Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 9 Sentuhan bagian ke enam.


__ADS_3

Di rumah Ki Gede Mantyasih sendiri, kehadiran Chandala Gati itu telah menimbulkan perbincangan. Adalah Ki Gede sendiri dan Ki Jagabaya yg membahas masalah itu.


" Tampaknya dengan kehadiran Chandala Gati, kita harus semakin meningkatkan ke waspadaan Ki Gede,". tutur Ki Jagabaya.


" Benar ucapanmu itu, Jagabaya, tadi ada laporan dari salah satu pengawal Mantyasih bahwa putri mu, angger Kinanti telah diikuti oleh Salah seorang muridnya hingga sampai ke depan pintu,". sahut Ki Gede Mantyasih.


" Benar Ki Gede, bahkan Kinanti sendiri telah mengatakan sendiri kepadaku,". ujar Ki Jagabaya.


" Sebaiknya kita perketat penjagaan di daerah ujung pedukuhan induk ini, Romo, ". kata Rasala.


" Lebih baik begitu angger Rasala, jangan sampai kita kecolongan dengan tokoh sesat itu, dan kepada para anak gadis yg ada di pedukuhan induk disarankan untuk tidak ke kali kalau mau mencuci pakaian,". kata Ki Jagabaya lagi.


" Atsu kalau memang terpaksa mereka harus ke kali harus dengan penjagaan dari para pengawal," kata Ki Gede Mantyasih.


" Apa tidak sebaiknya Wku Mandrayana kita beritahu, Romo,?" tanya Rasala.


" Usul yg baik itu , Ngger," sahut Ki Jagabaya.


" Sebaiknya angger Rasala sendiri yg memberitahukan kepada Wiku Mandrayana itu, tentang kehadiran Chandala Gati,". kata Ki Gede Mantyasih kepada putra nya.


" Baik, Romo, biar aku saja yg akan mengatakan kepada nya,". jawab Rasala.


Putra Ki Gede Mantyasih itu kemudian bangkit dan meninggalkan Ki Gede dan Ki Jagabaya, ia langsung menuju ke rumah yg berada di sebelah rumah Ki Gede itu.


Sesampainya disana di lihatnya , Andana dan Andanu tengah duduk - duduk di sebuah amben bambu.


" Dimana Wiku Mandrayana, Andana,?" tanya Rasala.


" Guru sedang pergi, Rasala," jawab Andana.


" Kemana pergi nya,?" tanya Rasala lagi.


" Entahlah, tetspi sepertinya guru dengan di temani kakang Kebo Watan dan kakang Lembu Giring tampak tergesa -gesa tanpa memberitahukan sesuatu,". jawab Andana lagi.


" Apakah Wiku Mandrayana telah mengetahui kehadiran Chandala Gati di Mantyasih ini,?". tanya Rasala.


" Apaaa,!!,. Chandala Gati berada disini, ?". seru kedua orang yg kembar itu.


" Benar, Chandala Gati telah berada disini, dan kami berharap Wiku Mandrayana telah mengetahui nya, agar Si setan pemetik kembang itu tidak akan berbuat sesuatu yg merugikan Mantyasih," ucap Rasala lagi.


" Baik, akan kami katakan kepada Guru akan hal itu , bila ia telah kembali,". sahut Andanu.


" Kalau begitu, saya permisi dulu, karena saat ini kami tengah memperketat penjagaan di ujung pedukuhan ini,". tukas Rasala lagi.


" Dimana Chandala Gati saat ini berada,?". tanya Andana penasaran.


" Ia berada di sebuah rumah di ujung dari pedukuhan ini, dekat dengan desa Trunan," jawab Rasala.


Kemudian Rasala meninggalkan kedua murid dari Biksu Mandrayana itu, ia kembali ke Rumah nya, disana masih ada Jagabaya.


" Bagaimana, Ngger , apakah Wiku Mandrayana ada di tempatnya,?" tanya Jagabaya.


" Tidak paman, Wiku Mandrayana sedang tidak berada di tempatnya, dan menurut kedua muridnya ia tengah pergi dalam keadaan terburu -buru, tetspi entah kemana,". jelas Rasala.


Ketiga orang itu saling berpandangan, Ki Gede kemudian berkata,


" Cepat panggil kemari Wirya, suruh ia untuk meningglakan pedukuhan kulon dan kembali kemari," perintah Ki Gede kepada Rasala.


