
" Heaaahhh,.."
Arya Pinarak meneruskan serangan nya untuk menyelesaikan perlawanan Rangga Suralaya,..ia menggenjot tubuhnya sambil mengayunkan senjatanya,..keadaan dari Rangga Suralaya benar -benar berada di ujung tanduk,.karena selain ia sudah tidak memiliki senjata lagi,. tubuhnya pun sedang terjerembab diatas tanah,.dirinya mengetahui bahwa sepertinya ajal akan segera tiba,.akan tetapi,..tiba tiba,..
" Dhumbhhh,."
Sebuah pukulan jarak jauh menghentikan serangan dari Murid Mpu Phedet Pundirangan itu.
" Hehh,..*******,.." teriak Arya Pinarak.
Ia menoleh ke arah Tumennggung Jala Wisesa,.dengan mata nanar Arya Pinarak berseru dengan sangat keras,..
" *******,..dirimu memang mencari mampus,.."
Setelah berkata demikian,.. Pemimpin padepokan Gunung Wilis itu menyarungkan pedangnya. ia kemudian bersedekap,..dengan kedua tangan bersatu di depan dadanya. Tampak nya ia akan mengeluarkan ilmunya,.ajian Lebur Saketi.
Mulutnya terlihat komat -kamit membaca mantera. Dari kedua tangan nya terlihat keluar asap tipis.
" Terima ini,..ajian Lebur Saketi,..heaahhhh,.." teriaknya.
" Dhumbhhh,.."
Lontaran yg berwarna kemerahan mengarah ke tubuh Tumenggung Jala Wisesa.
Tumenggung dari Pajang itu berusaha menghindar dengan melompat ke samping. Ia dapat lolos dari serangan itu.
Serangan itu menghantam sebuah pohon hingga membuat nya tumbang.
Akan tetapi Arya Pinarak tidak menghentikan serangan -serangan nya.
Mau tidak mau Tumenggung Jala Wisesa harus menghadapi serangan dari lawannya itu karena ia lah yg pertama memulai serangan dengan pukulan jarak jauh itu.
Dengan bersiap mengeluarkan ajian nya,.. Tumenggung Jala Wisesa memusatkan nalar budinya untuk melawan Arya Pinarak itu.
" Hehh,..bagus,..kalau memang dirimu ingin mencari mampus,.." seru Arya Pinarak dengan ketus.
Karena dilihatnya lawannya itu telah bersiap untuk membenturkan ajian nya dengan ilmu Lebur Saketi milik Arya Pinarak itu.
Melihat hal itu ,..Rangga Suralaya berusaha bangkit dan mendekati Rangga Jayadi.
Ia berkata kepada temannya itu untuk segera menarik mundur seluruh pasukan Pajang ,.karena mereka tidak akan mungkin akan memenangkan pertempuran itu.
Rangga Jayadi pun setuju akan tetapi jalan untuk keluar sangat sulit ,..selain mereka terus menerus di serang oleh kawanan begal itu,..dari arah seberang sana pun tampak nya para kawanan begal itu pun telah menguasainya,..ia mendapatkan kabar bahwa Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena berusaha menarik keluar seluruh pasukan Pajang karena kedua orang itu yg menjadi Pemimpin nya tengah terluka parah.
Keduanya menghadapi seorang Adya Buntala,..dan harus menerima kenyataannya kedua Rangga dari Pajang itu harus terluka cukup parah,..mereka di bawa kabur oleh para Prajurit Pajang. Dan secara perlahan pasukan itu pun mundur menuju Prambanan.
Mendengar hal itu,..Rangga Suralaya sangat terkejut,..cara apakah yg akan mereka tempuh untuk keluar dari neraka itu,..jika mereka terus memaksa merangsek masuk tentu mereka akan segera habis,..tetapi jika mereka kembali,..di seberang sana lawan pun tengah menunggu mereka dengan kekuatan yg hampir sama.
Disaat kedua Rangga dari Pajang tengah memikirkan jalan keluar yg terbaik,..tiba -tiba mereka mendengar,..
" Aaaakkkkkhhhhh,.."
" Byurrrrrrr,.."
" ******* kau Tumenggung edan,..memang dirimu tidak tahu diri,..tengah berhadapan dengan siapa,..andai Adipati Pajang sendiri yg akan datang kemari,..aku tidak akan takut,..ha..ha..ha...akan kuhabisi siapa saja yg berani datang ke mentaok ini,..." teriak Arya Pinarak dengan sombong nya.
