Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 16 KEHILANGAN. bag ketiga.


__ADS_3

Ki Bekel menyiapkan santap malam terhadap ketiga anak muda desa Kenanga tersebut.


ia sampai memotong tiga ekor ayam yg cukup besar.


Dan pada malam itupun ketiganya dengan lahap menyantap makanan itu.


Terutamanya Raka Senggani,..ia sampai nambah makannya.


Dan melihat hal itu Ki Bekel sampai senyam senyum,


" Apakah enak makanan nya,..nak Sangga,..?" tanya Ki Bekel.


" Enak,..enak..sangat enak Ki Bekel,.. sangat sesuai dengan seleraku,..tahu saja Nyi Bekel masak makanan ini,.." sahut Raka Senggani.


Sedangkan Japra Witangsa dan Dewi Dwarani pun mengakui makanan itu cukup lezat seperti yg telah dikatakan oleh Raka Senggani tadi.


" Bagaimana dengan kalian,....nak Witangsa dan nak Rani,..?" tanya Ki Bekel kepada keduanya.


" Enak,..Ki Bekel,..seperti yg dikatakan oleh kakang Sangga,.." jawab Dewi Dwarani.


Sedangkan Japra Witangsa hanya mengangguk saja,..namun tetap saja ia terus menyuapi mulutnya.


" Syukur lah,..silahkan nambah lagi makanan nya,.." seru Ki Bekel lagi.


Semua yg ada di tempat itu segera menghabiskan makanan nya.


Setelah selesai barulah mereka mengaso,.duduk kembali di pendopo rumah Ki Bekel itu.


Namun Raka Senggani segera mengatakan kepada Japra Witangsa dan Dewi Dwarani agar secepatnya ke warung Nyi Warsem.


Oleh Ki Bekel di cegah,..


" Nantilah dahulu nak Sangga,.. makanan belum pun turun mereka sudah harus pergi,.." ucap Ki Bekel.


" Tetapi Ki ,..kita tidak boleh kecolongan,..jika orang itu telah bergerak dan melakukan perbuatan nya itu lagi,..akan sulit untuk ditemukan lagi,.. sepertinya malam ini orang itu akan melakukan nya lagi,.." jelas Raka Senggani.


Japra Witangsa dan Dewi Dwarani paham maksud dsri temannya itu.


" Tidak apa -apa Ki Bekel,..kami akan segera berangkat agar tidak kecolongan dengan orang itu,.." sahut Putra Ki Jagabaya itu.


Ia dan Dewi Dwarani kemudian beranjak dari rumah Ki Bekel dan langsung turun ke halaman,..langkah mereka diikuti oleh Raka Senggani.


" Kakang Witangsa dan adi Rani,..ambil ini.." ucap Raka Senggani.


Senopati Pajang itu memberikan sesuatu benda yg ada ditangan nya kepada kedua orang itu.


" Apa ini kakang Senggani,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Ini adalah daun kelor ,.. pergunakan daun ini untuk dapat melihat orang itu ," jawab Raka Senggani.


" Bagaimana cara nya,..adi Senggani,..?" tanya Japra Witangsa.


" Usapkan daun ini pada mata kalian,..jika memang kalian telah mampu melihatnya,..lemparkanlah sisa daun ini pada orang itu,..ingat usahakan agar mengenai tubuh nya,.." jelas Raka Senggani.


Kemudian Raka Senggani melanjutkan penjelasan nya lagi,


" Jika kalian berdua merasa terdesak atau kehilangan orang itu segera hubungi Senggani,.. secepatnya,..agar ia tidak dapat lolos lagi,..dan kita dapat segera kembali ke Kenanga,.." ucap Raka Senggani.


" Baik,..kami berdua akan mengingat pesan Kakang Senggani itu,..mari kakang Witangsa kita segera ke warung Nyi Warsem itu,.." kata Dewj Dwarani.


Ia mengajak putra Ki Jagabaya itu untuk segera berangkat.


Setelah kepergian keduanya Raka Senggani kembali lagi ke dalam rumah Ki Bekel.


" Ki Bekel,..apakah para pengawal Pedukuhan telah siap,..?" tanya nya kepada Ki Bekel.


