Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 3 Memburu Singo Lorok bagian ke empat.


__ADS_3

Sembari menikmati wedang jahe dan pisang rebus, kemudian Rangga Wira Dipa bertanya kepada Raka Senggani,


" Ki sanak jadikan besok turut serta ke Pajang guna melaporkan para perampok itu kepada Kanjeng Adipati,?" tanya nya pada Raka Senggani.


" Jadi, meskipun tugas kami yg dimintai tolong oleh Juragan Tarya itu belum berhasil kami tunaikan, akan tetapi Senggani akan tetap ikut ke Pajang,!" jawab Raka Senggani.


" Hahh, Jadi angger Senggani dan Ki lamiran telah masuk ke dalam hutan itu guna mencari Singo Lorok,?" tanya Ki Bekel penuh ke heranan.


" Benar Ki Bekel, kami telah memeriksa hutan itu, dimana para kawanan rampok itu bersembunyi akan tetapi kami tidak menemukanya, !" jawab Raka Senggani.


" Kemana kira -kira perginya mereka itu?" tanya Ki Bekel lagi.


" Itulah yg kami tidak tahu, kemana mereka pindah, ataukah mereka kembali ke gunung Tidar atau ke tempat lain,!" kata Ki Lamiran.


" Mungkin juga mereka pergi ke Alas Mentaok, mengingat sekarang ini mentaok merupakan tempat para begal sakti berkumpul termasuk diantaranya Macan Baleman yg berhasil dikalahkan oleh Singo Abra guru dari Singo Lorok dan Singo Ireng,!" tutur dari Rangga Wira Dipa.


" Dari mana Ki Rangga tahu,?'' tanya Ki Bekel kepada Rangga Wira Dipa.


" Beberapa waktu lalu bersama Tumenggung Wangsa Rana kami mendapatkan perintah umtuk mengamankan daerah Alas Mentaok dan daerah Gunung Tidar, kami mendapati telah terjadi pertarungan antara dua kelompok begal yg tengah berebut daerah kekuasaan di alas Mentaok itu, sehingga kami, aku dan kakang Tumenggung Wangsa Rana membiarkan mereka berperang sesudahnya baru kami akan menumpas mereka, akan tetapi usaha kami gagal, karena kehebatan serta kesaktian dari Singo Abra tidak dapat kami atasi banyak prajurit Pajang yg menjadi korban, akhirnya bersama pasukan yg tersisa kami kembali ke Pajang,!" cerita Rangga Wira Dipa.


" Jadi sebenarnya kanjeng Adipati akan mengutus kakang Tumenggung Wangsa Rana kemari akan tetapi karena kesehatannya belum terlalu pulih , akhirnya tinggal aku sendirilah yg memimpin pasukan ini,!" jelas Rangga Wira Dipa lagi.


" Apakah Ki Tumenggung Wangsa Rana itu dikalahkan oleh Singo Abra itu,?" tanya Ki Lamiran.


" Demikianlah, Ki, ketika kami berusaha untuk mengepung dan menghancurkan para kawanan rampok itu tiba-tiba datanglah Singo Abra itu, ia datang membantu, kakang Tumenggung dan beberapa prajurit yg menhadapinya tidak mampu berbuat banyak sehingga membuat kakang Tumenggung terluka pada bagian dalam tubuhnya akibat dari ajian Gelap Wancal milik dari Singo Abra itu,!" kata Rangga Wira Dipa.


" Jadi bagaimana khabar selanjutnya dari Singo Abra itu, apakah masih berada di Mentaok,?" tanya Ki Bekel.


" Entahlah Ki Bekel, setelah itu kami tidak pernah kesana lagi, walaupun Kanjeng Adipati ingin menumpas komplotan dari Alas Mentaok itu tetapi Pajang masih kesulitan untuk menentukan siapa yg akan memimpin penyerangan itu,!" kata Rangga Wira Dipa lagi.


" Mengapa bisa begitu Ki Rangga, bukankah di Pajang banyak perwira yg linuwih dan memiliki kesaktian yg tinggi,!" kata Ki Bekel.


" Karena saat ini Pajang tengah mengirimkan para prajurit dan Senopati nya ke demak guna ikut berperang ke arah kulon tepatnya Sunda Kelapa,melawan bangsa asing, !" jawab Rangga Wira Dipa.


" Ooo, begitu, " kata Ki Bekel.


Ki Lamiran dan Raka Senggani hanya mendengarkan saja cerita dari Rangga Wira Dipa itu.


