Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag ke empat.


__ADS_3

Raka Senggani segera menjalani laku guna memulihkan seluruh ilmu nya yg sempat menghilang, ia merasa tenang sekarang karena ucapan dari Panembahan Lawu yg sangat sareh menasehati nya.


Sementara itu di Kotaraja Demak sendiri, Pangeran Sabrang Lor tengah memanggil para pejabat keraton, ia akan segera mengumumkan keberangkatan pasukan nya ke Lor itu.


Diantara yg hadir ada pula Tumennggung Bahu Reksa. Sebagai seorang Pejabat tinggi kerajaan Demak dan orang Kepercayaan dari Pangeran Sabrang Lor juga Sultan Demak sendiri, Tumenggung Bahu Reksa menjadi pilihan diantara banyak nya pejabat istana Demak.


Pangeran Sabrang Lor mengatakan kepada para pejabat istana itu untuk segera mempersiapkan segala sesuatu nya.


Bahkan untuk urusan perbekalan Pangeran Sabrang Lor amat memperhatikan nya. Tumenggung Angga Yudha sebagai orang yg bertanggung jawab menyatakan kesiapan nya.


Bahkan Tumenggung Angga Yudha menyebutkan jika hari ini armada Demak di berangkatkan , perbekalan pun siap untuk di bawa.


Tidak lupa pula Tumennggung Angga Yudha menanyakan kapan keberangkatan pasukan tersebut. Dan oleh Pangeran Sabrang Lor dijawab bahwa keberangakatan dari Armada Demak itu setelah selesai nya Kapal Jung miliknya yg lagi dalam tahap penyelesaian akhir dan kemungkinan selesainya tidak lebih dari dua purnama lagi.


Jadi menurut Pangeran Sabrang Lor ,pasukan yg akan berangkat itu tidak akan lebih dari dua purnama lagi.


Orang -orang yg ada di situ berbisik bisik setelah mendengarkan ucapan dari Kanjeng Adipati Unus itu.


Waktu yg dua purnama itu menurut mereka adalah waktu yg sangat singkat apalagi dalam hal ini banyak persiapan yg masih belum selesai, diantara yg agak kebingungan adalah Tumenggung Bahu Reksa, ia teringat akan keadaan Anak angkatnya, Raka Senggani masih dalam keadaan belum pulih dari keadaan nya.


Tumenggung Bahu Reksa berharap banyak dari anak angkatnya itu, terkhusus untuk memimpin pasukan dari Pajang.


Karena Armada Demak kali ini memang akan membawa pasukan yg cukup banyak dengan jumlah kapal perang yg akan di turunkan berjumlah ratusan.


Sehingga tiap -tiap Kapal itu akan diisi dengan prajurit yg jumlahnya mencapai ratusan bahkan ribuan orang.


Memang Armada Demak pada keberangkatan kali ini akan di bantu oleh Kerajaan Kacirebonan. Juga armada dari Palembang. Tetapi Demak sendiri akan turun dengan kekuatan penuh. Itu sama artinya seluruh wilayah yg ada di bawah kekuasaan dari Kerajaan itu akan ikut pula di terjunkan termasuk dengan Kadipaten Pajang.


Sedangkan saat ini salah satu Senopati nya masih dalam keadaan yg belum siap, tentunya akan mengurangi rasa kepercayaan diri dari pasukan yg akan berangkat dari Pajang itu.


Tumenggung Bahu Reksa memberanikan diri menanyakan hal itu kepada Pangeran Sabrang Lor.


" Kanjeng Pangeran , apakah waktu keberangkatan itu memang sudah tidak dapat di tunda lagi,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


Pangeran Sabrang Lor menatap tajam ke arah Tumenggung Bahu Reksa. Ia memang sangat percaya akan kelebihan salah seorang bawahan nya itu yaitu Tumenggung Bahu Reksa.


Karena saat penyerangan pertama jika ia tidak mendengar nasehat dari nya tentu seluruh pasukan yg di berangkatkan itu pulang tinggal nama saja.


" Apa maksud ucapan dari Kakang Tumenggung itu,?" tanya Pangeran Sabrang Lor balik.