" Sudah,..nak Sangga, ..tadi sebelum malam mereka telah berada di tempat yg nak Sangga beritahukan itu,.." jawab Ki Bekel.


" Dan Bagaimana dengan pos perondan.. apakah malam ini di kosongkan,. ?" tanya senopati Pajang itu lagi.


" Tidak nak Sangga,..karena melihat semangat kalian bertiga,.. banyak warga Pedukuhan yg merasa terpanggil untuk turut berjaga,..sehingga mereka lah yg bertuugas di pos perondan itu,..". jawab Ki Bekel.


" Baguslah .kalau begitu,...Ki Bekel,.. Sangga mohon pamit,.." ucap Raka Senggani.


" Silahkan nak Sangga,.semoga usaha kita malam ini membuahkan hasil,.." sahut Ki Bekel.


" Mudah-mudahan Ki Bekel,.." jawab Raka Senggani.


Sang Senopati itu kemudian meningglkan rumah Ki Bekel itu,..ia berjalan arah ke barat yg ditujunya adalah rumah Ki Wanacara Sangkan,.yg menurut Ki Bekel dan pemilik warung itu sering menampung orang untuk menginap di rumahnya.


Kecurigaan Senopati Pajang itu di karenakan orang -orang yg malam tadi telah mendatangi mereka di warung itu ada di sana.


Dengan cepat pemuda itu menuju ke sebuah rumah yg agak besar yg ada di Pedukuhan itu,.selain rumah Ki Bekel sendiri tentunya.


Seperti tidak menginjak tanah lagi Raka Senggani melesat cepat mendatangi tempat itu.


Setelah cukup dekat dengan rumah itu Senopati Pajang itu berusaha mencari tempat yg tepat untuk mengintai ke dalam.

__ADS_1


He,..itu ada sebuah pohon sawo yg cukup rindang daun nya dan tidak terlalu jauh dari rumah itu,..aku harus memanjat pohon itu,..pikir Raka Senggani.


" Hufffh,.."


Sekali lesatan saja ia telah melewati pagar yg cukup tinggi dan hinggap di atas sebuah ranting di pohon sawo tersebut. Ia mengedarkan pandanganya melihat rumah orang yg di curigai nya itu.


Pandangan matanya segera menatap pada sosok dua orang yg baru keluar dari dalam rumah tersebut.


Bukankah orang itu adalah yg telah datang ke warung malam kemarin,.. katanya dalam hati.


Sebenarnya ia tidak terlalu terkejut melihat kedua orang yg kemarin malam telah dibuatnya lari tunggang langgang karena ketakutan itu.


Tetapi yg membuat nya bertanya -tanya,.. kemana tujuan mereka itu,.tampaknya kedua orang tersebut memang berjalan mengarah ke warung dimana Japra Witangsa dan Dewi Dwarani berada.


Raka Senggani segera mengatakan kepada kedua orang temannya itu melalui aji pameling nya bahwa dua orang yg kemarin malam telah menyatroni mereka di warung itu telah datang lagi,..ia berpesan agar Japra Witangsa dan Dewi Dwarani dapat memberi pelajaran untuk keduanya.


Mendengar hal itu baik Japra Witangsa dan Dewi Dwarani yg masih berada di dalam wsrung segera bersiap.


Keduanya tidak lagi berada di dalam melainkan keluar untuk menyambut kedatangan dua orang tersebut.


Kembali pada Raka Senggani yg tengah mengintai rumah Ki Wanacara Sangkan itu,..hatinya agak gelisah,..karena tidak ada keanehan yg terjadi pada rumah tersebut. Ia merasa sebaiknya meninggalkan tempat itu untuk mengikuti kedua orang itu.


Apa mungkin kedua orang itu yg melakukan pembunuhan hewan ternak para warga Pedukuhan ini,..tanya nya dalam hati.


Rasanya tidak mungkin,.kalau memang mereka mengapa saat dan waktunya bertepatan,.. ditambah lagi mereka berdua sangat ketakutan ketika telah berhasil kukerjai,..tentu bukan mereka,..tetapi siapa,..tanyanya lagi dalam hati.


Disaat wayah sepi bocah,..ketika dirinya mulai gelisah berada diatas pohon sawo tersebut,..tiba -tiba saja indera penciuman nya yg sangat tajam mencium sesuatu yg tidak biasa.