" Baik, Romo, " jawab Rasala.


Kembali putra Ki Gede itu bergegas keluar dan langsung mengambil kudanya, seraya meningglakan tempat itu, agak kencang kali ini Rasala menunggangi kudanya.


Sebentar saja ia telah sampai di pedukuhan itu.


Terlihat di pedukuhan itu cukup ramai dengan banyak nya para pengawal tanah Perdikan yg berada disitu.


" Ada apa , Rasala,?" tanya Wirya.


Setelah ia melihat kedatangan putra Ki Gede itu dengan tergesa -gesa.


" Cepat Wirya, kau dipanggil Romo untuk datang ke rumah,". jawab Rasala.


" Baik, aku akan segera kesana,". jawab pemimpin pengawal Tanah Perdikan Mantyasih itu.


Setelah ia berkata kepada salah seorang teman nya dengan sigap Wirya menaiki kuda tunggangan nya.


Mereka berdua kemudian memacu kudanya menuju pedukuhan induk.


Dan sesampainya di sana telah terlihat Biksu Mandrayana dan seorang yg berusia lebih tua dari Biksu itu.

__ADS_1


Rasala dan Wirya lantas naik ke rumah Ki Gede itu.


" Bagaimana angger Wirya, apakah keadaan di kulon masih dalam keadaan aman,?". tanya Ki Gede.


" Aman, Ki Gede,". jawab Wirya.


" Kalau begitu kita dapat lebih memusatkan seluruh perhatian pada pedukuhan induk ini, karena selain Macan Baleman telah hadir pula , Si Chandala Gati itu, Setan pemetik kembang, aku tidak mau kecolongan," ungkap Ki Gede Mantyasih lagi.


" Bagaimana Ki Gede dengan hubungan ke Pajang, apakah telah ada kabar,?". tanya Jagabaya.


" Belum, sampai saat ini belum ada kabar dari Pajang," jawab Ki Gede Mantyasih.


" Bagaimana kalau kita mengirimkan lagi utusan ke Kotaraja Demak, Ki Gede,?" tanya Jagabaya lagi.


" Memang ada baiknya saran tersebut, karena jika mereka berhasil dengan usahanya itu, bukan hanya Mantyasih yg di rugikan tetapi seluruh tlatah Demak ini akan terkena akibatnya," jawab Ki Gede.


Biksu Mandrayana yg sedari diam saja kemudian angkat bicara,


" Mungkin Ki Gede tidak perlu melaporkan hal ini ke Demak, karena menurut kami, yg tua -tua ini, Resi Yaramala tidak akan mampu mengambil Pusaka itu yg merupakan perlambang kekuatan dari alam jin yg telah di tundukkan, disini saya ingin memperkenalkan , saudara saya yg telah datang dari Tibet, beliau inilah yg bernama Biksu Maha Gelang," jelas Biksu Mandrayana.


" Wiku Maha Gelang, dari Tibet,?" tanya Ki Gede Mantyasih itu agak terperangah.


Ia pernah mendengar nama itu dahulu di sebutkan oleh beberapa orang, dan baru kali ini ia bertemu sendiri dengan orang nya.


Pemimpin tanah perdikan Mantyasih itu memandangi orang yg duduk di hadapan nya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia melihat tiada yg lebih dari sosok Biksu tersebut selain pandangan matanya yg teguh serta penampilan nya yg sangat tenang.


Dengan jubah kebesaran seorang Biksu ditambah sebuah tasbih yg agak besar yg ada di tangan nya , sosok Biksu Maha Gelang tampak biasa saja.


Dengan seluruh rambut yg telah memutih bahkan sampai alis nya pun telah memutih.


Berkatalah sang Biksu dengan pelan,


" Sebenarnya tidak ada yg perlu di takutkan dengan Resi Yaramala itu, karena setiap tindakan kejahatan pasti akan di balas setimpal dengan kejahatan itu sendiri, Amithaba," ucap sang Biksu.


" Sebenarnya saya sendiri amat kenal dengan pemilik Pusaka yg ada di puncak Gunung Tidar ini, Ki Gede, beliaulah yg merupakan guru nya para wali di tanah jawa ini, keberhasilan nya menundukkan alam jin merupakan suatu kelebihan yg tidak atau sangat jarang dimiliki oleh orang lain, termasuk dengan Resi Yaramala itu," ungkap nya lagi.