Tumenggung Bahu Reksa jadi serba salah untuk menjawab pertanyaan dari Junjungan nya itu, ia merasa ada yg salah dengan ucapan nya tadi, tidak seharusnya seorang prajurit mempertanyakan sesuatu yg telah di putuskan oleh Junjungan nya itu.


Tetapi kalau untuk kebaikan , kan tidak ada salahnya, karena yg akan berangkat itu adalah anak manusia, bukan merupakan hewan atau binatang , begitulah pikir dari Tumenggung Bahu Reksa.


Ia kemudian menjawab pertanyaan dari Pangeran Sabrang Lor tersebut,


" Maksud hamba adalah apakah memang kesiapan dari seluruh pasukan memang sudah layak untuk di berangkatkan, apa tidak terlalu tergesa -gesa,?" ucap nya.


Sambil melangkah satu -satu Pangeran Sabrang Lor memandangi satu persatu para bawahan nya itu.


" Untuk itulah kalian semua Aku hadirkan di tempat ini, karena jika memang ada yg belum siap atau masih ada yg kurang kalian sebutkan , jadi kita dapat memecahkan permasalahan nya, disini," ungkap Adipati Unus yg bergelar Pangeran Sabrang Lor itu.


Tumenggung Bahu Reksa langsung menyahut atas ucapan nya itu,


" Ampunkan hamba sebelum nya Kanjeng Pangeran, bahwa pasukan yg akan berangkat kali ini dalam jumlah yg sangat besar, tentunya kita harus mempersiapkan nya semua disini atau di Jepara, namun sampai saat ini belum ada pasukan dari wilayah bawahan yg ada disini,!" terang Tumenggung Bahu Reksa.

__ADS_1


Orang -orang yg ada disitu membenarkan ucapan dari Tumenggung Bahu Reksa tersebut. Mereka memang belum melihat adanya pasukan dari wilayah bawahan.


Tidak adanya kedatangan dari wilayah bawahan itu tentu akan mempersulit pengerahan keberangkatan pasukan tersebut.


Dan dalam hal ini, Pangeran Sabrang Lor seperti ditohok langsung, karena ia tidak memperhitungkan hal itu.


Jika ia menempatkan semua pasukan tersebut di Kotaraja Demak tentunya akan membuat kesulitan tersendiri di situ dan jika harus membaginya , wilayah mana yg cocok .


Salah seorang Tumenggung Wreda yg bernama Tumenggung Jaya Kusuma memberikan pendapatnya agar secepatnya membagi pasukan di dua tempat,


Kotaraja Demak dan kota Jepara , cocok untuk penempatan pasukan itu.


Sehingga akan lebih mudah menggerakkan nya jika nanti akan berangkat.


Sedangkan Tumenggung Bahu Reksa menyarankan untuk segera mengundang datang para pasukan yg dari wilayah -wilayah bawahan diantara nya , dari Pajang , Jipang , Matahun bahkan beberapa wilayah lainnya seperti Pati.


Ia berharap jika dalam waktu yg kurang dari dua purnama itu seluruh nya telah dapat hadir di tempat yg telah di tentukan itu. Dan tidak akan ada benturan dari kelompok -kelompok prajurit yg berbeda tersebut.


Tumenggung Bahu Reksa juga menambahkan lagi, agar adanya prajurit sandi yg dapat jadi penghubung dengan kesultanan Kacirebonan juga wilayah Palembang sehingga saat melakukan penyerangan akan dapat bersatu dalam mengusir bangsa asing itu dari Tanah Melayu dan Sunda Kelapa.


Masih menurut Tumenggung Bahu Reksa dan Tumenggung Jaya Kusuma, persiapan yg sangat baik akan menentukan hasil yg akan di dapat.


Apalagi saat ini, Demak memang dalam kekuatan penuh untuk mampu mengusir penjajah itu.


Sehingga persiapan yg terburu -buru dan kurang perencanaan akan membuat gagal penyerangan tersebut.


Dan ditambahkan pula dari Tumenggung Bahu Reksa, salah seorang Senopati dari Pajang saat ini masih dalam keadaan yg kurang baik dan tentunya akan mengganggu kemampuan dari Pasukan Pajang yg akan di kirim itu , belum lagi pasukan dari daerah Matahun ,Jipang , Pati, dan yg lainnya. Karena belum ada laporan dari mereka, hingga kesiapan pasukan yg ada di Demak itu belum pun sepenuhnya rampung.


