
Setelah sampai di banjar desa Prambanan, Raka Senggani langsung mencari Ki Bekel Prambanan, yg memang rumah nya tidak jauh dari banjar desa ter sebut.
Kemudian ia menemui Ki Bekel dan ber kata,
" Maaf Ki sebelum nya, saya se orang prajurit Pajang ingin mengata kan sesuatu kepada Ki Bekel," ucap Raka Senggani.
" Hehh, ada apa , apa yg terjadi dengan desa kami ini sehingga para prajurit Pajang harus mampir ke sini,?" tanya Sang Bekel.
" Begini Ki Bekel, di rumah pojokan dekat tikungan itu, ada tiga orang rampok dan penculik yg sudah kami tangkap akan tetapi ber hubung saya harus melapor kan hal ini kepada Tumenggung Wangsa Rana yg ada di dekat hutan, jadi kami meminta Ki Bekel untuk membawa kemari jangan sampai lepas karena yg dalam keadaan pingsan itu salah satu rampok yg paling di cari di Kadipaten Pajang ini, sedang kan yg dua lagi adalah para pembantu nya itu dalam keadaan ter totok, usaha kan di bawa kemari secepat nya, setelah kami melapor kan hal ini, kami akan singgah kemari dan membawa ketiga nya ke Pajang, untuk di hadap kan kepada Kanjeng Gusti Adipati,". terang Raka Senggani.
" Baik lah kalau begitu, secepat nya pengawal desa Prambanan ini akan ke sana guna membawa ketiga nya kemari,!" jawab Ki Bekel Prambanan.
" Terima kasih Ki Bekel," kata Raka Senggani
Kemudian Raka Senggani beralih kepada Tara Rindayu dan bertanya,
" Apakah Rindayu akan tetap di sini sementara, karena Senggani akan mem beritahu kan Tumenggung Wangsa Rana ter lebih dahulu, baru setelah nya mampir kemari, bagaimana Rindayu akan tetap disini atau ikut,?" tanya nya kepada Tara Rindayu.
Putri Juragan Tarya kemudian menjawab,
" Rindayu akan ikut kakang Senggani saja, Rindayu takut,!" kata nya sambil memegang erat lengan Raka Senggani.
" Tidak apa -apa Ngger, angger aman di sini,!" kata Ki Bekel kepada Tara Rindayu.
Namun gadis itu tetap menolak, seperti anak kecil yg tidak ingin , ia pun menggeleng kan kepala nya ber kali -kali.
" Baik lah, kami pamit dulu Ki Bekel, nanti kami akan singgah lagi," ucap Raka Senggani.
" Silah kan, silah kan,!" jawab Ki Bekel.
Raka Senggani dan Tara Rindayu ber lalu dari rumah Ki Bekel, setelah berada di tempat sunyi ia berkata,
" Rindayu cepat naik ke punggung ku, kita harus cepat sampai ke tempat Paman Tumenggung berada,!" ter dengar perintah nya kepada gadis itu.
Tidak menunggu lama, Tara Rindayu langsung meloncat naik ke atas punggung dari Raka Senggani.
" Siap, ?" tanya Raka Senggani kepada Tara Rindayu.
Gadis itu mengangguk tanda telah siap.
Segera Raka Senggani menge trap kan ilmu lari cepat nya, agar cepat tiba di tempat Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa berada.
Tara Rindayu hampir ter pekik ketika merasakan laju nya lari dari Raka Senggani itu dan sebentar saja mereka telah sampai di tempat para prajurit Pajang ber kumpul .
Setelah tiba di sana di lihat Raka Senggani seluruh para prajurit Pajang tengah berada di sana sambil ber istrahat ter masuk juga Klabang ireng yg masih dalam keadaan lemah.
" Bagai mana Ngger, apakah angger Senopati ber hasil menangkap gembong rampok gunung Tidar itu,,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Syukur kepada yg Maha kuasa Paman Tumenggung, Senggani ber hasil menangkap nya,,!'' jawab nya atas per tanyaan Tumenggung Wangsa Rana ter sebut.
" Jadi dimana sekarang ia berada dan siapa yg bersama dengan angger Senopati itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Singo Lorok ku tinggal di Prambanan, dan ini adalah Tara Rindayu putri juragan Tarya yg mereka culik dari desa Kenanga,!" jawab Raka Senggani sambil mem perkenal kan Tara Rindayu.
" Ooo, pantas ,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.
" Jadi dimana Rangga Wira Dipa, paman Tumenggung,?" ganti Raka Senggani yg ber tanya.
" Ia telah ku suruh pergi ter lebih dahulu untuk membawa para prajurit yg tewas, ia sedang menuju macanan dan mengantar kan dua orang prajurit Pajang yg berasal dari sana,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana.