Hehh,..bukankah ini adalah bau asap dupa,..katanya dalam hati.


Senopati Pajang itu mulai meraba ada yg aneh di dalam rumah yg cukup besar itu.


Apakah pemilik rumah ini pelakunya,..aku harus lebih mendekat lagi agar dapat memastikannya,..serunya lagi dalam hati.


Tetapi ia juga menyadari jika si pemilik rumah tersebut adalah pelakunya berarti ia memiliki ilmu yg sangat tinggi,.jadi Raka Senggani harus meningkatkan kewaspadaan nya.


Ia kemudian merapal ajian panglimunan nya agar tidak dapat dilihat orang.


Setelahnya baru Raka Senggani yg mendeksti rumah itu dengan melayang menuju atap genting rumah orang itu.


Raka Senggani berusaha mencari tahu darimana asal dari bau dupa tersebut.


Dan setelah diyakininya,.. Raka Senggani segera membuka sebuah genting atap rumah tersebut.


Alangkah terkejutnya dirinya setelah melihat di dalam sebuah bilik yg ada di rumah tersebut ia dapat melihat dengan jelas ada seseorang yg tengah duduk bersemadi dan tepat dihadapan nya ada sebuah dupa yg telah di bakar dan menimbulkan bau yg cukup keras.


Tiba-tiba saja,..


" Aumm,.."


Orang yg tengah duduk bersila itu dapat merobah dirinya menjadi seekor macan.


Ya,..orang tersebut malih menjadi seekor Macan Putih yg cukup besar.


Dan dalam satu kelebatan saja Macan putih tersebut telah meninggalkan rumah itu dengan melompat melalui jendela bilik tersebut.


Diriku tidak boleh kehilangan jejak orang itu,..aku harus mengejarnya,..kata Raka Senggani dalam hati.


Ia pun melesat mengejar Macan putih itu .


Dalam kepekatan malam itu,..Raka Senggani membuntuti kepergian orang yg telah berubah menjadi Macan putih


Ia pun mengerahkan ilmu peringan tubuhnya di barengi ilmu lari cepat nya.


Dan Raka Senggani berhasil mengejar orang itu meskipun ia harus menjaga jarak dengan makhluk tersebut.


bukankah ini menuju rumah Ki Bekel,. apakah orang ini akan mengincar hewan peliharaan Ki Bekel lagi,.tanya Raka Senggani dalam hati.


Tetapi ia tidak meyakinii orang te sebut akan memangsa hewan ternak Ki Bekel.


Setelah memdekati rumah Ki Bekel,..orang yg telah berubah ujudnya itu menjadi seekor macan putih tersebut berhenti di kegelapan.


Ia melihat kearah atas pendopo rumah Ki Bekel itu.


Ternyata para warga disini telah melakukan penjagaan terhadap hewan peliharaan mereka itu,..akan tetapi Aku.. Wanacara Sangkan tidak mungkin akan dapat di tangkap oleh penduduk pedukuhan ini,..kata orang itu dalam hati.


Agak lama ia berada disana guna megetahui keadaan dari rumah Ki Bekel teesebut.


Aku harus menemukan mangsaku malam ini,..ucap orang itu dalam hatinya.


Akan tetapi tanpa di sadari oleh orang tersebut,..ada sepasang mata yg terus melihat gerak geriknya itu.


Makhluk Macan putih itu segera melompat meninggalkan kediaman Ki Bekel tersebut,..ia menjauhi rumah pemimpin pedukuhan itu.


Raka Senggani terus membuntuti kemana perginya orang tersebut.


Dan kembali mata Raka Senggani harus terbelalak karena kali ini ia mengarah pada waktu yg dimana ada Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.

__ADS_1


Raka Senggani yg kembali mengtrapkan aji pameling agar Japra Witangsa dan Dewi Dwarani bersiap.


Senopati Pajang itu tetap berada di belakang dari Macan putih jadi -jadian tersebut.


Barulah Raka Senggani percaya dengan apa yg telah dilihatnya itu.


Orang tersebut menuju salah satu kandang kuda milik dari Nyi Warsem sang pemilik warung tersebut


Aku harus menghentikan orang itu sebelum terlambat.


