Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 5 Keris Kyai Condong Campur bagian ketiga.


__ADS_3

Dewi Rasani Mayang terlihat kebingungan atas ucapan dari Raka Senggani itu, ia mendekati kuda pemuda itu yg diikatkan pada sebatang pohon.


Belumpun Dewi Rasani Mayang berhasil mencapai kuda tersebut, dari arah yg lain nampak sesosok tubuh yg sedang berjalan ke tempat itu.


Ketika telah dekat , Dewi Rasani Mayang berkata,


" Ahhh, mengapa Kakang Kuda Wira terlalu lama, aku telah lama menunggumu, kakang, " ucapnya setelah ia mengenali orang yg datang tersebut adalah kakak sperguruannya Kuda Wira.


" Apakah kau telah lama menunggu adi Mayang,?" tanya orang yg bernama Kuda Wira.


" Hampir seharian aku disini, menunggumu," jawab Dewi Rasani Mayang.


Nampak wajahnya menunjukkan kekesalannya.


" Kamu tidak menepati jamjimu, Kang" seru gadis itu lagi.


" Ehh, kamu terluka adi Mayang, tanganmu itu masih mengeluarkan darah ," ucap pemuda itu.


" Kamu kenapa adi Mayang, apa yg terjadi dengan dirimu, siapa mereka ini,?" tanyanya lagi kepada perempuan yg bernama Dewi Rasani Mayang itu.


" Aku tidak apa -apa kakang Kuda Wira, ini akibat aku terlalu lama menunggumu hingga kedua orang ini ingin membawaku pergi dari sini akan tetapi aku menolaknya hingga terjadilah ini," ucap Dewi Rasani Mayang.


Ia menunjukkan luka goresan pedang yg terdapat di lengannya itu.


Dengan cepat pemuda yg bernama Kuda Wira itu menyobek kain panjangnya dan membalurkan sebuah obat ke tangan dari Dewi Rasani Mayang yg terluka itu serta membalutnya dengan kain.


" Beruntung Kang, aku di tolong kakang Brastha ini, ia seorang prajurit dari Madiun," kata Dewi Rasani Mayang lagi.


" Terima kasih Kisanak telah menolong adikku ini, sekali lagi terima kasih," ucap Kuda Wira kepada Raka Senggani.


" Sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong, apalagi kami yg merupakan seorang prajurit sudah seharusnya menjaga keamanan di tempat ini, " jawab Raka Senggani.


" Siapa mereka ini ,... kisanak,?" tanya Kuda Wira lagi kepada Raka Senggani.


" Aku tidak mengenalnya , akan tetapi mereka menyebut -nyebut gunung kendeng,!" jelas Raka Senggani.


" Mereka adalah Pendekar cabul dari gunung kendeng yg bernama Prana citra, dan yg seorang itu aku tidak mengenalnya ," jelas Dewi Rasani Mayang kepada kakak seperguruannya itu.


" Pendekar cabul, .......bukankah mereka lumayan ilmu silatnya tetapi mengapa bisa dengan mudahnya dikalahkan oleh prajurit ini,?" bertanya Kuda Wira dalam hatinya.


" Ah, mohon maaf sebelumnya kisanak, bukankah mereka ini cukup lumayan ilmunya tetapi mengapa mereka bisa dengan mudahnya dikalahkan,?" tanya Kuda Wira penasaran.


" Panggil saja namaku Brastha Abipraya, dan mengenai pertanyaan kisanak itu, jawabnya adalah karena mereka kurang waspada akibat terus menerus melihat adik Kuda Wira yg cantik ini," jawab Raka Senggani sambil menunjuk kearah Dewi Rasani Mayang.


" Ahh," terdengar suara yg keluar dari mulut Dewi Rasani Mayang.


Ia tersipu malu setelah dipuji oleh dewa penolongnya yg berwajah rupawan tersebut.


" Sebenarnya bukan karena itu kakang Kuda Wira, tetapi karena kemampuan dari kakang Brastha ini yg sangat mumpuni, keduanya dengan mudah untuk dikalahkannya, hanya sebentar saja," jelas Dewi Rasani Mayang memuji kemampuan dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Ada perasaan kurang senang terlihat di raut wajah dari pemuda yg bernama Kuda Wira itu, namun karena hari telah malam wajah itu tidak nampak.


" Kalau begitu kami akan segera meninggalkan tempat ini, terima kasih sekali lagi kami ucapkan atas pertolongan saudara Brastha, mari adi Mayang,.." kata Kuda Wira.