Suara teriakan yg menyayat hati terdengar keluar dari mulut Tumenggung Jala Wisesa dan tubuhnya pun jatuh ke dalam air setelah terkena hantaman ajian Lebur Saketi milik dari Arya Pinarak itu.
Adalah Rangga Jayadi,..perwira muda itu mendapatkan jalan keluar dari masalah yg mereka hadapi setelah mendengar suara Senopati nya yg jatuh ke dalam air.
" Kakang Suralaya,..air ,..adalah jalan kita keluar dari kehancuran total ini,..agar kita tidak tumpas habis,.." bisik nya kepada Rangga Suralaya.
" Hehh,.. bagaimana maksudmu,..?" tanya Rangga Suralaya tidak mengerti.
__ADS_1
" Benar,..kakang,..kita tarik mundur pasukan kita dengan mengikut arus Kali ini,..dan nanti setelah jauh dari jangkauan mereka baru kita mendarat,..bukankah pasukan kita sudah cukup terlatih di dalam air,.. karena akan di berangkatkan bersama pasukan Demak menyerang ke Malaka itu,.." jelas Rangga Jayadi.
" Suatu pemikiran yg cemerlang ,..cepat beritahukan kepada seluruh Lurah prajurit agar kita mundur,..dan terus berenang mengikuti arus sungai ini,..cepat,..sebelum semua menjadi terlambat,.." perintah Rangga Suralaya.
Rangga Jayadi membertahukan hal ini kepada salah seorang penghubung agar para prajurit Pajang di tarik keluar dari garis peperangan karena Senopati mereka telah tewas ,..yaitu Tumenggung Jala Wisesa. Dan mereka di sarankan melewati arus kali yg menuju ke hilir itu.
Pesan itu segera disampaikan kepada seluruh Lurah prajurit Pajang dengan cepat,.dan mereka pun mengerti dengan maksud dari pimpinan nya itu,.maka dengan segera seluruh prajurit yg tersisa itu berenang mengikuti arus Kali Opak menuju ke arah hilir.
Sedangkan serangan -serangan dari para kawanan begal masih saja terus meluncur mengikuti pergerakan pasukan Pajang itu.
Arya Pinarak sendiri tidak terlalu bersemangat untuk mengejar para prajurit itu,..ia malah terkesan membiarkan mereka melarikan diri.
Hatinya pun sudah cukup puas setelah mengakhiri hidup dari Tumenggung Jala Wisesa,.. Senopati yg memimpin pasukan Pajang itu.
Seluruh pasukan Pajang yg di pimpin oleh Rangga Suralaya dan Rangga Jayadi terus berenang mengikuti arus kali menuju hilir hingga sampai jauh.
Sedangkan pasukan Pajang yg lain yg merupakan ekor pasukan yg dibawah kepemimpinan dari Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena pun telah jauh meninggalkan tepian kali mereka bergerak terus sampai matahari terbit,.. karena pasukan itu tidak berhenti di Prambann mereka meneruskan sampai ke Macanan dimana perkemahan mereka berada.
Hanya separoh saja dari pasukan itu yg selamat,..yg lainnya tewas dan terluka akibat penyerangan itu.
Beberapa Lurah prajurit yg masih sehat melihat keadaan dua orang pemimpin mereka yakni Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena yg sedang sekarat.
Memang cukup beruntung kedua orang itu,..meski mereka berdua bukan lawan yg sebanding dengan Adya Buntala,..tetapi kerjasama dari keduanya membuat mereka masih dapat selamat.
Saat Matahari pagi telah menyinari Alas Mentaok itu,.. terlihatlah bekas-bekas pertempuran di tepian Kali itu.banyak mayat yg bergelimpangan dan berserakan diatas tepian nya,..diatas pasir putih dan banyak pula yg turut hanyut ke hilir.
Sebahagian besar adalah para prajurit Pajang. Sedangkan dari kawanan begal Alas Mentaok itu tidak terlalu banyak.
Lima orang yg di tugaskan oleh Arya Pinarak untuk mencari teman -teman meraka yg telah tewas , kembali dengan cepat, setelah berhasil menemukan mayat teman -teman nya itu.
Hanya beberapa orang saja yg menemui ajal nya dalam pertempuran kali ini.