" Maaf sebelumnya Wiku Maha Gelang, tetapi panas nya usaha untuk mengambil Pusaka Kyai Sepanjang itu mulai membakar tanah perdikan kami ini, Wiku, sementara kami disini sangat kekurangan orang yg mampu untuk menjaga nya," kata Ki Gede lagi.


" Ki Gede tidak usah khawatir, kami siap membantu Ki Gede, karena memang tindakan Yaramala itu harus di hentikan," kata Biksu Maha Gelang lagi.


" Sebenarnya di tanah tidak kekurangan orang -orang yg memiliki kepandaian sebut saja para wali yg mampu menegakkan Kerajaan Demak ini dan selain itu ada juga keturunan dari sang pemilik benda Pusaka tersebut," ungkap Biksu Maha Gelang lagi.


" Yah, selain di Pengging ada juga keturunan sang Prabhu Brawaijaya terakhir yg tinggal antara merbabu dan merapi , mereka juga merupakan orang -orang yg dapat di andalkan," lanjut Biksu Maha Gelang.


" Keturunan dari Ki ageng Getis pendawa maksud , Wiku,!" sebut Ki Gede lagi.


" Benar Ki Gede, jadi Ki Gede tidak perlu khawatir akan kehadiran orang -orang seperti Chandala Gati atau pun Resi Yaramala, mereka tidak akan mampu mengambil bend Pusaka itu, yakinlah Ki Gede,". kata Biksu Maha Gelang.


Cukup lama pembicaraan dari para pemimpin tanah perdikan Mantyasih itu, hingga hampir malam, mereka baru bubar.


Dan Biksu Maha Gelang dengan di dampingi Biksu Mandrayana kembali ke rumah yg telah di sediakan oleh Ki Gede Mantyasih itu yg jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah Ki Gede sendiri.


Sementara Anggono yg telah berjalan cukup jauh meninggalkan Kadipaten Pajang melihat di belakang nya ada dua ekor kuda yg mengerjar langsung ia tancap gas, ia khawatir bahwa yg mengekori itu adalah musuh yg ingin menghambat perjalanannya.


Ketika tiba di sebuah pedukuhan kecil, Anggono memperlambat laju kudanya, namun yg mengikuti nya itu tetap melajukan kuda nya dengan kencang.


Alhasil Anggono dapat tersusul meskipun telah memasuki pedukuhan itu.


" Hehhh, kakang Anggono, mengapa meninggalkan kami," teriak orang itu.


Yg tiada lain adalah Raka Senggani dan Lintang Sandika.


Setelah mengetahui bahwa yg menyusulnya itu adalah Senopati Brastha Abipraya yg memang telah di kenal nya akhirnya Anggono pun menghentikan kuda nya.


" Maaf adi Senopati, kukira musuh yg sedang mengejarku, karena kulihat adi berdua sangat kencang menunggang kuda nya, ehhh ternyata adi Senopati,". jawab Anggono.


Kemudian Anggono pun menjalankan kudanya beriringan dengan Raka Senggani dan Lintang Sandika, mereka bertiga tidak lagi memacu kuda nya melainkan berjalan dengan perlahan saja.


" Apakah kakang Anggono akan menginap di pedukuhan ini,?". tanya Raka Senggani.


" Sebenarnya iya, tetapi karena adi Senopati telah bersamaku, sebaiknya di lanjutkan saja perjalanan ini, meskipun harus bermalam di hutan," jawab Anggono.


" Bagaimana kakang Sandika, apakah kita akan terus berjalan sesuai permintaan kakang Anggono ini,?" tanya Raka Senggani kepada Lintang Sandika.


" Sebaiknya demikian, lebih cepat kita sampai di tanah perdikan Mantyasih tentu akan lebih baik," jawab Lintang Sandika.


" Baiklah kalau begitu, mari kita teruskam perjalanan," ucap Raka Senggani.


Ketiga nya kemudian terus melaju meningglakan pedukuhan itu, karena hari pun masih sore.

__ADS_1


Dalam perjalanan itu , Anggono bertanya kepada Raka Senggani.


" Mengapa adi Senopati menyusulku, dan tidak ikut dengan prajurit Pajang yg di pimpin oleh Tumenggung Wangsa Rana itu,?"