Akhirnya Pangeran Sabrang Lor menerima semua usulan dari para bawahan nya itu, ia pun memundurkan jadwal penyerangan ke Lor tersebut sampai semua pasukan dapat berkumpul di Kotaraja Demak dan Kota Jepara.


Selesai pertemuan itu, secara khusus Pangeran Sabrang Lor memanggil Tumenggung Bahu Reksa dan Tumenggung Jaya Kusuma untuk datang ke kediaman nya.


Di kediaman nya Pangeran Sabrang Lor langsung mengucapkan terima kasih kepada keduanya.


Ia juga menanyakan mengenai dengan ucapan Tumenggung Bahu Reksa tentang Pajang atau tepatnya pemimpin pasukan Pajang itu.


Tumenggung Bahu Reksa kemudian menceritakan keadaan Senopati Brastha Abipraya yg telah mengalami gangguan akibat telah di curangi oleh penguasa Gunung Merapi, yaitu Mpu Loh Brangsang.


Pangeran Sabrang Lor terkejut mendengar nya, ia tidak menyangka bahwa pemuda teman putra -putranya itu terlebih Raden Abdullah Wangsa yg sangat menyukai Senopati Pajang tersebut.


Padahal sebenarnya ia masih ingin melihat Senopati Brastha Abipraya datang ke Kotaraja Demak untuk jadi lawan tanding dari putra -putranya itu.


Oleh sebab itulah Tumenggung Bahu Reksa meminta kepadanya untuk menunda dahulu penyerbuan ke Lor itu sampai semuanya lengkap. Membuat kekuatan pasukan Demak sudah benar -benar siap.


Pangeran Sabrang Lor memang memiliki semangat yg tinggi untuk segera melakukan penyerbuan, tetapi terkadang melupakan beberapa hal yg agak sepele. Jadi hasilnya tentu akan kurang memuaskan seperti saat penyerangan pertama, hampir seluruh pasukan tewas di medan perang, beruntung beberapa Senopati yg mengawal nya menyarankan untuk kembali meski Kapal Jung yg di tumpangi oleh Pangeran Sabrang Lor itu tidak mampu di hancurkan oleh pasukan musuh, tetapi lebih duapertiga kapal perang Demak karam di laut akibat di hancurkan oleh musuh.


Jadi kali ini Pangeran Sabrang Lor pun mempercayai semua ucapan dari bawahan nya itu. Untuk menunda beberapa saat guna lebih matang lagi persiapan nya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sementara itu di Kademangan Kedawung, kedekatan dari Jati Andara dengan Kembang Kedawung membuat para pemuda yg mengagumi kecantikan dari Savitri itu menjadi iri, dan tersebutlah seorang pemuda yg baru kembali dari daerah Timur.


Ia seorang pemuda yg cukup terpandang di Kademangan Kedawung, termasuk memiliki harta yg lumayan banyak dan orang tuanya pun masih di segani oleh Ki Demang Kedawung sendiri.


Ia bernama Garwita. Putra dari Ki Sangakeling itu berteman dengan Gandhik , pemimpin pengawal Kademangan Kedawung.

__ADS_1


Suatu hari Garwita menyampaikan perasaan nya itu kepada temannya tersebut.


" Oh iya, Dhik, apakah kalian tidak merasa aneh dengan sikap dari Si Andara itu, sepertinya ia merasa dirinya seorang sajalah yg sakti di dunia ini," ungkap nya.


Gandhik yg mengerti dan memahami sikap temannya itu hanya tersenyum saja menanggapi nya.


Garwita yg merasa ucapan nya di acuhkan oleh Gandhik segera menyambung ucapannya lagi,


" Apakah memang jiwa para pemuda di Kedawung ini sekecil menir sekarang setelah kutinggalkan beberapa lama, bisa -bisanya ada orang lain yg menjadi penguasa disini tanpa ada yg berani menentang nya, bahkan saat ini ia telah berhasil memikat hati Ki Demang sekeluarga termasuk anaknya itu, Hehh,"


Garwita sampai kan tangan nya , dan mondar mandir berjalan di dekat Gandhik.