Adya Buntala segera mengatakan kepada Arya Pinarak bahwa ia akan segera kembali ke Merapi dengan seluruh murid -muridnya.
Arya Pinarak hanya tersenyum mendengar ucapan saudara seperguruannya itu,..karena menurut nya mustahil prajurit Pajang akan berani datang lagi ke Alas Mentaok untuk menyerang mereka.
Tetapi Adya Buntala masih mengingatkan bahwa di Pajang masih ada seorang yg bernama Senopati Brastha Abipraya. Yg kemungkinnanya akan di kirimkan oleh Adipati Pajang untuk memyerang mereka.
Tetapi Arya Pinarak segera mengatakan bahwa mereka akan siap menyambut kedatangan Senopati Brastha Abipraya itu jika berani datang ke alas Mentaok itu.
Ada aura dendam dalam ucapan murid Mpu Phedet Pundirangan tersebut.
Bahkan ia sempat berdesis,..
" Hutang nyawa ,..harus di bayar dengan nyawa,.."
Tetapi Adya Buntala mengingatkan kepada Arya Pinarak,.. kegagalan Pasukan Pajang kali ini tentu akan membekas di hati sang Adipati,.. tentunya orang nomor satu dari Kadipaten Pajang itu tidak ingin tercoreng wajahnya dengan kekalahan yg mereka derita hari ini,..tentu pasukan nya akan segera kembali lagi untuk menguasai Alas Mentaok seperti yg telah mereka lakukan di saat Macan Baleman berkuasa di hutan itu.
Tetapi Murid Mpu Phedet Pundirangan itu tidak terlalu memikirkan nya,..saat ini ia sudah merasa puas dengan hasil yg diterimanya.
Dan tentunya nama Arya Pinarak akan semakin meroket sebagai begal nomor satu di tlatah Pajang atau mungkin untuk seantero Demak.
Sehingga ia di lambungkan oleh angan -angan yg tinggi ,..untuk menguasai Kadipaten Kediri.
Sambil tersenyum senyum sendiri,..ia sedang merancang untuk menyerang kadipaten Kediri dimana ia sebenarnya berasal..
Sementara itu ,..setelah pagi tiba,..pasukan Pajang yg di pimpin oleh Rangga Suralaya dan Rangga Jayadi telah mendarat.
Mereka berada cukup jauh dari pertama kali dua kekuatan itu bertemu.
Dan begitu mendarat di tepian ,..Rangga Suralaya kemudian memerintahkan dua orang prajurit untuk segera memberitahukan keadaan mereka dengan pasukan yg dipimpin oleh Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena.
Keduanya bergerak sangat cepat menuju perkemahan mereka di Macanan.
__ADS_1
Setibanya disana,.. kedua prajurit itu mendapatkan berita bahwa Rangga Indra Sena telah menghembuskan nafas terakhirnya di dalam kemah.
Salah seorang dari prajurit yg di kirim oleh Rangga Suralaya itu segera kembali ke induk pasukan nya dan mmeberitahukan tentang hal ini.
Rangga Suralaya dan Rangga Jayadi turut sedih mendengar berita tersebut. Dengan cepat pasukan yg tersisa bergerak menuju daerah Macanan.
Kemudian mereka berkumpul dan bergabung kembali di daerah Macanan tersebut.
Alangkah sedihnya para prajurit Pajang itu,..setelah Senopati nya tewas,..berturut -turut kemudian dua orang Rangga nya pun ikut menyusul.
Kini tersisa lah Rangga Suralaya dan Rangga Jayadi yg sebagai pemimpin pasukan itu.
Karena Rangga Chakradaya dan Rangga Indra Sena akhirnya menghembuskan nafasnya di perkemahan itu.
Kembali Rangga Suralaya mengirimkan dua orang prajurit nya untuk melaporkan hal ini ke Pajang.
Dengan cepat kedua orang prajurit itu melarikan kudanya menuju Pajang untuk melaporkan kejadian di alas Mentaok itu.
Sedangkan Rangga Suralaya dan Rangga Jayadi segera berkemas dan akan meninggalkan Macanan, mereka akan kembali pulang menuju Pajang.
Rasa sedih,..rasa kesal dan haru bercampur baur menjadi satu setelah melihat dua orang teman seperjuangan tewas dihadapan nya,.Rangga Suralaya amat terpukul dengan kejadian itu,..apa yg akan di katakanya kepada keluarga kedua orang itu.