" Aku Dewi Rasani Mayang sangat berterimakasih atas pertolongan kakang Brastha, mari,...kami akan segera melanjutkan perjalanan " ucap Dewi Rasani Mayang.


" Silahkan, silahkan," jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang itu segera mengikat tangan Prana citra dan temanya itu, yg masih pingsan dinaikkannya keatas kudanya sementara Prana citra sendiri di suruhnya berjalan setelah totokannya di lepas.


" Ayoo, segera kita ke Madiun, kau harus mempertanggunjawabkan perbuatanmu itu dihadapan Kanjeng Adipati," seru Raka Senggani kepada lelaki yg berpakaian mewah tersebut.


Sementara Dewi Rasani Mayang dan Kuda Wira telah jauh meninggalkan tempat itu.


********


Sementara itu di Kadipaten Pajang tepatnya di Lereng merapi terlihate seorang tua yg nampak sudah sangat sepuh tengah duduk berhadapan dengan seorang laki -laki yg berbadan besar.


Orang tua yg sudah sepuh sedang mengobati laki -laki itu.

__ADS_1


" Sudah hampir satu purnama aku merawatmu namun sepertinya keadaanmu tidak akan pulih seperti sedia kala lagi , tangan kirimu dan sampai kepangkal lengan tampaknya akan menjadi lumpuh," kata orangtua itu.


" Apakah Paman tidak sanggup untuk mengatasinya, menyembuhkanku seperti sedia kala,?" tanya laki -laki itu kepada orangtua tersebut.


" Nampaknya sangat sulit, karena warangan itu berasal dari sebuah pusaka yg sangat sulit untuk dicari penawarnya, beruntung kau masih hidup, biasanya jarang yg dapat bertahan,!" kata orangtua itu lagi.


" Memang sepertinya Keris yg melukai tanganku ini adalah pusaka dari keraton Pajang, dan pemuda yg menggenggamnya memiliki ilmu yg sangat tinggi, beruntung bagiku Paman, karena salah seorang kepercayaanku bisa membawa tubuhku kemari, kalau tidak mungkin aku telah jadi mayat,!" kata laki -laki itu.


" Yah, untuk itulah kakang Brangah aku panggil kemari untuk melihat keadaanmu ini, Baleman, mungkin ia memilki ilmu atau semacam ramuan untuk bisa menyembuhkanmu dari kelumpuhan itu,!" kata orangtua itu.


Ternyata laki -laki yg bertubuh besar itu adalah Macan Baleman yg selamat dari tangan Raka Senggani, ia di rawat di dalam Padepokan Lereng Merapi.


Dan laki -laki tua itu adalah Mpu Loh Brangsang . Lelaki sepuh yg berkeinginan membuat tetiron dari Keris Kyai Condong Campur itu.


Mpu Loh Brangsang memang sudah sangat tua, akan tetapi terlihat nampak gagah.


Meskipun dalam keadaan duduk berhadapan dengan Macan Baleman, tetapi seolah ia tidak menyentuh tanah, suatu kemampuan yg sangat jarang dimiliki oleh orang lain.


Orang ini pula yg dahulu di masa kerajaan Majapahit berdiri ikut andil dalam pembuatan Keris Pusaka Kyai Condong Campur itu, dengan hampir seratus orang yg bergabung di dalam pembuatan pusaka yg cukup menghebohkan dan melegenda itu.


Dan kali inipun ia berniat mengulang kembali pembuatan pusaka sejenis dengan Kyai Condong Campur itu.


" Sebenarnya Paman Brangsang , aku sangat bersyukur masih bisa paman selamatkan terlepas tangan kiriku lumpuh, tetapi masih hidup saja sudah suatu keajaiban buatku, karena yg kudengar, Singo Abra dari Banyu biru itu tewas di tangan anak muda itu," kata Macan Baleman.


" Hahhh, Singo Abra telah tewas, bukankah ia yg dahulu mengalahkanmu, pada waktu itu kau datang kemari minta disembuhkan luka dalammu,?" tanya Mpu Loh Brangsang .


Ia sangat heran mendengar penuturan dari Macan Baleman itu, Singo Abra tokoh tua dunia persilatan tewas di tangan seorang anak muda yg menjadi senopati di Pajang.


Padahal Singo Abra dan Mpu Loh Brangsang setingkat kemampuannya.


" Memang sangat berbahaya pemuda itu, Baleman, siapa nama pemuda itu,?" tanyanya kepada Macan Baleman.


" Ia bernama Raka Senggani merupakan Senopati Pajang ,Paman Brangsang," jawab Macan Baleman.


