak bersedekap dan menggerakkan tangannya perlahan-lahan.
Ia melompat menerjang Raka Senggani yg masih tegak berdiri, serangan orang itu cepat dengan jari -jari tangannya mengembang seperti sebuah cakar, cakaran pertama mengarah ke leher dari Raka Senggani, berhasil dihindari oleh Senopati Pajang itu dengan menggeser sedikit kepalanya, kemudian serangan selanjutnya mengarah perut, berhasil di mentahkan oleh Raka Senggani dengan mengadu tangannya dengan tangan orang itu.
Kali ini yg berusaha menyerang adalah orang itu, sehingga Raka Senggani harus berupaya untuk tidak melakukan pertarungan jarak dekat , ia membuka ruang untuk menghindari cakaran dari orang tersebut, dalam satu kesepakatan, setelah melakukan salto ke belakang beberapa kali, Raka Senggani langsung melesat menerjang orang itu memberikan tendangan mengarah perut, tetapi orang itu tidak berusaha menghindari serangan itu melainkan menahannya dengan cakaran tangan kanannya. Raka Senggani tidak mau kejadian terulang ketika berhadapan dengan macan Baleman, ia menarik pulang kakinya dan gantinya ia menjulurkan tangannya dengan mengerahkan tenaga dalamnya menghantam pundak orang itu.
" Duukkhh,"
Pukulan tangan kiri Senopati Brastha Abipraya itu kembali mendarat dengan telak di pundak lawannya itu, dan membuatnya terdorong beberapa langkah meskipun tidak terjatuh, melihat keadaan lawan belum mapan benar. Raka Senggani kembali melanjutkan serangan dengan kakinya yg tadi sempat tertunda,
" Prakkk,"
Tendangan itu berhasil mengenai kepala orang itu meski tidak telak, namun hasilnya orang itu terjatuh lagi.
Kali ini Raka Senggani memburu dengan cepat tubuh orang itu.
" Hiyyaaaat,"
Anak muda Desa Kenanga itu mengirimkan sebuah tendangan lagi kearah orang itu, yg berupaya bangkit dari duduknya.
Namun ternyata orang tersebut masih mampu menangkis serangan dari Raka Senggani dengan memalangkan kedua dadanya di depan dada.
Ketika serangan kedua kalinya dari Raka Senggani, orang tersebut telah melompat dari tempat duduknya, seraya berteriak ,
" Terima ini, Hiyyahh,"
" Shiiet, shhiiet,sheet,!"
Tiga buah senjata rahasia meluncur dengan cepat mengarah ke tubuh Raka Senggani.
__ADS_1
" Tap, tap, tap, "
Ketiganya berhasil ditangkap Senopati Pajang itu dengan jari -jari tangannya.
Namun kejadian yg sekejap itu di manfaatkan orang tersebut untuk melarikan diri.
" Tungguuuu, jangan lariii," teriak Raka Senggani.
Namun orang itu terus berlari sekuat tenaganya, Raka Senggani yg melihatnya tidak jadi mengejarnya.
" Ahhh, lebih baik aku kembali pulang, mungkin Ki Lamiran tahu siapa orang itu,!" berkata di dalam hatinya.
Ia pun segera kembali ke rumah Ki Lamiran. Sesampainya disana, terlihat orangtua itu telah berada di luar rumah.
" Siapa Ngger, orang itu,?" tanyanya kepada Raka Senggani.
" Entahlah Ki, sepertinya Senggani mengenalnya, namun sayang sebahagian wajahnya ditutupi oleh kain ikat kepalanya, jadi Senggani belum bisa memastikannya," jawab Raka Senggani.
" Bagaimana keadaan di Madiun Ngger, apakah Si Topeng iblis sudah berhasil ditangkap, oh ya, mari kita masuk kedalam dulu, diluar hawanya terasa dingin,!" ajak Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
Kedua orang itu pun masuk ke rumah Ki Lamiran tersebut.
Setelah berada di dalam, Raka Senggani baru menjawab pertanyaan Ki Lamiran itu,
" Keadaan di Madiun saat ini cukup baik meski Si Topeng iblis itu belum berhasil Senggani tangkap, terakhir kali ia beraksi di Kadipaten Kediri dan berhasil meloloskan diri, baik dari Senggani maupaun dari Senopati Mangun Dirja, Senopati Kediri," jawabnya.