Setelah seluruh prajurit yg terluka berhasil di rawat ,.yg dapat berjalan segera mengikuti pasukan nya..dan yg tidak mampu berjalan di buatkan tandu untuk di bawa pulang ke pajang.
Saat hari menjelang sore barulah Pasukan Pajang itu bergerak meninggalkan daerah Macanan.
Pasukan yg sebelumnya berjumlah sangat banyak itu ketika berangkat dari Pajang,. kini tinggal separoh nya saja.
Sementara itu , dua orang prajurit yg diutus oleh Rangga Suralaya lebih dahulu kembali ke Pajang ,. tiba pada keesokan harinya,.. mereka berpacu seperti kesetanan sehingga dapat menempuh satu hari saja kembali ke Pajang.
Keduanya langsung menghadap Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
Dengan di dampingi oleh beberapa orang petinggi Pajang termasuk di dalamnya Tumenggung Wangsa Rana.
Kanjeng Gusti Adipati Pajang mendengar laporan yg di berikan oleh dua orang prajurit itu.
Air muka Kanjeng Gusti Adipati Pajang berubah merah padam setelah mendengar kegagalan dari pasukan yg telah di kirimnya itu terlebih setelah mendengar Tumenggung Jala Wisesa pun turut pula tewas dalam pertempuran itu.
Kanjeng Gusti Adipati Pajang sampai menggemeretakkan giginya dan memukulkan kepalan tangan nya di kursi singgasana nya.
Raut kekecewaan jelas terpancar dari wajah nya.Ia kemudian memanggil dua orang Rangga kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana yaitu Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno.
" Rangga Wira Dipa dan kau Rangga Aryo Seno,..segera ke Demak ,..panggil kemari Senopati Brastha Abipraya,..suruh ia pulang ke Pajang secepatnya,..kalian berdua langsung menghadap nanda Sultan,. katakan kepada beliau keadaan yg terjadi di Pajang ini,..agar nanda Sultan tidak terlalu lama menahan Senopati Brastha Abipraya di Kotaraja Demak,..bila perlu pinta kepada nanda Sultan Demak untuk mengirimkan beberapa orang prajurit terbaiknya untuk datang kemari,.. kalian mengerti,..?" seru Kanjeng Gusti Adipati Pajang dengan nada meninggi.
Ia memang merasa perlu menurunkan Senopati kepercayaan nya itu untuk mengatasi kawanan begal yg ada di Alas Mentaok itu.
Karena Kanjeng Gusti Adipati Pajang telah mengetahui kemampuan dari pemimpin perampok itu.
Sehingga kali ini ia benar -benar merasa seperti sedang di permalukan oleh kawanan yg bersarang di Alas Mentaok itu.
Adalah Tumenggung Wangsa Rana lah yg kemudian bertanya,..
" Apakah tidak sebaiknya penyerangan ke alas Mentaok itu ditunda terlebih,..mengingat pasukan yg tersisa pun belum tiba di Pajang ini,..?"
" Tidak ada kata -kata teburu -buru, .setelah genderang perang di tabuh oleh mereka,..mau di taruh mana muka ku Wangsa Rana,..jika mereka terus di biarkan mengacak acak kewibawaan Pajang,..bukan tidak mungkin,..tidak ada yg berani lagi para Demang yg akan mengantar upeti kemari,.setelah mereka mengetahui kegagalan yg kita derita kali ini,.. Aku tidak mau hal itu terjadi,..biarlah nanti mengenai keputusan penyerangan itu kapan di lakukan ,..semua itu akan kuserahkan kepada Senopati Brastha Abipraya sendiri,.yg penting saat ini ia harus kembali dari Kotaraja Demak,..kalian paham,..Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno,..?" tanya Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
" Sendika Dawuh kanjeng Gusti Adipati,..kami mengerti,.." jawab kedua perwira Pajang itu.
" Bagus,.segeralah berangkat,.. katakan semua yg telah aku ucapkan tadi,.agar nanda Sultan pun mau menerimanya,.." ucap Kanjeng Gusti Adipati Pajang lagi.
" Sendika Dawuh kanjeng Gusti Adipati,..kami siap menjalankan perintah,.." jawab keduanya.
Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno kemudian bangkit dan segera meninggalkan istana Pajang itu.
__ADS_1
Kedua orang Kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana itu berangkat menuju Demak guna memanggil pulang Senopati Brastha Abipraya ke Pajang.