Sementara Pemimpin pengawal dari Kademangan Kedawung itu segera menyahutinya,


" Mungkin dirimu baru tiba disini beberapa hari saja, dan tidak mengetahui duduk permasalahan nya mengapa keluarga Ki Demang dekat dengan Jati Andara tersebut," ucap Gandhik.


Garwita berhenti dan memandangi wajah temannya itu dan berkata,


" Memangnya apa yg telah di lakukan nya dengan keluarga Ki Demang itu,?" tanya Garwita dengan nada keras.


Gandhik kemudian menjawab pertanyaan itu,


" Empat orang termasuk Jati Andara itulah yg telah menyelamtkan putri Ki Demang dari tangan Ki Jarong yg ada di Gunung Pandan itu, sehingga Ki Demang amat berhutang kepada mereka bahkan ia memang berniat menjodohkan Savitrj dengan Jati Andara," jelas Gandhik.


" Hahhh, benarkah ucapanmu itu Dhik,?" tanya Garwita terkejut.


" Iya, memang Ki Demang berharap dapat berbesan dengan Bekel desa Kenanga itu, ia sangat menyukai Jati Andara yg selain tampan juga bersikap sangat santun," kata Gandhik lagi.


" Santun darimana, karena ia memang ada maksud dengan putri Ki Demang itu ,hingga membuat nya harus bersikap demikian, namun aku masih ingin menjajal kemampuan nya apakah memang ia itu pantas menjadi menantu dari Ki Demang itu," serunya.


" Hehh, urungkanlah niatmu itu Wita, nanti kau akan menyesal, sebab mereka itu memang memiliki kemampuan yg cukup tinggi dalam hal ilmu silatnya," jelas Gandhik


" Kau jangan anggap remeh diriku , Dhik, kalian pikir aku ini seperti kalian yg tidak memiliki nyali, menghadapi dua orang saja kalian tidak mampu," ucap Garwita.


Ia memang berniat ingin menjajal kemampuan dari Jati Andara karena menurut nya pemuda desa Kenanga itu belum pantas ada di Kedawung apalagi dekat dengan Kembang Kedawung itu.


Sementara Gandhik tidak henti -henti nya menyarankan untuk tidak melakukan nya karena itu adalah merupakan perbuatan sia -sia, jika teman itu memang memiliki kemampuan ilmu silat lebih baik ia memberikan pengajaran kepada teman -teman nya agar Kademangan Kedawung semakin kuat .


Tetapi Garwita tidak menggubrisnya, ia tetap bersikukuh akan melakukan hal itu agar dapat memberi pelajaran kepada pemuda desa Kenanga yg bernama Jati Andara.


Akhirnya kedua orang yg telah berteman sejak kecil itu berpisah, dan Garwita langsung kembali ke rumahnya, ia akan mempersiapkan rencana nya untuk menjajal kemampuan dari Jati Andara.


Ia segera mengambil sebuah pedang yg berada tergantung di dinding rumahnya.


Di cabut nya pedangnya itu, dan terlihatlah sebuah pedang yg bermata dua dan cukup tajam.


Hehh, ia belum merasakan ketajaman pedangku ini, nant jika telah berhasil menyentuh kulitnya barulah ia tahu siapa Garwita sesungguhnya, kata pemuda itu dalam hati.


Setelah memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya, Garwita segera berlalu dari situ, ia meninggalkan rumah nya itu dan menuju ke sebuah tikungan jalan yg jadi batas antara Desa Kenanga dengan Kademangan Kedawung.


Dalam hatinya memang berjanji akan menjajal kemampuan pemuda itu.


Ia memang mendengar ucapan dari temannya Gandhik bahwa dua orang pemuda desa Kenanga itu akan lewat di jalan tersebut menjelang malam guna memberikan pelatihan kepada pemuda Kademangan Kedawung.


Garwita pun memang menunggu nya di situ guna menuntaskan rasa penasaran nya kepada Jati Andara.

__ADS_1


Sebenarnya ia membenci Putra Ki Bekel itu karena kedekatan pemuda itu dengan Kembang Kedawung, Savitri, jadi Garwita cenderung melupakan Japra Witangsa, yg memang selalu berdua datang ke Kademangan itu.


__ADS_2