Keduanya tertarik mendengar cerita dari Rangga Wira Dipa itu tentang kesaktian dari Guru Singo Lorok, apa jadinya jika mereka bertiga berkumpul jadi satu, kadipaten sebesar Pajang pun ternyata kesulitan untuk mengatasinya apalagi dengan desa Kenanga yg tidak mempunyai pasukan prajurit.


" Kenapa Ki Lamiran,?" tanya Rangga Wira Dipa kepada Ki Lamiran.


Karena nampaknya pande besi dari desa Kenanga itu ingin bertanya.


" Bukan Ki Rangga, sedangkan Pajang yg memiliki banyak prajurit saja kesulitan menghadapi begal alas Mentaok itu , apa lagi kami yg ada di desa Kenanga ini,tidak memilki seorang prajuritpun untuk menghadapi mereka tentu merupakan sesuatu yg mustahil untuk mengalahkan mereka,!" sebut Ki Lamiran itu.


" Akan tetapi keberhasilan kalian menahan mereka itu merupakan usaha yg sangat -sangat baik, kami telah mengira kedatangan kami hanya tinggal melihat para mayat bergelimpangan saja, karena memang kami terlambat mendapat kan berita dari Demak itu dan Kanjeng Adipati pun sangat sulit untuk mengirimkan pasukan , dikhawatirkan Pajang mengalami ke kosongan, itulah penyebab keterlambatan kami, Ki Bekel dan Ki Lamiran, jadi atas pemerintahan Kadipaten Pajang kami mohon maaf,!" kata Rangga Wira Dipa.


" Memang kami pun tidak menyangka mampu menahan mereka meskipun banyak korban yg jatuh dari para warga bahkan putra Demang Muncar pun telah ikut jadi korban, akan tetapi mereka tidak bisa semena -mena merampok dan menguasai harta kekayaan dari Kenanga ini, semua ini berkat dari Angger Senggani, memang yg Maha kuasa memberikan bantuannya tepat pada saat yg dibutuhkan,!" kata Ki Bekel.


" Sebenarnya ini adalah usaha kita semua, kalaupun ada bantuan dari Sengganj itu hanya sebahagian kecil saja Ki Bekel, memang yg Maha kuasa masih berkenan melindungi kita dari nafsu serakah para rampok Alas Mentaok dan Gunung Tidar itu,!" ucap Raka Senggani.


Sampai malam menjelang pagi ke empat orang itu masih mengobrol sampai terjadi pertukaran jaga prajurit Pajang barulah ketiganya mengistrahatkan tubuhnya, terutama bagi Ki Lamiran yg terlihat mulai agak sepuh itu dengan cepat ia pun terlelap.


Di pagi harinya selepas shubuh, para prajurit Pajang itu telah bersiap menggiring rampok yg telah tertangkap itu, sebenarnya para warga desa Kenanga tidak rela kawanan rampok asal dari Mentaok dan Gunung Tidar itu di bawa pergi ke Pajang mereka menginginkan , mereka semua itu di hukum saja di Kenanga, terutama bagi para keluarganya yg tewas.


Oleh sebab itu Rangga Wira Dipa segera berangkat sebelum para warga desa Kenanga telah terbangun semua, jadi kesulitan untuk membawa para tawanan itu tidak terlalu parah.


Raka Senggani telah siap di atas punggung kudanya yg tegar hadiah pemberian dari Putra Tumenggung Bahu Reksa yaitu Lintang Sandika.

__ADS_1


Terlihat gagah pemuda itu duduk diatasnya, ketika pasukan Pajang itu mulai ber gerak, terlihatlah Sari Kemuning tengah berlari membawa bungkusan,


" Kang, Kakang Senggani ini bekal untuk mu di jalan, hati -hati di jalan,!" ucap Sari Kemuning setelah memberikan bungkusan itu


" Terima kasih Kemuning, mudah mudahan tidak ada aral di jalan dan kakang cepat segera kembali,!" ucap Raka Senggani menerima pemberian dari Sari Kemuning itu.


" Kami berangkat Ki Bekel , jika ada sesuatu yg mencurigakan segeralah melapor ke Pajang,!" kata Rangga Wira Dipa.


Iring -iringan itu segera bergerak meninggalkan desa Kenanga, ketika melintasi para warga desa yg hendak pergi ke sawah, para tawanan banyak mendapatkan cacian dan makian.