__ADS_1
" Sebaik nya kita pun segera berangkat Paman, Senggani khawatir dengan Singo Lorok itu, mudah mudahan Ki Bekel Prambanan bisa membawa nya ke banjar desa," kata Raka Senggani .
" Ayo lah , mumpung masih pagi agar nanti kita tidak ke malaman di jalan sebaik nya kita memang segera berangkat,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.
Kemudian ia memerintah kan para prajurit Pajang untuk segera ber kemas dan meninggal kan tempat itu.
Sedang kan Raka Senggani segera menaik kan Tara Rindayu ke atas punggung kuda nya dan ia sendiri yg memegangi tali kekang Kuda ter sebut.
Jalan iring -iringan itu ter lihat sangat lambat sehingga ketika mentari mulai menggatal kan kulit baru lah rombongan itu sampai di banjar desa Prambanan.
Se sampai di sana mereka langsung di sambut oleh Ki Bekel Prambanan.
" Bagai mana Ki Bekel, mereka masih berada di sini kan,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Masih Kanjeng Tumenggung, mereka ber tiga kami ikat jadi satu di dalam rumah, mari Kanjeng Tumenggung untuk melihat sendiri,!" kata Ki Bekel sambil mem persilah kan Tumenggung Wangsa Rana untuk masuk.
" Angger Senopati silah kan ter lebih dahulu,!" seru Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.
Mendengar hal itu Bekel Prambanan tampak ter kejut , ia baru tahu setelah yg di sebut sebagai Senopati itu adalah Raka Senggani , pemuda yg tadi melapor kepada diri nya itu.
Raka Senggani pun masuk seraya berkata,
" Mari Paman Tumenggung, kita harus segera membawa mereka dari sini,!"
Kedua nya langsung masuk ke dalam rumah Bekel desa Prambanan itu.
Setelah di dalam mereka melihat pemimpin rampok asal Gunung Tidar dalam keadaan terikat dengan kedua orang teman nya.
" Prajurit , bawa mereka keluar, secepat nya kita berangkat dari sini, usaha kan sebelum malam kita harus sudah sampai di Pajang,,!'' kata Tumenggung Wangsa Rana.
Tiga orang prajurit masuk dan membawa keluar ketiga nya dan langsung menggelandang ketiga nya untuk ber jalan.
" Mengapa ter gesa -gesa Kanjeng Tumenggung,?'' tanya Ki Bekel.
" Kami takut ke malaman di jalan , karena sangat membahaya kan jika teman -teman mereka akan mencegat kami lagi, sementara para prajurit Pajang telah banyak yg ter luka , beruntung pada pertempuran di ujung desa Prambanan ini tidak ada yg tewas, namun semua nya ter luka,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.
" Baik lah kalau begitu, kami tidak dapat memaksa Kanjeng Tumenggung, silah kan,,!" kata Bekel Prambanan itu.
Kemudian rombongan itu pun segera meninggal kan desa Prambanan dan langsung menuju ke Pajang.
Di dalam perjalanan Raka Senggani yg berada di sebelah Tumenggung Wangsa Rana itu kemudian ber cakap -cakap.
" Bagaimana dengan luka Angger Senopati, apakah sudah sembuh,,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.
" Hehh, "
Seolah ter kejut mendapati pertanyaan itu, Raka Senggani kemudian membuka baju nya dan melihat perut nya yg kena cakaran dari Macan Baleman itu, ternyata memang sudah pulih seperti sedia kala.
" Sudah paman Tumenggung,!" jawab Raka Senggani sambil menjalan kan kuda nya per lahan.
Sementara di belakang nya ada Tara Rindayu yg di tuntun salah se orang prajurit Pajang.
" Ngger, bagaimana selanjut nya apakah se sampai di Pajang angger akan terus kembali ke Kenanga untuk mengantar kan putri Juragan Tarya itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Senggani belum tahu Paman Tumenggung, jika Kanjeng Adipati mengizin kan , memang akan terus kembali ke Kenanga, kasihan juragan Tarya itu, sudah lama juga kehilangan Tara Rindayu putri nya itu,!" jawab Raka Senggani.
" Apakah angger ber dua telah makan, tadi ,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Heehh, belum paman,belum ada sebutir makanan yg masuk ke dalam perut,!" katae Raka Senggani sambil menoleh ke belakang melihat Tara Rindayu.
__ADS_1
Di lihat nya Tara Rindayu masih tenang -tenang saja di atas punggung kuda nya.