" Untuk itulah aku mengundang gurumu agar mau datang kemari, agar usaha untuk membuat pusaka yg bisa jadi sipat kandel pemiliknya segera terlaksana mengimbangi dua pusaka dari keraton Demak itu,!" kata Mpu Loh Brangsang kepada Macan Baleman.


" Apakah paman Brangsang akan menciptakan lagi Keris Kyai Condong Campur lagi,?" tanya Macan Baleman kepada Mpu Loh Brangsang.


" Akan tetapi sampai saat ini belum ada berita baik dari gurumu maupun dari adi Yasa Pasirangan, mereka belum pun hadir disini,!" kata Mpu Loh Brangsang lagi.


" Apakah guru akan datang kemari paman,?" tanya Macan Baleman.


" Mudah -mudahan, karena selain akan melihatmu ia pun memilki pandangan yg sama tentang Demak, ia tidak suka Demak sebagai kelanjutan dari Majapahit,!" ucap Mpu Loh Brangsang.


" Dan kuharap ia mau berada di dalam barisanku dalam menentang Demak dan ajaran baru itu,!" kata Mpu Loh Brangsang lanjut.


" Sayang kesehatanku belum pulih benar, jika tidak aku sendiri yg akan ke Blambangan,!" ujar Macan Baleman.


" Sudah ada dua muridku yg kesana yaitu Dewi Rasani Mayang dan Raden Kuda Wira, dan seharusnya mereka telah kembali, namun sampai saat ini keduanya belum muncul juga,!" ungkap Mpu Loh Brangsang itu.


" Mungkin untuk malam ini sudah cukup aku mengobatimu Baleman , besok setelah terang tanah kita akan mengulanginya lagi agar tenaga dalam mu cepat pulih , beristrahatlah supaya badanmu cepat bugar," suruh Mpu Loh Brangsang kepada Macan Baleman..


Sementara sang Mpu sesudah berkata langsung lenyap meninggalkan Macan Baleman itu.


Esok paginya masih di Merapi, padepokan itu kedatangan tamu dari Wilis yaitu Rajungan murid dari Mpu Phedet Pundirangan.


" Maaf kakang Buntala bisakah aku untuk menghadap paman Guru Mpu Loh Brangsang, sekarang juga ,?" tanya Rajungan kepada salah seorang murid Mpu Loh Brangsang yg bernama Adya Buntala.


" Tunggulah sebentar adi Rajungan, biar aku melapor kepada Guru terlebih dahulu apakah akan bersedia untuk menerimamu atau tidak,!" jawab Adya Buntala.


" Segeralah kakang Buntala karena ini masalah penting yg harus di sampaikan sesuai pesan Guru , Mpu Phedet Pundirangan,!" jelas Rajungan.


" Kau tunggulah disini sebentar dan silahkan beristrahat , biar permintaanmu itu kuberitahukan kepada guru yg berada di dalam, " kata Adya Buntala.


Murid dari Mpu Loh Brangsang itu masuk ke dalam meningggalkan Rajungan seorang diri.


Adya Buntala menuju ke tempat Sang Guru yg biasa melakukan tapa yaitu di dalam sebuah goa di belakang padepokan itu.


Letaknya agak keatas hingga ia menempuh beberapa anak tangga untuk mencapai tempat itu, setelah diatas ia berbelok ke kanan dan menemui sebuah mulut Goa.

__ADS_1


Adya Buntala langsung masuk kedalamnya dan menemui Mpu Loh Brangsang yg sedang duduk di atas sebuah batu hitam dan cukup besar dengan di alasi sebuah kulit harimau.


" Ada apa engkau kemari , Buntala,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada muridnya itu.


" Maaf sebelumnya Kanjeng Guru, Adya Buntala menghadap guru karena akan menyampaikan pesan dari adi Rajungan dari gunung Wilis, merupakan salah seorang murid dari paman Phedet Pundirangan, guru," jawab Adya Buntala.


'' Hehh , murid adi Pundirangan, suruh ia segera menghadapku di dalam pesanggrahan timur, " jelas Mpu Loh Brangsang kepada muridnya itu.


" Baik Kanjeng Guru, pesan guru akan murid sampaikan,!" ucap Adya Buntala.


Ia segera meninggalkan tempat itu dan kembali menemui Rajungan yg masih berada di tempatnya.


" Bagaimana Kakang Buntala apakah Paman Guru bersedia menerimaku,?" tanya Rajungan kepada Adya Buntala.


" Guru bersedia untuk menerimamu, pergilah ke dalam pesanggrahan timur itu, beliau menunggumu disana," jawab Adya Buntala.