Bahkan tak jarang ada juga yg melemparinya dengan batu atau apa saja yg ada di tangan mereka.


Rangga Wira Dipa mengangkat tangan nya supaya para warga desa tidak melakukannya.


Perjalanan itu terlihat sangat lambat karena para tawanan yg diikat secara panjang itu nampak lambat berjalan nya, selain kelelahan mereka juga telah ada yg terluka.


Sehingga perjalanan menuju Kadipaten Pajang yg biasanya di tempuh setengah hari, kali ini nampaknya lebih.


Hanya sekali saja iring -iringan itu beristrahat ketika matahari telah tepat di atas kepala selanjutnya mereka berjalan lagi.


Baru tengah malam iring -iringan itu sampai di kota Pajang.


Para penjaga pintu gerbang kota kadipaten Pajang heran melihat pasukan prajurit Pajang banyak membawa para tawanan.


" Siapa mereka itu Ki Rangga,?" tanya prajurit jaga pintu gerbang kepada Rangga Wira Dipa.


" Para rampok alas Mentaok dan Gunung Tidar,!" jawab Rangga Wira Dipa.


" Cukup banyak , Ki Rangga,!" seru prajurit itu lagi.


" Yah, cukup banyak memang, mereka telah menjalankan aksinya di desa Kenanga dan berhasil ditangkap oleh para warga desa Kenanga itu,!" jelas Rangga Wira Dipa lagi.


Mulai saat itu , desa Kenanga menjadi buah bibir bagi rakyat Pajang akan keberaniannya melawan para perampok.


Setelah para tawanan itu dimasukkan ke dalam kurungan, maka Rangga Wira Dipa langsung malam itu juga memberi laporan kepada Tumenggung Wangsa Rana dan diikuti oleh Raka Senggani.


" Maafkan Aku Kakang Tumenggung, mengganggu malam -malam begini,!" ucap Rangga Wira Dipa kepada Tumenggung Wangsa Rana.


" Hehh, ada apa adi Wira Dipa,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Begini Kakang Tumenggung, kami telah berhasil membawa para tawanan dari desa Kenanga yg telah tertangkap di sana , dan ini adalah salah seorang utusan dari desa Kenanga itu namanya Raka Senggani, silahkan Ki sanak menyampaikan laporan selengkapnya kepada kakang Tumenggung Wangsa Rana ini,!" kata Rangga Wira Dipa kepada Raka Senggani.


Pemuda itu kemudian menjelaskan duduk perkaranya tentang kehadiran dan perseteruan dengan para kawanan rampok itu hingga akhirnya mereka tertangkap meskipun ada juga yg lolos melarikan diri.


Setelah mendengar penjelasan dari Raka Senggani itu maka Tumenggung Wangsa Rana pun nampak tersenyum bahagia,


" Suatu berita yg menggembirakan sekaligus mengejutkan, desa sekecil Kenanga mampu menewaskan Singo Ireng, gembong rampok alas Mentaok itu, jika Kanjeng Gusti Adipati mendengar hal ini tentu ia akan sangat -sangat senang sekali,!" kata Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Besok pagi sebelum matahari menggatalkan kulit, angger,...., siapa tadi namanya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana itu kepada Raka Senggani.


" Raka Senggani,!" jawab Raka Senggani.


" Yahh, angger Senggani, kita akan menghadap Kanjeng Adipati di dalam biliknya, jadi karena ini telah larut malam maka segeralah angger Senggani beristraha supaya besok tidak kesiangan, oh ya Wira Dipa, biar lah angger Senggani ini berada di sini dan engkau bisa kembali ke barakmu,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik kakang Tumenggung, aku mohon pamit,!" ucap Rangga Wira Dipa.


" Jangan lupa besok engkau pun harus ikut menghadap Kanjeng Adipati,!" seru Tumenggung Wangsa Rana itu


Kemudian Rangga Wira Dipa itu kembali ke tempatnya dan meninggalkan Raka Senggani di rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.

__ADS_1


Dan Raka Senggani pun langsung beristrahat seperti pesan Tumenggung Wangsa Rana itu.


Ke esokan paginya setelah shubuh Raka Senggani pun keluar dari rumah Tumenggung Wangsa Rana itu hanya sekedar menggerakkan otot ototnya , melakukan latihan -latihan kecil.


Sehingga kegiatan Raka Senggani itu terlihat oleh Tumenggung Wangsa Rana.