" Sangat hebat Si Topeng iblis itu, satu Kadipaten pun tidak sanggup untuk menangkapnya," ujar ki Lamiran.
" Bagaimana hubungan dengan padepokan Gunung Willis, apakah Angger Senggani sempat kesana,?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Hahhhh, bukankah orang itu tadi adalah salah satu , murid,....., tidak salah lagi orang itu merupakan cantrik di padepokan Lereng Wilis, ialah yg telah membuntuti kami saat kembali dari sana,!" ucap Raka Senggani .
Ia baru teringat bahwa orang tersebut adalah salah satu murid dari Mpu Phedet Pundirangan yg saat itu menerima mereka saat berkunjjung ke padepokan Lereng Wilis.
" Apa maksudnya memata-matai tempat ini , apakah mereka telah mengetahui bahwa aku adalah orang telah mengalahkan si Topeng iblis sewaktu di Kademangan Kebon Sari,?" tanya Raka Senggani seolah kepada diri sendiri.
" Angger Senggani berhasil mengalahkan Si Topeng iblis itu,?" tanya Ki Lamiran seolah tidak percaya.
" Benar Ki, sesaat tiba di Madiun tepatnya di Kademangan Kebon Sari, hari telah malam , Senggani melihat cahaya merah terang pertanda telah terjadi kebakaran disana, Senggani kemudian ke tempat itu dan benar saja, Si Topeng iblis sedang mengamuk dan membakar banjar Kademangan Kebon Sari itu serta melawan Ki Demang dan salah seorang Pendekar bayaran Ki Demang , namun mereka berdua berhasil dikalahkannya, dan akhirnya Senggani yg berhadapan dengan Si Topeng iblis itu, meskipun ia berhasil mendapatkan luka dalam, namun ia tetap berhasil meloloskan diri dari tangan Senggani,!" jelas Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Dan apa hubungannya dengan padepokan Lereng Wilis,?' tanya Ki Lamiran.
Akhirnya Raka Senggani menceritakan serba sedikit kepada Ki Lamiran tentang keterlibatan dari padepokan Lereng Wilis itu dengan Si Topeng iblis, bahkan dengan hubungannya sebagai pembunuh kedua orangtua dari Senopati Pajang itu.
" Hahhhh, jadi merekalah telah membunuh kedua orang tua angger Senggani itu,!!!!??" seru Ki Lamiran kaget mendengarnya.
" Benar Ki, Senggani melihat sendiri orang yg bernama Mpu Yasa Pasirangan itu memiliki cacat pada sebelah matanya, sehingga dapat Senggani pastikan ialah yg turut serta membunuh kedua orangtuaku itu,!" jelas Raka Senggani.
" Sangat berat tugasmu itu Ngger, mungkin di Tlatah Demak ini sulit untuk mencari bandingnya kecuali di Kotaraja, yg ada Senopati Agung Demak, Sunan Kudus serta Sunan Kalijaga, mungkin yg lainnya ada Mpu Supa Mandrangi, mungkin itu saja yg akan sanggup mengahadapi ketiga orang itu, apalagi ditambah dari Blambangan ada Resi Brangah, tentu kekuatan mereka akan sulit untuk di atasi," ungkap Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
" Sulit , bukan berarti tidak bisa diatasi,Ya kan Ki," seru Raka Senggani.
" Benar Ngger, sulit bukan berarti tidak bisa untuk diatasi atau di tumpas, tetapi tugasmu untuk membalaskan dendam kedua orang tuamu, yg akan sangat -sangat sulit untuk dilaksanakan,!" jelas Ki Lamiran.
" Kalau itu yg aki Lamiran memang benar, teramat sulit bagiku untuk menghadapi ketiga orang tersebut, namun sebagai prajurit Pajang dan Demak tentu Senggani tidak akan menyerah begitu saja dengan keadaan ini, kebenaran dan keadilan harus ditegakkan, hutang nyawa bayar nyawa," ucap Raka Senggani berapi -api.
Wajah pemuda itu terlihat memerah akibat rasa amarahnya yg meledak saat terkenang akan kedua orang tuanya itu.
__ADS_1