" Baik kakang Buntala, Aku akan kesana," kata Rajungan.


Orang itupun langsung menuju tempat yg dimaksud oleh Adya Buntala tersebut.


Sampai di depan pintu pesanggrahan timur itu, ia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Di dalam dilihatnya Mpu Loh Brangsang tengah duduk dalam posisi membelakangi.


" Ada pesan apa dari Wilis, Rajungan,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada Rajungan itu.


" Maaf sebelumnya Kanjeng Paman Guru, saya diutus oleh guru untuk menyampaikan bahwa paman guru Mpu Yasa Pasirangan saat ini dalam keadaan terluka, jadi beliau tidak bisa menjalankan perintah dari Paman Guru Merapi sampai saat ini, oleh sebab itu Gurulah yg menggantikannya untuk sementara," jelas Rajungan kepada Mpu Loh Brangsang itu.


" Hahh, apaaaa,!!?? teriak Mpu Loh Brangsang terkejut.


Ia pun melanjutkan perkataannya lagi,


" Siapa yg telah mampu mengalahkan Adi Yasa Pasirangan, sampai terluka pula, apakah memang ada di Tlatah Demak ini yg memiliki kesaktian melebihi dari Adi Yasa Pasirangan itu, setahuku cuma kakang Mandrangi dan Raden mas Said saja yg bisa mengalahkannya," terdengar suara Mpu Loh Brangsang agak keras.


" Maaf Kanjeng Paman Guru, yg mengalahkan Paman Pasirangan adalah seorang anak muda merupakan seorang Senopati Demak,!" jawab Rajungan murid dari Mpu Phedet Pundirangan itu.


" Seorang anak muda, merupakan Senopati Demak, apakah Demak masih menyisakan seorang Senopati saat lawatan pasukan Demak ke kulon itu ,!" seru Mpu Loh Brangsang.


" Benar Paman Guru, ia bernama Senopati Brastha Abipraya, ia berasal dari Kadipaten Pajang ini," jawab Rajungan lagi.


" Senopati Brastha Abipraya, berasal dari Pajang,?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.


Tiba -tiba masuklah Adya Buntala ke dalam pesanggrahan itu, dan ia berkata,


" Guru, ada seorang tamu lagi yg datang kemari , ia berasal dari Blambangan,!"


" Siapa , apakah ia adalah Resi Brangah,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada muridnya Adya Buntala itu.


" Benar Kanjeng Guru, ia adalah Resi Brangah dari Blambangan," jawab Adya Buntala lagi.


" Suruh ia menunggu, dan tolong panggil kemari Macan Baleman yg berada di dalam goa itu, cepat ia suruh datang kemari,!" perintah Mpu Loh Brangsang kepada muridnya Adya Buntala.


" Baik Kanjeng Guru," jawab Adya Buntala.


Selanjutnya Adya Buntala langsung meninggalkan tempat itu untuk memanggil Macan Baleman.


Sedangkan Mpu Loh Brangsang melanjutkan perbincangan dengan Rajungan lagi.


" Selain berita tentang terlukanya adi Yasa Pasirangan, ada berita yg lain lagi ingin kau sampaikan , Rajungan,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada Rajungan.


" Ada Paman Guru, menurut Guru atas pemberitahuan dan Paman Yasa Pasirangan, bahwa semua bahan -bahan itu telah berhasil dikumpulkan kecuali satu, yaitu yg dari Kediri, Guru ingin memastikan apakah yg di Kediri memang harus diambil atau tidak, begitulah pertanyaan Guru,!" ucap Rajungan.


" Katakan kepada gurumu, bahwa tidak perlu lagi untuk mencari wesi aji yg ada di Kediri itu, sampaikan pesanku kepada gurumu supaya secepatnya untuk datang kemari bersama adi Yasa Pasirangan,!" jelas Mpu Loh Brangsang kepada Rajungan.


" Baik Paman Guru, semua perintah akan saya laksanakan, " jawab Rajungan.


" Bagus, beristrahatlah, nanti setelah itu secepatnya engkau kembali ke Gunung Willis,!" kata Mpu Loh Brangsang lagi.


" Saya pamit Paman Guru, besok saya akan kembali ke Willis,!" ucap Rajungan.

__ADS_1


" Silahkan,!" kata Mpu Loh Brangsang lagi.


Rajungan pun segera keluar dari Pesanggrahan milik Mpu Loh Brangsang itu, ia kembali ke tempat dimana ia ditempatkan.


__ADS_2