" Hebat, hebat, meskipun telah melakukan perjalanan yg cukup melelah kan akan tetapi angger Senggani masih dapat melakukan latihan sepagi ini,!" sapa Tumenggung Wangsa Rana.


" Memang sudah demikian kebiasaan ku, Kanjeng Tumenggung!" jawab Raka Senggani.


" Marilah angger Senggani kita sarapan terlebih dahulu, biar nanti saat menghadap Kanjeng Adipati perut kita tidak terlalu lapar, siapa tahu kita akan lama di sana,!" ajak Tumenggung Wangsa Rana.


Kedua orang itu pun langsung menikmati sarapan yg telah di sedia kan oleh para pembantu Tumenggung Wangsa Rana.


Ketika matahari mulai naik, maka Rangga Wira Dipa pun telah berada di rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.


Dan ketiganya langsung masuk ke dalam Keraton Pajang itu.


Setelah melapor kepada pelayan dalam istana akhirnya Tumenggung Wangsa Rana di terima oleh Adipati Pajang di dalam biliknya, tepatnya di dekat taman istana.


" Ada apa adi Tumenggung datang sepagi ini adakah perihal penting,?" tanya Adipati Pajang kepada Tumenggung Wangsa Rana.


" Benar sekali Kanjeng Adipati, ini ada berita penting yg akan hamba sampai kan,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Gerangan apakah itu, adi Tumenggung,,?" tanya Adipati Pajang yg sudah terlihat sepuh itu.


" Begini, Kanjeng Adipati, salah seorang rampok dari Alas Mentaok itu telah tewas di tangan warga desa Kenanga, dan inilah orangnya yg telah membunuh Singo Ireng itu, gembong rampok alas Mentaok itu, Kanjeng Adipati,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Benarkah demikian yg telah diucap kan oleh Tumenggung Wangsa Rana itu anak muda,?" tanya Adipati Pajang kepada Raka Senggani.


" Demikianlah kiranya Kanjeng Gusti Adipati, memang Singo Ireng telah tewas di tangan hamba,!" jawab Raka Senggani.


" Apakah engkau yg telah melapor ke kotaraja Demak itu,guna meminta bantuan dari sana ,?" tanya Adipati Pajang lagi.


" Benar Kanjeng Gusti Adipati, hamba lah yg telah melaporkan hal ini ke kotaraja Demak dan di terima oleh Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa,!" jawab Raka Senggani lagi.


" Kalau begitu, engkau pasti memiliki bukti akan hal itu,?" tanya Adipati Pajang lagi.


Raka Senggani tampak bingung akan pertanyaan dari Adipati Pajang itu, apakah Adipati Pajang ini tidak meyakininya , bahwa dialah yg telah melapor ke kotaraja Demak.


" Begini anak muda biasanya Tumenggung Bahu Reksa memberikan sesuatu kepada seseorang yg di yakini nya mampu untuk melaksana kan tugas, semacam lencana atau apa ah itu,!" jelas Adipati Pajang lagi.


Barulah Raka Senggani memahami pertanyaan dari Adipati Pajang itu.


Kemudian ia merogoh dari balik baju nya dan mengambil sebuah lencana keprajuritan yg diberikan oleh Tumenggung Bahu Reksa.


Kemudian lencana itu diberikannya kepada Adipati Pajang.


Sang Adipati memperhatikan dengan seksama lencana itu kemudian menyerahkan kembali kepada Raka Senggani.


" Memang Tumenggung Bahu Reksa itu tahu saja barang bagus , dengan cepat ia membajak kawula Pajang untuk menjadi prajurit nya,!" gumam Adipati Pajang.


" Maksud Kanjeng Adipati, Angger Senggani telah di angkat oleh kakang Bahu Reksa sebagai prajurit Demak, begitu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Cobalah kau tanyakan sendiri kepada nya,!" kata Adipati Pajang menunjuk kepada Raka Senggani.


" Demikiankah angger Senggani, apakah dirimu telah diangkat sebagai prajurit oleh kakang Bahu Reksa,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Menurut Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa, hamba di angkat tidak resmi sebagai prajurit sandi dari Kotaraja Demak, dalam arti hamba tidak harus melakukan seperti para prajurit lakukan yg semestinya, hamba di angkat sebagai prajurit sandi saja, !" jawab Raka Senggani.

__ADS_1


" Memang keterlaluan kakang Tumenggung Bahu Reksa itu, padahal Angger Senggani ini adalah kawula Pajang,!" gerutu Tumenggung Wangsa Rana.


__ADS_2