Ketika hanya dslam jarak beberapa langkah saja orang itu berhasil mencapai salah satu dari kuda milik dari warung tersebut.


Ketika Macan putih jadi -jadian itu akan beraksi memangsa kuda milik dari pemilik warung itu,..tiba -tiba saja,..


" Dhumbbh,.."


Ajian Wajra Geni milik Senopati Pajang itu di lepaskan untuk menghentikan aksi orang tersebut.


Macan putih itu kaget,..ia sampai harus jatuh setelah serangan orang yg tidak di kenal itu hampir saja mengenai tubuhnya itu.


Celingukan Macan putih itu mencsri siapa kah orang yg telah berani bermain - main denganku ,..kata orang itu dalam hati.


Macan putih itu pun membalikkan tubunya.


Sedsngkan di depan rumah Pemilik warung itu nampak telah ada dua pasang orang yg tengah bertarung.


" Hehh,..siapa kalian berdua ini dan untuk apa mendatangi kami disini,..?". tanya Japra Witangsa dengan keras.


Sedangkan di belakang warung itu Macan putih jadi -jadian itu berusaha mencari tahu siapa gerangan yg beranj membokongnya itu, apakah mereka belum mengenal dirinku,.. Wanacara ini seru orang itu dalam hati.


Suara ledakan yg telah dilontarkan oleh Senopati Pajang itu membuat penghuni rumah tersebut keluar.


Dilihatnya di arah samping rumahnya telah ada orang yg sedang berkelahi itu.


Apakah kedua orang itu ingin mencuri sapiku itu ,..tanya orang itu dalam hati.


Pemilik warung itu bergegas menuju arah belakang.


Ia tidak melihat ada hal yg aneh disana.


Sedangkan Macan putih jelmaan dari Wanacara Sangkan itu masih belum berhasil menemukan siapa orang yg telah berani menantangnya itu.


Dengan lantang orang tersebut,..mengaum, seakan-akan ia menantang Senopati Pajang itu.


Namun Raka Senggani tetap saja masih diam tidak melakukan sesuatu.


Ketika Macan putih itu kembali mendekati hewan ternak milik dsri Nyi Warsem itu,..tiba -tiba rerdengar suara lagi.


" Dhumbhh,.."


Tansh yg ada disekitar tempat Macan putih itu berdiri ,.. sampai berhamburan.


Menimbulkan sebuah lobang yg cukup besar.


Macan putih itu kembali tertegun melihatnya,..ia masih saja tidak menemukan siapa orang yg telah melakukan hal itu.


Nampak kesal tergambar di wajah Macan putih jelmaan itu.


Ia berusaha untuk menemukan lawannya itu,..tetspi tetap saja tidak di ketemukan nya.


Orang itu kemudian menyadari bahwa ia tengah berhadapan dengan seorang yg memiliki ilmu yg sangat tinggi.


Macan putih itu memutuskan meninggalkan tempat itu.dalam satu kelebatan saja Macan tersebut meninggalkan tempat itu.


Tetapi Raka Senggani tetap membuntuti kepergian nya.


Ia terus mengejar orang yg telah berubah ujudnya itu.


Di suatu tempat yg sunyi,.. Senopati Pajang itu menghadang makhluk itu dengan berdiri di hadapan nya.


" Berhenti,.." teriak Raka Senggani.


Dengan mengerahkan tenaga dalam nya ia membentak Macan putih itu.


Sontak saja makhluk itu menghentikan larinya. Karena dihadapan nya tengah berdiri seseorang dengan menghadang jalan nya.


Raka Senggani menunjukkan diri nya ia tidak lagi menggunkan aji panglimunan nya.


" Sebaiknya kau hentikan semua tindakan mu itu,..kisanak,.." seru Raka Senggani lagi.


Namun Macan putih itu diam saja,.. tetapi bersiap menyerang Senopati Pajang itu.


" Baik,..jika dirimu memang memilih jalan kekerasan aku siap melayani nya ,." teriak Raka Senggani.


Tetapi jawaban yg di dapat nya dari Makhluk yg dihadang nya itu adalah serangan.


Dengan di dahului sebuah auman yg keras Macan putih itu melompat menyerang Raka Senggani dengan ganasnya.

__ADS_1


__ADS_2