" Kakang Anggono, kalau kami berdua turut dengan Paman Tumenggung Wangsa Rana tentu kami baru akan sampai empat atau lima hari lagi, sedang kan keadaan dari tanah Perdikan Mantyasih itu sudah dalam keadaan gawat, jadi kami meminta izin kepada Paman Tumenggung untuk lebih dahulu dari para prajurit Pajang," jawab Raka Senggani.


" Dan lagi , kalau kami ikut dengan para prajurit tentu kami akan terikat dengan paugeran keprajuritan , berbeda dengan saat ini , kami lebih bebas,". sahut Lintang Sandika.


Memang perkataan dari prajurit Demak itu ada betulnya, terutama bagi Lintang Sandika sendiri yg ingin menyendiri untuk mengurangi susah hatinya.


Dalam pada itu di pelabuhan Asem Arang terlihat, seorang tua yg tengah mendekati sebuah penginapan yg ada di kota pelabuhan itu.


Orang tersebut berpakaian seorang Resi, dengan enteng nya ia memdekati tempat itu.


Sambil tidak henti -henti nya ia menatap orang -orang yg sedang berlalu lalang di tempat itu.


" Hemmph, dimana Resi Yaramala itu menginap," kata nya dalam hati.


Ia terus masuk ke dalam rumah penginapan itu.


Setelah berada di dalam ia kemudian bertemu dengan salah seorang pelayan penginapan itu.


" Mau memesan kamar, Ki,?" tanya Pelayan itu.


" Ahh, tidak , aku hanya ingin bertemu dengan sesorang ,". jawab orang itu.


" Ingin bertemu seseorang , siapa,?" tanya Pelayan itu lagi.


" Nama nya Resi Yaramala, ia dari tanah Hindustan dan berpakaian seperti diriku," jelas orang itu lagi.


" Ohhh, orang yg dari tanah Hindustan,?" tanya Pelayan itu


" Benar , apakah kau pernah melihat nya, apakah ia menginap disini," tanya Orang itu lagi.


" Ya, Ki, orang itu memang menginap disini, tepatnya berada di bilik paling ujung dari sini,". jawab Pelayan Itu lagi.


" Terima kasih, aku harus segera menemui nya," sahut orang itu.


" Silahkan, kI,". kata pelayan penginapan itu.


Kemudian orang yg berpakaian Resi itu berjalan menuju tempat yg telah di tunjukkan oleh pelayan penginapan itu.


Sebentar kemudian ia telah sampai pada bilik yg paling ujung tersebut.


Perlahan ia mengetuk pintu bilik dan terdengar suara dari dalam.


" Siapa di luar,,?"


" Aku , " jawab orang yg berada di depan pintu bilik itu.


" Aku, siapa , bicara yg jelas jangan sampai tongkat ku ini yg bicara,". sahut dari dalam bilik.


" Ahh, seperti nya , seorang Resi Yaramala mudah marah saat ini, dan suara ku pun , engkau tidak mengenalnya," jawab dsri luar.


Sontak saja pintu bilik itu terbuka lebar dan orang yg berada di dalam itu langsung melesat keluar.


" Kau kah itu, Brangah ," ucap nya.


" Ahh, sbagai teman lama, mengapa tidak dapat mengenali suaraku Yaramala," jawab Resi Brangah.


" Sudahlah, mari masuk," ajak Resi Yaramala itu.


Keduanya kemudian masuk ke dalam bilik, dan Resi Yaramala kembali menutup pintu itu.


" Hehh, apa kabar mu , Brangah ,?" tanya Resi Yaramala.


" Baik dan bagaimana denganmu , Yaramala, sudah berapa lama di tanah Jawa ini,?". tanya Resi Brangah.


" Keadaan ku pun sangat baik, aku telah berada disini hampir dua hari,". jawab Resi Yaramala.


" Apakah kau telah menyiapkan sesajen untuk upacara kita nanti,?" tanya Resi Yaramala lagi.


" Sudah beres , Yaramala, hanya yg perlu kau garisbawahi kapan kita akan melaksanakan nya,?". tanya Resi Brangah.


" Waktu nya adalah setelah purnama, baru kita akan melakukan pengangkatan pusaka Kyai Sepanjang itu,". jawab Resi Yaramala.


" Apakah Chandala Gati telah berada disini,?". tanya Resi Yaraala lagi


" Sudah dan saat ini tengah bersama Salah seorang muridku," jawa mencapai Resi Brangah

__ADS_1


" Bagus kalau begitu, secepstnys kita meninggalakn tempat ini,," kata Resi Yaramala.


__ADS_2