" Sebaik nya nanti di depan jika ber temu desa , angger ber dua mencari makanan, kasihan angger Rindayu itu, mungkin karena rasa senang nya ter lepas dari cengkraman begal Gunung Tidar itu hingga melupa kan perut nya, namun nanti setelah nya baru di rasa kan lapar yg teramat sangat,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.
" Baik lah paman nanti jika ber temu warung kami akan singgah,!" kata Raka Senggani.
Memang jalanan mulai ramai saat mendekati ibukota kadipaten Pajang itu.
Desa dan padukuhan hampir ter lihat di se panjang perjalanan itu.
Hingga suatu ketika di sebuah pedukuhan yg agak ramai, Raka Senggani pamit pada Tumenggung Wangsa Rana untuk mencari makan, ia dan Tara Rindayu segera mampir ke sebuah warung yg lumayan ramai, hari pun telah menjelang sore.
" Rindayu, sebaik nya kita singgah untuk makan, sedari pagi kita belum makan, ayo turun dari kuda mu,!" ucap Raka Senggani sambil mendekati kuda Tara Rindayu.
" Sebenar nya Rindayu belum merasa lapar kakang Senggani,!" ujar Tara Rindayu.
Gadis itu akhir nya turun juga dari punggung kuda nya atas bantuan dari Raka Senggani.
Dan kedua nya masuk ke dalam warung cukup ramai itu, ter lihat kebanyakan para saudagar dan pedagang yg akan ke kota kadipaten Pajang itu.
" Mau pesan apa den,?" tanya pelayan itu kepada Raka Senggani.
" Aku pesan nasi putih dan empela ati ayam, serta minum nya air putih saja,!" jawab Raka Senggani.
" Rindayu, kau pesan apa,?'' tanya Raka Senggani kepada Tara Rindayu.
" Sama dengan kakang Senggani saja,!" jawab Tara Rindayu.
" Berarti dua nasi putih dengan lauk empela ati ayam nya,!'' jelas Raka Senggani lagi.
" Baik den, tunggu sebentar,!" kata pelayan itu.
Kemudian pelayan ter sebut kembali ke dalam.
Sejenak kedua nya menanti pesanan datang, tiba -tiba Raka Senggani men dengar ucapan dari orang -orang yg berada di sebelah nya .
" Sekarang Madiun sudah tidak aman lagi, ada seorang yg ber gelar Si topeng Iblis yg ber keliaran dan merampok rumah -rumah orang kaya yg berada di sana,,!" seorang yg ber tubuh tambun dan pendek.
" Apakah para prajurit madiun tidak sanggup menangkap nya,?" tanya seorang yg ber badan kurus dan agak tinggi.
" Sudah banyak prajurit Madiun yg tewas, bahkan seorang Tumenggung pun harus kembali dengan luka yg cukup parah, beruntung ia masih di selamat kan se seorang,!" jawab teman nya itu.
Tidak ter lalu lama pesanan yg di minta Raka Senggani pun tiba, segera kedua nya menyantap hidangan itu, sambil telinga Raka Senggani mendengar ucapan dari orang yg berada di sebelah nya.
" Bahkan saat ini , Kanjeng Adipati pun telah mengeluar kan sayembara, barang siapa yg mampu menangkap Si topeng Iblis akan di beri kedudukan di Kadipaten , kedudukan yg tinggi serta tanah palungguhan yg cukup luas,!" jelas Si Tambun lagi.
" Sudah ada yg mengikuti sayembara itu,?' tanya si Kurus kepada teman nya.
" Sudah, seorang Pendekar dari Blambangan telah mengikuti sayembara itu namun ia gagal, bahkan sebelah tangan nya putus di buat oleh Si topeng Iblis itu, saat ini Si Topeng Iblis momok yg menakut kan di daerah timur,!" jelas si Tambun.
" Siapa pula Si Topeng Iblis itu,!" pikir Raka Senggani sambil terus menguyah makanan nya.
" Jangan-jangan sebentar lagi ia merambah kemari ke kadipaten Pajang ini,!" pikir nya lagi.
Setelah selesai makan nya , nampak Raka Senggani buru membayar makanan itu dengan dua kepeng uang perak.
Kemudian kedua nya naik ke atas punggung kuda nya dan menjalan kan kuda itu agak cepat karena mereka telah ter tinggal jauh dengan rombongan Wangsa Rana yg telah lebih dahulu ber jalan.
Dan benar saja kedua orang itu meskipun memacu kuda nya agak cepat namun belum ber hasil menyusul rombongan dari Tumenggung Wangsa Rana ter sebut.
__ADS_1
" Mudah mudahan Paman Tumenggung ber henti ketika malam telah menjelang,!" kata Raka Senggani dalam hati.